Suamiku Memaksaku Mengurus Baby Shower Kekasihnya yang Hamil, Lalu Menanyakan Hadiahku untuk Bayi yang Katanya Anak Dia

Avatar penulis
Cerita 01
18 menit baca 258 tayangan
Suamiku Memaksaku Mengurus Baby Shower Kekasihnya yang Hamil, Lalu Menanyakan Hadiahku untuk Bayi yang Katanya Anak Dia
Indeks

Bagian 2

Untuk beberapa detik, tidak ada yang tertawa.

Dimas menatap isi kotak, lalu menatapku.

“Apa-apaan ini?”

Aku menyerahkan mikrofon kembali kepadanya.

“Kamu mau semua orang merayakan anakmu. Aku cuma berpikir sebaiknya kamu yakin dulu.”

Wajahnya memerah.

“Kamu mau mempermalukan aku?”

Aku hampir menjawab cepat, tetapi menahan diri.

Suamiku Memaksaku Mengurus Baby Shower Kekasihnya yang Hamil, Lalu Menanyakan Hadiahku untuk Bayi yang Katanya Anak Dia

“Aku yang berdiri di sini setelah tiga minggu mengurus pesta untuk perempuan yang kamu bawa ke rumah kita. Menurutmu siapa yang sedang dipermalukan?”

Ruangan menjadi sunyi.

Bu Mirna langsung maju.

“Laras, jangan bikin keributan di acara begini.”

Aku menoleh kepadanya.

“Saya tidak meminta acara ini, Bu.”

Dimas menutup kotak dengan kasar.

“Tes beginian nggak perlu.”

Di sampingnya, Rani mendadak berkata, “Dimas, sudah. Nggak usah ditanggapi.”

Aku melihat wajahnya.

Bukan marah.

Takut.

Dimas juga melihatnya.

“Kamu kenapa?”

Rani menggeleng.

“Nggak kenapa-kenapa.”

Dimas menatapnya lebih lama.

Aku tidak mengatakan apa pun.

Aku bahkan tidak perlu.

Keraguan yang sejak tadi hanya milikku sekarang sudah berpindah ke wajah Dimas.

Dia menarik lengan Rani sedikit menjauh dari mikrofon.

“Kamu yakin anak ini anakku, kan?”

Rani mengangkat wajah.

“Kok kamu tanya aku begitu di depan semua orang?”

“Itu pertanyaan sederhana.”

“Ya yakin.”

“Tadi kenapa kamu panik?”

“Aku nggak panik.”

Bu Mirna mencoba mengambil mikrofon dari tangan Dimas.

“Sudah. Ini acara keluarga. Jangan rusak suasana hanya karena Laras iri.”

Namun Dimas tidak mendengarkan.

Dia masih menatap Rani.

“Tesnya kita lakukan.”

Rani langsung menggeleng.

“Untuk apa?”

“Supaya selesai.”

“Dimas, kamu percaya sama aku atau nggak?”

Pertanyaan itu terdengar familiar.

Berapa kali selama sepuluh tahun aku dipaksa menganggap kepercayaan berarti tidak boleh bertanya?

Sekarang Dimas mendapat kalimat yang sama.

Dia tidak menyukainya.

“Kita lakukan,” katanya lagi.

Rani mulai menangis.

Aku tidak merasa menang.

Melihat seorang perempuan hamil menangis di tengah ruangan penuh orang bukan pemandangan yang membuatku puas.

Aku hanya ingin kebenaran yang selama ini dianggap tidak penting ketika yang dipermalukan adalah aku.

Acara berakhir jauh lebih cepat dari rencana.

Sebagian tamu pulang tanpa menunggu pengungkapan jenis kelamin.

Kue masih tersisa lebih dari setengah.

Dekorasi masih menyala ketika orang terakhir meninggalkan halaman.

Aku sedang membantu staf katering mengecek peralatan ketika Dimas mendatangiku.

“Kamu puas?”

Aku menatap daftar barang di tanganku.

“Nggak.”

“Kamu bikin aku malu di depan klien.”

“Kamu bawa perempuan hamil ke rumah kita dan menyuruh aku merayakannya di depan keluarga. Kamu pikir itu tidak mempermalukan aku?”

“Jangan dibandingkan.”

“Memang tidak bisa dibandingkan.”

Aku menyerahkan daftar pada petugas katering.

“Yang kamu lakukan berlangsung berbulan-bulan. Yang kulakukan tadi cuma meminta kepastian.”

Dimas mengepalkan rahangnya.

“Kamu sudah berubah.”

Mungkin.

Tapi bukan dalam satu malam.

Aku hanya sudah terlalu lelah menjadi satu-satunya orang di rumah itu yang selalu diminta mengalah supaya orang lain tidak merasa tidak nyaman.

Keesokan paginya Dimas membawa Rani ke laboratorium.

Aku tidak ikut masuk ke ruang pengambilan sampel.

Mereka berdua menandatangani persetujuan sendiri.

Dimas bersikeras aku menunggu di luar.

Mungkin dia ingin memastikan kalau hasilnya menunjukkan dia ayah biologis, aku akan dipaksa menerima penghinaan terakhir.

Aku menunggu hampir satu jam.

Ketika mereka keluar, Rani tidak menatapku.

Dimas berkata, “Nanti kalau hasilnya keluar, jangan bilang aku nggak kasih kamu kesempatan buat minta maaf.”

Aku mengangguk.

“Kalau kamu memang ayahnya, aku akan mengakui hasilnya.”

Dia terlihat tidak menyangka aku akan berkata begitu.

Malam itu aku tidak tidur di kamar kami.

Aku masuk ke kamar kecil dekat dapur dan mengunci pintu.

Paginya, saat Dimas berangkat kerja, aku mengambil satu koper.

Aku membawa buku nikah, kartu identitasku, salinan dokumen rumah yang selama ini kusimpan bersama arsip tagihan, beberapa pakaian, obat-obatan, dan laptop lamaku.

Rani melihatku dari tangga.

“Kamu mau pergi?”

“Untuk sementara.”

Dia memegang pagar tangga.

“Kalau hasil tes membuktikan Dimas ayahnya?”

Aku menutup koper.

“Itu tidak mengubah cara dia memperlakukanku.”

Rani terdiam.

Untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu di wajahnya yang bukan kemenangan.

Mungkin karena selama ini dia mengira masalah kami hanya tentang seorang bayi.

Padahal sudah jauh lebih besar dari itu.

Aku menelepon Siska, teman kerjaku dulu.

Sudah hampir dua tahun kami hanya bertukar ucapan ulang tahun.

Tanganku gemetar ketika menekan tombol panggil.

“Sis, aku perlu tempat tinggal beberapa hari. Kalau kamu nggak bisa, nggak apa-apa.”

Dia tidak bertanya panjang.

“Datang saja.”

Apartemennya kecil dan ruang tamunya harus dibagi dengan rak barang dagangan daring miliknya, tetapi malam pertama di sana aku tidur lebih tenang daripada berminggu-minggu sebelumnya.

Bukan karena masalahku selesai.

Untuk pertama kalinya, Dimas tidak bisa membuka pintu kamar hanya karena rumah itu atas namanya.

Dua hari kemudian aku menemui seorang advokat atas rekomendasi Siska.

Aku membawa dokumen yang memang bisa kuakses.

Aku tidak meminta jaminan akan mendapat rumah atau uang tertentu.

Aku hanya ingin tahu apa yang harus kulakukan supaya tidak pulang dengan tangan kosong setelah sepuluh tahun.

Ia memeriksa tanggal pembelian rumah, dokumen pernikahan, dan beberapa bukti pembayaran.

“Jangan berasumsi semua milik suami hanya karena namanya yang tercantum,” katanya. “Tapi juga jangan mengambil apa pun sembarangan. Kita data dulu mana yang diperoleh selama perkawinan, mana yang sebelumnya, dan apa yang bisa dibuktikan.”

Aku mengangguk.

Itu pertama kalinya seseorang menjelaskan situasiku tanpa menyebutku istri gagal.

Seminggu setelah pengambilan sampel, pesan dari laboratorium masuk.

Dimas meneleponku hampir bersamaan.

“Datang ke rumah.”

“Ada apa?”

“Hasilnya keluar.”

Aku melihat pesan di layar.

Hasil resmi hanya bisa diakses oleh pihak yang menjalani pemeriksaan. Dimas rupanya sudah membukanya.

Aku tidak perlu bertanya bagaimana hasilnya.

Napasnya terdengar berat.

“Laras.”

“Ya?”

“Datang sekarang.”

Aku tetap bertanya.

“Dimas, hasilnya apa?”

Beberapa detik tidak ada suara.

Lalu suamiku, yang beberapa minggu lalu berdiri di depan puluhan orang sambil mengumumkan bahwa akhirnya ia mendapatkan pewaris, berkata pelan:

“Aku bukan ayahnya.”

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Ketika aku tiba di rumah, dekorasi pesta sudah dilepas, tetapi beberapa bekas perekat masih menempel di dinding ruang tengah.

Kotak putih yang kubawa ke acara tergeletak di meja.

Dimas duduk di sofa sambil memegang beberapa lembar hasil pemeriksaan.

Bu Mirna ada di kursi sebelahnya.

Rani berdiri dekat tangga.

Tidak ada yang tampak seperti orang yang baru memenangkan sesuatu.

Dimas mengangkat kertas itu saat melihatku.

“Laboratoriumnya salah.”

Aku meletakkan tas.

“Kalau kamu yakin, ulangi di tempat lain.”

Rani langsung menoleh.

“Dimas, jangan.”

Dimas berdiri.

“Kenapa jangan?”

“Aku capek.”

“Capek apa?”

Rani tidak menjawab.

Dimas mendekatinya.

“Kamu tahu sesuatu?”

Bu Mirna ikut berdiri.

“Rani, bicara yang jelas.”

Rani menatap satu per satu wajah kami, lalu duduk perlahan.

Tangannya berada di atas perut.

“Memang ada kemungkinan Dimas bukan ayahnya.”

Aku tidak terkejut seperti Bu Mirna.

Aku sudah mempersiapkan diriku untuk kedua kemungkinan.

Dimas justru terlihat kehilangan kata-kata.

“Apa?”

Rani mengusap wajah.

“Aku sudah bilang dulu.”

“Bilang apa?”

“Waktu aku kasih tahu aku hamil, aku bilang aku nggak seratus persen yakin.”

Dimas menatapnya.

“Kamu bilang kemungkinan besar anakku.”

“Iya.”

“Itu beda!”

“Memang beda. Tapi kamu yang bilang nggak masalah.”

Ruangan tiba-tiba terasa jauh lebih kecil.

Aku memandang Dimas.

Dia tidak melihatku.

Rani melanjutkan dengan suara lebih pelan.

“Sebelum dekat sama Dimas, aku masih ada hubungan yang belum benar-benar selesai sama seseorang.”

“Siapa?” tanya Bu Mirna tajam.

Rani menggeleng.

“Itu bukan urusan Ibu.”

“Bayi yang kami anggap cucu saya, kamu bilang bukan urusan saya?”

Rani mengangkat wajah.

“Saya nggak pernah minta Ibu bikin pengumuman di depan orang-orang.”

Bu Mirna terdiam.

Dimas membentak, “Jadi selama ini kamu bohong?”

Rani berdiri lagi.

“Aku salah karena membiarkan kamu bilang ke semua orang seolah sudah pasti. Tapi jangan pura-pura kamu nggak tahu ada keraguan.”

Dimas menunjuknya.

“Aku percaya sama kamu!”

Rani tertawa pendek, getir.

“Bukan. Kamu percaya pada cerita yang paling kamu mau.”

Kalimat itu mengenai sesuatu yang selama ini mungkin tidak berani kami ucapkan.

Dimas sangat ingin bayi itu anaknya.

Bukan hanya karena ingin menjadi ayah.

Ia ingin membuktikan bahwa sepuluh tahun tanpa anak bukan karena dirinya.

Ia ingin menunjukkan kepada ibunya, teman-temannya, dan terutama kepadaku bahwa masalah selama ini adalah aku.

Kalau Rani hamil anaknya, semua penghinaan yang ia lempar kepadaku selama bertahun-tahun akan terasa benar di kepalanya.

Jadi ketika ada kemungkinan, dia mengubah kemungkinan menjadi kepastian.

“Kenapa kamu diam?” tanyaku kepada Dimas.

Dia menatapku.

“Apa?”

“Rani bilang dari awal ada kemungkinan bukan anakmu. Kenapa kamu tetap datang ke rumah dan bilang dia mengandung anakmu?”

“Aku pikir memang anakku.”

“Tapi kamu nggak tahu.”

Dia mengepalkan kertas hasil tes.

“Aku percaya.”

“Lalu kamu pakai kepercayaan itu untuk mengusir aku dari kamar, membawa dia tinggal di sini, dan menyuruh aku bikin pesta.”

“Laras, sekarang bukan waktunya.”

Aku hampir tersenyum mendengar kalimat itu.

Selama sepuluh tahun, waktu untuk membicarakan sesuatu selalu ditentukan Dimas.

Kalau aku menangis, waktunya tidak tepat.

Kalau aku ingin kami pergi ke dokter bersama, dia sedang sibuk.

Kalau aku menanyakan kenapa pulang larut, aku terlalu curiga.

Kalau aku mempertanyakan Rani tinggal di rumah, aku dianggap kejam terhadap perempuan hamil.

Sekarang saat semuanya terbuka, lagi-lagi bukan waktunya.

“Justru sekarang waktunya.”

Bu Mirna mendekatiku.

“Laras, kita bisa bicara baik-baik. Ibu juga kecewa. Kita semua dibohongi.”

Aku memandangnya.

“Tidak semua, Bu.”

“Maksudmu?”

“Rani memang tidak jujur soal kepastian ayah bayi itu. Tapi Dimas tahu ada kemungkinan dia bukan ayahnya.”

Dimas memotong.

“Aku nggak tahu hasilnya bakal begini.”

“Itu bukan pembelaan.”

Bu Mirna terlihat tidak nyaman.

“Yang penting sekarang kita bereskan masalah Rani.”

Aku menggeleng.

“Masalah saya bukan Rani saja.”

Bu Mirna berhenti.

Aku menatap Dimas.

“Kalau hasil ini menunjukkan kamu ayahnya, kamu pikir aku akan kembali dan semuanya selesai?”

Dimas tidak menjawab.

“Aku sudah bilang dari awal,” lanjutku. “Hasil DNA tidak mengubah apa yang kamu lakukan kepadaku.”

Rani perlahan mengambil tasnya dari kursi.

Dimas melihat.

“Kamu mau ke mana?”

“Pergi.”

“Bagus.”

Nada Dimas berubah keras.

“Keluar dari rumahku.”

Rani menatapnya lama.

“Semudah itu?”

“Kamu bohong soal anak.”

“Aku memang salah.”

Suaranya bergetar, tetapi dia tidak mundur.

“Tapi kamu juga selingkuh dari istrimu. Kamu bawa aku ke rumah ini. Kamu bilang selama aku kasih kamu anak, semuanya akan aman.”

Dimas menoleh cepat kepadaku, seolah berharap aku tidak mendengar.

Aku mendengar.

Rani membuka tasnya, mengambil ponsel.

“Aku nggak minta rumah ini. Kamu yang bilang Laras akhirnya harus menerima keadaan karena dia nggak bisa punya anak.”

“Cukup.”

“Kamu bilang kalau hasilnya anak laki-laki, ibumu akan berhenti mempertanyakan semuanya.”

“Diam, Rani.”

“Kenapa? Sekarang kamu malu?”

Dimas bergerak maju satu langkah.

Aku langsung berkata, “Jangan sentuh dia.”

Dia berhenti.

Aku tidak sedang membela semua tindakan Rani.

Aku juga tidak berniat menjadi temannya.

Tapi perempuan hamil itu tetap berhak pergi dari rumah tanpa keributan fisik hanya karena kebohongan Dimas kembali mengenai dirinya sendiri.

Rani pergi ke kamar untuk mengemas barang.

Bu Mirna duduk lagi sambil memegang kepalanya.

“Ini memalukan sekali.”

Aku tidak tahu apakah yang ia maksud perselingkuhan anaknya, hasil tes DNA, atau fakta bahwa keluarga besar sudah melihat semuanya.

Mungkin semuanya.

Dimas berjalan ke dapur, menuang air, lalu kembali.

Saat itu kemarahannya sedikit turun.

Sebagai gantinya muncul sesuatu yang lebih jarang kulihat.

Ketakutan.

“Kamu mau tinggal di mana?” tanyanya.

“Sementara dengan teman.”

“Pulang saja.”

Aku menggeleng.

“Kita selesaikan masalah Rani dulu.”

“Sudah selesai.”

“Laras.”

“Aku akan mengajukan cerai.”

Gelas di tangannya berhenti di tengah jalan.

Bu Mirna mengangkat kepala.

“Kamu jangan ambil keputusan saat emosi.”

“Aku sudah memikirkannya sejak sebelum hasil tes keluar.”

Dimas meletakkan gelas.

“Karena pesta itu?”

Aku menatapnya.

“Karena sepuluh tahun.”

Dia diam.

Aku tidak punya pidato panjang.

Tidak ada satu kalimat dramatis yang bisa merangkum semuanya.

Pernikahan kami tidak rusak hanya pada hari Dimas membawa Rani pulang.

Hari itu hanya membuat kerusakan yang sudah lama ada menjadi terlalu besar untuk kusembunyikan dari diriku sendiri.

“Aku pernah minta kamu ikut pemeriksaan kesuburan,” kataku.

Dimas memalingkan wajah.

“Kita nggak perlu bahas itu.”

“Kenapa?”

“Karena nggak ada hubungannya.”

“Ada.”

Aku berdiri di depannya.

“Kamu bilang aku mandul berkali-kali, padahal dokter nggak pernah bilang begitu. Dokter bilang kita berdua perlu diperiksa. Aku menyelesaikan bagianku. Kamu tidak.”

Dimas tidak menjawab.

Bu Mirna menatap anaknya.

“Kamu nggak pernah periksa?”

Dimas terlihat kesal.

“Buat apa sekarang dibahas?”

Aku akhirnya tahu kenapa ia selalu marah setiap kali topik itu muncul.

Bukan karena ia sudah memiliki jawaban.

Ia justru tidak ingin mencari jawaban.

Selama aku yang dipersalahkan, dia tidak perlu menghadapi kemungkinan lain.

Aku mengambil map dokumen dari tas.

“Aku sudah konsultasi.”

Dimas melihat map itu.

“Konsultasi apa?”

“Dokumen perkawinan. Rumah. Aset yang diperoleh selama kita menikah.”

Wajahnya langsung berubah.

“Jadi sekarang kamu mau ambil rumah?”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Rumah ini atas namaku.”

“Aku tahu.”

Aku sudah berlatih menjelaskan bagian ini supaya tidak terpancing.

“Aku nggak akan mengambil sesuatu yang bukan hakku. Tapi aku juga nggak akan pergi setelah sepuluh tahun hanya karena kamu bilang semua milikmu. Semua akan diperiksa lewat prosedur yang benar.”

Bu Mirna berkata pelan, “Laras, urusan keluarga jangan langsung dibawa ke orang luar.”

Aku menatapnya.

“Selama ini setiap kali saya diminta diam, alasannya selalu keluarga.”

Bu Mirna menghela napas.

“Kita bisa selesaikan sendiri.”

“Waktu Dimas bawa Rani tinggal di sini, ada yang tanya pendapat saya?”

Tidak ada jawaban.

“Waktu saya disuruh mengurus pesta, ada yang bilang keputusan sebesar itu sebaiknya dibicarakan dulu?”

Tetap tidak ada jawaban.

“Jadi sekarang saya akan urus bagian saya dengan cara yang jelas.”

Aku memasukkan kembali map ke tas.

Sebelum pulang ke tempat Siska, aku masuk ke kamar lama kami untuk mengambil beberapa barang yang tertinggal.

Di laci meja, masih ada amplop pemeriksaan medis bertahun-tahun lalu.

Namaku tercetak di sana.

Aku membawanya.

Bukan untuk membuktikan aku sempurna.

Aku sudah tidak membutuhkan pembenaran itu.

Aku membawanya karena semua dokumen hidupku seharusnya tidak lagi disimpan di rumah yang aksesnya dikendalikan Dimas.

Tiga hari kemudian Rani benar-benar pindah.

Aku tahu karena dia mengirim pesan singkat.

“Aku sudah keluar dari rumah. Maaf untuk bagian yang kulakukan terhadapmu.”

Aku membaca pesan itu dua kali.

Aku tidak langsung membalas.

Sore harinya aku menulis:

“Aku tidak bisa mengatakan semuanya baik-baik saja. Jaga kehamilanmu dan selesaikan urusan paternitas dengan orang yang memang terkait.”

Hanya itu.

Aku tidak bertanya siapa laki-laki lain itu.

Aku tidak meminta perkembangan tes berikutnya.

Hidup Rani bukan lagi pusat hidupku.

Dimas justru mulai menelepon hampir setiap hari.

Awalnya soal dokumen.

Kemudian rumah.

Lalu berubah menjadi hal-hal kecil.

“Kamu sudah makan?”

“Aku bisa jemput kamu kalau perlu.”

“Ibu nanya kamu kapan pulang.”

Suatu malam dia berkata, “Kita mulai lagi saja.”

Aku sedang duduk di meja makan apartemen Siska, mengisi formulir lamaran kerja.

“Mulai lagi dari mana?”

“Dari awal.”

Aku berhenti mengetik.

“Kita nggak punya tombol untuk kembali ke awal.”

“Aku mengakui aku salah.”

“Bagian mana?”

Dia diam.

Aku menunggu.

“Selingkuh.”

“Lalu?”

“Membawa Rani ke rumah.”

“Lalu?”

“Acara itu.”

Aku menunggu lagi.

Dimas menghela napas.

“Kamu mau aku sebut satu-satu?”

“Iya.”

Karena selama bertahun-tahun, semua kesalahan selalu diringkas menjadi satu kalimat kecil.

Aku cuma marah.

Aku cuma minum.

Aku cuma ingin anak.

Aku cuma membantu.

Aku cuma kecewa.

Padahal akibatnya tidak pernah kecil.

“Kamu berkali-kali menyebut aku tidak berguna sebagai perempuan,” kataku. “Kamu menolak diperiksa tapi tetap menyalahkan aku. Kamu membuat aku berhenti bekerja, lalu saat aku bergantung secara finansial kepadamu, kamu menggunakan rumah sebagai ancaman.”

Dimas tidak menyela.

“Kamu membawa perempuan lain masuk dan membuat aku melayani pesta untuk kehamilannya. Bahkan setelah tahu paternitasnya belum pasti.”

“Aku menyesal.”

“Aku dengar.”

“Terus apa lagi yang kamu mau?”

Pertanyaan itu membuatku sadar bahwa Dimas masih melihat penyesalan sebagai pembayaran.

Seolah setelah dia mengucapkannya, aku berkewajiban memberikan sesuatu sebagai imbalan.

“Aku nggak minta apa-apa lagi darimu malam ini.”

“Berarti ada harapan?”

“Bukan itu maksudku.”

Aku menutup laptop.

“Aku tetap melanjutkan proses cerai.”

Dia tidak menelepon selama tiga hari setelah itu.

Aku menggunakan waktu tersebut untuk mencari pekerjaan.

Awalnya tidak mudah.

Sepuluh tahun berada di luar dunia kerja membuat CV-ku terlihat tipis.

Beberapa software administrasi yang dulu kukuasai sudah berubah.

Aku merasa bodoh saat pertama kali mencoba sistem akuntansi berbasis cloud di laptop Siska.

Tapi rasa malu itu berbeda dengan rasa malu selama hidup bersama Dimas.

Yang ini bisa diperbaiki dengan belajar.

Aku ikut kursus singkat daring.

Siska mengizinkanku membantu mencatat stok bisnis kecilnya supaya aku terbiasa lagi dengan spreadsheet.

Dua minggu kemudian aku mendapat panggilan wawancara dari perusahaan distribusi alat rumah tangga.

Gajinya tidak besar.

Jauh lebih kecil daripada pendapatan Dimas.

Aku tetap datang.

Saat pewawancara bertanya kenapa berhenti bekerja begitu lama, aku mengatakan aku fokus mengurus rumah tangga dan sekarang ingin kembali membangun pengalaman profesional.

Aku tidak menceritakan soal Rani.

Aku tidak menceritakan tes DNA.

Untuk pertama kalinya kisah buruk pernikahanku tidak harus menjadi seluruh identitasku.

Aku diterima sebagai staf administrasi kontrak tiga bulan.

Hari pertama kerja, aku hampir pulang setelah makan siang karena gugup.

Aku tidak pulang.

Sementara itu proses perpisahan dengan Dimas berjalan pelan.

Tidak ada satu pertemuan yang langsung membereskan semuanya.

Dokumen rumah harus diperiksa.

Tanggal pembelian beberapa aset harus dicocokkan.

Ada hal-hal yang menurut Dimas miliknya sepenuhnya dan menurut penasihatku masih perlu dibahas dalam pembagian sesuai status serta bukti.

Aku tidak memahami semuanya sendiri.

Aku juga berhenti berpura-pura harus memahami semuanya sendiri.

Yang paling penting, aku mengikuti prosedur dan menyimpan salinan dokumenku.

Bu Mirna datang menemuiku sekitar satu bulan setelah pesta.

Kami bertemu di sebuah kedai kopi dekat kantor baruku.

Dia terlihat lebih tua daripada terakhir kali kulihat.

“Dimas kurusan,” katanya setelah kami memesan minum.

Aku tidak menjawab.

“Rumah sepi.”

Aku tetap diam.

Akhirnya dia berkata, “Ibu datang bukan untuk menyalahkan kamu.”

Aku menatapnya.

Kalimat pembuka itu biasanya berarti seseorang akan segera menyalahkanku.

Benar saja.

“Dimas memang salah. Tapi pernikahan sepuluh tahun jangan dibuang begitu saja.”

Aku memegang cangkir.

“Yang membuat saya memutuskan pergi juga terjadi selama sepuluh tahun, Bu.”

“Ibu tahu Ibu juga pernah terlalu keras.”

Aku menunggu.

“Waktu acara itu… ucapan Ibu memang keterlaluan.”

Itu mungkin permintaan maaf paling dekat yang pernah kudengar darinya.

Aku mengangguk.

“Iya.”

Wajahnya berubah sedikit, mungkin karena dia berharap aku berkata tidak apa-apa.

Aku tidak bisa mengatakan itu.

“Maaf,” katanya akhirnya.

“Terima kasih sudah bilang.”

“Kalau begitu kamu mau mempertimbangkan pulang?”

Aku menggeleng.

Bu Mirna terlihat kecewa.

Aku tidak marah.

Mungkin baginya permintaan maaf memang selalu memiliki tujuan.

Bagiku tidak lagi.

Dua bulan setelah pesta, Dimas mengajakku bertemu sendiri.

Kami duduk di teras rumah yang dulu kutinggali.

Bekas dekorasi sudah hilang.

Tidak ada lagi tulisan nama bayi di dinding.

Dimas meletakkan dua cangkir teh.

“Rani sudah melakukan tes dengan laki-laki satunya,” katanya.

Aku tidak bertanya.

“Dia ayahnya.”

Aku mengangguk.

“Semoga mereka bisa urus baik-baik.”

Dimas menatapku.

“Cuma itu?”

“Apa lagi yang harus kukatakan?”

“Aku pikir kamu akan senang.”

“Kenapa?”

“Karena dia akhirnya terbukti bohong.”

Aku memandang halaman.

“Aku sudah tidak membangun hidupku dari apa yang terjadi pada Rani.”

Dimas terdiam.

Kemudian dia berkata, “Aku sudah periksa.”

Aku menoleh.

“Periksa apa?”

Dia tidak langsung menjawab.

“Kesuburan.”

Aku menunggu.

“Hasil awalnya ada masalah. Dokter minta pemeriksaan lagi.”

Dimas menatap kedua tangannya.

Untuk sesaat aku kembali melihat laki-laki yang kunikahi dulu.

Bukan suami yang berdiri di atas panggung mempermalukanku.

Bukan laki-laki yang membawa Rani masuk rumah.

Hanya seseorang yang sedang takut pada jawaban yang selama bertahun-tahun dihindarinya.

“Aku seharusnya periksa dari dulu,” katanya.

“Iya.”

Dia mengangguk pelan.

“Aku menyalahkan kamu karena lebih gampang.”

Aku tidak menjawab.

“Mungkin karena kalau masalahnya kamu, aku nggak perlu takut ada masalah di aku.”

Itu adalah kalimat paling jujur yang pernah ia ucapkan tentang pernikahan kami.

Dan anehnya, kejujuran itu tidak membuatku ingin kembali.

Justru membuatku semakin yakin bahwa keputusanku benar.

Dimas tidak hanya berselingkuh.

Selama bertahun-tahun dia melindungi dirinya dari ketakutan dengan menjadikanku tempat menaruh semua rasa malu.

“Aku minta maaf, Laras.”

“Aku tahu.”

“Kamu masih sayang sama aku?”

Aku menatapnya.

Pertanyaan itu sulit.

“Sebagian dari diriku mungkin masih sayang sama orang yang dulu kupikir kamu.”

Matanya berkaca-kaca.

“Tapi itu nggak cukup buat aku pulang.”

Kami duduk beberapa menit tanpa bicara.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada orang yang bertepuk tangan.

Tidak ada kemenangan besar.

Aku hanya mengambil tas dan berdiri.

Dimas tidak menahanku.

Beberapa bulan kemudian aku pindah dari apartemen Siska ke rumah kontrakan kecil dekat tempat kerja.

Hanya ada dua kamar.

Dapurnya sempit.

Cat di dekat pintu belakang sedikit mengelupas.

Tapi kontraknya atas namaku.

Setiap bulan aku membayar sewanya dari rekeningku sendiri.

Pekerjaanku diperpanjang.

Aku belum punya rencana besar.

Aku juga belum tahu apakah suatu hari aku ingin menikah lagi atau tidak.

Untuk pertama kali, aku tidak merasa harus segera memiliki jawaban.

Proses perpisahanku dengan Dimas masih menyisakan beberapa urusan administrasi yang belum selesai, termasuk pembagian hal-hal yang kami peroleh selama menikah.

Namun satu hal sudah selesai.

Aku tidak lagi tinggal sebagai tamu di rumah yang selama sepuluh tahun kusebut rumahku sendiri.

Suatu malam setelah pulang kerja, aku menerima pesan dari Bu Mirna.

Ia menanyakan apakah suatu hari aku mau datang makan bersama keluarga.

Aku menjawab:

“Belum, Bu.”

Tidak ada penjelasan panjang.

Tidak ada rasa bersalah yang membuatku menghapus pesan lalu menulis ulang.

Aku hanya meletakkan ponsel di meja.

Sebelum tidur, aku memeriksa pintu depan.

Kunci rumah kontrakan itu baru.

Tidak ada salinannya di tangan Dimas.

Tidak ada yang bisa masuk sambil membawa koper lalu memberitahuku bahwa aku harus menerima keputusan mereka.

Aku memutar kunci sekali.

Lalu sekali lagi untuk memastikan.

Menurutmu, apakah Laras masih perlu memberi Dimas kesempatan setelah ia akhirnya mengakui semua kesalahannya?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.