Bagian 2
“Ma.”
Suara Dinda datang dari belakang kami.
Ibu Rina membeku.
Dinda berdiri di lorong sambil memeluk kedua lengannya sendiri.
Dia menatap ibunya.
“Bukannya surat Nadira yang kemarin Mama masukin ke map biru?”
Ibu Rina menoleh begitu cepat sampai Dinda mundur setengah langkah.
“Map apa?”
“Yang Mama bawa ke kamar Mama.”
“Dinda.”

Nada suaranya menjadi peringatan.
Tapi sudah terlambat.
Om Arif bertanya, “Map biru yang mana?”
Dinda tidak menjawab.
Dia menunduk.
Tante Mira keluar dari kamarku.
“Rina, ambil mapnya.”
“Enggak ada map apa-apa.”
“Kalau memang enggak ada, ya selesai. Tunjukkan saja.”
Ibu Rina menatap Ayah.
Aku ikut melihatnya.
“Ayah?”
Ayah mengusap wajah.
“Rina.”
Hanya itu.
Tapi sesuatu berubah di wajah Ibu Rina.
Dia berjalan menuju kamar mereka.
Kami mengikuti sampai depan pintu. Aku tidak masuk.
Aku tidak perlu.
Beberapa menit kemudian, Ibu Rina kembali membawa map plastik biru.
Tangannya masih gemetar.
Dia meletakkannya di meja makan.
Aku membukanya.
Surat penerimaanku ada di dalam.
Namaku.
Nomor peserta ujian.
Program studi.
Jadwal daftar ulang.
Semua lengkap.
Di sudut atas ada lipatan kecil yang tidak pernah kubuat.
Tante Mira mengembuskan napas pelan.
Om Arif bertanya, “Katanya ada di kamar Nadira?”
Ibu Rina mengangkat dagu.
“Aku pindahkan supaya aman.”
“Kapan?”
“Lupa.”
“Kalau mau disimpan aman, kenapa amplopnya dibuang?”
“Amplop doang.”
“Kenapa bilang dia enggak lolos?”
Pertanyaan terakhir keluar dariku.
Ibu Rina menatapku.
Wajah sedih yang dipakainya sejak makan malam hilang.
“Nadira, jangan seolah-olah semuanya sesederhana itu.”
“Aku cuma tanya kenapa.”
“Kamu tahu keadaan rumah.”
“Aku tahu.”
“Dinda juga harus kuliah.”
“Aku tidak pernah bilang Dinda tidak boleh kuliah.”
“Tapi uang kita terbatas!”
Suaranya meninggi.
“Kalau semuanya mengikuti maumu, terus biaya dari mana?”
Aku memandang Ayah.
“Ayah tahu surat ini ada?”
Ayah tidak langsung menjawab.
Om Arif memanggilnya.
“Hendra?”
Akhirnya Ayah duduk.
“Iya.”
Satu kata itu lebih berat daripada semua kalimat Ibu Rina malam itu.
Aku bertanya lagi.
“Ayah tahu aku diterima?”
“Iya.”
“Sejak kapan?”
“Tanggal lima belas malam.”
Hari yang sama ketika paket itu tiba.
Aku mengangguk pelan.
Berarti ketika aku mencuci piring malam itu, Ayah sudah tahu.
Ketika aku belanja kebutuhan rumah keesokan paginya, Ayah sudah tahu.
Ketika Ibu Rina menyuruhku membersihkan kamar tamu untuk makan malam keluarga, Ayah sudah tahu.
“Ayah juga tahu Ibu bilang ke keluarga kalau aku gagal?”
Ayah menggeser gelasnya.
“Kami belum menentukan cara menyampaikannya ke kamu.”
“Ayah.”
Aku menatapnya.
“Itu bukan jawaban.”
Ibu Rina menyela.
“Karena kami tahu kamu bakal seperti ini.”
“Seperti apa?”
“Enggak mau mengerti keadaan.”
Dinda masih berdiri dekat pintu.
Aku menoleh kepadanya.
“Kamu tahu?”
Dia menggigit bibir.
“Mama bilang mungkin kamu enggak jadi kuliah tahun ini.”
“Itu sebabnya kemarin kamu tanya nilaiku?”
Dia tidak menjawab.
Jawabannya sudah cukup jelas.
Ibu Rina menarik map biru ke arahnya.
“Dengar dulu. Kita cuma minta kamu mengalah satu tahun.”
Aku menahan map itu.
“Surat ini punyaku.”
Tangannya tidak langsung lepas.
Om Arif berkata, “Rina.”
Barulah jari-jarinya terbuka.
Aku membaca halaman berikutnya.
Batas daftar ulang tertulis tanggal 20 Juli pukul tiga sore.
Besok.
Di belakang surat itu ada satu lembar lain yang jelas bukan milikku.
Bukti pembayaran perguruan tinggi swasta tempat Dinda diterima.
Nama Dinda tercetak di sana.
Tanggal transaksi: 16 Juli.
Satu hari setelah surat penerimaanku datang.
Jumlahnya Rp18.750.000.
Aku membalik kertas itu supaya Ayah bisa melihatnya.
“Ini dari uang tabungan keluarga?”
Ayah mengangguk.
Ibu Rina menjawab lebih dulu.
“Itu uang pangkal Dinda. Kalau enggak dibayar hari itu, kursinya hilang.”
Aku melihat kembali tanggalnya.
Tanggal lima belas mereka tahu aku diterima.
Tanggal enam belas mereka memilih membayar kuliah Dinda.
Tanggal delapan belas amplopku sudah berada di tempat sampah.
Dan tanggal sembilan belas mereka mengundang keluarga untuk menjelaskan bahwa aku gagal.
“Ayah,” kataku, “kalau aku tidak menemukan amplop itu, kapan kalian mau bilang aku diterima?”
Tidak ada yang menjawab.
Ibu Rina akhirnya berkata, “Tahun depan kamu bisa tes lagi.”
Aku mengangkat wajah.
“Jadi itu rencananya?”
“Kamu pintar.”
Nada suaranya melembut, seakan itu pujian.
“Kamu bisa mencoba lagi. Dinda belum tentu dapat kesempatan kedua seperti kamu.”
Aku hampir tertawa, tapi tidak ada yang lucu.
Om Arif memandang Ayah.
“Hendra, kamu setuju dengan ini?”
Ayah mengusap tengkuk.
“Kami cuma punya dana cukup untuk satu.”
“Berarti kalian bicara dengan dua anak,” kata Tante Mira. “Bukan sembunyikan surat salah satunya.”
Ayah menatap meja.
Aku melihat bukti pembayaran Dinda sekali lagi.
Satu hari.
Hanya satu hari yang mereka butuhkan untuk memutuskan siapa yang pantas maju lebih dulu.
Dan siapa yang mereka anggap cukup kuat untuk dikorbankan.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
“Aku tetap akan daftar ulang besok.”
Kalimat itu keluar sebelum siapa pun kembali bicara.
Ibu Rina menatapku seolah aku baru saja mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.
“Pakai uang apa?”
“Aku belum tahu.”
“Nah.”
Dia menyandarkan tubuh.
“Makanya jangan bicara cuma pakai emosi.”
Aku melipat kembali surat penerimaanku dan memasukkannya ke map.
“Besok aku akan tanya langsung ke kampus apa yang masih bisa kulakukan.”
“Nadira.”
Ayah akhirnya mengangkat kepala.
“Kalau uangnya memang enggak ada, mau tanya siapa pun hasilnya sama.”
“Aku perlu mendengar itu dari kampus, bukan dari orang yang menyembunyikan suratku.”
Wajah Ayah menegang.
“Jaga bicaramu.”
Untuk pertama kalinya malam itu aku merasa jelas siapa yang sedang berusaha dilindungi Ayah.
Bukan aku.
Bukan pula Dinda.
Dia sedang melindungi keputusan yang sudah dibuatnya sendiri.
Om Arif menyela sebelum suasana kembali panas.
“Sudah. Sekarang yang penting besok Nadira jangan sampai kehilangan batas waktu.”
Ibu Rina langsung menatapnya.
“Mas jangan ikut campur soal biaya rumah kami.”
“Aku enggak bicara soal siapa yang bayar.”
Om Arif tetap tenang.
“Aku bicara soal satu anak yang hampir kehilangan kesempatan karena suratnya disembunyikan.”
“Aku enggak menyembunyikan!”
“Suratnya ada di lemari kamarmu.”
Ibu Rina terdiam.
Aku berdiri.
“Aku mau simpan surat ini.”
Ayah berkata, “Nadira, kita belum selesai bicara.”
“Aku tahu.”
Aku membawa map biru itu ke kamar.
Untuk pertama kalinya sejak makan malam dimulai, aku menutup pintu dan menguncinya.
Aku tidak menangis.
Aku hanya duduk di lantai, bersandar pada sisi tempat tidur, lalu membaca surat itu dari awal sampai akhir.
Batas daftar ulang besok pukul tiga sore.
Ada nomor layanan penerimaan mahasiswa.
Ada alamat portal.
Ada daftar dokumen.
Sebagian sudah kumiliki.
Kartu identitas.
Kartu keluarga.
Ijazah sementara.
Hasil ujian.
Pasfoto.
Beberapa dokumen penghasilan keluarga harus dilengkapi untuk proses penetapan biaya kuliah.
Aku memotret seluruh halaman.
File kusimpan di ponsel, lalu kukirim ke email pribadiku.
Setelah itu kata sandi email kuganti.
Bukan karena Ayah atau Ibu Rina pernah membukanya.
Aku hanya tidak ingin ada satu pintu lagi yang bisa dimasuki orang lain tanpa izinku.
Dari luar kamar terdengar suara orang berbicara.
Sesekali suara Ibu Rina meninggi.
Sekitar setengah jam kemudian, seseorang mengetuk.
“Nad.”
Dinda.
Aku tidak membuka pintu.
“Apa?”
Dia diam sebentar.
“Aku boleh ngomong?”
“Ngomong saja.”
“Aku enggak tahu Mama buang amplopmu.”
Aku menatap gagang pintu.
Dinda melanjutkan.
“Aku memang tahu kamu diterima.”
Jadi itu.
“Aku dengar Mama sama Om Hendra ngomong dua malam lalu.”
Sejak Ibu Rina menikah dengan Ayah, Dinda tetap memanggilnya Om Hendra.
“Apa yang kamu dengar?”
“Mama bilang uang tabungan enggak cukup kalau kita berdua masuk kuliah. Mama bilang kamu bisa kerja setahun dulu.”
“Terus?”
“Om Hendra bilang kamu bakal marah.”
Dadaku terasa kosong, tapi aku tetap mendengarkan.
“Terus Mama bilang nanti keluarga harus dikasih tahu kalau nilai kamu enggak cukup, biar enggak banyak yang tanya.”
Aku menutup mata.
Jadi kebohongan di meja makan bukan improvisasi.
Sudah dibicarakan.
Dinda berkata pelan, “Aku pikir nanti mereka tetap ngomong ke kamu kalau kamu sebenarnya lolos.”
“Kapan?”
Dia tidak menjawab.
“Setelah batas daftar ulang lewat?”
“Nad…”
“Kemarin kamu tanya nilaiku karena kamu mau tahu Mama bohong atau enggak?”
Lama sekali.
“Iya.”
Aku memandang surat penerimaan di pangkuanku.
“Kamu bisa saja kasih tahu aku.”
“Aku takut Mama marah.”
“Aku juga takut kehilangan kuliah.”
Dinda tidak bicara lagi.
“Aku enggak minta kamu mengembalikan uang kuliahmu,” kataku. “Aku cuma mau kamu mengerti kenapa aku enggak bisa pura-pura ini bukan apa-apa.”
“Aku ngerti.”
Belum tentu.
Tapi malam itu aku tidak punya tenaga untuk menguji seberapa jauh pengertiannya.
“Besok aku harus pergi pagi.”
“Nad…”
“Aku mau tidur.”
Langkahnya menjauh.
Aku baru membuka pintu setelah suara keluarga di ruang makan menghilang.
Om Arif dan Tante Mira sudah pulang.
Ayah duduk sendirian di meja.
Ibu Rina mencuci piring dengan suara keras.
Aku mengambil air minum.
Ayah berkata, “Duduk sebentar.”
Aku tetap berdiri.
“Besok kamu mau ke kampus?”
“Iya.”
“Ayah enggak melarang kamu cari informasi.”
Aku menunggu.
“Tapi jangan membuat keputusan seolah uang keluarga tidak ada batasnya.”
“Aku tidak pernah melakukan itu.”
“Nadira, kamu tahu sejak biaya rumah naik, semuanya makin berat.”
“Aku tahu.”
“Dinda juga anak di rumah ini.”
“Aku juga.”
Ayah menekan bibir.
“Kamu jangan dipelintir.”
“Aku tidak memelintir. Aku cuma mengulang fakta.”
Ibu Rina mematikan keran.
“Kalau bukan karena kamu selalu merasa paling benar, kita enggak akan sampai begini.”
Aku menoleh.
“Kalau aku tidak membuang sampah tiga hari setelah paket datang, aku bahkan tidak akan tahu aku diterima.”
Dia membuka mulut.
Aku tidak memberinya waktu.
“Aku tidak mau berdebat malam ini.”
Aku memandang Ayah.
“Besok kalau kampus membutuhkan dokumen yang cuma Ayah punya, aku akan menghubungi Ayah.”
“Kalau Ayah enggak setuju?”
Aku menatapnya cukup lama.
“Aku tetap akan mencari cara yang tidak melanggar apa pun.”
Lalu aku kembali ke kamar.
Pukul enam pagi aku sudah bangun.
Rumah masih sepi.
Aku mandi, mengambil semua dokumen sekolah yang kusimpan dalam satu map transparan, lalu keluar sebelum Ibu Rina bangun.
Di halte, aku menelepon nomor layanan penerimaan begitu jam pelayanan dibuka.
Seorang petugas perempuan menjelaskan bahwa status penerimaanku sudah tercatat dalam sistem. Surat fisik bukan satu-satunya bukti.
Aku menceritakan bahwa dokumen itu baru kuterima sehari sebelum batas akhir dan ada beberapa dokumen keluarga yang mungkin tidak bisa segera kudapatkan.
Aku tidak menceritakan seluruh masalah rumah.
Tidak perlu.
Petugas itu menjelaskan dokumen mana yang harus masuk hari itu dan mana yang masih bisa diverifikasi kemudian.
“Yang penting jangan lewatkan aktivasi dan konfirmasi penerimaannya,” katanya.
“Kalau pembayaran?”
“Ada tahapan verifikasi dulu. Ikuti yang tampil di akun. Kalau ada kendala, datang ke meja layanan.”
Aku mengucapkan terima kasih.
Tangan yang memegang ponsel terasa lebih ringan.
Belum selesai.
Tapi setidaknya kesempatan itu belum hilang.
Aku pergi ke sekolah lamaku terlebih dahulu.
Bagian tata usaha masih buka selama liburan untuk pengurusan berkas alumni.
Wali kelasku sedang berada di sekolah karena ada kegiatan penerimaan siswa baru.
Begitu melihatku, dia tersenyum.
“Nadira. Sudah lihat hasil?”
“Sudah, Bu.”
“Selamat.”
Satu kata itu membuatku harus menelan ludah sebelum menjawab.
“Terima kasih.”
Dia tidak tahu bahwa di rumah, selama tiga hari tidak seorang pun mengucapkannya kepadaku.
Aku meminta salinan beberapa berkas yang pernah diserahkan sekolah untuk pendaftaran ujian.
Tidak semuanya tersedia.
Tapi cukup untuk memulai proses.
Ketika ditanya apakah ada masalah, aku menjawab,
“Dokumen dari rumah terlambat saya terima.”
Itu benar.
Aku tidak perlu membuat kebohongan baru untuk menutupi kebohongan orang lain.
Menjelang siang aku sampai di kampus.
Aku tidak masuk dengan perasaan seperti seseorang yang sudah menang.
Aku masuk sambil membawa map tipis, baterai ponsel tinggal separuh, dan pertanyaan yang kutulis di catatan supaya tidak ada yang terlupa.
Di meja layanan, petugas memeriksa nomor peserta dan identitasku.
Statusku benar.
Diterima.
Masih bisa daftar ulang.
Untuk beberapa data penghasilan orang tua yang belum lengkap, aku diberi petunjuk mengunggah dokumen yang tersedia dan menyelesaikan verifikasi sesuai prosedur.
Tidak ada keajaiban.
Tidak ada orang yang berkata semua biaya akan hilang.
Tidak ada pintu khusus yang mendadak terbuka untukku.
Yang ada hanya prosedur.
Dan untuk pertama kalinya sejak menemukan amplop itu, prosedur terasa menenangkan.
Aturannya mungkin merepotkan.
Tapi setidaknya aturan tidak berpura-pura sayang kepadaku sambil menyembunyikan surat di lemari.
Sebelum pukul dua siang, konfirmasi penerimaanku sudah tercatat.
Aku memotret layar.
Kemudian aku duduk di bangku luar gedung.
Barulah aku melihat pesan Ayah.
Ayah:
Kamu di mana?
Aku:
Kampus.
Lima menit kemudian.
Ayah:
Ayah bilang kita bicarakan dulu.
Aku:
Batasnya hari ini.
Tidak ada balasan.
Aku memasukkan ponsel ke tas.
Masalah berikutnya adalah uang.
Jumlah biaya semester pertamaku belum sebesar uang pangkal yang sudah dibayarkan untuk Dinda, tetapi tetap bukan jumlah yang bisa kuambil begitu saja dari dompet.
Aku punya tabungan sendiri.
Tidak banyak.
Sebagian dari uang hadiah lomba sekolah, sebagian karena selama kelas dua belas aku jarang menggunakan uang saku selain untuk transportasi dan kebutuhan belajar.
Totalnya sedikit di atas Rp3 juta.
Aku tidak pernah menganggapnya sebagai uang kuliah.
Sebelumnya aku percaya Ayah akan membantuku seperti yang berkali-kali dia katakan.
Sekarang aku tidak berani memasukkan janji itu ke dalam perhitungan.
Aku menelepon Om Arif.
Bukan untuk meminta dia membayar.
Aku bertanya apakah aku boleh datang.
Dia menyuruhku langsung ke rumahnya.
Tante Mira sedang ada di sana.
Aku menjelaskan apa yang dikatakan kampus.
Om Arif tidak langsung menawarkan uang.
Dia mengambil kertas dan bertanya,
“Berapa yang kamu punya?”
Kusebutkan jumlah tabunganku.
“Berapa yang perlu dibayar lebih dulu?”
Aku menunjukkan perkiraan di portal.
Kami menghitung.
Ada kekurangan.
Tidak kecil bagiku, tapi juga bukan angka yang mustahil.
Tante Mira bertanya, “Kamu masih mau kerja di toko roti sepupumu?”
Aku memandangnya.
“Kalau bisa paruh waktu.”
Dia mengangguk.
“Hubungi langsung orangnya. Jangan lewat Rina.”
Itu saran paling berguna yang kudengar hari itu.
Aku menelepon sepupuku, Lilis, yang mengelola toko roti bersama suaminya.
“Lis, aku dengar Tante Rina sudah bicara soal aku kerja di tokomu.”
“Oh, iya. Katanya kamu enggak jadi kuliah.”
“Aku jadi kuliah.”
Hening.
“Lho?”
“Aku diterima. Ada masalah di rumah, tapi aku tetap daftar.”
“Terus soal kerja?”
“Kalau kamu memang butuh orang, aku bisa bantu sore atau akhir pekan setelah jadwal kuliah keluar. Tapi aku enggak bisa kerja penuh.”
Lilis membutuhkan waktu beberapa detik.
“Aku sebenarnya cuma bilang ke Tante Rina kalau lagi cari orang buat bantu packing dan kasir. Dia yang bilang kamu bisa mulai Senin.”
Aku memejamkan mata.
Bahkan jadwal kerjaku sudah dijanjikan tanpa bertanya.
“Kamu keberatan kalau aku kerja paruh waktu?”
“Enggak. Nanti kita atur.”
“Bayarannya tetap sesuai jam?”
Lilis tertawa pendek.
“Ya iyalah.”
“Kalau begitu aku mau.”
Setelah telepon selesai, Om Arif berkata,
“Kekurangannya aku pinjamkan dulu.”
Aku langsung menggeleng.
“Om…”
“Dengar.”
Dia mengangkat tangan.
“Pinjam. Bukan hadiah.”
Aku diam.
“Kamu tetap catat. Bayar kalau sudah punya penghasilan. Enggak perlu cepat.”
Tante Mira menambahkan, “Yang penting keputusanmu soal kuliah jangan mati cuma karena orang rumah mengambil keputusan tanpa kamu.”
Aku menerima bantuan itu.
Bukan karena aku ingin dipindahkan dari satu ketergantungan ke ketergantungan lain.
Justru karena untuk pertama kali, bantuan itu diberikan dengan jelas.
Jumlahnya jelas.
Statusnya jelas.
Aku berutang.
Aku akan mengembalikan.
Tidak ada kalimat “nanti kamu harus ingat jasa keluarga.”
Sore itu aku pulang membawa bukti konfirmasi daftar ulang.
Ayah menungguku di ruang keluarga.
Ibu Rina duduk di sampingnya.
Dinda tidak terlihat.
“Kamu benar-benar daftar?” tanya Ayah.
“Iya.”
“Kamu bayar pakai apa?”
“Tabunganku. Sisanya aku pinjam dari Om Arif.”
Wajah Ibu Rina berubah.
“Kamu bawa masalah rumah ke mana-mana sekarang?”
“Om Arif sudah tahu masalahnya sejak makan malam.”
“Kamu enggak perlu tambah cerita.”
“Aku hanya menjelaskan kenapa aku butuh pinjaman.”
Ayah berdiri.
“Kamu seharusnya bicara dulu sama Ayah.”
Aku menatapnya.
“Ayah sudah bicara tentang masa depanku tanpa aku.”
Dia berhenti.
“Ayah memilih Dinda sebelum aku tahu ada pilihan yang sedang dibuat.”
“Itu bukan begitu.”
“Terus bagaimana?”
Ibu Rina menyela.
“Dinda sudah diterima duluan dan batas pembayarannya sempit.”
“Suratku datang tanggal lima belas.”
“Itu bukan soal tanggal!”
“Memang.”
Aku mengangguk.
“Ini soal siapa yang kalian anggap bisa disuruh mengalah.”
Ayah menarik napas panjang.
“Kamu memang lebih kuat secara akademis.”
Aku hampir tidak percaya dia mengatakan itu.
“Jadi?”
“Kamu masih bisa ikut tahun depan kalau terpaksa.”
“Dinda tidak bisa?”
“Ayah enggak bilang begitu.”
“Tapi itu yang Ayah pilih.”
Dia membuang pandangan.
Aku akhirnya mengerti sesuatu yang selama ini belum bisa kujelaskan.
Ayah tidak memilih Dinda karena dia lebih menyayanginya.
Ayah memilih jalan yang menurutnya paling sedikit menimbulkan pertengkaran di rumah.
Ibu Rina akan membela Dinda habis-habisan.
Aku?
Aku biasanya diam.
Aku mengerjakan tugas rumah.
Aku jarang meminta baju baru.
Aku tidak membantah ketika uang les dikurangi.
Aku belajar sendiri.
Aku dianggap anak yang “bisa mengerti keadaan”.
Kemampuanku bertahan justru dijadikan alasan untuk memberiku lebih sedikit.
“Ayah,” kataku, “selama ini setiap kali aku tidak protes, Ayah menganggap aku setuju?”
Ayah tidak menjawab.
“Waktu jadwal kerja rumah isinya namaku hampir semua, Ayah enggak pernah tanya.”
Ibu Rina langsung menyahut, “Sekarang bawa-bawa pekerjaan rumah juga?”
Aku tidak menoleh kepadanya.
“Waktu aku enggak beli banyak barang supaya uang cukup, Ayah bilang aku anak yang pengertian.”
“Nadira…”
“Sekarang karena aku dianggap pengertian, aku diminta kehilangan satu tahun.”
Ayah duduk kembali.
Aku tidak meninggikan suara.
Justru mungkin itu yang membuatnya mendengarkan.
“Aku tidak minta Dinda berhenti kuliah.”
“Terus maumu apa?”
“Aku mau keputusan tentang hidupku tidak dibuat di belakangku.”
Aku mengeluarkan bukti daftar ulang.
“Aku tetap kuliah.”
“Kalau Ayah enggak bisa membiayai semuanya, bilang angka sebenarnya. Aku akan cari kerja paruh waktu.”
Ibu Rina tertawa kecil.
“Enak sekali. Tinggal di rumah, makan dari rumah, terus kalau urusan kuliah maunya jalan sendiri.”
Aku menoleh kepadanya.
“Aku tetap akan membantu pekerjaan rumah.”
“Tapi?”
“Tapi bukan semuanya.”
Dia menatapku.
“Mulai minggu depan aku punya kerja paruh waktu. Kalau Dinda juga tinggal di sini, kami bisa berbagi.”
“Dinda nanti sibuk kuliah.”
“Aku juga.”
Tidak ada yang bisa dijawab dari kalimat itu.
Malamnya, tulisan pembagian pekerjaan rumah masih menempel di kulkas.
Aku tidak merobeknya.
Aku mengambil foto.
Bukan untuk dikirim ke siapa pun.
Aku cuma ingin mengingat seperti apa hal-hal kecil bisa menjadi normal kalau tidak pernah dipertanyakan.
Dua hari kemudian, Dinda mengetuk kamarku lagi.
Kali ini kubuka.
Dia membawa piring berisi potongan pepaya.
“Aku taruh sini, ya.”
Aku mengangguk.
Dia tidak langsung pergi.
“Nad.”
“Apa?”
“Mama marah sama aku.”
“Karena map biru?”
“Iya.”
Aku menunggu.
“Aku minta maaf.”
“Karena Mama marah?”
Dia terdiam.
Aku hampir menutup pintu.
“Bukan.”
Dia buru-buru melanjutkan.
“Karena aku tahu kamu diterima tapi enggak bilang.”
Aku memandangnya.
“Kenapa kamu diam?”
“Karena aku takut kalau kamu tetap kuliah, uang buat aku diambil lagi.”
Jawaban itu menyakitkan.
Tapi setidaknya jujur.
“Terus sekarang?”
“Uangnya sudah dibayar. Enggak bisa balik begitu saja.”
“Bukan itu yang kutanya.”
Dinda melihat lantai.
“Aku malu.”
Aku tidak langsung mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
Karena belum.
“Aku tidak akan minta kamu berhenti kuliah.”
Dia mengangguk.
“Tapi jangan minta aku langsung percaya lagi.”
“Iya.”
“Dan mulai besok, kita bagi cuci piring.”
Dia menatapku.
Aku hampir bisa melihat kebiasaan lama bekerja di kepalanya.
Kemudian dia mengangguk.
“Iya.”
Itu bukan rekonsiliasi besar.
Besoknya dia benar-benar mencuci piring setelah sarapan.
Lusa dia lupa.
Aku menunjuk wastafel.
Dia mendesah, lalu mengerjakannya.
Begitulah perubahan sebenarnya berjalan di rumah kami.
Tidak ada musik.
Tidak ada pidato.
Hanya seseorang yang akhirnya tidak otomatis bangkit dari kursinya untuk membereskan piring orang lain.
Aku mulai bekerja di toko roti Lilis tiga sore seminggu dan Sabtu pagi.
Pekerjaannya sederhana.
Mengemas pesanan.
Mencatat stok.
Membantu kasir ketika ramai.
Aku pulang lelah.
Tapi setiap kali menerima pembayaran, aku langsung mencatat berapa yang bisa kusisihkan untuk membayar utang kepada Om Arif.
Ibu Rina beberapa kali menyindir.
“Kalau capek jangan nanti salahkan keluarga.”
Aku biasanya menjawab,
“Aku enggak menyalahkan siapa-siapa soal kerja.”
Lalu percakapan selesai.
Aku juga mengganti alamat korespondensi penting di akun kampus menjadi email pribadiku dan memilih mengambil dokumen tertentu sendiri jika memungkinkan.
Semua dokumen sekolah dan identitasku kusimpan dalam map di laci berkunci.
Ayah memperhatikan perubahan itu.
Dia tidak bertanya selama hampir dua minggu.
Hubungan kami menjadi aneh.
Kami makan di meja yang sama.
Dia masih bertanya apakah motorku ada bensin.
Aku masih memberi tahu kalau pulang agak malam.
Tapi percakapan kami berhenti sebelum menyentuh hal penting.
Suatu malam, tiga minggu setelah makan malam keluarga itu, Ayah mengetuk pintu.
“Ayah boleh masuk?”
Dulu dia biasanya langsung membuka.
Aku memandang pintu beberapa detik.
“Masuk.”
Dia membawa dua lembar kertas.
Dia duduk di kursi dekat meja.
“Ayah sudah hitung ulang pengeluaran.”
Aku diam.
“Ayah enggak bisa menanggung semuanya seperti dulu.”
“Memang bukan seperti dulu.”
“Ayah tahu.”
Dia meletakkan kertas.
Ada daftar cicilan rumah, listrik, kebutuhan bulanan, biaya pendidikan Dinda, dan perkiraan kebutuhan kuliahku.
Angkanya tidak menyenangkan.
Tapi untuk pertama kalinya aku melihat angka sebenarnya.
Bukan kalimat “uang kita enggak cukup”.
“Ayah bisa bantu sekian setiap bulan.”
Dia menunjuk satu angka.
Tidak besar.
Tapi jelas.
“Untuk kebutuhan kuliahmu.”
Aku membaca kertas itu.
“Dinda?”
“Ada jatahnya sendiri.”
“Jumlahnya?”
Ayah menyebutkan.
Lebih besar karena kuliahnya memang lebih mahal.
Aku memandangnya.
“Ini dibicarakan sama Dinda?”
“Sudah.”
“Dengan Ibu Rina?”
Rahangnya sedikit menegang.
“Sudah.”
Aku tahu dari wajahnya percakapan itu tidak berjalan damai.
“Ayah enggak akan minta kamu bayar kuliah Dinda dari hasil kerja.”
Aku tidak pernah mengira perlu mendengar kalimat itu dari ayahku sendiri.
Tapi ternyata perlu.
“Terus kalau Ibu Rina minta?”
“Ayah yang bicara.”
Aku menutup kertas.
“Ayah kenapa berubah?”
Dia lama sekali menjawab.
“Om Arif bilang sesuatu.”
Aku hampir tersenyum pahit.
“Tentu.”
“Bukan cuma karena dia.”
Ayah melihat tangannya sendiri.
“Ayah pikir waktu itu Ayah sedang memilih keputusan yang paling masuk akal.”
“Dengan bohong?”
Dia mengangguk perlahan.
“Itu yang salah.”
Aku menunggu kalimat berikutnya.
“Ayah berpikir kamu akan marah beberapa bulan, lalu tahun depan ikut ujian lagi. Ayah pikir karena kamu selalu bisa cari jalan, kamu akan baik-baik saja.”
Aku menatapnya.
“Kalau aku enggak menemukan amplop?”
Ayah tidak menjawab.
“Aku akan kerja di toko roti karena mengira aku gagal.”
“Iya.”
“Aku mungkin malu bertemu guru.”
“Iya.”
“Aku akan mengira aku mengecewakan Ibu.”
Ayah akhirnya mengangkat wajah.
Dia tahu aku sedang membicarakan ibu kandungku.
Matanya memerah, tetapi dia tidak menangis.
“Ayah enggak memikirkan sejauh itu.”
“Itulah masalahnya.”
Dia mengangguk.
Aku tidak mengatakan bahwa aku memaafkannya.
Dia juga tidak meminta jawaban seperti itu.
Sebelum keluar, Ayah berkata,
“Kalau kamu enggak mau menerima uang dari Ayah, Ayah paham.”
Aku melihat lembar pengeluaran di meja.
“Aku akan terima bagian biaya kuliah yang Ayah memang sanggup bayar.”
Dia menatapku.
“Tapi itu bukan berarti semuanya sudah kembali seperti dulu.”
“Iya.”
“Aku mau pegang sendiri dokumen kuliahku.”
“Iya.”
“Kalau ada surat atau paket atas namaku, jangan dibuka.”
“Iya.”
“Siapa pun.”
Ayah paham kata terakhir itu.
Dia mengangguk.
Itu batas pertama yang kami ucapkan dengan jelas.
Beberapa hari kemudian, Ibu Rina menghentikanku ketika aku sedang mengambil pakaian dari jemuran.
“Kamu puas sekarang?”
Aku melipat kaus.
“Puas soal apa?”
“Ayahmu jadi hitung uang sampai segitu detailnya gara-gara kamu.”
“Menurutku bagus.”
“Dulu rumah ini enggak begini.”
Aku hampir bertanya, dulu yang mana?
Sebelum aku mengetahui suratku dibuang?
Sebelum Dinda harus mencuci piring?
Sebelum Ayah berhenti menyebut semua keputusan sebagai “demi keluarga”?
Aku memilih kalimat yang lebih sederhana.
“Aku juga enggak mau rumah jadi begini.”
Ibu Rina terdiam.
“Tapi aku tidak yang menyembunyikan surat.”
Wajahnya mengeras.
“Aku cuma berusaha menyelamatkan kesempatan anakku.”
“Aku tahu.”
“Kalau kamu jadi ibu suatu hari nanti, kamu bakal ngerti.”
“Mungkin.”
Aku memasukkan pakaian ke keranjang.
“Tapi kalau aku harus mengambil kesempatan anak lain supaya anakku maju, aku harap ada orang yang mengingatkanku.”
Dia menatapku lama.
Tidak meminta maaf.
Aku juga tidak menunggu.
Hubunganku dengan Ibu Rina setelah itu tidak membaik secara ajaib.
Dia lebih hati-hati.
Itu berbeda dengan menjadi lebih hangat.
Dia tidak lagi membuka kirimanku.
Dia berhenti menjanjikan waktuku kepada saudara tanpa bertanya.
Ketika ada urusan yang menyangkut kuliahku, Ayah meminta dia menyerahkannya kepadaku langsung.
Kadang aku mendengar mereka berdebat di kamar.
Aku tidak merasa menang.
Masalah di pernikahan mereka bukan tugasku untuk diselesaikan.
Dinda dan aku juga tidak berubah menjadi saudara yang tiba-tiba dekat.
Kami tetap sering berbeda.
Dia masih suka meninggalkan gelas di meja.
Aku masih harus mengingatkannya.
Tapi setelah peristiwa map biru, dia tidak pernah lagi bertanya dengan nada ingin memastikan apakah aku lebih gagal darinya.
Suatu malam dia masuk ke kamar sambil membawa uang Rp300.000.
“Apa ini?”
“Buat Om Arif.”
Aku mengerutkan dahi.
“Kenapa?”
“Enggak banyak.”
“Aku tahu. Kenapa kamu kasih ke aku?”
Dia memainkan ujung lengan bajunya.
“Kalau Mama enggak bayar uang pangkalku dari tabungan itu, mungkin kamu enggak perlu pinjam sebanyak sekarang.”
Aku mengembalikan uangnya.
“Biaya kuliahmu bukan utangmu ke aku.”
“Tapi…”
“Kalau kamu merasa bersalah, jangan bayar aku.”
Dia menatapku bingung.
“Terus?”
“Jangan diam lagi kalau kamu tahu sesuatu salah cuma karena kamu diuntungkan.”
Dia lama tidak berbicara.
Akhirnya uang itu dimasukkan kembali ke dompet.
“Iya.”
Aku tidak tahu apakah dia benar-benar akan melakukannya ketika ujian berikutnya datang.
Tapi setidaknya sekarang dia tahu apa yang akan diuji.
Enam minggu setelah menemukan amplop di tempat sampah, aku membayar cicilan pertama kepada Om Arif.
Tidak banyak.
Dia sempat bilang tidak perlu buru-buru.
Aku tetap mengirimnya.
Di catatan transfer kutulis:
Cicilan 1.
Tidak ada kalimat panjang.
Aku ingin bantuan itu tetap menjadi apa yang kami sepakati.
Pinjaman.
Bukan rantai.
Ketika hari pertama kuliah tiba, aku bangun sebelum alarm.
Rumah masih gelap.
Di dapur, Ayah sedang membuat kopi.
Dia menoleh ketika melihatku sudah berpakaian rapi.
“Berangkat sekarang?”
“Iya.”
Dia mengangguk.
Kemudian membuka laci meja makan dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat.
Aku langsung berhenti.
“Apa itu?”
“Surat dari kampus. Datang kemarin sore.”
Dia menyerahkannya tanpa dibuka.
Masih tersegel.
Nama penerimanya terlihat jelas.
Nadira Prameswari.
Aku mengambilnya.
Ayah berkata, “Selamat kuliah.”
Sederhana.
Terlambat hampir dua bulan.
Tapi kali ini dia mengatakannya sambil menatapku.
Aku memasukkan amplop ke tas.
Ketika membuka kulkas untuk mengambil botol air, mataku jatuh pada kertas pembagian pekerjaan rumah.
Kertas lama sudah tidak ada.
Di tempatnya ada jadwal baru yang dibuat Ayah.
Cuci piring bergantian.
Belanja bergantian.
Membersihkan rumah dibagi.
Namaku ada.
Nama Dinda juga ada.
Tidak sempurna.
Sama sekali belum.
Aku menutup kulkas.
Lalu kuambil tas, memeriksa sekali lagi bahwa surat dari kampus ada di dalam, dan berjalan keluar.
Kali ini tidak ada seorang pun yang memegang surat atas namaku selain aku sendiri.
Menurutmu, apakah Nadira masih perlu memberi ayahnya kesempatan memperbaiki hubungan setelah ia ikut menyembunyikan penerimaan kuliahnya?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
