Bagian 3 — Aku Mengembalikan Semua Aturan Mereka, Lalu Membangun Rumah yang Tak Bisa Direbut Siapa Pun

Avatar penulis
Cerita 02
15 menit baca 2,314 tayangan
Bagian 3 — Aku Mengembalikan Semua Aturan Mereka, Lalu Membangun Rumah yang Tak Bisa Direbut Siapa Pun
Indeks

Bagian 3 — Aku Mengembalikan Semua Aturan Mereka, Lalu Membangun Rumah yang Tak Bisa Direbut Siapa Pun

Arga tidak langsung menyentuh map itu.

Tangannya berhenti beberapa sentimeter di atas meja.

Bu Ratna justru yang paling dulu bereaksi.

“Apa lagi ini?”

Aku menarik kursi dan duduk.

Aneh.

Selama hampir empat tahun tinggal di rumah itu, baru malam tersebut aku benar-benar merasa tidak takut pada siapa pun.

“Aku konsultasi dengan pengacara tiga minggu lalu.”

Arga akhirnya membuka map.

Halaman pertama bukan surat gugatan cerai.

Belum.

Itu adalah surat pernyataan pemisahan pengelolaan keuangan, daftar transaksi yang kupersoalkan, serta permintaan pengembalian dana yang dipindahkan tanpa persetujuanku.

Di bawahnya ada catatan hasil konsultasi mengenai langkah yang bisa kutempuh kalau kami tidak mencapai kesepakatan.

Arga membaca cepat.

“Nadira, kamu sampai pergi ke pengacara?”

“Aku perlu tahu posisiku.”

“Posisimu sebagai apa?”

Aku menatapnya.

“Sebagai orang yang penghasilannya dipakai tanpa izin.”

Bu Ratna mendengus keras.

“Jadi sekarang ibu dianggap pencuri?”

“Saya tidak menyebut Ibu pencuri.”

“Lalu apa?”

“Saya cuma menyebut angka.”

Aku menarik satu lembar dari dalam map.

“Rp79.500.000 dalam enam bulan. Belum termasuk pengeluaran lain yang saya belum periksa.”

Dita segera memeluk tasnya.

“Mbak, mobil ini sudah kredit. Uangnya tidak bisa begitu saja ditarik.”

Aku menoleh kepadanya.

“Aku tahu.”

“Terus kamu mau aku bagaimana?”

“Mengembalikan uangku.”

“Mbak bercanda?”

“Tidak.”

Dita mulai meninggikan suara.

“Aku adik suamimu!”

“Dan itu tidak membuat rekeningku menjadi rekeningmu.”

Suaminya, Fajar, yang sejak tadi diam, akhirnya bertanya,

“Mas Arga bilang uang DP itu bantuan keluarga.”

Aku menjawab,

“Bantuan seharusnya diberikan oleh orang yang punya uang.”

Fajar menoleh tajam kepada Arga.

“Mas bilang Nadira setuju.”

Arga terdiam.

Dita ikut menoleh.

“Mas?”

Aku hampir tertawa.

Ternyata kebohongan mereka bahkan tidak konsisten.

Arga berdiri.

“Oke! Aku salah karena tidak ngomong dulu. Tapi jangan dibesar-besarkan. Dita memang butuh mobil.”

Aku bertanya,

“Untuk apa?”

“Antar anak. Belanja. Aktivitas.”

Aku mengangguk pelan.

“Jadi bukan keadaan darurat?”

Arga tidak menjawab.

Aku kembali membuka mutasi rekening.

“Tiga bulan lalu delapan belas juta.”

Arga menarik napas.

“Untuk modal usaha Dita.”

“Usaha apa?”

Dita buru-buru menjawab,

“Reseller mukena.”

“Dua belas setengah juta?”

“Tambah stok.”

“Tujuh juta?”

Bu Ratna memotong.

“Untuk bayar kontrakan mereka.”

Aku menatap Dita.

“Kamu pernah berniat memberi tahu aku?”

Dita menggigit bibir.

“Mas Arga bilang tidak perlu.”

Kalimat itu justru membuat semuanya semakin jelas.

Selama ini bukan hanya Bu Ratna yang merasa berhak terhadap penghasilanku.

Arga sudah membentuk satu sistem kecil.

Aku bekerja.

Uang masuk.

Mereka memutuskan.

Kalau aku bertanya, aku dianggap perhitungan.

Kalau aku membantu orang tuaku, aku dianggap terlalu memikirkan keluarga asal.

Kalau uangku dipakai keluarganya, aku diminta memahami arti kebersamaan.

Aku menutup map.

“Baik. Mulai malam ini sistemnya selesai.”

Bu Ratna menyilangkan tangan.

“Kamu mau mengancam kami?”

“Tidak.”

Aku mengambil kunci rumah baruku.

“Saya hanya membuat aturan baru.”

Dia mencibir.

“Aturan apa?”

Aku menatap satu per satu wajah mereka.

“Pertama, mulai sekarang gajiku masuk ke rekening yang hanya bisa kuakses.”

Arga hendak bicara.

Aku mengangkat tangan.

“Kedua, tidak ada satu rupiah pun uangku yang boleh diberikan kepada siapa pun tanpa persetujuanku.”

Aku memandang Bu Ratna.

“Ketiga, orang tuaku bukan keluarga kelas dua.”

Lalu aku menatap Arga.

“Keempat, aku tidak akan meminta izin lagi untuk menemui Ayah dan Ibuku.”

Bu Ratna tertawa.

“Apa kamu kira menikah itu bisa seenaknya?”

Aku menjawab,

“Justru karena empat tahun aku tidak seenaknya, kalian jadi lupa bahwa aku punya pilihan.”

Aku berdiri.

“Kelima.”

Aku menarik koper.

“Mulai malam ini, saya tidak tinggal di sini.”

Arga melangkah cepat menutup jalanku.

“Kamu tidak boleh pergi.”

Aku menatap tangannya yang memegang gagang pintu.

“Geser.”

“Nadira.”

“Geser, Ga.”

“Kita suami istri.”

“Dan itu tidak berarti kamu bisa menahan aku di rumah.”

Fajar pelan-pelan menarik lengan Arga.

“Mas, jangan begini.”

Arga akhirnya melepaskan pintu.

Bu Ratna berdiri di belakangnya sambil berkacak pinggang.

“Kalau kamu keluar malam ini, jangan harap bisa kembali seenaknya.”

Aku berhenti.

Kemudian aku menoleh.

“Bu, justru itu rencananya.”

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Bu Ratna kehabisan jawaban.

Aku membawa koper keluar.

Suara takbir dari musala ujung gang terdengar sampai ke halaman.

Allahu Akbar.

Allahu Akbar.

Udara malam hangat.

Lampu rumah-rumah tetangga menyala.

Anak-anak berlarian membawa lampion kecil.

Dan entah kenapa, langkahku terasa ringan.

Mobilku sudah menunggu di ujung jalan.

Aku tidak langsung pergi ke Yogyakarta malam itu.

Perjalanan terlalu jauh dan kondisi jalan padat.

Aku menginap di hotel dekat kantor.

Begitu masuk kamar, aku menelepon ibu.

Dia mengangkat pada dering kedua.

“Nad?”

“Ibu lagi apa?”

“Masak sambal goreng. Kenapa?”

Aku tidak langsung bisa menjawab.

Air mataku jatuh.

Ibu panik.

“Kamu kenapa?”

Aku menarik napas.

“Besok aku pulang.”

Di seberang telepon hening.

Lalu terdengar suara ayah.

“Nadira pulang?”

Ibu sepertinya menutup mikrofon dengan tangan.

Kemudian suaranya kembali.

“Beneran?”

“Iya.”

“Arga ikut?”

Aku memejamkan mata.

“Tidak.”

Ibu tidak bertanya lebih jauh.

Dia hanya berkata,

“Pulang saja dulu.”

Empat kata.

Sesederhana itu.

Tidak ada aturan.

Tidak ada syarat.

Tidak ada ancaman.

Pulang saja dulu.

Malam itu Arga menelepon dua puluh tujuh kali.

Aku tidak mengangkat.

Pesannya terus masuk.

“Nad, jangan begini.”

“Kita bisa ngomong.”

“Ibu memang keterlaluan, tapi kamu juga jangan langsung pergi.”

“Aku akan minta Dita mengembalikan uangnya.”

“Angkat telepon.”

Lalu nada pesannya berubah.

“Kamu sengaja mempermalukan aku depan keluarga.”

“Apa kamu benar-benar beli rumah tanpa bilang?”

“Rumah itu juga harta kita.”

Kalimat terakhir membuatku tertawa hambar.

Aku mengirim satu jawaban.

“Besok kita bicara setelah kamu bisa membedakan antara ‘milik kita’ dan ‘milik keluargamu’.”

Setelah itu ponsel kumatikan.

Pagi Idulfitri, pukul setengah enam, aku berangkat ke Yogyakarta.

Jalan tol padat.

Perjalanan memakan waktu jauh lebih lama daripada biasanya.

Tetapi untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku tidak peduli.

Sekitar pukul dua siang aku sampai di depan rumah orang tuaku.

Ayah sudah berdiri di teras.

Dia mengenakan baju koko putih yang sudah kupakai melihatnya sejak beberapa Lebaran sebelumnya.

Begitu mobilku berhenti, dia langsung berjalan mendekat.

Aku turun.

Ayah tidak bertanya mengapa aku sendirian.

Dia hanya mengambil koperku.

“Capek?”

Aku mengangguk.

Ibu muncul dari pintu.

Matanya langsung merah.

Aku memeluknya.

Bau minyak kayu putih dan bumbu opor di bajunya membuat dadaku sesak.

Tiga tahun.

Tiga tahun aku membiarkan orang lain meyakinkanku bahwa menemui dua orang ini adalah bentuk ketidaksetiaan kepada suami.

Kami makan siang bertiga.

Tidak ada pesta besar.

Tidak ada keluarga ramai.

Hanya ketupat, opor, sambal goreng hati, emping, dan rendang buatan ibu yang sedikit terlalu asin.

Tetapi aku makan sampai dua kali tambah.

Setelah makan, ayah akhirnya bertanya,

“Ada masalah?”

Aku mengeluarkan kunci dari tas.

“Besok ikut aku ke suatu tempat.”

Ayah mengernyit.

“Ke mana?”

“Lihat rumah.”

“Rumah siapa?”

Aku tersenyum kecil.

“Rumahku.”

Keesokan paginya kami pergi ke Bantul.

Ketika mobil berhenti di depan rumah kecil bercat putih gading, ibu tidak langsung turun.

Dia memandangku.

“Nadira…”

Aku memberikan kunci kepadanya.

“Buka, Bu.”

Tangannya gemetar.

Begitu pintu terbuka, rumah itu masih kosong.

Belum ada sofa.

Belum ada lemari.

Hanya lantai bersih, dua kamar, dapur kecil, kamar mandi, dan teras.

Ibu berjalan perlahan dari satu ruangan ke ruangan lain.

Ayah berdiri di halaman memperhatikan pohon mangga.

“Kamu beli ini?”

“Iya.”

“Dengan uang siapa?”

Aku tertawa.

“Pertanyaan Ayah selalu begitu.”

Ayah serius.

“Karena Ayah tidak mau kamu punya masalah.”

Aku menjelaskan semuanya.

Tentang tabunganku.

Tentang pekerjaan sampingan.

Tentang KPR.

Tentang mutasi kerja.

Tentang uang yang diambil Arga.

Tentang mobil Dita.

Tentang malam takbiran.

Ibu duduk di lantai ruang tamu.

Matanya berkaca-kaca.

“Kenapa selama ini tidak cerita?”

Aku menatap jendela.

“Karena aku malu.”

“Malu apa?”

“Takut Ibu tahu aku tidak bahagia.”

Ibu meraih tanganku.

“Nadira, orang tua lebih sedih kalau anaknya menderita sendirian daripada kalau anaknya pulang membawa masalah.”

Kalimat itu meruntuhkan pertahananku.

Aku menangis.

Bukan menangis seperti malam-malam sebelumnya saat sendirian di kamar mandi.

Kali ini aku menangis di depan orang tuaku.

Sampai sesak.

Sampai lega.

Tiga hari setelah Lebaran, Arga datang ke Yogyakarta.

Tanpa memberi tahu.

Aku sedang memilih meja makan bersama ayah ketika satpam kompleks menelepon.

“Ada Pak Arga mencari Ibu.”

Aku meminta satpam menahannya di pos.

Ayah menatapku.

“Kamu mau ketemu?”

Aku mengangguk.

“Tapi di luar.”

Kami bertemu di sebuah kedai kopi.

Arga kelihatan berbeda.

Janggutnya belum dicukur.

Matanya merah.

Begitu duduk, dia langsung berkata,

“Pulang.”

Aku menatapnya.

“Itu bukan permintaan maaf.”

Dia mengusap wajah.

“Oke. Aku minta maaf.”

“Untuk apa?”

Dia terdiam.

Aku menunggu.

Akhirnya dia berkata,

“Karena pakai uangmu.”

“Hanya itu?”

“Nadira…”

“Aku ingin tahu apa kamu paham masalah sebenarnya.”

Arga menghela napas panjang.

“Aku seharusnya bilang sebelum bantu Dita.”

Aku menggeleng.

“Kamu masih tidak paham.”

“Apa lagi?”

“Tiga tahun, Ga.”

Dia diam.

“Tiga kali Lebaran aku tidak pulang. Setiap kali aku minta pergi, kamu menyuruhku mengalah.”

“Ibu memang keras.”

“Jangan sembunyi di belakang ibumu.”

Arga tersentak.

Aku melanjutkan.

“Waktu ibuku sakit, aku cuma mau mengirim lima juta. Kamu bilang tunggu persetujuan ibu.”

“Itu karena keuangan kita sedang—”

“Tapi tiga minggu kemudian kamu beli ponsel dua belas juta.”

Dia terdiam.

“Ketika ayahku ulang tahun, aku mau belikan mesin cuci enam juta. Kamu bilang terlalu mahal.”

Aku membuka ponsel.

“Tapi bulan yang sama, uangku delapan belas juta masuk rekening Dita.”

Arga menunduk.

“Masalahnya bukan satu mobil.”

Aku menatapnya.

“Masalahnya kamu menikmati sistem yang membuat aku tidak punya kendali atas hidupku.”

Dia tidak menyanggah.

Untuk pertama kalinya.

Beberapa menit kami diam.

Kemudian Arga berkata,

“Aku akan berubah.”

“Bagaimana?”

“Aku akan ambil ATM-ku sendiri. Kamu pegang uangmu. Ibu bisa kembali ke rumahnya.”

Aku tersenyum tipis.

“Kenapa baru sekarang?”

“Karena sekarang aku tahu kamu serius.”

Jawaban itu justru membuat hatiku dingin.

“Berarti selama ini kamu tahu aku tidak bahagia, tapi karena kamu kira aku tidak akan pergi, kamu biarkan.”

Arga membuka mulut.

Tidak ada kata yang keluar.

Aku bangkit.

“Nadira.”

“Aku belum mengajukan cerai.”

Dia langsung berdiri.

Wajahnya seperti mendapatkan harapan.

“Tapi jangan salah paham.”

Aku mengambil tas.

“Aku belum mengajukan karena ingin semua urusan keuangan diperiksa dulu.”

Harapannya hilang lagi.

“Aku akan kirim rincian melalui pengacara. Kamu punya waktu untuk menentukan apakah uang yang dipindahkan akan dikembalikan secara baik-baik.”

Arga meraih ujung meja.

“Kalau aku kembalikan, kamu pulang?”

Aku menatapnya.

“Uang bisa dikembalikan.”

Aku berhenti sebentar.

“Empat tahun hidupku tidak.”

Aku pergi.

Seminggu kemudian, masalah mulai bergulir.

Ternyata Dita tidak punya dana untuk mengembalikan uang muka mobil.

Bisnis mukenanya juga hampir berhenti.

Cicilan mobil pertama jatuh tempo bulan berikutnya.

Fajar baru mengetahui bahwa sebagian besar “bantuan keluarga” yang diterima istrinya berasal dari uangku.

Mereka bertengkar besar.

Fajar meneleponku sekali.

Dia tidak membela Dita.

Dia hanya meminta salinan transfer agar bisa menghitung total kewajiban mereka.

Aku kirim.

Jumlah akhirnya disepakati Rp79.500.000.

Karena mereka tidak mampu membayar sekaligus, mobil dijual kembali.

Harganya tentu turun.

Setelah melunasi sebagian pembiayaan dan biaya administrasi, masih ada kekurangan.

Dita menjual beberapa perhiasan.

Fajar menambahkan uang tabungannya.

Sisanya dibuat jadwal cicilan tertulis.

Tidak romantis.

Tidak dramatis.

Justru itu yang kuinginkan.

Semua hitam di atas putih.

Bu Ratna menelepon ibuku.

Itu kesalahan terbesarnya.

Dia mengatakan,

“Bu Lestari, tolong nasihati anak Ibu. Rumah tangga jangan dihancurkan cuma karena uang.”

Ibuku menjawab dengan suara sangat tenang,

“Kalau cuma karena uang, seharusnya sejak awal Anda tidak mengambil uang anak saya.”

Bu Ratna langsung tersinggung.

“Kami ini keluarganya.”

Ibu menjawab,

“Kami juga keluarganya.”

Aku berada di samping ibu ketika telepon itu terjadi.

Untuk pertama kalinya, aku melihat seseorang mengembalikan kalimat Bu Ratna tanpa berteriak.

Mungkin karena itulah jawabannya terasa lebih tajam.

Dua minggu kemudian, Bu Ratna sendiri datang ke Yogyakarta.

Dia membawa Arga.

Mereka datang ke rumah baruku.

Aku tidak mengizinkan mereka masuk.

Kami duduk di teras.

Bu Ratna menatap rumah dari luar.

“Jadi ini rumah yang kamu beli diam-diam?”

“Saya beli dengan uang saya.”

“Kamu istri Arga.”

“Betul.”

“Berarti keputusan sebesar ini seharusnya dibicarakan.”

Aku hampir tersenyum.

“Sekarang Ibu mengerti rasanya?”

Dia terdiam.

Aku melanjutkan,

“Bonus empat puluh dua juta seharusnya dibicarakan.”

Diam.

“Transfer delapan belas juta seharusnya dibicarakan.”

Diam lagi.

“Keputusan melarang saya menemui orang tua setiap Lebaran juga seharusnya dibicarakan.”

Bu Ratna memalingkan wajah.

“Aku cuma menjalankan kebiasaan keluarga.”

“Kalau sebuah kebiasaan membuat satu orang selalu berkorban dan orang lain selalu mendapat keuntungan, itu bukan tradisi yang wajib saya pertahankan.”

Arga berkata pelan,

“Ibu sudah bersedia pindah.”

Aku menatapnya.

“Bagus.”

“Kita bisa mulai lagi.”

Aku tidak langsung menjawab.

Arga menambahkan,

“Aku juga sudah memindahkan rekening gajiku. Mulai sekarang masing-masing pegang sendiri.”

“Bagus.”

“Nad…”

“Apa?”

“Kamu terus bilang bagus, tapi tidak bilang pulang.”

Aku menatap rumah kecil di belakangku.

“Aku sudah pulang.”

Kalimat itu membuat keduanya membisu.

Aku tidak bermaksud melukai.

Tetapi itulah kenyataannya.

Selama empat tahun, rumah di Bekasi tidak pernah benar-benar terasa milikku.

Aku selalu harus mempertanggungjawabkan bagaimana memasak.

Bagaimana berpakaian.

Kapan pulang kerja.

Berapa uang yang kukirim kepada orang tuaku.

Kapan aku boleh mudik.

Bahkan sampo apa yang kubeli pernah dikomentari terlalu mahal oleh Bu Ratna.

Di rumah kecil ini, aku membeli tirai warna hijau karena aku menyukainya.

Tidak ada yang berkata warnanya jelek.

Aku menaruh tanaman di dekat jendela.

Tidak ada yang memindahkannya.

Ibuku datang membawa lauk tanpa merasa seperti tamu.

Ayah tidur siang di sofa sambil menonton badminton.

Untuk pertama kalinya aku mengerti.

Rumah bukan tempat di mana namamu tercetak di kartu keluarga.

Rumah adalah tempat di mana keberadaanmu tidak terus-menerus diminta membayar harga.

Satu bulan berlalu.

Aku resmi mulai bekerja di kantor Yogyakarta.

Penghasilanku sedikit berubah karena tunjangan wilayah, tetapi posisiku tetap.

Perjalanan ke kantor hanya tiga puluh menit.

Setiap Sabtu aku makan siang bersama orang tuaku.

Kadang mereka datang.

Kadang aku ke rumah mereka.

Tidak ada jadwal wajib.

Tidak ada aturan.

Arga masih menghubungiku.

Tetapi frekuensinya berkurang.

Kami menjalani konseling pernikahan tiga kali atas saranku.

Pada sesi kedua, konselor bertanya kepadanya,

“Ketika istri Anda mengatakan tidak nyaman, mengapa Anda selalu meminta dia mengalah?”

Arga menjawab,

“Karena menurut saya itu cara paling cepat supaya rumah tenang.”

Konselor bertanya lagi,

“Tenang untuk siapa?”

Arga tidak bisa menjawab.

Aku juga tidak mengatakan apa-apa.

Karena akhirnya ada orang lain yang mengajukan pertanyaan yang selama ini berputar-putar di kepalaku.

Tenang untuk siapa?

Selama bertahun-tahun, “kedamaian keluarga” berarti aku harus diam.

Kalau aku protes, aku yang menciptakan konflik.

Kalau aku menolak, aku dianggap tidak menghormati orang tua.

Kalau aku memilih keluargaku sendiri, aku disebut belum mengerti peran istri.

Sementara orang yang melanggar batas tidak pernah diminta berubah.

Setelah sesi ketiga, Arga mengatakan sesuatu yang akhirnya terdengar tulus.

“Aku pikir selama aku tidak selingkuh, tidak memukulmu, dan tetap bekerja, berarti aku suami yang baik.”

Aku menatapnya.

Dia melanjutkan.

“Aku baru sadar aku membiarkan Ibu mengaturmu karena itu membuat hidupku gampang.”

Aku tidak menjawab.

“Aku juga pakai uangmu karena aku merasa toh kita menikah. Padahal kalau kamu melakukan hal yang sama dengan uangku, mungkin aku akan marah.”

Aku mengangguk.

“Itu pertama kalinya kamu benar-benar mengerti.”

Dia tersenyum pahit.

“Sudah terlambat?”

Aku tidak memberi harapan palsu.

“Aku belum tahu.”

Tiga bulan kemudian, kami membuat keputusan.

Bukan karena Bu Ratna.

Bukan karena Dita.

Bukan hanya karena uang.

Aku meminta berpisah secara resmi.

Arga menerima.

Dia menangis.

Aku juga.

Empat tahun tidak mungkin hilang tanpa rasa apa pun.

Masih ada kenangan baik.

Masih ada Arga yang pernah menjemputku saat hujan.

Arga yang membuat bubur ketika aku sakit.

Arga yang dulu duduk bersamaku di halte selama dua jam hanya karena motornya mogok.

Tetapi kebaikan di masa lalu tidak bisa menjadi utang yang memaksaku bertahan selamanya.

Kami mengurus proses perpisahan dengan relatif tenang.

Urusan aset diperiksa berdasarkan dokumen dan bukti pembayaran.

Aku tidak menuntut sesuatu yang bukan hakku.

Aku juga tidak melepaskan sesuatu hanya agar dianggap baik.

Dita menyelesaikan cicilan pengembalian uang dalam sepuluh bulan.

Setiap transfer masuk, dia selalu mengirim bukti.

Hubungan kami tidak menjadi dekat.

Tidak perlu.

Fajar pernah berkata kepadaku,

“Sejak kejadian itu, kami akhirnya bikin rekening rumah tangga yang jelas.”

Aku hanya menjawab,

“Bagus.”

Bu Ratna?

Dia kembali ke rumahnya sendiri.

Beberapa kerabat sempat mengatakan aku menantu keras kepala.

Ada juga yang bilang aku terlalu perhitungan.

Anehnya, setelah beberapa bulan, komentar itu tidak lagi penting.

Orang yang tidak pernah membayar tagihan hidupku tidak berhak menentukan berapa harga yang pantas kubayar demi terlihat sebagai perempuan baik.

Lebaran berikutnya datang.

Sehari sebelum malam takbiran, ibu menelepon.

“Nad, besok makan di sini atau rumahmu?”

Aku tertawa.

“Terserah. Ayah mau apa?”

Dari jauh ayah berteriak,

“Di rumah Nadira! Biar Ayah tidak usah cuci piring!”

Ibu langsung membalas,

“Memangnya kalau di rumah sini kamu pernah cuci piring?”

Aku tertawa sampai perutku sakit.

Besok paginya, mereka datang membawa dua tas besar makanan.

Kakakku dan istrinya juga berhasil pulang dari Balikpapan.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, meja makanku penuh.

Tidak karena kewajiban.

Tidak karena seseorang membuat peraturan.

Semua datang karena ingin datang.

Sebelum makan, aku keluar ke teras.

Pohon mangga yang dulu masih kecil mulai rimbun.

Aku menggantung lampu kecil di bawahnya.

Ibu berdiri di pintu.

“Nad.”

“Hm?”

“Bahagia?”

Aku memandang ke dalam rumah.

Ayah sedang ribut dengan kakakku soal pertandingan sepak bola.

Kakak iparku menata piring.

Keponakanku berlari dari dapur membawa kerupuk.

Di meja ada empat macam sambal karena semua orang punya selera berbeda.

Aku tersenyum.

“Iya.”

Ibu ikut tersenyum.

Aku teringat malam takbiran setahun sebelumnya.

Bu Ratna berkata aku tidak akan bisa bertahan kalau meninggalkan Arga.

Katanya tanpa keluarga suami, aku akan kembali memohon.

Ternyata dia salah.

Aku tidak hancur setelah pergi.

Aku hanya harus belajar menggunakan kembali hal-hal yang selama bertahun-tahun kubiarkan diambil orang lain.

Rekeningku.

Waktuku.

Suaraku.

Hak untuk menemui orang tuaku.

Dan hak untuk berkata tidak.

Malam itu, sebelum tidur, aku menaruh kunci rumah di meja dekat pintu.

Kunci yang dulu kugenggam dengan tangan gemetar.

Sekarang bentuknya biasa saja.

Tetapi bagiku, kunci itu pernah menjadi batas antara dua kehidupan.

Di kehidupan pertama, orang lain membuat aturan dan aku diminta mematuhinya.

Di kehidupan kedua, aku akhirnya memahami sesuatu.

Pernikahan tidak seharusnya membuat seorang perempuan kehilangan keluarga asalnya.

Menghormati mertua tidak berarti menyerahkan seluruh kendali hidup.

Berbagi uang tidak berarti satu pihak boleh mengambil tanpa izin.

Dan menjadi istri tidak pernah berarti berhenti menjadi anak bagi orang tua yang membesarkannya.

Aku memang akhirnya membuat aturan baru.

Bukan untuk menguasai siapa pun.

Bukan untuk membalas dendam.

Aturannya jauh lebih sederhana.

Di rumahku, tidak ada orang yang boleh menggunakan kata “keluarga” sebagai alasan untuk merampas hak orang lain.

Di rumahku, siapa pun boleh pulang kepada orang yang mereka cintai.

Dan yang paling penting—

Tidak ada lagi perempuan yang harus menangis sendirian di kamar mandi hanya karena ingin merayakan Lebaran bersama ibu dan ayahnya sendiri.