Aku Menikah di Usia 40 dengan Tetanggaku yang Berjalan Pincang, tetapi Malam Pertama Membuatku Meragukan Alasan Pernikahan Kami
Bagian 1
Di usia empat puluh tahun, aku menikah bukan karena sedang mabuk cinta.
Aku menikah karena lelah.
Lelah ditanya kapan menyusul sepupu-sepupuku. Lelah mendengar Ibu menghela napas setiap kali ada undangan pernikahan datang. Dan mungkin yang paling memalukan untuk kuakui, aku juga lelah berharap suatu hari akan datang laki-laki yang membuat semua kegagalan masa laluku terasa layak ditunggu.
Namaku Ratih.

Sejak usia dua puluhan, aku beberapa kali menjalin hubungan serius. Yang pertama berakhir ketika aku tahu laki-laki yang hampir lima tahun bersamaku ternyata juga dekat dengan perempuan lain. Yang kedua membuatku menunggu hampir tiga tahun sebelum akhirnya dia berkata belum siap menikah, lalu enam bulan kemudian aku mendengar dia menikahi orang lain.
Setelah itu aku masih mencoba dua kali lagi.
Hasilnya tidak jauh berbeda.
Jadi ketika umurku melewati tiga puluh delapan, aku mulai berhenti menjelaskan apa pun kepada orang lain.
Aku bekerja sebagai staf administrasi di sebuah distributor alat kesehatan di Solo. Penghasilanku cukup untuk hidup sendiri, membantu Ibu, dan menyisihkan sedikit tabungan. Ayah sudah meninggal bertahun-tahun lalu, jadi hanya aku dan Ibu yang tinggal di rumah kecil peninggalannya.
Ibu tidak pernah memaksaku secara kasar.
Justru itu yang membuat rasa bersalahku kadang lebih berat.
Setiap selesai menghadiri pernikahan anak tetangga, Ibu biasanya hanya berkata, “Ibu sebenarnya tidak butuh apa-apa lagi. Cuma ingin lihat kamu punya teman hidup sebelum Ibu terlalu tua.”
Aku biasanya menjawab dengan bercanda.
“Teman hidup tidak bisa dipesan seperti galon, Bu.”
Ibu tertawa, tetapi wajahnya selalu berubah setelah itu.
Sampai suatu malam ia menyebut nama Bima.
Rumah Bima hanya berjarak beberapa bangunan dari rumah kami. Dia lima tahun lebih tua dariku dan tinggal bersama ibunya, Bu Marni.
Sejak remaja, kaki kanannya tidak pernah benar-benar pulih setelah kecelakaan ketika usianya tujuh belas tahun. Ia masih bisa berjalan dan bekerja, tetapi langkahnya timpang. Kalau berdiri terlalu lama, bahunya akan sedikit condong ke satu sisi karena menahan berat tubuh.
Bima membuka jasa servis televisi, kipas angin, radio, dan peralatan elektronik kecil dari bagian depan rumahnya.
Orangnya pendiam.
Kalau bertemu denganku di depan gang, paling dia hanya mengangguk atau bertanya, “Baru pulang, Ratih?”
Aku juga biasanya menjawab singkat.
“Iya.”
Lalu selesai.
Aku tahu dari tetangga bahwa dia belum pernah menikah.
Aku juga beberapa kali mendengar orang mengatakan Bima sudah menyukaiku sejak lama.
Aku tidak pernah benar-benar memercayainya.
Menurutku itu hanya kebiasaan orang kampung menghubungkan dua orang dewasa yang sama-sama belum menikah.
Namun malam itu Ibu berkata serius.
“Kalau Bima bagaimana?”
Aku yang sedang melipat pakaian berhenti.
“Bagaimana apanya?”
“Kalau kamu menikah sama dia.”
Aku sampai tertawa karena mengira Ibu sedang bercanda.
Ibu tidak ikut tertawa.
“Dia orang baik. Tidak pernah macam-macam. Kerja juga jelas. Memang jalannya begitu karena kecelakaan, tapi apa salahnya?”
Aku menatap pakaian di tanganku.
“Bu, menikah bukan cuma soal orangnya baik.”
“Ibu tahu.”
“Terus?”
Ibu terdiam beberapa detik.
“Dia sayang sama kamu.”
Aku menoleh.
“Bima bilang begitu?”
“Tidak pernah langsung. Tapi orang bisa kelihatan dari caranya.”
Aku mengembuskan napas.
Aku tidak tersinggung karena kondisi kaki Bima. Hanya saja, di dalam kepalaku saat itu, aku merasa sedang diminta memilih jalan yang tidak pernah benar-benar kupikirkan.
Aku bahkan malu dengan pikiran yang muncul.
Empat puluh tahun.
Mau menunggu siapa lagi?
Orang baik ada di depan mata. Tidak minum, tidak suka keluyuran, bekerja setiap hari, dan merawat ibunya.
Apa lagi yang kucari?
Beberapa hari kemudian, Ibu membicarakannya lagi.
Kali ini ia berkata bahwa Bu Marni juga tidak keberatan kalau keluarga kami mulai bicara serius.
Aku akhirnya bertanya, “Bimanya sendiri bagaimana?”
Ibu menjawab, “Katanya kalau kamu bersedia, dia mau.”
Kalimat itu justru membuatku lebih lama diam.
Bukan karena tersentuh.
Aku merasa seperti sedang berdiri di depan pintu yang sudah dibuka orang lain, lalu semua orang menunggu apakah aku akan masuk.
Pada suatu sore ketika hujan turun dari siang dan halaman rumah berubah gelap lebih cepat, aku berkata kepada Ibu, “Kalau memang Bima serius, suruh dia datang sendiri.”
Ibu menatapku lama.
“Maksudmu?”
“Aku mau bicara langsung.”
Bima datang malam berikutnya.
Dia mengenakan kemeja lengan pendek yang mungkin paling rapi yang dimilikinya. Rambutnya masih sedikit basah. Saat masuk ruang tamu, langkah pincangnya tampak lebih jelas karena dia terlihat tegang.
Ibu sengaja masuk ke dapur setelah menyuguhkan teh.
Kami duduk berhadapan.
Aku tidak ingin menghabiskan waktu dengan basa-basi.
“Kamu memang mau menikah denganku?”
Bima menatapku, lalu mengangguk.
“Iya.”
“Kenapa?”
Pertanyaan itu membuatnya terdiam.
Aku menunggu.
Akhirnya dia berkata, “Karena aku sudah lama suka sama kamu.”
Tidak ada kata-kata romantis setelahnya.
Tidak ada cerita bahwa aku perempuan tercantik yang pernah dikenalnya.
Dia hanya mengucapkan kalimat itu sambil melihat meja.
Aneh, tapi justru karena sederhana, aku mempercayainya.
“Kenapa tidak pernah bilang?”
Bima tersenyum tipis.
“Aku tahu diri.”
Aku langsung memahami maksudnya.
Mataku sempat jatuh ke kaki kanannya.
Bima melihat arah pandangku, tetapi wajahnya tidak berubah.
“Aku tidak menyalahkan siapa pun kalau punya pertimbangan,” katanya. “Nikah itu panjang.”
Aku merasa sedikit malu.
“Aku tidak bilang aku keberatan soal kakimu.”
“Aku tahu.”
Kami kembali diam.
Lalu aku bertanya sesuatu yang sebenarnya lebih kutujukan kepada diriku sendiri.
“Kalau aku bilang iya sekarang, kamu tidak akan tanya apakah aku cinta atau tidak?”
Dia menatapku kali ini.
“Aku tentu ingin istriku sayang sama aku.”
“Terus?”
“Tapi perasaan tidak bisa diminta muncul sebelum waktunya.”
Jawaban itu terus teringat sampai berhari-hari.
Akhirnya aku setuju.
Pernikahan kami sederhana.
Tidak ada pesta besar. Tidak ada gedung. Hanya keluarga, beberapa tetangga, dan hidangan yang disiapkan bersama di rumah.
Aku bahkan tidak mengenakan gaun pengantin seperti yang dulu pernah kubayangkan ketika berusia dua puluh lima.
Anehnya, aku tidak sedih.
Aku hanya merasa sangat sadar bahwa keputusan itu sungguh terjadi.
Selepas semua tamu pulang, Ibu memelukku lebih lama daripada biasanya.
“Kamu akan baik-baik saja,” bisiknya.
Aku tersenyum supaya dia tenang.
Malam itu aku tidur di rumah Bima untuk pertama kalinya.
Kamarnya bersih dan sederhana. Ada meja kerja kecil di sudut, lemari kayu tua, serta beberapa buku manual elektronik ditumpuk rapi dekat jendela.
Aku duduk di atas kasur sambil masih mengenakan pakaian panjang yang kupakai setelah acara selesai.
Jantungku berdetak jauh lebih keras daripada seharusnya.
Aku seorang perempuan empat puluh tahun.
Seharusnya aku tidak segugup ini.
Tetapi mengetahui teori tentang pernikahan tidak berarti aku tahu bagaimana menjalani malam pertama dengan laki-laki yang selama ini bahkan hampir tidak pernah berbicara lebih dari dua menit denganku.
Dari luar terdengar hujan menimpa atap bagian belakang rumah.
Beberapa menit kemudian pintu terbuka.
Bima masuk membawa segelas air.
Langkahnya terdengar pelan.
Dia menyerahkan gelas itu kepadaku.
“Minum dulu.”
Aku menerima gelas tersebut dengan kedua tangan.
“Kamu kelihatan tegang sekali,” katanya.
Aku hampir tersedak.
“Kamu juga.”
Bima tertawa kecil.
Itu mungkin pertama kalinya malam itu kami sama-sama sedikit santai.
Setelah aku selesai minum, dia meletakkan gelas di meja.
Kemudian dia berjalan menuju sisi kasur, menarik bagian selimut dengan hati-hati, mematikan lampu utama, dan menyisakan lampu kecil dekat meja.
Dia duduk di tepi kasur.
Ruangan kembali sunyi.
Aku bisa mendengar hujan, suara kipas, dan napasku sendiri.
Tanganku tanpa sadar menggenggam ujung selimut.
Bima tidak mengatakan apa-apa.
Aku juga tidak tahu harus memulai dari mana.
Beberapa detik terasa sangat panjang.
Akhirnya aku merebahkan badan dan menarik selimut sampai ke dada.
Bima bergerak di sebelahku.
Aku memejamkan mata rapat-rapat.
Jantungku mulai berdegup tidak beraturan, menunggu sesuatu yang bahkan tidak sanggup kubayangkan dengan jelas.
Antara gugup, malu, dan takut, aku hanya bisa diam.
Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇
Bagian 2
Hampir satu menit berlalu.
Tidak terjadi apa-apa.
Aku membuka satu mata.
Bima justru sedang menurunkan sebuah kasur tipis yang sudah dilipat di dekat lemari.
“Apa yang kamu lakukan?”
Dia berhenti.
“Tidur.”
“Di situ?”
“Iya.”
Aku langsung duduk.
“Kenapa?”
Bima tampak salah tingkah. “Kamu ketakutan begitu. Masa aku pura-pura tidak lihat?”
“Aku bukan takut sama kamu.”
“Tanganmu sampai gemetar.”
Aku tidak bisa membantah.
Dia menggelar kasur tipis di lantai.
“Tidurlah. Besok kita sudah capek lagi.”
Aku menatapnya, bingung.
“Kita baru menikah.”
“Aku tahu.”
“Terus kamu tidur di lantai?”
Bima duduk dan melepas sandal rumahnya.
“Ratih, kamu menerima pernikahan ini setelah ibumu berkali-kali bicara. Kita bahkan belum pernah pacaran.”
Aku tidak menyangka dia mengetahui itu.
Dia melanjutkan, lebih pelan, “Aku senang kamu mau menikah denganku. Tapi aku tidak mau mengambil apa pun hanya karena sekarang secara status kamu istriku.”
Aku menunduk.
Kalimatnya tidak terdengar seperti kata-kata indah. Bima malah terlihat kikuk ketika mengucapkannya.
Mungkin justru itu yang membuat tenggorokanku terasa berat.
Ketika dia hendak menarik selimut tipis untuk dirinya, aku refleks membantu mengangkat selimut besar dari ujung tempat tidur.
Saat itulah aku melihat kaki kanannya dengan jelas.
Sepanjang aku mengenal Bima, dia selalu memakai celana panjang.
Malam itu untuk pertama kalinya aku melihat bekas luka tua yang memanjang dari bawah lutut. Di samping kasur terdapat penyangga kaki ringan yang rupanya biasa dia pakai kalau harus berdiri lama.
Aku menatap terlalu lama.
Bima menyadarinya.
“Jelek, ya?”
Aku langsung menggeleng.
“Bukan.”
“Sudah lama.”
“Masih sakit?”
“Kalau kecapekan.”
Aku baru tahu.
Selama ini aku hanya mengenal kalimat sederhana yang diucapkan orang: kaki Bima cacat karena kecelakaan.
Tidak ada yang pernah membicarakan rasa sakit yang kadang masih datang atau alasan dia selalu menutup toko beberapa menit untuk duduk setelah bekerja terlalu lama.
Aku merasa malu karena sebelum menikah, aku sempat menganggap diriku orang yang sedang “menerima kekurangannya”.
Padahal aku bahkan belum tahu apa yang sebenarnya harus diterima.
Malam itu tidak ada sesuatu yang dramatis.
Kami tidur terpisah.
Pagi harinya justru aku yang bangun lebih dulu dan mendapati Bima sudah membuka pintu depan bengkel kecilnya.
Bu Marni sedang membuat teh di dapur.
Aku membantu menyiapkan sarapan.
Saat mencari gunting di laci meja, aku melihat selembar bukti transfer terlipat di bawah kantong obat Bu Marni.
Aku sebenarnya tidak berniat membaca.
Namun nama pengirimnya membuat tanganku berhenti.
Sulastri.
Nama ibuku.
Jumlahnya Rp28.000.000.
Tanggal transfernya dua hari sebelum kami menikah.
Aku membaca sekali lagi untuk memastikan.
Bu Marni yang baru masuk dapur langsung melihat kertas itu di tanganku.
Wajahnya berubah.
“Ratih…”
“Ini uang apa, Bu?”
Tidak ada jawaban.
Aku berdiri.
“Kenapa Ibu saya transfer dua puluh delapan juta ke rekening Ibu?”
Bu Marni mengambil kursi lalu duduk perlahan.
“Ratih, jangan salah paham.”
Kalimat itu justru membuat pikiranku berlari ke mana-mana.
Bima masuk ketika mendengar suara kami.
“Ada apa?”
Aku menyerahkan bukti transfer itu kepadanya.
Dia membaca.
Keningnya berkerut.
“Ibu?”
Bu Marni menunduk.
Bima bertanya lagi, kali ini lebih keras.
“Ibu terima uang dari Bu Sulastri?”
“Ibu mau bilang.”
“Kapan?”
Bu Marni tidak menjawab.
Aku menatap Bima.
Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, muncul pikiran yang membuat perutku terasa dingin.
Jangan-jangan bukan hanya aku yang didorong menuju pernikahan ini.
Jangan-jangan ada kesepakatan lain yang tidak kuketahui.
“Apa kamu tahu soal ini?” tanyaku.
Bima langsung menatapku.
“Tidak.”
Aku ingin percaya.
Tetapi dua puluh delapan juta bukan uang yang bisa kuabaikan begitu saja.
“Apa uang itu ada hubungannya sama pernikahan kami?”
Bu Marni menutup matanya sebentar.
Lalu ia berkata pelan, “Ibumu membantu melunasi sisa pinjaman yang dulu Ibu ambil waktu Bima mulai buka tempat servis.”
Bima berdiri membeku.
Aku belum sempat bertanya lagi ketika Bu Marni menambahkan satu kalimat.
“Bu Sulastri bilang jangan memberi tahu kalian dulu. Katanya kalau Ratih tahu sebelum menikah, Ratih pasti membatalkan semuanya.”
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Aku tidak langsung marah.
Justru selama beberapa detik kepalaku kosong.
Ada hal-hal yang terlalu aneh untuk langsung menghasilkan emosi.
Bima masih memegang bukti transfer itu.
“Ibu pakai uangnya buat bayar pinjaman?”
Bu Marni mengangguk.
“Sudah.”
“Kapan?”
“Sehari sebelum kalian menikah.”
Bima menarik kursi di depannya lalu duduk.
Berbeda denganku yang pikirannya berantakan, wajah Bima justru menjadi sangat tenang.
Aku kemudian tahu, kalau dia benar-benar marah, suaranya malah semakin rendah.
“Kenapa Ibu tidak bilang ke saya?”
Bu Marni mulai membela diri.
“Karena kamu pasti menolak.”
“Berarti Ibu tahu saya akan keberatan.”
“Ibumu ini cuma ingin membantu.”
“Dengan uang ibunya Ratih?”
“Bu Sulastri sendiri yang menawarkan.”
Bima mengusap wajah.
Aku menatap mereka bergantian.
“Bu Marni,” kataku, “Ibu saya bilang apa sebenarnya waktu memberi uang itu?”
Bu Marni tidak segera menjawab.
“Tidak apa-apa. Saya cuma mau tahu.”
Akhirnya dia mengembuskan napas panjang.
Beberapa tahun sebelumnya, ketika Bima mulai memperbaiki bagian depan rumah menjadi tempat servis, Bu Marni meminjam uang dari koperasi. Sebagian digunakan untuk membeli peralatan dan mengganti instalasi listrik, sebagian lagi untuk memperbaiki atap yang bocor.
Pinjaman itu atas nama Bu Marni.
Bima yang kemudian membayar angsurannya tiap bulan dari penghasilan servis.
Masih tersisa hampir tiga puluh juta.
Beberapa minggu sebelum pernikahan, Ibu rupanya menanyakan keadaan keuangan mereka.
Bu Marni, tanpa berpikir panjang, menceritakan pinjaman itu.
Kemudian Ibu menawarkan bantuan.
“Apa persisnya kata Ibu saya?” tanyaku.
Bu Marni tampak tidak nyaman.
“Katanya setelah kalian menikah, Bima harus memikirkan rumah tangga. Jadi lebih baik utang lama dibereskan.”
“Itu saja?”
Bu Marni kembali diam.
Bima menatap ibunya.
“Ibu.”
Perempuan tua itu akhirnya berkata, “Dia juga bilang… dia tidak mau ada alasan dari pihak sini untuk mundur.”
Dadaku terasa sesak.
“Alasan untuk mundur?”
“Ibumu takut kalian berubah pikiran.”
Aku tertawa kecil, tetapi sama sekali tidak lucu.
Jadi Ibu bukan hanya mengatur perkenalan.
Dia sampai mengeluarkan uang agar tidak ada yang mundur.
Aku meninggalkan dapur.
Bima memanggilku sekali.
Aku tidak berhenti.
Aku berjalan kembali ke kamar, mengambil ponsel, lalu menelepon Ibu.
Dia mengangkat pada dering kedua.
“Sudah sarapan?”
“Bu, Ibu transfer dua puluh delapan juta ke Bu Marni?”
Sunyi.
Aku sudah mendapatkan jawabannya bahkan sebelum dia berbicara.
“Kamu tahu dari mana?”
Aku memejamkan mata.
“Berarti benar.”
“Ratih, dengar dulu.”
“Kenapa?”
Ibu mulai menjelaskan cepat.
Katanya uang itu bukan pembayaran agar Bima menikahiku. Bukan mahar tersembunyi. Bukan pula uang yang diminta keluarga Bima.
Ibu sendiri yang menawarkan.
Menurutnya, ia hanya ingin membantu keluarga yang sebentar lagi menjadi keluarga besan.
“Kamu kan punya tabungan sendiri. Ibu juga punya sedikit tabungan dari uang pensiun almarhum bapakmu. Itu uang Ibu.”
“Bukan soal uang siapa.”
“Terus apa?”
“Kenapa disembunyikan?”
Ibu diam.
“Kenapa Ibu bilang ke Bu Marni jangan kasih tahu aku?”
“Karena Ibu tahu kamu gampang berpikir macam-macam.”
Aku hampir tidak percaya mendengarnya.
“Jadi supaya aku tidak berpikir macam-macam, Ibu malah melakukan sesuatu diam-diam?”
“Ratih, Ibu cuma ingin pernikahanmu berjalan.”
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada yang kukira.
“Apa Ibu pikir aku tidak mungkin menikah kalau tidak dibantu sampai begini?”
“Jangan bicara begitu.”
“Lalu apa?”
Suara Ibu mulai bergetar.
“Kamu sudah empat puluh tahun.”
Aku terdiam.
Itulah inti semuanya.
Bukan uang.
Bukan Bima.
Umurku.
Angka yang selama beberapa tahun terakhir seperti ikut duduk di meja makan bersama kami.
“Ibu takut,” katanya.
“Takut apa?”
“Takut kamu sendirian.”
“Aku memang sendirian selama ini.”
“Sekarang Ibu masih ada.”
Aku tidak menjawab.
Ibu melanjutkan, “Kalau nanti Ibu tidak ada bagaimana?”
Aku memahami ketakutannya.
Tapi memahami tidak membuat tindakannya menjadi benar.
“Jadi Ibu pikir kalau perlu sedikit mendorong orang, sedikit menyembunyikan sesuatu, tidak apa-apa?”
“Bima itu baik.”
“Aku tidak sedang bilang Bima jahat.”
“Terus masalahnya apa?”
“Masalahnya Ibu membuat pernikahanku seperti proyek yang harus berhasil.”
Di ujung telepon terdengar isakan kecil.
Biasanya itu cukup membuatku mengalah.
Pagi itu tidak.
“Aku tutup dulu, Bu.”
“Ratih…”
“Aku perlu bicara sama suamiku.”
Itulah pertama kalinya aku menyebut Bima sebagai suamiku tanpa merasa kata itu aneh.
Aku menutup telepon.
Ketika berbalik, Bima berdiri di pintu kamar.
Entah sudah berapa lama dia berada di sana.
Dia tidak masuk sebelum aku mengangguk.
“Aku benar-benar tidak tahu,” katanya.
“Aku ingin percaya.”
“Tapi belum bisa?”
Aku menggeleng pelan.
“Bukan begitu. Aku cuma tidak tahu apa lagi yang tidak kuketahui.”
Dia duduk di kursi, bukan di sampingku.
“Aku juga baru tahu soal uang itu.”
“Kalau kamu tahu sebelumnya?”
“Aku akan suruh Ibu menolak.”
“Karena harga diri?”
Bima berpikir sebelum menjawab.
“Karena itu urusan yang seharusnya dibicarakan dengan kita.”
Jawaban itu membuatku menatapnya.
Dia tidak berbicara tentang dirinya sendiri.
Dia berbicara tentang kami.
“Aku bisa bayar kembali,” katanya.
“Dua puluh delapan juta?”
“Tidak sekaligus.”
“Kamu punya uang sebanyak itu?”
“Tidak.”
Untuk pertama kalinya pagi itu aku hampir tersenyum.
Setidaknya dia tidak berusaha terdengar hebat.
Bima menjelaskan bahwa tabungannya tidak banyak. Penghasilan jasa servis juga tidak tetap. Pada bulan ramai, terutama ketika banyak orang memperbaiki televisi atau peralatan rumah tangga, penghasilannya lumayan. Pada bulan sepi, jauh berkurang.
“Tapi utang itu memang selama ini aku yang cicil,” katanya. “Kalau sekarang sudah dibayar ibumu, berarti secara moral aku tetap punya kewajiban mengembalikannya.”
“Ibu mungkin tidak akan mau.”
“Itu masalah nanti.”
“Kamu tidak perlu melakukan itu untuk membuktikan sesuatu ke aku.”
Bima menatapku.
“Bukan untuk kamu.”
Aku menunggu.
“Untuk aku sendiri.”
Aku tidak membantah lagi.
Siang itu Bima menutup tempat servis lebih awal.
Bu Marni beberapa kali mencoba mengajakku makan, tetapi suasana di rumah sudah terlalu tegang.
Akhirnya kami bertiga duduk di ruang tengah.
Bima meminta ibunya menceritakan semua komunikasi dengan Ibu sejak pembicaraan pernikahan kami dimulai.
Tidak ada rahasia besar lain.
Tidak ada kesepakatan soal rumah.
Tidak ada janji bahwa penghasilanku akan dipakai untuk usaha.
Tidak ada permintaan agar aku menanggung biaya Bu Marni.
Namun tetap ada satu hal yang menggangguku.
Bu Marni mengaku pernah berkata kepada Ibu bahwa dia sangat berharap Bima menikah karena khawatir setelah dirinya meninggal, anaknya akan hidup sendirian.
Ibu kemudian menjawab bahwa ia juga mempunyai kekhawatiran yang sama tentangku.
Dua perempuan tua yang sama-sama takut meninggalkan anak mereka sendirian rupanya memutuskan bahwa solusi paling masuk akal adalah menyatukan kami.
Mungkin niat mereka tidak jahat.
Tetapi tetap saja, kami bukan dua kursi kosong yang bisa dipindahkan supaya sebuah ruangan terlihat lengkap.
“Aku minta maaf,” kata Bu Marni.
Aku menatapnya.
Dia melipat kedua tangannya di pangkuan.
“Ibu memang ingin Bima punya keluarga. Waktu Bu Sulastri menawarkan bayar utang, Ibu pikir… setelah kalian menikah nanti uang Bima bisa dipakai untuk rumah tangganya, tidak habis untuk cicilan lama.”
“Itu masuk akal kalau kami tahu,” jawabku.
Bu Marni mengangguk.
“Iya.”
Bima berkata, “Mulai sekarang kalau ada urusan tentang saya atau Ratih, jangan bicara lewat belakang.”
Bu Marni terlihat tersinggung.
“Ibu ini ibumu.”
“Justru karena Ibu ibu saya, saya bilang langsung.”
Aku memperhatikan mereka.
Aku sudah mengenal Bima sebagai laki-laki pendiam.
Hari itu aku memahami bahwa diam tidak selalu berarti tidak punya batas.
Bu Marni tidak langsung menerima.
Dia sempat berkata, “Baru menikah sehari sudah mengatur Ibu.”
Bima tidak menaikkan suara.
“Saya tidak mengatur. Saya bilang urusan pernikahan saya jangan diputuskan orang lain.”
Setelah itu Bu Marni bangkit dan masuk kamar.
Aku tidak merasa menang.
Tidak ada yang menang.
Hanya ada sebuah keluarga baru yang pada hari pertamanya sudah terpaksa belajar di mana batas masing-masing berada.
Malam kedua setelah pernikahan, Bima kembali menggelar kasur tipis di lantai.
Aku memperhatikannya beberapa detik.
“Kamu mau tidur di bawah terus?”
Dia berhenti.
“Sampai kamu tidak takut.”
“Aku tidak takut.”
“Kemarin tanganmu gemetar.”
“Aku tegang.”
“Bedanya tipis.”
Aku tidak bisa menahan tawa.
Dia ikut tersenyum.
Lalu aku bertanya, “Selama ini kamu memang suka aku?”
“Iya.”
“Sejak kapan?”
Bima berpikir.
“Lama.”
“Lama itu berapa tahun?”
“Kalau aku jawab, kamu mungkin malah takut lagi.”
Aku mengambil bantal kecil lalu melemparkannya kepadanya.
Dia menangkapnya.
Untuk pertama kalinya setelah menikah, kami tertawa seperti dua orang yang tidak sedang melaksanakan kewajiban apa pun.
Beberapa hari berikutnya terasa aneh.
Kami sudah sah sebagai pasangan, tetapi justru seperti baru mulai berkenalan.
Pagi-pagi aku berangkat bekerja seperti biasa.
Bima membuka tempat servisnya.
Kalau aku pulang sore, kadang dia sudah membantu Bu Marni menyiapkan makan. Kadang aku yang memasak. Kadang kami membeli makanan karena sama-sama lelah.
Aku mulai mengetahui kebiasaan-kebiasaan kecilnya.
Bima tidak suka suara televisi terlalu keras.
Dia hafal letak hampir semua barang di rumah tetapi sering lupa menaruh kunci motornya sendiri.
Kalau kakinya sakit, dia tidak mengeluh. Dia hanya duduk lebih lama sambil memijat bagian bawah lutut.
Aku juga mulai melihat bagaimana dia memperlakukanku ketika tidak ada orang lain yang menonton.
Tidak ada usaha untuk menjadi suami sempurna.
Kalau aku pulang terlambat, dia hanya bertanya apakah aku sudah makan.
Kalau aku mengatakan belum, dia menghangatkan makanan tanpa membuatnya menjadi cerita tentang pengorbanannya.
Hal-hal kecil seperti itu perlahan mengubah sesuatu di dalam diriku.
Namun masalah dengan Ibu belum selesai.
Tiga hari setelah pernikahan, aku pulang ke rumah lama untuk mengambil beberapa pakaian.
Ibu sudah menungguku.
Di meja ruang tamu ada teh dan pisang goreng.
Persis seperti setiap kali kami pernah bertengkar kecil.
Aku tahu pola itu.
Ibu juga tahu aku tahu.
“Kamu masih marah?” tanyanya.
“Aku tidak tahu.”
“Uangnya memang uang Ibu.”
“Aku sudah bilang bukan itu masalahnya.”
Ibu terlihat lelah.
“Kamu mau Ibu bagaimana?”
Aku duduk.
“Kenapa Ibu begitu takut aku tidak menikah?”
Pertanyaanku membuatnya diam cukup lama.
Akhirnya Ibu berkata, “Karena hidup perempuan sendiri itu tidak gampang.”
“Aku sudah hidup sendiri bertahun-tahun.”
“Sekarang ada Ibu.”
Aku melihatnya.
Ibu menatap meja.
“Waktu bapakmu meninggal, banyak hal yang Ibu tidak tahu harus bagaimana. Urusan rumah, uang, sakit, keputusan. Kalau ada kamu, Ibu punya teman bicara.”
“Jadi Ibu takut aku tidak punya itu nanti.”
Dia mengangguk.
Aku bisa memahami.
Tetapi kemudian aku bertanya, “Kalau aku menikah dengan orang yang salah hanya karena takut sendiri, apa itu lebih baik?”
Ibu langsung menggeleng.
“Bima bukan orang yang salah.”
“Mungkin bukan. Tapi itu harus jadi kesimpulanku sendiri.”
Ibu tidak menjawab.
Aku melanjutkan, “Dan jangan pernah lagi mengatur sesuatu tentang rumah tanggaku lewat Bu Marni. Kalau ada yang mau Ibu bantu, bilang ke aku dan Bima. Jangan diam-diam.”
Ibu menghela napas.
“Kamu sekarang sudah membela suami.”
“Bukan.”
Aku menatapnya.
“Aku sedang membela hak kami untuk tahu apa yang terjadi pada hidup kami sendiri.”
Kalimat itu membuat Ibu terdiam.
Beberapa menit kemudian ia bertanya, “Bima marah?”
“Iya.”
“Sama kamu?”
“Sama Ibu dan Bu Marni.”
Wajah Ibu berubah.
Aku hampir tertawa melihat keterkejutannya.
Mungkin selama ini Ibu membayangkan Bima akan selalu diam karena orangnya pendiam.
Aku mengambil pakaian dan pulang.
Seminggu kemudian, Bima membuat sebuah buku catatan kecil.
Di halaman pertama ia menulis:
Utang kepada Bu Sulastri: Rp28.000.000.
Aku melihatnya dari meja makan.
“Apa itu?”
“Catatan pembayaran.”
“Kamu serius?”
“Iya.”
Dia menunjukkan bahwa mulai bulan berikutnya dia akan mengirim sejumlah tertentu ke rekening Ibu.
Tidak selalu sama.
Minimal satu juta rupiah, kalau penghasilan bagus bisa dua juta.
Aku langsung berkata, “Jangan sampai kebutuhan rumah terganggu.”
“Makanya tidak sekaligus.”
“Dan jangan pakai uangku.”
Dia menoleh.
“Aku tidak pernah bilang mau pakai uangmu.”
Aku sadar kalimatku terdengar defensif.
“Maaf.”
“Tidak apa-apa.”
Aku duduk di seberangnya.
“Bima, kalau nanti kita memang punya pengeluaran bersama, kita perlu bicara soal uang.”
“Iya.”
Hari itu kami membahas keuangan untuk pertama kalinya.
Penghasilanku lebih stabil daripada penghasilannya.
Bima ternyata memiliki tabungan sendiri, meskipun tidak banyak. Ia juga ikut membayar listrik, belanja rumah, obat ibunya, dan kebutuhan tempat servis.
Kami sepakat belum perlu membuat rekening bersama.
Untuk sementara, masing-masing tetap memegang rekening sendiri dan mencatat pengeluaran rumah.
Bukan romantis.
Tetapi justru percakapan seperti itu membuat pernikahan kami terasa mulai nyata.
Sebulan setelah menikah, ada satu kejadian yang membuatku sadar aku belum sepenuhnya lepas dari rasa malu terhadap alasan awal pernikahan kami.
Kami menghadiri ulang tahun seorang kerabat.
Seorang tante yang sudah lama tidak bertemu denganku menarik tanganku lalu berbisik, cukup keras sehingga beberapa orang lain mendengar.
“Baguslah akhirnya menikah juga. Yang penting ada yang menemani. Soal kondisi suami kan bisa dimaklumi.”
Aku membeku.
Bima berdiri tidak jauh dari situ.
Aku tidak tahu apakah dia mendengar.
Tante itu melanjutkan, “Daripada pilih-pilih sampai tua.”
Dulu mungkin aku akan tersenyum saja.
Hari itu entah mengapa aku tidak bisa.
“Tante,” kataku, “saya menikah sama Bima bukan karena tidak ada pilihan.”
Dia terlihat kaget.
Aku sendiri juga kaget.
“Tante cuma bercanda.”
“Aku tahu. Tapi jangan bicara soal kakinya seperti dia barang yang aku terima karena sudah kehabisan pilihan.”
Ruangan di sekitar kami terasa sedikit lebih sunyi.
Aku tidak menunggu jawaban.
Aku berjalan menuju Bima.
Dalam perjalanan pulang, dia tidak mengatakan apa-apa sampai motor kami berhenti di depan rumah.
Kemudian dia bertanya, “Kamu tadi bohong?”
Aku menoleh.
“Bohong apa?”
“Katamu bukan karena tidak ada pilihan.”
Aku terdiam.
Dia membuka helm.
Aku tahu dia tidak sedang mencari jawaban manis.
Jadi aku memberinya jawaban sebenarnya.
“Waktu aku setuju menikah, sebagian karena aku capek.”
Bima mengangguk pelan.
“Aku tahu.”
“Aku pikir umurku sudah empat puluh. Aku pikir mungkin aku harus berhenti menunggu sesuatu yang sempurna.”
Dia tetap diam.
Aku melanjutkan, “Dan iya, dulu aku sempat melihat kondisi kakimu sebagai bagian dari sesuatu yang harus aku terima.”
Wajahku panas ketika mengatakannya.
“Tapi sekarang?”
Aku melihat pintu tempat servis, kursi kecil yang biasa dipakainya ketika kaki kanannya mulai nyeri, dan kotak peralatan yang selalu ditata rapi.
“Sekarang aku malu pernah berpikir begitu.”
Bima tidak langsung menjawab.
Lalu dia berkata, “Tidak usah malu.”
“Tapi itu jahat.”
“Bukan jahat. Kamu memang belum kenal aku.”
Aku menatapnya.
Dia tersenyum tipis.
“Sekarang juga belum terlalu kenal.”
Aku tertawa.
“Benar.”
Malam itu, untuk pertama kalinya, kasur tipis di lantai tetap terlipat.
Tidak ada adegan dramatis.
Tidak ada hujan deras.
Tidak ada ketakutan seperti malam pertama.
Aku hanya berkata sebelum tidur, “Tidak usah tidur di bawah lagi.”
Bima menatapku cukup lama.
“Kamu yakin?”
Aku mengangguk.
Dan dia tetap bertanya sekali lagi sebelum mematikan lampu.
Bulan-bulan berikutnya tidak berubah menjadi kehidupan sempurna.
Kami pernah bertengkar.
Aku pernah kesal karena Bima menerima terlalu banyak pekerjaan sampai kakinya sakit.
Dia pernah jengkel karena aku terlalu mudah mengatakan iya saat Ibu meminta bantuan, lalu mengeluh setelahnya.
Bu Marni juga butuh waktu untuk menerima bahwa setelah anaknya menikah, ia tidak bisa lagi mengetahui semua keputusan kami.
Suatu kali dia menyuruhku memberikan sebagian gajiku kepada Bima agar “uang keluarga lebih gampang diatur”.
Aku menjawab, “Kami sudah punya cara sendiri, Bu.”
Dia sempat cemberut dua hari.
Bima tidak memaksaku meminta maaf.
Dia hanya berkata kepada ibunya, “Soal rekening kami tidak perlu dibahas lagi.”
Sedikit demi sedikit, batas yang awalnya terasa kasar justru membuat hubungan kami lebih tenang.
Ibu juga berubah, meskipun perlahan.
Pembayaran pertama Bima sebesar Rp1.500.000 dikirim kepadanya sebulan setelah pernikahan.
Ibu langsung meneleponku.
“Suruh Bima berhenti. Ibu tidak mau uang itu.”
“Bicara sama dia.”
“Dia suamimu.”
“Justru karena itu. Itu keputusan dia.”
Akhirnya Ibu menelepon Bima sendiri.
Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi pembayaran tetap berjalan.
Tidak selalu satu setengah juta.
Pernah hanya Rp800.000 ketika tempat servis sepi.
Pernah Rp2.500.000 ketika Bima mendapat pekerjaan memperbaiki beberapa perangkat milik sebuah kos-kosan.
Ibu kemudian berhenti protes.
Bima menyimpan semua bukti transfer.
“Kenapa rapi sekali?” tanyaku suatu malam.
“Supaya nanti tidak ada yang lupa.”
“Kamu kira Ibu akan menagih?”
“Bukan.”
Dia menutup buku catatan.
“Supaya masalah ini benar-benar selesai, bukan cuma dianggap selesai.”
Aku memahami maksudnya.
Luka dalam keluarga sering bertahan bukan karena jumlah uangnya besar, tetapi karena semua orang merasa ingatannya paling benar.
Enam bulan setelah pernikahan kami, tersisa sekitar Rp18 juta yang masih akan Bima kembalikan.
Aku tidak tahu kapan tepatnya lunas.
Dan ternyata itu tidak penting.
Yang lebih penting adalah tidak ada lagi uang yang bergerak diam-diam di antara kedua ibu kami.
Kalau Ibu ingin membantu, dia bertanya.
Kalau Bu Marni membutuhkan sesuatu, dia bicara kepada kami.
Tidak selalu menyenangkan.
Tetapi semuanya terlihat.
Pada suatu malam aku pulang lebih cepat dari kantor.
Bima sedang duduk di depan tempat servis sambil memasang kembali penutup belakang sebuah televisi.
Kaki kanannya diluruskan.
Penyangga yang dulu kulihat pada malam pertama terletak di sebelah kursi.
Aku duduk di bangku dekat pintu.
“Sakit?”
“Sedikit.”
“Kenapa tidak berhenti?”
“Ini tinggal pasang baut.”
Aku mengambil obeng dari tangannya.
“Besok.”
“Pelanggan mau ambil pagi.”
“Berarti bangun lebih pagi.”
Bima menatapku.
“Kamu sekarang galak.”
“Sudah dari dulu.”
“Dulu kamu jarang bicara sama aku.”
“Karena dulu kamu cuma tetangga.”
“Sekarang?”
Aku melihatnya.
“Sekarang kamu orang yang kalau sakit tetap pura-pura cuma sedikit.”
Dia tertawa.
Aku membawa kotak peralatannya masuk.
Beberapa menit kemudian dia menyusul dengan langkah timpang yang sama seperti sejak dulu.
Bedanya, sekarang aku tidak lagi melihat langkah itu sebagai alasan aku harus merasa kasihan.
Aku hanya tahu kalau kami pergi terlalu jauh, kami perlu berhenti sebentar.
Kalau dia terlalu banyak berdiri, aku akan mengingatkannya duduk.
Dan kalau aku mulai terlalu banyak memikirkan pendapat orang, dia biasanya mengatakan, “Kalau semua orang harus puas, kita tidak akan pernah selesai.”
Suatu sore, Ibu datang membawa beberapa buah.
Sebelum pulang, dia melihat Bima bekerja di depan rumah.
“Bima,” panggilnya.
Bima menoleh.
Ibu tampak canggung.
“Uang itu… kalau sebenarnya berat, tidak perlu buru-buru.”
Bima membersihkan tangannya.
“Saya tetap bayar, Bu. Tapi sesuai kemampuan.”
Ibu mengangguk.
Kemudian ia berkata, “Ibu dulu salah cara.”
Tidak ada tangisan.
Tidak ada pelukan.
Bima hanya menjawab, “Yang penting jangan diulang.”
Aku yang mendengar dari dalam dapur tersenyum sendiri.
Beberapa menit kemudian Ibu masuk.
“Kamu dengar?”
“Iya.”
“Suamimu keras kepala.”
“Aku tahu.”
Ibu memandangku.
“Kamu bahagia?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi untuk pertama kalinya ia tidak bertanya apakah Bima cukup baik, apakah aku menyesal, atau apakah pernikahan kami berjalan sesuai harapannya.
Dia hanya bertanya kepadaku.
Aku berpikir sebentar.
“Sedang belajar.”
Ibu mengerutkan kening.
“Jawaban apa itu?”
“Jawaban orang menikah.”
Dia tertawa kecil.
Aku ikut tertawa.
Malamnya, aku membuka lemari untuk mengambil selimut.
Kasur tipis yang digunakan Bima pada malam pertama masih tersimpan di bagian paling bawah.
Aku menariknya sedikit.
“Buat apa?” tanya Bima dari tempat tidur.
“Ini masih disimpan?”
“Bisa dipakai kalau ada tamu.”
Aku menatap kasur itu.
Dulu benda tersebut membuatku bingung karena pada malam pertama aku mengira seorang suami pasti akan menuntut haknya.
Sekarang aku tahu benda tipis itulah yang pertama kali menunjukkan kepadaku siapa Bima sebenarnya.
Bukan laki-laki yang harus kuterima karena usiaku sudah empat puluh.
Bukan laki-laki yang harus kukasihani karena langkahnya tidak sempurna.
Dan bukan solusi yang disiapkan dua orang ibu yang sama-sama takut anaknya hidup sendirian.
Dia adalah seseorang yang pada malam ketika dia mempunyai banyak alasan untuk merasa berhak mendekat, justru memilih menjaga jarak karena melihat aku belum siap.
Aku memasukkan kasur tipis itu kembali.
Lalu menutup pintu lemari.
Kali ini aku sendiri yang memutar kuncinya.
Menurutmu, apakah Ratih benar tetap menjalani pernikahan setelah mengetahui kedua ibu mereka ikut mengatur banyak hal di belakangnya?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
