BAGIAN 2
Aku meminta Fajar mengirim foto surat itu saat itu juga.
Arman langsung berkata, “Tari, jangan dramatis.”
Aku menatapnya.
“Minta Ibu duduk di ruang depan.”
“Tari.”
“Sekarang.”
Untuk pertama kali selama tiga tahun menikah, ia tidak membantahku.
Ibu berjalan pelan keluar kamar sambil membawa tongkatnya. Aku menunggu sampai ia duduk di sofa, lalu mengunci map cokelat ke dalam lemari kecil ruang kerja.
Arman mengikutiku.
“Kamu mempermalukanku di depan Ibu.”
Aku hampir tertawa.
“Yang kamu pikirkan sekarang itu?”
Ponselku berbunyi.
Foto dari Fajar masuk.

Dokumennya sederhana, bukan akta resmi. Hanya pernyataan bahwa aku mengetahui rencana pengelolaan rumah Waru oleh Arman untuk “optimalisasi aset keluarga” dan tidak keberatan apabila ia melakukan pembicaraan dengan lembaga pembiayaan.
Di bawahnya ada namaku.
Lestari Handayani.
Dan tanda tangan yang sekilas memang mirip milikku.
Sekilas.
Masalahnya, aku punya kebiasaan aneh sejak SMA. Huruf terakhir dalam tanda tanganku selalu kutarik ke bawah lalu kembali ke kiri.
Di foto itu, garisnya berhenti lurus.
Aku menunjukkan layar kepada Arman.
“Ini kamu buat?”
Ia memalingkan wajah.
“Itu cuma draft.”
“Draft yang kamu kirim ke Fajar sebagai surat yang sudah kutandatangani?”
“Belum dipakai ke mana-mana.”
“Bank mana?”
“Tari, dengar dulu.”
“Bank mana?”
Ia duduk di kursi kerja.
“Bukan bank. Koperasi pembiayaan.”
Aku merasa mual.
“Berapa?”
“Belum cair.”
“Berapa yang kamu ajukan?”
Arman mengusap tengkuk.
“Rp450 juta.”
Aku hanya memandangnya.
Jumlah itu hampir setara tiga tahun laba bersih usaha kateringku setelah gaji pegawai dan biaya bahan.
“Untuk apa?”
“Usaha.”
“Kamu tidak punya usaha.”
Ia menatapku kesal.
“Aku sedang bangun usaha.”
“Sejak kapan?”
“Enam bulan.”
Aku teringat sesuatu.
Beberapa bulan terakhir, ia sering pulang malam dengan alasan bertemu klien. Dua kali ia meminta Rp20 juta dariku untuk “menutup kebutuhan kantor” dan sudah kukirim.
Aku pikir itu sementara.
“Kamu buka usaha apa?”
“Distribusi keramik sama Rudi.”
Aku mengenal nama Rudi.
Teman lamanya.
Dua tahun lalu usaha Rudi pernah tutup karena utang ke pemasok.
Aku duduk.
“Berapa uangmu yang sudah masuk?”
Arman tidak menjawab.
“Berapa?”
“Sekitar Rp180 juta.”
“Dari mana?”
“Tabunganku.”
Aku tahu tabungan Arman tidak sebanyak itu.
Kemudian aku mengerti.
“Uang Rp40 juta yang kamu bilang dipinjam kakakmu?”
Ia diam.
“Uang Rp25 juta untuk biaya renovasi rumah ibumu?”
Diam lagi.
“Arman.”
“Aku akan kembalikan semuanya kalau usahanya jalan.”
Di ruang depan terdengar Ibu batuk.
Aku menutup pintu kerja.
“Kenapa rumah Ayahku?”
“Karena aset itu tidur!”
Ia mengucapkannya terlalu keras.
Lalu suaranya turun.
“Rumah itu cuma menghasilkan Rp3 juta lebih sedikit sebulan. Tanahnya bagus, lokasinya berkembang. Kalau bisa dipakai sebagai jaminan untuk usaha yang menghasilkan lebih besar, kenapa tidak?”
“Karena itu bukan milikmu.”
“Tapi aku suamimu.”
Kalimat itu membuatku menatapnya lama.
Akhirnya alasan yang selama ini hanya tampak samar muncul utuh.
Bukan karena ia merasa sedang mencuri.
Ia benar-benar merasa pernikahan memberinya hak.
“Kamu punya rumah ini,” katanya. “Kamu punya katering. Ibumu punya rumah Waru. Dimas sudah kerja. Untuk apa semuanya ditahan?”
“Aku tidak punya rumah ini sendirian. Masih ada cicilan KPR dua tahun.”
“Justru itu. Kita harus berani maju.”
“Kita?”
Ia berdiri.
“Jangan bicara seolah aku orang luar.”
Aku membuka pintu.
Percakapan selesai.
Malam itu Arman tidur di ruang tamu.
Aku membawa Ibu ke kamarku.
Baru setelah lampu dimatikan, ia bercerita.
Arman tidak pernah memukulnya.
Tidak pernah membentaknya terang-terangan.
Itu justru alasan Ibu lama diam.
Ia hanya membuat hidup Ibu semakin sempit.
Menyimpan ponselnya dengan alasan takut Ibu salah pencet.
Mengatakan jadwal kontrol berubah padahal tidak.
Meminta Ibu tidak membahas rumah Waru denganku karena aku “terlalu banyak beban”.
Beberapa kali ia meminta cap jempol untuk kertas yang tidak dijelaskan.
Kalau Ibu menolak, Arman akan berkata, “Kalau begitu nanti jangan salahkan saya kalau Tari marah karena urusan rumah nggak selesai.”
Ibu takut menjadi beban.
Itulah tombol yang ia tekan.
“Kenapa Ibu nggak bilang?”
Air mata Ibu jatuh.
“Kamu kelihatan capek terus.”
Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada teriakan.
Besok paginya, aku tidak membuka dapur katering.
Aku meminta pegawaiku menangani pesanan.
Aku menelepon penyewa rumah Waru.
Ia terdengar bingung.
“Bukannya bulan depan transfer ke rekening Pak Arman, Bu?”
Tanganku berhenti di atas meja.
“Siapa yang bilang?”
“Pak Arman datang dua minggu lalu. Katanya pengelolaan sudah pindah. Kami bahkan sudah dikasih nomor rekening.”
Aku meminta foto pesan WhatsApp-nya.
Lima menit kemudian, foto itu masuk.
Pesannya dari Arman.
Tapi ada satu kalimat yang membuatku membaca ulang.
Mulai bulan depan, sesuai kesepakatan Bu Lestari dan Pak Fajar, pembayaran sewa dialihkan ke rekening pengelola.
Ia sudah memakai namaku untuk menciptakan persetujuan.
Kemudian Fajar menelepon lagi.
Suaranya berbeda.
Lebih berat.
“Kak, aku harus bilang sesuatu.”
“Apa?”
“Arman bukan pertama kali ngomong soal rumah Waru bulan ini.”
Aku diam.
“Dia sudah mulai dari akhir tahun lalu.”
“Kenapa kamu nggak bilang?”
“Karena… waktu itu dia bilang Kakak yang punya ide.”
Aku memejamkan mata.
“Dan aku percaya.”
Tapi itu belum bagian terburuk.
Fajar menarik napas.
“Kak, tiga minggu lalu aku sempat kirim foto KTP dan KK-ku ke Arman.”
Aku berdiri.
“Untuk apa?”
“Katanya notaris butuh untuk memperbarui data ahli waris.”
“Notaris siapa?”
“Aku nggak tahu.”
“Fajar.”
“Sumpah, Kak. Dia bilang Kakak sudah urus semuanya.”
Aku berjalan ke ruang tamu.
Arman sudah tidak ada.
Sepatu kerjanya hilang.
Helmnya juga.
Di meja makan ada secarik kertas.
Bukan pesan.
Sebuah kartu nama.
Koperasi Simpan Pinjam Sumber Mandiri.
Di belakang kartu itu, dengan tulisan tangan Arman, ada tiga kata.
Appraisal Selasa, 10.00.
Hari itu Senin.
Berarti seseorang akan datang melihat rumah Waru besok pagi.
Dan tiba-tiba aku sadar kami mungkin tidak lagi bicara tentang rencana.
Kami sedang mengejar sesuatu yang sudah berjalan.
Kalau kamu jadi aku, apakah kamu akan langsung membatalkan semuanya di depan Arman, atau memastikan dulu dokumen apa saja yang sudah ia serahkan atas nama keluarga?
BAGIAN 3
Aku menelepon nomor di kartu nama itu.
Tidak ada jawaban.
Aku menelepon lagi sepuluh menit kemudian.
Seorang perempuan mengangkat.
“Selamat pagi, Sumber Mandiri.”
“Nama saya Lestari Handayani. Saya mau menanyakan rencana appraisal rumah di Waru besok.”
Ada jeda.
“Ibu pemilik aset?”
“Salah satu ahli waris.”
“Mohon nomor pengajuan, Bu.”
“Aku tidak punya.”
Perempuan itu mulai lebih berhati-hati.
“Nama pemohonnya?”
“Arman Prasetyo.”
Terdengar suara keyboard.
“Sebentar.”
Aku berdiri di dekat meja makan sambil memandangi Ibu yang sedang mengupas jeruk.
Tangannya sedikit gemetar.
Perempuan itu kembali.
“Bu, untuk detail pengajuan kami tidak bisa menyampaikan lewat telepon kepada pihak yang belum tercatat sebagai pemohon atau pemberi jaminan.”
“Besok benar ada appraisal?”
“Saya tidak bisa mengonfirmasi detail itu melalui telepon.”
Aku hampir kesal, tetapi kemudian kusadari ia justru melakukan hal yang seharusnya dilakukan.
Menjaga prosedur.
Aku mencoba cara lain.
“Kalau ada pihak yang keberatan karena merasa tandatangannya digunakan tanpa izin, harus bagaimana?”
Nada perempuan itu berubah.
“Kalau begitu sebaiknya Ibu datang ke kantor kami membawa identitas dan dokumen yang relevan. Kami tidak bisa memutuskan lewat telepon, tetapi keberatan tertulis bisa dicatat.”
“Jam berapa buka?”
“Jam delapan.”
“Terima kasih.”
Aku menutup telepon.
Ibu menatapku.
“Rumahnya bisa diambil?”
“Belum tentu.”
Aku duduk di sebelahnya.
“Tapi mulai sekarang Ibu jangan tanda tangan apa pun tanpa aku atau Fajar.”
Ibu mengangguk.
Kemudian wajahnya berubah seperti anak kecil yang baru ditegur.
“Tari… jangan marah sama Ibu.”
Aku mengambil kulit jeruk dari tangannya.
“Aku bukan marah sama Ibu.”
“Tapi Ibu hampir tanda tangan kemarin.”
“Karena Ibu dibuat merasa kalau menolak berarti menyusahkan aku.”
Ia menunduk.
Aku memegang tangannya.
“Yang salah bukan Ibu bertanya. Yang salah orang yang bikin Ibu takut bertanya.”
Pukul sebelas, Arman pulang.
Ia masuk lewat pintu samping.
Begitu melihatku, ia berhenti.
“Kamu nggak kerja?”
“Aku sedang kerja.”
“Kerja apa?”
“Beresin masalah yang kamu buat.”
Ia meletakkan kunci motor di meja.
“Tari, aku sudah bilang, semuanya bisa dijelaskan.”
“Bagus. Jelaskan.”
Ibu hendak berdiri.
Aku berkata, “Bu, tetap di sini.”
Arman tampak tidak suka.
“Kita ngomong berdua.”
“Tidak. Karena kamu juga melibatkan Ibu.”
“Tari.”
“Dan Fajar.”
Seolah namanya sudah dipanggil, suara motor berhenti di depan pagar.
Fajar masuk beberapa detik kemudian.
Ia biasanya datang dengan wajah santai, tetapi siang itu rahangnya kaku.
“Aku izin setengah hari,” katanya kepadaku.
Lalu ia melihat Arman.
“Kita selesaikan.”
Arman menatap kami satu per satu.
“Jadi sekarang kalian sidang aku?”
Fajar menarik kursi.
“Kalau Kak Arman mau menganggap pertanyaan sebagai sidang, ya terserah.”
“Jaga omonganmu.”
“Aku sudah terlalu jaga omongan. Itu masalahnya.”
Aku belum pernah mendengar Fajar bicara seperti itu.
Adikku delapan tahun lebih muda dariku. Sejak Ayah meninggal, sebagian diriku selalu melihatnya sebagai orang yang harus dijaga.
Aku yang membayar sebagian uang muka motornya dulu.
Aku yang membantu biaya saat istrinya melahirkan.
Mungkin karena itu pula ia selalu sungkan kalau harus memberitahuku sesuatu yang menurutnya bisa menambah bebanku.
Arman memanfaatkan kebiasaan kami berdua.
Aku langsung bertanya.
“Besok appraisal untuk apa?”
“Sudah aku batalkan.”
“Bukti.”
“Apa?”
“Bukti kalau sudah dibatalkan.”
Ia mengerutkan dahi.
“Kamu tidak percaya aku?”
Fajar tertawa pendek.
“Kak serius nanya begitu sekarang?”
Arman menunjuk Fajar.
“Kamu jangan ikut campur urusan rumah tanggaku.”
“Rumah Waru bukan urusan rumah tanggamu.”
“Fajar,” kata Ibu pelan.
Ia langsung berhenti.
Aku berkata, “Tunjukkan pesan pembatalannya.”
Arman mengeluarkan ponsel.
Ia membuka WhatsApp.
Menggulir beberapa percakapan.
Lalu berkata, “Aku telepon tadi.”
“Telepon lagi.”
Ia menatapku.
“Di depan kita.”
“Tari, jangan kekanak-kanakan.”
Aku mengambil kartu nama koperasi dan meletakkannya di meja.
“Kalau begitu besok aku akan datang sendiri dan menyerahkan keberatan tertulis.”
Untuk pertama kalinya, wajahnya berubah.
Bukan marah.
Takut.
Hanya sebentar.
Tapi aku melihatnya.
“Kenapa harus begitu?” katanya.
“Karena aku tidak pernah memberi persetujuan.”
“Pengajuannya juga belum selesai.”
“Berarti tidak masalah kalau aku datang.”
Ia duduk perlahan.
“Tari, kalau kamu datang bawa cerita tanda tangan palsu, nama aku bisa rusak.”
“Aku belum bilang tanda tangan palsu ke siapa pun.”
Aku berhenti.
“Menarik sekali kamu langsung menyebutnya begitu.”
Ibu memandangnya.
Fajar bersandar di kursi.
Arman menggosok dahinya.
“Baik.”
Kami menunggu.
Ia menurunkan tangan.
“Aku memang bikin surat itu.”
Aku tidak menyela.
“Tapi cuma untuk meyakinkan Fajar supaya dia tidak menghambat.”
Fajar membentak, “Kamu pakai tanda tangan Kakakku!”
“Karena kalau aku jelaskan dari awal, kalian pasti panik sebelum paham.”
Aku menatap suamiku dan untuk pertama kalinya benar-benar melihat cara pikirnya.
Ia tidak merasa tindakannya sepenuhnya salah.
Baginya, masalahnya adalah kami belum memahami rencana besarnya.
Bukan bahwa ia telah mengambil hak kami untuk mengatakan tidak.
“Apa yang harus kami pahami?” tanyaku.
Arman menarik kursi lebih dekat.
“Rudi dapat proyek suplai keramik untuk tiga perumahan baru. Margin bagus. Tapi kita butuh modal untuk beli stok dari pabrik.”
“Kita?” kataku.
“Aku dan Rudi.”
“Jangan pakai kata kita untuk uang yang tidak aku setujui.”
Ia menahan emosi.
“Rp450 juta itu bukan utang gila. Kita punya aset.”
“Tidak. Ibu punya bagian. Aku punya bagian. Fajar punya bagian.”
“Akhirnya tetap keluarga juga.”
Itu kalimat yang selama bertahun-tahun terdengar hangat.
Hari itu aku mendengar sisi lainnya.
Kalau keluarga, batas bisa dianggap tidak perlu.
Arman melanjutkan.
“Kalau usaha ini berhasil, setahun bisa balik.”
“Kalau gagal?”
“Kenapa selalu pikir gagal?”
“Karena jaminannya rumah Ayahku.”
“Rumah itu disewakan!”
“Dan sewanya membayar kebutuhan Ibu.”
“Berapa sih kebutuhan Ibu?”
Ibu berhenti mengupas jeruk.
Arman menyadari kalimatnya terlalu jauh.
Ia buru-buru berkata, “Maksudku, masih bisa kita tanggung.”
Aku bertanya, “Dengan uang siapa?”
Ia menatapku.
Tak ada yang bicara.
Aku melanjutkan.
“Selama setahun terakhir, obat Ibu, kontrol, kebutuhan rumah, sebagian besar aku yang bayar. KPR rumah ini aku yang bayar. Listrik, air, pegawai yang datang dua kali seminggu, sebagian besar dari rekeningku.”
“Tapi aku juga kontribusi.”
“Aku tidak bilang kamu tidak pernah kontribusi.”
“Nadanya begitu.”
“Karena sekarang aku sedang mencari tahu kenapa kamu merasa boleh memakai aset orang lain untuk menutup risiko usahamu.”
Ia mengetuk meja dengan jari.
“Aku suamimu. Aku membangun hidup di sini juga.”
“Dan aku istrimu. Kenapa aku baru tahu kamu punya usaha enam bulan setelah kamu masukkan Rp180 juta?”
Ia diam.
Fajar berkata, “Itu yang paling aneh.”
Arman menoleh.
“Apa?”
“Kamu minta kami percaya rencana yang bahkan nggak kamu percayakan ke istrimu sendiri.”
Wajah Arman mengeras.
“Jangan sok bijak.”
Aku berdiri.
“Cukup.”
Aku tidak mau percakapan berubah menjadi pertengkaran dua laki-laki sementara akar masalahnya hilang.
Aku mengambil map cokelat.
“Aku mau semua dokumen yang pernah kamu buat terkait rumah Waru.”
“Tidak ada lagi.”
“Semua.”
“Aku sudah bilang.”
Aku membuka lembar pertama.
“Kamu membuat ini.”
Aku menunjukkan surat kuasa untuk Ibu.
“Kamu membuat surat dengan tanda tanganku.”
Aku menunjukkan foto dari ponsel.
“Kamu meminta KTP dan KK Fajar.”
Lalu aku menunjuk kartu nama koperasi.
“Dan sudah ada jadwal appraisal.”
Aku menatapnya.
“Kalau semua itu dilakukan dengan lima puluh persen informasi yang kusebut, aku harus menganggap ada lima puluh persen lain yang belum kutahu.”
Arman berdiri.
“Kamu mau menggeledah barangku sekarang?”
“Tidak.”
Aku memandang Ibu.
“Aku mau memastikan satu hal dulu.”
Aku mengambil ponsel dan menelepon Dimas.
Anakku menjawab lewat video call karena sedang istirahat siang.
“Ma?”
“Mas, Mama mau tanya sesuatu. Arman pernah bicara sama kamu soal uang atau rumah?”
Arman langsung berkata, “Kenapa bawa Dimas?”
Aku mengangkat tangan menyuruhnya diam.
Wajah Dimas di layar berubah.
“Rumah mana?”
“Waru.”
Ia terdiam.
“Kenapa?”
Aku merasa tenggorokanku mengering.
“Dia pernah bicara?”
Dimas memandang ke samping layar.
“Om Arman pernah telepon aku dua bulan lalu.”
Arman mengumpat pelan.
Aku hampir tidak mendengarnya.
Dimas melanjutkan.
“Katanya Mama lagi banyak beban. Dia tanya kalau suatu hari rumah Nenek dijual, aku keberatan nggak kalau bagian Mama dipakai untuk modal usaha keluarga.”
Aku menatap Arman.
“Dan kamu jawab apa?”
“Aku bilang terserah Mama. Itu bukan uangku.”
“Lalu?”
“Dia bilang jangan bahas dulu karena masih mau kasih kejutan ke Mama kalau bisnisnya sudah jalan.”
Fajar menutup wajah.
Ibu tidak bergerak.
Aku bertanya kepada Dimas, “Ada yang lain?”
Ia berpikir.
“Om juga pernah tanya aku punya tabungan berapa.”
“Untuk apa?”
“Katanya mungkin ada kesempatan investasi bareng.”
“Dimas, kamu kasih uang?”
“Enggak. Aku bilang lagi nabung uang muka rumah.”
Aku mengembuskan napas.
“Bagus.”
Arman berkata, “Sudah? Anakmu sekarang ikut menilai aku juga?”
Dimas mendengar.
“Om, saya nggak tahu sebenarnya ada apa. Tapi kalau Mama nggak tahu soal usaha itu, berarti waktu Om telepon saya, Om bohong.”
Arman berjalan ke arah pintu.
Aku memanggil.
“Ke mana?”
“Keluar. Kepala aku penuh.”
“Tidak.”
Ia berhenti.
“Kamu tidak pergi sebelum menyerahkan semua dokumen.”
“Kamu tidak bisa menahan aku di rumah.”
“Benar. Tapi kalau kamu pergi sekarang, aku langsung ke koperasi hari ini juga dan membuat pernyataan keberatan.”
Ia berbalik.
“Ini ancaman?”
“Batas.”
Aku baru sadar aku belum pernah menggunakan kata itu kepadanya.
Selama menikah, aku terlalu sering menjelaskan penolakan.
Kalau tidak bisa memberi uang, aku menjelaskan.
Kalau ingin membantu Dimas, aku menjelaskan.
Kalau Ibu harus kontrol, aku menjelaskan.
Seolah-olah setiap keputusan yang menyangkut uang hasil kerjaku membutuhkan izin moral dari semua orang.
Arman masuk ke kamar.
Lima menit kemudian ia kembali membawa tas laptop.
Dari dalamnya ia mengeluarkan dua map.
Ia meletakkannya di meja.
“Puas?”
Aku tidak menjawab.
Kami membukanya satu per satu.
Ada simulasi pinjaman.
Fotokopi sertifikat rumah Waru.
Salinan KTP Ibu.
Salinan KTP Fajar.
Fotokopi KTP-ku.
Surat persetujuan palsu yang sama.
Draft surat kuasa.
Print percakapan dengan Rudi.
Proyeksi usaha.
Lalu satu dokumen yang membuatku berhenti.
Bukan tentang rumah Waru.
Tentang rumah yang sedang kami tempati.
Rumahku.
Rumah yang kubeli dua tahun sebelum menikahi Arman dan masih kucicil sampai sekarang.
Di atas lembar itu tertulis simulasi refinancing.
Nilai properti: Rp1,4 miliar.
Estimasi plafon: Rp700 juta.
Aku menatap Arman.
“Apa ini?”
“Cuma perbandingan.”
“Kamu juga mau pakai rumah ini?”
“Tidak jadi.”
“Kenapa ada fotokopi sertifikat?”
Ia menatap meja.
Aku merasa seluruh puzzle akhirnya berubah bentuk.
Selama ini aku mengira rumah Waru adalah tujuan utamanya.
Ternyata mungkin bukan.
Mungkin ia sedang mencari aset mana yang paling mudah kubiarkan disentuh.
“Dari mana kamu dapat fotokopi sertifikat rumah ini?”
Ia tidak menjawab.
Aku tahu dokumen rumah kusimpan di laci terkunci di kamar.
Kunci cadangan ada di tempat yang hanya aku dan Arman tahu.
Tentu ia bisa mengambilnya.
Itu justru membuatku merasa lebih buruk.
Aku tidak kehilangan dokumen karena pencuri masuk rumah.
Aku membagikan kunci kepada orang yang kucintai.
Arman berkata, “Kamu terlalu membesar-besarkan.”
Aku menatapnya.
“Berapa total utangmu?”
Ia terdiam.
“Arman.”
“Usaha belum stabil.”
“Berapa?”
“Sekitar Rp260 juta.”
Fajar berkata, “Tadi modal Rp180 juta.”
“Itu modal.”
“Utangnya?”
Arman menekan bibir.
“Rp260 juta.”
Aku menghitung cepat.
Berarti sekitar Rp440 juta sudah masuk atau terikat.
“Kepada siapa?”
“Supplier. Pinjaman pribadi. Kartu kredit.”
“Kartu kredit berapa?”
“Rp60 juta.”
Ibu menutup mulut.
Aku bertanya, “Kamu sudah telat bayar?”
Ia tidak menjawab.
Aku mengambil salah satu print.
Ada percakapan dengan Rudi.
Aku membaca.
Kalau rumah yang Waru nggak bisa, coba rumah Tari. Nilainya lebih tinggi.
Balasan Arman:
Yang itu susah. Dia pegang sendiri. Aku cari jalan pelan-pelan.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Kemudian menyerahkan kertas kepada Fajar.
Arman bergerak hendak mengambilnya.
Fajar menarik tangan.
“Jangan.”
“Aku bilang itu cuma obrolan.”
“‘Aku cari jalan pelan-pelan’ maksudnya apa?” tanyaku.
Arman mulai marah.
“Orang ngomong sama teman kadang ya ngomong sembarangan!”
“Selama berapa bulan kamu mencari jalan?”
“Tari.”
“Sejak kamu bilang Ibu mulai pelupa?”
Ia diam.
Ibu menoleh kepadaku.
Aku melanjutkan.
“Sejak kamu ambil ponsel Ibu supaya katanya tidak salah pencet?”
“Tari, itu benar! Ibumu pernah transfer salah.”
“Rp150 ribu ke tukang sayur.”
“Ya tetap salah.”
“Dan karena satu salah transfer Rp150 ribu, kamu merasa wajar mengontrol semua komunikasi beliau?”
“Aku membantu.”
“Kamu memisahkan beliau dari informasi.”
“Jangan pakai istilah macam-macam.”
“Aku tidak butuh istilah.”
Aku menunjuk dokumen.
“Ini cukup.”
Ia berdiri.
“Kamu mau apa sekarang? Cerai?”
Pertanyaan itu datang terlalu cepat.
Seolah-olah selama ini ia yakin kata itu akan membuatku takut.
Dan memang, dulu mungkin iya.
Aku sudah pernah kehilangan suami karena kematian.
Aku tahu seperti apa pulang ke rumah tanpa seseorang menunggu.
Aku tahu seperti apa makan malam sendirian dan tanpa sadar mengambil dua piring.
Mungkin ketakutan itulah yang membuatku terlalu lama memberi Arman ruang.
Tetapi hari itu ada ketakutan lain yang lebih besar.
Menjadi tua dan menyadari rumahku sendiri tidak aman karena aku terus memaafkan hal yang salah.
“Aku belum bicara soal cerai.”
Ia tertawa sinis.
“Tapi kamu sudah memperlakukan aku seperti kriminal.”
“Aku memperlakukanmu seperti orang yang memalsukan tanda tanganku.”
Ia membuka mulut.
Aku mengangkat tangan.
“Besok jam delapan aku ke koperasi.”
“Kalau kamu lakukan itu, bisnisnya habis.”
“Itu konsekuensi dari bisnis yang dibangun pakai persetujuan palsu.”
“Rudi bisa tuntut aku.”
“Kenapa?”
“Karena aku sudah janji modal.”
“Dengan aset siapa?”
Ia tidak menjawab.
Aku menghela napas.
“Mulai hari ini, kamu tidak punya akses ke dokumen rumah, rekening usahaku, atau rekening kebutuhan Ibu.”
“Kamu memutus semua begitu saja?”
“Iya.”
“Kamu istri macam apa?”
Aku memandangnya.
“Istri yang baru sadar selama ini suaminya menganggap kepercayaan sebagai izin.”
Arman mengambil tas.
Kali ini aku tidak menghentikannya.
“Kalau kamu keluar,” kataku, “bawa pakaian untuk beberapa hari.”
Ia berhenti.
“Kamu mengusir aku?”
“Aku minta ruang.”
“Ini rumahku juga.”
Aku merasakan sesuatu yang dingin tapi tenang tumbuh di dalam diriku.
“Bukan.”
Wajahnya berubah.
Aku melanjutkan.
“Kamu tinggal di sini sebagai suamiku. Itu tidak sama dengan rumah ini otomatis menjadi milikmu.”
“Selama tiga tahun aku bayar banyak hal di sini.”
“Dan aku tidak akan menyangkal kontribusimu. Tapi jangan ubah kontribusi menjadi kepemilikan seenaknya.”
Ia menatap Ibu.
Seolah berharap Ibu akan menenangkanku.
Kebiasaan lama.
Namun Ibu berkata pelan, “Pulang dulu ke rumah kakakmu, Man.”
Arman tampak paling terpukul justru oleh kalimat itu.
“Bu juga?”
Ibu memegang tongkatnya.
“Saya ini tua, bukan bodoh.”
Tidak ada yang bicara.
Arman akhirnya pergi.
Suara pagar besi menutup terdengar lebih keras dari biasanya.
Malam itu aku mengganti tempat penyimpanan semua dokumen.
Bukan dengan adegan dramatis.
Hanya pekerjaan melelahkan.
Memilah.
Memotret.
Mencatat.
Mengubah PIN.
Mencabut akses mobile banking yang pernah kubiarkan Arman gunakan untuk membayar tagihan rumah.
Aku juga menghubungi penyewa rumah Waru dan menjelaskan bahwa pembayaran tetap ke rekening lama sampai ada kesepakatan tertulis dari kami bertiga.
Fajar membuat grup WhatsApp baru.
Namanya sederhana:
Rumah Waru – Ibu, Tari, Fajar.
Tanpa Arman.
Besok pagi kami bertiga datang ke koperasi.
Ibu memakai batik cokelat.
Fajar membawa map.
Aku membawa semua dokumen yang kami temukan.
Petugas yang menemui kami bernama Bu Niken.
Ia tidak bersikap dramatis.
Justru ketenangannya membuatku lega.
Ia memeriksa identitas kami dan menjelaskan bahwa pengajuan masih tahap awal. Appraisal memang sudah dijadwalkan, tetapi belum ada pengikatan jaminan.
“Dokumen kepemilikan juga belum lengkap,” katanya.
Aku bertanya, “Kalau kami menyatakan tidak pernah memberi persetujuan?”
“Kami catat keberatannya dan pengajuan dengan jaminan itu tidak dapat dilanjutkan tanpa penyelesaian dokumen dan persetujuan yang sah.”
Aku menunjukkan surat dengan tanda tanganku.
“Saya tidak tanda tangan ini.”
Bu Niken menatapnya beberapa detik.
“Kalau Ibu ingin membawa persoalan pemalsuan ke jalur hukum, itu keputusan Ibu. Dari sisi kami, saya akan masukkan catatan bahwa Ibu menyangkal tanda tangan tersebut.”
Aku mengangguk.
Aku tidak langsung memutuskan soal polisi.
Bukan karena ingin melindungi Arman dari semua akibat.
Aku hanya tidak ingin mengambil keputusan terbesar saat aku masih marah.
Yang kupastikan hari itu adalah satu hal.
Tidak ada aset keluarga yang bergerak.
Pukul sebelas, Arman menelepon.
Aku tidak mengangkat.
Ia menelepon lagi.
Lalu mengirim pesan.
Tari, kita harus bicara. Kamu sudah menghancurkan semua.
Aku membaca kalimat itu.
Kemudian membalas.
Datang Sabtu jam 10. Fajar akan ada. Kita bicara soal utangmu dan langkah berikutnya.
Ia menjawab cepat.
Kenapa harus ada Fajar?
Aku tidak menjawab.
Sabtu pagi, Arman datang lima belas menit terlambat.
Ia tampak lebih kurus.
Atau mungkin hanya tidak tidur cukup.
Kami duduk di meja makan yang sama.
Tidak ada Ibu.
Atas permintaannya sendiri, Ibu berada di kamar dan menonton acara memasak.
“Aku nggak mau jadi alasan kalian saling teriak,” katanya.
Fajar datang dengan istrinya, Nita, tapi Nita memilih duduk di teras bersama Ibu.
Aku menghargai itu.
Arman meletakkan ponsel.
“Aku sudah bicara sama Rudi.”
“Lalu?”
“Proyeknya masih jalan kalau aku bisa masuk modal minimum Rp120 juta lagi.”
Aku hampir tidak percaya.
“Kamu masih bicara soal masuk modal?”
“Tari, dengar dulu. Kalau kita berhenti sekarang, semua uang yang sudah masuk hilang.”
“Itu namanya risiko.”
“Jadi kamu rela Rp180 juta hilang?”
“Uang siapa?”
Ia memandangku.
“Sebagian uangmu juga.”
Aku berhenti.
“Apa?”
Ia menyadari kesalahannya terlalu terlambat.
Fajar langsung mencondongkan tubuh.
“Sebagian uang Kak Tari?”
Aku menatap Arman.
“Jelaskan.”
Ia memijat kening.
“Tahun lalu waktu kamu mulai deposito untuk biaya pensiun…”
Dadaku terasa ditekan.
Aku punya deposito Rp300 juta dari hasil penjualan mobil lama dan laba usaha.
“Terus?”
“Aku pernah pakai sebagian.”
Aku tidak sadar tanganku mencengkeram ujung meja.
“Berapa?”
“Rp75 juta.”
“Bagaimana?”
“Kamu pernah kasih aku akses waktu kamu masuk rumah sakit karena demam berdarah.”
Aku ingat.
Enam bulan sebelumnya aku dirawat empat hari. Aku memberikan ponsel dan akses tertentu agar ia bisa membayar supplier katering.
“Deposito itu atas namaku.”
“Ada dana di rekening transit sebelum kamu pindahkan.”
Aku mulai memahami.
Saat itu aku mencairkan salah satu deposito lama untuk dipindah ke produk baru. Selama beberapa hari uang memang masuk ke rekening tabungan.
“Kamu transfer?”
“Aku pinjam.”
“Tanpa bilang.”
“Aku mau kembalikan.”
“Sudah?”
Ia diam.
Aku bangkit.
Fajar ikut berdiri.
“Kak.”
Aku mengangkat tangan.
“Jangan.”
Aku berjalan ke dispenser.
Mengisi gelas.
Minum.
Aku butuh sesuatu yang biasa.
Air.
Gelas plastik.
Suara kulkas.
Karena kalau tidak, aku takut semua kemarahan yang kutahan sejak Senin akan keluar sekaligus.
Aku kembali duduk.
“Kapan?”
“Enam bulan lalu.”
“Rp75 juta.”
“Iya.”
“Lalu Rp40 juta yang katanya untuk kakakmu?”
Arman menatap meja.
“Masuk juga.”
“Rp25 juta renovasi ibumu?”
“Sebagian.”
Aku menghitung.
Total uang dariku yang bisa ia manipulasi setidaknya Rp140 juta.
Mungkin lebih.
Dan tiba-tiba twist sebenarnya bukan rumah Waru.
Bukan sertifikat.
Bukan koperasi.
Rumah Waru hanya langkah berikutnya.
Selama berbulan-bulan, Arman sedang menguji seberapa jauh ia bisa mengatur uang dan aset di sekitarku tanpa aku mengatakan tidak.
Sedikit demi sedikit.
Rp10 juta.
Rp20 juta.
Alasan keluarga.
Alasan pekerjaan.
Alasan Ibu.
Alasan keadaan darurat.
Dan setiap kali aku tidak bertanya terlalu dalam, batas itu bergeser.
Aku menatapnya.
“Kenapa kamu nikahi aku?”
Fajar menoleh kepadaku.
Arman tampak tersinggung.
“Jangan keterlaluan.”
“Aku tanya.”
“Kamu pikir aku nikah karena uang?”
“Aku nggak tahu. Karena sekarang aku sadar banyak hal yang aku kira cinta ternyata juga memberimu akses.”
Ia berdiri.
“Aku sayang kamu.”
“Bisa jadi.”
Jawabanku membuatnya berhenti.
“Aku tidak bilang semua perasaanmu palsu.”
Aku menarik napas.
“Mungkin itu justru yang paling menyedihkan. Kamu mungkin benar-benar sayang aku, tapi kamu juga merasa karena kamu suamiku, maka semua yang kupunya boleh kamu masukkan ke rencanamu.”
“Itu buat masa depan kita.”
“Tanpa persetujuanku?”
“Aku takut kamu menolak.”
Kalimat itu akhirnya keluar.
Sederhana.
Tidak ada lagi penjelasan bisnis.
Tidak ada lagi “demi keluarga”.
Ia takut aku menolak.
Karena itu ia memilih tidak memberiku kesempatan untuk menolak.
Aku berkata, “Terima kasih.”
Ia bingung.
“Apa?”
“Untuk akhirnya jujur.”
Aku mengambil sebuah amplop dari tas.
Di dalamnya ada daftar yang kususun dengan bantuan akuntan usahaku.
Transfer ke Arman.
Pembayaran yang ia klaim sebagai kebutuhan keluarga.
Akses rekening.
Uang yang ia akui diambil.
“Aku tidak akan menutup utangmu.”
Wajahnya langsung berubah.
“Tari.”
“Aku juga tidak akan memberi Rp120 juta.”
“Kalau begitu semua benar-benar habis.”
“Itu urusanmu dan Rudi.”
“Namaku bisa jelek.”
“Itu juga urusanmu.”
“Kamu istriku!”
“Dan selama ini itu jawabanmu untuk semuanya.”
Aku mendorong amplop ke arahnya.
“Mulai bulan depan, kebutuhan rumah kita pisahkan. Selama kamu belum tinggal di sini, tidak ada akses ke rumah tanpa memberitahuku.”
“Jadi aku memang diusir?”
“Aku sedang memutuskan apakah pernikahan ini masih bisa diselamatkan.”
Ia tertawa pahit.
“Kamu mau konseling?”
“Belum.”
“Lalu?”
“Aku mau kamu menyerahkan daftar seluruh utangmu. Semuanya. Tidak ada angka yang muncul belakangan.”
Ia diam.
“Kalau kamu bohong lagi satu kali, aku tidak akan mencoba memperbaiki pernikahan ini.”
Fajar berkata pelan, “Kak Tari…”
Aku mengangkat tangan.
Keputusan itu milikku.
Aku menatap Arman.
“Dan uang Rp75 juta itu kamu kembalikan.”
“Dari mana?”
“Bukan pertanyaanku.”
Ia menatapku seolah aku kejam.
Mungkin dulu tatapan itu akan membuatku mengalah.
Hari itu tidak.
“Jual motormu kalau perlu. Lepas bagianmu dari usaha Rudi. Atur cicilan. Tapi bukan aku lagi yang menutup lubang.”
Ia berkata, “Kamu mau lihat aku jatuh?”
“Tidak.”
Aku menjawab tanpa meninggikan suara.
“Aku cuma berhenti berdiri di bawahmu setiap kali kamu jatuh.”
Percakapan berakhir tanpa pelukan.
Tidak ada permintaan maaf besar.
Tidak ada Arman tiba-tiba berubah menjadi orang lain.
Ia membawa amplop itu dan pergi.
Tiga hari kemudian ia mengirim daftar utang.
Total sebenarnya Rp327 juta.
Lebih besar dari pengakuannya.
Aku membaca angka itu lama.
Kemudian menelepon.
“Kamu bilang Rp260 juta.”
“Ada satu pinjaman yang kupikir sudah dihitung.”
“Aku sudah bilang kalau ada kebohongan lagi…”
“Bukan bohong.”
“Arman.”
Ia diam.
Aku menutup mata.
Saat itulah aku tahu.
Bukan karena Rp67 juta.
Bukan karena koperasi.
Bukan bahkan karena tanda tanganku.
Aku hanya tidak bisa membangun ulang kepercayaan dengan seseorang yang masih sibuk mendefinisikan kebohongan agar tidak terdengar seperti kebohongan.
Dua minggu kemudian aku menemui pengacara keluarga.
Bukan untuk “menghancurkan” Arman.
Aku hanya ingin memahami langkahku dengan benar.
Setelah itu aku mengatakan kepadanya bahwa aku ingin berpisah.
Ia marah.
Kemudian memohon.
Kemudian menyalahkan Rudi.
Kemudian menyalahkan tekanan kerja.
Kemudian berkata aku terlalu dipengaruhi Fajar.
Kemudian berkata Ibu memang tidak pernah menyukainya.
Semua alasan itu datang bergantian.
Aku mendengarkan.
Akhirnya ia bertanya, “Jadi tiga tahun kita nggak ada artinya?”
Aku menjawab, “Ada.”
Ia terdiam.
“Ada banyak yang berarti. Karena itu ini sakit.”
Aku tidak perlu mengubah seluruh masa lalu menjadi kebohongan supaya bisa meninggalkan hubungan yang tidak lagi aman.
Beberapa kenangan kami tetap baik.
Ia pernah menemaniku semalaman di rumah sakit.
Ia pernah memperbaiki atap saat hujan bocor.
Ia pernah memasak nasi goreng pukul satu pagi ketika aku pulang dari pesanan pernikahan.
Semua itu pernah nyata.
Tapi hal baik tidak menghapus hal buruk.
Dan cinta tidak membuat tanda tangan palsu menjadi boleh.
Proses berikutnya tidak cepat.
Aku juga tidak tiba-tiba bahagia.
Ada malam ketika aku duduk sendirian di kamar dan bertanya apakah aku terlalu keras.
Ada hari ketika Ibu berkata, “Kalau dia benar-benar berubah bagaimana?”
Aku menjawab, “Semoga dia berubah.”
Ibu menatapku.
“Tapi?”
“Tapi perubahan dia tidak harus dibayar dengan aku kembali.”
Fajar akhirnya mengaku sesuatu yang juga perlu kudengar.
“Kak, aku minta maaf.”
“Untuk apa?”
“Waktu Arman bilang Kakak setuju, sebenarnya aku sempat curiga.”
“Kenapa nggak tanya?”
Ia tersenyum pahit.
“Karena aku pikir Kakak sudah terlalu banyak urusan.”
Aku tertawa pelan.
“Semua orang rupanya sibuk melindungiku dengan cara tidak memberitahuku apa-apa.”
Ia ikut tertawa.
Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, rasanya tidak berat.
Kami akhirnya membereskan status rumah Waru dengan lebih rapi melalui jalur yang sesuai dan berkonsultasi agar kepentingan masing-masing jelas.
Bukan karena kami tiba-tiba tidak percaya satu sama lain.
Justru karena kami belajar kepercayaan tidak seharusnya bergantung pada ketidakjelasan.
Uang sewa tetap digunakan untuk kebutuhan Ibu.
Kami membuat pencatatan sederhana.
Fajar bisa melihat.
Aku bisa melihat.
Ibu pun tahu berapa yang masuk setiap bulan.
Awalnya Ibu protes.
“Kenapa sekarang semuanya dicatat? Kayak orang asing.”
Aku tersenyum.
“Justru biar kita nggak jadi orang asing gara-gara uang.”
Ia akhirnya menerima.
Arman menjual motornya dan keluar dari usaha Rudi beberapa bulan kemudian setelah proyek mereka bermasalah.
Ia mulai mencicil pengembalian uangku.
Tidak lancar.
Tapi masuk.
Rp3 juta.
Rp5 juta.
Kadang terlambat.
Aku tidak mengejar dengan kemarahan.
Aku hanya mencatat.
Hubungan kami berakhir secara resmi beberapa bulan kemudian.
Dimas pulang dari Balikpapan saat semuanya hampir selesai.
Suatu sore ia duduk denganku di teras.
“Ma, Mama sedih?”
“Masih.”
“Menyesal nikah sama Om Arman?”
Aku memikirkan pertanyaan itu cukup lama.
“Tidak.”
Ia tampak heran.
“Aneh?”
“Sedikit.”
Aku tersenyum.
“Kalau Mama bilang semuanya kesalahan, berarti Mama juga menghapus tiga tahun hidup Mama sendiri. Mama nggak mau begitu.”
“Terus Mama anggap apa?”
“Pelajaran yang mahal.”
Dimas tertawa.
“Berapa mahal?”
Aku menunjuknya.
“Jangan dihitung.”
Ia tertawa lebih keras.
Aku ikut tertawa.
Ibu sekarang sudah lebih kuat berjalan.
Ponselnya kembali selalu ada di dekatnya.
Ia masih kadang salah menekan tombol.
Pernah suatu pagi ia tidak sengaja mengirim stiker bayi menari ke grup keluarga sebanyak sebelas kali.
Fajar langsung menulis:
Bu, cukup. Bayinya sudah capek.
Ibu meneleponku sambil tertawa sampai batuk.
Hal kecil itu membuatku sadar betapa anehnya hidup.
Dulu kami mengambil ponsel dari tangannya karena takut ia membuat kesalahan kecil.
Padahal kesalahan yang benar-benar berbahaya justru dilakukan orang yang terlihat paling yakin sedang “membantu”.
Sekitar sembilan bulan setelah hari aku pulang lebih cepat dari Malang, aku kembali berdiri di depan kamar belakang.
Ruangan itu sekarang bukan lagi tempat menyimpan map dan barang lama.
Aku mengubahnya menjadi ruang kecil untuk Ibu.
Ada kursi empuk dekat jendela.
Rak obat.
Meja untuk menyimpan buku resep.
Dan tanaman sirih gading yang entah bagaimana tetap hidup meskipun Ibu terlalu rajin menyiramnya.
Di meja, ada kotak pia.
Sama seperti hari aku pulang dulu.
Bedanya, kali ini kotaknya sudah terbuka setengah.
Ibu mengambil satu.
“Kamu beli yang kacang hijau?”
“Iya.”
“Yang cokelat lebih enak.”
“Aku kemarin tanya, Ibu bilang kacang hijau.”
“Ya namanya orang bisa berubah pikiran.”
Aku tertawa.
Kemudian ia menunjuk lemari kecil.
“Sertifikat sama surat-surat sudah kamu simpan?”
“Sudah.”
“Aman?”
“Aman.”
Ibu mengangguk puas.
Aku berdiri untuk keluar.
Ia memanggil.
“Tari.”
Aku menoleh.
“Terima kasih waktu itu pulang cepat.”
Aku memandangnya.
Dulu mungkin aku akan berpikir semuanya berubah karena aku kebetulan pulang sehari lebih cepat.
Sekarang aku tahu bukan itu.
Kalau bukan hari itu, mungkin kebohongan Arman baru terbuka minggu berikutnya.
Atau sebulan kemudian.
Yang menentukan hidupku bukan keberuntungan karena mendengar satu percakapan.
Yang menentukan adalah apa yang kulakukan setelah mendengarnya.
Aku berhenti menganggap diam sebagai bentuk bakti.
Berhenti menganggap memberi tanpa bertanya sebagai bukti cinta.
Berhenti merasa bersalah setiap kali melindungi sesuatu yang memang menjadi tanggung jawabku.
Sebelum tidur malam itu, aku membuka grup WhatsApp keluarga.
Ada foto Ibu memegang pia.
Fajar menulis:
Bu, besok jangan lupa kontrol jam sembilan.
Ibu membalas:
Sudah tahu.
Lalu satu menit kemudian:
Jangan cerewet.
Aku tersenyum.
Kututup ponsel dan kuletakkan di meja.
Rumah itu tidak lagi terasa sunyi hanya karena tidak ada suami di dalamnya.
Dari kamar Ibu terdengar televisi terlalu keras.
Rice cooker di dapur berbunyi.
Di teras, sandal Dimas yang lupa dibawa pulang masih terselip di bawah kursi.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak merasa harus menjaga semua orang agar keluarga tetap utuh.
Aku hanya menjaga agar rumah ini tetap menjadi tempat di mana setiap orang boleh berkata tidak.
Dan ternyata, itu jauh lebih penting.
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai akhir. Semoga kamu dan keluargamu selalu diberi kesehatan, ketenangan, dan keberanian untuk membicarakan uang, tanggung jawab, serta batas pribadi dengan jujur. Kalau kamu berada di posisi Lestari, apakah kamu masih akan memberi Arman kesempatan setelah menemukan seluruh utangnya, atau keputusan untuk berpisah adalah pilihan yang paling masuk akal? Ceritakan pendapatmu. Kalau cerita ini terasa dekat dengan kehidupan nyata, kamu juga boleh membagikannya kepada orang lain yang mungkin perlu membacanya.
