SAAT MAKAN MALAM NATAL, IBU MERTUAKU MENAMPARKU TIGA KALI—DUA JAM KEMUDIAN, DIA BARU TAHU SIAPA PEMILIK RUMAH ITU

Avatar penulis
Cerita 04
17 menit baca 567 tayangan
SAAT MAKAN MALAM NATAL, IBU MERTUAKU MENAMPARKU TIGA KALI—DUA JAM KEMUDIAN, DIA BARU TAHU SIAPA PEMILIK RUMAH ITU
Indeks

SAAT MAKAN MALAM NATAL, IBU MERTUAKU MENAMPARKU TIGA KALI—DUA JAM KEMUDIAN, DIA BARU TAHU SIAPA PEMILIK RUMAH ITU

Saat makan malam Natal, aku dan kakak iparku mulai bertengkar.

Ibu mertuaku tiba-tiba menamparku tiga kali lalu meludah dengan penuh kebencian,

“Kamu itu sampah. Anak laki-lakiku pantas mendapatkan istri yang lebih baik.”

SAAT MAKAN MALAM NATAL, IBU MERTUAKU MENAMPARKU TIGA KALI—DUA JAM KEMUDIAN, DIA BARU TAHU SIAPA PEMILIK RUMAH ITU

Lalu dia menunjuk putriku yang baru berusia tiga tahun.

“Bawa anak itu dan keluar dari rumahku!”

Suamiku menggenggam tanganku.

“Ayo, kita pergi.”

Dua jam kemudian, ayah mertuaku menelepon.

Suara di seberang telepon terdengar aneh.

“Raka… ibumu baru saja mengetahui semuanya.”

Tamparan ketiga tidak sesakit saat ibu mertuaku menunjuk putriku yang baru berusia tiga tahun dan menghinanya.

Namun apa yang terjadi dua jam kemudian akan membuatnya kehilangan rumah mewah yang sedang ia duduki, menghancurkan bisnis putrinya, dan meruntuhkan semua keyakinannya tentang siapa yang sebenarnya memegang kendali dalam keluarga itu.

Namaku Nadira Prameswari.

Makan malam Natal di rumah keluarga Wijaya di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, selalu terasa seperti sebuah pertunjukan.

Lilin-lilin dekoratif tersusun rapi di atas meja makan panjang.

Gelas kristal berkilauan di bawah lampu gantung mahal.

Sebuah pohon Natal besar menjulang di samping ruang keluarga, dipenuhi ornamen berwarna merah, emas, dan putih.

Dan ibu mertuaku, Dewi Wijaya, duduk di kursi utama seolah seluruh perayaan malam itu diselenggarakan untuk menghormatinya.

Suamiku, Raka Wijaya, diam-diam meremas lututku di bawah meja.

“Bertahan sampai makanan penutup,” bisiknya.

Aku hampir tersenyum.

Hampir.

Sampai kakak perempuan Raka, Vania Wijaya, membuka mulut.

“Jadi, Nadira,” katanya sambil memutar gelas minuman di tangannya, “kamu masih mengerjakan bisnis konsultasi kecil-kecilan itu?”

Aku menatapnya dengan tenang.

“Masih.”

Vania tertawa kecil.

“Lucu juga.”

Dia tahu persis apa pekerjaanku.

Aku memberikan konsultasi kepada perusahaan-perusahaan yang sedang menghadapi merger, restrukturisasi, akuisisi, atau masalah finansial.

Tapi bagi Vania, pekerjaan apa pun yang tidak melibatkan memamerkan tas mahal, menghadiri acara sosial, atau mengunggah foto dari restoran mewah dianggap tidak penting.

Beberapa menit kemudian, pembicaraan beralih ke bisnis desain interior miliknya yang sedang bermasalah.

Vania mulai mengeluh karena Raka menolak memberikan tambahan modal sebesar Rp800 juta.

“Uang itu juga bagian dari keluarga ini,” katanya.

Raka meletakkan sendoknya.

“Itu uang kami.”

Vania mendengus.

“Maksudmu uang istrimu.”

Aku perlahan meletakkan garpu.

“Sebenarnya,” kataku, “aku memang menyarankan Raka untuk tidak memberikan uang itu.”

Vania menatapku tajam.

“Kenapa?”

“Karena perusahaanmu sudah delapan bulan bermasalah dengan kewajiban pajak dan pembayaran karyawan. Memasukkan Rp800 juta lagi tanpa restrukturisasi bukan investasi. Itu hanya menunda kehancuran.”

Meja makan mendadak sunyi.

Wajah Vania berubah.

“Kamu memeriksa laporan perusahaanku?”

“Kamu sendiri yang mengirim dokumennya kepadaku tiga bulan lalu dan meminta pendapat.”

“Aku meminta pendapat, bukan meminta kamu menghakimiku!”

“Aku tidak menghakimimu.”

Aku menatapnya lurus.

“Aku hanya membaca angka-angkanya.”

“Kamu selalu seperti ini!”

Suara Vania meninggi.

“Sejak menikah dengan Raka, kamu selalu merasa paling pintar!”

“Cukup,” kata Raka.

Namun Vania belum selesai.

“Dia sudah mengubahmu, Raka. Dulu kamu selalu membantu keluarga.”

Raka menggeleng.

“Membantu keluarga berbeda dengan membuang ratusan juta rupiah ke perusahaan yang bahkan tidak punya rencana penyelamatan.”

Saat itulah Dewi berdiri.

Kaki kursinya bergesekan keras dengan lantai marmer.

Matanya tertuju kepadaku.

“Kamu.”

Aku menatapnya.

Dewi berjalan mengitari meja.

“Kamu yang sudah meracuni pikiran anak laki-lakiku.”

“Aku hanya memberikan pendapat profesional.”

“Profesional?”

Dia tertawa sinis.

“Sejak masuk ke keluarga ini, kamu selalu merasa lebih hebat daripada kami.”

“Aku tidak pernah mengatakan itu.”

“Tapi kamu menunjukkannya!”

Raka berdiri.

“Bu, cukup.”

Namun Dewi sudah berada tepat di depanku.

“Aku membesarkan Raka selama puluhan tahun. Lalu kamu datang dan membuatnya melawan keluarganya sendiri.”

“Aku tidak membuat siapa pun melawan siapa pun.”

“Pembohong.”

Lalu—

PLAK!

Telapak tangannya menghantam pipiku.

Kepalaku sedikit terlempar ke samping.

Ruangan langsung membeku.

Raka berdiri begitu cepat sampai kursinya jatuh.

“IBU!”

Aku mengangkat tangan, memberi isyarat agar Raka tidak melakukan apa-apa.

Aku kembali menatap Dewi.

Dia justru semakin marah melihatku tidak menangis.

PLAK!

Tamparan kedua mengenai sisi wajahku.

“Nadira!”

Raka bergerak maju.

Tetapi sebelum dia sempat mencapai kami—

PLAK!

Tamparan ketiga.

Pipiku terasa panas.

Mataku berair, tetapi aku tidak menangis.

Aku hanya berdiri di sana dan menatap perempuan yang selama tujuh tahun terakhir selalu berusaha membuatku merasa seperti orang luar.

Dewi mendekatkan wajahnya.

Aku bisa mencium aroma parfum mahal bercampur minuman dari napasnya.

“Kamu itu sampah,” desisnya.

“Anakku pantas mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik.”

Aku masih tidak mengatakan apa-apa.

Mungkin itulah yang membuatnya semakin marah.

Lalu Dewi melakukan satu hal yang tidak pernah bisa kumaafkan.

Dia mengangkat tangannya.

Bukan ke arahku.

Melainkan menunjuk ke sudut ruang keluarga.

Putriku, Aluna, berdiri di dekat pohon Natal.

Usianya baru tiga tahun.

Boneka kelinci kesayangannya dipeluk erat di dada.

Matanya yang besar menatap kami dengan ketakutan.

Dia belum memahami apa yang sedang terjadi.

Namun dia memahami satu hal.

Neneknya sedang marah kepada ibunya.

Dewi menunjuk Aluna.

“Bawa anak itu juga.”

Aku membeku.

Dewi melanjutkan,

“Bawa sampah kecil itu dan keluar dari rumahku.”

Tidak ada yang bergerak.

Bahkan Vania tampak terkejut.

Sesuatu di dalam diriku mendadak menjadi sangat tenang.

Bukan marah.

Bukan sedih.

Tenang.

Karena saat seseorang menghina diriku, mungkin aku masih bisa menahan diri.

Tapi ketika seseorang menyebut putriku sampah…

Hubungan kami selesai.

Selamanya.

Raka menatap ibunya.

Wajahnya tidak lagi menunjukkan kemarahan.

Justru lebih buruk.

Tatapannya kosong.

Seolah sesuatu dalam dirinya akhirnya mati.

Dia berjalan menghampiriku dan menggenggam tanganku.

Kemudian dia mengangkat Aluna ke dalam pelukannya.

“Ayo,” katanya pelan.

“Kita pulang.”

Dewi tertawa dari belakang kami.

“Bagus!”

Kami terus berjalan.

“Pergi saja!”

Raka tidak menoleh.

“Dan jangan datang merangkak kembali ketika perempuan itu menghancurkan hidupmu!”

Kami sampai di pintu depan.

Aku mengenakan mantelku.

Raka membantu memasangkan jaket kecil Aluna.

Sebelum keluar, aku berhenti.

Bukan untuk bertengkar.

Bukan untuk membela diri.

Bukan pula untuk menangis.

Aku hanya menoleh sekali lagi ke dalam rumah itu.

Ke arah tangga marmer yang Dewi banggakan kepada setiap tamu.

Lampu gantung kristal besar yang ia pesan khusus dari luar negeri.

Lukisan-lukisan mahal di dinding.

Sofa Italia.

Meja makan kayu jati panjang.

Taman belakang.

Kolam renang.

Semua benda yang selama bertahun-tahun digunakan Dewi untuk menunjukkan kepada orang lain betapa kaya dan berkuasanya keluarga Wijaya.

Aku menatap semuanya beberapa detik.

Kemudian tersenyum tipis.

“Selamat Natal, Bu.”

Dewi mendengus.

Aku keluar.

Pintu tertutup di belakang kami.

Di dalam mobil, Aluna mulai menangis.

“Bunda…”

Aku segera memeluknya.

“Iya, Sayang.”

“Nenek marah sama Bunda?”

Aku mencium keningnya.

“Bukan salah Aluna.”

Raka duduk di kursi pengemudi dengan kedua tangan mencengkeram setir.

Rahangnya mengeras.

“Aku minta maaf.”

Aku menatapnya.

“Kamu tidak menamparku.”

“Tapi dia ibuku.”

“Dan kamu membawa kami keluar.”

Raka menatapku.

Aku tahu keputusan yang baru saja dia buat jauh lebih besar daripada meninggalkan makan malam Natal.

Dia telah memilih keluarganya.

Keluarga yang kami bangun sendiri.

Kami berkendara meninggalkan Pondok Indah tanpa berkata banyak.

Sekitar dua jam kemudian, kami sudah berada di apartemen kami ketika ponsel Raka berdering.

Nama ayahnya muncul di layar.

Bambang Wijaya.

Raka mengangkat telepon.

“Ya, Ayah?”

Aku tidak bisa mendengar semua yang dikatakan ayah mertuaku.

Tapi aku melihat wajah Raka perlahan berubah.

“Ayah serius?”

Hening.

Raka menatapku.

Kemudian menyalakan pengeras suara.

Suara Bambang terdengar lelah dari seberang.

“Raka…”

Dia menarik napas panjang.

“Ibumu baru saja mengetahui semuanya.”

Raka duduk tegak.

“Mengetahui apa?”

“Aku memperlihatkan dokumen rumah ini kepadanya.”

Sunyi.

Lalu Bambang berkata,

“Dia baru tahu kalau rumah ini sebenarnya bukan milik keluarga Wijaya.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

“Dia juga baru membaca perjanjian hak tinggal yang ditandatanganinya enam tahun lalu.”

Raka menatapku.

Aku tahu persis dokumen apa yang dimaksud.

Bambang melanjutkan,

“Dan sekarang dia tahu bahwa hak tinggalnya bisa dicabut jika dia melakukan kekerasan terhadap pemilik sah properti… atau anggota keluarga pemilik.”

Dari kejauhan, terdengar suara Dewi berteriak.

“BAMBANG! TELEPON NADIRA SEKARANG!”

Aku memejamkan mata sejenak.

Karena ada satu detail yang selama bertahun-tahun dilupakan Dewi.

Rumah mewah di Pondok Indah itu…

bukan miliknya.

Bahkan bukan milik suaminya.

Rumah itu dimiliki oleh perusahaan investasiku.

Enam tahun sebelumnya, ketika bisnis keluarga Wijaya hampir kehilangan properti itu karena masalah utang, perusahaanku membeli aset tersebut melalui restrukturisasi tertutup.

Atas permintaan Bambang dan Raka, aku membiarkan Dewi tetap tinggal di sana.

Tanpa sewa.

Dengan satu syarat penting.

Tidak boleh ada kekerasan, ancaman, atau pelecehan terhadap pemilik properti maupun keluarganya.

Dan malam ini…

Dewi baru saja melanggar syarat terakhir itu.

Tapi rumah tersebut ternyata baru permulaan.

Karena dokumen perusahaan Vania yang dikirim kepadaku tiga bulan lalu telah mengungkap sesuatu yang jauh lebih serius daripada pajak yang belum dibayar.

Sesuatu yang bahkan Vania sendiri tidak tahu sudah kutemukan.

Dan ketika audit dimulai setelah Natal…

keluarga Wijaya akhirnya mengetahui alasan sebenarnya mengapa aku tidak mau membiarkan Raka memberikan Rp800 juta kepadanya.

LANJUTAN — RAHASIA DI BALIK RUMAH KELUARGA WIJAYA

Suara Dewi masih terdengar dari kejauhan di telepon.

“BAMBANG! SURUH DIA BICARA DENGANKU!”

Raka menatap layar ponselnya, lalu kepadaku.

Aku menggeleng pelan.

“Belum.”

Bambang terdiam beberapa detik.

“Nadira,” katanya, “aku tidak akan memaksamu. Tapi ibunya Raka sedang panik.”

Aku hampir tertawa.

Panik.

Itu kata yang menarik.

Selama tujuh tahun, Dewi tidak pernah terlihat panik di depanku.

Dia selalu menjadi perempuan yang mengatur siapa duduk di mana, siapa boleh bicara, siapa dianggap pantas masuk ke keluarganya, bahkan hadiah apa yang harus dibawa seseorang saat berkunjung.

Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, dia menyadari ada sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.

Aku.

“Pak,” kataku akhirnya, “tolong jangan lakukan apa pun malam ini.”

Raka menatapku kaget.

Bambang juga terdengar bingung.

“Jangan lakukan apa pun?”

“Jangan keluarkan Ibu dari rumah sekarang. Jangan matikan listrik. Jangan panggil pengacara malam ini. Jangan lakukan tindakan apa pun karena emosi.”

Dari seberang terdengar suara Dewi,

“DIA MAU APA?”

Aku menutup mata sejenak.

“Besok pagi,” lanjutku, “kita bicara di rumah itu. Bersama-sama.”

Bambang menghela napas.

“Baik.”

Sebelum telepon ditutup, Dewi merebut ponsel.

“Nadira!”

Aku diam.

“Kamu memang sudah merencanakan ini sejak awal, kan?”

Aku menatap Aluna yang sudah tertidur di sofa dengan boneka kelinci di pelukannya.

Lalu aku menjawab,

“Tidak, Bu.”

“Kamu bohong!”

“Aku tidak pernah merencanakan untuk ditampar tiga kali pada malam Natal.”

Dewi terdiam.

“Aku juga tidak pernah merencanakan Aluna dihina.”

Kali ini tidak ada jawaban.

Aku memutus sambungan.

Raka menaruh ponselnya di meja.

“Kenapa besok?”

“Karena malam ini semua orang marah.”

“Aku tidak peduli kalau mereka marah.”

“Aku tahu.”

Aku menggenggam tangannya.

“Tapi aku peduli keputusan yang kita buat besok tidak lahir hanya dari kemarahan.”

Raka menunduk.

Beberapa detik kemudian, dia berkata,

“Aku bahkan tidak tahu soal rumah itu.”

Aku menatapnya.

“Aku tahu.”

Dia mengangkat kepala.

“Kamu tahu aku tidak tahu?”

Aku mengangguk.

Raka tertawa kecil, pahit.

“Jadi semua ini lebih besar dari yang kupikir.”

Jauh lebih besar.

Dan aku belum menceritakan bagian terburuknya.

Keesokan paginya kami kembali ke Pondok Indah.

Rumah itu tampak sama seperti malam sebelumnya.

Pohon Natal masih menyala.

Karangan bunga merah tergantung di pintu.

Mobil mewah Vania terparkir di halaman.

Tapi suasananya berbeda.

Ketika kami masuk, Dewi sudah duduk di ruang keluarga dengan wajah pucat.

Vania ada di sana.

Begitu pula Bambang.

Dan di sisi sofa duduk seorang laki-laki berkacamata berusia sekitar lima puluhan.

Aku mengenalnya.

Namanya Armand Prasetyo.

Pengacara keluarga Wijaya.

Wajah Vania langsung berubah ketika melihatku.

“Kamu bawa pengacara juga?”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

Dewi menunjuk Armand.

“Dia yang kupanggil.”

Armand terlihat tidak nyaman.

“Nyonya Dewi meminta saya memeriksa dokumen kepemilikan rumah ini.”

“Dan?” tanyaku.

Armand melepas kacamatanya.

“Dokumennya sah.”

Dewi memukul meja.

“Bagaimana mungkin?”

Aku tidak menjawab.

Armand melanjutkan.

“Properti ini tercatat atas nama PT Arunika Strategic Holdings.”

Vania menatapku.

“Perusahaanmu?”

“Ya.”

“Sejak kapan?”

“Enam tahun lalu.”

Dewi berdiri.

“Kamu membeli rumah kami di belakang kami?”

Bambang ikut berdiri.

“Bukan di belakang siapa pun, Dewi.”

Dia menatap istrinya.

“Aku yang menyetujui penjualan itu.”

Ruangan menjadi sunyi.

Dewi menoleh perlahan kepada suaminya.

“Apa?”

Bambang mengambil sebuah map.

“Enam tahun lalu, perusahaan keluarga kita hampir gagal membayar pinjaman.”

Vania langsung menyela.

“Itu cuma masalah arus kas.”

“Bukan.”

Nada suara Bambang berubah.

“Kita hampir bangkrut.”

Aku melihat ekspresi Vania retak.

Bambang membuka map.

“Kita punya utang bank hampir Rp47 miliar. Rumah ini dipakai sebagai agunan. Kalau tidak ada penyelamatan, rumah ini sudah disita.”

Dewi terlihat seperti tidak bisa bernapas.

“Kenapa aku tidak tahu?”

“Karena kamu baru selesai operasi waktu itu.”

Dewi terdiam.

Bambang menatapku.

“Nadira datang dengan solusi.”

Aku segera berkata,

“Bukan aku sendiri.”

Tapi Bambang menggeleng.

“Jangan merendahkan apa yang kamu lakukan.”

Dia kembali menatap istrinya.

“Perusahaan Nadira membeli rumah ini dari bank, menutup kewajiban kita, lalu memberi hak tinggal seumur hidup selama syarat tertentu dipenuhi.”

Dewi tertawa tidak percaya.

“Jadi selama enam tahun ini aku tinggal di rumah menantuku?”

“Secara hukum, ya,” jawab Armand.

Dewi menatapku dengan sesuatu yang bukan lagi kemarahan.

Ketakutan.

Aku mengeluarkan sebuah amplop.

“Aku tidak datang untuk mengusir siapa pun.”

Vania mendengus.

“Lalu untuk apa?”

Aku menatapnya.

“Untuk bicara tentang perusahaanmu.”

Wajahnya berubah.

“Apa hubungannya?”

Aku meletakkan tiga lembar dokumen di meja.

“Banyak.”

Vania melangkah mendekat.

Aku menunjuk dokumen pertama.

“Ini daftar gaji perusahaanmu.”

Dokumen kedua.

“Ini catatan transfer rekening.”

Dokumen ketiga.

“Dan ini laporan vendor.”

Vania menelan ludah.

“Terus?”

“Selama sebelas bulan, perusahaanmu melaporkan pembayaran kepada tiga vendor yang sebenarnya tidak aktif.”

Armand langsung mengambil dokumen.

Vania memucat.

“Aku tidak tahu soal itu.”

“Aku percaya.”

Kalimatku membuat semua orang menoleh.

Vania berkedip.

“Apa?”

“Aku bilang aku percaya kamu tidak tahu.”

Dewi tertawa sinis.

“Sekarang kamu pura-pura baik?”

Aku mengabaikannya.

“Vendor itu dikelola oleh orang lain.”

Aku mengeluarkan satu lembar terakhir.

Nama di bagian bawah laporan membuat Bambang membeku.

Raka mengambil dokumen tersebut.

Aku melihat matanya bergerak membaca.

Kemudian dia menatap ayahnya.

“Ayah?”

Bambang terlihat seperti seluruh darah keluar dari wajahnya.

Dewi merebut kertas.

Nama yang tercetak di sana adalah:

Bambang Wijaya.

Ruangan membeku.

Vania menatap ayahnya.

“Ayah?”

Bambang duduk perlahan.

Aku tidak berkata apa-apa selama beberapa detik.

Lalu dia berkata,

“Aku bisa menjelaskan.”

Dewi tertawa pendek.

“Menjelaskan apa?”

Bambang menutup wajah.

“Nadira…”

Aku mengangkat tangan.

“Pak, biarkan saya yang jelaskan.”

Aku menatap Vania.

“Bisnismu memang buruk. Tapi bukan hanya karena keputusanmu.”

Air mata mulai muncul di matanya.

“Apa maksudmu?”

“Sebagian uang perusahaanmu dialihkan untuk membayar utang lama keluarga.”

Dewi langsung menoleh kepada Bambang.

“Utang apa?”

Bambang tidak menjawab.

Aku melanjutkan.

“Bukan utang bank.”

Aku mendorong dokumen terakhir.

“Utang pribadi.”

Raka membaca lebih cepat.

Lalu napasnya tertahan.

“Rp12,6 miliar?”

Bambang menutup mata.

Vania hampir berbisik,

“Ayah mencuri dari perusahaanku?”

“Tidak persis,” kataku.

Dia menatapku tajam.

“Jangan bela dia.”

“Aku tidak membelanya.”

Aku menarik napas.

“Perusahaanmu dimiliki 72% olehmu. Sisanya dimiliki perusahaan keluarga. Ayahmu memakai akses perusahaan keluarga untuk membuat pembayaran yang kelihatannya seperti transaksi vendor.”

Dewi berdiri gemetar.

“Untuk apa uang itu?”

Bambang akhirnya mengangkat kepala.

“Untuk rumah sakit.”

Semua orang terdiam.

Dewi berkedip.

“Apa?”

“Untuk rumah sakit.”

Bambang menarik napas panjang.

“Tujuh tahun lalu aku didiagnosis gagal ginjal tahap lanjut.”

Raka membeku.

Aku menatapnya.

Aku juga baru tahu bagian ini tiga minggu lalu.

Bambang melanjutkan.

“Aku menjalani perawatan diam-diam.”

Vania mulai menangis.

“Kenapa tidak pernah bilang?”

“Karena saat itu kalian sedang menghadapi terlalu banyak hal.”

Dewi tampak marah sekaligus hancur.

“Kamu suamiku!”

“Aku tahu.”

“Jadi kamu memilih mencuri?”

Bambang menunduk.

“Aku tidak ingin menjual aset keluarga lagi. Aku pikir aku bisa mengembalikan uangnya.”

“Dengan menghancurkan perusahaan anakmu?”

“Aku tidak tahu situasinya sudah separah itu.”

Vania menampar meja.

“Karena Ayah tidak pernah bertanya!”

Bambang terdiam.

Aku menatap semua orang di ruangan itu.

Inilah alasan sebenarnya aku mencegah Raka memberikan Rp800 juta.

Bukan karena Vania tidak kompeten.

Bukan hanya karena masalah pajak.

Karena uang baru apa pun akan langsung menghilang ke sistem pembayaran palsu yang dibuat Bambang.

Tapi masih ada satu rahasia lagi.

Dan itu adalah bagian yang paling menyakitkan.

Aku mengeluarkan sebuah amplop putih kecil.

“Ini yang membuat saya akhirnya memutuskan melakukan audit penuh.”

Aku menyerahkan amplop itu kepada Raka.

Dia membukanya.

Di dalamnya ada fotokopi dokumen rumah sakit.

Nama pasien.

Tanggal.

Dan nama penanggung biaya.

Raka menatapku.

“Nadira Prameswari?”

Dewi terlihat bingung.

“Apa maksudnya?”

Bambang mulai menangis.

Aku menelan sesuatu di tenggorokan.

“Tiga minggu lalu saya mendapat telepon dari rumah sakit.”

“Kenapa?” tanya Vania.

“Karena tujuh tahun lalu, sebelum menikah dengan Raka, saya pernah terdaftar sebagai penjamin donor.”

Raka menatapku.

“Nadira…”

Aku menatap Bambang.

“Kami melakukan tes kecocokan.”

Dewi duduk.

Matanya perlahan melebar.

“Jangan bilang…”

Aku mengangguk.

“Ginjal yang menyelamatkan Pak Bambang…”

Aku menarik napas.

“…berasal dari ayah saya.”

Sunyi.

Tidak ada seorang pun bergerak.

Raka terlihat seperti lupa cara bernapas.

Ayahku, Pramono Prameswari, meninggal tujuh tahun lalu karena kecelakaan mobil.

Dia adalah donor organ.

Aku tidak pernah tahu siapa penerimanya.

Rumah sakit merahasiakan identitas itu.

Sampai masalah administratif tiga minggu lalu membuat namaku tersambung ke dokumen lama.

Bambang menangis terbuka.

“Aku juga baru tahu bulan lalu.”

Dewi menutup mulut.

Aku menatapnya.

“Jadi, Bu…”

Suaraku bergetar untuk pertama kalinya.

“Ketika Ibu menyebut saya sampah…”

Aku berhenti.

“Di tubuh suami Ibu ada bagian dari ayah saya.”

Dewi seperti kehilangan seluruh tenaga di tubuhnya.

Dia jatuh kembali ke sofa.

Tidak ada lagi kesombongan.

Tidak ada lagi kemarahan.

Hanya seorang perempuan tua yang baru saja menyadari betapa kejam kata-katanya sendiri.

Aku berbalik.

“Aku tidak datang untuk menghancurkan keluarga ini.”

Vania menangis.

“Lalu apa yang akan kamu lakukan?”

“Aku akan mengambil alih sementara perusahaanmu.”

Dia mengangkat kepala.

“Apa?”

“Enam bulan.”

Aku menatapnya.

“Aku akan membantu restrukturisasi utang, menyelesaikan tunggakan pajak, memutus vendor palsu, dan membangun sistem baru.”

Vania menatapku lama.

“Kenapa?”

“Karena perusahaan itu bisa diselamatkan.”

“Setelah semua yang kulakukan padamu?”

Aku tersenyum pahit.

“Ya.”

Air matanya jatuh.

Bambang berkata,

“Dan rumah?”

Aku menatap Dewi.

Dia tidak berani menatapku.

“Aku tidak akan mengusir Ibu hari ini.”

Dewi perlahan mengangkat wajah.

“Tapi?”

“Hak tinggal akan diubah.”

Armand mencatat.

“Apa syaratnya?”

Aku menatap Dewi lurus.

“Rumah ini bukan lagi simbol kekuasaan.”

Dia diam.

“Separuh rumah akan direnovasi menjadi pusat kegiatan yayasan untuk pasien ginjal dan keluarga donor.”

Semua orang terdiam.

Aku melanjutkan.

“Namanya Yayasan Pramono Wijaya.”

Bambang menutup wajah dan menangis.

Raka menggenggam tanganku.

Dewi menatapku dengan bibir gemetar.

“Kenapa ada nama Wijaya?”

“Karena hidup Ayah saya berakhir…”

Aku menatap Bambang.

“…tetapi sebagian dari dirinya tetap hidup di keluarga ini.”

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Dewi menangis tanpa mencoba menyembunyikannya.

Dia berjalan mendekat.

Aku sempat menegang.

Tapi dia berhenti sekitar satu meter dariku.

“Aku tidak akan meminta kamu memaafkanku.”

Aku tidak menjawab.

“Aku tidak pantas mendapatkannya sekarang.”

Air matanya jatuh.

“Tapi aku ingin meminta maaf kepada Aluna.”

Aku menatap putriku yang sedang bermain di luar bersama pengasuh.

“Bukan hari ini.”

Dewi mengangguk.

“Baik.”

“Dia harus merasa aman dulu.”

“Aku mengerti.”

Enam bulan kemudian, perusahaan Vania berhasil keluar dari krisis.

Dia menjual dua mobil mewahnya.

Menutup kantor mahal yang tidak perlu.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia benar-benar bekerja.

Bambang melepaskan seluruh akses keuangan.

Dia juga mulai menjalani terapi dan pemeriksaan medis terbuka bersama keluarganya.

Dewi berubah paling lambat.

Dan mungkin itu yang membuat perubahannya terasa nyata.

Dia tidak tiba-tiba menjadi perempuan sempurna.

Dia masih keras kepala.

Masih suka mengatur.

Tapi dia berhenti merendahkan orang.

Berhenti memamerkan kekayaan.

Dan setiap Selasa, dia menjadi relawan di yayasan yang berdiri di dalam rumah yang dulu ia banggakan.

Setahun kemudian, pada malam Natal berikutnya, kami kembali ke Pondok Indah.

Bukan untuk makan malam mewah.

Tidak ada meja panjang.

Tidak ada kristal mahal.

Sebagian ruang keluarga sudah menjadi tempat pertemuan keluarga pasien transplantasi.

Aluna berlari masuk sambil membawa gambar.

“Nenek!”

Dewi berhenti.

Dia berlutut.

Bukan untuk memeluk.

Dia menunggu.

Aluna mendekat sendiri.

Lalu menyerahkan gambar.

Di atas kertas itu ada tujuh orang bergandengan tangan.

Aku.

Raka.

Aluna.

Vania.

Bambang.

Dewi.

Dan satu orang lagi dengan lingkaran cahaya kecil di atas kepalanya.

Dewi menunjuk.

“Ini siapa?”

Aluna tersenyum.

“Kakek Pramono.”

Dewi menutup mulut.

“Bunda bilang Kakek tetap ada di rumah ini.”

Aku berdiri di ambang pintu.

Dewi menatapku.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.

Lalu dia mengangguk kecil.

Terima kasih.

Bukan dengan kata-kata.

Tapi aku mengerti.

Malam itu kami makan bersama di meja biasa.

Tidak ada kursi kepala keluarga.

Tidak ada tempat khusus.

Tidak ada siapa pun yang duduk lebih tinggi dari yang lain.

Dan saat aku melihat Bambang tertawa sambil membantu Aluna membuka hadiah kecil, aku akhirnya memahami sesuatu.

Balas dendam mungkin bisa membuat Dewi kehilangan rumahnya.

Tapi itu tidak akan pernah mengembalikan ayahku.

Sebaliknya, aku memilih sesuatu yang jauh lebih sulit.

Aku membuat rumah itu mengingat namanya.

Bukan sebagai milikku.

Bukan sebagai milik keluarga Wijaya.

Melainkan sebagai tempat di mana kehidupan yang pernah ia berikan kepada orang asing akhirnya menyatukan dua keluarga yang hampir saling menghancurkan.

Dan pada malam Natal itu, tepat setahun setelah aku ditampar tiga kali di ruang yang sama, Dewi berdiri di sampingku.

Dia tidak berkata, “Maafkan aku.”

Dia hanya melihat Aluna tertawa.

Lalu berbisik,

“Ayahmu pasti orang yang sangat baik.”

Aku menatap Bambang.

Lalu menatap putriku.

“Ya,” jawabku.

“Dan sekarang sebagian dari kebaikannya masih hidup di sini.”

Untuk pertama kalinya, rumah itu tidak terasa seperti milik siapa pun.

Rumah itu terasa seperti keluarga.

SELESAI.