AKU YANG MEMBELI KAMERA DAN MEMBAYAR SEWA STUDIO—SUAMIKU MEMAKAINYA UNTUK MEMOTRET WANITA YANG SELAMA INI IA SEBUT “CUMA KLIEN”

Avatar penulis
Cerita 06
8 menit baca 184 tayangan
AKU YANG MEMBELI KAMERA DAN MEMBAYAR SEWA STUDIO—SUAMIKU MEMAKAINYA UNTUK MEMOTRET WANITA YANG SELAMA INI IA SEBUT “CUMA KLIEN”
Indeks

AKU YANG MEMBELI KAMERA DAN MEMBAYAR SEWA STUDIO—SUAMIKU MEMAKAINYA UNTUK MEMOTRET WANITA YANG SELAMA INI IA SEBUT “CUMA KLIEN”

BAGIAN 1 — Booking Setelah Studio Tutup

Studio foto kecil kami berdiri dari tabunganku sebelum menikah. Aku membeli dua kamera, tiga lensa, lampu, dan membayar deposit ruko. Setelah menikah, suamiku, Raka, membantu mengelola jadwal dan pemasaran. Aku tidak keberatan menyebutnya bisnis kami karena kami memang membangunnya bersama setelah itu.

Masalah mulai terasa ketika ada booking malam yang tidak masuk kalender. Seorang klien datang mengambil album dan bertanya, “Mbak Tia yang sering sesi malam itu fotografer baru ya?”

Aku tidak punya fotografer bernama Tia.

Raka tertawa ketika kutanya. Katanya Tia hanya model katalog dan kadang datang setelah studio tutup karena jadwalnya padat. Aku menerima penjelasan itu sampai suatu Minggu aku harus mengunduh file lama dari kartu memori cadangan.

Di antara folder klien ada puluhan foto Tia. Bukan foto katalog. Ada foto mereka makan di lantai studio, Raka memeluknya dari belakang, dan beberapa swafoto dengan kamera kecilku. Tanggalnya tersebar selama lima bulan, sebagian besar setelah pukul sembilan malam.

Aku merasa mual bukan hanya melihat hubungan mereka. Aku melihat meja backdrop yang kubeli dari uang lemburku dipakai menjadi ruang rahasia. Lampu yang kubayar, kamera yang masih atas faktur namaku, dan ruko yang sewanya otomatis keluar dari rekeningku menjadi tempat di mana aku dibohongi.

Ketika Raka datang, aku tidak menampilkan semua foto. Aku hanya bertanya, “Tia masih cuma klien?”

Ia melihat layar laptop dan diam.

Aku lalu mengambil gantungan kunci lemari peralatan dari meja. “Mulai malam ini, tidak ada sesi di studio tanpa masuk sistem booking. Dan kunci peralatan utama aku pegang.”

BAGIAN 2 — Aku Mengambil Kembali Kunci Peralatan

Raka marah. Ia berkata aku mencampur masalah pribadi dengan bisnis dan akan merusak pemasukan. Aku menjawab bahwa selama lima bulan ia yang mencampurnya lebih dulu ketika memakai aset studio untuk hubungan rahasia.

Aku tidak menutup studio. Booking klien tetap berjalan. Aku bahkan tidak mengeluarkan Raka saat itu juga karena ia masih menangani pemasaran dan beberapa sesi yang sudah dijadwalkan. Tetapi aku mengubah akses: kamera utama, lensa mahal, dan pintu studio hanya bisa digunakan pada jadwal yang tercatat. Backup file dipindah ke penyimpanan yang bisa kulihat.

Hari berikutnya Tia mengirim pesan kepadaku. Ia mengatakan tidak tahu studio itu sepenuhnya dibiayai dariku. Menurut Raka, mereka sedang merintis studio bersama dan pernikahan kami “tinggal nama”.

Aku tidak langsung percaya semua kata Tia, tetapi satu lampiran yang ia kirim membuat semuanya lebih jelas: tangkapan pesan Raka menawarkan sesi malam gratis dan mengatakan studio akan “jadi milik kami berdua” setelah aku keluar dari bisnis.

Aku memanggil akuntan lepas yang selama ini membantu pajak. Kami memeriksa aset dan kontrak. Ruko memang atas namaku, peralatan mayoritas kubeli sebelum menikah, dan rekening operasional terdaftar atas usaha perseorangan milikku. Raka punya kontribusi nyata dalam pemasaran, tetapi ia tidak memiliki hak sepihak atas aset seperti yang ia janjikan kepada Tia.

Aku memberi Raka dua pilihan untuk minggu itu: menyelesaikan booking yang sudah ada secara profesional sambil kami menyusun pemisahan kerja, atau berhenti datang dan menyerahkan daftar klien. Ia tidak boleh lagi menjadwalkan sesi menggunakan peralatan tanpa persetujuanku.

Untuk pertama kalinya, hubungan kami tidak hanya berubah sebagai suami-istri. Struktur bisnis yang selama ini ia anggap otomatis ikut berubah.

 

BAGIAN 3 — Ketika Bisnis dan Pernikahan Dipisahkan

Selama dua minggu berikutnya kami bekerja seperti dua orang yang sedang membongkar perusahaan kecil. Daftar klien dipisah antara proyek yang datang dari pemasaran Raka dan klien lama studio. Akuntan menghitung komisi yang memang menjadi haknya. Aku tidak ingin menggunakan kepemilikan aset untuk menghapus pekerjaan yang benar-benar ia lakukan.

Namun batasnya jelas: kamera, lampu, backdrop, komputer editing, dan kontrak ruko tetap berada di bawah usahaku. Raka tidak bisa menganggapnya hadiah pernikahan yang otomatis menjadi milik bersama untuk dipakai sesukanya.

Beberapa klien bertanya kenapa sesi Raka dipindahkan ke siang hari. Aku hanya berkata ada perubahan operasional. Aku tidak menyebarkan perselingkuhan untuk menghancurkan reputasinya. Aku ingin konsekuensi datang dari kenyataan, bukan kampanye balas dendam.

Raka mencoba menyewa studio lain untuk dua booking pribadinya. Ia baru menyadari betapa banyak biaya yang selama ini tidak ia lihat: sewa per jam, deposit alat, editor, listrik, storage, dan asisten. Ketika semua tersedia di studio kami, ia mengira penghasilan dari fotografi sebagian besar berasal dari kemampuannya menjual paket. Padahal margin terbentuk karena aku telah menanggung modal dan risiko sejak awal.

Ia sempat meminta meminjam satu kamera “cuma dua hari”. Aku menolak. “Kalau kamu ingin bekerja mandiri, pakai biaya mandiri juga.”

Tia menghentikan hubungan mereka tidak lama kemudian. Aku tahu dari Raka sendiri, yang mengatakan Tia merasa dibohongi tentang status pernikahan dan kepemilikan studio. Aku tidak merasakan kemenangan. Dua orang yang sama-sama dibohongi tidak otomatis menjadi sekutu, tetapi setidaknya aku tahu konflik ini bukan cerita tentang perempuan merebut suamiku. Ini tentang suamiku membangun cerita berbeda kepada dua perempuan agar ia mendapat kenyamanan dari keduanya.

Kami mulai proses perpisahan. Raka pindah ke kos dekat kantornya dan tetap menerima komisi untuk tiga proyek lama yang selesai. Aku merekrut fotografer freelance untuk jadwal tertentu dan belajar pemasaran yang selama ini banyak kupercayakan kepadanya.

Bulan pertama pendapatan turun. Itu menakutkan. Namun untuk pertama kali, aku tahu semua booking, semua biaya, dan siapa yang punya akses ke studio. Tidak ada lagi jam malam yang tidak tercatat.

Setelah Raka pindah, aku menemukan masalah operasional lain: beberapa klien datang melalui nomor pribadinya dan tidak tercatat dalam database. Kami menyepakati aturan sederhana: jika proyek memakai invoice, ruang, alat, atau merek studio, datanya harus ada di sistem. Jika benar-benar proyek pribadi, ia boleh membawanya saat berpisah.

Pembagian itu tidak selalu nyaman, tetapi mencegah kami mengubah semua hal menjadi perebutan. Raka membawa beberapa klien portrait yang memang ia bangun sendiri. Aku mempertahankan kontrak keluarga, sekolah, dan produk yang berasal dari studio.

Aku juga membayar fotografer freelance lebih mahal daripada yang dulu kubayar Raka sebagai bagian keluarga. Angka itu menyadarkanku bahwa kontribusinya nyata. Mengakui kontribusi tidak sama dengan membenarkan pengkhianatan. Dua kebenaran bisa berdiri bersamaan.

Karena pemasaran melemah setelah ia pergi, aku belajar membuat paket promosi, memperbarui listing usaha, dan meminta referensi klien lama. Pertumbuhan tidak secepat dulu, tetapi ketergantungan usaha pada satu orang berkurang. Studio menjadi lebih sehat karena tugas yang sebelumnya menempel pada hubungan suami-istri kini punya proses.

BAGIAN 4 — Ia Kehilangan Akses, Bukan Karena Balas Dendam

Enam bulan kemudian studio belum menjadi bisnis besar. Tetapi ia stabil. Aku membuat aturan booking digital, log peminjaman alat, dan dua tingkat akses kunci. Bukan karena aku berubah menjadi orang curiga, melainkan karena usaha yang sehat seharusnya tidak bergantung pada kepercayaan tanpa sistem.

Raka membeli kamera bekas dari uang tabungannya dan mulai menerima proyek kecil sendiri. Ia pernah mengirim pesan meminta satu lensa milikku dengan tarif sewa. Aku setuju karena kali itu semuanya jelas: tanggal, biaya, dan tanggung jawab jika rusak. Hubungan kami sebagai mantan pasangan belum selesai secara administratif, tetapi transaksi itu terasa lebih jujur daripada banyak bulan perkawinan sebelumnya.

Salah satu klien lama bertanya apakah aku menyesal pernah melibatkan suami dalam bisnis. Aku bilang tidak. Raka memang membantu studio berkembang. Yang kusesali adalah membiarkan kontribusi berubah menjadi asumsi bahwa semua aset dan keputusan otomatis berada di bawah kontrolnya.

Aku juga berhenti menyebut studio itu “studio kami” ketika berbicara soal kepemilikan. Dalam kerja sama, bahasa memang terasa kecil, tetapi bahasa membentuk batas. Kami bisa membangun sesuatu bersama tanpa menghapus siapa yang menanggung modal, kontrak, atau risiko.

Suatu malam aku menutup studio sendiri setelah sesi keluarga terakhir. Aku mematikan lampu softbox, mengunci lemari, lalu melihat ruang yang dulu terasa tercemar karena foto-foto Tia dibuat di sana.

Ruang itu tidak salah. Kamera tidak salah. Bahkan bisnis kami tidak mengkhianatiku. Orang yang kuberi akseslah yang menggunakan semua itu untuk menjalani kehidupan yang tidak kusetujui.

Sekarang kunci ada di tanganku, tetapi bukan itu yang membuatku merasa kuat. Yang membuatku tenang adalah aku tidak lagi menyubsidi kebohongan dengan asetku sendiri.

Dalam proses perpisahan, Raka sempat meminta sebagian nilai usaha karena ia merasa selama menikah ia ikut merawat dan menghasilkan pendapatan. Kami menggunakan mediator untuk membedakan aset sebelum menikah, peningkatan nilai usaha selama menikah, dan pendapatan bersama. Hasilnya tidak sesederhana “semua milikku”, tetapi jauh lebih adil daripada saling klaim.

Aku membayar bagian yang memang menjadi hak Raka dari laba usaha selama periode tertentu. Sebaliknya, kamera dan lensa yang faktur pembeliannya jelas tetap padaku. Kesepakatan itu membuat kami berdua bisa bergerak maju tanpa satu pihak merasa seluruh tahun kerja dihapus.

Tia tidak pernah datang ke studio lagi. Beberapa bulan kemudian ia mengirim satu pesan singkat meminta maaf karena baru mengetahui situasi sebenarnya. Aku menjawab seperlunya. Aku tidak ingin hubungan kami berubah menjadi forum membicarakan Raka.

Yang kubutuhkan bukan kemenangan terhadap Tia atau Raka. Aku membutuhkan bisnis yang tidak lagi bergantung pada kebohongan pribadi. Ketika itu tercapai, foto-foto lama kehilangan daya untuk mengendalikan emosiku.

END

Ketika pengkhianatan terjadi di atas sumber daya yang dibangun pasangan lain, konsekuensi paling alami bukan balas dendam. Konsekuensinya adalah akses itu berhenti.