Bagian 3 — Tanda Tanganku Dipalsukan, tetapi Kesalahan Terbesar Mereka Justru Terekam Kamera di Kantor Notaris
Aku tidak langsung marah.
Anehnya, setelah mendengar bahwa tanda tanganku diduga dipalsukan, yang muncul justru ketenangan yang mengerikan.
Aku duduk kembali.
Mengambil segelas air.
Meminumnya perlahan.
Kemudian menatap laki-laki yang empat tahun tidur di sebelahku.
“Siapa yang menandatangani atas namaku?”
Raka tidak menjawab.
Aku mengulang pertanyaan itu.
Lebih pelan.
“Siapa?”
“Aku nggak tahu.”
Kebohongan.
Aku sudah terlalu lama hidup bersamanya untuk tidak mengenali nada suaranya ketika berbohong.
Ia selalu menelan ludah sebelum menjawab.
Tangan kirinya selalu menyentuh jam.
Dan malam itu, dua hal itu terjadi bersamaan.
Aku tersenyum.
Untuk pertama kalinya, Raka terlihat takut kepadaku.
Bukan karena aku berteriak.
Justru karena aku tidak berteriak.
“Baik,” kataku.
“Kita cari tahu.”
Bu Ratih menghentikan pesta.
Beliau meminta manajer hotel membawa Nadira ke klinik hotel untuk memeriksa kulitnya karena terkena kuah panas.
Untungnya kuah tadi sudah beberapa menit berada di meja sehingga tidak menyebabkan luka bakar serius.
Aku tetap meminta staf medis memeriksanya.
Aku marah.
Tetapi aku tidak ingin kemarahanku dipakai untuk mengubah mereka menjadi korban.
Sekitar pukul sembilan malam, sebagian keluarga pulang.
Yang tersisa hanya aku, Bu Ratih, Pak Hendra, Raka, Nadira, serta pengacara perusahaan bernama Maya Kusumawardani.
Kami pindah ke ruang rapat kecil hotel.
Di sana, Maya meletakkan laptop di atas meja.
“Bu Alya,” katanya, “saya perlu memastikan satu hal. Selama enam bulan terakhir, apakah Ibu pernah menandatangani surat kuasa terkait rumah?”
“Tidak.”
“Pernah memberikan scan KTP?”
Aku berpikir.
“Ke Raka pernah. Februari lalu.”
“Untuk apa?”
“Katanya pembaruan data asuransi rumah.”
Maya dan Bu Ratih saling memandang.
Aku langsung mengerti.
“Dia pakai KTP-ku?”
Raka membentak,
“Jangan asal nuduh!”
Maya membuka folder.
“Pak Raka, dokumen yang kami temukan dibuat menggunakan salinan KTP Bu Alya yang sama dengan file yang dikirim melalui email pribadi Anda pada 12 Februari.”
Ruangan sunyi.
Aku menatap Raka.
“Jadi sejak Februari?”
“Bukan begitu.”
“Sejak Februari kamu sudah menyiapkan ini?”
“Aku bilang bukan begitu!”
Raka berdiri.
Kursinya terjatuh.
“Kalian semua dari tadi bikin aku seperti penjahat! Aku anak kandung keluarga ini! Aku yang kerja sepuluh tahun di perusahaan!”
Pak Hendra mendengus.
“Kerja sepuluh tahun tidak memberimu hak mencuri.”
“Aku bukan mencuri!”
“Kalau begitu sebut apa pembayaran invoice untuk pekerjaan yang tidak ada?”
Raka menunjuk Nadira.
“Itu bisnis!”
Aku melihat Nadira.
Ia mulai menangis lagi.
Namun kali ini tidak ada yang membelanya.
Maya menjelaskan bahwa draft dokumen belum otomatis berarti pengalihan rumah sudah sah.
Masih harus diperiksa keasliannya, prosedur notarialnya, serta apakah ada proses lanjutan yang telah dilakukan.
Pagi berikutnya kami sepakat pergi ke kantor notaris yang namanya tercantum di dokumen.
Aku tidak pulang bersama Raka.
Untuk pertama kalinya selama empat tahun, aku tidur di rumah Bu Ratih.
Aku ditempatkan di kamar tamu lantai dua.
Sekitar pukul dua pagi, seseorang mengetuk.
Bu Ratih berdiri di luar.
Tidak ada pakaian pesta.
Tidak ada riasan.
Beliau hanya mengenakan daster sederhana.
Wajahnya terlihat sepuluh tahun lebih tua.
“Alya.”
“Iya, Bu.”
Beliau terdiam.
Lalu berkata,
“Boleh Mama masuk?”
Lagi.
Kata Mama.
Aku bergeser.
Beliau duduk di ujung tempat tidur.
Cukup lama kami tidak berbicara.
Kemudian Bu Ratih berkata,
“Mama tahu kamu mungkin tidak akan percaya.”
“Tapi Mama tidak pernah membencimu.”
Aku menatapnya.
Sulit mempercayai kalimat itu.
Empat tahun.
Beliau mengkritik hampir semua yang kulakukan.
Ketika aku memilih tetap bekerja setelah menikah, beliau bilang rumah tangga perlu prioritas.
Ketika aku belum hamil setelah dua tahun, beliau pernah bertanya kapan kami akan serius mempunyai anak.
Ketika studionya berkembang dan aku semakin sibuk, beliau berkata perempuan yang terlalu mandiri sering lupa pulang.
Aku tidak membencinya.
Tetapi aku juga tidak pernah merasa diterima.
“Kalau tidak membenci saya,” tanyaku, “kenapa Ibu selalu begitu?”
Bu Ratih menatap kedua tangannya.
“Karena Mama dibesarkan seperti itu.”
Jawabannya tidak membenarkan apa pun.
Dan beliau tahu.
“Mama pikir mengkritik akan membuatmu kuat.”
“Padahal sebenarnya Mama cuma membuat rumahmu terasa lebih sempit.”
Aku diam.
Beliau menarik napas.
“Waktu Raka mau menikahimu, Mama menolak.”
Aku mengangkat kepala.
“Kenapa?”
“Bukan karena kamu.”
“Karena Mama tahu dia belum selesai dengan Nadira.”
Jantungku nyeri.
“Lalu kenapa Ibu membiarkan kami menikah?”
“Karena Raka bersumpah hubungan itu sudah selesai. Dia bilang mencintaimu.”
Bu Ratih tersenyum pahit.
“Dan Mama ingin percaya anak Mama bisa berubah.”
Ternyata kami melakukan kesalahan yang sama.
Kami sama-sama percaya kepada laki-laki yang sama.
Pukul sembilan pagi kami tiba di kantor notaris di kawasan Mayjen Sungkono.
Raka datang bersama pengacara pribadinya.
Nadira tidak terlihat.
Notaris yang namanya tercantum dalam dokumen, Pak Dimas Setyawan, tampak sangat terkejut.
“Saya tidak pernah bertemu Bu Alya.”
Maya meletakkan dokumen di mejanya.
“Namun format surat ini menggunakan kop kantor Bapak.”
Pak Dimas memeriksanya lama.
“Formatnya mirip.”
“Nomor registrasinya?”
“Tidak ada dalam sistem kami.”
Raka langsung berkata,
“Sudah jelas palsu. Berarti bukan saya.”
Tetapi Pak Dimas mengangkat satu jari.
“Tunggu.”
Ia memanggil staf administrasi.
Beberapa menit kemudian staf itu membawa catatan tamu gedung.
Tanggal pembuatan draft tersebut ternyata bertepatan dengan hari Raka datang ke kantor itu.
Raka langsung menyangkal.
“Saya datang untuk urusan perusahaan.”
Pak Dimas mengangguk.
“Benar.”
Kemudian ia menambahkan,
“Bersama seorang perempuan.”
Aku langsung tahu siapa.
Namun ternyata bukan Nadira.
Staf menunjukkan foto dari kamera keamanan.
Seorang perempuan berkerudung abu-abu berjalan di samping Raka.
Aku tidak mengenalnya.
Maya memperbesar gambar.
Bu Ratih tiba-tiba berkata,
“Bukankah itu Siska?”
Pak Hendra mengumpat pelan.
Siska adalah staf administrasi pribadi Raka di perusahaan.
Perempuan yang selama ini bertugas mengurus dokumen, jadwal, scan identitas, dan tanda tangan internal.
Perutku terasa mual.
Raka berdiri.
“Aku mau pergi.”
Maya berkata tegas,
“Pak Raka, sebaiknya jangan.”
“Aku tidak sedang ditahan.”
“Benar.”
Raka berjalan menuju pintu.
Pak Dimas tiba-tiba berkata,
“Kamera di ruang konsultasi juga masih menyimpan rekaman.”
Langkah Raka berhenti.
Hanya sepersekian detik.
Tetapi cukup.
Kami semua melihatnya.
Rekaman itu diputar.
Tidak ada suara.
Namun gambarnya jelas.
Raka masuk bersama Siska.
Mereka berbicara dengan salah seorang staf junior.
Kemudian Siska membuka laptop.
Mengeluarkan beberapa lembar.
Raka menyerahkan flash disk.
Lalu sesuatu terjadi.
Siska mengambil selembar kertas kosong.
Ia menulis beberapa kali.
Menghapus.
Menulis lagi.
Kemudian membandingkannya dengan dokumen lain.
Aku mendekat ke layar.
Dokumen pembanding itu adalah formulir asuransi rumah yang pernah kutandatangani.
Tubuhku merinding.
Ia sedang meniru tanda tanganku.
Setelah beberapa kali mencoba, Siska menandatangani lembar final.
Raka berdiri tepat di sebelahnya.
Ia melihat.
Ia tidak menghentikan.
Sebaliknya—
ia menunjuk salah satu bagian kertas.
Seolah meminta koreksi.
Aku tidak menangis.
Belum.
Aku hanya menatap layar sampai rekaman selesai.
Kemudian aku bertanya,
“Masih mau bilang kamu tidak tahu?”
Raka menatap meja.
Tidak ada jawaban.
Kami langsung menuju kantor perusahaan.
Siska tidak masuk kerja.
Ponselnya mati.
Tim audit internal telah mengunci akun digital milik Raka dan beberapa staf yang terkait transaksi.
Sekitar pukul sebelas, aku menerima pesan dari nomor tidak dikenal.
Bu Alya, saya Siska. Saya takut. Saya tidak tahu semuanya akan sejauh ini.
Aku memperlihatkannya kepada Maya.
Maya meminta aku tidak menjawab sendiri.
Beberapa menit kemudian pesan kedua masuk.
Pak Raka bilang tanda tangan itu hanya untuk simulasi bank. Katanya Bu Alya sudah setuju. Saya baru tahu kemarin bahwa dokumennya akan dipakai sungguhan.
Kemudian sebuah foto masuk.
Foto percakapan WhatsApp.
Nama kontak di bagian atas: Pak Raka Direktur.
Pesannya:
“Tiru saja tanda tangan Alya seperti yang di scan. Besok saya urus sisanya. Jangan banyak tanya.”
Ada pesan lain.
“Kalau pinjaman cair, bonus kamu 50 juta.”
Aku duduk.
Baru saat itu tanganku benar-benar gemetar.
Raka dipanggil ke ruang rapat utama.
Bu Ratih duduk di kursi kepala meja.
Pak Hendra di sebelahnya.
Maya membawa hasil awal audit.
Aku sebenarnya tidak punya kewajiban hadir.
Namun Bu Ratih bertanya apakah aku ingin mendengar semuanya.
Aku memilih duduk.
Bukan sebagai istri.
Melainkan sebagai orang yang hampir kehilangan rumah karena tindakan mereka.
Bu Ratih membuka rapat.
“Mulai hari ini, kewenangan Raka sebagai direktur operasional ditangguhkan.”
Raka menatap ibunya.
“Mama tidak bisa begitu saja.”
Pak Hendra meletakkan dokumen keputusan pemegang saham.
“Kami bisa.”
“Ini perusahaan Papa!”
“Dan ayahmu meninggalkan saham dengan struktur kepemilikan, bukan kerajaan turun-temurun.”
Raka tertawa getir.
“Jadi sekarang kalian semua pilih Alya?”
Aku menatapnya.
“Ini bukan soal memilih aku.”
“Ini soal kamu mencuri.”
Raka menatapku tajam.
“Kamu senang sekarang?”
Pertanyaan itu begitu absurd hingga aku hampir tertawa.
“Senang?”
Aku berdiri.
“Kamu mempermalukan aku di depan keluarga.”
“Kamu memakai uang perusahaan untuk perempuan lain.”
“Kamu mencoba menjadikan rumah kami jaminan.”
“Kamu menyuruh staf meniru tanda tanganku.”
Aku mendekat satu langkah.
“Dan kamu masih bertanya apakah aku senang?”
Raka menunduk.
Lalu berbisik,
“Aku melakukan semua itu karena aku sudah terjebak.”
“Terjebak apa?”
Ia diam.
“Apa?”
Akhirnya Raka berkata,
“Nadira hamil.”
Ruangan seolah berhenti.
Bu Ratih memejamkan mata.
Pak Hendra menggeleng.
Aku menatap Raka.
Untuk beberapa detik tidak ada rasa apa pun.
Lalu aku bertanya,
“Berapa bulan?”
“Empat.”
Empat bulan.
Aku menghitung dalam kepala.
Empat bulan lalu adalah Mei.
Bulan ketika Raka mengajakku ke dokter kandungan.
Bulan ketika hasil pemeriksaanku menunjukkan aku mengalami gangguan hormonal ringan dan dokter menyarankan program kehamilan.
Raka menggenggam tanganku di parkiran rumah sakit saat itu.
Ia bilang,
“Tenang. Kita nggak perlu buru-buru. Aku cuma butuh kamu.”
Ternyata pada saat yang hampir sama, perempuan lain sedang mengandung anaknya.
Aku tersenyum kecil.
Raka langsung berkata,
“Alya…”
“Jangan panggil namaku.”
“Aku nggak rencana semua ini.”
“Anak itu terjadi…”
Aku memotong.
“Jangan pernah menyebut seorang anak sebagai kecelakaan hanya untuk mengecilkan dosa orang dewasa.”
Raka terdiam.
Aku pulang ke rumah sore itu ditemani Bu Ratih.
Aku mengambil pakaian, laptop, dokumen pribadi, sertifikat pendidikan, perhiasan peninggalan ibuku, serta seluruh arsip keuangan milikku.
Ketika membuka laci meja kerja Raka, aku menemukan map hitam.
Di dalamnya ada brosur apartemen.
Proposal perusahaan baru.
Draft struktur pemegang saham.
Nama perusahaan:
PT Arunika Living Nusantara.
Direktur utama: Raka Adiwijaya.
Direktur kreatif: Nadira Prameswari.
Ada catatan tulisan tangan.
Target modal awal: Rp4 miliar.
Di bawahnya terdapat beberapa sumber dana.
Pinjaman dengan agunan rumah: Rp2,4 miliar.
Dana vendor: Rp1,1 miliar.
Investor keluarga: Rp500 juta.
Aku tertawa pendek.
Jadi jelas.
Bukan sekadar cinta lama yang kembali.
Mereka merencanakan kehidupan baru.
Dengan modal dari rumahku.
Dengan uang perusahaan keluarganya.
Dengan tanda tanganku yang dipalsukan.
Aku memotret semuanya.
Lalu di bagian paling belakang map itu aku menemukan sesuatu yang lebih aneh.
Sebuah perjanjian antara Raka dan Nadira.
Bukan perjanjian bisnis biasa.
Ada satu klausul yang berbunyi:
Apabila investasi tahap pertama telah diterima, pihak kedua bersedia menyerahkan 40% kepemilikan PT Nusa Prima Interior kepada pihak pertama.
Aku membaca kembali.
Nadira selama ini berkata perusahaannya miliknya.
Tetapi Raka ternyata berencana menguasai hampir separuh.
Dan ketika kulihat halaman berikutnya, ada transfer-transfer pribadi dari Raka kepada Nadira senilai hampir Rp900 juta.
Jumlah itu terpisah dari transaksi perusahaan.
Aku menghubungi Maya.
“Kalau ini benar, uangnya lebih besar dari yang kita kira.”
Malamnya, sekitar pukul delapan, Nadira datang ke rumah Bu Ratih.
Tanpa Raka.
Matanya bengkak.
Wajahnya pucat.
Ia meminta bicara denganku.
Bu Ratih menolak.
Tetapi aku setuju.
Kami duduk di teras belakang.
Nadira memegang tasnya erat.
“Aku mau minta maaf.”
Aku tidak menjawab.
“Soal pesta.”
“Cuma pesta?”
Nadira menunduk.
“Aku memang keterlaluan.”
Aku menatapnya.
“Kenapa kamu datang?”
Air matanya jatuh.
“Karena Raka bohong ke aku juga.”
Aku hampir tertawa.
“Kamu datang ke istri laki-laki yang kamu tiduri untuk mengeluh bahwa dia bohong kepadamu?”
“Aku tahu kedengarannya menjijikkan.”
“Bukan kedengarannya.”
Aku menatapnya lurus.
“Memang menjijikkan.”
Nadira menangis lebih keras.
Namun kali ini aku tidak merasa kasihan.
Ia membuka ponselnya.
“Aku baru tahu dia nggak benar-benar mau bercerai setelah perusahaan baru berdiri.”
Aku mengernyit.
“Apa?”
“Dia bilang kalian sudah sepakat pisah.”
Aku tertawa tanpa suara.
“Tentu saja.”
“Dia bilang rumah kalian akan dijual sebagai bagian pembagian aset.”
“Makanya kamu merasa uang dari rumah itu boleh dipakai?”
Nadira menggeleng cepat.
“Aku tidak tahu tanda tanganmu dipalsukan.”
“Mungkin.”
Aku tidak berniat mempercayainya begitu saja.
Lalu Nadira berkata,
“Ada hal lain.”
Ia menaruh ponselnya di meja.
Menyalakan rekaman suara.
Suara Raka terdengar.
Jelas.
“Setelah perusahaan jalan, Mama nggak punya pilihan. Kalau dia tetap keras kepala, kita tekan lewat utang proyek. Aku punya akses semuanya.”
Kemudian suara Nadira:
“Terus Alya?”
Raka tertawa.
“Alya gampang. Dia nggak pernah ribut. Paling nangis, terus pulang ke ibunya.”
Aku tidak bergerak.
Rekaman berlanjut.
“Kalau dia nggak mau tanda tangan cerai?”
“Aku buat dia capek sendiri.”
Ada jeda.
Lalu Raka berkata sesuatu yang membuat bahkan Nadira di depanku kembali menunduk.
“Orang seperti Alya itu kalau disakiti pelan-pelan, lama-lama bakal merasa dirinya memang nggak layak dipertahankan.”
Aku mematikan rekaman.
Tidak ada lagi yang perlu kudengar.
Karena saat itu aku akhirnya mengerti—
pengkhianatan terbesar Raka bukan Nadira.
Bukan uang.
Bukan tanda tangan palsu.
Melainkan fakta bahwa selama bertahun-tahun dia sengaja mengikis kepercayaan diriku sedikit demi sedikit karena yakin aku tidak akan pernah berani pergi.
Aku menatap Nadira.
“Kirim rekamannya ke pengacaraku.”
“Alya…”
“Kirim.”
Ia menurut.
Setelah itu aku berdiri.
“Dan mulai malam ini, jangan datang kepadaku untuk mencari pengampunan.”
Aku membuka pintu teras.
“Kalau kamu benar-benar hamil anak Raka, urus hak anakmu.”
“Tapi segala sesuatu yang kalian lakukan terhadapku dan perusahaan akan ditangani lewat jalur hukum.”
Nadira menatapku ketakutan.
“Kalau kasus ini dilanjutkan, aku bisa kehilangan semuanya.”
Aku berhenti.
Menoleh.
Kemudian menjawab,
“Kamu sudah tahu rasanya takut kehilangan sesuatu. Bedanya, saat kalian merencanakan mengambil milikku, kalian tidak pernah peduli bagaimana rasanya bagiku.”
Aku menutup pintu.
Aku mengira malam itu sudah cukup berat.
Ternyata satu jam kemudian Maya menelepon.
“Alya, kami menemukan transfer lain.”
“Berapa?”
“Bukan jumlahnya yang jadi masalah.”
“Lalu?”
Maya terdiam sesaat.
“Transfer itu berasal dari rekening tabungan bersama kamu dan Raka.”
Aku langsung berdiri.
Rekening itu berisi uang yang kusimpan selama empat tahun.
Dana yang kami sepakati untuk program bayi dan renovasi rumah.
“Berapa yang diambil?”
“Rp630 juta.”
Aku memejamkan mata.
Maya melanjutkan,
“Dan Alya…”
“Ada satu transaksi lagi yang jauh lebih besar.”
Aku tidak menjawab.
“Raka mencoba menjual salah satu aset keluarga tiga hari lalu.”
“Aset apa?”
Maya menarik napas.
“Tanah peninggalan almarhum ayahnya yang secara hukum sebagian kepemilikannya justru sudah diwariskan atas nama Bu Ratih.”
Aku membuka mata.
Itulah saat aku tahu—
Raka bukan lagi sedang menyelamatkan hubungannya dengan Nadira.
Dia sedang mencoba menyelamatkan dirinya sendiri.
Dan untuk melakukannya, dia bersedia menyeret siapa pun.
Termasuk ibunya sendiri.

