Bagian 3 — Aku Tidak Meminta Mereka Memanggilku Ayah, Aku Hanya Berhenti Pergi
Malam itu aku tidak pulang ke rumah orang tuaku.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku tidak menelepon ayah untuk meminta penjelasan, tidak mendatangi ibu sambil marah, dan tidak menerobos rumah Bagas seperti laki-laki yang hanya ingin melampiaskan enam tahun hidupnya.
Aku melakukan sesuatu yang mungkin seharusnya kulakukan sejak dulu.
Aku mencari bukti sampai selesai.
Aku menghubungi seorang pengacara yang tidak pernah bekerja untuk perusahaan keluargaku.
Kemudian aku menelepon direktur audit internal perusahaan tempat ayahku menjadi komisaris.
Aku hanya mengatakan satu hal.
“Aku perlu memeriksa semua transaksi dan dokumen yang pernah menggunakan namaku antara enam sampai tujuh tahun lalu. Tanpa Bagas tahu.”
Ia terdiam.
“Ini urusan perusahaan?”
“Mungkin lebih besar daripada yang kukira.”
Keesokan paginya aku datang ke klinik bersama Naila.
Daffa, Bima, dan Salma tidak ikut.
Naila tidak ingin mereka melihat proses itu sebagai sebuah ujian untuk menentukan apakah mereka pantas mempunyai ayah.
Aku setuju.
Sampel diambil.
Setelah selesai, kami berdiri di tempat parkir dalam keheningan.
“Aku boleh bertemu mereka?”
“Belum.”
Aku mengangguk.
“Baik.”
Naila tampak sedikit terkejut.
Mungkin ia mengira aku akan memaksa.
“Tidak protes?”
“Aku kehilangan enam tahun karena banyak orang merasa berhak mengambil keputusan untuk kita. Aku tidak akan mengulang hal yang sama terhadapmu.”
Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu di kereta, wajah Naila sedikit melunak.
Hanya sedikit.
Namun bagiku itu cukup.
Tiga hari kemudian hasilnya keluar.
Aku membacanya sendirian di dalam mobil.
Probabilitas hubungan biologis ayah-anak berada di angka yang tidak menyisakan ruang untuk keraguan.
Ketiganya.
Daffa.
Bima.
Salma.
Anakku.
Aku menutup wajah dengan kedua tangan.
Aku tidak menangis karena bahagia.
Setidaknya bukan hanya karena bahagia.
Aku menangis karena tiba-tiba enam tahun memiliki bentuk.
Enam ulang tahun yang tidak kuhadiri.
Tiga hari pertama sekolah yang tidak kulihat.
Demam.
Gigi tanggal.
Lutut lecet.
Mimpi buruk.
Pertanyaan tentang ayah.
Semua berlangsung tanpa aku.
Beberapa menit kemudian aku mengirim foto hasil itu kepada Naila.
Tidak ada kalimat panjang.
Aku hanya menulis:
“Aku sudah tahu. Sekarang aku akan belajar bagaimana hadir tanpa merusak ketenangan mereka.”
Balasannya datang sepuluh menit kemudian.
“Datang Sabtu jam empat. Jangan bawa hadiah.”
Sabtu itu aku datang ke rumah kecil mereka di Depok membawa diriku sendiri.
Aku bahkan sengaja meninggalkan jam tangan mahal di apartemen.
Aku takut anak-anak melihatku datang dengan barang-barang dan mengira kasih sayang adalah sesuatu yang selalu membawa kotak.
Daffa yang membuka pintu.
Matanya langsung membesar.
“Om Kereta.”
Aku hampir tertawa.
“Halo.”
Ia menoleh ke belakang.
“Mama! Om Kereta datang!”
Naila muncul dari dapur.
“Masuk.”
Bima sedang membuat lintasan mobil-mobilan di lantai.
Salma menggambar di meja.
Tidak ada musik dramatis.
Tidak ada anak yang tiba-tiba berlari memelukku.
Mereka hanya menatapku dengan rasa ingin tahu.
Dan anehnya, aku bersyukur.
Aku memang belum pantas mendapatkan lebih dari itu.
Aku duduk di lantai.
Bima mendorong sebuah mobil merah kepadaku.
“Om bikin jembatan.”
Aku memandangnya.
“Kenapa jembatan?”
“Mama bilang Om bikin jembatan.”
Aku melirik Naila.
Ia sedang menuang teh seolah tidak mendengar.
Aku tersenyum.
“Baik.”
Dengan balok plastik, kami membangun jembatan kecil selama hampir satu jam.
Jembatannya jelek.
Daffa bilang terlalu sempit.
Salma bilang warnanya tidak cocok.
Bima menghancurkannya dua kali.
Tetapi sore itu menjadi salah satu sore terbaik dalam hidupku.
Sebelum pulang, aku tidak mencium mereka.
Tidak memeluk.
Aku hanya mengatakan, “Sampai Sabtu depan.”
Daffa langsung bertanya, “Om datang lagi?”
Aku menatap Naila sebelum menjawab.
Ia mengangguk kecil.
“Datang.”
Aku berkata, “Iya.”
“Jam empat?”
“Iya.”
Daffa menunjuk jam dinding.
“Jangan telat.”
Aku tersenyum.
“Tidak akan.”
Mulai saat itu aku punya aturan sederhana.
Jangan berjanji jika tidak bisa datang.
Kalau sudah berjanji, datang.
Selama dua bulan berikutnya aku bertemu mereka setiap Sabtu.
Kemudian Rabu sore ditambahkan karena Bima meminta bantuanku membuat tugas sekolah tentang bangunan.
Aku mulai mengenal mereka.
Daffa paling banyak bertanya tetapi paling takut mengecewakan orang.
Bima terlihat keras kepala, namun selalu membagi makanan menjadi empat bagian karena terbiasa memastikan ibu dan saudara-saudaranya mendapat jatah.
Salma paling pendiam.
Ia sering duduk dekatku tetapi tidak banyak berbicara.
Suatu hari ia tiba-tiba bertanya, “Om pernah lihat aku waktu bayi?”
Aku terdiam.
Aku bisa berbohong.
Bisa mengatakan pernah melalui foto.
Tetapi aku memilih jujur.
“Belum.”
“Kenapa?”
Pertanyaan itu akhirnya datang.
Naila yang sedang mencuci piring berhenti bergerak.
Aku berlutut agar sejajar dengan Salma.
“Karena waktu kalian lahir, Om tidak tahu kalian ada.”
Salma mengernyit.
“Kok bisa?”
“Karena orang dewasa membuat banyak kesalahan.”
“Om juga?”
Aku menarik napas.
“Iya. Om juga.”
Ia memandangku lama.
“Sekarang Om tahu.”
“Iya.”
“Berarti jangan hilang lagi.”
Aku hampir tidak mampu menjawab.
“Aku akan berusaha sekuat mungkin.”
Bukan “pasti”.
Bukan janji besar.
Aku sudah belajar bahwa anak-anak jauh lebih membutuhkan kehadiran daripada kata-kata megah.
Sementara itu, audit internal mulai menghasilkan sesuatu.
Dan apa yang ditemukan jauh lebih buruk daripada lima surat Naila.
Tujuh puluh lima juta yang dikembalikan Naila ternyata tidak pernah kembali ke rekening pribadi ibuku.
Uang itu sempat masuk ke rekening perusahaan keluarga sebagai “pengembalian dana sosial”.
Dua hari kemudian, Bagas memindahkannya ke rekening vendor.
Vendor tersebut milik teman dekatnya.
Catatan internal perusahaan justru mencantumkan bahwa uang tujuh puluh lima juta telah diterima Naila sebagai “penyelesaian pribadi atas persetujuan Arya Pradana”.
Tanda tanganku tercantum di bawahnya.
Palsu.
Audit diperluas.
Dalam enam tahun, Bagas menggunakan pola yang sama pada beberapa transaksi.
Nama anggota keluarga.
Vendor titipan.
Dokumen persetujuan palsu.
Nilainya bukan lagi puluhan juta.
Lebih dari satu miliar rupiah.
Ketika direktur audit mengirim laporan awal, tanganku benar-benar dingin.
Aku akhirnya menelepon ayah.
“Besok malam aku datang. Pastikan Ibu dan Bagas ada.”
Ayah bertanya apa yang terjadi.
Aku hanya menjawab, “Enam tahun keterlambatan.”
Malam berikutnya meja makan rumah orang tuaku dipenuhi makanan seperti biasa.
Ibu bahkan masih sempat berkata, “Makan dulu sebelum bicara.”
Aku tidak duduk.
Aku meletakkan hasil DNA di meja.
Tiga lembar.
“Tiga anak itu anakku.”
Wajah ayah memucat.
Ibu tidak menyentuh kertas.
Bagas menunduk.
Aku mengeluarkan lima amplop berikutnya.
“Ini surat Naila.”
Lalu bukti transfer.
“Ini tujuh puluh lima juta yang Ibu tawarkan supaya dia pergi.”
Ibu akhirnya bicara.
“Ibu hanya mau melindungi masa depanmu.”
Aku tersenyum kecil.
“Masa depanku?”
“Arya, kamu waktu itu dua puluh delapan tahun. Kariermu baru mulai. Kamu mau menikah dengan perempuan yang keluarganya bahkan—”
“Cukup.”
Ayah memukul meja.
“Ibu bicara saja,” kataku.
Tatapanku tidak lepas darinya.
Ibu menarik napas.
“Dia datang bilang hamil. Bagaimana Ibu bisa tahu itu benar? Kamu berada jauh. Devina dan keluarganya sedang—”
“Aku tidak pernah memilih Devina.”
“Kamu bisa belajar mencintainya.”
Aku tertawa.
Untuk pertama kalinya malam itu aku benar-benar tertawa.
“Jadi karena Ibu merasa tahu hidup mana yang terbaik untukku, Ibu memutuskan tiga anakku boleh tumbuh tanpa ayah?”
Ibu berdiri.
“Jangan bicara seolah Ibu tahu ada tiga!”
“Kalau cuma satu, boleh?”
Ia terdiam.
Ruangan langsung sunyi.
Aku lalu memandang Bagas.
“Dan kamu.”
Bagas mengangkat kepala.
“Aku cuma melakukan apa yang Tante minta.”
“Memalsukan tanda tanganku juga diminta?”
Wajahnya berubah.
Aku meletakkan laporan audit di meja.
Bagas langsung berdiri.
“Arya, urusan kantor jangan dicampur dengan urusan keluarga.”
“Justru selama ini kamu bisa melakukan semuanya karena kita terus menyebut kejahatan sebagai urusan keluarga.”
Ayah mengambil laporan.
Semakin lama ia membaca, wajahnya semakin gelap.
“Apa ini?”
Bagas mencoba mengambil kertas.
Ayah menepis tangannya.
“Apa ini, Gas?”
“Om, aku bisa jelaskan.”
“Tujuh puluh lima juta?”
“Itu cuma pencatatan.”
“Dan satu koma empat miliar lainnya juga pencatatan?”
Ibu terduduk.
Aku tidak menikmati wajah panik mereka.
Aneh.
Selama dua hari sebelumnya aku membayangkan momen ini berkali-kali.
Kupikir aku akan puas.
Ternyata tidak.
Tidak ada hukuman yang bisa mengembalikan umur enam tahun Daffa, Bima, dan Salma.
Tetapi setidaknya, kebohongan berhenti malam itu.
Aku mengatakan kepada ayah bahwa semua dokumen sudah disalin auditor independen dan pengacaraku.
Tidak ada lagi kesempatan menghilangkan bukti.
Bagas memohon agar masalah itu diselesaikan di dalam keluarga.
Ia bahkan mengatakan siap mengganti uang.
Aku menatapnya.
“Naila memohon enam tahun lalu supaya satu surat sampai kepadaku. Kamu tidak memberi dia kesempatan kedua. Kenapa sekarang kamu merasa berhak mendapatkannya?”
Tiga minggu kemudian Bagas resmi diberhentikan dari semua posisi keuangan perusahaan.
Hasil audit diserahkan kepada pihak berwenang.
Prosesnya berjalan berbulan-bulan.
Aku tidak mengurus detailnya untuk balas dendam.
Aku hanya menolak menghentikannya.
Pada akhirnya penyelidikan membuktikan beberapa tanda tangan memang dipalsukan dan dana perusahaan dialihkan tanpa hak.
Bagas harus menghadapi proses pengadilan dan pengembalian dana.
Keluarga besarku gempar.
Beberapa paman menelepon.
Ada yang bilang aku terlalu keras.
Ada yang berkata seharusnya aib keluarga tidak dibawa keluar.
Jawabanku selalu sama.
“Yang membuat aib bukan orang yang membuka dokumennya.”
Lalu ada ibuku.
Masalahnya lebih sulit.
Ia memang tidak mengambil uang Bagas.
Namun ia mengakui bahwa dialah yang menyuruh staf rumah menolak telepon Naila.
Dialah yang meminta Bagas mengembalikan surat.
Dialah yang mengatakan kepadaku bahwa Naila sudah menikah.
Dan dialah yang, selama bertahun-tahun, membiarkan keluarga besar percaya Naila menerima uang lalu meninggalkanku.
Aku meminta satu hal.
“Perbaiki kebohongan yang Ibu buat.”
Ibu tidak mengerti.
“Maksudmu?”
“Selama enam tahun keluarga kita menganggap Naila mengambil tujuh puluh lima juta lalu pergi. Ibu akan mengatakan yang sebenarnya.”
“Arya…”
“Di depan semua orang yang pernah Ibu beri cerita itu.”
Ibu menangis.
Aku tetap diam.
Seminggu kemudian, pada makan siang keluarga, ibuku berdiri di depan hampir dua puluh orang.
Aku tidak membawa Naila.
Ia tidak pantas dipaksa hadir untuk menyaksikan perempuan yang pernah merendahkannya mencoba membersihkan dosa.
Ibu mengatakan semuanya.
Bahwa Naila mengembalikan uang pada hari yang sama.
Bahwa ia memang datang membawa kabar kehamilan.
Bahwa surat-suratnya ditahan.
Bahwa cerita tentang Naila pergi membawa uang tidak benar.
Beberapa orang menunduk.
Salah satu bibiku yang dulu pernah menyebut Naila perempuan oportunis meneleponnya malam itu untuk meminta maaf.
Naila hanya menjawab singkat.
“Terima kasih sudah mengoreksi ceritanya.”
Tidak lebih.
Aku juga tidak memintanya memaafkan ibuku.
Maaf bukan pajak yang bisa ditagih hanya karena pelaku akhirnya mengaku.
Hubunganku dengan ibu berubah total.
Selama hampir delapan bulan, kami hanya berbicara jika perlu.
Ia meminta bertemu cucu-cucunya.
Aku mengatakan keputusan itu bukan milikku.
“Naila yang menentukan.”
Ibu menangis.
“Bagaimanapun mereka darah Ibu.”
Aku menjawab, “Enam tahun lalu mereka juga darah Ibu.”
Setelah itu ia tidak pernah lagi menggunakan kata “darah” untuk menuntut apa pun.
Beberapa bulan kemudian ia menulis surat kepada Naila.
Bukan kepadaku.
Tidak ada permintaan bertemu anak-anak.
Tidak ada alasan tentang masa depanku.
Hanya pengakuan atas apa yang ia lakukan.
Naila menyimpan surat itu.
Ia belum memaafkan.
Tetapi untuk pertama kalinya ia berkata kepadaku, “Setidaknya sekarang ibumu berhenti membela dirinya.”
Aku sendiri mulai membereskan kewajibanku.
Melalui prosedur hukum yang kami konsultasikan bersama, status hubungan ayah-anak dan tanggung jawab finansialku diatur secara resmi.
Aku membuka rekening pendidikan untuk Daffa, Bima, dan Salma.
Namun pengelolaannya transparan bersama Naila.
Aku tidak memasukkan uang dalam jumlah absurd.
Aku tidak ingin mengubah rasa bersalah menjadi transaksi.
Aku membayar kebutuhan rutin sesuai kesepakatan.
Sekolah.
Kesehatan.
Asuransi.
Tabungan pendidikan.
Sisanya, aku hadir.
Itulah bagian yang paling sulit.
Hadir ketika lelah.
Hadir ketika proyek bermasalah.
Hadir ketika pesawat terlambat.
Hadir ketika anak marah padaku.
Hadir ketika tidak ada momen dramatis sama sekali.
Suatu Rabu, Daffa menolak bicara kepadaku karena aku terlambat dua puluh menit akibat rapat.
Aku datang membawa napas terengah-engah.
Ia duduk membelakangiku.
“Kamu bilang jam lima.”
Aku duduk di lantai.
“Benar.”
“Sekarang jam lima lewat dua puluh.”
“Benar.”
“Mama bilang Om mungkin kerja.”
“Kerja bukan alasan untuk membuatmu menunggu tanpa kabar. Aku salah.”
Daffa perlahan menoleh.
Mungkin itu pertama kalinya ia melihat orang dewasa meminta maaf tanpa menambahkan kata “tapi”.
Aku menunjukkan ponsel.
“Mulai sekarang kalau terlambat, aku telepon.”
Ia mengangguk.
Lalu kami melanjutkan membuat pesawat dari kardus seolah pertengkaran kecil itu adalah hal paling normal di dunia.
Aku menyukainya.
Karena keluarga seharusnya memang punya kesempatan mengalami hal-hal biasa.
Sekitar sembilan bulan setelah pertemuan di kereta, sekolah mereka mengadakan Hari Keluarga.
Daffa mengundangku.
Aku bertanya, “Kamu yakin?”
Ia mengangkat bahu.
“Teman-teman bawa ayah.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Naila yang berdiri di belakangnya berkata, “Kalau dia mengundang, datanglah.”
Aku datang satu jam lebih awal.
Hari itu masing-masing anak membuat poster keluarga.
Poster Daffa penuh tulisan.
Poster Bima hampir semuanya gambar mobil.
Poster Salma membuatku tidak bisa berkata apa-apa.
Ia menggambar lima orang.
Naila.
Daffa.
Bima.
Dirinya.
Dan seorang laki-laki tinggi di ujung.
Di bawah gambar laki-laki itu awalnya tertulis “Om Arya”.
Namun kata “Om” dicoret dengan pensil.
Diganti satu kata.
“Ayah.”
Aku tidak bertanya mengapa.
Aku tidak mau merusak momen itu.
Saat gurunya meminta foto, Salma melambaikan tangan.
“Ayah, sini!”
Itu pertama kalinya salah satu dari mereka memanggilku begitu.
Aku berdiri membeku.
Bima tertawa.
“Cepat, Yah!”
Daffa menggeleng seperti aku orang paling lambat sedunia.
Aku berjalan ke arah mereka.
Naila berdiri di samping.
Ketika kamera menghitung mundur, tangan kecil Salma menggenggam jariku.
Persis seperti Bima di kereta berbulan-bulan sebelumnya.
Bedanya, kali ini aku tidak takut menyentuhnya kembali.
Hubunganku dengan Naila justru bergerak paling lambat.
Dan memang seharusnya begitu.
Kami tidak langsung kembali menjadi pasangan hanya karena memiliki anak bersama.
Kami belajar bicara lagi.
Kadang bertengkar.
Kadang membuka luka lama.
Kami sempat mengikuti konseling keluarga karena aku menyadari cinta tidak otomatis memperbaiki trauma akibat ditinggalkan.
Suatu malam, setelah anak-anak tidur, Naila berkata kepadaku di teras.
“Aku dulu membencimu.”
“Aku tahu.”
“Lalu aku tahu sebagian kejadian bukan salahmu.”
Aku menunggu.
“Tapi itu malah membuatku lebih marah.”
“Kenapa?”
“Karena berarti aku harus menerima kenyataan bahwa orang yang kucintai dulu bukan sengaja menghancurkanku.”
Ia menatap halaman.
“Dia cuma tidak mencari cukup keras.”
Kalimat itu sakit.
Tetapi benar.
“Aku tidak punya pembelaan.”
Naila menoleh.
“Itu alasan aku akhirnya bisa bicara lagi sama kamu.”
“Karena aku tidak membela diri?”
“Karena untuk pertama kalinya kamu berhenti mencoba terlihat sebagai korban.”
Aku mengangguk.
Malam itu kami duduk hampir dua jam.
Tidak membahas pernikahan.
Tidak membahas masa depan.
Hanya masa lalu.
Dan mungkin itulah pertama kalinya masa lalu kami benar-benar selesai.
Empat belas bulan setelah pertemuan di kereta, aku membawa Naila ke kedai kopi yang sama tempat ia menunjukkan lima surat.
Aku tidak membawa cincin.
Ia langsung curiga.
“Kamu mau apa?”
“Aku mau bertanya.”
“Kalau soal menikah, jangan keluarkan cincin dari bawah meja.”
Aku tertawa.
“Tidak ada cincin.”
“Bagus.”
“Aku mau tahu apakah kamu bersedia membangun hubungan dari awal denganku.”
Ia terdiam.
“Bukan melanjutkan yang dulu,” kataku. “Yang dulu sudah selesai. Aku juga tidak mau kamu menerimaku karena anak-anak. Kalau jawabannya tidak, aku tetap ayah mereka. Aku tetap menjalankan semua tanggung jawab. Tidak ada yang berubah.”
Naila menatapku lama.
Kemudian ia bertanya, “Kalau aku bilang iya, apa jaminannya?”
“Tidak ada.”
Alisnya naik.
Aku melanjutkan.
“Aku sudah pernah memberi jaminan dalam bentuk janji besar. Hasilnya buruk. Kali ini aku cuma bisa kasih jadwal, nomor telepon yang selalu aktif, alamat yang kamu tahu, dan kebiasaan datang ketika aku bilang akan datang.”
Naila tertawa.
Benar-benar tertawa.
Aku sudah lama tidak mendengar suara itu.
“Romantis sekali, Pak Insinyur.”
“Aku bisa bikin spreadsheet kalau perlu.”
“Jangan.”
Akhirnya ia berkata, “Kita coba.”
Setahun kemudian kami menikah secara sederhana.
Tidak ada gedung mewah.
Tidak ada seribu tamu.
Hanya keluarga yang benar-benar mendukung kami, beberapa sahabat, dan tiga anak yang ribut memperebutkan siapa yang boleh berdiri paling dekat dengan kami saat foto.
Ibuku hadir.
Ia duduk di baris belakang atas permintaan Naila sendiri.
Bukan karena semuanya sudah dimaafkan.
Tetapi karena Naila berkata, “Aku tidak mau anak-anak tumbuh dengan kebencian yang kita pelihara untuk mereka.”
Setelah akad selesai, ibu mendekati Naila.
Ia tidak menyentuhnya.
Tidak langsung memeluk cucu.
Ia hanya berkata, “Terima kasih sudah mengizinkan saya datang.”
Naila mengangguk.
“Itu saja dulu.”
Ibu menjawab, “Iya.”
Dan anehnya, batas sederhana itu terasa jauh lebih sehat daripada semua permintaan maaf dramatis yang pernah kudengar.
Bagas?
Kasusnya selesai jauh setelah pernikahan kami.
Ia dinyatakan bertanggung jawab atas pemalsuan dokumen dan penyalahgunaan dana yang dibuktikan dalam pemeriksaan.
Aset tertentu harus digunakan untuk menutup pengembalian kerugian.
Kariernya di perusahaan keluarga berakhir.
Orang-orang yang dulu selalu menepuk bahunya di acara keluarga berhenti mempercayakan uang kepadanya.
Aku tidak pernah menemuinya lagi.
Bukan karena dendam.
Karena beberapa hubungan memang tidak perlu diperbaiki.
Ayah melakukan restrukturisasi perusahaan.
Tidak ada lagi satu anggota keluarga yang memegang akses keuangan tanpa pengawasan.
Ibu berhenti ikut campur dalam keputusan hidupku.
Ia perlahan mendapat kesempatan bertemu anak-anak, selalu dengan persetujuan Naila.
Pertama hanya satu jam.
Kemudian makan siang.
Lalu sesekali menghadiri acara sekolah.
Hubungan mereka tidak sempurna.
Tetapi setidaknya dibangun tanpa kebohongan.
Sedangkan kami?
Dua tahun setelah malam di kereta itu, kami menaiki kereta lagi.
Kali ini tujuan kami Surabaya.
Liburan sekolah.
Daffa dan Bima bertengkar soal tempat duduk dekat jendela.
Salma sibuk membawa tiga jenis camilan meskipun Naila sudah melarang.
Aku sedang memasukkan koper ke rak ketika Daffa menarik bajuku.
“Ayah.”
“Iya?”
“Dulu waktu pertama ketemu di kereta, Ayah takut sama kita, ya?”
Aku menatap Naila.
Ia tersenyum kecil dari kursinya.
“Bukan takut sama kalian.”
“Terus?”
Aku duduk di samping Daffa.
“Ayah takut sudah terlambat.”
Daffa berpikir beberapa detik.
“Kata Bu Guru, terlambat itu masih boleh masuk kalau punya alasan.”
Naila langsung menyela.
“Jangan ajarkan Ayahmu begitu. Nanti dia jadi kebiasaan.”
Kami tertawa.
Kereta mulai bergerak.
Salma menyandarkan kepala ke lenganku.
Bima menunjukkan peta perjalanan.
“Ayah nanti turun di mana?”
Aku memandang ketiga anakku.
Lalu Naila.
Enam tahun lalu aku pernah mengatakan kepada seorang perempuan bahwa aku akan pulang.
Aku gagal menepati kalimat itu tepat waktu.
Sekarang aku tidak lagi menjanjikan kepulangan dengan kata-kata besar.
Aku hanya menjawab pertanyaan anakku.
“Di mana kalian turun, Ayah turun.”
Daffa mengangguk puas.
Seolah jawaban itu sudah cukup.
Dan mungkin memang itu yang selama ini mereka butuhkan.
Bukan seorang laki-laki yang datang membawa penyesalan.
Bukan ayah yang mencoba membeli kembali enam tahun dengan uang.
Bukan seseorang yang berteriak bahwa dirinya juga korban.
Mereka hanya membutuhkan orang yang ketika berkata akan datang hari Sabtu, benar-benar muncul hari Sabtu.
Orang yang kalau terlambat, menelepon.
Kalau salah, meminta maaf.
Kalau takut, tetap tinggal.
Aku kehilangan enam tahun pertama hidup mereka.
Tidak ada akhir bahagia yang bisa menghapus fakta itu.
Tetapi aku akhirnya memahami sesuatu.
Menjadi ayah bukan tentang mendapatkan kembali waktu yang sudah hilang.
Menjadi ayah adalah berhenti membuang waktu yang masih tersisa.
Kereta melaju meninggalkan Jakarta.
Di kaca jendela terlihat pantulan lima orang duduk berdesakan dalam satu baris.
Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat kehidupan yang seharusnya kumiliki.
Aku melihat kehidupan yang benar-benar kumiliki sekarang.
Dan kali ini, aku ada di dalamnya.

