Aku berdiri di depan pintu dengan tangan gemetar.
Perempuan tua yang baru saja datang itu masih memegang foto lama di tangannya.
Di foto tersebut, seorang pria muda berdiri sambil tersenyum.
Aku mengenal wajah itu.
Terlalu mengenalnya.
Foto pria itu sudah bertahun-tahun tergantung di ruang keluarga rumah kami.
Aku selalu diberi tahu bahwa dia adalah ayah kandung Arman yang telah meninggal sebelum aku menikah.
Namun tulisan di belakang foto membuat napasku tercekat.
“Dia bukan ayah Arman. Dia adalah ayahmu.”
Aku menatap perempuan tua di depanku.
“Siapa Anda?”
Matanya berkaca-kaca.
“Namaku Sari.”
Arman berdiri beberapa langkah di belakangku.
Wajahnya pucat.
Aku menoleh kepadanya.
“Arman…”
Dia tidak menjawab.
“Jelaskan.”
“Aku akan menjelaskan.”
“Sekarang.”
Suaraku bergetar.
“Bukan besok. Bukan setelah semuanya tenang. Sekarang.”

Arman menundukkan kepala.
Perempuan bernama Sari itu masuk perlahan ke ruang tamu.
Ia duduk, lalu meletakkan foto tersebut di atas meja.
“Ayahmu bernama Darmawan.”
Aku menatap foto itu.
“Darmawan…”
Nama itu terasa asing.
Tetapi wajahnya tidak.
“Dia adalah ayah kandungmu.”
Aku tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
Karena otakku tidak mampu menerima kenyataan.
“Kalau dia ayah saya, kenapa saya tidak pernah tahu?”
Sari menarik napas panjang.
“Karena ibumu membawamu pergi ketika kamu masih kecil.”
Aku terdiam.
“Ibu saya meninggal ketika saya masih kecil.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa tidak ada satu pun orang yang pernah menceritakan hal ini?”
Sari menatap Arman.
“Karena keluarga ini membuat kesalahan besar.”
Aku langsung berdiri.
“Keluarga ini?”
Arman memejamkan mata.
Aku menunjuknya.
“Kamu tahu?”
Ia mengangguk sangat pelan.
“Sejak kapan?”
“Sejak sebelum kita menikah.”
Aku merasa seperti ditampar.
“Delapan tahun?”
Ia tidak menjawab.
“Delapan tahun kamu tahu siapa ayahku?”
“Aku tahu sebagian.”
“Sebagian?”
Aku tertawa pahit.
“Kamu menikah denganku sambil mengetahui bahwa rumah ini sebenarnya milik ayahku?”
Arman akhirnya menatapku.
“Aku tidak menikahimu karena rumah itu.”
“Lalu kenapa?”
“Aku mencintaimu.”
Aku menggeleng.
“Kalau benar begitu, kamu seharusnya mengatakan semuanya.”
Arman menunduk.
“Aku takut kehilanganmu.”
“Dan karena takut kehilangan aku, kamu memilih berbohong selama delapan tahun?”
Air mata mulai memenuhi matanya.
“Aku salah.”
Aku memalingkan wajah.
Sari kemudian membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah map tua.
“Dengarkan aku dulu, Naya.”
Aku tidak ingin mendengar.
Tetapi ada sesuatu dalam tatapannya yang membuatku tetap berdiri.
“Rumah ini memang dibeli oleh ayahmu.”
Ia membuka dokumen pertama.
“Dulu ayahmu memiliki usaha kecil yang berkembang cukup besar. Rumah ini adalah salah satu asetnya.”
Aku menatap dokumen tersebut.
Namanya memang tercantum.
Darmawan.
“Lalu apa hubungannya dengan keluarga Arman?”
Sari menatapku.
“Darmawan dan ayah Arman adalah sahabat.”
Aku terdiam.
“Mereka pernah menjalankan usaha bersama. Ketika ayahmu meninggal, keluargamu berantakan. Ibumu membawa kamu pergi karena ada masalah dengan orang-orang yang mengejar utang usaha.”
Aku mengerutkan kening.
“Utang?”
“Bukan utang ayahmu.”
Sari menggeleng.
“Utang itu dibuat oleh partner bisnisnya.”
Aku menatap Arman.
“Dan rumah ini?”
“Dijadikan jaminan sementara,” jawabnya.
“Lalu?”
“Setelah masalah selesai, rumah seharusnya dikembalikan kepada keluargamu.”
Aku menatap dokumen itu.
“Tapi tidak pernah dikembalikan.”
Sari menunduk.
“Karena ayah Arman meninggal lebih dulu.”
Aku mulai memahami sesuatu.
Selama bertahun-tahun, keluarga Arman tinggal di rumah yang sebenarnya bukan milik mereka.
Namun ada satu hal yang tidak masuk akal.
“Kalau begitu kenapa ibumu tidak menyerahkannya kepadaku?”
Arman menjawab pelan.
“Karena ibu ingin menemukanmu lebih dulu.”
“Kenapa?”
“Karena dia takut kamu datang hanya untuk mengambil rumah, lalu pergi.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Jadi selama ini kalian menguji saya?”
“Tidak seperti itu.”
“Lalu apa?”
Arman menatapku.
“Ibu ingin tahu apakah kamu mencintai aku atau hanya mengejar sesuatu yang bahkan kamu sendiri tidak tahu.”
Aku tertawa getir.
“Dan setelah delapan tahun?”
Arman tidak mampu menjawab.
Aku mengambil dokumen itu.
“Kalau begitu sekarang semuanya selesai.”
Aku berjalan menuju kamar.
Arman mengejarku.
“Naya.”
Aku berhenti.
“Jangan ikuti aku.”
“Aku minta maaf.”
Aku menoleh.
“Aku tidak marah karena rumah ini.”
Aku menahan air mata.
“Aku marah karena selama delapan tahun aku hidup sebagai istrimu tanpa pernah tahu bahwa kamu menyimpan separuh hidupku dariku.”
Arman diam.
Aku melanjutkan,
“Tapi satu hal lagi belum kamu jelaskan.”
“Apa?”
“Kenapa ibumu berlutut kepadaku malam sebelum meninggal?”
Arman membeku.
Aku melihat perubahan wajahnya.
“Dia pernah mengatakan sesuatu kepadaku.”
“Apa?”
“Katanya, kalau suatu hari kamu menemukan surat di kamar itu…”
Aku menatapnya.
“…aku harus memaafkanmu.”
Air mata Arman jatuh.
Aku mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Ia menundukkan kepala.
“Karena ibu tahu dia tidak akan sempat meminta maaf sendiri.”
Aku terdiam.
Sari kemudian berdiri.
“Naya, ada satu hal terakhir.”
“Apa?”
“Surat yang kamu temukan itu belum lengkap.”
Ia mengeluarkan amplop lain.
Amplop tersebut masih tersegel.
Di bagian depannya tertulis namaku.
Untuk Naya, jika suatu hari kamu sudah mengetahui semuanya.
Aku mengambilnya.
Jari-jariku gemetar ketika membuka surat itu.
Hanya ada beberapa kalimat.
Tetapi kalimat terakhir membuatku menangis.
“Aku tidak meminta kamu mempertahankan rumah ini. Aku hanya meminta satu hal: jangan biarkan kesalahan kami membuatmu kehilangan satu-satunya keluarga yang masih mencintaimu.”
Aku menutup mata.
Di luar, hujan mulai turun.
Untuk pertama kalinya setelah delapan tahun, aku sadar bahwa yang sedang kuhadapi bukan sekadar persoalan rumah.
Ini adalah kisah tentang orang-orang yang terlalu takut kehilangan satu sama lain hingga memilih berbohong.
Dan terkadang…
kebohongan yang dilakukan atas nama cinta tetap bisa melukai sedalam pengkhianatan.
Aku menatap Arman.
“Besok kita pergi ke notaris.”
Ia mengangguk.
“Untuk menyerahkan rumah ini kepadamu?”
Aku menggeleng.
“Bukan.”
Aku menatapnya dengan mata basah.
“Untuk memastikan kebenaran semuanya.”
Karena aku belum tahu…
bahwa di dalam dokumen terakhir yang akan kami buka keesokan harinya, ada satu nama lain.
Nama seseorang yang selama ini kami kira sudah meninggal.
Dan orang itulah yang ternyata menjadi alasan sebenarnya mengapa ayahku kehilangan segalanya.
