Adikku Menyembunyikan Bayinya di Lantai Atas Tempat Usahaku Selama Sebelas Hari, tetapi Saat Kakakku Menemukan Mereka, Satu Kalimat tentang Pesanan Seragam Membuatku Sadar Ada Rahasia yang Jauh Lebih Lama

Avatar penulis
Cerita 01
23 menit baca 151 tayangan
Adikku Menyembunyikan Bayinya di Lantai Atas Tempat Usahaku Selama Sebelas Hari, tetapi Saat Kakakku Menemukan Mereka, Satu Kalimat tentang Pesanan Seragam Membuatku Sadar Ada Rahasia yang Jauh Lebih Lama
Indeks

BAGIAN 2

“Telepon Pak Rudi kembali.”

Arman mengangkat kepala.

“Mir, dengar dulu.”

“Telepon.”

“Kalau kita bicara baik-baik…”

“Mas.”

Aku menunjuk telepon meja.

“Aku tidak sedang minta izin.”

Ia diam beberapa detik, lalu menelepon.

Aku berdiri di sampingnya.

Adikku Menyembunyikan Bayinya di Lantai Atas Tempat Usahaku Selama Sebelas Hari, tetapi Saat Kakakku Menemukan Mereka, Satu Kalimat tentang Pesanan Seragam Membuatku Sadar Ada Rahasia yang Jauh Lebih Lama

Pak Rudi menjelaskan bahwa tiga invoice pembelian bahan belum lunas seluruhnya. Biasanya kami membayar maksimal tiga puluh hari. Kali ini sebagian sudah lewat hampir dua bulan.

Aku meminta nomor invoice.

Arman mencoba mencatat.

“Tidak usah,” kataku. “Aku catat sendiri.”

Saat panggilan berakhir, aku bertanya, “Kenapa aku tidak tahu?”

Arman mengusap tengkuk.

“Karena uang yang masuk sedang diputar.”

“Diputar untuk apa?”

Nita menyahut, “Barang Fajar belum semuanya laku.”

Aku menoleh.

Ada satu hal yang membuatku semakin marah.

Cara mereka bicara seolah aku terlambat mengikuti rapat yang sebenarnya sudah berlangsung berbulan-bulan.

“Mulai dari awal.”

Nita mengambil Kirana dari kursi bayi.

Tangannya gemetar.

“Mbak, waktu aku masih pegang toko online Langgeng, pesanan seragam polos lumayan banyak. Fajar bilang kalau kami jual sendiri lewat marketplace, marginnya lebih bagus.”

“Kalian beli dari siapa?”

Tidak ada jawaban.

Aku sudah tahu.

“Dari aku.”

Nita menggeleng cepat.

“Bukan begitu. Awalnya sistemnya titip jual.”

“Siapa yang menyetujui?”

Kali ini Arman menjawab.

“Aku.”

Aku menatapnya.

“Kamu?”

“Aku pikir cuma seratus atau dua ratus potong.”

“Lalu menjadi hampir seribu.”

Arman menarik kursi.

“Aku salah.”

“Itu belum jawaban.”

Ia melihat ke arah pekerja.

Aku membawa mereka ke ruang potong kecil dan menutup pintu.

Kirana mulai rewel.

Nita menggoyangkan tubuhnya sambil berbisik.

Untuk beberapa detik ruangan dipenuhi suara bayi dan dengung mesin obras dari balik tembok.

Arman akhirnya berkata, “Barang pertama laku. Fajar bayar. Barang kedua juga.”

“Lalu?”

“Dia minta tempo lebih panjang.”

“Dan kamu kasih.”

“Iya.”

“Tanpa bicara denganku.”

Arman menatap meja.

Aku tertawa pendek.

“Aku ini apa di usaha ini?”

“Jangan begitu.”

“Pemilik ketika pajak jatuh tempo, tapi saudara ketika kalian butuh stok gratis?”

“Tidak ada yang bilang gratis.”

“Delapan puluh enam juta ke pemasok belum dibayar.”

Arman langsung membalas, “Itu bukan semua karena Fajar.”

Nada suaranya naik.

Aku justru lebih tenang.

“Bagus. Berarti ada masalah lain.”

Ia terdiam.

Nita menatapnya tajam.

Aku menangkap tatapan itu.

Ada bagian yang belum mereka sepakati untuk kuceritakan.

Aku mengambil kunci gudang.

“Semua pengiriman berhenti hari ini.”

Arman berdiri.

“Mir, kita punya order dua sekolah minggu depan.”

“Aku tahu.”

“Kalau ditutup sekarang, kita kena komplain.”

“Aku juga tahu.”

“Jangan ambil keputusan karena marah.”

Aku menatap kakakku.

“Selama tujuh bulan aku tidak mengambil keputusan karena aku tidak diberi informasi. Sekarang jangan ajari aku kapan boleh mengambil keputusan.”

Hari itu aku menghentikan semua barang keluar.

Bukan keputusan yang ringan.

Kami sedang masuk periode produksi tahun ajaran baru.

Tiga pelanggan sekolah menunggu.

Tujuh belas pekerja bergantung pada kelancaran produksi.

Aku bisa kehilangan pelanggan yang sudah bertahun-tahun bersama kami.

Tetapi kalau aku meneruskan produksi dengan catatan stok yang tidak bisa dipercaya, aku hanya akan memperbesar lubang.

Aku meminta staf mencetak stok komputer.

Lalu kami menghitung fisik.

Satu per satu.

Kemeja putih.

Rok biru.

Celana abu-abu.

Kaos olahraga.

Topi.

Dasi.

Saat makan siang, selisihnya sudah terlalu besar.

Bukan cuma barang jadi.

Ada dua puluh tiga gulung kain yang tercatat di gudang tetapi tidak ada.

Aku menunjukkan angka itu kepada Arman.

“Ini juga Fajar?”

Arman tidak menjawab.

Nita langsung berkata, “Aku nggak tahu soal kain.”

Aku memandangnya.

“Untuk pertama kali hari ini aku percaya kamu.”

Pukul tiga sore, Fajar meneleponku.

Nita langsung berdiri.

“Jangan diangkat.”

Aku menatap layar.

Lalu kepadanya.

“Kenapa?”

“Dia lagi emosi.”

Telepon berhenti.

Beberapa detik kemudian masuk pesan.

Mbak Mira, saya perlu bicara langsung. Saya bisa datang. Saya juga mau mengembalikan stok yang masih ada.

Aku membaca dua kali.

Kalimat itu tidak cocok dengan cerita yang kubangun selama sebelas hari.

Aku menatap Nita.

“Kamu bilang dia mau menjual gelang Kirana untuk nutup utang.”

“Memang.”

“Dia juga mau mengembalikan stok.”

Nita tidak menjawab.

Teleponku berbunyi lagi.

Pesan kedua dari Fajar.

Saya sudah bilang ke Nita bulan lalu kita harus cerita semuanya. Dia tidak mau.

Aku menatap adikku cukup lama sampai ia memalingkan wajah.

“Jadi yang tidak mau bicara siapa?”

Nita mulai menangis.

“Mbak, aku takut.”

“Takut sama Fajar?”

Ia menggeleng.

Sangat kecil.

Tetapi jelas.

Aku merasakan sesuatu bergeser di dalam dadaku.

Selama sebelas hari aku mengira aku sedang melindungi adikku dari suaminya.

Mungkin sebenarnya aku sedang melindunginya dari akibat pilihannya sendiri.

Sore itu aku mengirim pesan kepada Fajar.

Datang besok jam sembilan. Bawa semua barang dan catatan yang masih ada.

Nita memegang lenganku.

“Mbak, jangan.”

Aku melepaskan tangannya perlahan.

“Kalau kamu mau tetap tinggal di atas malam ini, silakan.”

Ia menatapku.

“Tapi mulai sekarang tidak ada lagi rahasia yang kubayar dengan nama baik usahaku.”

Sebelum pulang, aku membuka gudang kecil paling belakang.

Di sana biasanya kami menyimpan kain cacat.

Aku menemukan ruang kosong di rak sebelah kiri.

Bekas gulungan kain masih terlihat dari debunya.

Aku memotret rak itu.

Kemudian aku menelepon Ibu.

Beliau menjawab pada dering kedua.

“Mir?”

“Bu, besok jangan ke tempat jahit dulu.”

Ibu diam.

Hanya satu detik.

Tetapi cukup.

“Kenapa?”

“Ada masalah stok.”

Beliau kembali diam.

Aku menekan.

“Ibu tahu?”

Suara Ibu berubah.

“Arman sudah cerita?”

Pertanyaan itu membuatku berdiri tegak.

“Cerita apa?”

Di ujung sana terdengar napas panjang.

“Jangan langsung menyalahkan adikmu.”

Tanganku mencengkeram ponsel.

“Bu.”

“Dia cuma sedang berusaha mempertahankan rumah tangganya.”

Aku menutup mata.

Jadi Ibu tahu.

Entah sejak kapan.

Aku berkata, “Besok pagi datang jam sembilan.”

“Mir…”

“Datang.”

Lalu kututup telepon.

Beberapa menit kemudian Ibu mengirim pesan.

Hanya satu kalimat.

Kalau kamu mau marah, marahlah kepada Ibu. Yang pertama menyuruh Arman membantu Nita itu Ibu.

Aku membaca kalimat itu sambil berdiri di antara rak kain yang kosong.

Dan untuk pertama kalinya, aku bertanya bukan lagi siapa yang mengambil barangku.

Aku bertanya sejak kapan seluruh keluargaku merasa mereka berhak mengambil keputusan atas sesuatu yang selalu kupikir milikku.

Kalau Ibu sendiri yang memberi izin, apakah aku masih berhak menyebutnya pengkhianatan?

BAGIAN 3

Aku tidak membalas pesan Ibu.

Malam itu aku tidur tidak sampai tiga jam.

Bukan karena terus memikirkan Rp86 juta.

Uang bisa dihitung.

Barang bisa dihitung.

Utang bisa dicicil.

Yang tidak bisa kuhitung adalah berapa kali dalam hidupku keputusan tentang diriku dibuat di ruangan tempat aku tidak hadir.

Pukul delapan lewat sedikit keesokan paginya aku sudah berada di bengkel.

Aku meminta pekerja datang seperti biasa, tetapi bagian pengepakan tetap ditutup.

Aku tidak ingin membuat urusan keluarga menjadi tontonan.

Jam sembilan kurang lima, Ibu datang bersama Arman.

Ibu mengenakan kerudung cokelat muda dan membawa termos teh.

Aku hampir tertawa melihatnya.

Bahkan ketika keluarganya sedang berantakan, Ibu tetap datang membawa teh.

Nita turun dari lantai atas sambil menggendong Kirana.

Wajahnya terlihat seperti orang yang tidak tidur semalaman.

Fajar datang tepat pukul sembilan.

Ia tidak sendiri.

Bukan polisi.

Bukan pengacara.

Ia membawa mobil pikap sewaan berisi tujuh belas kardus.

Ia turun memakai jaket tipis dan sandal.

Aku terakhir melihatnya dua bulan sebelumnya saat ulang tahun Ibu.

Waktu itu ia masih bisa bercanda.

Sekarang wajahnya lebih kurus.

“Mbak,” katanya.

Aku mengangguk ke arah kardus.

“Itu semua?”

“Yang belum laku.”

“Masukkan.”

Arman membantu sopir menurunkan barang.

Aku tidak ikut.

Aku berdiri di pintu dan menghitung.

Tujuh belas kardus.

Ada yang masih tersegel.

Ada yang sudah dibuka dan dicampur ukuran.

Ketika satu kardus jatuh sedikit miring, terlihat beberapa seragam yang plastiknya sudah kusam.

Barang itu sudah berbulan-bulan berpindah tempat.

Setelah semuanya masuk, aku mengajak mereka ke ruang pengepakan.

Tidak ada meja makan.

Tidak ada ruang tamu.

Kami duduk di antara kardus dan rak seragam.

Tempat yang tepat, pikirku.

Kalau masalahnya lahir dari barang-barang ini, biar kami menghadapinya di sini.

Kirana duduk di stroller.

Ia memukul-mukul mainan plastik ke sandaran seolah tidak ada lima orang dewasa yang sedang menahan amarah di sekitarnya.

Aku membuka buku catatan.

“Mulai dari jumlah.”

Fajar mengeluarkan map plastik bening.

Aku menatapnya.

Ia langsung berkata, “Ini catatan jualan saya, bukan surat apa-apa.”

Aku hampir tersenyum pahit.

Ternyata bahkan aku sudah mulai curiga kepada setiap map.

Ia mengeluarkan beberapa lembar cetakan marketplace dan catatan tulisan tangan.

“Total barang yang kami terima kalau dihitung dari catatan saya, seribu seratus dua puluh empat potong.”

Aku menoleh kepada Arman.

“Kemarin kamu bilang hampir seribu.”

Arman mengusap dagu.

“Aku nggak pegang angka terakhir.”

“Karena?”

Ia tidak menjawab.

Fajar melanjutkan.

“Yang terjual tujuh ratus sembilan puluh delapan.”

“Uangnya?”

“Sebagian sudah dibayar ke Langgeng.”

“Berapa?”

“Empat kali pembayaran kecil. Total empat puluh satu juta. Terus dua kali terakhir masing-masing delapan belas juta.”

Aku mengangkat kepala.

“Tiga puluh enam?”

“Iya.”

Arman langsung berkata, “Itu yang masuk rekening bulan ini.”

Aku menatapnya.

“Jangan bicara seolah itu kabar baik.”

Ia diam.

Fajar menarik napas.

“Masalahnya margin kami tipis, Mbak. Waktu mulai, saya pikir bisa jual lebih tinggi. Ternyata di marketplace perang harga. Ada ongkir, iklan, retur.”

Nita akhirnya bicara.

“Kita nggak perlu jelasin semua biaya.”

Aku menoleh kepadanya.

“Justru hari ini kita jelaskan semua.”

Ia menunduk.

Fajar melanjutkan, “Saya juga salah. Saya tetap ambil barang ketika penjualan mulai lambat.”

“Kenapa?”

Ia menatap Nita sebentar.

“Karena kami pikir kalau variasi produk lebih banyak, toko akan naik.”

Aku bertanya, “Dan kain?”

Fajar tampak bingung.

“Kain apa?”

Aku menatap Arman.

Ia menggeser tubuh.

Ada bunyi kaki kursinya menggores lantai.

Dua puluh tiga gulung kain.

Nilainya hampir Rp47 juta.

Fajar benar-benar terlihat tidak tahu.

“Tidak pernah ada kain ke tempat kami.”

Aku memandang Nita.

Ia juga menggeleng.

“Bukan aku.”

Semua mata beralih kepada Arman.

Ibu langsung berkata, “Yang kain itu beda.”

Aku menoleh cepat.

Tentu saja.

Masih ada lapisan lain.

“Beda bagaimana?”

Ibu memegang termos di pangkuannya.

“Waktu sebelum Lebaran kemarin, Arman butuh uang.”

Aku memandang kakakku.

Ia menutup mata sebentar.

“Untuk apa?”

Arman menjawab sendiri.

“Biaya kuliah Raka.”

Aku tidak langsung bicara.

Raka adalah anak sulung Arman.

Tahun itu ia diterima di sebuah kampus swasta di Bandung.

Aku tahu uang pangkalnya berat.

Aku bahkan pernah menawarkan bantuan Rp10 juta.

Arman menolak.

Katanya sudah ada jalan.

Sekarang aku tahu jalannya.

“Kamu jual kain?”

“Bukan jual.”

Aku hampir tertawa.

“Kalau sesuatu keluar dari gudangku lalu berubah jadi uang, apa namanya?”

Arman menatapku.

“Aku titip ke kenalan konveksi.”

“Dibayar?”

“Sebagian.”

“Masuk rekening usaha?”

Ia diam.

“Mas.”

“Tidak.”

“Ke mana?”

“Ke rekeningku.”

Ibu menyela.

“Mir, waktu itu Raka tinggal dua hari lagi daftar ulang.”

Aku mengangkat telapak tangan.

“Bu, nanti.”

“Tapi dengarkan dulu.”

“Nanti.”

Ibu terdiam.

Aku menatap Arman.

“Berapa?”

“Tiga puluh dua juta.”

“Dari kain?”

“Iya.”

“Yang kembali?”

Ia tidak menjawab.

Aku mengulang, “Yang kembali ke usaha?”

“Belum.”

Aku meletakkan pulpen.

Anehnya aku tidak lagi merasa marah seperti sehari sebelumnya.

Mungkin manusia punya batas untuk terkejut.

Setelah melewati batas itu, semuanya justru terasa terang.

Aku melihat mereka satu per satu.

Adikku mengambil barang jadi.

Kakakku mengambil kain.

Ibu memberi restu.

Dan semua itu terjadi di tempat yang setiap bulan membuatku memikirkan gaji tujuh belas orang.

Aku bertanya kepada Ibu, “Kenapa?”

Beliau menghela napas.

“Karena kalian ini saudara.”

Aku menunggu.

“Arman butuh uang untuk anaknya. Nita dan Fajar mau usaha. Kamu punya usaha yang sudah jalan.”

Aku mengernyit.

“Jadi karena aku punya usaha, stoknya boleh dipakai?”

“Bukan boleh seenaknya.”

“Bedanya apa?”

Ibu mulai terlihat tersinggung.

“Jangan bikin Ibu seperti pencuri.”

“Aku tidak bilang Ibu pencuri.”

“Caramu bicara begitu.”

“Karena aku sedang mencoba memahami.”

Ibu menaruh termos agak keras di lantai.

“Usaha itu juga mulai di rumah Ibu.”

Akhirnya keluar juga.

Kalimat yang mungkin sudah bertahun-tahun tinggal di antara kami.

Aku bersandar.

“Iya.”

Ibu sepertinya tidak menyangka aku mengiyakan.

“Bapak dulu yang bikin kanopi pertama.”

“Iya.”

“Listrik awal juga dari rumah.”

“Iya.”

“Nita bantu jualan bertahun-tahun. Arman bantu belanja kain. Semua ikut.”

“Iya.”

Aku mengangguk lagi.

“Semua benar.”

Wajah Ibu sedikit melunak.

Lalu aku melanjutkan.

“Tapi satu hal juga benar. Tidak ada satu pun dari itu yang membuat kalian boleh mengambil barang tanpa bicara kepadaku.”

Arman mengangkat kepala.

“Mir…”

“Aku belum selesai.”

Ia kembali diam.

Aku melihat Ibu.

“Kalau Ibu merasa aku memakai bangunan ini terlalu lama tanpa memberi cukup, bilang.”

Ibu tidak menjawab.

“Kalau Arman merasa gajinya kurang, bilang.”

Arman menggeser pandangan.

“Kalau Nita merasa lima tahun kerjanya dulu membuat dia berhak punya bagian usaha, bilang.”

Nita mulai menangis lagi.

Aku tetap bicara.

“Tapi jangan diam, lalu membuat hukum sendiri.”

Ibu membalas, “Kalau semua harus dihitung begitu, keluarga jadi apa?”

Pertanyaan itu membuat dadaku sakit.

Bukan karena kasar.

Karena itu kalimat yang selama puluhan tahun paling kutakuti.

Kalau semua dihitung, keluarga jadi apa?

Kalau aku meminta uang kembali, aku pelit.

Kalau aku menolak menolong, aku berubah.

Kalau aku membuat batas, aku menghitung-hitung kepada saudara sendiri.

Karena takut dianggap begitu, aku justru tidak pernah membuat batas apa pun.

Aku memandang tangan Ibu yang sudah keriput.

“Bu, justru karena selama ini tidak pernah dihitung, kita sampai di sini.”

Tidak ada yang menjawab.

Aku menunjuk kardus.

“Ini bukan bantuan lagi.”

Lalu rak kain.

“Itu juga bukan bantuan.”

Aku menunjuk diriku sendiri.

“Dan aku juga salah.”

Nita menatapku.

Arman tampak heran.

“Aku yang membiarkan semuanya kabur. Kalian masuk keluar gudang. Arman pegang pembelian. Nita pegang toko online. Ibu bilang ini usaha keluarga. Aku tidak pernah menjelaskan bagian siapa, kewajiban siapa, dan apa yang tidak boleh dilakukan.”

Aku menarik napas.

“Aku pikir selama kita saling percaya, aturan malah bikin jarak.”

Aku menatap mereka.

“Ternyata yang bikin jarak bukan aturan.”

“Yang bikin jarak itu rahasia.”

Fajar sejak tadi banyak diam.

Sekarang ia berkata, “Saya mau tanggung bagian saya.”

Nita langsung menoleh.

“Kamu gampang ngomong.”

Fajar menatap istrinya.

“Aku sudah ngomong ini sebulan.”

“Karena kamu mau cuci tangan.”

“Bukan.”

“Begitu toko rugi, kamu yang paling dulu bilang harus cerita ke Mbak.”

“Memang harus.”

“Setelah kamu ikut jual barangnya.”

“Aku nggak bilang aku nggak salah.”

Nita tertawa pendek sambil menangis.

“Sekarang di depan semua orang kamu jadi paling benar.”

Fajar mengusap wajah.

“Aku nggak mau jadi benar, Nit.”

Ia menunjuk Kirana.

“Aku cuma nggak mau anak kita tumbuh dari utang yang kita pura-pura nggak ada.”

Nita berdiri.

“Kamu yang dulu bilang usaha ini kesempatan.”

“Iya.”

“Kamu yang minta tambah stok.”

“Iya.”

“Kamu yang bilang enam bulan cukup.”

“Iya.”

Suara Fajar tetap rendah.

“Dan waktu ternyata nggak cukup, aku bilang kita berhenti.”

Nita menggeleng cepat.

“Kamu gampang karena yang malu aku.”

“Kenapa kamu yang malu?”

“Karena itu usaha kakakku!”

Ruangan sunyi beberapa detik.

Bukan sunyi yang dramatis.

Dari luar kami masih mendengar mesin jahit.

Ada pekerja yang tertawa.

Seseorang menjatuhkan gunting.

Kehidupan terus berjalan.

Hanya Nita yang baru saja mengucapkan sesuatu yang selama sebelas hari ia hindari.

Ia bukan lari terutama karena takut kepada Fajar.

Ia takut kepadaku.

Aku berkata pelan, “Kamu datang ke sini karena takut aku tahu?”

Nita mengusap pipi.

“Awalnya aku marah sama Fajar.”

“Karena gelang Kirana?”

“Dia memang mau jual.”

Fajar menyela, “Setelah kami sepakat. Bukan saya paksa.”

Nita menatapnya tajam.

“Tetap saja aku nggak mau.”

“Dan aku batal.”

Aku memandang Nita lagi.

“Lalu kenapa kamu pergi?”

Ia duduk kembali.

Bahu adikku turun.

“Karena malam itu dia bilang besok mau datang ke sini.”

Aku terdiam.

“Mau bilang semuanya.”

Ia mengangguk.

“Aku panik.”

Sebelas hari.

Aku menyembunyikan adikku dan bayinya karena kukira aku sedang memberi mereka tempat aman.

Padahal selama sebelas hari, aku sedang menjadi dinding terakhir yang dipakai Nita untuk menunda kebenaran.

Rasanya tidak enak.

Tetapi aku juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkannya.

Karena siapa yang mengajarkan Nita bahwa jika ia datang kepadaku dalam keadaan cukup rapuh, aku akan berhenti bertanya?

Aku sendiri.

Aku menatap Kirana.

Bayi itu sekarang tertidur.

Pipinya menempel pada sisi stroller.

Aku berkata, “Kamu tahu apa yang paling membuatku marah?”

Nita menggeleng.

“Bukan uangnya.”

Arman menatapku.

Aku menunjuk tempat kami duduk.

“Kalian sudah membuat keputusan berdasarkan satu keyakinan.”

“Apa?”

Aku menjawab, “Bahwa pada akhirnya aku pasti akan menutup lubangnya.”

Tak ada yang membantah.

Itulah bagian yang paling menyakitkan.

Kalau tuduhanku tidak benar, pasti ada yang langsung protes.

Tidak ada.

Ibu hanya menunduk.

Arman menatap lantai.

Nita memegang tangan Kirana.

Aku membuka buku catatan.

“Baik. Sekarang kita bicara apa yang terjadi mulai hari ini.”

Arman langsung berkata, “Aku bisa cari pinjaman.”

“Tidak.”

“Mir, aku yang salah.”

“Justru karena itu aku tidak mau ada utang baru untuk menutup kesalahan lama.”

Aku melihat Fajar.

“Kamu bilang mau tanggung bagianmu.”

“Iya.”

“Berapa barang yang masih bisa dijual?”

Ia membuka catatan.

“Kalau stok ini dipisah, mungkin sekitar Rp31 sampai Rp35 juta nilai jual.”

“Jangan jual lagi.”

Ia terkejut.

“Kembalikan semuanya ke inventaris Langgeng.”

“Mbak, sebagian model…”

“Aku tahu barangnya.”

Aku bekerja di sana setiap hari.

“Yang masih bagus akan kita jual lewat outlet. Yang ukurannya tidak sesuai musim kita jadikan stok tahun depan. Yang sudah rusak kemasan, hitung ulang.”

Fajar mengangguk.

“Lalu sisa utangmu ke usaha kita hitung setelah audit.”

Nita berkata, “Mbak, kita nggak punya uang banyak.”

“Aku tahu.”

“Kita nggak mungkin bayar langsung.”

“Aku juga tahu.”

Aku melihat mereka berdua.

“Aku tidak minta langsung. Aku minta nyata.”

Fajar mengangguk lagi.

“Kita bisa cicil.”

“Setiap bulan. Nominal tetap. Bukan kalau ada sisa.”

Nita menutup wajah sebentar.

Aku lalu melihat Arman.

“Mulai hari ini kamu tidak pegang pembelian sendiri.”

Wajahnya berubah.

“Mir.”

“Semua order bahan harus dua orang cek.”

“Aku sudah dua belas tahun bantu di sini.”

“Dan selama dua belas tahun itu aku percaya kamu.”

Kalimatku tidak keras.

Justru itu membuat Arman tidak langsung menjawab.

Aku melanjutkan.

“Kamu masih boleh kerja di sini kalau mau.”

Ia menatapku.

“Tapi bukan sebagai orang yang bisa mengeluarkan barang atau membuat pembelian sendiri.”

“Jadi kamu turunkan aku?”

“Aku batasi kewenanganmu.”

“Di depan orang-orang?”

“Kita tidak perlu mengumumkan alasannya. Tapi prosedurnya berubah untuk semua.”

Arman berdiri.

“Kalau memang sudah nggak percaya…”

Aku memotong.

“Mas, jangan paksa aku menghiburmu karena kamu sedih kehilangan kepercayaan yang kamu sendiri rusak.”

Wajahnya memerah.

Ibu langsung berkata, “Mira.”

Aku menoleh.

“Bu, ini contohnya.”

“Apa?”

“Setiap kali salah satu dari mereka kena akibat, Ibu langsung melihat aku.”

Ibu terdiam.

Aku kembali kepada Arman.

“Kalau kamu mau berhenti, itu keputusanmu. Kalau mau tetap kerja, ada aturan baru.”

Ia duduk lagi.

Tidak menjawab.

Kemudian giliran Ibu.

Bagian ini justru yang paling sulit.

Aku tidak ingin mempermalukan beliau.

Aku tidak ingin membuat seorang perempuan tujuh puluh dua tahun merasa anak-anaknya sedang menagih semua pemberian masa lalu.

Jadi aku berkata pelan.

“Bu, aku mau keluar dari bangunan ini.”

Semua orang menoleh.

Ibu paling dulu bereaksi.

“Maksudmu?”

“Usaha Langgeng pindah.”

Arman berkata, “Ke mana?”

“Aku akan cari tempat sewa.”

Nita berhenti menangis.

“Mbak, buat apa?”

“Supaya rumah Ibu kembali menjadi rumah Ibu.”

Ibu menatapku lama.

“Kamu marah sampai mau pergi?”

“Bukan karena marah.”

“Lalu?”

“Karena kita butuh garis yang jelas.”

Aku menunjuk dinding.

“Selama usahaku ada di tanah Ibu, Ibu akan selalu merasa punya tanggung jawab dan hak atas usaha ini.”

Ibu membuka mulut.

Aku lanjut sebelum beliau memotong.

“Dan itu bukan sepenuhnya salah Ibu. Aku juga menikmati tempat murah selama bertahun-tahun.”

Ibu berkata, “Ibu nggak pernah minta sewa.”

“Itulah masalahnya.”

Aku tersenyum tipis.

“Semua terlalu banyak ‘nggak usah’. Nggak usah sewa. Nggak usah hitung. Nggak usah buat aturan. Nggak usah ngomong. Lama-lama semua orang punya hitungan masing-masing di kepala.”

Ibu menatap termosnya.

“Aku akan sewa tempat sendiri. Ibu bebas mau pakai garasi belakang untuk apa.”

“Terus Ibu bagaimana?”

Pertanyaan itu cepat sekali keluar.

Seolah kepindahanku berarti aku meninggalkan beliau.

“Aku tetap anak Ibu.”

Aku menahan napas.

“Belanja bulanan tetap aku bantu. Kontrol kesehatan tetap aku antar kalau jadwalku bisa. Kalau tidak, kita bagi dengan Arman dan Nita.”

Ibu langsung berkata, “Nita repot dengan bayi.”

Aku memandang beliau.

“Nah.”

Ibu berhenti.

“Itu lagi.”

“Apa?”

“Bahkan sebelum Nita diminta, Ibu sudah membebaskannya.”

Nita berkata kecil, “Aku bisa bantu.”

Ibu menoleh.

“Kamu urus rumah tanggamu dulu.”

Nita menatap ibunya.

“Bu, aku tiga puluh empat tahun.”

Ibu hendak menjawab.

Nita melanjutkan.

“Kirana bukan alasan aku nggak bisa antar Ibu kontrol sebulan sekali.”

Aku melihat adikku.

Ada sesuatu yang baru dalam suaranya.

Bukan keberanian besar.

Cuma satu potong kecil tanggung jawab.

Kadang perubahan memang mulai sekecil itu.

Pertemuan berakhir hampir pukul dua belas.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada permintaan maaf serempak.

Tidak ada orang yang tiba-tiba berubah menjadi bijaksana.

Arman pulang lebih dulu.

Sebelum pergi ia berhenti di pintu.

“Mir.”

Aku menatapnya.

“Aku tetap masuk besok.”

Aku mengangguk.

“Jam delapan.”

Ia hampir tersenyum.

Hampir.

Lalu pergi.

Ibu tidak langsung pulang.

Beliau membuka termos dan menuangkan teh ke dua gelas plastik.

Satu didorong ke arahku.

“Kamu benar-benar mau pindah?”

“Iya.”

“Biaya sewanya berapa?”

“Belum tahu.”

“Pasti mahal.”

“Mungkin.”

Ibu menghela napas.

“Dulu Bapak senang waktu kamu pasang mesin pertama di belakang.”

Aku tersenyum.

“Aku juga.”

“Kamu kerja sampai malam.”

“Iya.”

“Ibu sering marah karena suara mesinnya.”

“Kemudian Ibu marah kalau mesinnya sepi.”

Ibu tertawa pendek.

Itu tawa pertama hari itu.

Lalu matanya berkaca.

“Ibu salah.”

Aku diam.

Beliau tidak memberi pidato.

Hanya tiga kata itu.

Lalu beliau minum teh.

Aku juga.

Beberapa permintaan maaf memang tidak memperbaiki semuanya.

Tetapi tiga kata dari ibuku sudah jauh lebih jujur daripada seratus kalimat “demi keluarga”.

Fajar membawa Nita dan Kirana ke rumah kontrakannya sore itu.

Nita awalnya tidak mau.

Aku tidak memaksanya pulang sebagai istri.

Aku hanya mengatakan ia tidak boleh memakai lantai atas tempat usahaku untuk menghindari percakapan lagi.

“Aku belum tentu mau balik sama Fajar,” katanya.

“Itu urusanmu.”

Ia menatapku.

“Kamu marah?”

“Iya.”

“Mbak…”

“Tapi aku tetap sayang kamu.”

Ia mulai menangis lagi.

Aku menghela napas.

“Jangan pakai tangisan dulu. Aku capek.”

Nita malah tertawa di sela tangis.

Itu membuatku ikut tertawa kecil.

Aku berkata, “Kalau kamu belum siap pulang, tidur di rumahku. Bukan sembunyi.”

Akhirnya ia tinggal di rumahku enam hari.

Fajar pulang sendiri.

Mereka bertemu beberapa kali untuk bicara.

Aku tidak ikut.

Untuk pertama kalinya aku tidak menjadi penerjemah, penengah, pemberi uang, atau orang yang menelepon salah satu pihak.

Aku membiarkan dua orang dewasa menghadapi rumah tangga mereka sendiri.

Minggu berikutnya, aku bertemu Pak Rudi dari Sumber Tekstil.

Aku tidak meminta diskon ajaib.

Aku juga tidak berpura-pura invoice itu bukan tanggung jawab usahaku.

Atas nama perusahaan, memang kami yang berutang.

Aku menjelaskan ada kesalahan pengelolaan stok dan meminta jadwal pembayaran bertahap sambil tetap melakukan pembelian dengan sistem tunai untuk sementara.

Pak Rudi tidak langsung setuju.

Ia melihat catatan pembayaran kami selama bertahun-tahun.

Akhirnya kami membuat jadwal tiga bulan.

Aku membayar Rp25 juta dari dana cadangan usaha.

Sakit rasanya.

Uang itu seharusnya kupakai mengganti salah satu mesin bordir yang sudah sering rusak.

Mesinnya harus menunggu.

Itulah harga yang ikut kubayar.

Bukan karena aku menerima kesalahan mereka.

Karena aku pemilik usaha, dan menjadi pemilik berarti kadang menanggung akibat dari sistem buruk yang kita biarkan sendiri.

Selama tiga minggu berikutnya kami menghitung semuanya.

Nilai barang dan kain yang keluar tanpa pembayaran penuh ternyata Rp137 juta lebih sedikit.

Setelah dikurangi barang yang kembali, pembayaran Fajar, dan kain yang masih bisa ditarik dari kenalan Arman, kekurangan bersihnya sekitar Rp74 juta.

Masih besar.

Tetapi bukan lagi angka tanpa wajah.

Fajar dan Nita menandatangani kesepakatan cicilan kepada usaha sebesar Rp2,5 juta per bulan.

Arman mengambil tanggung jawab Rp28 juta untuk bagian kain.

Ia menjual motor keduanya, bukan motor yang dipakai kerja, dan membayar Rp11 juta pertama.

Sisanya dicicil dari sebagian bonus dan pendapatan tambahan.

Ibu menawarkan menjual gelang emasnya.

Aku menolak.

“Kenapa?” tanya beliau.

“Karena itu tidak menyelesaikan kebiasaan kita.”

“Tapi Ibu ikut salah.”

“Iya.”

Beliau tampak tersinggung karena aku mengiyakan.

Aku tersenyum.

“Bagian Ibu bukan bayar dengan gelang.”

“Terus?”

“Bagian Ibu adalah berhenti membuat keputusan untuk anak-anak Ibu yang sudah dewasa.”

Beliau mendengus.

“Itu lebih susah.”

“Makanya cocok.”

Dua bulan kemudian, Langgeng Busana pindah.

Aku mendapat unit kecil di kawasan industri rumahan di Cimahi Selatan.

Sewanya Rp8,5 juta per bulan.

Lebih mahal daripada yang kuinginkan.

Tempatnya juga tidak senyaman bangunan belakang Ibu.

Hari pertama kami memindahkan mesin, aku hampir membatalkan keputusan.

Aku berdiri melihat pekerja mengangkat meja potong dan merasa seperti orang bodoh yang membayar mahal hanya demi sesuatu yang tidak bisa disentuh.

Batas.

Ternyata batas memang mahal.

Tetapi beberapa hal jauh lebih mahal kalau tidak pernah dibuat.

Arman tetap bekerja denganku.

Tiga bulan pertama hubungan kami kaku.

Ia tidak lagi bebas mengambil kunci gudang.

Semua pengeluaran bahan masuk sistem.

Barang keluar harus ada nomor order.

Pada minggu pertama ia dua kali mengeluh.

“Dulu nggak serumit ini.”

Aku menjawab, “Dulu kita juga kehilangan dua puluh tiga gulung kain.”

Ia diam.

Setelah itu ia mulai terbiasa.

Enam bulan kemudian, justru Arman yang menegur staf baru karena membawa satu kardus keluar sebelum dicatat.

Aku mendengarnya dari ruang kantor.

“Catat dulu. Jangan biasakan barang jalan tanpa jejak.”

Aku tidak keluar.

Aku hanya tersenyum sendiri.

Nita dan Fajar tidak langsung baik-baik saja.

Mereka sempat tinggal terpisah hampir satu bulan.

Nita marah karena merasa Fajar terlalu mudah membawa masalah mereka kepada keluargaku.

Fajar marah karena Nita berkali-kali memakai kalimat “Mbak Mira pasti bantu” sebagai rencana darurat.

Mereka akhirnya menyewa rumah kecil yang lebih murah.

Fajar kembali bekerja sebagai supervisor gudang sambil menutup toko marketplace pelan-pelan.

Nita mengambil pekerjaan pembukuan paruh waktu dari rumah.

Cicilan mereka tidak selalu tepat tanggal.

Sekali terlambat empat hari.

Dulu aku mungkin akan berkata tidak apa-apa.

Kali ini aku mengirim pesan.

Jatuh temponya tanggal 10.

Nita menjawab:

Iya, Mbak. Jumat masuk.

Tidak ada drama.

Tidak ada marah.

Hari Jumat uangnya masuk.

Sesederhana itu ternyata sebuah batas ketika semua orang sudah memahami bahwa batas itu sungguh-sungguh.

Hubunganku dengan Ibu juga berubah.

Aku tetap datang.

Tetap membawakan buah.

Tetap mengantar kontrol kalau jadwalku memungkinkan.

Tetapi ketika Ibu berkata, “Arman bulan ini lagi berat,” aku tidak otomatis bertanya berapa.

Aku menjawab, “Sudah bicara langsung sama Arman?”

Awalnya beliau kesal.

Lama-lama terbiasa.

Suatu sore Ibu bahkan berkata, “Ternyata capek juga ya kalau nggak boleh ikut campur.”

Aku tertawa.

“Baru sadar?”

Beliau memukul lenganku pelan.

Tidak semua yang rusak kembali seperti semula.

Aku tidak lagi memberi Arman akses penuh.

Aku tidak lagi percaya begitu saja ketika Nita mengatakan “cuma sebentar”.

Ibu juga kadang masih mengatakan, “Kamu sekarang terlalu pakai aturan.”

Mungkin benar.

Tetapi kami masih makan bersama sesekali.

Masih saling mengirim foto di grup keluarga.

Masih bertengkar soal siapa yang harus menemani Ibu ke dokter.

Keluargaku tidak menjadi sempurna.

Hanya menjadi sedikit lebih jujur.

Dan menurutku itu jauh lebih berguna.

Hampir sembilan bulan setelah Kirana pertama kali ditemukan di ruang pengepakan, Nita datang ke tempat baru membawa anaknya.

Kirana sudah bisa berjalan beberapa langkah.

Ia langsung menuju meja kecil tempat kami menaruh perlengkapan jahit yang aman.

Aku cepat-cepat memindahkan gunting.

“Yang itu jangan.”

Kirana menatapku, lalu mengambil pita ukur kain.

Ia berjalan sempoyongan ke arah Arman dan menyerahkannya.

Arman menerima pita itu.

“Dulu kamu bikin Om hampir mati berdiri, tahu nggak?”

Nita tertawa.

Aku berkata, “Jangan bohong. Yang hampir mati waktu itu aku.”

Arman memandangku.

Kemudian ia tertawa juga.

Kirana tidak mengerti apa pun.

Ia menarik kembali pita ukur itu dan berjalan di antara kardus-kardus seragam sambil menyeretnya di lantai.

Kali ini tidak ada yang buru-buru menggendongnya agar tidak terlihat.

Tidak ada yang menutup pintu.

Tidak ada yang berbisik supaya Ibu jangan tahu.

Aku berdiri di depan ruang kerjaku dan melihat adikku mengejar anaknya.

Di belakang mereka ada rak stok baru.

Setiap barang punya nomor.

Setiap pengeluaran punya catatan.

Setiap orang tahu bagian masing-masing.

Aku dulu mengira keluarga yang dekat adalah keluarga yang tidak perlu menghitung apa pun.

Sekarang aku tahu kami justru mulai lebih dekat setelah belajar menyebut sesuatu dengan nama yang tepat.

Bantuan adalah bantuan.

Utang adalah utang.

Usaha adalah usaha.

Dan kasih sayang tidak kehilangan nilainya hanya karena akhirnya memiliki batas.

Terima kasih sudah membaca kisah Mira sampai akhir. Menurut kalian, keputusan memindahkan usaha dari rumah Ibu terlalu keras atau justru diperlukan agar hubungan keluarga bisa diselamatkan? Semoga kita semua diberi keberanian untuk tetap menyayangi keluarga tanpa kehilangan hak untuk berkata cukup.