Setelah 108 Kali Ditolak Kerja Karena Wajahku, Aku Menjadi Pendamping Pribadi dan Menemukan Mantan Tunanganku di Kursi Roda

Avatar penulis
Cerita 01
17 menit baca 1,381 tayangan
Setelah 108 Kali Ditolak Kerja Karena Wajahku, Aku Menjadi Pendamping Pribadi dan Menemukan Mantan Tunanganku di Kursi Roda
Indeks

Bagian 2

Arga bahkan tidak melirik perempuan itu.

“Kalau kamu datang hanya untuk mengejek, pintunya di sana, Nadia.”

Jadi namanya Nadia.

Perempuan itu tertawa kecil.

“Aku datang membawa revisi kontrak kerja sama. Kebetulan aku juga ingin memastikan para pegawaimu belum semuanya mengundurkan diri.”

Matanya berpindah kepadaku.

Setelah 108 Kali Ditolak Kerja Karena Wajahku, Aku Menjadi Pendamping Pribadi dan Menemukan Mantan Tunanganku di Kursi Roda

“Yang ini baru?”

Aku menyerahkan map proyek kepada Arga.

“Revisi dari tim.”

Arga membukanya.

Nadia masih memperhatikanku.

Entah karena bekas luka di wajahku atau karena aku satu-satunya orang di kantor yang berdiri cukup dekat dengan Arga tanpa terlihat ingin melarikan diri.

“Namamu siapa?”

“Wina.”

“Nadia.”

Ia mengulurkan tangan.

Aku menjabatnya sebentar.

Arga menutup map agak keras.

“Nadia.”

“Apa?”

“Berhenti mengganggu pegawaiku.”

Nadia menaikkan alis.

“Pegawaimu?”

Aku tidak tahu mengapa dua kata itu terdengar aneh di telingaku.

Arga kembali membaca.

Kali ini dia tidak melempar map.

Dia menandatangani halaman terakhir, lalu menyerahkannya kepadaku.

“Bawa keluar.”

Aku menerimanya.

Saat berbalik, Nadia berkata, “Wangi samponya familiar.”

Langkahku terhenti sepersekian detik.

Arga langsung menatap Nadia.

“Diam.”

Perempuan itu tampak terkejut.

Aku keluar sebelum ekspresiku mengkhianatiku.

Sepanjang perjalanan pulang, Arga tidak bicara.

Aku duduk di kursi depan mobil sementara dia berada di belakang dengan kursi roda yang sudah dikunci pada pengaman khusus.

Ketika sampai rumah, aku membantunya masuk.

Di ruang keluarga dia tiba-tiba berkata, “Kenapa belum ganti sampo?”

Aku menoleh.

“Belum habis.”

“Buang.”

“Harganya memang murah, tapi tetap uang.”

Rahangnya mengeras.

“Besok pakai yang lain.”

Aku kehilangan kesabaran sedikit.

“Kalau aromanya mengganggu, bilang saja kenapa.”

Dia tidak menjawab.

Aku melanjutkan, “Saya bekerja di sini untuk membantu, bukan untuk menebak semua hal yang tidak mau Bapak jelaskan.”

Tatapannya berubah.

Bukan marah.

Lebih mirip seseorang yang baru mendengar suara dari masa lalu.

Aku baru sadar aku menggunakan nada yang dulu sering kupakai ketika kami bertengkar.

Malam itu aku tidak bisa tidur.

Besok paginya aku sengaja memakai sampo berbeda.

Arga tidak berkomentar.

Namun dia juga hampir tidak memandangku.

Dua hari berikutnya terasa semakin aneh.

Dia memperhatikan cara aku menyusun obatnya.

Cara aku meletakkan cangkir dengan gagang menghadap kanan.

Cara aku memisahkan dokumen yang harus segera ditandatangani dengan klip kertas, kebiasaan kecil yang dulu kulakukan saat membantu membaca proposal pekerjaannya.

Semakin aku berusaha berubah, semakin aku merasa sedang melakukan sesuatu yang mencurigakan.

Pada hari ketiga, setelah pulang dari kantor, Arga meminta teh.

Aku membuatnya seperti biasa.

Tanpa gula.

Ia meminum satu teguk lalu berkata, “Dulu aku selalu pakai dua sendok gula.”

Tanganku menegang.

Aku menatap cangkir.

“Tapi sekarang Bapak tidak pakai gula.”

“Siapa yang bilang?”

“Pak Hadi.”

Itu benar.

Pak Hadi memang pernah memberitahuku.

Arga menatapku beberapa detik, lalu meminum teh itu sampai habis.

Aku nyaris yakin aku lolos.

Sampai malamnya.

Aku sedang membawa setumpuk pakaian bersih melewati ruang kerjanya ketika mendengar suara benda jatuh.

Refleks, aku masuk.

Sebuah gelas pecah di lantai.

Arga mencoba mengambil sebuah map yang terjatuh dekat meja. Roda kursinya tersangkut sudut karpet.

Dia mendorong sekali.

Kursinya miring.

Aku menjatuhkan pakaian dan berlari.

“Ga, jangan!”

Satu suku kata itu keluar begitu saja.

Ga.

Panggilan yang hanya kugunakan ketika kami masih bertunangan.

Tanganku sudah memegang sandaran kursinya saat aku menyadari kesalahanku.

Arga tidak bergerak.

Aku juga.

Ruangan menjadi sangat sunyi.

Perlahan dia mengangkat wajah.

Matanya menatapku dengan sesuatu yang belum pernah kulihat sejak aku bekerja di rumah ini.

Bukan kebencian.

Bukan penghinaan.

Ketakutan.

Harapan.

Dan kemarahan yang jauh lebih tua daripada semua kemarahannya kepada pegawai.

Bibirnya bergerak.

“Alya?”

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Tanganku masih berada di sandaran kursinya.

Aku bisa saja berbohong.

Bisa mengatakan dia salah dengar.

Bisa tertawa dan menjelaskan bahwa “Ga” hanya potongan nama Arga yang tanpa sengaja keluar.

Tetapi setelah tiga tahun bersembunyi, tiba-tiba aku terlalu lelah untuk menciptakan kebohongan baru.

Aku melepaskan tanganku.

Arga tidak memalingkan mata.

“Alya?”

Aku menelan ludah.

“Bukan.”

Jawabanku terdengar lemah bahkan bagi diriku sendiri.

Arga tertawa pendek.

Tidak ada sedikit pun kegembiraan dalam suara itu.

“Masih mau bohong?”

“Aku Wina.”

“Lalu kenapa memanggilku Ga?”

Aku tidak menjawab.

Dia mendorong kursinya mendekat.

“Kenapa kau tahu aku tidak suka gula sekarang? Kenapa kau selalu meletakkan gagang cangkir ke kanan? Kenapa kalau gugup jari kirimu menggosok kuku ibu jari?”

Aku langsung menurunkan tangan.

Baru saat itu aku sadar sedang melakukan kebiasaan itu.

Arga menatap gerakanku.

“Aku mengenal kebiasaan itu selama tujuh tahun.”

Dadaku terasa sesak.

“Banyak orang punya kebiasaan yang sama.”

“Dan sampo itu?”

Aku terdiam.

“Cara kau melipat lengan kemejaku?”

Aku menatap lantai.

“Cara kau mengucapkan namaku ketika kursiku hampir jatuh?”

Aku tidak punya jawaban lagi.

Arga berhenti tepat di depanku.

Untuk pertama kalinya selama bekerja di rumah itu, aku melihat tangannya gemetar.

“Aku tidak tahu sejak hari pertama,” katanya. “Kalau itu yang ingin kau tahu.”

Aku akhirnya menatapnya.

“Kapan?”

“Di kantor.”

Aku teringat pertanyaannya tentang sampo.

“Aku mencium aroma itu dan merasa gila.”

Ia tersenyum hambar.

“Sudah tiga tahun aku mencoba menerima kenyataan bahwa mungkin kau mati. Lalu tiba-tiba seorang perempuan datang membawa dokumen ke ruanganku dengan aroma yang sama.”

“Aku bukan satu-satunya orang yang menggunakan sampo itu.”

“Aku tahu.”

“Jadi?”

“Karena itu aku tidak yakin.”

Arga mengusap wajah.

“Aku mulai memperhatikan.”

Aku merasa malu sekaligus marah.

“Jadi semua ini tes?”

“Tidak.”

“Air delapan belas kali?”

Rahangnya menegang.

“Itu sebelum aku curiga.”

“Berarti memang karena sifatmu sekarang.”

Dia diam.

Jawaban itu entah mengapa lebih menyakitkan.

Aku mengambil pakaian yang jatuh lalu meletakkannya di sofa.

“Kalau begitu sekarang kau sudah tahu.”

“Aku belum dengar dari mulutmu.”

Aku memejamkan mata.

Tiga tahun.

Seratus delapan lamaran kerja.

Berpuluh-puluh ruang tunggu rumah sakit.

Ratusan kali aku melewati cermin tanpa melihat.

Semua itu terasa menumpuk di belakang satu nama yang sudah lama tidak kugunakan.

Ketika akhirnya bicara, suaraku hampir tidak terdengar.

“Ya.”

Arga membeku.

Aku menarik napas.

“Namaku Alya Prameswari.”

Tangannya mencengkeram roda kursi.

“Aku Alya.”

Tidak ada musik.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada tangisan dramatis.

Arga hanya menatapku cukup lama sampai aku tidak sanggup mempertahankan tatapannya.

Kemudian dia bertanya satu hal.

“Kenapa?”

Satu kata.

Tetapi tiga tahun hidupku berdiri di belakangnya.

Aku duduk di sofa, menjaga jarak.

“Setelah kebakaran, aku tidak tahan melihat diriku sendiri.”

“Aku tidak bertanya soal wajahmu.”

“Aku tahu.”

“Kenapa kau pergi?”

Aku memegang kedua tangan agar tidak gemetar.

“Karena aku takut.”

“Padaku?”

“Pada semuanya.”

Dia menunggu.

Aku melanjutkan.

“Waktu itu semua orang bilang aku beruntung masih hidup. Dokter bilang operasinya berhasil menyelamatkan fungsi mata dan mulutku. Keluargaku bilang kau terus menunggu.”

Aku tertawa kecil, pahit.

“Semua orang membicarakan keberuntungan sementara aku bahkan tidak berani bercermin.”

Arga menatap bekas luka di wajahku.

Kali ini tidak seperti saat hari pertama.

“Aku pikir kalau aku kembali, kau akan tetap menikah denganku.”

“Tentu.”

“Dan itulah yang paling kutakuti.”

Ekspresinya berubah.

Aku berkata pelan, “Aku tidak tahu apakah kau menikahiku karena masih mencintaiku atau karena merasa bersalah kalau meninggalkanku.”

“Kau bisa bertanya.”

“Aku tahu.”

“Bisa bicara denganku.”

“Aku tahu.”

“Bisa memberi aku pilihan.”

Kalimat terakhir membuatku terdiam.

Arga memukul pelan sandaran kursinya dengan telapak tangan.

“Semua keputusan itu kau ambil sendiri.”

Aku mengangguk.

“Ya.”

“Kau memutuskan aku akan kasihan.”

“Ya.”

“Kau memutuskan hidupku akan lebih baik tanpa dirimu.”

Aku kembali mengangguk.

“Aku salah.”

Napas Arga terdengar berat.

Aku tidak mencoba membela diri.

Itulah salah satu hal yang baru kupahami dalam tiga tahun terakhir.

Niat yang menurut kita baik tetap bisa melukai orang kalau kita mengambil hak mereka untuk memilih.

Namun beberapa detik kemudian pandanganku turun ke kursi rodanya.

“Kalau aku tidak pergi…”

“Jangan.”

Aku berhenti.

Arga menatapku tajam.

“Jangan jadikan kecelakaanku alasan untuk menghukum dirimu.”

“Tapi Pak Hadi bilang kau kecelakaan ketika mencariku.”

“Benar.”

Tenggorokanku menegang.

“Itu tetap bukan berarti kau yang mengemudikan mobilku.”

Aku tidak menyangka mendengar kalimat itu darinya.

Arga menarik napas.

“Aku marah padamu. Sangat marah. Tapi kecelakaan itu bukan sesuatu yang kau rencanakan.”

“Kalau aku tidak pergi, kau tidak akan berada di jalan itu.”

“Kalau aku tidur cukup malam sebelumnya mungkin aku juga tidak akan berada di jalan itu pada jam tersebut. Kalau hujan tidak turun mungkin mobil itu tidak tergelincir. Kalau aku memilih rute lain mungkin tidak terjadi.”

Dia menatapku.

“Kita bisa membangun seribu kemungkinan. Tidak ada satu pun yang mengubah apa yang sudah terjadi.”

Mataku panas.

Arga melanjutkan, “Yang bisa kupersalahkan kepadamu adalah kau pergi tanpa bicara.”

Aku mengangguk.

“Itu salahku.”

“Dan sekarang?”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Sekarang kau datang ke rumahku dengan nama lain.”

“Karena aku tidak tahu ini rumahmu.”

“Setelah tahu?”

Aku tidak langsung menjawab.

Itu lebih sulit.

“Aku butuh uang.”

Wajahnya mengeras sedikit.

“Aku sudah ditolak bekerja 108 kali.”

Dia terdiam.

“Seratus delapan?”

Aku tersenyum tipis.

“Aku menghitung.”

Arga melihat wajahku lagi.

Aku sudah hafal tatapan orang ketika melihat bekas lukaku.

Kaget.

Kasihan.

Tidak nyaman.

Penasaran.

Tatapan Arga malam itu berbeda.

Ia terlihat marah.

Bukan pada wajahku.

“Karena ini?”

Tangannya terangkat sedikit, tetapi berhenti sebelum menunjuk.

“Sebagian besar tidak mengatakan terus terang.”

Aku mengangkat bahu.

“Mereka tidak perlu.”

“Dan operasi?”

“Masih berjalan kalau aku punya uang.”

Arga menghela napas panjang.

Aku tahu apa yang mungkin ingin dikatakannya, jadi aku lebih dulu menambahkan.

“Aku tidak mau uangmu.”

Dia menatapku tajam.

“Aku belum menawarkan.”

“Wajahmu menawarkan.”

Untuk sesaat, sesuatu yang sangat lama muncul di matanya.

Hampir seperti Arga yang dulu.

Lalu hilang lagi.

“Aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang,” katanya.

“Aku juga.”

Malam itu tidak ada penyelesaian.

Aku kembali ke kamar kecil yang disediakan untuk pegawai dan tidak tidur sampai pagi.

Saat matahari terbit, aku sudah mengambil keputusan pertama.

Aku mengajukan pengunduran diri.

Pak Hadi membaca surat itu dengan bingung.

“Kenapa?”

“Masalah pribadi.”

“Tapi kontraknya?”

“Aku siap membayar potongan sesuai aturan agen kalau memang ada.”

Pak Hadi melihatku seolah aku sudah gila.

“Gajinya besar.”

“Aku tahu.”

“Pak Arga belum tentu setuju.”

“Itu sebabnya suratnya untuk beliau.”

Aku membawanya sendiri ke ruang kerja.

Arga sudah duduk di depan meja.

Ketika kuberikan surat itu, dia membaca dua baris pertama dan langsung meletakkannya.

“Tidak.”

“Aku tidak meminta izin.”

“Kau punya kontrak.”

“Aku tahu. Kalau ada biaya pemutusan, hitung.”

“Alya.”

Aku menggeleng.

“Di rumah ini namaku masih Wina sampai urusan administrasinya selesai.”

Wajahnya berubah tidak senang.

Aku tetap berdiri.

“Kenapa harus pergi?”

“Karena aku tidak bisa terus menjadi pendampingmu sambil kita membereskan semua ini.”

“Kenapa tidak?”

“Karena kau membayar gajiku.”

Dia terdiam.

“Aku tidak tahu kapan kau bicara sebagai mantan tunanganku dan kapan sebagai atasanku. Kau juga tidak tahu kapan kau memerintahku karena pekerjaan dan kapan karena marah pada Alya.”

Arga menatap surat pengunduran diri.

Aku melanjutkan, “Dan aku tidak mau setiap pertengkaran kita nanti berakhir dengan aku takut kehilangan gaji.”

Kalimat itu membuatnya tidak bisa membantah.

Beberapa detik kemudian dia mengangguk.

“Baik.”

Aku sedikit terkejut.

“Tapi kontraknya diselesaikan secara normal,” katanya. “Tidak ada penalti. Kau bekerja sampai hari ini, gajimu dibayar sampai hari ini.”

“Itu cukup.”

“Dan satu hal lagi.”

Aku menunggu.

“Kita bicara lagi.”

“Kapan?”

“Setelah kau bukan pegawaiku.”

Aku mengangguk.

“Itu lebih masuk akal.”

Siangnya Nadia datang.

Ia melihat koperku di dekat pintu dan langsung menatap Arga.

“Kau memecatnya?”

“Tidak.”

“Aku mengundurkan diri,” jawabku.

Nadia memandang kami bergantian.

Kemudian dia menyipitkan mata.

“Kenapa suasana kalian seperti orang yang baru membongkar gudang penuh masalah?”

Arga berkata, “Nadia.”

“Apa?”

“Pulang.”

Nadia malah duduk.

Aku hampir tertawa.

Perempuan ini mungkin satu-satunya orang yang tidak takut kepadanya.

Ketika aku hendak pergi, Nadia berdiri dan ikut mengantarku sampai teras.

“Wina.”

Aku berhenti.

Dia menatap wajahku sejenak.

“Maaf kalau pertanyaanku tidak sopan, tapi… kita pernah bertemu?”

Jantungku berdegup.

Arga ternyata belum mengatakan apa pun kepadanya.

Aku menjawab, “Mungkin.”

Nadia mengerutkan kening.

Aku tersenyum tipis.

“Kalau Arga merasa perlu menjelaskan, biar dia sendiri yang melakukannya.”

Aku pergi.

Untuk pertama kalinya sejak masuk ke rumah itu, aku tidak menoleh ke belakang.

Tiga hari kemudian Arga menelepon.

Aku menatap namanya cukup lama sebelum menjawab.

“Halo.”

“Bisa bertemu?”

“Untuk apa?”

“Makan.”

Aku hampir tertawa.

“Arga, kita punya masalah yang sedikit lebih rumit daripada makan.”

“Aku tahu.”

“Lalu?”

“Karena itu aku tidak mengajakmu membicarakannya di rumahku.”

Aku terdiam.

“Tempat umum. Kau pilih.”

Akhirnya kami bertemu di sebuah kedai kopi kecil dekat pusat kota.

Aku datang lebih dulu.

Ketika Arga tiba bersama sopirnya, dia menolak bantuan untuk berpindah dari kendaraan ke kursi roda.

Aku memperhatikan dari dalam.

Dulu aku mungkin akan langsung berdiri dan membantu.

Sekarang aku menunggu.

Dia masuk sendiri.

Itu terasa penting.

Arga duduk di seberangku.

Tidak ada Pak Hadi.

Tidak ada pegawai.

Tidak ada meja kantor.

Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu kembali, kami hanya dua orang yang pernah hampir menikah.

“Aku minta maaf,” katanya.

Aku menunggu.

“Untuk?”

“Banyak.”

“Lebih spesifik.”

Dahinya berkerut.

Aku hampir tersenyum karena itu juga kebiasaanku dulu ketika dia meminta maaf terlalu umum.

Dia mengerti.

“Untuk memperlakukanmu buruk selama kau bekerja padaku.”

Aku mengangguk.

“Lanjut.”

“Air delapan belas kali.”

“Bagus.”

“Dokumen.”

“Bagus.”

“Cara bicara.”

Aku diam.

Arga menarik napas.

“Dan bukan cuma kepadamu.”

Aku menatapnya.

Dia mengusap sisi cangkir.

“Setelah kecelakaan, aku marah pada semua hal.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

“Aku marah karena tidak bisa berdiri. Marah karena orang menatapku berbeda. Marah kalau dibantu. Lebih marah kalau tidak dibantu.”

Sudut bibirku bergerak tipis.

“Itu terdengar melelahkan.”

“Sangat.”

“Untuk semua orang di sekitarmu juga.”

Dia mengangguk.

“Aku tahu.”

“Sekretaris kedelapan belas mungkin sangat tahu.”

Arga menunduk.

“Aku sudah bicara dengan HR.”

“Tentang?”

“Cara aku memperlakukan orang.”

Aku terkejut.

“Aku tidak akan berubah hanya karena satu percakapan,” katanya. “Tapi aku juga tidak bisa terus menggunakan kecelakaan sebagai alasan untuk menyakiti semua orang.”

Aku tidak memberinya pujian.

Perubahan bukan sesuatu yang perlu dirayakan sebelum dilakukan.

Arga juga tidak memintanya.

Beberapa saat kemudian dia bertanya, “Sekarang giliranku?”

“Silakan.”

“Aku ingin tahu kenapa kau tetap tinggal setelah tahu itu aku.”

Aku memandang kopi.

“Awalnya uang.”

Dia tertawa kecil.

“Jujur sekali.”

“Kemudian rasa bersalah.”

Wajahnya kembali serius.

“Aku melihat kursi rodanya. Pak Hadi menceritakan kecelakaanmu.”

“Alya…”

“Aku tahu kau bilang itu bukan salahku.”

“Tapi?”

“Tapi perasaan tidak selalu mengikuti logika.”

Dia tidak membantah.

“Ada bagian dari diriku yang berpikir mungkin kalau aku membantu hidupmu sedikit lebih mudah, aku bisa membayar sesuatu.”

“Utang?”

“Mungkin.”

Arga menggeleng.

“Aku tidak ingin hubungan apa pun antara kita dibangun dari utang seperti itu.”

Aku menatapnya.

“Bagus. Karena aku juga tidak mau.”

Kami duduk lama.

Tidak ada keputusan besar hari itu.

Tidak ada permintaan untuk kembali bertunangan.

Arga tidak meminta aku pindah ke rumahnya.

Aku juga tidak meminta dia memaafkanku.

Kami hanya mulai berbicara.

Tentang tiga tahun yang hilang.

Tentang operasi-operasiku.

Tentang rehabilitasinya.

Tentang hari pertama dia kembali ke kantor dengan kursi roda dan mendengar dua pegawai berhenti bicara saat melihatnya.

Tentang malam-malam ketika aku tidur menghadap dinding karena tidak tahan melihat pantulan wajahku dari jendela.

Beberapa hal menyakitkan.

Beberapa membuat kami marah.

Pada pertemuan ketiga, kami bahkan bertengkar.

Arga berkata, “Kau masih punya kebiasaan memutuskan sendiri apa yang terbaik untuk orang lain.”

Aku langsung membalas, “Dan kau masih punya kebiasaan menganggap suara keras membuat pendapatmu lebih benar.”

Kami saling menatap.

Lalu Arga berkata, “Baik. Yang itu adil.”

Aneh sekali, tetapi justru pertengkaran biasa seperti itu membuatku merasa kami mulai berbicara sebagai manusia lagi.

Bukan sebagai korban kebakaran dan korban kecelakaan.

Bukan sebagai perempuan yang pergi dan laki-laki yang ditinggalkan.

Hanya Alya dan Arga.

Sebulan setelah aku berhenti bekerja di rumahnya, Nadia menghubungiku.

Aku hampir tidak mengangkat.

“Aku sudah tahu,” katanya.

Aku menutup mata.

“Arga cerita?”

“Setelah aku mengancam akan terus bertanya setiap hari.”

Aku tertawa.

Nadia lalu menjadi serius.

“Aku cuma ingin bilang satu hal.”

“Apa?”

“Dulu aku marah padamu.”

Aku tidak terkejut.

“Aku juga akan marah.”

“Tapi sekarang setelah tahu semuanya, aku tidak tahu apakah aku masih berhak marah.”

“Kau tetap boleh.”

Dia diam sebentar.

“Aku lihat wajahmu bukan masalahnya.”

Tanganku menegang.

Nadia melanjutkan cepat, “Maksudku, yang membuat semuanya rusak bukan itu.”

Aku tahu.

“Aku pergi,” kataku.

“Dan Arga berubah menjadi orang yang hampir tidak tahan berada di dekat siapa pun.”

Aku tersenyum pahit.

“Kami sama-sama membuat pilihan buruk.”

“Ya.”

Itu mungkin jawaban paling jujur.

Dalam beberapa bulan berikutnya aku tidak kembali bekerja untuk Arga.

Aku akhirnya mendapat pekerjaan administrasi di sebuah perusahaan distribusi kecil.

Wawancara itu tidak berjalan sempurna.

Pemiliknya menatap bekas lukaku dua kali lebih lama daripada seharusnya.

Namun setelah membaca pengalaman kerjaku, dia bertanya hal-hal tentang kemampuan, bukan wajah.

Gajinya jauh di bawah pekerjaan di rumah Arga.

Tetapi cukup.

Aku tetap menerima.

Ketika kuberitahu Arga, reaksinya membuatku kesal.

“Gajinya terlalu rendah.”

Aku menatapnya.

“Baru lima detik kau sudah mengkritik.”

“Aku cuma bilang…”

“Ini pekerjaanku.”

Dia mengangkat kedua tangan.

“Baik.”

Aku menunggu.

“Selamat.”

“Nah.”

Dia tersenyum.

Senyum itu belum sepenuhnya seperti dulu.

Tetapi sudah tidak terasa asing.

Di tempat lain, perubahan Arga berjalan lebih lambat.

Dia masih temperamental.

Masih tidak sabar.

Masih beberapa kali membentak pegawai.

Bedanya, sekarang dia tidak berpura-pura bahwa semua orang harus menerimanya.

Suatu sore dia menelepon.

“Aku baru minta maaf kepada satu divisi.”

Aku hampir tersedak minuman.

“Apa yang terjadi?”

“Aku membentak mereka pagi tadi.”

“Lalu?”

“Nadia bilang kalau aku terus seperti ini, dia akan memasang papan di depan ruanganku bertuliskan: masuk dengan risiko sendiri.”

Aku tertawa.

“Menurutku ide bagus.”

“Jangan dukung dia.”

Dua bulan kemudian, kami membicarakan pernikahan yang gagal untuk pertama kalinya secara langsung.

Bukan rencana pernikahan baru.

Pernikahan lama.

“Aku masih punya undangannya,” kata Arga.

Aku memandangnya.

“Kenapa?”

“Tidak tahu.”

“Buang.”

Dia terdiam.

“Aku serius.”

“Alya…”

“Itu milik dua orang yang sudah tidak ada.”

Dia tidak langsung mengerti.

Aku menunjuk diriku lalu dia.

“Alya yang waktu itu lari dari masalah sudah tidak sama dengan aku sekarang. Arga yang waktu itu juga bukan Arga sekarang.”

Dia menatap kursi rodanya.

Aku langsung tahu pikirannya.

“Bukan karena kursi itu.”

Arga mengangkat mata.

“Karena hidup kita berubah.”

Kami diam cukup lama.

Akhirnya dia mengangguk.

Malam itu dia mengirim foto undangan lama yang sudah dimasukkan ke kotak bersama barang-barang pernikahan lainnya.

Bukan dibakar.

Bukan dihancurkan.

Hanya disimpan.

Aku menyukai itu.

Beberapa hal tidak perlu dimusnahkan untuk bisa ditinggalkan.

Enam bulan setelah pertemuan kami kembali, Arga mengajakku makan malam di restoran sederhana yang pertama kali kami datangi ketika masih kuliah.

Aku tidak langsung setuju.

“Ini kencan?”

Dia menjawab, “Kalau kau mau.”

“Kalau aku tidak mau?”

“Makan biasa.”

“Kalau makanannya tidak enak?”

“Kita salahkan restoran.”

Aku tertawa.

“Baik.”

Malam itu aku datang tanpa menutupi bekas luka dengan riasan tebal.

Bukan karena tiba-tiba aku mencintai semua bagian wajahku.

Beberapa pagi aku masih tidak menyukainya.

Beberapa hari komentar orang masih mengganggu.

Tetapi aku tidak lagi merasa harus menyembunyikannya dari Arga.

Saat kami selesai makan, dia tidak mengeluarkan cincin.

Tidak meminta aku kembali menjadi tunangannya.

Ia hanya bertanya, “Minggu depan boleh ketemu lagi?”

Aku menjawab, “Boleh.”

Satu tahun setelah aku pertama kali masuk ke rumahnya sebagai Wina Larasati, aku datang lagi.

Bukan sebagai pegawai.

Bukan sebagai pendamping.

Pak Hadi membukakan pintu.

Dia menatapku beberapa detik, lalu tampak sangat malu mengingat komentarnya pada hari pertama.

“Bu Alya…”

Aku tersenyum.

“Pak Hadi.”

Dia berdeham.

“Dulu saya pernah bicara tidak sopan.”

“Iya.”

Wajahnya makin tidak nyaman.

Aku tidak menyelamatkannya dengan mengatakan aku sudah lupa.

Karena aku tidak lupa.

Akhirnya dia berkata, “Saya minta maaf.”

Aku mengangguk.

“Terima kasih.”

Cukup.

Arga berada di ruang keluarga.

Kursi roda yang sama.

Rumah yang sama.

Tetapi suasananya berbeda.

Ada dua pegawai berbicara di dekat meja tanpa terlihat gemetar.

Salah seorang bahkan bercanda dengannya.

Arga tetap mengerutkan kening.

“Kerjakan dulu baru bercanda.”

Pegawai itu tertawa.

“Siap, Pak.”

Aku mendekat.

“Lumayan.”

Arga menatapku.

“Apa?”

“Sekarang orang bisa bercanda tanpa takut dilempar dokumen.”

Dia mendengus.

“Aku sudah tidak pernah melempar dokumen.”

“Prestasi besar.”

“Alya.”

Aku tersenyum.

Dia ikut tersenyum.

Hubungan kami belum sempurna.

Kami bahkan belum memutuskan apakah suatu hari akan menikah.

Aku tidak lagi ingin mengambil keputusan itu karena rasa bersalah.

Arga juga tidak ingin membuatku merasa harus kembali hanya karena kami pernah bertunangan.

Yang kami punya sekarang lebih sederhana.

Kami bertemu.

Kami bicara.

Kami bertengkar.

Kami belajar berhenti sebelum luka lama berubah menjadi senjata.

Ketika aku pulang malam itu, Arga mengantarku sampai depan pintu.

Dia tidak bisa berdiri.

Aku tidak lagi memiliki wajah yang dulu.

Tetapi untuk pertama kalinya aku merasa kami benar-benar melihat satu sama lain sebagaimana adanya sekarang.

Aku membuka pintu mobil, lalu menoleh.

“Ga.”

“Hm?”

“Besok jangan telepon sebelum jam delapan.”

Dia mengerutkan kening.

“Kenapa?”

“Aku mau tidur.”

“Jam delapan itu sudah siang.”

“Buat orang menyebalkan, jam delapan masih terlalu pagi.”

Dia tertawa.

Aku masuk ke mobil dan menutup pintu sendiri.

Dari balik kaca kulihat Arga masih menunggu di teras dengan kursi rodanya sampai mobil bergerak meninggalkan halaman.

Kali ini aku pergi bukan untuk menghilang.

Dan dia tidak mengejarku.

Karena kami sama-sama tahu aku akan kembali kalau memang memilih untuk kembali.

Menurutmu, setelah tiga tahun saling melukai karena keputusan sendiri, apakah Alya dan Arga sebaiknya mencoba membangun hubungan mereka dari awal?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.