Bagian 3 — Empat Bulan Setelah Aku Pergi, Satu Telepon Tentang Beras Habis Membongkar Siapa yang Selama Ini Benar-Benar Menopang Keluarga Mereka

Avatar penulis
Cerita 02
14 menit baca 1,687 tayangan
Bagian 3 — Empat Bulan Setelah Aku Pergi, Satu Telepon Tentang Beras Habis Membongkar Siapa yang Selama Ini Benar-Benar Menopang Keluarga Mereka
Indeks

Bagian 3 — Empat Bulan Setelah Aku Pergi, Satu Telepon Tentang Beras Habis Membongkar Siapa yang Selama Ini Benar-Benar Menopang Keluarga Mereka

Aku tidak langsung menjawab.

Di depanku, Aldi sedang mengerjakan tugas menggambar di meja makan kecil rumah baru kami.

Ada sepiring pisang goreng di sampingnya.

Di rak dapur, beras masih setengah karung.

Telur tersusun dalam wadah plastik.

Susu Aldi ada enam kotak.

Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, aku tahu persis berapa lama persediaan rumahku akan bertahan.

Tidak ada barang yang hilang.

Tidak ada orang yang membuka lemari lalu berkata, “Aku bawa ini, ya.”

Tidak ada kebutuhan anakku yang harus dikalahkan oleh kalimat, “Kan nanti bisa beli lagi.”

Aku kembali menempelkan ponsel ke telinga.

“Fajar.”

“Iya?”

“Aku tidak akan belanja untuk rumah ibumu.”

Nada suaranya langsung berubah.

“Nabila, jangan keterlaluan.”

“Aku tidak keterlaluan.”

“Beras hampir habis.”

“Beli.”

“Uangku tinggal sedikit.”

“Gajian masih sembilan hari lagi, kan?”

Ia terdiam.

Aku tahu tanggal gajinya.

Enam tahun menikah membuatku hafal hampir semua hal tentang hidupnya.

“Pengeluaranku bulan ini besar,” katanya.

“Besar untuk apa?”

“Servis motor. Bayar listrik. Beli obat bapak. Terus kemarin ibu minta uang buat arisan.”

Aku hampir tersenyum.

Dulu semua itu berjalan tanpa ia sadari karena ketika uang rumah kurang, aku yang menambalnya.

Sekarang lubangnya terlihat.

“Nah,” jawabku. “Atur.”

“Nab.”

“Aku juga mengatur rumahku.”

“Kamu cuma berdua sama Aldi.”

Kalimat itu menusuk tepat di tempat yang paling salah.

Aku menurunkan suara.

“Benar. Karena suamiku memilih tinggal di rumah ibunya selama empat bulan.”

Fajar langsung diam.

Aku melanjutkan.

“Jadi jangan gunakan fakta bahwa aku cuma tinggal berdua dengan anak kita sebagai alasan untuk meminta uang.”

“Nggak usah dibawa ke situ.”

“Justru semuanya harus dibawa ke situ.”

Aku melihat Aldi.

Anakku sedang memberi warna hijau pada gambar rumah.

Ia tidak tahu bahwa ibunya sedang melakukan sesuatu yang seharusnya kulakukan bertahun-tahun lalu.

Menetapkan batas.

“Aku akan membantu kalau bapak membutuhkan obat atau ada keadaan darurat,” kataku. “Aku tidak akan membiarkan orang tua kita kesulitan berobat. Tapi belanja rutin, makanan Rani, susu anak-anak Rani, arisan ibu, gas, telur, daging—itu bukan tanggung jawabku.”

Dari ujung telepon terdengar suara Ibu Sulastri.

“Nabila bilang apa?”

Kemudian ponsel seperti berpindah tangan.

“Nabila?”

“Iya, Bu.”

“Kamu tega membiarkan rumah orang tua suamimu nggak punya beras?”

“Saya tidak membiarkan siapa pun, Bu. Di rumah itu ada tiga orang dewasa yang punya penghasilan atau pensiun.”

“Bapakmu sakit.”

“Karena itu biaya obat bapak tetap akan saya bantu kalau diperlukan.”

“Lalu makan?”

“Mas Fajar bisa beli.”

“Gajinya mana cukup!”

Aku menarik napas.

Dulu kalimat semacam itu selalu membuatku merasa bersalah.

Sekarang tidak lagi.

“Kalau gaji Mas Fajar tidak cukup untuk membiayai kebutuhannya sendiri dan membantu orang tuanya, kenapa selama enam tahun semua orang menganggap gaji saya pasti cukup untuk membiayai semuanya sekaligus?”

Tidak ada jawaban.

Aku melanjutkan.

“Dan kalau kondisi keuangan sedang sulit, mungkin Rani tidak perlu pulang setiap minggu membawa belanjaan dari rumah ibu.”

Terdengar suara Rani dari belakang.

“Kenapa jadi aku lagi?”

Aku tertawa pendek.

Bukan karena lucu.

Karena pola ini terlalu mudah ditebak.

“Karena susu anak-anakmu baru saja disebutkan dalam telepon kepadaku.”

Rani merebut ponsel.

“Mbak, jangan seolah-olah aku menghabiskan semuanya. Aku juga kadang bawa makanan.”

“Kadang.”

“Aku anak kandung di rumah itu.”

“Benar.”

“Jadi aku berhak pulang.”

“Aku tidak pernah melarangmu pulang.”

“Terus masalahnya apa?”

“Pulanglah sebagai anak. Bukan sebagai orang yang datang membawa tiga tas kosong lalu pulang dengan tiga tas penuh.”

Hening.

Rani meninggikan suara.

“Kamu sekarang sombong karena punya rumah sendiri?”

“Tidak.”

“Dulu waktu kamu numpang di rumah Mama juga nggak bayar sewa!”

Aku melihat jam di dinding.

20.26.

Aku ingin menutup telepon.

Tapi ada satu hal yang akhirnya perlu kukatakan.

“Benar. Aku tidak bayar sewa.”

“Ya sudah!”

“Tapi selama enam tahun aku membayar listrik, air, gas, sebagian besar sembako, kebutuhan bapak, perbaikan dapur, servis pompa air, dan banyak kebutuhan rumah lain. Kalau kamu mau menghitung nilai sewa kamar yang kutempati, silakan. Besok kirim angkanya. Aku juga akan kirim seluruh catatan pengeluaranku selama enam tahun. Kita hitung bersama.”

Rani diam.

Ibu juga diam.

Fajar akhirnya mengambil ponsel lagi.

“Nab, sudah.”

“Belum.”

Aku tahu mungkin ini terdengar dingin.

Tetapi beberapa kebenaran memang baru terdengar kasar setelah terlalu lama disimpan.

“Empat bulan ini aku tidak pernah meminta uang darimu untuk rumah ini.”

Fajar menjawab pelan, “Aku tetap bayar sekolah Aldi.”

“Itu kewajibanmu sebagai ayah.”

“Aku juga transfer Rp1 juta bulan lalu.”

“Dan Rp850 ribu langsung dipakai untuk biaya dokter gigi Aldi.”

Fajar tidak menjawab.

“Aku tidak pernah memintamu membiayai rumahku sendirian,” kataku. “Aku cuma ingin kamu melihat bahwa rumah tangga itu tidak berjalan sendiri. Beras tidak tumbuh di lemari. Sabun tidak muncul di kamar mandi. Gas tidak terisi karena doa. Selama ini aku yang memastikan semuanya ada.”

Aku berhenti sebentar.

“Dan kalian baru sadar setelah aku berhenti.”

Telepon malam itu berakhir tanpa solusi.

Aku memasak mi goreng untuk Aldi karena ia bilang masih lapar.

Setelah ia tidur, aku duduk sendirian di ruang tamu.

Aneh.

Aku tidak merasa menang.

Aku hanya merasa sangat lelah.

Keesokan paginya, sebuah pesan dari Fajar masuk.

Ibu minta aku pinjam uang ke kamu Rp3 juta sampai gajian.

Aku membaca pesan itu dua kali.

Lalu membalas:

Untuk apa?

Jawabannya datang sepuluh menit kemudian.

Belanja rumah sama bayar utang warung.

Aku langsung paham.

Setelah aku pindah, Ibu Sulastri ternyata mulai mengambil beras, telur, minyak, dan kebutuhan kecil dari warung Bu Ratih di ujung gang dengan sistem catat.

Dulu keluarga kami hampir tidak pernah berutang di warung.

Bukan karena semua orang pandai mengatur uang.

Karena aku selalu memastikan stok tersedia.

Aku membalas:

Utangnya berapa?

Rp1.760.000.

Sisanya?

Lama tidak ada balasan.

Akhirnya:

Rani mau pinjam Rp1 juta. Anak sulungnya harus bayar kegiatan sekolah.

Aku menaruh ponsel.

Jadi bahkan pinjaman untuk “belanja rumah” masih mencakup kebutuhan Rani.

Aku menjawab:

Tidak.

Fajar menelepon.

Aku tidak mengangkat.

Ia menelepon lagi.

Kali ketiga baru kujawab.

“Kenapa nggak mau bantu?”

“Aku sudah jelaskan.”

“Rani nanti ganti.”

“Berapa banyak uang yang sudah dia ganti selama enam tahun?”

Diam.

“Jawab.”

“Aku nggak tahu.”

“Karena hampir tidak pernah.”

“Dia adikku.”

Aku mengangguk meskipun ia tidak bisa melihat.

“Dan aku istrimu.”

Kalimat itu membuatnya tidak bicara.

Aku melanjutkan.

“Masalah terbesar kita bukan Rani. Kalau dari awal kamu bilang ke dia, ‘Jangan ambil susu Aldi,’ semuanya mungkin selesai. Kalau kamu pernah bilang ke ibumu, ‘Nabila juga capek bekerja,’ mungkin aku masih tinggal di sana.”

“Aku cuma mau menjaga perasaan ibu.”

“Dengan mengorbankan perasaanku?”

“Aku nggak bermaksud begitu.”

“Tapi hasilnya begitu.”

Setelah telepon ditutup, dua hari kami tidak berkomunikasi selain soal Aldi.

Lalu pada Sabtu pagi, sesuatu terjadi.

Fajar datang ke rumahku.

Bukan sendiri.

Ia membawa dua kantong belanja.

Beras.

Minyak.

Telur.

Ayam.

Buah.

Ia meletakkannya di dapur.

Aku menatap barang-barang itu.

“Ini apa?”

“Belanja.”

“Untuk siapa?”

“Untuk rumah kita.”

Aku menatapnya lama.

Empat bulan lalu, mungkin aku akan menangis mendengar dua kata terakhir itu.

Sekarang aku hanya bertanya:

“Rumah yang mana?”

Wajahnya berubah.

“Nabila…”

“Empat bulan kamu tinggal di sana.”

“Aku tahu.”

“Setiap kali datang ke sini, kamu seperti tamu.”

“Aku tahu.”

“Kalau Aldi demam tengah malam, aku yang bawa ke klinik.”

Ia menunduk.

“Kalau atap belakang bocor, aku cari tukang.”

Ia tetap diam.

“Kalau sekolah mengadakan pertemuan orang tua, tiga kali terakhir aku datang sendiri.”

“Nab.”

“Aku tidak membutuhkan dua kantong beras sebagai permintaan maaf.”

“Aku nggak datang cuma untuk itu.”

Ia duduk.

Untuk pertama kalinya sejak kami bertengkar, wajahnya benar-benar terlihat lelah.

“Ibu sama Rani bertengkar besar kemarin.”

Aku tidak bereaksi.

“Kenapa?”

“Ibu bilang mulai sekarang Rani kalau datang jangan lagi bawa pulang sembako.”

Aku hampir tidak percaya.

“Terus?”

“Rani marah. Katanya selama ini ibu yang selalu bilang ambil saja.”

Memang benar.

“Terus mereka saling menyalahkan.”

Fajar mengusap wajah.

“Rani bilang aku seharusnya menanggung kebutuhan rumah karena aku anak laki-laki. Ibu bilang gajiku nggak cukup karena tiap bulan aku masih bantu kamu dan Aldi. Aku bilang uang buat Aldi bukan ‘membantu kamu’, itu kewajibanku.”

Aku menatapnya.

Setidaknya satu hal mulai masuk ke kepalanya.

“Lalu?”

“Rani bilang dulu semuanya baik-baik saja sebelum kamu pindah.”

Aku tertawa kecil.

“Tentu.”

“Saat itu aku baru sadar.”

“Apa?”

Fajar memandangku.

“Yang mereka maksud ‘baik-baik saja’ ternyata bukan karena pengeluaran sedikit.”

Ia berhenti.

“Tapi karena kamu yang menutup kekurangannya.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Ia melanjutkan.

“Aku buka catatan yang pernah kamu tunjukkan.”

“Yang dua belas bulan itu?”

“Iya.”

Ia menarik napas.

“Terus aku coba hitung pengeluaranku empat bulan terakhir.”

Ia mengeluarkan ponsel.

Di layar ada tabel sederhana.

Beras.

Telur.

Sayur.

Gas.

Listrik.

Obat bapak.

Iuran lingkungan.

Air galon.

Sabun.

Perbaikan motor.

Kebutuhan ibu.

Totalnya membuatnya sendiri terlihat malu.

“Sekarang aku ngerti kenapa dulu kamu selalu bilang uang belanja nggak cukup.”

Aku bersandar.

“Tapi mengerti belum tentu berubah.”

“Aku tahu.”

“Terus kamu mau apa?”

“Aku mau pindah ke sini.”

Aku tidak langsung menjawab.

Dulu itu yang kuinginkan.

Tetapi sesuatu dalam diriku sudah berubah.

“Tidak semudah itu.”

“Aku suamimu.”

“Justru karena kamu suamiku.”

Ia terlihat terpukul.

“Aku nggak mengerti.”

“Kalau kamu pindah karena rumah ibumu sekarang mahal, aku tidak mau.”

“Nabila…”

“Kalau kamu pindah karena Rani sekarang bertengkar dengan ibu, aku juga tidak mau.”

“Aku pindah karena…”

Ia berhenti.

Aku menunggu.

“Karena aku gagal menempatkan keluargaku.”

Untuk pertama kalinya kalimatnya tidak diawali dengan pembelaan.

“Aku terus berpikir tugasku menjaga ibu supaya nggak kecewa.”

Ia menatap lantai.

“Tapi aku lupa setelah menikah, aku juga punya rumah tangga sendiri.”

Aku masih diam.

“Aku nggak minta semuanya kembali normal.”

“Bagus.”

Ia mengangkat kepala.

“Aku mau memperbaikinya.”

Aku menatapnya beberapa saat.

“Kalau begitu mulai bukan dari pindah.”

“Terus?”

“Mulai dari tanggung jawab.”

Aku mengambil buku catatan.

Kami duduk hampir dua jam.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, kami membuat pembagian pengeluaran yang jelas.

Biaya sekolah Aldi dibagi.

Belanja rumah dibagi.

Tabungan darurat dibuat.

Kebutuhan orang tua Fajar memiliki batas khusus.

Bantuan di luar kondisi darurat harus dibicarakan dulu.

Tidak ada lagi mengambil uang rumah tangga diam-diam untuk menutup kebutuhan saudara.

Dan satu hal paling penting:

Tidak ada seorang pun yang boleh mengambil barang dari rumah kami tanpa izin.

“Termasuk ibuku?” tanya Fajar.

“Termasuk ibuku sendiri kalau dia datang.”

Ia mengangguk.

Fajar belum langsung pindah hari itu.

Aku memintanya membuktikan dulu bahwa perubahan itu bukan reaksi sementara.

Selama satu bulan berikutnya, ia datang hampir setiap malam sepulang kerja.

Ia mengantar Aldi sekolah dua kali seminggu.

Ia mulai belanja.

Ia bahkan baru tahu bahwa satu kilogram cabai merah bisa naik puluhan ribu hanya dalam beberapa minggu.

Suatu malam ia menelepon dari pasar.

“Nab, bawang merah kok mahal begini?”

Aku tertawa untuk pertama kalinya kepadanya setelah berbulan-bulan.

“Selamat datang di dunia nyata.”

Sementara itu, rumah Ibu Sulastri juga berubah.

Setelah uang berkurang, beliau akhirnya membuat daftar pengeluaran sendiri.

Beliau berhenti membeli terlalu banyak makanan hanya karena takut dianggap tidak mampu menjamu anak.

Bapak mertua bahkan berkata kepada Rani:

“Kalau datang, ya datang. Bapak senang lihat cucu. Tapi jangan pulang bawa isi dapur.”

Rani tersinggung.

Dua minggu ia tidak datang.

Lalu anak-anaknya mulai menanyakan kakek-neneknya.

Akhirnya ia datang lagi.

Kali ini membawa sekotak martabak.

Tidak membawa tas belanja kosong.

Ibu Sulastri kemudian melakukan sesuatu yang tidak kuduga.

Beliau datang ke rumahku sendiri.

Hari Minggu sore.

Membawa satu wadah sayur asem.

Aku mempersilahkannya masuk.

Aldi langsung berlari memeluk neneknya.

Setelah anakku masuk kamar, suasana ruang tamu menjadi canggung.

Ibu melihat sekeliling.

“Rumahmu rapi.”

“Terima kasih, Bu.”

Beliau mengangguk.

Lalu matanya berhenti pada rak kecil di dapur.

Ada beberapa kotak susu Aldi.

Beliau diam cukup lama.

“Aldi masih suka susu itu?”

“Iya.”

Ibu menunduk.

“Nabila.”

“Ya, Bu?”

“Waktu dulu…”

Beliau kesulitan memilih kata.

“Aku memang salah.”

Aku tidak menjawab cepat.

Beliau melanjutkan.

“Aku terlalu terbiasa kamu mengurus semuanya.”

Tangannya meremas ujung tas.

“Sampai aku menganggapnya memang kewajibanmu.”

Mataku panas.

Bukan karena akhirnya mendapat permintaan maaf.

Justru karena aku teringat betapa lama aku menunggu kalimat sederhana itu.

“Waktu kamu pindah, aku sempat marah,” katanya.

“Aku tahu.”

“Aku pikir kamu sengaja mau menghukum kami.”

Beliau tersenyum pahit.

“Ternyata setelah kamu pergi, baru terasa berapa banyak hal yang selama ini kamu pegang.”

Aku menjawab pelan.

“Saya tidak pernah ingin membuat ibu kesulitan.”

“Aku tahu sekarang.”

Beliau menarik napas.

“Soal susu Aldi waktu itu…”

Aku langsung menatapnya.

“Ibu ingat?”

Beliau mengangguk.

“Aku bilang jangan minum dulu karena tinggal sedikit.”

“Lalu ibu biarkan Rani bawa satu dus.”

Wajahnya memerah.

“Iya.”

“Kenapa?”

Pertanyaan itu keluar lebih dingin daripada yang kurencanakan.

Ibu lama menjawab.

“Karena waktu itu aku berpikir Aldi tinggal di rumah ini. Besok masih bisa dibelikan lagi.”

Kalimat yang sama.

Persis.

Aku tersenyum tipis.

“Dan siapa yang harus membeli lagi?”

Ibu menunduk.

“Kamu.”

Aku mengangguk.

“Itu masalahnya, Bu.”

Beliau mulai menangis.

Tidak keras.

Hanya mengusap sudut mata.

“Aku minta maaf.”

Aku tidak langsung memeluknya.

Aku juga tidak berkata bahwa semuanya sudah selesai.

Beberapa luka tidak hilang hanya karena orang akhirnya mengakui kesalahannya.

Tapi aku menerima permintaan maafnya.

“Terima kasih sudah datang, Bu.”

Dua minggu kemudian, Fajar resmi pindah ke rumah kami.

Ia membawa pakaian.

Dokumen.

Beberapa buku.

Dan sebuah rice cooker baru.

Aku menatap benda itu.

“Kita sudah punya.”

Ia tersenyum malu.

“Yang di rumah ibu dulu kan kamu yang beli.”

“Terus?”

“Aku pikir sebaiknya yang itu tetap di sana.”

Aku tertawa.

“Bagus.”

Untuk pertama kalinya, sesuatu yang kubeli tidak perlu ditarik kembali untuk membuktikan siapa pemiliknya.

Kami memulai dari awal.

Tidak sempurna.

Aku dan Fajar masih beberapa kali bertengkar.

Tentang uang.

Tentang ibunya.

Tentang waktu.

Tetapi sekarang kalau ibunya meminta bantuan, ia bicara dulu denganku.

Kalau Rani meminjam uang, ia berani mengatakan tidak.

Dan kalau Aldi membutuhkan sesuatu, ia tidak lagi berkata, “Nanti Mama beli.”

Ia ikut membeli.

Enam bulan setelah Fajar pindah, kami mengadakan makan malam kecil di rumah.

Bapak dan Ibu datang.

Rani juga datang bersama suami dan kedua anaknya.

Aku sempat tegang melihatnya membawa dua tas besar.

Ternyata satu berisi buah.

Satu lagi berisi ayam bakar dan kue.

Saat hendak pulang, Rani berdiri di dapur.

Matanya melirik satu botol minyak baru di rak.

Kami saling berpandangan.

Lalu ia tertawa kecil.

“Tenang, Mbak.”

Ia mengangkat kedua tangannya.

“Aku sekarang kalau pulang bawa barang dari rumah sendiri.”

Aku ikut tertawa.

“Akhirnya.”

Hubungan kami tidak tiba-tiba menjadi dekat.

Tapi setidaknya jelas.

Dan bagiku, jelas jauh lebih sehat daripada berpura-pura akrab sambil menyimpan sakit hati.

Malam itu setelah semua orang pulang, Aldi membantu memasukkan sisa makanan ke kulkas.

Ia membuka pintu, melihat daging yang masih tersisa, lalu bertanya:

“Ma, besok ini buat aku?”

“Iya.”

Ia tersenyum lebar.

“Berarti besok masih ada?”

Aku mengusap rambutnya.

“Ada.”

Fajar yang berdiri di belakangku mendengar itu.

Wajahnya langsung berubah.

Mungkin ia juga ingat hari ketika anak kami pernah bertanya apakah lauknya akan hilang sebelum makan malam.

Ia berjalan mendekat.

Lalu berkata kepada Aldi:

“Kalau Papa mau ambil, Papa juga harus izin dulu.”

Aldi tertawa.

Aku pun tertawa.

Kelihatannya sepele.

Hanya sepotong daging di dalam kulkas.

Hanya sekotak susu di rak.

Hanya beberapa kilogram beras.

Tapi rumah tangga sering kali tidak hancur karena satu masalah besar.

Ia retak oleh hal-hal kecil yang terus dianggap tidak penting.

Satu orang terus memberi.

Yang lain terus mengambil.

Satu orang terus mengalah.

Yang lain mulai menganggap pengorbanan itu sebagai kewajiban.

Sampai suatu hari orang yang selalu mengisi lemari berhenti melakukannya.

Barulah semua orang melihat rak yang kosong.

Dan akhirnya mengerti:

Yang selama ini mereka kehilangan bukan sekadar orang yang rajin belanja.

Mereka kehilangan seseorang yang diam-diam menopang terlalu banyak hal tanpa pernah benar-benar dihargai.

Aku tidak menyesal pindah.

Justru rumah kecil itu menyelamatkan pernikahanku.

Karena terkadang mempertahankan keluarga bukan berarti terus tinggal di tempat yang membuat kita terluka.

Terkadang kita harus pergi cukup jauh agar semua orang bisa melihat batas yang selama ini mereka injak.

Sekarang kalau persediaan rumah hampir habis, Fajar tidak pernah lagi berkata:

“Nab, belanja seperti biasa, ya.”

Ia akan membuka aplikasi catatan bersama kami dan bertanya:

“Beras tinggal sedikit. Besok aku yang belanja. Ada titipan?”

Dan setiap kali mendengar kalimat itu, aku selalu teringat telepon empat bulan setelah kepindahanku.

“Rumah ibu hampir nggak punya makanan.”

Dulu kalimat itu membuatku sadar mereka hanya merindukan apa yang bisa kuberikan.

Sekarang, setelah semuanya berubah, aku akhirnya mempunyai rumah tempat keberadaanku dihargai lebih dulu daripada isi dompetku.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menikah, ketika membuka kulkas pada malam hari, aku tidak lagi bertanya dalam hati:

Besok apa yang akan hilang?

Aku hanya memikirkan satu hal sederhana:

Besok, aku mau masak apa untuk keluargaku?