Pukul Dua Lewat Tujuh Aku Menemukan Ibu yang Sudah 72 Tahun Mengulek Bumbu Sendirian di Dapur Katering; Kakakku Bilang Itu Kemauannya Sendiri, Sampai Aku Mengusulkan Membawanya Pergi Sepuluh Hari dan Semua Orang Panik

Avatar penulis
Cerita 01
23 menit baca 330 tayangan
Pukul Dua Lewat Tujuh Aku Menemukan Ibu yang Sudah 72 Tahun Mengulek Bumbu Sendirian di Dapur Katering; Kakakku Bilang Itu Kemauannya Sendiri, Sampai Aku Mengusulkan Membawanya Pergi Sepuluh Hari dan Semua Orang Panik
Indeks

BAGIAN 2

Aku menunjuk tulisan di papan.

“Ini maksudnya apa?”

Wulan tidak menjawab.

Sulastri dan Novi yang sedang memotong bawang saling melihat.

“Empat malam seminggu?” tanyaku. “Ibu kerja empat malam seminggu?”

“Jangan berteriak.”

“Aku tidak berteriak.”

“Suaramu sudah seperti mau mengadili orang.”

Aku mengambil foto papan itu.

Wulan langsung maju.

“Untuk apa difoto?”

Pertanyaan itu justru memperjelas semuanya.

“Kenapa kamu takut aku foto?”

“Aku tidak takut.”

“Lalu?”

Pukul Dua Lewat Tujuh Aku Menemukan Ibu yang Sudah 72 Tahun Mengulek Bumbu Sendirian di Dapur Katering; Kakakku Bilang Itu Kemauannya Sendiri, Sampai Aku Mengusulkan Membawanya Pergi Sepuluh Hari dan Semua Orang Panik

“Karena kamu tidak tahu konteksnya.”

“Bagus. Jelaskan.”

Wulan melirik para pegawai.

“Kita bicara di depan.”

Aku tetap berdiri.

“Tidak. Di sini saja.”

Sulastri akhirnya meletakkan pisau.

“Mbak Niken…”

Wulan menoleh tajam.

Sulastri menutup mulut lagi.

Aku memandangnya.

“Bu Sulastri, sudah berapa lama Ibu ikut produksi malam?”

Perempuan itu sudah bekerja bersama keluarga kami sejak aku SMA.

Ia tidak mungkin salah membedakan pertanyaan dengan jebakan.

“Awalnya cuma kalau pesanan besar,” katanya pelan.

“Awalnya kapan?”

Ia melihat Wulan.

“Setelah Pak Hadi meninggal.”

Ayah meninggal empat tahun lalu.

Aku menatap Wulan.

“Empat tahun?”

“Tidak setiap malam.”

“Tapi sekarang empat malam.”

“Karena pesanan lagi banyak.”

Ibu muncul dari pintu belakang mengenakan mukena.

Rupanya ia baru selesai salat.

Begitu melihat kami, wajahnya langsung mengeras.

“Kalian ngapain ribut pagi-pagi?”

Aku menunjuk papan.

“Ibu kerja begini sejak kapan?”

Ibu melihat jadwal itu.

Bukannya terkejut, ia malah kesal kepada Wulan.

“Kok belum dihapus jadwal minggu lalu?”

Aku seperti kehilangan satu anak tangga.

“Jadi Ibu tahu?”

“Niken…”

“Semua orang tahu kecuali aku?”

Ibu berjalan melewatiku.

“Aku bukan anak kecil.”

“Itu bukan jawaban.”

“Dan kamu bukan kepala keluarga di rumah ini.”

Kalimat itu mengenai tempat yang tepat.

Aku menahan diri.

“Aku memang bukan kepala keluarga. Tapi setiap kali Ibu sakit, aku diminta bantu. Setiap kali ada biaya tambahan, kalian telepon aku. Kalau aku ikut menanggung akibatnya, aku juga berhak tahu penyebabnya.”

Wulan bersedekap.

“Nah. Akhirnya uang juga yang dibahas.”

Aku menatapnya.

“Justru bukan uang.”

“Selalu uang buat kamu.”

Ibu mengetuk meja.

“Sudah.”

Ia kembali ke rumah.

Pagi itu grup WhatsApp keluarga mendadak ramai.

Bulik Sri menulis bahwa aku tidak boleh membuat Ibu merasa tidak berguna.

Om Bambang mengingatkan bahwa Wulan sudah belasan tahun menjaga usaha dan Ibu.

Sepupuku bahkan menulis, Orang yang tinggal jauh biasanya memang paling gampang kasih teori.

Tidak ada yang bertanya mengapa perempuan berusia 72 tahun dijadwalkan bekerja mulai pukul satu pagi.

Siangnya aku pergi membeli obat Ibu.

Di depan toko bahan makanan langganan keluarga, pemiliknya, Pak Harno, mengenaliku.

“Bu Ratmi tidak ikut?”

“Tidak. Tangannya sakit.”

Ia mengangguk.

“Pantas tadi malam tidak kirim voice note.”

Aku menoleh.

“Voice note apa?”

“Takaran.”

Pak Harno terlihat sadar bahwa ia mungkin mengatakan terlalu banyak.

“Biasanya kalau order besar, Bu Ratmi yang kasih konfirmasi jumlah bawang, santan, kemiri. Mbak Wulan tinggal teruskan.”

“Jam berapa?”

“Ya… malam.”

Aku tidak bertanya lebih jauh.

Ketika pulang, aku menemukan map menu di kantor kecil.

Bukan dokumen rahasia. Hanya lembar penawaran katering.

Satu nama perusahaan muncul berulang kali.

Sebuah pabrik komponen otomotif di kawasan Sukoharjo sedang mencari penyedia makan siang selama enam bulan.

Targetnya 250 kotak per hari kerja.

Di bagian catatan tertulis dengan pulpen:

Resep dan quality check Bu Ratmi.

Aku mulai mengerti.

Bukan hanya tenaga Ibu yang dibutuhkan.

Namanya juga dijual.

Sore itu aku berkata kepada Wulan,

“Kamu mau dapat kontrak pabrik itu.”

Ia sedang memeriksa baki.

“Kalau dapat memang kenapa?”

“Makanya Ibu tidak boleh pergi sepuluh hari?”

“Kamu terlalu jauh menyimpulkan.”

“Catatan penawaranmu bilang quality check Bu Ratmi.”

“Klien kenal masakan Ibu.”

“Berarti Ibu bekerja.”

“Tidak seperti yang kamu bayangkan.”

“Lalu seperti apa?”

Wulan membanting clipboard ke meja.

“Kamu datang dua hari lalu mau mengatur usaha yang tidak pernah kamu urus!”

“Aku tidak mau mengatur usaha. Aku mau Ibu berhenti kerja jam satu pagi.”

“Coba bilang sendiri.”

“Aku sudah bilang.”

“Dan Ibu nolak, kan?”

Aku tidak menjawab.

Untuk pertama kalinya, Wulan tampak bukan hanya marah.

Ia tampak lelah.

“Kamu kira aku yang menyeret Ibu ke dapur?” katanya. “Aku sudah buang ulekan besar itu dua kali. Ibu beli lagi.”

Aku menatapnya.

Malamnya aku masuk ke kamar Ibu.

Ia sedang melipat baju.

“Aku mau tanya satu hal.”

“Kalau soal dapur, aku sudah capek.”

“Kenapa Ibu tidak bilang ke aku?”

Tangannya berhenti.

Lama sekali ia tidak menjawab.

Lalu ia berkata,

“Karena kalau kubilang, kamu akan melakukan persis seperti sekarang.”

“Apa?”

“Datang, panik, lalu ingin menyelesaikan semuanya.”

“Aku cuma mau Ibu sehat.”

“Kamu selalu mau yang cepat, Niken.”

Aku duduk.

Ibu melanjutkan,

“Ada atap bocor, transfer. Ada biaya dokter, transfer. Ada pegawai menikah, transfer. Kamu baik. Ibu tahu.”

Ia menatapku.

“Tapi kalau ada masalah yang tidak bisa selesai dengan transfer, kamu mau tutup masalahnya sekalian.”

Aku tidak suka kalimat itu karena ada bagian yang benar.

“Apa Ibu yang minta Wulan merahasiakan ini?”

Ibu menghela napas.

“Iya.”

Jawaban itu membalik arah kemarahanku.

Belum seluruhnya.

Tapi cukup.

Aku mengambil cuti tiga hari lagi. Ada presentasi tender hotel di Semarang yang akhirnya diserahkan kepada wakilku. Atasanku tidak marah, tetapi nada bicaranya membuatku tahu keputusan itu akan dicatat.

Malam berikutnya aku tidak tidur.

Menjelang pukul sebelas, kudengar suara Wulan dan Ibu dari kantor kecil.

“Aku bilang kita kurangi saja pesanan,” kata Wulan.

“Terus gaji mereka bagaimana?”

“Kalau kontrak pabrik tidak jadi, kita masih bisa jalan.”

“Jangan bohong sama Ibu.”

Sunyi sebentar.

Kemudian Ibu berkata,

“Gaji Novi sama Yanto bulan kemarin saja masih kamu cicil. Kalau pesanan enam bulan itu batal, kamu mau bayar dua belas orang pakai apa?”

Aku berdiri di balik pintu.

Saat itulah aku memahami bahwa pekerjaan malam Ibu bukan masalah terbesar.

Usaha ini ternyata sudah terlalu lama hidup dari sesuatu yang tidak pernah dimasukkan ke dalam laporan biaya.

Tenaga seorang ibu tua.

Ketakutan seorang kakak.

Dan uang seorang adik yang selalu lebih mudah dikirim daripada pertanyaan.

Kalau usaha keluarga hanya bisa bertahan karena semua orang menyembunyikan harga sebenarnya, menurut kalian apa yang seharusnya kuselamatkan lebih dulu?

BAGIAN 3

Aku mendorong pintu kantor.

Wulan langsung berdiri.

Ibu menutup mata sebentar.

Tidak ada seorang pun bertanya berapa lama aku mendengar.

Mereka tahu itu tidak penting lagi.

“Dua bulan?” tanyaku.

Wulan menatap meja.

“Tidak semuanya.”

“Gaji siapa yang belum penuh?”

“Niken.”

“Siapa?”

“Novi sama Yanto. Sulastri masih kurang uang lembur.”

Ibu berkata, “Besok saja.”

Aku menoleh kepadanya.

“Tidak, Bu. Empat tahun kita bilang besok.”

Wulan mengangkat wajah.

“Jangan dramatis.”

Aku menarik kursi dan duduk.

“Baik. Kita tidak usah dramatis. Kita pakai angka.”

Ia tertawa pendek tanpa humor.

“Nah, akhirnya keluar juga.”

Aku membiarkannya.

“Berapa harga makan siang untuk kontrak pabrik?”

Wulan tidak menjawab.

Aku sudah membaca penawarannya.

“Rp23.500 per kotak.”

“Belum final.”

“Biaya bahan?”

“Tergantung menu.”

“Rata-rata.”

“Sekitar lima belas ribu.”

“Box?”

“Seribu dua ratus.”

“Gas, listrik, transportasi, tenaga, susut bahan?”

Wulan mengusap kening.

“Kalau kamu mau audit, besok saja.”

“Aku bukan auditor. Aku orang pembelian. Tiap hari pekerjaanku menghitung apakah harga barang masuk akal.”

“Ini katering, bukan hotel.”

“Matematika tidak berubah hanya karena nasinya dibungkus kertas.”

Ibu menatapku tajam.

“Jangan merendahkan usaha keluarga.”

Aku menggeleng.

“Aku justru sedang mencoba memahami kenapa usaha keluarga butuh perempuan umur tujuh puluh dua tahun bekerja gratis jam satu pagi.”

Wulan menepuk meja.

“Ibu bukan pekerja gratis!”

“Berapa gajinya?”

Ia terdiam.

“Berapa?” ulangku.

“Ini usaha Ibu sendiri.”

“Sekarang dikelola kamu.”

“Ibu masih pemilik.”

“Kalau begitu lebih parah. Pemiliknya kerja malam tanpa tahu pegawai belum digaji penuh.”

Ibu langsung berkata, “Aku tahu.”

Aku memandangnya.

Wulan memejamkan mata.

Kalimat itu keluar terlalu cepat.

“Ibu tahu?”

“Sebagian.”

“Sejak kapan?”

Ibu menarik napas.

“Jangan bicara seolah aku pikun.”

“Aku tidak pernah bilang Ibu pikun.”

“Tapi cara kamu bicara begitu.”

Aku merasa percakapan itu mulai bergerak ke tempat yang sudah kukenal sejak kecil.

Pertanyaan berubah menjadi rasa bersalah.

Rasa bersalah berubah menjadi kewajiban.

Kewajiban membuat masalah awal terlupakan.

Biasanya aku akan menyerah.

Malam itu aku tidak.

“Aku minta maaf kalau nadaku membuat Ibu merasa dianggap tidak mampu,” kataku. “Tapi setelah itu kita tetap akan membahas ini.”

Ibu menatapku seolah baru pertama kali mendengar kalimat dariku yang tidak berakhir dengan mundur.

Wulan bersandar ke lemari.

“Jadi maumu apa?”

“Aku mau lihat usaha ini seperti apa sebenarnya.”

“Kamu tidak punya hak.”

Ibu berkata pelan,

“Dia punya.”

Kami berdua menoleh.

Ibu menatap Wulan.

“Kalau selama ini biaya rumah dan obatku dibantu Niken supaya uang usaha tidak kepakai, jangan bilang dia tidak punya hak bertanya.”

Wulan mengatupkan rahang.

Aku tidak merasa menang.

Justru terasa lebih buruk.

Karena kalimat Ibu berarti sesuatu yang selama ini tidak pernah kami ucapkan.

Uang yang kukirim untuk kebutuhan Ibu secara tidak langsung telah membuat usaha punya ruang bernapas.

Aku tidak membiayai katering.

Tapi karena aku menanggung banyak kebutuhan rumah, usaha tidak perlu menanggungnya.

Batasnya memang kabur.

Dan kami semua membiarkannya begitu.

Besok paginya aku duduk bersama Wulan di kantor kecil.

Tidak ada pengacara.

Tidak ada notaris.

Tidak ada dokumen mengejutkan.

Hanya kuitansi bahan, jadwal pesanan, catatan harga, daftar pekerja, dan kalkulator.

Justru benda-benda biasa itulah yang akhirnya membuat masalah terlihat.

Harga beberapa paket katering mereka hampir tidak berubah selama tiga tahun.

Harga ayam sudah naik.

Minyak naik.

Gas naik.

Kemasan naik.

Upah harian naik.

Wulan menutup kekurangan dengan mengambil pesanan lebih banyak.

Semakin banyak pesanan, semakin banyak uang yang berputar.

Dari luar usaha terlihat tumbuh.

Mobil pengiriman bertambah satu.

Pegawai dari tujuh menjadi dua belas.

Pesanan pernikahan makin besar.

Instagram mereka ramai.

Yang tidak tumbuh adalah keuntungan.

Pada beberapa paket, setelah semua biaya dihitung, laba bersih bahkan tidak mencapai lima persen.

Pada dua jenis menu, mereka sebenarnya rugi.

Aku menunjuk angka.

“Kenapa ini masih dijual?”

Wulan menjawab cepat.

“Itu menu langganan.”

“Kalau rugi?”

“Kalau kuhapus, pelanggan pindah.”

“Kamu bisa naikkan harga.”

“Ibu tidak mau.”

Aku menoleh kepada Ibu yang duduk di kursi dekat pintu.

Ia memijat lututnya.

“Orang-orang itu langganan sejak zaman Bapakmu.”

Aku menahan napas.

“Bu, harga cabai tidak peduli mereka langganan sejak zaman Bapak.”

Wulan hampir tersenyum.

Ibu melotot.

Aku melanjutkan lebih lembut.

“Loyalitas tidak bisa membayar gas.”

Ibu menatap keluar.

Wulan membuka buku pesanan lain.

“Dua tahun lalu aku sudah mau naikkan paket. Ibu bilang jangan.”

“Lalu kenapa kamu malah ambil pesanan lebih banyak?”

Wulan menjawab,

“Karena kalau tidak begitu uangnya tidak cukup.”

“Jadi kamu memperbesar volume dari pekerjaan yang marginnya terlalu kecil.”

“Aku tahu sekarang.”

“Sekarang?”

Ia menatapku.

“Jangan bicara seolah aku bodoh.”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Semua pertanyaanmu bunyinya begitu.”

Aku menutup kalkulator.

“Kalau kamu sudah tahu masalahnya, kenapa diteruskan?”

Wulan akhirnya duduk.

Bahunya turun.

“Karena setiap kali aku mencoba mengurangi pesanan, Ibu bilang usaha Bapak jangan diperkecil.”

Ibu langsung menyahut,

“Aku tidak pernah bilang begitu.”

Wulan tertawa getir.

“Ibu bilang apa waktu aku mau berhenti menerima katering hajatan besar?”

“Aku cuma bilang sayang pelanggannya.”

“Waktu aku mau pecat dua pegawai?”

“Aku bilang mereka punya keluarga.”

“Waktu aku mau naikkan harga?”

“Aku bilang jangan keterlaluan.”

“Nah.”

“Bukan berarti kamu harus nurut semua.”

Ruangan mendadak terasa absurd.

Aku menatap mereka bergantian.

Empat tahun lalu, setelah Ayah meninggal, dua perempuan ini rupanya telah membangun sebuah sistem dari kalimat-kalimat yang tidak pernah selesai.

Wulan menganggap keinginan Ibu sebagai perintah.

Ibu menganggap Wulan tetap punya kebebasan memilih.

Kemudian ketika akibatnya datang, keduanya merasa orang lainlah yang memutuskan.

“Kenapa tidak pernah bilang ke aku?” tanyaku.

Wulan tertawa lagi.

Kali ini kepadaku.

“Mau bilang apa?”

“Yang sebenarnya.”

“Supaya kamu melakukan apa?”

Aku membuka mulut.

Ia mendahuluiku.

“Transfer?”

Aku diam.

“Nah.”

“Aku bisa membantu cari solusi.”

“Kapan?”

Nada suaranya berubah.

Bukan marah lagi.

Lebih tua daripada marah.

“Kamu ingat waktu mesin freezer rusak dua tahun lalu?”

“Aku kirim uang.”

“Tepat.”

“Lalu?”

“Kamu kirim uang sebelum aku selesai cerita.”

Aku terdiam.

Wulan melanjutkan.

“Waktu Ibu jatuh di kamar mandi tahun lalu, kamu transfer untuk pasang pegangan dinding.”

“Apa itu salah?”

“Tidak.”

“Terus?”

“Kamu tidak datang.”

Aku menatapnya.

“Itu minggu audit tahunan.”

“Aku tahu.”

“Lalu apa maumu?”

“Aku tidak minta apa-apa.”

“Jelas kamu minta sesuatu.”

Wulan menatapku lama.

“Aku cuma ingin sekali saja kamu mengerti bedanya membantu masalah dan tinggal bersama masalah.”

Kalimat itu tidak keras.

Justru karena itu aku tidak bisa menepisnya.

Selama bertahun-tahun aku merasa Wulan mendapat keuntungan karena tinggal bersama Ibu.

Rumah besar.

Usaha.

Nama keluarga.

Koneksi pelanggan.

Aku tidak pernah benar-benar menghitung hal lain.

Setiap kali Ibu sulit makan, Wulan yang membujuk.

Setiap kali Ibu marah kepada dokter, Wulan yang menghadapi.

Setiap pegawai ingin pinjam uang, Wulan yang mendengar.

Setiap pelanggan lama menuntut harga lama, Wulan yang menjadi wajah keluarga.

Tidak berarti ia berhak menyembunyikan semuanya dariku.

Tapi untuk pertama kalinya aku melihat alasan mengapa ia melakukannya.

Karena dalam keluarga kami, aku sudah mengambil peran sebagai orang yang datang membawa solusi.

Wulan mengambil peran sebagai orang yang menanggung kekacauan.

Ibu mengambil peran sebagai orang yang tidak boleh menjadi beban.

Kami terlalu lama memainkan peran itu sampai lupa bahwa semuanya sedang merusak kami.

Siang harinya, Sulastri masuk membawa tiga gelas teh.

Aku memintanya duduk.

Ia ragu.

Wulan berkata,

“Duduk saja, Bu.”

Aku bertanya,

“Kalau Ibu tidak ikut produksi malam, sebenarnya apa yang paling sulit?”

Sulastri langsung menjawab,

“Rasa.”

Wulan menoleh kepadanya.

“Bukan berarti kami tidak bisa masak,” lanjut Sulastri cepat. “Tapi Bu Ratmi hafal. Santan kurang sedikit saja tahu. Opor terlalu manis tahu. Semur kalau warna belum pas tahu.”

“Bisa diajarkan?”

Sulastri mengangguk.

“Bisa.”

Ibu mendengus.

“Kalau semudah itu, dari dulu sudah.”

Sulastri tersenyum malu.

“Bisa diajarkan bukan berarti dua hari langsung sama, Bu.”

Aku bertanya lagi.

“Kenapa belum diajarkan?”

Tidak ada yang menjawab.

Aku memahami satu hal lagi.

Selama Ibu selalu tersedia untuk memperbaiki rasa, tidak ada alasan mendesak bagi usaha ini untuk membangun orang kedua.

Keterampilan Ibu bukan hanya kebanggaan.

Ia sudah menjadi titik kegagalan tunggal.

Kalau Ibu sakit, dapur panik.

Kalau Ibu pergi, Wulan menolak pesanan.

Kalau Ibu tidur, orang menunggu sampai ia bangun.

Sebuah usaha keluarga ternyata bisa sangat bergantung pada satu orang tanpa seorang pun menyebutnya ketergantungan.

Hari itu kami mencoba sesuatu yang membuat Ibu tersinggung.

Sulastri memasak opor tanpa bantuan Ibu.

Ibu hanya boleh mencicipi setelah selesai.

Ia duduk di kursi seperti juri lomba.

Sendok pertama masuk ke mulut.

Ia mengerutkan kening.

“Kurang.”

“Kurang apa?” tanya Sulastri.

“Ya kurang.”

Aku menatap Ibu.

“Kalau mau mengajar, bilang kurang apa.”

Ibu kesal.

Ia mencicipi lagi.

“Garam sedikit. Kemirinya juga kurang matang waktu disangrai.”

Sulastri menulis.

Kami membuat satu batch lagi.

Ibu mencicipi.

“Lebih baik.”

Aku bertanya,

“Bisa dijual?”

Ia diam cukup lama sampai Wulan tertawa kecil.

“Ayo, Bu.”

Ibu akhirnya berkata,

“Bisa.”

Itulah pertama kalinya aku melihat jalan keluar yang bukan berupa menutup usaha atau membiarkan semuanya seperti semula.

Tapi Wulan masih punya masalah yang lebih dekat.

Pesanan pernikahan sembilan ratus pax harus dikirim Sabtu.

Dan setelah itu, pihak pabrik ingin mencicipi menu untuk kontrak enam bulan pada Senin.

Malam Jumat, kami duduk bertiga lagi.

Aku berkata,

“Pesanan Sabtu kita selesaikan. Ibu tidak kerja malam.”

Wulan langsung menyela.

“Tidak mungkin.”

“Kenapa?”

“Bumbu inti belum semua jadi.”

“Sulastri bisa.”

“Kamu baru satu hari di dapur sudah merasa tahu semuanya.”

“Aku tidak bilang aku tahu. Aku bilang kita coba.”

“Kalau gagal?”

“Kita tanggung.”

“Pelanggan yang tanggung malu?”

“Kalau usaha ini tidak bisa menyelesaikan satu pesanan tanpa perempuan 72 tahun begadang, lebih baik kita tahu sekarang.”

Ibu berkata,

“Aku bisa duduk saja.”

“Jam berapa?”

Ia diam.

“Kalau jam sembilan malam masih mau mencicipi, silakan. Setelah itu tidur.”

“Jam tiga biasanya baru mulai…”

“Tidak.”

Satu kata itu terasa asing keluar dari mulutku.

Ibu memandangku.

Biasanya aku akan menambahkan penjelasan panjang.

Biasanya aku akan membujuk sampai kata “tidak” berubah menjadi negosiasi.

Kali ini tidak.

“Tidak, Bu.”

“Aku pemilik usaha ini.”

“Dan aku anak Ibu yang kemarin membawa Ibu ke dokter karena tangannya bengkak.”

“Dokter juga tidak bilang aku harus tiduran terus.”

“Dokter bilang kurangi aktivitas berat.”

“Cicip masakan bukan aktivitas berat.”

“Kalau cuma mencicipi jam sembilan, silakan.”

Ibu berdiri.

“Kamu sekarang senang sekali mengatur.”

Aku menahan napas.

“Bisa jadi.”

Ia berjalan keluar.

Pintu tidak dibanting.

Entah mengapa itu terasa lebih berat.

Wulan menatapku.

“Kamu puas?”

“Tidak.”

“Itu bedanya kita.”

“Apa?”

“Aku harus tetap tinggal di rumah yang sama setelah kamu bilang tidak.”

Kalimat itu menusuk.

Aku menjawab pelan,

“Makanya kali ini aku juga tinggal.”

Wulan tidak berkata apa-apa.

Malam produksi pertama tanpa Ibu berantakan.

Bukan bencana.

Tapi berantakan.

Yanto salah mengambil wadah.

Novi menaruh label pada baki yang keliru.

Satu batch sambal terlalu asin.

Ayam datang terlambat empat puluh menit.

Dedi, suami Wulan, yang biasanya mengurus pengiriman, marah karena jadwal berubah.

Pukul satu dini hari Wulan menatapku dan berkata,

“Masih mau lanjut eksperimen?”

Aku sedang mengikat rambut.

“Iya.”

“Kamu besok bisa pulang ke Semarang.”

Aku menatapnya.

“Kamu juga bisa berhenti memakai itu sebagai senjata.”

Ia diam.

Kami membuat ulang sambal.

Sulastri mencicipi bumbu.

Pukul dua tiga puluh, Ibu muncul di pintu dapur.

Aku langsung melihat jam.

“Bu.”

“Aku cuma mau lihat.”

“Tidur.”

“Aku tidak bisa tidur kalau kalian berisik begini.”

Wulan hampir berkata sesuatu, tapi aku mengangkat tangan.

“Ibu boleh duduk lima menit.”

“Aku tidak minta izin.”

“Aku tahu.”

Ia duduk juga.

Sulastri membawa satu sendok kuah kepadanya.

Ibu mencicipi.

Semua orang menunggu.

“Kurang daun salam.”

Sulastri hendak berlari.

Ibu berkata,

“Tidak usah panik. Untuk batch ini masih aman.”

Aku melihat Wulan.

Wulan melihatku.

Hal kecil.

Tapi selama dua hari terakhir, itu pertama kalinya Ibu menilai masakan tanpa langsung mengambil alih.

Pukul lima pagi ia sudah kembali ke kamar.

Pesanan Sabtu tidak sempurna.

Ada dua puluh tujuh kotak snack yang tutupnya penyok dan harus diganti.

Pengiriman kedua terlambat sebelas menit.

Satu keluarga komplain karena acar kurang banyak.

Tapi sembilan ratus porsi terkirim.

Tidak ada yang keracunan.

Tidak ada pengantin yang marah.

Dapur tidak runtuh.

Dan Ibu tidur sampai hampir pukul sembilan.

Ketika bangun, ia tidak memuji siapa pun.

Ia hanya bertanya,

“Semurnya habis?”

Wulan menjawab,

“Habis.”

Ibu mengangguk.

Itu saja.

Namun aku melihat Sulastri tersenyum.

Masalah berikutnya adalah kontrak pabrik.

Aku membaca penawarannya lagi.

“Rp23.500 terlalu rendah.”

Wulan berkata,

“Kalau dinaikkan, belum tentu masuk.”

“Kalau harga itu masuk tapi kita rugi, untuk apa?”

“Supaya volume jalan.”

“Volume bukan keuntungan.”

“Aku tahu.”

“Kalau tahu, kenapa angka ini?”

Wulan tidak menjawab.

Ibu menjawab untuknya.

“Pabrik itu kenalan Pak Seno.”

Aku mengenal nama itu. Teman lama Ayah.

“Terus?”

“Dia yang mengenalkan.”

Aku mulai memahami.

“Jadi karena kenalan Ayah, harganya diturunkan?”

“Bukan diturunkan. Disesuaikan.”

Aku tertawa kecil.

“Ibu punya bahasa sendiri untuk rugi.”

Ibu tersinggung.

Tetapi kali ini Wulan justru tertawa.

Aku menghitung ulang.

Dengan harga bahan sekarang, transportasi, kemasan, tenaga, gas, cadangan kerusakan, dan margin minimum yang masih masuk akal, mereka seharusnya menawarkan sekitar Rp27.500 sampai Rp29.000 per kotak tergantung menu.

Selisih Rp4.000 terlihat kecil.

Dikalikan 250 kotak sehari, menjadi Rp1 juta.

Dalam dua puluh dua hari kerja, Rp22 juta.

Dalam enam bulan, lebih dari Rp130 juta.

Tiba-tiba aku mengerti kenapa usaha besar bisa terlihat sibuk sambil tetap tidak punya uang.

Wulan melihat hasil hitunganku.

“Mereka tidak akan mau.”

“Mungkin.”

“Kalau tidak jadi?”

“Tidak jadi.”

Ibu langsung berkata,

“Jangan gampang ngomong begitu.”

Aku menoleh.

“Kalau kontrak yang hanya bisa untung karena Ibu kerja gratis malam-malam tidak jadi, itu bukan kehilangan.”

“Itu pemasukan besar.”

“Itu omzet besar.”

Wulan terdiam.

Ibu tidak.

“Dulu Bapakmu membangun usaha ini dari nol. Pelanggan datang karena kami tidak pernah hitung-hitungan sekali.”

Aku memandangnya.

Akhirnya kami tiba di tempat sebenarnya.

Bukan sekadar harga ayam.

Bukan jadwal malam.

Bukan Wulan.

Ayah.

Lebih tepatnya, bayangan Ayah.

Empat tahun setelah meninggal, ia masih ikut menentukan harga makan siang.

“Ibu takut orang bilang usaha Bapak berubah setelah Bapak meninggal?” tanyaku.

Ibu tidak menjawab.

Aku menunggu.

Ia merapikan ujung bajunya.

“Mereka sudah banyak bantu kita.”

“Siapa?”

“Pelanggan lama.”

“Mereka membantu dengan membeli makanan. Kita membantu dengan membuat makanan.”

“Tidak sesederhana itu.”

“Aku tahu. Tapi itu juga bukan alasan kita harus rugi.”

Wulan duduk di samping Ibu.

“Bu, aku sebenarnya sudah capek.”

Ibu menoleh cepat.

Bukan marah.

Terkejut.

Wulan tidak sering mengucapkan kelemahan di depan Ibu.

“Aku capek kalau setiap kali naik harga aku merasa seperti mengkhianati Bapak. Capek setiap mau mengurangi pegawai Ibu bilang kasihan. Capek setiap menolak pesanan Ibu takut orang kecewa.”

Matanya merah, tetapi suaranya tetap datar.

“Aku empat belas tahun di sini. Kadang aku bahkan tidak tahu keputusan mana yang benar-benar keputusanku.”

Ibu menjawab,

“Terus selama ini kamu menyalahkan Ibu?”

“Tidak.”

“Bunyinya begitu.”

“Karena Ibu selalu mengira kalau tidak ada yang menyalahkan, berarti tidak ada masalah.”

Ibu berdiri.

Kursinya bergeser.

“Kalau kalian mau ambil alih, ambil saja.”

Aku mengenal kalimat itu.

Kalimat penghabisan.

Dulu kalau Ayah mengkritik sesuatu, Ibu akan berkata, ya sudah, kerjakan sendiri.

Lalu semua orang mengejarnya dan meyakinkan bahwa bukan itu maksudnya.

Siklus lama.

Aku tidak mengejar.

“Ibu tidak perlu menyerahkan apa-apa.”

Ia berhenti di pintu.

“Kami cuma tidak akan menjalankan semuanya dengan cara lama.”

“Siapa ‘kami’?”

Aku menatap Wulan.

Wulan menatapku.

Untuk pertama kalinya ia menjawab sebelum aku sempat bicara.

“Aku, Bu.”

Ibu menoleh.

“Aku yang akan naikkan harga.”

Wulan menarik napas.

“Aku juga yang akan bilang ke Pak Seno kalau kontrak pabrik cuma bisa jalan dengan harga baru.”

Ibu memandang anak sulungnya sangat lama.

“Kalau dia tersinggung?”

“Biar aku yang tanggung.”

“Kalau dia bilang kita lupa hubungan lama?”

“Biar.”

“Kalau kontraknya gagal?”

Wulan menelan ludah.

“Ya gagal.”

Aku melihat sesuatu berubah di wajahnya.

Takut masih ada.

Tapi keputusan juga ada.

Itu penting.

Aku tidak menyelamatkan Wulan.

Ia mulai mengambil kembali keputusan yang selama ini selalu ia letakkan di kaki Ibu.

Senin, pihak pabrik datang mencicipi.

Wulan menyampaikan harga baru.

Mereka keberatan.

Aku tidak ikut bicara pada awalnya.

Ini usahanya.

Mereka meminta Rp24.500.

Wulan menolak.

Rp25.500.

Wulan masih menolak.

Akhirnya mereka bertanya apa yang bisa didapat pada Rp27.000.

Wulan menawarkan menu berbeda untuk dua hari dalam seminggu, tanpa mengurangi standar porsi.

Mereka tidak langsung sepakat.

Pak Seno menelepon Ibu sore harinya.

Aku tidak mendengar percakapannya, hanya sisi Ibu.

“Iya, Pak.”

“Bukan anak-anak yang memaksa.”

“Iya.”

“Memang hitungannya sudah beda.”

Lama sekali Ibu diam.

Kemudian ia berkata,

“Kalau memang tidak cocok, tidak apa-apa.”

Aku yang sedang minum hampir salah menelan.

Setelah telepon ditutup, aku tidak berkata apa-apa.

Ibu juga tidak.

Dua hari kemudian, perusahaan itu menerima harga Rp27.000 untuk masa percobaan dua bulan, bukan enam.

Bukan kemenangan besar.

Tapi untuk pertama kalinya, mereka mendapat kontrak berdasarkan biaya nyata, bukan rasa sungkan.

Kami lalu melakukan hal yang jauh lebih sulit.

Memisahkan Ibu dari usaha tanpa membuatnya merasa dibuang.

Ibu tidak mau “pensiun”.

Kata itu membuat wajahnya menutup.

Jadi kami tidak menyebutnya pensiun.

Wulan membuat jadwal baru.

Ibu boleh datang ke dapur pukul sembilan sampai sebelas pagi, maksimal tiga kali seminggu.

Tugasnya hanya mencicipi, mengajari dua resep per bulan kepada Sulastri dan Novi, dan memberi masukan menu.

Tidak boleh mengangkat panci.

Tidak boleh masuk dapur setelah pukul sembilan malam.

Ibu protes.

“Aku bukan pegawai kalian.”

Aku berkata,

“Betul. Justru karena itu Ibu tidak perlu dapat shift jam satu pagi.”

Wulan nyaris tertawa.

Ibu melotot pada kami berdua.

Namun jadwal itu tetap ditempel.

Kali ini bukan di balik kardus.

Aku juga mengubah caraku membantu.

Mulai bulan berikutnya, aku berhenti mengirim Rp6,5 juta sebagai satu paket ke Wulan.

Bukan karena aku tidak percaya padanya.

Karena sistemnya sudah terlalu kabur.

Biaya kontrol, obat, dan asuransi tambahan Ibu kubayar langsung.

Aku mentransfer Rp3 juta untuk kebutuhan pribadi Ibu ke rekeningnya sendiri.

Untuk belanja rumah, aku dan Wulan sepakat masing-masing menanggung bagian yang jelas.

Kami juga mempekerjakan seorang perempuan tetangga, Mbak Rini, datang empat jam setiap pagi untuk membantu bersih-bersih dan menemani Ibu kalau Wulan sibuk.

Aku membayar setengah.

Wulan membayar setengah dari uang rumah, bukan uang usaha.

Saat kesepakatan itu dibuat, Wulan berkata,

“Sekarang semuanya harus pakai aturan?”

Aku mengangguk.

“Untuk sementara, iya.”

“Kayak orang lain saja.”

Aku menatapnya.

“Justru karena kita keluarga, selama ini tidak ada yang tahu batasnya di mana.”

Ia tidak membantah.

Usaha juga harus membayar harga dari perubahan itu.

Tidak semua pegawai bisa dipertahankan dengan pola lama.

Dua pekerja lepas yang biasanya dipanggil hampir setiap hari kembali menjadi tenaga per acara.

Wulan menutup layanan makan siang murah untuk tiga kantor kecil yang selama ini hanya menghasilkan omzet tanpa keuntungan.

Satu mobil pengiriman lama dijual karena cicilan perawatannya terlalu besar dibanding pemakaian.

Ia juga akhirnya menaikkan tiga paket katering rata-rata antara Rp2.500 sampai Rp5.000 per porsi.

Empat pelanggan lama pergi.

Ibu menyebut nama mereka selama berminggu-minggu.

“Bu Endang sudah dua puluh tahun pesan.”

Aku menjawab,

“Kalau Bu Endang menemukan katering yang cocok, itu bagus.”

“Kamu gampang sekali.”

“Tidak gampang.”

“Bunyinya gampang.”

“Karena aku sedang latihan tidak merasa bertanggung jawab atas semua orang.”

Ibu tidak punya jawaban untuk itu.

Mungkin karena kalimat itu juga berlaku untuknya.

Aku pulang ke Semarang setelah hampir dua minggu.

Presentasi tender hotel yang kulewatkan akhirnya berjalan tanpa aku.

Perusahaan kami menang, tetapi atasanku memberikan proyek berikutnya kepada rekan lain.

Aku tidak kehilangan pekerjaan.

Tidak juga diturunkan.

Tetapi aku mengerti harga keputusanku.

Ada kesempatan yang lewat.

Anehnya, aku tidak menyesal.

Yang lebih sulit justru setelah pulang.

Karena perubahan paling mudah dilakukan ketika sedang marah.

Menjaganya setelah emosi turun jauh lebih susah.

Minggu pertama, Wulan menelepon karena Ibu diam-diam masuk dapur pukul sebelas malam.

Aku hampir berkata, “Ya sudah, biarkan.”

Kalimat lama sudah sampai ujung lidah.

Lalu aku bertanya,

“Kamu bilang apa?”

“Suruh naik.”

“Ibu mau?”

“Tidak.”

“Terus?”

“Aku matikan kompor.”

Aku tertawa.

“Dimarahin?”

“Setengah jam.”

“Kamu selamat?”

“Sayangnya.”

Itu pertama kalinya kami bercanda lagi.

Bulan berikutnya, Wulan mengirim foto papan jadwal produksi ke grup kecil kami.

Tidak ada nama Ibu.

Aku hanya membalas tanda jempol.

Ia menulis:

Jangan sok senang. Tadi Ibu sudah protes.

Aku menjawab:

Bagus. Berarti sehat.

Hubungan kami belum pulih.

Ada hari-hari ia masih menyindir bahwa aku “orang Semarang” kalau kami berbeda pendapat.

Ada hari-hari aku masih merasa ia sengaja membuatku merasa bersalah.

Tetapi sekarang aku tidak langsung mentransfer uang atau menutup telepon.

Aku bertanya.

Kami bertengkar.

Kadang telepon ditutup dengan kesal.

Besoknya kami bicara lagi.

Ternyata hubungan yang lebih sehat bukan hubungan yang tidak pernah ribut.

Kadang justru hubungan yang akhirnya mengizinkan pertengkaran kecil agar kebohongan besar tidak perlu tumbuh.

Tiga bulan kemudian aku datang ke Solo pada Jumat sore.

Dapur masih sibuk.

Tapi berbeda.

Sulastri berdiri di depan panci opor sambil mencicipi kuah.

Novi memegang buku kecil berisi catatan resep.

Wulan sedang berbicara dengan pelanggan di telepon.

“Kalau anggaran Ibu segitu, saya bisa sesuaikan menunya,” katanya. “Tapi harga paket yang itu memang tidak bisa kami turunkan lagi.”

Aku berhenti di pintu.

Tiga bulan lalu ia pasti sudah berkata, nanti saya usahakan.

Sekarang tidak.

Di teras belakang, Ibu sedang duduk mengupas jeruk.

Pergelangan tangannya sudah tidak dibalut.

Aku duduk di sampingnya.

“Tidak ke dapur?”

“Sudah tadi.”

“Jam berapa?”

“Jam sepuluh.”

“Pulang jam?”

“Setengah dua belas.”

Aku mengangkat alis.

“Lewat setengah jam.”

Ibu mencubit kulit jeruk sedikit lebih keras.

“Jangan cerewet.”

Aku tertawa.

Ia memberikan satu bagian jeruk kepadaku.

Kami makan tanpa bicara.

Setelah beberapa menit, Ibu berkata,

“Sulastri sekarang sudah bisa bikin opor sendiri.”

Aku mengangguk.

“Enak?”

“Lumayan.”

Dalam bahasa Ibu, itu pujian besar.

Ia menambahkan,

“Semurnya masih kadang kurang.”

“Berarti masih perlu guru.”

Ibu melihatku.

Ada sesuatu yang lembut di matanya.

Bukan kemenangan.

Bukan kekalahan.

Mungkin rasa lega karena akhirnya ia memahami bahwa berguna tidak harus berarti menjadi orang yang tidak bisa digantikan.

Sore itu sebelum aku pulang, aku masuk ke dapur mengambil air.

Papan jadwal masih tergantung di tempat yang sama.

Dulu nama Ibu tertulis mulai pukul satu dini hari.

Sekarang ada satu baris kecil:

Bu Ratmi: Selasa, Kamis, Sabtu. 09.00–11.00. Quality & training.

Di bawahnya, dengan tulisan tangan Ibu sendiri, ada tambahan:

Kalau badan enak.

Aku tersenyum.

Tidak kuhapus.

Tidak kuperbaiki.

Aku hanya meletakkan spidol kembali ke tempatnya lalu mematikan lampu kantor kecil sebelum keluar.

Dulu aku mengira membantu keluarga berarti memastikan mereka tidak pernah kekurangan sesuatu.

Sekarang aku tahu ada bentuk bantuan yang jauh lebih sulit.

Membiarkan orang lain menanggung keputusan mereka.

Mengizinkan seorang kakak berkata tidak.

Mengizinkan seorang ibu menjadi tua tanpa membuatnya merasa tidak berguna.

Dan mengizinkan diriku sendiri hadir bukan hanya ketika ada tagihan yang harus dibayar.

Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Dalam keluarga, kadang batas yang sehat terasa seperti penolakan pada awalnya, padahal justru itulah yang membuat hubungan bisa bertahan tanpa satu orang terus-menerus menjadi penyangga semuanya. Menurut kalian, keputusan Niken terlalu keras, atau justru terlambat? Semoga kita semua diberi kesehatan, ketenangan, dan keberanian untuk berkata jujur kepada keluarga sebelum semuanya menjadi terlalu berat.