Pintu gudang mulai terbuka perlahan.
Aku mundur sampai punggungku menyentuh rak besi.
Tanganku masih menggenggam telepon tua milik ibu.
Aku ingin berteriak, tetapi tenggorokanku seperti terkunci.
“Dia pasti di dalam.”
Suara laki-laki dari luar terdengar semakin jelas.
“Apa kita masuk sekarang?”
“Jangan terburu-buru. Kalau dia sudah menemukan dokumennya, kita harus mengambil semuanya.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
Jadi ibu benar.
Ada seseorang yang selama ini mengawasi semua ini.
Dan orang itu tidak ingin aku mengetahui isi loker tersebut.
Aku melihat sekeliling.
Gudang itu hanya memiliki satu pintu.
Tidak ada jendela.
Di belakangku terdapat tumpukan kardus tua dan lemari besi.
Aku menarik napas dalam-dalam.
Kalau aku ingin keluar, aku harus melewati mereka.
Tiba-tiba terdengar suara telepon berdering.
Bukan telepon yang kugenggam.
Melainkan telepon seseorang di luar.
“Ya?”

Laki-laki itu mengangkatnya.
Aku mendengar beberapa detik percakapan yang tidak jelas.
Kemudian dia berkata,
“Tidak mungkin. Dia sudah menemukan semuanya?”
Jantungku berdegup semakin cepat.
Beberapa detik kemudian langkah kaki menjauh.
Aku tidak tahu apa yang terjadi, tetapi aku tahu kesempatan itu mungkin tidak akan datang dua kali.
Aku segera mengambil tas, memasukkan dokumen dan telepon tua ke dalamnya, lalu mencari jalan keluar.
Di samping lemari besi terdapat pintu kecil yang sebelumnya tidak kusadari.
Aku mencoba membukanya.
Terkunci.
Aku menggunakan kunci kecil pemberian ibu.
“Klik.”
Pintu terbuka.
Di baliknya ternyata ada lorong sempit yang mengarah ke bagian belakang bangunan.
Aku berlari.
Aku tidak berhenti sampai menemukan jalan raya.
Setelah naik kendaraan umum dan memastikan tidak ada yang mengikutiku, aku kembali ke penginapan.
Malam itu aku tidak tidur.
Aku membaca semua dokumen yang dibawa ibu.
Ada banyak nama perusahaan.
Ada salinan rekening.
Ada kontrak.
Dan ada beberapa dokumen kepemilikan.
Semakin lama membaca, semakin sulit aku mempercayai apa yang kulihat.
Beberapa tahun lalu, ketika aku menikah dengan Raka, ibu ternyata diam-diam membeli sebuah tanah menggunakan sebagian besar tabungannya.
Namun tanah itu tidak dicatat atas nama ibu.
Namaku yang tercantum sebagai pemilik.
Aku mengira ibu hanya melakukan investasi biasa.
Ternyata tidak.
Tanah tersebut kemudian berkembang nilainya karena kawasan di sekitarnya mulai dibangun.
Nilainya sekarang jauh lebih besar daripada yang pernah kubayangkan.
Tetapi yang membuatku terkejut bukan nilai tanahnya.
Melainkan sebuah surat kuasa yang ditemukan ibu.
Surat itu menunjukkan bahwa seseorang pernah berusaha mengalihkan hak atas tanah tersebut tanpa sepengetahuanku.
Dan nama orang yang muncul dalam beberapa dokumen itu adalah…
Raka.
Aku terdiam.
Selama ini aku mengira dia mengkhianatiku karena perempuan lain.
Ternyata ada alasan lain.
Dia membutuhkan perceraian cepat.
Dia membutuhkan tanda tanganku.
Dan dia ingin membuatku pergi dari rumah dalam keadaan emosional agar aku menandatangani apa pun yang diberikan kepadaku.
Tiba-tiba aku teringat ucapan Raka malam itu.
“Kita berpisah saja.”
Sekarang aku memahami mengapa dia begitu terburu-buru.
Aku menatap surat ibu.
Di bagian bawah terdapat tulisan:
“Jangan membenci Raka karena perempuan itu. Bencilah kebohongannya, tetapi jangan biarkan kebenciannya membuatmu kehilangan akal.”
Aku menangis.
Ibu bahkan masih sempat memikirkan masa depanku ketika dirinya sendiri sedang menghadapi kematian.
Namun ada satu bagian yang belum kupahami.
Di dalam rekaman video, ibu berkata ayahku masih hidup.
Mengapa?
Aku menyalakan kembali telepon tua itu.
Ada satu rekaman lain.
Kali ini suara ibu terdengar lebih pelan.
“Putriku, ada satu hal yang tidak pernah ibu katakan kepadamu.”
Aku menahan napas.
“Pria yang selama ini kau kira ayahmu sudah meninggal sebenarnya bukan ayah kandungmu.”
Aku membeku.
“Dan pria yang merupakan ayah kandungmu masih hidup.”
Air mataku berhenti.
Ibu melanjutkan,
“Ibu pernah membuat keputusan buruk ketika masih muda. Bukan karena tidak mencintaimu, tetapi karena ingin melindungimu.”
Video itu kemudian memperlihatkan sebuah foto.
Seorang laki-laki berdiri di samping ibu.
Aku mengenal wajah itu.
Aku pernah melihatnya.
Bukan di rumah.
Bukan di foto keluarga.
Melainkan beberapa bulan lalu.
Pria tua yang datang ke rumah sakit ketika ibu dirawat.
Dia hanya berdiri jauh di koridor, lalu pergi sebelum aku sempat bertanya.
Selama ini aku mengira dia hanya salah satu kenalan ibu.
Ternyata…
dia ayahku.
Telepon itu tiba-tiba berdering.
Nomor tidak dikenal.
Aku hampir tidak berani mengangkatnya.
Namun akhirnya aku menjawab.
“Hallo?”
Suara laki-laki tua terdengar dari seberang.
“Namamu Sinta, bukan?”
Aku diam.
“Siapa Anda?”
Laki-laki itu menarik napas panjang.
“Aku orang yang paling lama dicari ibumu.”
Aku menggenggam telepon erat.
“Apakah Anda… ayah saya?”
Hening.
Kemudian terdengar jawaban yang membuat dadaku sesak.
“Ya.”
Aku menutup mulut.
Selama bertahun-tahun aku hidup dengan keyakinan bahwa aku sudah kehilangan kedua orang tuaku.
Ternyata salah satunya masih hidup.
Dan ibu menyembunyikan kebenaran itu sampai napas terakhirnya.
Aku belum sempat bertanya lebih jauh ketika ayah berkata,
“Jangan percaya siapa pun dari keluarga Raka.”
“Kenapa?”
“Karena mereka bukan hanya mengincar tanah yang ditinggalkan ibumu.”
Dia berhenti sejenak.
“Mereka juga mengincar sesuatu yang jauh lebih penting.”
“Apa?”
Suara ayah tiba-tiba berubah tegang.
“Dokumen asli tentang kelahiranmu.”
Aku terdiam.
“Ayah, maksudnya apa?”
“Kalau dokumen itu jatuh ke tangan mereka, mereka bisa membuatmu kehilangan lebih dari sekadar harta.”
Sambungan telepon terputus.
Aku berdiri sendirian di kamar.
Di luar, hujan masih turun.
Aku memandangi kotak abu ibu.
Untuk pertama kalinya aku sadar…
Ibu tidak meninggalkan surat untuk membuatku mengetahui masa lalu.
Ibu meninggalkan surat agar aku bisa menyelamatkan masa depanku.
Dan saat aku baru saja mengusap air mata, terdengar ketukan di pintu kamar.
Tiga kali.
Pelan.
Aku tidak bergerak.
Ketukan terdengar lagi.
Kemudian sebuah suara perempuan dari luar berkata,
“Sinta, aku Maya.”
Aku membeku.
“Aku datang bukan untuk bertengkar.”
Suara Maya terdengar bergetar.
“Aku ingin memberitahumu sesuatu tentang Raka.”
Aku menatap pintu.
Lalu dia mengucapkan kalimat yang membuat darahku terasa berhenti mengalir.
“Anak yang kukandung bukan milik Raka.”
