Setelah Ibuku Mengasuh Anak Kami 15 Tahun, Suamiku Menyuruhnya Keluar Agar Orang Tuanya Bisa Menempati Rumah Itu

Avatar penulis
Cerita 01
28 menit baca 1,041 tayangan
Setelah Ibuku Mengasuh Anak Kami 15 Tahun, Suamiku Menyuruhnya Keluar Agar Orang Tuanya Bisa Menempati Rumah Itu
Indeks

Setelah Ibuku Mengasuh Anak Kami 15 Tahun, Suamiku Menyuruhnya Keluar Agar Orang Tuanya Bisa Menempati Rumah Itu

Bagian 1

“Ibu sudah membantu kita lima belas tahun. Sekarang sudah waktunya Ibu pulang dan menikmati masa tua.”

Kalimat itu keluar dari mulut suamiku, Arman, seolah yang sedang ia bicarakan adalah seorang pegawai yang masa kontraknya sudah habis.

Di sampingnya, kedua orang tuanya duduk dengan dua koper besar dan beberapa kardus. Mereka datang ke Bandung pagi itu dengan rencana yang, rupanya, sudah dibicarakan cukup lama tanpa melibatkanku.

Mereka akan tinggal di rumah ini.

Ibuku yang harus pergi.

Setelah Ibuku Mengasuh Anak Kami 15 Tahun, Suamiku Menyuruhnya Keluar Agar Orang Tuanya Bisa Menempati Rumah Itu

Aku menatap Arman cukup lama sampai ia mulai mengorek jahitan sofa dengan ujung kukunya. Kebiasaan itu sudah kukenal sejak tahun-tahun awal pernikahan kami. Setiap kali ia tahu dirinya sedang mengatakan sesuatu yang sulit dipertanggungjawabkan, tangannya selalu mencari benda untuk dikorek.

Tetapi suaranya tetap dibuat tenang.

“Raka sudah lima belas tahun. Dia sudah SMP, sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Ibu juga sudah capek mengurus rumah kita.”

Ia melirik ibuku.

“Bapak dan Ibu kesehatannya mulai menurun. Di kampung fasilitas rumah sakit terbatas. Di sini lebih mudah kalau perlu kontrol.”

Mertuaku, Bu Sulastri, langsung menyambung.

“Betul. Besan kan orang kota, punya pensiun, kenal banyak orang. Kami ini dari desa. Kalau sudah tua, mau bergantung pada siapa selain anak?”

Di atas meja masih ada kantong ubi yang mereka bawa. Tanah kering menempel di plastiknya.

Pagi tadi ibuku baru mengepel lantai tiga kali karena katanya ada bekas minyak dekat dapur. Aroma pembersih beraroma lemon masih terasa, bercampur bau tanah dari kantong ubi itu.

Bu Sulastri mengambil satu potong melon dari piring, lalu berkata lagi, kali ini sambil tersenyum kecil.

“Lagipula rumah ini kan rumah Arman. Masa orang tua kandungnya sendiri tidak boleh menikmati sedikit hasil kerja anaknya?”

Aku hampir tertawa.

Bukan karena lucu.

Aku hanya tidak tahu reaksi apa lagi yang cocok untuk sebuah kebohongan yang diucapkan begitu santai di depan orang yang paling mengetahui kebenarannya.

Ibuku keluar dari dapur membawa sepiring buah.

Usianya sudah lewat enam puluh. Punggungnya mulai sedikit membungkuk. Di balik kaus tipisnya tampak ujung tiga koyo untuk nyeri otot yang menempel di punggung bawah.

Lima belas tahun menggendong cucu, memasak, menyapu, mencuci, mengantar sekolah, menjaga saat demam, dan mengurus rumah ini tidak berlalu tanpa meninggalkan bekas.

Ibuku meletakkan piring itu di meja.

“Tidak berlebihan.”

Semua orang melihatnya.

Ia menatap Bu Sulastri.

“Besan benar. Saya memang sudah waktunya pensiun.”

Arman sampai mengangkat kepala.

“Maksud Ibu?”

“Besok saya kosongkan kamar.”

Tidak ada tangisan.

Tidak ada suara tinggi.

Hanya lima kata itu.

Wajah Arman langsung berubah. Bahunya yang sejak tadi tegang turun beberapa sentimeter. Ia bahkan tersenyum.

“Ibu memang paling bisa mengerti keadaan.”

Aku menggenggam ujung bajuku di bawah meja.

Mengerti?

Lima belas tahun lalu, ketika Raka lahir, ibuku bangun sebelum pukul lima untuk membuat makanan untukku karena aku kesulitan menyusui dan hampir tidak tidur.

Ketika Raka masuk TK, ibuku yang mengantarnya.

Ketika aku mulai mendapat proyek lebih besar sebagai estimator konstruksi dan sering harus pulang malam, ibuku yang memastikan anakku sudah makan dan mengerjakan tugas.

Bahkan Arman pernah dirawat seminggu karena batu empedu. Aku sedang menangani tender yang tidak bisa kutinggalkan, dan ibuku yang bolak-balik membawa makanan serta menjaga Raka.

Lampu yang mati, keran yang bocor, seragam sekolah, obat demam, tagihan listrik yang hampir terlambat, tukang yang datang memperbaiki atap, semua hal kecil yang membuat sebuah rumah tetap berjalan biasanya melewati tangan ibuku lebih dulu.

Sekarang Raka dianggap sudah besar.

Tenaga ibuku dianggap sudah tidak diperlukan.

Lalu orang yang selama lima belas tahun menikmati semua itu berkata kepadanya, dengan wajah tanpa malu, bahwa sudah waktunya pulang.

“Arman, kamu…”

Aku sudah hendak berdiri ketika sebuah tangan menutup punggung tanganku.

Tangan ibuku.

Kulitnya kering dan dingin karena baru mencuci piring. Buku-buku jarinya sedikit membesar akibat rematik.

Ia menatapku dan menggeleng pelan.

Hanya sekali.

Aku mengerti.

Sejak kecil, kami punya cara sendiri untuk berbicara tanpa suara.

Dan sebagai orang yang hampir dua puluh tahun bekerja menghitung biaya proyek, aku juga mengenal satu hal dengan sangat baik.

Ada saatnya sebuah pekerjaan tidak lagi layak diteruskan.

Ada saatnya kerugian harus dihentikan sebelum membesar.

Aku menarik napas.

“Baik.”

Arman menoleh kepadaku.

“Kalau semuanya sudah dibicarakan tanpa aku, jalankan saja rencana kalian.”

Untuk sesaat ia tampak curiga.

Aku memang bukan tipe orang yang mudah mengalah.

Tetapi kecurigaan itu hanya berlangsung beberapa detik. Bayangan kehidupan nyaman yang akan ia miliki bersama orang tuanya tampaknya jauh lebih menarik.

Ia bahkan mulai melihat sekeliling ruang tamu.

“Nanti tanaman yang di pojok dipindah saja. Di sana bisa taruh kursi pijat buat Bapak.”

Aku menatap tanaman yang dimaksud.

Ibuku yang menanamnya.

Ibuku juga yang menyiramnya setiap pagi.

Daunnya beberapa hari ini mulai menguning.

Aku tidak tahu apakah kebetulan atau tidak, tetapi malam itu aku merasa tanaman tersebut persis seperti rumah kami.

Masih berdiri.

Masih terlihat utuh.

Namun akarnya sudah mulai ditarik.

Keesokan paginya Arman membawa kedua orang tuanya keluar.

Katanya ingin menunjukkan taman, puskesmas, pasar, dan tempat makan di sekitar kompleks.

Aku tahu alasan sebenarnya.

Ia tidak mau berada di rumah saat ibuku “diusir”.

Sebelum pergi, ia berhenti di dekat rak sepatu sambil memasang jam tangan.

“Nadia, nanti bantu Ibu beres-beres, ya.”

Aku sedang memeriksa tas sekolah Raka.

“Ya.”

“Jangan sampai ada barang yang tertinggal.”

“Tidak akan.”

“Kunci rumah taruh saja di rak dekat pintu.”

Aku akhirnya menatapnya.

“Tenang. Tidak akan ada yang tertinggal.”

Entah kenapa, ia tidak menangkap maksud kalimatku.

Pintu tertutup.

Rumah mendadak sunyi.

Ibuku berdiri di balkon, mengangkat jemuran terakhir.

Sinar pagi mengenai rambutnya yang mulai memutih.

Aku mendekatinya dan memeluknya dari belakang.

“Maaf, Bu.”

Ia menepuk lenganku.

“Untuk apa?”

“Lima belas tahun Ibu membantu kami. Ujung-ujungnya malah diperlakukan seperti orang numpang.”

Ibuku melepaskan tanganku perlahan.

“Nadia, Ibu tidak takut memulai lagi. Yang Ibu takutkan justru kalau kamu terus pura-pura tidak melihat.”

Aku diam.

Ia benar.

Enam bulan sebelumnya aku menemukan beberapa transfer dari rekening yang biasa kami gunakan untuk kebutuhan keluarga.

Rp18 juta.

Rp22 juta.

Rp16 juta.

Tujuannya rekening Pak Hadi, ayah Arman.

Saat kutanya, Arman mengatakan orang tuanya sedang memperbaiki atap rumah dan butuh biaya berobat.

“Uang untuk orang tua,” katanya waktu itu. “Masa harus dihitung sampai rupiah terakhir?”

Aku memilih tidak memperpanjang.

Lalu satu bulan lalu aku menggunakan laptop rumah karena laptop kerjaku sedang diperbaiki.

Saat hendak membuka halaman proyek, daftar pencarian sebelumnya muncul otomatis.

Aku melihat beberapa kalimat yang membuat tanganku berhenti di mouse.

“Kalau rumah SHM atas nama mertua dihibahkan ke istri apakah jadi harta bersama.”

“Cara balik nama rumah orang tua ke suami istri.”

“Apakah suami punya hak atas rumah milik ibu istri setelah tinggal lama.”

“Proses hibah rumah dari mertua.”

Aku membaca semuanya dua kali.

Rumah yang kami tempati selama ini bukan rumah Arman.

Bukan pula rumahku.

SHM rumah itu masih atas nama ibuku.

Dua puluh tahun lalu, sebelum aku menikah, ibuku membelinya dari uang tabungan dan hasil menjual sebidang tanah kecil milik almarhum ayahku. Setelah aku menikah dan Raka lahir, ia mengizinkan kami tinggal bersamanya agar biaya hidup kami lebih ringan.

Kami tidak pernah membayar sewa.

Sebagian besar renovasi awal juga memakai uang ibuku.

Aku tidak langsung menghadapi Arman.

Dalam pekerjaanku, satu angka yang mencurigakan bukan kesimpulan.

Aku terbiasa mengumpulkan data, membandingkan dokumen, lalu mengambil keputusan.

Dan dari cara ibuku menatapku malam sebelumnya, aku tahu ia juga sudah mengambil keputusan.

Pukul sembilan pagi, bel rumah berbunyi.

Aku membuka pintu.

Bukan satu mobil bak kecil yang datang.

Tiga truk boks besar berwarna merah berhenti berjajar di depan kompleks.

Beberapa pekerja turun membawa kotak alat, selimut pelindung furnitur, troli, dan peralatan bongkar.

Mandornya masuk, mengamati ruang tamu, lalu melihat lembar pesanan di tangannya.

“Bu Nadia, saya konfirmasi sekali lagi.”

Ia menunjuk daftar pekerjaan.

“Ini paket bongkar total, ya?”

Aku mengeluarkan meter laser dari tas kerjaku dan mengarahkannya ke sudut ruang tamu.

“Betul.”

Ia masih tampak ragu.

“Semua?”

“Semua.”

Aku memasukkan meter itu kembali ke tas.

“Selain dinding struktur dan lapisan kedap air, jangan sisakan apa pun yang memang masuk daftar bongkar. Sampai bautnya sekalian.”

Mandor itu memandangku sesaat.

Lalu ia berbalik kepada para pekerjanya.

“Mulai kerja!”

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

Dalam dua puluh menit pertama, rumah itu berubah menjadi lokasi proyek.

Sofa dibungkus.

Meja makan dilepas kakinya.

Kabinet dapur yang dulu dibuat berdasarkan ukuran ruangan dibongkar satu per satu.

AC, lampu gantung, rak televisi, lemari, tempat tidur, tirai, mesin cuci, kulkas, bahkan tanaman dalam pot masuk ke daftar barang milik ibuku yang akan dipindahkan.

Sebagian dibawa ke gudang sewaan untuk sementara.

Barang pribadiku dan milik Raka dimasukkan ke mobil kecil yang sudah kusewa sejak subuh.

Ibuku hanya membawa tiga koper.

Itu yang paling membuatku sakit hati.

Lima belas tahun hidup di rumah itu, tetapi barang yang benar-benar ia anggap miliknya sendiri bisa dimasukkan ke tiga koper.

Menjelang siang, suara mobil Arman terdengar di depan.

Aku sedang berdiri dekat pintu ketika Bu Sulastri masuk lebih dulu sambil membawa kantong belanja.

Ia berhenti setelah dua langkah.

Pak Hadi menabrak punggungnya dari belakang.

“Ada apa?”

Kemudian ia melihat ruang tamu.

Tidak ada sofa.

Tidak ada meja makan.

Tidak ada televisi.

Dinding tempat kabinet berdiri memperlihatkan bekas sekrup.

Ruang keluarga yang pagi tadi tampak nyaman sekarang seperti unit rumah yang sedang menunggu renovasi.

Bu Sulastri menatapku.

“Nadia… barang-barangnya mana?”

Arman masuk paling akhir.

Wajahnya langsung kehilangan warna.

“Kamu ngapain?”

Aku menunjuk sekeliling.

“Menjalankan permintaanmu.”

“Aku cuma menyuruh Ibu pindah kamar!”

“Tidak.”

Aku menatapnya.

“Kamu menyuruh Ibu pergi. Kamu bahkan bilang jangan sampai ada barangnya yang tertinggal.”

“Nadia, jangan main kata-kata.”

Ia berjalan ke arahku.

“Masukkan lagi semuanya.”

“Tidak bisa.”

“Kenapa tidak bisa?”

Ibuku keluar dari kamar sambil membawa map bening.

Untuk pertama kalinya sejak mereka datang, Arman tidak melihatnya seperti orang yang bisa diperintah.

Ibuku menyerahkan map itu kepadanya.

“Karena barang-barang itu milik saya.”

Arman tidak mengambilnya.

Ibuku meletakkan map di meja lipat pekerja.

“Dan rumah ini juga masih milik saya.”

Bu Sulastri tertawa kecil, seolah mengira ibuku sedang bercanda.

“Besan, jangan begitu. Arman bilang rumah ini…”

“Arman bilang apa?”

Ruangan menjadi hening.

Pak Hadi menoleh kepada anaknya.

“Man?”

Arman menatapku, bukan ibuku.

Itu sudah cukup menjawab.

Aku mengambil salinan SHM dari dalam map dan membukanya.

Nama pemegang hak tercetak jelas.

Ratna Kusumawati.

Ibuku.

“Selama lima belas tahun kalian tinggal di sini karena Ibu mengizinkan,” kataku. “Bukan karena rumah ini milik Arman.”

Bu Sulastri mendekat dan membaca nama itu.

Lalu ia menatap anaknya.

“Kamu bilang tinggal urus balik nama.”

Nah.

Itulah kalimat yang membuat semuanya berubah.

Bukan hanya aku yang menoleh.

Ibuku juga.

Arman langsung menyela.

“Bu, bukan begitu maksudnya.”

“Tapi kamu bilang begitu.”

Suara ibunya mulai meninggi.

“Kamu bilang rumah ini nanti jadi rumah kalian. Kamu bilang tinggal tunggu Nadia setuju dan surat-suratnya dibereskan.”

Aku merasakan dingin menjalar dari tengkuk sampai punggung.

Selama sebulan aku tahu Arman mencari cara agar rumah ibuku bisa menjadi aset kami.

Tetapi sampai saat itu aku belum tahu ia sudah menjanjikan hasilnya kepada orang tuanya.

“Sejak kapan?” tanyaku.

Arman mengusap wajah.

“Nadia, kita bicara berdua saja.”

“Sejak kapan kamu bilang rumah ini akan jadi milik kita?”

Ia tidak menjawab.

Bu Sulastri justru menjawab untuknya.

“Sejak sebelum kami memutuskan pindah.”

Pak Hadi duduk pelan di kursi plastik milik pekerja.

Wajahnya tampak lelah.

“Aku sampai bilang jangan buru-buru,” gumamnya. “Tapi kamu bilang semuanya sudah beres.”

Arman menatap ayahnya kesal.

“Bapak jangan ikut memperkeruh.”

Aku mendekati meja.

“Kamu juga yang memindahkan uang dari rekening rumah tangga?”

Arman menghela napas kasar.

“Kita sudah pernah bahas.”

“Kita bahas Rp18 juta pertama. Aku baru tahu setelah itu ada transfer lain.”

Ia terdiam.

Bu Sulastri memandangnya cepat.

“Uang yang buat kamar belakang itu?”

Aku menoleh.

“Kamar belakang apa?”

Tidak ada yang menjawab.

Untuk pertama kalinya sejak konflik ini dimulai, aku melihat Arman benar-benar takut.

Bukan takut kehilangan muka.

Takut karena ada sesuatu yang belum kuketahui.

Aku membuka ponsel dan menunjukkan mutasi rekening yang sudah kusimpan.

Rp18 juta.

Rp22 juta.

Rp16 juta.

Lalu dua transfer yang baru kutemukan malam sebelumnya.

Rp14 juta.

Rp19 juta.

Total Rp89 juta.

Sebagian berasal dari rekening bersama yang kami isi untuk biaya sekolah Raka dan dana darurat keluarga.

“Kamu kirim Rp89 juta dalam enam bulan,” kataku. “Untuk apa?”

Arman menelan ludah.

Bu Sulastri akhirnya berkata pelan.

“Untuk memperbaiki rumah kami.”

Aku masih menatap Arman.

“Aku tahu soal atap.”

Bu Sulastri menggeleng.

“Bukan cuma atap.”

Ia tampak ragu, lalu menambahkan,

“Arman menyuruh kami membuat kamar mandi duduk, memperlebar pintu kamar, memperbaiki lantai, dan menyiapkan rumah supaya nanti bisa dikontrakkan.”

“Dikontrakkan?”

“Katanya kami akan tinggal di sini seterusnya.”

Tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang bergerak.

Arman telah memakai uang keluarga kami untuk menyiapkan rumah orang tuanya agar bisa menghasilkan uang setelah mereka pindah ke rumah ibuku.

Ia bukan hanya membuat keputusan untuk ibuku.

Ia telah membuat rencana keuangan di atas aset yang bukan miliknya.

Aku memasukkan ponsel kembali ke saku.

“Sekarang aku mengerti.”

Arman mendekat.

“Nadia, dengar dulu. Aku cuma mau memastikan orang tuaku punya tempat yang layak. Selama ini ibumu tinggal bersama kita. Masa orang tuaku tidak boleh merasakan hal yang sama?”

Aku menatap rumah kosong itu.

“Boleh.”

Arman tampak terkejut.

Aku melanjutkan,

“Tapi kamu harus menyediakannya dari rumah dan uang yang menjadi hakmu sendiri.”

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Arman menatapku cukup lama.

Kemudian ia tertawa pendek.

Bukan tawa karena lucu. Lebih seperti orang yang berharap dengan tertawa ia bisa membuat masalah di depannya terlihat lebih kecil.

“Kamu membesar-besarkan.”

Aku tidak menjawab.

Ia menunjuk rumah yang hampir kosong.

“Lihat apa yang kamu lakukan hanya karena aku ingin menjaga orang tuaku.”

Ibuku yang sejak tadi diam akhirnya duduk di kursi lipat dekat pintu.

“Arman.”

Suaranya tidak keras.

Justru karena itu Arman berhenti bicara.

“Lima belas tahun lalu, saat kalian baru punya anak, saya yang menawarkan kalian tinggal di sini.”

Arman mengangguk sedikit.

“Saya tidak pernah meminta sewa. Tidak pernah menghitung berapa kali saya mengantar Raka, berapa listrik yang saya bayar dulu waktu kalian belum stabil, atau berapa jam saya menjaga rumah ketika kalian bekerja.”

“Ibu, saya tahu…”

“Belum selesai.”

Itu pertama kalinya aku mendengar ibuku memotong Arman.

Ia menaruh kedua tangannya di paha.

“Saya membantu karena Nadia anak saya dan Raka cucu saya. Saya juga menganggap kamu keluarga.”

Arman menunduk sesaat.

“Tapi bantuan bukan berarti barang saya menjadi milikmu.”

Bu Sulastri langsung menyela.

“Besan, tidak ada yang bilang begitu.”

Ibuku menoleh kepadanya.

“Tadi Ibu bilang rumah ini milik Arman.”

Wajah Bu Sulastri menegang.

“Itu karena Arman bilang…”

“Makanya sekarang kita tahu masalahnya bukan siapa yang dari kota dan siapa yang dari desa.”

Ibuku tidak menaikkan suara sedikit pun.

“Masalahnya anak Ibu membuat janji dengan barang milik orang lain.”

Pak Hadi memejamkan mata.

Bu Sulastri menunduk.

Aku melihat sesuatu yang sebelumnya tidak kulihat. Mertuaku memang merasa berhak, terutama Bu Sulastri, tetapi mereka juga datang dengan informasi yang sengaja dibuat Arman terdengar seolah semuanya sudah disepakati.

Mereka salah karena percaya begitu saja dan karena begitu cepat menganggap ibuku harus mengalah.

Tetapi kebohongan pertama berasal dari suamiku.

“Nadia.”

Arman mendekat lagi.

“Kita bisa selesaikan ini tanpa bikin semua orang malu.”

Kalimat itu terasa akrab.

Bukan karena pernah ia ucapkan persis seperti itu.

Tetapi selama bertahun-tahun, itulah pola kami.

Jangan bikin orang tua tersinggung.

Jangan bikin adik marah.

Jangan bahas uang saat suasana keluarga sedang baik.

Jangan bertengkar di depan anak.

Jangan mempermalukan siapa pun.

Anehnya, aturan “jangan” itu hampir selalu berakhir dengan aku yang harus diam.

Aku mengambil kunci mobil dari meja.

“Aku tidak sedang mempermalukan siapa pun.”

“Lalu apa ini?”

Ia menunjuk pekerja.

“Ini rumah Ibu,” jawabku. “Dan Ibu ingin barang-barangnya dipindahkan.”

“Ke mana?”

“Gudang sementara.”

Arman menatap ibuku.

“Ibu mau jual rumah?”

Ibuku menghela napas.

“Saya belum memutuskan.”

“Kalau belum memutuskan, kenapa harus begini?”

Ibuku melihat ke sekeliling.

“Karena saya tidak mau lagi tinggal di rumah di mana keberadaan saya bisa dibahas seperti pergantian penghuni kamar.”

Tidak ada yang menjawab.

Aku tahu keputusan ibuku bukan reaksi semalam.

Satu minggu sebelum kedua mertuaku datang, setelah aku memberitahunya tentang riwayat pencarian Arman, kami sudah duduk berdua di kamar.

Aku menanyakan sesuatu yang selama ini kuhindari.

“Bu, surat rumah aman?”

Ibuku bangkit, membuka lemari kecil yang selalu terkunci, lalu mengeluarkan map asli.

SHM masih ada.

Dokumen pembelian masih ada.

Bukti pembayaran renovasi besar yang dulu ia simpan juga masih lengkap.

Hanya saja beberapa bulan sebelumnya, Arman pernah meminjam map tersebut dengan alasan membutuhkan salinan PBB untuk urusan administrasi alamat.

Saat itulah ibuku mulai curiga.

Ia tidak menuduh.

Ia hanya membuat salinan baru dan memindahkan dokumen asli ke safe deposit box bank.

Tindakan kecil itu mungkin terlihat berlebihan bagi orang lain.

Bagiku, itu sama seperti mematikan aliran listrik sebelum memperbaiki kabel.

Bukan berarti kebakaran pasti terjadi.

Hanya berarti kita tidak perlu menunggu terbakar dulu baru berhati-hati.

Hari itu, setelah pekerjaan selesai, aku tidak ikut Arman pulang.

Aku, Raka, dan ibuku pindah sementara ke apartemen sewaan dua kamar sekitar dua kilometer dari sekolah Raka.

Bukan tempat mewah.

Ruang tamunya bahkan lebih kecil daripada kamar keluarga di rumah ibuku.

Raka berdiri di pintu membawa ransel dan tas basket.

“Nenek tinggal sama kita?”

“Untuk sementara,” jawabku.

Ia tidak bertanya banyak.

Anakku memang tahu ada masalah, tetapi aku tidak ingin menjadikannya hakim untuk urusan orang dewasa.

Malamnya, Arman menelepon lebih dari dua puluh kali.

Aku hanya menjawab sekali.

“Pulang,” katanya begitu telepon tersambung. “Kita bicara.”

“Aku sudah bicara.”

“Di depan orang tuaku itu bukan bicara.”

“Aku bertanya soal Rp89 juta. Kamu belum menjelaskan kenapa mengambil uang dana keluarga tanpa persetujuanku.”

“Itu uang kita berdua.”

“Betul. Karena itu keputusan menggunakannya juga seharusnya kita berdua.”

Ia diam.

Aku melanjutkan.

“Besok aku ingin salinan rekening enam bulan terakhir. Lengkap.”

“Nadia…”

“Dan mulai bulan depan gajiku tidak masuk ke rekening itu lagi.”

Nada suaranya langsung berubah.

“Kamu tidak percaya aku?”

Pertanyaan itu hampir membuatku tertawa.

“Sekarang kamu baru bertanya?”

Aku menutup telepon.

Keesokan harinya aku pergi ke bank.

Tidak ada drama.

Tidak ada pegawai yang membocorkan rekening orang lain.

Aku hanya meminta mutasi rekening bersama yang memang secara sah bisa kuakses dan memindahkan penerimaan gajiku ke rekening pribadiku.

Dana untuk kebutuhan Raka tetap kutransfer sesuai jumlah yang kami sepakati sebelumnya.

Aku juga membatalkan satu autodebet yang selama ini menarik uang dari rekening pribadiku ke tabungan keluarga.

Bukan untuk menghukum Arman.

Aku hanya tidak akan menuangkan uang baru ke wadah yang penggunaannya tidak lagi bisa kupercaya.

Malamnya aku memeriksa seluruh mutasi.

Tidak ada jutaan lain yang hilang.

Tidak ada pinjol.

Tidak ada kartu kredit rahasia.

Anehnya, justru itu membuat keadaan terasa lebih nyata.

Tidak ada kejahatan raksasa.

Tidak ada kehidupan kedua.

Tidak ada perempuan lain.

Hanya seorang suami yang pelan-pelan mulai merasa ia berhak membuat keputusan sendiri karena selama bertahun-tahun istrinya akhirnya selalu mengalah demi menjaga rumah tetap tenang.

Dua hari kemudian Arman datang ke apartemen.

Aku menyuruh Raka menginap di rumah temannya malam itu setelah mendapat izin orang tuanya.

Ibuku pergi mengunjungi adiknya.

Aku tidak mau anak kami mendengar hal-hal yang belum mampu ia tempatkan.

Arman datang tanpa kedua orang tuanya.

Ia tampak kurang tidur.

“Aku mau jelaskan.”

Aku mempersilahkannya duduk.

Untuk beberapa menit ia hanya memegang gelas air.

“Ayah sakit lutut,” katanya. “Ibu mulai susah mengurus kebun. Aku merasa bersalah.”

Aku diam.

“Setiap kali pulang, rumah mereka makin rusak. Di sini ibumu hidup nyaman bersama kita. Aku tahu kedengarannya jelek, tapi aku mulai merasa… tidak adil.”

“Tidak adil ke siapa?”

“Ke orang tuaku.”

“Karena ibuku tinggal di rumah miliknya sendiri?”

Arman mengusap kening.

“Bukan begitu.”

“Tapi itulah faktanya.”

Ia kembali diam.

“Aku pikir pada akhirnya rumah itu juga akan jadi milikmu.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Kamu anak satu-satunya.”

“Itu bukan jawaban.”

Ia menatap lantai.

“Aku pikir Ibu akan menghibahkannya kepadamu.”

“Dan setelah dihibahkan kepadaku, kamu berharap jadi punya hak juga.”

Arman tidak langsung menjawab.

Aku tidak membantunya.

Akhirnya ia berkata,

“Aku cuma cari tahu.”

“Kalau cuma cari tahu, kenapa orang tuamu sudah diberi tahu rumah itu akan menjadi rumah kita?”

“Aku terlalu cepat ngomong.”

“Dan Rp89 juta?”

“Aku ingin rumah mereka siap disewakan supaya mereka punya pemasukan setelah tinggal di Bandung.”

“Kamu bahkan sudah membuat tahap kedua dari rencana yang belum pernah kusetujui.”

Ia menekan kedua telapak tangannya ke wajah.

“Aku tahu aku salah.”

Aku menunggu.

Tidak ada kalimat lain.

Aku bertanya,

“Kalau ibuku menolak pergi, apa rencanamu?”

Ia mengangkat kepala.

“Aku tidak tahu.”

“Tidak. Kamu tahu.”

“Nadia…”

“Kalau Ibu bilang tidak, kamu mau terus menekan aku sampai aku yang membujuknya.”

Ia membuka mulut lalu menutupnya lagi.

Itulah pertama kalinya selama percakapan itu aku melihatnya berhenti mencari penjelasan.

Bukan karena tidak punya.

Karena semua penjelasan membawa kami ke tempat yang sama.

Ia sudah menghitung kelembutanku sebagai bagian dari rencananya.

“Aku pikir kamu akan mengerti,” katanya akhirnya.

“Aku memang mengerti.”

Ia tampak berharap.

“Aku mengerti kamu ingin merawat orang tuamu.”

Aku meletakkan kedua tangan di meja.

“Tapi aku juga mengerti kamu berniat melakukannya dengan mengorbankan orang yang sudah merawat kita lima belas tahun, tanpa bertanya kepadanya dan tanpa bertanya kepadaku.”

Arman menunduk lagi.

“Aku bisa kembalikan uangnya.”

“Dari mana?”

“Tabunganku.”

“Kamu punya berapa?”

Ia tidak menjawab.

Aku sudah tahu jawabannya.

Tabungan pribadi Arman tidak cukup untuk mengganti semuanya sekaligus.

“Kalau memang mau mengembalikan, buat jadwal,” kataku. “Transfer tiap bulan.”

Ia terlihat tidak nyaman.

“Tapi orang tuaku sekarang tinggal di mana?”

“Untuk saat ini masih di rumah Ibu, bukan?”

Setelah kami pergi, ibuku tidak langsung menyuruh mereka keluar.

Ia memberi waktu satu bulan untuk mencari tempat lain.

Itu keputusan ibuku, bukan keputusanku.

Ia bahkan membiarkan satu kamar tetap utuh agar Pak Hadi tidak kesulitan tidur selama masa itu.

Namun izin tersebut disertai satu kalimat sederhana.

“Sebulan. Setelah itu rumah harus kosong.”

Bu Sulastri sempat menangis.

Bukan di depanku, tetapi Arman memberitahuku.

Ia merasa dipermalukan karena sudah terlanjur memberi tahu beberapa saudara bahwa mereka akan pindah permanen ke Bandung.

Aku tidak menertawakannya.

Malu memang tidak enak.

Tetapi malu bukan alasan untuk mengambil hak orang lain.

Seminggu kemudian Bu Sulastri meneleponku sendiri.

Awalnya aku hampir tidak menjawab.

“Nadia,” katanya. “Ibu mau tanya satu hal.”

“Ya, Bu.”

“Dari awal kamu sudah tahu rumah itu punya ibumu?”

“Iya.”

“Kenapa kamu diam waktu Ibu bilang rumah itu punya Arman?”

Aku memikirkan jawabanku.

“Karena saya ingin tahu Arman akan berkata apa.”

Bu Sulastri terdiam cukup lama.

Lalu suaranya mengecil.

“Ibu marah sama dia.”

Aku tidak menanggapi.

“Tapi Ibu juga salah.”

Aku tidak menduga ia akan mengatakan itu.

“Ibu terlalu percaya karena memang ingin percaya,” lanjutnya. “Kalau dipikir-pikir, masa orang yang tinggal gratis bertahun-tahun tiba-tiba bisa menentukan pemilik rumah pergi.”

Aku duduk di tepi tempat tidur.

“Saya tidak minta Ibu memihak saya.”

“Ibu tahu.”

Ia menghela napas.

“Bapak mau pulang ke kampung.”

Aku sedikit terkejut.

“Kenapa?”

“Katanya dia tidak nyaman tinggal di rumah besan setelah tahu keadaan sebenarnya. Arman mau carikan kontrakan dekat sini, tapi Bapak bilang biaya hidup di Bandung mahal.”

“Lalu Ibu?”

“Kalau Bapak pulang, Ibu ikut.”

Ada kekecewaan di suaranya.

Aku bisa memahaminya.

Mereka membayangkan masa tua dekat anak dan cucu.

Rencana itu sendiri bukan sesuatu yang salah.

Yang salah adalah siapa yang dipaksa membayar harganya.

Sebelum menutup telepon, Bu Sulastri berkata,

“Uang yang dipakai memperbaiki rumah kami nanti kami cicil juga semampunya.”

Aku menjawab pelan.

“Bicarakan dengan Arman. Yang penting jangan ambil keputusan lagi tanpa jelas.”

Ia hanya menjawab, “Iya.”

Dua minggu kemudian, Arman meminta bertemu lagi.

Kali ini kami bertemu di kedai kopi dekat kantorku.

Ia membawa print mutasi rekening dan satu lembar tabel.

Aku langsung mengenal formatnya.

Ia tahu aku lebih mudah memahami angka daripada janji.

Rp89 juta.

Arman mengusulkan mengembalikan Rp3 juta per bulan ke rekening dana pendidikan dan darurat Raka. Jika mendapat bonus tahunan, sebagian akan digunakan mempercepat pengembalian.

Tidak sempurna.

Butuh waktu.

Tetapi setidaknya itu rencana nyata.

Aku membaca sampai selesai.

“Ini baru uang,” kataku.

“Aku tahu.”

“Rumah?”

“Aku tidak akan ikut campur lagi.”

“Dokumennya?”

“Aku tidak punya salinan.”

Aku menatapnya.

Ia menambahkan cepat,

“Dulu pernah aku foto waktu pinjam berkas PBB. Semua sudah kuhapus.”

Aku tidak meminta ponselnya untuk diperiksa.

Kepercayaan tidak bisa dibangun dengan pemeriksaan tanpa akhir.

Kalau sampai aku harus menjadi petugas pengawas 24 jam untuk bisa tinggal bersama seseorang, berarti hubungan kami sudah berubah menjadi sesuatu yang tidak ingin kujalani.

“Aku sudah bicara sama Bapak dan Ibu,” katanya. “Mereka pulang akhir bulan.”

Aku mengangguk.

“Nadia.”

Ia terlihat gugup.

“Kamu mau pulang setelah itu?”

Aku tahu pertanyaan itu akan datang.

Selama dua minggu, hampir setiap malam aku memikirkannya.

Aku bahkan membuat daftar di buku kecil, seperti membuat evaluasi proyek.

Apa yang masih bisa diperbaiki.

Apa yang sudah rusak.

Apa yang perlu biaya.

Apa yang hanya membutuhkan waktu.

Tetapi pernikahan tidak sepenuhnya bisa dihitung dengan spreadsheet.

Satu hal tetap jelas.

Aku tidak bisa kembali hanya karena Arman akhirnya mengakui kesalahan setelah ketahuan.

“Aku belum mau pulang.”

Wajahnya jatuh.

“Berapa lama?”

“Aku tidak tahu.”

“Kalau kamu memang mau cerai, bilang saja.”

Aku menatapnya.

“Kenapa kamu selalu ingin keputusan besar selesai cepat?”

Ia terdiam.

Aku melanjutkan,

“Kamu butuh beberapa bulan untuk mengirim uang diam-diam. Kamu butuh waktu untuk membangun rencana orang tuamu pindah. Kamu bahkan sempat mencari cara soal rumah Ibu.”

Aku mendorong kertas pembayaran kembali kepadanya.

“Tapi sekarang kamu ingin aku menentukan nasib pernikahan kita dalam dua minggu?”

Untuk pertama kalinya ia tidak membantah.

Kami akhirnya sepakat tinggal terpisah dulu.

Bukan aturan dari pengacara.

Bukan keputusan pengadilan.

Hanya jarak yang kubutuhkan untuk mengetahui apakah aku masih ingin kembali.

Arman menyewa kamar kecil dekat kantornya setelah orang tuanya pulang.

Ia tidak tinggal di rumah ibuku.

Ibuku meminta semua kunci dikembalikan.

Arman menyerahkannya sendiri.

Tidak ada adegan besar.

Ia meletakkan tiga kunci di meja apartemen.

Kunci pagar.

Kunci pintu depan.

Kunci pintu samping.

Ibuku menghitungnya, memasukkan ke kotak kecil, lalu berkata,

“Terima kasih.”

Itu saja.

Bagi orang lain mungkin terlihat dingin.

Bagiku, justru itulah akhir dari sebuah kebiasaan lama.

Selama lima belas tahun, Arman keluar-masuk rumah ibuku tanpa pernah bertanya kepada dirinya sendiri siapa yang memberinya hak untuk melakukan itu.

Sekarang ia harus mengembalikan kunci.

Raka tahu kami sedang berpisah sementara.

Aku dan Arman menyampaikan kepadanya bersama-sama.

Tidak ada cerita tentang uang.

Tidak ada cerita tentang nenek yang diusir.

Aku hanya berkata,

“Ayah dan Ibu sedang punya masalah yang harus diselesaikan orang dewasa.”

Raka menatap kami bergantian.

“Kalian cerai?”

“Belum ada keputusan,” jawabku.

Ia menunduk.

Arman berkata,

“Kamu tidak perlu memilih siapa-siapa.”

Aku bersyukur setidaknya untuk kalimat itu.

Raka tetap bertemu ayahnya.

Kadang mereka makan bersama hari Sabtu.

Kadang Arman mengantarnya latihan basket.

Aku tidak menggunakan anak kami untuk menghukum ayahnya.

Kesalahan Arman sebagai suami tidak otomatis menghapus hubungannya dengan anak.

Sementara itu ibuku memutuskan tidak kembali tinggal di rumah lama.

“Kenapa?” tanyaku.

Kami sedang makan mi kuah di apartemen ketika ia mengatakannya.

“Rumah itu terlalu besar untuk Ibu.”

“Tapi Ibu suka kebunnya.”

“Dulu.”

Ia tersenyum.

“Sekarang setiap lihat sudut rumah itu, yang Ibu ingat malah daftar pekerjaan.”

Aku tertawa kecil.

Ia ingin menjual rumah tersebut setelah perbaikan selesai.

Aku tidak melarang.

Bukan hartaku.

Beberapa bulan kemudian rumah itu benar-benar dipasarkan melalui agen.

Tidak laku dalam sehari.

Tidak ada pembeli misterius yang datang membawa uang tunai.

Dua calon pembeli batal.

Satu orang menawar terlalu rendah.

Ibuku santai saja.

“Kalau belum cocok, ya belum.”

Akhirnya hampir empat bulan kemudian seorang keluarga muda membeli rumah itu melalui proses biasa.

PPAT memeriksa dokumen.

Bank pembeli memproses pembiayaan.

Tanggal tanda tangan dijadwalkan.

Semuanya membosankan.

Dan justru karena membosankan, aku merasa lega.

Tidak ada lagi anggota keluarga yang berusaha memperlakukan sertifikat seperti janji lisan di meja makan.

Dari hasil penjualan, ibuku membeli apartemen satu kamar yang lebih kecil, dekat klinik dan pasar.

Sisanya ia simpan untuk masa pensiunnya.

Aku masih menyewa apartemen bersama Raka.

Ibuku tinggal dua lantai di bawah kami.

Ia menolak pindah ke unitku.

“Lima belas tahun tinggal ramai-ramai cukup,” katanya. “Sekarang Ibu mau punya remote TV sendiri.”

Itulah lelucon pertama yang benar-benar membuat kami tertawa sejak semua masalah dimulai.

Arman menepati jadwal pembayaran.

Tidak selalu mulus.

Dua kali ia terlambat beberapa hari.

Sekali ia menelepon sebelum tanggal jatuh tempo dan mengatakan ada biaya perbaikan motor.

Aku tidak menutupi kekurangannya.

Aku hanya menjawab,

“Berarti bulan ini transfer sesuai kemampuan, bulan depan tambah kekurangannya.”

Ia melakukannya.

Hubungan kami juga tidak tiba-tiba membaik.

Ada beberapa percakapan yang berakhir canggung.

Ada hari ketika aku melihatnya dan masih teringat bagaimana ia tersenyum saat ibuku berkata akan pergi.

Ada hari ketika aku justru teringat sisi lain dirinya, ayah yang sabar menunggu latihan basket Raka dua jam, suami yang dulu menemaniku di rumah sakit saat aku keguguran sebelum punya Raka, orang yang pernah menjadi rumah bagiku.

Manusia jarang hanya satu hal.

Itulah yang membuat keputusan menjadi sulit.

Enam bulan setelah hari tiga truk merah datang, Arman mengajakku bertemu.

“Kamu masih mau pisah?” tanyanya.

Kami duduk di taman dekat sekolah Raka.

Aku tidak langsung menjawab.

“Aku sudah konsultasi,” kataku.

Wajahnya berubah.

“Pengacara?”

Aku mengangguk.

Bukan untuk menyerangnya.

Aku hanya ingin mengetahui pilihan hukumku jika akhirnya memilih perceraian.

“Jadi sudah selesai?”

“Belum.”

Ia menatap tanah.

“Aku ikut konseling sendiri dua bulan terakhir.”

Aku menoleh kepadanya.

Ia tersenyum pahit.

“Awalnya kupikir konselor akan bilang semua orang berhak merawat orang tua.”

“Lalu?”

“Dia memang bilang begitu.”

Aku hampir tersenyum.

“Tapi dia juga tanya kenapa aku merasa satu-satunya cara merawat orang tuaku adalah dengan menentukan nasib ibumu.”

Aku tidak berkata apa-apa.

Arman melanjutkan.

“Aku tidak punya jawaban yang bagus.”

“Memang tidak ada.”

“Iya.”

Kami duduk cukup lama.

Ia tidak memintaku memaafkan.

Tidak menjanjikan tidak akan pernah salah lagi.

Tidak mengatakan ia sudah berubah total.

Justru itu membuat percakapan terasa lebih serius daripada semua permintaan maaf sebelumnya.

“Aku masih ingin memperbaiki pernikahan kita,” katanya.

“Aku tahu.”

“Tapi kalau kamu tidak mau…”

Ia berhenti.

“Aku akan terima.”

Aku menatap lapangan basket kecil di depan kami.

Beberapa anak sedang bermain. Bola memantul di lantai semen dengan suara teratur.

“Aku belum siap kembali tinggal bersama.”

Arman mengangguk.

“Tapi aku juga belum memutuskan mengakhiri semuanya.”

Ia menatapku.

Aku menambahkan,

“Kalau kita mencoba lagi, rumah kita nanti bukan rumah Ibu. Bukan rumah orang tuamu. Kita cari tempat yang memang kita tanggung sendiri.”

“Setuju.”

“Keuangan terpisah untuk penghasilan masing-masing. Rekening bersama hanya untuk kebutuhan yang benar-benar bersama.”

“Setuju.”

“Bantuan untuk orang tua dibicarakan dulu kalau jumlahnya besar.”

“Setuju.”

“Dan kalau suatu hari orang tuamu perlu tinggal bersama kita, kita bahas sebelum koper mereka sampai di pintu.”

Untuk pertama kalinya, Arman menunduk karena malu tanpa berusaha membela diri.

“Yang itu seharusnya tidak perlu dijelaskan.”

“Seharusnya.”

Ia mengangguk.

Aku tidak kembali kepadanya hari itu.

Juga tidak minggu berikutnya.

Tiga bulan kemudian kami mulai mencoba makan malam bersama sekali seminggu.

Kadang berhasil.

Kadang percakapan terasa kaku.

Arman tetap tinggal di tempat sewanya.

Aku tetap bersama Raka.

Tidak ada cincin baru.

Tidak ada liburan romantis.

Tidak ada foto keluarga yang sengaja dibuat untuk membuktikan kami sudah bahagia.

Aku hanya melihat apakah perkataannya berubah menjadi kebiasaan.

Ketika ibunya butuh uang untuk pemeriksaan mata, Arman menghubungiku.

“Aku mau kirim Rp2 juta dari uangku sendiri. Aku cuma kasih tahu.”

Aku menjawab, “Ya.”

Ia tidak meminta pujian.

Saat Raka membutuhkan laptop untuk sekolah, kami membahas anggaran bersama sebelum membeli.

Ketika ibuku sakit flu dan harus istirahat beberapa hari, Arman mengirim makanan ke apartemennya.

Ia tidak datang tanpa izin.

Ibuku menerima makanan itu.

Tetapi tidak mengundangnya masuk.

Aku tidak memaksa keduanya berdamai lebih cepat.

Permintaan maaf tidak otomatis menghapus penghinaan.

Mereka masing-masing berhak menentukan jarak.

Setahun setelah hari rumah itu dikosongkan, Arman dan aku akhirnya menyewa rumah kecil bersama.

Bukan karena semua masalah selesai.

Justru karena selama setahun aku melihat ia bisa menjalani aturan yang dulu dianggapnya berlebihan.

Kami membayar sewa dari rekening bersama.

Namaku dan namanya sama-sama tertulis dalam perjanjian.

Tidak ada orang tua yang menjadi pemilik.

Tidak ada aset keluarga yang diam-diam dianggap warisan masa depan.

Pada hari pindahan, Arman datang membawa dua kotak.

Aku melihatnya meletakkan kunci cadangan di laci.

“Berapa?”

“Dua.”

“Satu buat kita. Satu?”

“Tidak ada yang pegang.”

Aku menatapnya.

Ia tertawa kecil.

“Kalau orang tua mau datang, mereka ketuk pintu.”

Sore itu ibuku datang membawa satu pot tanaman kecil.

Bukan tanaman lama.

Tanaman yang dulu ada di rumahnya sudah terlalu rusak setelah dipindahkan dan akhirnya mati.

Ia menaruh tanaman baru di dekat jendela.

“Jangan kebanyakan disiram,” katanya kepada Arman.

Arman mengangguk.

“Iya, Bu.”

Mereka tidak berpelukan.

Ibuku tidak menyebut masa lalu.

Arman juga tidak meminta maaf untuk kesekian kalinya.

Kadang hubungan yang retak tidak diperbaiki dengan satu percakapan besar.

Kadang perbaikannya terlihat dari sesuatu yang jauh lebih kecil.

Tidak mengambil kunci tanpa izin.

Tidak memindahkan uang tanpa bicara.

Tidak menjanjikan kamar milik orang lain.

Tidak menganggap kebaikan sebagai utang yang boleh ditagih sesuka hati.

Malam itu, setelah ibuku pulang, aku berdiri di depan pintu.

Arman berada di dapur mencuci gelas.

Raka mengerjakan tugas di meja makan.

Aku menutup pintu, memutar kunci sekali, lalu memasukkannya ke saku.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kunci rumah kami hanya berada di tangan orang-orang yang memang tinggal di dalamnya.

Menurutmu, apakah Nadia tepat memberi Arman kesempatan kedua setelah setahun melihat perubahan nyata, atau seharusnya ia tetap berpisah?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.