Aku menatap dokumen di tanganku tanpa berkedip.
Nama Raka memang tercantum di sana.
Tetapi bukan sebagai pemilik rumah.
Bukan pula sebagai orang yang berhak menentukan siapa yang boleh tinggal di dalamnya.
Namanya tercatat sebagai pihak yang pernah menandatangani sebuah perjanjian.
Tanganku mulai dingin.
“Ini apa?”
Aku menatap Raka.
Dia tidak menjawab.
Pria yang datang bersama ayahku, Pak Arman, membuka map kedua.
“Bu, sebelum menjelaskan semuanya, saya sarankan Ibu membaca halaman terakhir.”
Aku membalik beberapa lembar.
Di halaman terakhir terdapat tanda tangan ayahku, tanda tangan seorang notaris, dan satu nama perusahaan yang tidak pernah kukenal.
Aku mengernyit.
“Kenapa nama perusahaan ini ada di dokumen rumah saya?”
Ayah mengambil dokumen itu dari tanganku.
“Karena rumah ini sebenarnya dibeli melalui perusahaan tersebut.”
Aku semakin bingung.
“Bukankah Ayah bilang rumah ini dibeli untukku?”
“Benar.”
“Lalu kenapa tidak langsung atas namaku?”
Ayah terdiam cukup lama.
Kemudian dia menatap Raka.
“Karena saat itu ayah tahu sesuatu yang tidak kamu ketahui.”
Semua mata langsung tertuju kepada Raka.
Ibu mertuaku mulai gelisah.
“Apa maksudnya?”
Ayah tidak menjawabnya.
Dia justru bertanya kepada Raka,
“Empat tahun lalu, sebelum menikahi putriku, kamu pernah datang kepada saya dan meminta bantuan, bukan?”
Raka menundukkan kepala.
Aku langsung menoleh.
“Raka?”

Dia masih diam.
Ayah melanjutkan,
“Kamu mengatakan keluargamu sedang terlilit utang. Kamu meminta waktu untuk menyelesaikannya. Kamu juga mengatakan bahwa kamu tidak ingin masalah keluargamu ikut menyeret putriku.”
Dadaku terasa sesak.
Aku menatap suamiku.
“Benarkah?”
Raka akhirnya berkata pelan,
“Benar.”
“Kenapa kamu tidak pernah cerita?”
“Aku takut kamu pergi.”
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Justru karena tiba-tiba semuanya terasa menyakitkan.
“Jadi kamu menyembunyikan utang keluargamu dariku?”
Raka mengusap wajah.
“Aku sudah menyelesaikannya.”
Ayah langsung menyela.
“Tidak semuanya.”
Suasana mendadak hening.
Pak Arman mengeluarkan sebuah dokumen lagi.
“Masih ada satu kewajiban yang belum diselesaikan.”
Raka melihat dokumen tersebut.
Wajahnya berubah.
Ibu mertuaku langsung bertanya,
“Berapa?”
Pak Arman menjawab,
“Jumlahnya tidak kecil.”
Dimas yang sejak tadi diam mulai gelisah.
“Berapa, Pak?”
Pak Arman menyebutkan nominalnya.
Semua orang terdiam.
Aku melihat wajah ibu mertuaku memucat.
“Bukankah utang itu sudah selesai?”
Ayah menggeleng.
“Yang diselesaikan Raka hanya bagian yang menjadi tanggung jawab pribadinya. Ada kewajiban keluarga yang masih tersisa.”
Aku mulai memahami sesuatu.
“Jadi… selama ini kalian ingin mengambil rumah ini karena masalah utang?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku memandang Raka.
“Apakah itu alasan kalian memaksa aku memberikan rumah ini kepada Dimas?”
Raka menunduk.
“Aku hanya ingin membantu keluarga.”
“Dengan rumahku?”
“Aku akan mengembalikannya.”
“Dengan apa?”
Dia diam.
Aku menggeleng perlahan.
“Kalau memang kamu punya kemampuan untuk mengembalikan, kamu tidak akan meminta rumah ini sejak awal.”
Ibu mertua tiba-tiba menangis.
“Raka melakukan semua ini demi keluarga!”
Aku menoleh kepadanya.
“Kalau begitu kenapa tidak bicara terus terang kepada saya?”
Dia tidak mampu menjawab.
Dimas ikut berdiri.
“Bu, kita pulang saja.”
Namun ibu mertua malah berteriak,
“Kita tidak bisa pulang begitu saja! Rumah ini harus diberikan kepadamu!”
Ayah menatapnya tenang.
“Tidak.”
Satu kata itu membuat semua orang diam.
“Rumah ini tidak akan diberikan kepada siapa pun.”
Ibu mertua membalas,
“Tapi Raka suaminya!”
Ayah mengangguk.
“Benar. Dan karena itu, saya menghormati pernikahan mereka. Tetapi saya tidak akan membiarkan putri saya kehilangan haknya hanya karena keluarga suaminya sedang membutuhkan uang.”
Aku menatap ayah.
Ada rasa hangat yang tiba-tiba memenuhi dadaku.
Selama ini aku mengira ayah datang untuk marah.
Ternyata dia datang bukan untuk menghancurkan keluarga suamiku.
Dia datang untuk memastikan aku tidak dihancurkan oleh mereka.
Raka tiba-tiba berjalan mendekat.
“Ayah…”
Ayah mengangkat tangan.
“Jangan panggil saya Ayah dulu.”
Raka berhenti.
“Bukan karena saya membenci kamu. Tapi karena saya kecewa.”
Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan.
Raka menundukkan kepala.
“Aku salah.”
Ayah menghela napas.
“Kesalahan terbesar kamu bukan karena meminta bantuan.”
Dia menatap Raka.
“Kesalahanmu adalah membiarkan orang lain mengusir istrimu dari rumahnya sendiri.”
Raka tidak menjawab.
Aku melihat suamiku berdiri di sana.
Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat pria yang dulu kucintai.
Aku melihat seseorang yang selama bertahun-tahun memilih diam ketika keluarganya melewati batas.
Pak Arman kemudian berkata,
“Ada satu hal lagi yang harus Ibu ketahui.”
Aku menoleh.
“Apa?”
Dia membuka map terakhir.
Di dalamnya terdapat sebuah surat.
“Rumah ini memang dibeli oleh ayah Ibu. Tetapi ada alasan lain mengapa beliau menggunakan struktur kepemilikan seperti ini.”
Aku melihat ayah.
“Ayah?”
Ayah menarik napas.
“Karena waktu itu, ayah mendapat informasi bahwa keluarga Raka sedang menghadapi persoalan hukum dan keuangan.”
Aku terdiam.
“Jadi Ayah sudah tahu?”
“Tidak semuanya.”
Ayah menatapku.
“Tapi ayah tahu cukup banyak untuk berhati-hati.”
Aku menatap Raka.
“Kamu tahu bahwa Ayah melakukan semua itu?”
Raka mengangguk.
“Aku tahu.”
“Dan kamu tetap menikahiku?”
Dia menjawab dengan suara hampir tak terdengar.
“Aku mencintaimu.”
Aku memejamkan mata.
Kalimat itu seharusnya membuatku luluh.
Tetapi kali ini tidak.
Karena cinta tanpa kejujuran ternyata bisa berubah menjadi beban yang sangat berat.
Aku menghela napas.
“Aku tidak ingin kamu memilih antara aku dan keluargamu.”
Raka mengangkat wajah.
“Aku hanya ingin kamu belajar satu hal.”
Aku menatapnya.
“Kalau suatu hari keluargamu membutuhkan pertolongan, kita bisa membicarakannya bersama.”
Aku berhenti sejenak.
“Tapi jangan pernah lagi mengambil keputusan atas hidupku tanpa melibatkanku.”
Raka mengangguk.
“Aku mengerti.”
Namun sebelum siapa pun sempat mengatakan apa-apa, terdengar suara benda jatuh dari dalam rumah.
Semua orang menoleh.
Dimas berdiri di dekat lemari.
Wajahnya pucat.
Di tangannya ada sebuah amplop tua.
“Aku menemukan ini…”
Dia menatap kakaknya.
“Mas Raka, ini apa?”
Raka langsung berubah wajah.
“Apa yang kamu buka?”
Dimas menyerahkan amplop itu kepada ayahku.
Ayah membacanya.
Beberapa detik kemudian, wajahnya menjadi serius.
Aku bertanya,
“Ada apa?”
Ayah tidak langsung menjawab.
Pak Arman mengambil surat itu.
Setelah membacanya, dia menatap Raka.
“Ini bukan surat utang.”
“Lalu?”
Pak Arman menghela napas.
“Ini surat yang menunjukkan bahwa masalah keluarga kalian jauh lebih besar dari yang kami kira.”
Raka memucat.
Aku menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku menyadari…
masalah rumah ini mungkin bukan akhir dari pernikahanku.
Justru mungkin inilah awal dari terbongkarnya alasan sebenarnya mengapa Raka selama ini begitu takut kehilangan rumah tersebut.
