Aku Datang ke Rumah Sakit untuk Melahirkan Tanpa Ibuku, Tapi Dokter yang Menggendong Putriku Tiba-Tiba Menangis dan Menyebut Nama Perempuan yang Selama Ini Kupanggil Bude

Avatar penulis
Cerita 01
24 menit baca 146 tayangan
Aku Datang ke Rumah Sakit untuk Melahirkan Tanpa Ibuku, Tapi Dokter yang Menggendong Putriku Tiba-Tiba Menangis dan Menyebut Nama Perempuan yang Selama Ini Kupanggil Bude
Indeks

BAGIAN 2

Tanganku langsung meraih ponsel di meja kecil, tapi Fikri menahannya.

“Jangan sekarang.”

“Aku harus tanya Ibu.”

“Kamu baru melahirkan.”

“Aku harus tahu.”

Dr. Ratih berdiri.

“Saya sebaiknya menjelaskan batasnya dulu. Saya tidak punya hak membuka catatan medis orang lain. Saya juga tidak bisa memastikan hubungan biologis hanya dari ingatan saya.”

“Tapi dokter yakin?”

Dia terlihat kesulitan menjawab.

“Saya yakin saya pernah menangani Lestari Wulandari. Saya yakin Sari ada di sana. Dan saya yakin bayi perempuan yang lahir malam itu diberi nama Nirmala.”

Dadaku terasa sesak.

Fikri duduk di sampingku.

Aku Datang ke Rumah Sakit untuk Melahirkan Tanpa Ibuku, Tapi Dokter yang Menggendong Putriku Tiba-Tiba Menangis dan Menyebut Nama Perempuan yang Selama Ini Kupanggil Bude

Aku menelepon Ibu.

Panggilan pertama tidak diangkat.

Panggilan kedua ditolak.

Pada panggilan ketiga, dia menjawab.

“Apa lagi?”

Aku bahkan lupa mengucapkan salam.

“Bu, siapa yang melahirkanku?”

Tidak ada suara.

Hanya bunyi televisi dari rumah.

“Ibu dengar?”

“Kamu habis melahirkan. Istirahat dulu.”

“Siapa yang melahirkanku?”

“Kamu dapat omongan apa?”

Pertanyaan itu membuatku semakin yakin.

“Bude Tari ibu kandungku?”

Ibu menarik napas.

“Jangan dengarkan orang sembarangan.”

“Yang bicara dokter.”

Terdengar kursi bergeser.

Lalu suara Bayu di kejauhan.

“Siapa, Bu?”

Ibu menutup bagian mikrofon, tapi tidak cukup rapat.

Aku masih mendengar.

“Dokter lama itu rupanya masih hidup.”

Aku menutup mata.

Fikri mendengarnya juga.

“Bu,” kataku, “jawab.”

Suara Ibu berubah.

Lebih dingin.

“Sekarang bukan waktunya membongkar urusan orang tua.”

“Ini hidupku.”

“Kamu dibesarkan siapa?”

Aku terdiam.

“Nah. Itu jawabannya.”

Lalu telepon mati.

Beberapa menit kemudian, Bayu mengirim pesan.

Mbak, jangan bikin Ibu stres. Memang dulu ada masalah keluarga, tapi tidak sesederhana yang kamu pikir. Fokus bayi dulu.

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Berarti Bayu tahu.

Adikku yang enam tahun lebih muda tahu sesuatu tentang asal-usulku yang aku sendiri tidak tahu.

Malam itu aku hampir tidak tidur.

Di satu sisi ada putriku, Aluna, tidur di boks transparan.

Di sisi lain ada hidupku sendiri yang terasa seperti lemari lama yang tiba-tiba dibuka dan semua isinya jatuh ke lantai.

Pagi berikutnya, aku mencari nomor Bude Tari.

Sudah hampir setahun kami tidak bicara.

Hubungan kami memang tidak pernah dekat.

Dia tinggal di Solo dan mengelola katering kecil bersama seorang teman.

Ibu sering berkata Bude Tari hanya datang kalau merasa bersalah.

Aku menelepon.

Dia menjawab setelah dering keempat.

“Halo?”

“Bude.”

Sunyi.

“Mala?”

Aku menelan ludah.

“Semalam aku melahirkan.”

“Astaga. Kamu dan bayinya sehat?”

“Sehat.”

Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya dengan lembut.

Jadi aku tidak mencoba.

“Aku ketemu dr. Ratih.”

Napas di ujung telepon berubah.

“Ratih?”

“Iya.”

Lalu aku bertanya, “Aku anak Bude?”

Tidak ada suara.

Hanya isak pendek yang langsung ditahan.

Aku sudah punya jawabannya.

“Kenapa?”

“Mala…”

“Kenapa semua orang tahu kecuali aku?”

“Aku tidak tahu Bayu tahu.”

“Itu bukan jawaban.”

Bude Tari menangis.

Tidak keras.

Justru itu yang membuatku marah.

“Aku berumur delapan belas,” katanya. “Kakekmu masih hidup. Aku hamil sebelum menikah. Ayah biologismu pergi ke Kalimantan sebelum tahu aku hamil. Setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi.”

Aku menggigit bibir.

“Lalu?”

“Kak Sari sudah menikah tujuh tahun dan belum punya anak. Dia pernah keguguran dua kali.”

Aku melihat Aluna.

“Jadi aku diberikan?”

“Jangan bilang begitu.”

“Lalu apa?”

“Keluarga bilang itu jalan terbaik.”

Aku tertawa pendek.

“Terbaik untuk siapa?”

Dia tidak menjawab.

Bude Tari kemudian mengatakan sesuatu yang membuat ceritanya tampak, untuk sesaat, sedikit lebih sederhana.

Sari dan Hadi, lelaki yang kupanggil Bapak, membawaku pulang dan membesarkanku sebagai anak mereka.

Bude Tari pergi bekerja ke Jakarta beberapa bulan kemudian.

Aku membayangkan seorang gadis delapan belas tahun meninggalkan bayi yang baru dilahirkan.

Untuk pertama kalinya aku merasa iba.

Tapi kemudian dia berkata, “Aku kirim uang setiap bulan.”

Aku mengernyit.

“Uang apa?”

“Untuk kamu.”

“Bude tidak pernah membiayai aku.”

Sunyi lagi.

“Mala, siapa yang bilang?”

“Ibu.”

Bude Tari mulai menyebut angka dan tahun.

Rp300 ribu ketika aku masih SD.

Rp500 ribu saat SMP.

Lebih besar saat aku SMA.

Ketika aku diterima kuliah, dia menjual perhiasan dan mengirim Rp14 juta untuk uang masuk.

Aku langsung duduk tegak.

Aku ingat hari itu.

Ibu menangis sambil memberikan amplop kepadaku.

Dia berkata, “Bapak sampai pinjam uang supaya kamu tetap bisa kuliah.”

Tanganku dingin.

“Bude punya bukti?”

“Ada beberapa.”

“Kirimi aku.”

Lima menit kemudian, WhatsApp-ku dipenuhi foto struk setoran lama, catatan transfer, dan beberapa lembar surat yang sudah menguning.

Aku bahkan mengenali nomor rekening Bapak.

Fikri membacanya bersamaku.

“Ada lagi,” kata Bude Tari.

“Apa?”

“Kemarin Bayu menghubungiku.”

Aku langsung menegang.

“Kenapa?”

“Dia minta aku membujukmu tanda tangan.”

“Dokumen usaha?”

Bude Tari terdengar ragu.

“Mala, dokumen itu bukan sekadar persetujuan usaha.”

Aku menatap Fikri.

“Maksud Bude?”

“Bayu sempat kirim halaman depannya kepadaku. Dia kira aku akan membantunya meyakinkan kamu.”

Sebuah foto masuk.

Aku membuka gambar itu.

Di bagian atas tertulis nama kantor PPAT.

Di bawahnya tercantum rumah peninggalan Bapak.

Dan pada bagian berikutnya ada kalimat yang membuatku membaca ulang dari awal.

Bukan surat persetujuan biasa.

Bukan dokumen administrasi percetakan.

Itu rancangan kuasa yang memungkinkan proses pengikatan dan penggunaan bagian hakku atas rumah peninggalan Bapak sebagai jaminan utang usaha Bayu.

Nilai fasilitas kredit yang tertera:

Rp425 juta.

Aku menatap angka itu cukup lama.

Bayu bilang Rp350 juta.

Ibu bilang “cuma tambahan modal.”

Tapi satu kalimat Bude Tari berikutnya membuat semuanya terasa lebih buruk.

“Mala, jangan tanda tangan apa pun sebelum kamu tahu satu hal lagi.”

“Apa?”

“Sebagian uang yang dulu kupakai membantu kamu ternyata juga dipakai Kak Sari mempertahankan rumah itu saat keluarga kalian kesulitan.”

Aku terdiam.

“Maksudnya?”

“Rumah yang sekarang dia bilang harus kamu korbankan demi keluarga…”

Bude Tari menarik napas.

“…sebagian sudah pernah diselamatkan dengan uang yang kukirim atas namamu.”

Aku menatap bayi yang tidur di sampingku.

Tiba-tiba masalah ini bukan lagi sekadar tentang siapa yang melahirkanku.

Itu tentang siapa yang selama puluhan tahun menyusun cerita tentang hidupku, uangku, dan utang budiku.

Dan siapa yang sekarang berharap aku tetap percaya pada cerita itu.

Saat itu aku tahu aku tidak boleh menandatangani apa pun hanya karena takut disebut anak tidak tahu balas budi. Bagian 3 dimulai ketika aku memutuskan memeriksa sendiri dokumen yang mereka coba sembunyikan dariku.

BAGIAN 3

Aku menelepon nomor kantor PPAT yang tercantum di dokumen itu sebelum sarapan rumah sakit datang.

Fikri duduk di samping ranjang sambil menggendong Aluna.

“Yakin mau urus sekarang?” tanyanya.

“Kalau aku tunda, mereka yang akan bergerak dulu.”

Nomor itu diangkat seorang staf perempuan.

Aku memperkenalkan diri dan menyebut nama Bapak serta alamat rumah.

Ada bunyi keyboard.

“Ibu Nirmala salah satu ahli waris?”

“Iya.”

“Untuk proses apa sebenarnya?”

Staf itu berhenti sebentar.

“Maaf, Bu. Kami tidak bisa menjelaskan isi keseluruhan dokumen lewat telepon. Tapi memang ada konsultasi mengenai penggunaan sertifikat rumah tersebut untuk fasilitas kredit usaha.”

“Apakah proses bisa berjalan tanpa tanda tangan saya?”

“Kalau hak Ibu masih melekat sebagai ahli waris, tidak bisa begitu saja.”

Aku mengembuskan napas.

“Sudah ada jadwal?”

“Setahu saya keluarga Ibu meminta hari Kamis.”

Hari Kamis.

Dua hari lagi.

Berarti desakan Bayu di ruang pendaftaran kemarin bukan spontan.

Mereka mengejar jadwal.

“Kalau saya tidak setuju?”

“Silakan sampaikan langsung pada PPAT saat pertemuan. Tidak ada kewajiban Ibu menyetujui.”

“Terima kasih.”

Setelah telepon kututup, Fikri menatapku.

“Sekarang kamu punya jawaban.”

“Belum.”

“Jawaban apa lagi?”

Aku melihat foto struk kiriman Bude Tari.

“Aku ingin tahu berapa banyak hidupku yang dibangun dari cerita yang tidak benar.”

Sekitar pukul sepuluh, Ibu datang.

Bayu bersamanya.

Ibu membawa termos, tas kain berisi buah, dan wajah yang seolah kami hanya sedang berbeda pendapat soal menu makan siang.

Bayu membawa map cokelat yang sama.

Aku nyaris tertawa melihatnya.

“Kalian benar-benar bawa itu ke kamar orang habis melahirkan?”

Bayu melihat Fikri.

“Mbak, jangan dibesar-besarkan.”

“Taruh mapnya di meja.”

Dia tidak bergerak.

“Taruh.”

Fikri berdiri.

Dia tidak berkata apa-apa, tapi Bayu akhirnya meletakkan map itu.

Ibu langsung menuju boks bayi.

“Mana cucu Ibu?”

Aku menahan tangannya sebelum dia menyentuh Aluna.

“Bu, kita bicara dulu.”

Ibu terlihat tersinggung.

“Masa Ibu datang jauh-jauh tidak boleh pegang cucu?”

“Boleh. Setelah kita bicara.”

Bayu menggeleng.

“Nah, kan. Aku sudah bilang. Gara-gara dokter itu semuanya jadi kacau.”

Aku menatapnya.

“Kamu tahu sejak kapan?”

Dia menutup mulut.

Ibu menjawab untuknya.

“Dia tahu beberapa tahun lalu.”

“Kenapa?”

“Tidak sengaja.”

“Dan kalian tetap menganggap aku satu-satunya orang yang tidak perlu tahu?”

“Mala,” kata Ibu, “apa gunanya kamu tahu?”

Aku benar-benar tidak percaya dia bertanya begitu.

“Gunanya?”

“Ibu membesarkanmu. Bapak menyekolahkanmu. Kamu hidup seperti anak kami. Apa yang berubah?”

“Aku tidak tahu. Karena aku baru tahu kemarin.”

Ibu duduk di kursi dekat jendela.

Tangannya mulai merapikan ujung jilbab, kebiasaan yang selalu dia lakukan ketika gugup.

“Ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan selesai.”

“Bagi Ibu mungkin sudah selesai. Bagi aku baru mulai.”

Bayu menyela.

“Kita bisa bahas keluarga nanti. Yang penting sekarang dokumen dulu. Kalau Kamis batal, bank bisa menunda pencairan.”

Aku menatapnya cukup lama sampai dia salah tingkah.

“Kamu masih bicara soal pencairan?”

“Mbak, usahaku punya enam pegawai.”

“Utangmu Rp425 juta?”

Dia diam.

“Katamu Rp350 juta.”

“Karena yang Rp75 juta itu cadangan.”

“Cadangan untuk apa?”

“Operasional.”

“Bayu.”

Dia mengusap rambut.

“Ya pokoknya kebutuhan usaha.”

Aku membuka map.

Halaman yang dulu dia sodorkan kepadaku memang tidak memperlihatkan seluruh judul dokumen. Bagian atas dilipat ke belakang.

Aku meratakan kertasnya.

“Kenapa kamu tidak bilang ini menyangkut hakku atas rumah?”

“Karena kalau aku jelaskan panjang lebar dari awal, kamu pasti langsung takut.”

“Jadi kamu memilih membuatku tanda tangan tanpa menjelaskan?”

“Aku tidak menipu.”

Aku tertawa pendek.

“Kamu melipat bagian judul dokumen.”

“Itu karena buru-buru.”

“Di rumah sakit?”

“Mbak…”

“Waktu aku sedang kontraksi?”

Dia membuang muka.

Ibu akhirnya berkata, “Sudah. Bayu memang salah caranya.”

“Caranya saja?”

Ibu menatapku.

“Rumah itu rumah keluarga. Bukan hanya milikmu.”

“Aku tidak pernah bilang hanya milikku.”

“Lalu kenapa susah sekali membantu adikmu?”

Aku mengambil napas.

“Inilah yang aku tidak mengerti, Bu. Kenapa setiap kali aku bertanya, pertanyaanku selalu diubah menjadi bukti bahwa aku tidak sayang keluarga?”

Ibu membuka mulut.

Aku mengangkat tangan.

“Belum selesai.”

Fikri menunduk ke arah Aluna dan membawa bayi kami sedikit menjauh dari percakapan.

Aku meletakkan beberapa foto transfer di meja.

Ibu langsung pucat.

“Ini dari Bude Tari.”

Bayu melihat satu per satu.

Ibu tidak menyentuhnya.

“Jadi benar selama ini Bude kirim uang?”

“Dia cerita apa saja?”

“Cukup banyak.”

“Orang yang tidak mengurus anak memang gampang sekali bicara soal uang.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada yang mungkin Ibu sadari.

“Anak?”

Aku menatapnya.

“Jadi sekarang aku anaknya?”

Ibu memejamkan mata.

“Jangan dipelintir.”

“Aku cuma mengulang kata-kata Ibu.”

Bayu berdiri.

“Mbak, jangan serang Ibu.”

Aku menoleh.

“Duduk.”

“Aku tidak suka caramu bicara.”

“Aku juga tidak suka caramu mencoba membuatku tanda tangan sambil menahan kontraksi. Kita semua harus belajar hidup dengan hal yang tidak kita suka hari ini.”

Fikri hampir tersenyum, tapi menahannya.

Bayu kembali duduk.

Ibu mulai menangis.

Dulu, itu cukup untuk membuatku meminta maaf.

Hari itu aku tetap diam.

“Aku tidak pernah menganggapmu bukan anakku,” katanya.

“Lalu kenapa tidak pernah bilang?”

“Karena waktu kamu kecil, Tari ingin membawamu.”

Aku menoleh.

“Apa?”

“Umurmu hampir empat tahun. Dia pulang dari Jakarta. Dia bilang sudah punya pekerjaan tetap. Dia mau kamu ikut.”

“Lalu?”

“Bapakmu menolak. Ibu juga.”

“Kenapa?”

“Karena kamu sudah memanggil kami Ibu dan Bapak.”

Untuk pertama kalinya nada suaranya tidak terdengar seperti pembelaan.

Terdengar seperti ketakutan lama.

“Kamu sakit kalau dia mendekat,” lanjut Ibu. “Setiap dia pulang, beberapa hari kemudian kamu mencari dia. Ibu takut.”

Aku menelan ludah.

“Takut apa?”

Ibu memandangku.

“Takut kamu tahu.”

“Dan memilih dia?”

Ibu tidak menjawab.

Itulah jawabannya.

Aku bersandar.

Selama hidupku, aku selalu mengira Ibu adalah orang paling yakin di rumah.

Ternyata sebagian kekerasannya terhadap rahasia itu lahir dari rasa takut kehilangan.

Itu tidak membenarkan kebohongannya.

Tapi untuk pertama kalinya, aku melihat bentuk manusia di baliknya.

Bayu berkata pelan, “Aku baru tahu waktu Bapak sakit.”

“Dari siapa?”

“Bapak.”

“Kenapa Bapak cerita?”

Bayu menunduk.

“Karena waktu itu kita ribut soal biaya rumah sakit.”

Aku mengingat masa itu.

Bapak dirawat hampir tiga minggu karena komplikasi diabetes.

Biayanya tidak semuanya ditanggung.

Aku membayar sekitar Rp28 juta dari tabunganku.

Bayu hanya mampu Rp4 juta.

Kami sempat bertengkar.

Bayu marah karena aku menanyakan uang.

Aku marah karena dia baru saja membeli motor bekas.

“Bapak bilang aku jangan selalu membandingkan apa yang kamu keluarkan,” kata Bayu. “Katanya ada banyak hal tentang keluarga yang aku tidak tahu.”

“Lalu?”

“Dia cerita soal Bude Tari.”

Aku menatap Ibu.

“Bapak tahu semua kirimannya?”

Ibu akhirnya mengangguk.

“Sebagian.”

“Sebagian?”

“Tari sering kirim lewat Bapak.”

“Dan uang itu dipakai untukku?”

Ibu menjawab terlalu lama.

Tidak.

Tidak semuanya.

“Ada masa usaha Bapak jatuh,” katanya akhirnya. “Waktu krisis dulu. Kamu masih sekolah. Bayu masih kecil.”

Bayu menoleh cepat.

Sepertinya bagian ini bahkan dia belum tahu.

Ibu melanjutkan.

“Kami punya tunggakan rumah. Ada biaya sekolah. Ada biaya hidup. Tari kirim uang untuk kamu.”

“Lalu Ibu pakai untuk rumah.”

“Untuk rumah tempat kamu tinggal juga.”

“Kenapa tidak pernah bilang?”

“Harus bilang apa? Bahwa keluarga kita hidup dari uang perempuan yang menurut semua orang sudah mempermalukan keluarga?”

Aku menatapnya.

Di situlah akar busuknya.

Bukan cuma uang.

Malu.

Harga diri.

Gengsi keluarga.

Selama bertahun-tahun, Ibu menerima uang Bude Tari, tapi pada saat yang sama menjaga cerita bahwa Bude Tari adalah perempuan yang pergi meninggalkan anak.

Karena jika cerita sebenarnya keluar, Ibu harus mengakui dua hal sekaligus.

Bahwa aku bukan anak kandungnya.

Dan bahwa perempuan yang katanya tidak bertanggung jawab itu diam-diam membantu mempertahankan keluarga kami.

“Bude kirim Rp14 juta waktu aku masuk kuliah,” kataku.

Ibu mengangguk kecil.

“Tapi Ibu bilang Bapak pinjam uang.”

“Bapak memang pinjam juga.”

“Berapa?”

Ibu terdiam.

“Berapa?”

“Sekitar enam juta.”

Aku tersenyum pahit.

Jadi selama ini cerita yang kuingat sebagai pengorbanan besar orang tuaku sebenarnya gabungan dari pengorbanan mereka dan uang perempuan yang dilarang menyebut dirinya ibuku.

“Aku tidak menyesal membesarkanmu,” kata Ibu.

“Aku tidak pernah bilang Ibu menyesal.”

“Ibu mandikan kamu. Ibu jaga kamu waktu demam. Ibu antar kamu sekolah. Waktu kamu pertama menstruasi, siapa yang duduk di kamar mandi sama kamu karena kamu menangis?”

Air mataku naik.

Aku benci karena ingatan itu benar.

Ibu memang ada.

Tidak ada dokumen yang bisa menghapus malam-malam saat dia mengompres dahiku.

Tidak ada tes DNA yang bisa menghapus rasa masakan yang kubawa ke sekolah.

Tidak ada rahasia yang membuat semua cintanya palsu.

Tapi cinta yang nyata ternyata bisa hidup berdampingan dengan kebohongan yang juga nyata.

“Aku tahu,” kataku.

Suaraku bergetar.

“Aku tidak sedang menghapus semua yang Ibu lakukan.”

“Lalu kenapa sekarang seperti mengadili Ibu?”

“Karena Ibu memakai semua yang Ibu lakukan sebagai alasan supaya aku tidak boleh bertanya.”

Ibu langsung diam.

Aku menunjuk map di meja.

“Ini contohnya.”

Bayu menghela napas.

“Balik lagi ke itu.”

“Memang harus balik ke itu.”

Aku memandang mereka bergantian.

“Kalau aku tidak bertemu dr. Ratih kemarin, apa yang terjadi?”

Tidak ada jawaban.

“Aku mungkin tanda tangan.”

Bayu membantah, “Belum tentu.”

“Aku mungkin tanda tangan karena Ibu marah, kamu mendesak, dan aku merasa bersalah.”

Aku menatap Ibu.

“Itu pola kita selama bertahun-tahun.”

Ibu mengerutkan kening.

“Pola apa?”

“Kalian punya kebutuhan. Aku bertanya. Kalian bilang aku hitung-hitungan. Aku merasa bersalah. Aku mengalah.”

Bayu berdiri lagi.

“Mbak, aku tidak pernah paksa kamu kirim uang.”

“Tidak perlu.”

“Apa maksudmu?”

“Karena kalian tahu aku akan melakukannya.”

Dia terdiam.

“Uang sekolah anakmu dua tahun lalu?”

“Aku sudah bilang akan ganti.”

“Tidak pernah.”

“Aku lagi susah.”

“Renovasi dapur Ibu?”

“Itu rumah kita.”

“Operasi Ibu?”

“Itu beda.”

“Aku tidak menyesali operasi Ibu.”

Aku menarik napas.

“Aku menyesali bahwa semua orang mulai membuat keputusan berdasarkan keyakinan bahwa kalau ada kekurangan, Mala akan menutupnya.”

Ibu berkata lirih, “Kamu anak sulung.”

“Benar.”

“Dan kamu lebih mampu.”

“Benar.”

“Bayu punya dua anak.”

“Benar.”

“Jadi apa salahnya?”

Aku menatapnya.

“Yang salah adalah ketika bantuan berubah menjadi kewajiban tanpa persetujuanku.”

Tidak ada yang langsung menjawab.

Dari lorong terdengar troli makanan lewat.

Seorang bayi menangis dari kamar lain.

Kehidupan rumah sakit terus berjalan, sementara di kamar kami tiga puluh delapan tahun kebiasaan keluarga sedang dibongkar satu per satu.

Bayu akhirnya duduk.

Wajahnya berubah.

Tidak lagi marah.

Lebih lelah.

“Kalau aku tidak dapat kredit itu, percetakanku bisa tutup.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

Dia meremas kedua telapak tangannya.

“Satu klien besar belum bayar hampir Rp190 juta.”

“Sejak kapan?”

“Tiga bulan.”

“Kenapa baru cerita?”

“Karena tiap kali aku cerita kesulitan, kamu langsung tanya laporan, arus kas, ini itu.”

Aku hampir tertawa.

“Karena kamu minta uang.”

“Ya aku malu, Mbak!”

Kalimat itu keluar lebih keras daripada yang dia maksudkan.

Ibu menoleh.

Bayu mengusap wajah.

“Aku capek jadi adik yang selalu kelihatan gagal kalau dibanding kamu.”

Aku tidak menjawab.

“Aku tahu kamu tidak pernah bilang begitu,” lanjutnya. “Tapi semua orang bilang. Ibu bilang coba lihat Mbakmu. Bapak dulu bilang belajar dari Mbakmu. Pelanggan yang kenal keluarga juga bilang, kok kakaknya kerja rapi, adiknya usaha begini-begini saja.”

Aku mendengar bertahun-tahun rasa rendah diri dalam suara itu.

“Jadi kamu bohong soal dokumen?”

“Aku pikir kalau usahaku selamat, nanti semuanya selesai.”

“Dengan mempertaruhkan rumah?”

“Aku tidak berniat kehilangan rumah.”

“Tidak ada orang yang menjaminkan rumah dengan niat kehilangan rumah.”

Bayu tidak bisa membantah.

Aku bertanya, “Rp425 juta semuanya untuk usaha?”

Dia kembali diam.

Ibu langsung melihatnya.

“Yu?”

Aku tahu ada sesuatu.

“Jawab.”

Bayu menjilat bibir.

“Rp60 juta untuk nutup pinjaman lain.”

“Pinjaman apa?”

“Koperasi.”

Ibu berdiri.

“Kamu bilang sudah lunas!”

“Belum.”

“Kamu bilang uang penjualan mobil dipakai melunasi!”

“Sebagian.”

“Sebagian ke mana?”

Bayu menunduk.

Aku tidak merasa menang.

Justru lelah.

Ternyata Ibu juga tidak tahu seluruhnya.

Bayu menjelaskan bahwa selama hampir setahun dia menutup kekurangan usaha dengan pinjaman jangka pendek.

Bukan judi.

Bukan perempuan lain.

Bukan hidup mewah.

Justru sesuatu yang lebih biasa dan karena itu lebih menakutkan.

Dia terus berusaha mempertahankan usaha yang sudah tidak sehat.

Satu utang ditutup dengan utang lain.

Pembayaran supplier ditunda.

Uang muka pelanggan dipakai menyelesaikan pesanan sebelumnya.

Setiap bulan dia percaya bulan berikutnya akan membaik.

“Kenapa tidak berhenti?” tanyaku.

Bayu tertawa pahit.

“Karena ada enam pegawai yang sudah ikut aku bertahun-tahun. Karena anakku sekolah. Karena Ibu bilang percetakan itu yang nanti meneruskan nama Bapak.”

Aku melihat Ibu.

Dia tidak menyangkal.

Jadi semua orang sedang memikul sesuatu.

Aku memikul kewajiban menjadi anak sulung.

Bayu memikul rasa malu menjadi anak laki-laki yang dianggap harus meneruskan usaha.

Ibu memikul rahasia tentang bagaimana keluarga kami terbentuk.

Bude Tari memikul keputusan yang dibuat ketika dia baru berusia delapan belas tahun.

Masalahnya, selama bertahun-tahun kami mengatasi beban masing-masing dengan meletakkannya diam-diam di pundak orang lain.

Aku mengambil map itu.

“Kredit ini tidak akan kutandatangani.”

Bayu langsung berdiri.

“Mbak.”

“Dengar dulu.”

“Kalau tidak ada jaminan…”

“Bukan rumah Bapak.”

“Terus aku harus bagaimana?”

“Untuk pertama kalinya, kamu harus melihat angka sebenarnya.”

Dia menatapku.

“Kita cari tahu apakah usahamu masih bisa diselamatkan tanpa mempertaruhkan rumah. Kalau tidak bisa, ya harus dikecilkan atau ditutup.”

Wajahnya memerah.

“Enak ngomong.”

“Memang tidak enak.”

“Enam orang bisa kehilangan kerja.”

“Dan kalau rumah disita?”

Dia berhenti.

“Ibu kehilangan tempat tinggal.”

Ibu duduk kembali.

Aku berkata, “Aku bersedia bantu kamu duduk dengan orang yang mengerti keuangan usaha. Bukan memberi uang. Bukan menjaminkan rumah. Membantu melihat pilihan.”

Bayu tertawa pendek.

“Jadi kamu mau jadi konsultan sekarang?”

“Tidak. Aku cuma menawarkan bantuan yang batasnya jelas.”

“Aku butuh modal.”

“Dan aku bilang tidak.”

Kata itu terasa aneh di mulutku.

Pendek.

Tidak sopan menurut budaya yang kubesarkan di dalamnya.

Tapi tidak kejam.

Bayu melihat Ibu seolah berharap dia turun tangan.

Ibu tidak bicara.

Mungkin untuk pertama kalinya dia sadar kalimat tentang bakti tidak akan bekerja.

Sekitar setengah jam kemudian, pintu kamar diketuk.

Bude Tari berdiri di luar.

Aku tidak tahu dia akan datang secepat itu.

Dia memakai blouse cokelat sederhana, celana hitam, dan membawa satu tas kain.

Rambutnya sudah banyak uban.

Aku sudah melihat wajah itu berkali-kali sejak kecil.

Tapi hari itu aku mencarinya dengan cara berbeda.

Matanya.

Bentuk dagunya.

Tangannya.

Dan ketika dia melepas sandal lalu masuk, aku melihat jari kelingking kaki kirinya.

Sedikit melengkung.

Aku menutup mulut.

Bude Tari melihat Aluna.

Tangannya bergetar.

“Boleh aku lihat?”

Aku tidak tahu harus memanggilnya apa.

Bude?

Ibu?

Tari?

Tidak ada satu kata pun yang terasa pas.

Fikri mendekat dan menunjukkan Aluna tanpa langsung menyerahkannya.

Bude Tari menangis.

“Mirip kamu waktu kecil.”

Ibu Sari membuang muka.

Bude Tari melihatnya.

“Kak.”

“Tari.”

Dua perempuan itu berdiri sekitar dua meter satu sama lain.

Tiga puluh delapan tahun sejarah berada di antara mereka.

Aku berkata, “Aku mau dengar dari kalian berdua.”

Ibu Sari langsung berkata, “Tidak perlu bikin ini seperti sidang.”

“Aku tidak sedang mencari siapa yang menang.”

Aku memandang Bude Tari.

“Aku cuma mau berhenti hidup dengan cerita setengah.”

Bude Tari duduk.

Dia tidak memberikan pengakuan dramatis.

Tidak ada satu orang pun di kamar itu yang tiba-tiba menjadi suci.

Yang keluar justru potongan-potongan kecil.

Dia memang hamil pada usia delapan belas tahun.

Ayah biologisku bernama Doni, seorang pekerja proyek yang kemudian pindah ke Kalimantan setelah hubungan mereka ditentang keluarga.

Dia tidak tahu tentang kehamilan sampai bertahun-tahun kemudian.

Bude Tari takut.

Kakek marah besar.

Nenek menangis hampir setiap hari.

Sari dan suaminya, Hadi, sudah bertahun-tahun ingin punya anak.

Mereka menawarkan jalan yang saat itu dianggap paling aman.

Anak itu akan didaftarkan dan dibesarkan sebagai anak Sari dan Hadi.

Keluarga akan mengatakan Sari hamil tapi jarang keluar rumah karena kondisi kehamilannya lemah.

Setelah aku lahir, Bude Tari tinggal tiga bulan.

Lalu pergi bekerja.

“Kenapa tidak kembali mengambilku?” tanyaku.

Dia mengusap wajah.

“Aku pernah mencoba.”

Aku melihat Ibu Sari.

“Waktu kamu hampir empat tahun,” kata Bude Tari. “Aku sudah punya kamar kontrakan yang lebih baik. Aku pikir aku bisa.”

Ibu menyela, “Kamu datang tiba-tiba.”

“Aku sudah menulis surat.”

“Kamu mau mengambil anak yang empat tahun memanggilku Ibu.”

“Aku ibunya.”

“Kamu yang melahirkan.”

Kamar langsung sunyi.

Aku melihat Ibu.

Dia sendiri tampak terkejut mendengar kata-katanya.

Bude Tari tidak marah.

Dia hanya berkata, “Itulah yang selalu kamu percaya.”

Ibu menunduk.

Untuk pertama kalinya aku memahami bahwa rahasia ini bukan sekadar dusta yang dibuat satu orang.

Ini adalah keputusan keluarga yang kemudian berubah menjadi perebutan hak untuk menentukan arti kata ibu.

Aku berkata, “Cukup.”

Keduanya menatapku.

“Aku tidak mau kalian bertengkar tentang siapa yang lebih berhak atas hidupku saat aku sudah tiga puluh delapan tahun.”

Bude Tari langsung mengangguk.

Ibu Sari menatap lantai.

“Aku punya ibu yang membesarkanku,” lanjutku. “Dan aku punya perempuan yang melahirkanku.”

Air mata Bude Tari jatuh.

“Aku belum tahu nanti hubungan kita akan seperti apa.”

Dia mengangguk lagi.

“Tapi aku ingin diberi kesempatan tahu kebenarannya.”

Ibu berkata lirih, “Kalau setelah itu kamu membenciku?”

Aku menatapnya.

“Aku sedang marah.”

Ibu menggenggam tasnya.

“Tapi marah bukan berarti semua yang Ibu lakukan hilang.”

Dia mulai menangis.

“Aku cuma takut kamu pergi.”

Itulah pertama kalinya dalam hidupku Ibu mengatakan ketakutannya tanpa membungkusnya menjadi kewajiban.

Aku menahan air mata.

“Ibu justru hampir membuatku pergi karena tidak pernah memberiku pilihan.”

Dia menutup wajah.

Aku tidak memeluknya.

Belum.

Ada luka yang terlalu baru untuk ditutup dengan pelukan hanya karena semua orang sedang menangis.

Hari Kamis, aku tidak datang ke kantor PPAT.

Aku mengirim pernyataan bahwa aku tidak menyetujui penggunaan hakku atas rumah untuk menjamin utang usaha Bayu.

Bayu marah selama dua hari.

Dia keluar dari grup WhatsApp keluarga.

Lalu masuk lagi.

Lalu keluar lagi.

Fikri bilang itu mungkin cara paling Bayu untuk memproses kenyataan.

Seminggu setelah aku pulang dari rumah sakit, aku memenuhi satu janji.

Aku duduk bersama Bayu, seorang teman Fikri yang bekerja sebagai akuntan UMKM, dan semua catatan usaha percetakannya.

Tidak ada keajaiban.

Angkanya buruk.

Dua mesin masih punya cicilan.

Tiga pelanggan menunggak.

Biaya sewa ruko naik.

Tapi usahanya belum harus mati.

Bayu menjual satu mesin yang jarang dipakai.

Dia pindah dari ruko besar ke tempat yang lebih kecil.

Dari enam pegawai, dua memilih pergi setelah mendapat pesangon sesuai kemampuan yang disepakati.

Empat tetap bertahan.

Dia membuat jadwal pembayaran utang koperasi.

Dan untuk pertama kalinya, Ibu tidak menyuruhku menutup kekurangannya.

Dua bulan kemudian, Bayu datang ke rumahku membawa nasi bungkus.

Dia duduk di teras sambil melihat Aluna tidur di gendongan.

“Aku masih kesel sama kamu,” katanya.

Aku tertawa.

“Bagus.”

“Kenapa bagus?”

“Berarti kita tidak perlu pura-pura akur.”

Dia tersenyum kecil.

Lalu berkata, “Tapi kalau waktu itu kamu tanda tangan, mungkin sekarang aku justru tambah nekat.”

Aku tidak menjawab.

Dia menatap jalan.

“Aku pikir laki-laki kalau gagal usaha itu memalukan.”

“Siapa yang bilang?”

“Semua orang.”

“Tidak semua.”

Dia mengangguk.

“Aku juga minta maaf soal map.”

“Itu bukan hal kecil.”

“Aku tahu.”

Aku menatapnya.

“Aku belum lupa.”

“Aku juga tidak minta kamu lupa.”

Itulah awal hubungan baru kami.

Tidak hangat seperti sinetron.

Tidak juga putus.

Lebih jujur.

Dengan Ibu, prosesnya lebih sulit.

Selama sebulan dia hampir tidak menelepon.

Aku tetap mengirim uang kebutuhan bulanan, tapi bukan lagi Rp3 juta langsung ke rekeningnya tanpa pertanyaan.

Aku membayar listrik dan sebagian kebutuhan rumah secara langsung.

Untuk biaya kesehatan, aku transfer sesuai kebutuhan.

Ketika suatu hari Ibu bilang, “Masa sama Ibu sendiri harus pakai catatan?”

Aku menjawab, “Iya, Bu. Supaya kita tidak bertengkar lagi karena ingatan kita beda.”

Dia tidak suka.

Tapi dia menerimanya.

Rumah Bapak tetap berdiri.

Kami mulai mengurus pembagian hak secara resmi supaya tidak ada lagi kalimat “nanti saja, namanya juga keluarga.”

Bagian Ibu tetap milik Ibu.

Bagian Bayu jelas.

Bagianku jelas.

Tidak ada yang dijadikan jaminan tanpa persetujuan semua pihak.

Bude Tari tidak menuntut apa pun.

Itu justru membuatku semakin ingin mengenalnya.

Kami mulai dari hal sederhana.

Dia datang dua minggu sekali.

Kadang membawa lauk.

Kadang hanya duduk memandangi Aluna.

Aku belum bisa memanggilnya Ibu.

Dia tidak pernah meminta.

Suatu sore dia berkata, “Panggil apa saja yang membuatmu nyaman.”

Aku bertanya, “Bude tidak sakit hati?”

Dia tersenyum.

“Aku sudah menunggu tiga puluh delapan tahun. Masa kalah sama satu panggilan?”

Aku tertawa untuk pertama kalinya bersamanya tanpa merasa sedang mengkhianati siapa pun.

Tiga bulan setelah Aluna lahir, aku menemui dr. Ratih untuk kontrol.

Dia masih ingat kami.

“Bagaimana keluarganya?” tanyanya.

Aku menghela napas.

“Lebih ramai dari ruang IGD.”

Dia tertawa.

Aku kemudian bertanya kenapa dia bisa mengingat malam kelahiranku setelah hampir empat dekade.

Dia menjawab, “Karena waktu itu saya masih sangat muda.”

“Cuma itu?”

“Tidak.”

Dia menatap Aluna.

“Malam setelah kamu lahir, Lestari memegang tangan saya dan bilang, ‘Kalau suatu hari anak saya bertanya, saya tidak pergi karena tidak sayang.’”

Aku menelan ludah.

“Dokter tidak pernah cari saya?”

“Tidak. Itu bukan hak saya.”

Aku mengangguk.

Dia benar.

Kebenaran tidak selalu menjadi milik orang yang kebetulan tahu.

Kadang orang yang seharusnya bicara justru terlalu takut.

Kadang orang yang seharusnya bertanya terlalu sibuk menjadi anak baik.

Enam bulan setelah persalinanku, rumah Ibu masih sama.

Pohon mangga masih membuat halaman kotor.

Cat teras masih belum diperbaiki.

Bayu kadang datang mengambil pesanan cetak yang dia kerjakan dari workshop kecilnya.

Ibu masih suka menyimpan toples kosong karena katanya suatu hari pasti berguna.

Bude Tari mulai ikut makan siang bersama kami sebulan sekali.

Pertemuan pertama sangat canggung.

Pertemuan kedua masih canggung.

Pertemuan ketiga, Ibu mengomel karena Bude Tari menaruh sendok di tempat yang salah.

Bude Tari membalas, “Dari dulu kamu memang cerewet.”

Ibu hampir marah.

Lalu dia tertawa.

Bukan berarti semuanya sembuh.

Ada hal-hal yang mungkin tidak akan pernah kembali seperti seharusnya.

Aku kehilangan kesempatan tumbuh dengan mengetahui siapa yang melahirkanku.

Bude Tari kehilangan puluhan tahun hak untuk menyebut dirinya ibu.

Ibu Sari kehilangan keyakinan bahwa menyimpan rahasia selalu berarti melindungi keluarga.

Bayu kehilangan satu versi diriku yang selalu bisa ditekan dengan rasa bersalah.

Dan aku kehilangan kebiasaan mengatakan “iya” sebelum sempat bertanya.

Ternyata kehilangan yang terakhir justru terasa seperti mendapatkan sesuatu.

Suatu malam, ketika Aluna sudah tidur, ponselku berbunyi.

Grup WhatsApp keluarga.

Bayu menulis:

Mbak, bulan depan anakku daftar sekolah. Jangan panik, aku cuma mau kasih tahu, bukan minta transfer.

Di bawahnya ada emoji tertawa dari Bude Tari.

Ibu membalas:

Kalau butuh bantuan bilang baik-baik, tapi jangan paksa.

Aku membaca pesan itu dua kali.

Fikri yang sedang melipat pakaian bertanya, “Kenapa senyum?”

Aku menggeleng.

“Tidak apa-apa.”

Aku meletakkan ponsel dengan layar menghadap meja.

Lalu aku bangun memastikan pagar depan sudah terkunci.

Dulu, suara pagar besi rumah selalu membuatku teringat Ibu memanggil dari dalam, menyuruhku cepat masuk karena sudah malam.

Sekarang aku berdiri di rumahku sendiri, mendengar bunyi kunci masuk ke tempatnya, lalu melihat cahaya kamar Aluna dari ujung lorong.

Aku masih anak seseorang.

Aku juga ibu seseorang.

Dan untuk pertama kalinya, aku mengerti bahwa mencintai keluarga tidak berarti menyerahkan semua kunci kepada mereka.

Ada pintu yang boleh dibuka bersama.

Ada pintu yang harus diketuk lebih dulu.

Dan ada batas yang justru membuat sebuah rumah tetap aman untuk semua orang di dalamnya.

Terima kasih sudah membaca kisah ini sampai akhir. Semoga kamu dan keluargamu selalu diberi kesehatan, ketenangan, dan keberanian untuk membicarakan hal-hal sulit sebelum rasa sayang berubah menjadi beban. Kalau kamu berada di posisiku, apakah kamu masih bisa memaafkan rahasia selama puluhan tahun seperti itu? Dan apakah kamu akan menolak menjaminkan rumah keluarga demi menyelamatkan usaha saudara sendiri? Aku ingin membaca pendapatmu. Jika cerita ini terasa dekat dengan kehidupan seseorang yang kamu kenal, kamu boleh membagikannya.