Bagian 3 — Satu Rekaman, Dua Kontrak Palsu, dan Sidang PKPU Mengubah Lima Tamparan Menjadi Harga Termahal yang Pernah Dibayar Keluarga Pratama di Jakarta

Avatar penulis
Cerita 02
13 menit baca 654 tayangan
Auto Draft
Indeks

Bagian 3 — Satu Rekaman, Dua Kontrak Palsu, dan Sidang PKPU Mengubah Lima Tamparan Menjadi Harga Termahal yang Pernah Dibayar Keluarga Pratama di Jakarta

Aku menekan tombol play.

Rekaman berikutnya bukan memperlihatkan adegan dramatis.

Justru itulah yang membuat ruangan terasa lebih dingin.

Pukul 19.58, hampir satu jam sebelum aku datang, Nadine terlihat keluar dari ruang VIP bersama Fikri Santosa, kepala pengadaan PT Pratama Transit.

Mereka berjalan ke ujung koridor, berbicara beberapa menit, lalu Fikri menyerahkan sebuah flash drive kecil.

Nadine memasukkannya ke tas.

“Tidak ada suara,” kata manajer keamanan hotel, “tetapi waktu rekaman cocok dengan log akses yang diberikan tim forensik.”

Raka membuka laptop.

Di layar muncul catatan sistem perusahaan.

Akun Fikri mengunduh revisi kontrak vendor pukul 19.51.

Delapan menit kemudian, akun tamu yang didaftarkan atas nama Nadine membuka file yang sama dari jaringan hotel.

Surya, direktur keuangan, memejamkan mata.

“Kontrak final baru boleh diakses tiga orang.”

Arga menatap Nadine.

“Apa ini?”

Nadine menggeleng cepat.

“Aku cuma diminta membaca presentasi. Aku tidak tahu apa-apa soal harga.”

Raka menggeser dokumen lain.

Vendor bernama PT Rantau Energi Mobilitas terdaftar atas nama Dimas Kusuma.

Kakak kandung Nadine.

Perusahaan itu baru berdiri empat bulan, tidak memiliki armada sendiri, tetapi mendapatkan kontrak sebagai perantara sewa 280 truk dengan nilai Rp286 miliar.

Harga asli dari pemasok utama: sekitar Rp213 miliar.

Selisihnya terlalu besar untuk disebut kesalahan administrasi.

Bima memukul meja.

“Siapa yang menyetujui vendor ini?”

Semua mata beralih kepada Arga.

Wajahnya berubah.

“Aku menandatangani karena Fikri bilang tim sudah melakukan verifikasi.”

“Dan siapa yang memperkenalkan vendor itu?” tanya Surya.

Arga tidak menjawab.

Nadine menjawab tanpa sengaja.

“Aku cuma mempertemukan mereka.”

Ruangan mendadak senyap.

Aku tidak perlu berkata apa-apa.

Kalimat itu sudah cukup.

Nadine menyadari kesalahannya dan buru-buru mengubah nada.

“Arga, dengar. Dimas memang kakakku, tapi aku tidak terlibat. Aku hanya ingin membantu perusahaan mendapat armada lebih cepat.”

Raka menatapnya tenang.

“Kalau begitu audit akan membuktikannya.”

Ratih yang sejak tadi paling keras menyalahkanku akhirnya duduk.

“Bisa tidak masalah ini diselesaikan keluarga saja?”

Aku memandangnya.

“Tadi ketika saya ditampar, Ibu bilang saya menghancurkan keluarga karena cemburu. Sekarang ada selisih kontrak puluhan miliar, Ibu ingin semuanya menjadi urusan keluarga?”

Ia tidak mampu menatapku.

Arga mendekat.

“Maya, hentikan penarikan dana dulu. Kita audit setelah likuiditas aman.”

Aku menggeleng.

“Justru karena tata kelola kalian tidak aman, danaku keluar.”

“Ratusan karyawan bisa terdampak.”

“Jangan pakai karyawan untuk menutupi keputusanmu.”

Aku membuka satu dokumen lagi.

Sagara Capital tidak hanya mengirim pemberitahuan penarikan.

Pagi itu aku juga mengirim proposal kepada bank dan komisaris independen: audit forensik segera, pembekuan pembayaran kepada vendor terkait, pembentukan komite restrukturisasi, dan perlindungan gaji karyawan operasional selama proses berlangsung.

Aku tidak ingin sopir, mekanik, staf gudang, dan petugas administrasi kehilangan penghasilan karena kesalahan orang-orang di ruang direksi.

Namun ada satu syarat.

Arga harus dinonaktifkan sementara sebagai direktur utama sampai audit selesai.

Arga membaca halaman itu dua kali.

“Kamu ingin mengambil perusahaanku.”

“Tidak.”

Aku berdiri.

“Aku ingin berhenti menyelamatkannya dari setiap kesalahanmu.”

Bima menarik kursi dan duduk perlahan.

Untuk pertama kalinya, lelaki yang selama bertahun-tahun selalu bicara tentang nama besar keluarga terlihat benar-benar tua.

Ia bertanya kepada Surya:

“Berapa lama kas kita bertahan?”

“Kalau bank tetap menahan fasilitas dan vendor meminta percepatan pembayaran, kurang dari dua minggu.”

Ratih mulai menangis.

Nadine melangkah menuju Arga.

“Ga, kamu tahu aku tidak mungkin melakukan ini kepadamu.”

Arga mundur.

Gerakan kecil itu membuat wajah Nadine membeku.

“Serahkan ponselmu ke tim audit,” kata Arga.

Nadine memucat.

“Kenapa aku harus—”

“Serahkan.”

“Aku bukan karyawanmu.”

“Kalau begitu keluar dari rumah ini.”

Nadine menatapnya beberapa detik, lalu berbalik cepat.

Sebelum ia mencapai pintu, Raka berkata:

“Kami tidak menahan Anda. Tetapi preservation notice sudah dikirim kepada vendor, hotel, dan perusahaan telekomunikasi terkait data bisnis yang sah. Menghapus dokumen setelah menerima pemberitahuan bisa memperburuk posisi Anda.”

Nadine berhenti.

Ia tidak menoleh.

Lalu ia pergi.

Aku berharap melihat Arga hancur akan membuat dadaku terasa ringan.

Ternyata tidak.

Yang kurasakan hanya lelah.

Setelah semua orang pergi, aku duduk sendirian di ruang tamu.

Di atas meja masih ada potongan salinan gugatan cerai yang dirobek Ratih.

Dulu aku mungkin akan menangis.

Pagi itu aku justru mengambil sapu kecil, mengumpulkan potongan kertas, lalu membuangnya.

Aku sadar sesuatu.

Aku tidak sedang meninggalkan empat tahun pernikahan.

Aku sedang berhenti membayar harga untuk hubungan yang sudah lama berhenti menghargai keberadaanku.

Tiga hari berikutnya menjadi kekacauan terbesar dalam sejarah PT Pratama Transit Nusantara.

Bank menunjuk tim pemantau.

Komisaris independen membentuk komite khusus.

Fikri dinonaktifkan.

Dua pembayaran vendor dibekukan.

Auditor menemukan bahwa biaya konsultasi yang selama ini tampak seperti pengeluaran pemasaran ternyata mengalir melalui tiga perusahaan perantara.

Salah satunya terhubung kepada kakak Nadine.

Yang lain terhubung kepada mantan rekan bisnis Fikri.

Jumlah yang dipertanyakan bertambah dari Rp18,7 miliar menjadi Rp31,4 miliar.

Pada hari keempat, Arga datang ke kantor Raka.

Aku sengaja tidak menemuinya sendirian.

Ia duduk di seberangku tanpa jas.

Matanya merah karena kurang tidur.

“Aku sudah memberhentikan Fikri,” katanya.

Aku diam.

“Nadine tidak bisa dihubungi sejak kemarin.”

“Bukan urusanku.”

“Aku benar-benar tidak tahu.”

Aku menatapnya lama.

“Itulah masalahmu, Arga. Kamu selalu merasa tidak tahu adalah pembelaan.”

Ia menunduk.

“Aku percaya orang yang salah.”

“Tidak. Kamu memilih untuk tidak memeriksa karena lebih nyaman mempercayainya.”

Kalimat itu mengenai tempat yang lebih dalam daripada tuduhan apa pun.

Arga mengeluarkan map.

“Aku bersedia menyerahkan tiga puluh persen sahamku ke Sagara kalau kamu kembalikan fasilitas.”

Aku bahkan tidak membuka map.

“Tidak.”

“Maya, ayahku bisa kehilangan semuanya.”

“Empat tahun lalu aku menyelamatkan perusahaan kalian karena aku percaya sistemnya bisa diperbaiki. Hari ini aku tahu setiap kali ada masalah, kalian hanya mencari uangku.”

“Aku akan berubah.”

“Aku tidak lagi membutuhkan versi dirimu yang berubah setelah aku dipukul.”

Ia menutup mata.

Untuk pertama kalinya, ia tidak membantah.

Seminggu kemudian, rapat pemegang saham luar biasa menonaktifkan Arga.

Bima juga mundur dari jabatan komisaris utama untuk memberi ruang kepada tim restrukturisasi.

Ratih meneleponku tujuh belas kali dalam dua hari.

Aku tidak mengangkat.

Pada panggilan kedelapan belas, ia mengirim pesan panjang.

Isinya bukan permintaan maaf, melainkan permintaan agar aku memikirkan nama baik keluarga.

Aku membalas satu kalimat.

Nama baik tidak bisa dijadikan jaminan bank.

Setelah itu aku memblokir nomornya.

Namun masalah perusahaan tidak selesai hanya dengan mengganti direksi.

Kontrak-kontrak lama menumpuk.

Beberapa kreditur meminta kepastian.

Tanpa jaminanku, rasio utang perusahaan melampaui batas yang disepakati bank.

Dua bulan kemudian, PT Pratama Transit mengajukan proses restrukturisasi utang melalui PKPU.

Berita itu menyebar.

Beberapa media bisnis menulis bahwa perusahaan transportasi keluarga Pratama sedang berada di ujung tanduk setelah investor utama menarik dukungan.

Nama Arga muncul di mana-mana.

Lalu seseorang membocorkan foto memarku.

Aku tahu bukan dari pihakku.

Raka menelusuri sumber pertama dan menemukan akun gosip bisnis yang menerima foto dari nomor staf pribadi Ratih.

Mereka mencoba membentuk narasi bahwa aku sengaja memanfaatkan kekerasan rumah tangga untuk merebut perusahaan.

Aku tidak membuat video tangisan.

Aku tidak mengadakan konferensi pers emosional.

Aku hanya mengeluarkan pernyataan melalui pengacara:

Dana yang kutarik adalah investasi dan jaminan milik Sagara Capital berdasarkan perjanjian.

Seluruh tindakan dilakukan sesuai klausul kontrak.

Perkara kekerasan dan proses perceraian ditangani melalui jalur hukum.

Tiga jam kemudian, komisaris independen mengeluarkan pernyataan sendiri.

Mereka membenarkan adanya audit terhadap pengadaan armada dan transaksi pihak terkait.

Narasi Ratih runtuh dalam sehari.

Yang lebih buruk bagi mereka, beberapa karyawan mulai berbicara.

Bukan tentang aku.

Tentang bagaimana Nadine selama berbulan-bulan datang ke kantor tanpa jabatan resmi, masuk ke ruang direktur utama, meminta data, dan ikut menghadiri diskusi vendor.

Tentang bagaimana Fikri selalu menyebut namanya ketika mendesak tim keuangan mempercepat pembayaran.

Tentang bagaimana Arga berkali-kali mengabaikan keberatan staf karena ia mengatakan Nadine “orang yang bisa dipercaya”.

Enam minggu setelah audit dimulai, Nadine akhirnya datang memenuhi pemeriksaan internal bersama pengacara.

Ia mencoba menjelaskan bahwa semua uang yang diterimanya adalah fee konsultasi.

Masalahnya, tidak ada laporan konsultasi.

Tidak ada hasil kerja.

Tidak ada notulen.

Hanya invoice.

Tim forensik juga memulihkan pesan yang sebelumnya dihapus dari laptop Fikri.

Salah satu pesan dikirim dua hari sebelum malam aku ditampar.

Maya mulai tanya angka vendor. Kalau dia datang ke rapat, buat dia keluar sebelum pembahasan armada.

Pesan balasan dari akun Nadine singkat.

Biar aku urus.

Aku membaca cetakan pesan itu di kantor Raka.

Tanganku dingin.

Jadi adegan di hotel bukan sekadar kecemburuan.

Nadine memang sengaja menciptakan konflik agar aku dikeluarkan dari ruangan sebelum kontrak dibahas.

Ia tahu Arga akan membelanya.

Ia tahu aku akan terlihat sebagai istri cemburu.

Yang tidak ia perhitungkan hanya satu hal.

Aku berhenti bereaksi sebagai istri.

Aku bertindak sebagai investor.

Bukti itu kemudian diserahkan kepada penyidik bersama hasil audit.

Aku tidak menentukan nasib Nadine.

Aku hanya menandatangani keterangan mengenai kejadian yang kualami dan menyerahkan semua dokumen yang kumiliki.

Proses hukum berjalan berbulan-bulan.

Sementara itu, proses perceraian juga berjalan.

Arga dua kali tidak mau menandatangani kesepakatan awal.

Ia meminta mediasi tambahan.

Pada sesi terakhir, mediator memberi kami waktu bicara.

Arga duduk dengan bahu membungkuk.

“Aku masih ingat hari pertama kamu datang ke kantor membawa kopi dan bilang proyeksi arus kas kami berantakan.”

Aku hampir tersenyum.

“Aku bilang lebih buruk dari berantakan.”

Ia mengangguk.

“Kamu benar.”

Hening lama.

“Aku kira kalau aku bisa mengembalikan perusahaan, kita juga bisa kembali.”

“Perusahaan bukan pernikahan.”

“Aku tahu sekarang.”

Aku menatap lelaki yang pernah sangat kucintai.

Anehnya, tidak ada lagi amarah besar di dalam diriku.

Hanya jarak.

“Aku memaafkan diriku karena terlalu lama bertahan,” kataku. “Itu yang perlu kulakukan. Bukan kembali kepadamu.”

Matanya memerah.

“Apa kamu bisa memaafkanku?”

“Mungkin suatu hari. Tapi memaafkan bukan berarti memberimu akses lagi ke hidupku.”

Ia menunduk.

Kali itu, ia menandatangani.

Perceraian kami resmi diputus beberapa minggu kemudian.

Karena sejak awal kami memiliki perjanjian pemisahan harta, aset Sagara Capital tetap milikku.

Aku juga melepaskan tuntutan atas rumah keluarga Pratama yang tidak pernah kuinginkan.

Sebaliknya, Arga menyetujui kompensasi medis dan menyampaikan permintaan maaf tertulis atas tindakan keamanan malam itu.

Aku tidak menyimpan surat itu di meja.

Aku menyimpannya bersama berkas perkara.

Bukan sebagai kenangan.

Sebagai bukti bahwa kejadian itu benar-benar pernah terjadi dan tidak akan pernah kunormalisasi lagi.

Lima bulan setelah PKPU dimulai, keadaan PT Pratama Transit mencapai titik penentuan.

Para kreditur menyetujui penjualan beberapa aset produktif kepada konsorsium baru agar bisnis operasional tidak mati seluruhnya.

Sagara Capital ikut dalam konsorsium tersebut, tetapi aku memasang syarat yang tidak bisa dinegosiasikan:

Keluarga Pratama tidak memiliki kendali manajemen.

Seluruh transaksi vendor diperiksa ulang.

Kewajiban gaji karyawan diprioritaskan.

Kontrak bermasalah dibatalkan.

Bima awalnya menolak.

Ia mengatakan perusahaan itu dibangun keluarganya selama dua puluh tujuh tahun.

Aku menjawab:

“Kalau ingin menyelamatkan namanya, selamatkan orang-orang yang bekerja di dalamnya. Bukan kursi keluarga.”

Pada akhirnya para kreditur memilih proposal konsorsium.

Unit logistik yang sehat tetap berjalan.

Ratusan karyawan mempertahankan pekerjaan.

Nama “Pratama” tidak lagi berada di papan utama kantor pusat.

Arga kehilangan posisi, kendaraan perusahaan, rumah dinas, dan sebagian besar nilai sahamnya setelah restrukturisasi.

Aku tidak mengambil rumah pribadinya.

Aku tidak memburu rekening keluarganya.

Aku tidak perlu.

Konsekuensi dari keputusannya sudah lebih dari cukup.

Sementara itu, penyidikan terhadap kontrak vendor berkembang menjadi perkara pidana.

Fikri dan Dimas didakwa terkait pemalsuan dokumen pengadaan dan penggelapan dana perusahaan.

Nadine didakwa karena keterlibatannya dalam rangkaian dokumen konsultasi palsu dan aliran dana yang tidak memiliki dasar pekerjaan.

Hampir setahun setelah malam di hotel, pengadilan menjatuhkan hukuman kepada mereka.

Aku hadir hanya sekali, saat diminta memberikan kesaksian.

Nadine duduk beberapa meter dariku.

Ia tidak memakai riasan mencolok.

Tidak ada air mata yang dirancang untuk membuat ruangan memihaknya.

Ketika mata kami bertemu, ia berbisik saat jeda sidang:

“Semua ini gara-gara kamu menarik dana.”

Aku memandangnya.

“Tidak. Semua ini terjadi karena kalian yakin tidak akan ada yang memeriksa.”

Aku pergi sebelum sidang hari itu selesai.

Aku tidak perlu melihat borgol untuk merasa menang.

Kemenanganku terjadi jauh lebih awal.

Saat aku akhirnya percaya pada diriku sendiri.

Setahun dua bulan setelah perceraian, aku berdiri di depan gedung baru Sagara Mobility, perusahaan operasional yang dibentuk dari unit-unit sehat hasil restrukturisasi.

Di halaman depan ada puluhan truk dengan logo baru.

Tidak ada nama Pratama.

Tidak ada nama keluargaku juga.

Aku ingin perusahaan itu memiliki identitasnya sendiri.

Pak Darto, yang masih bekerja denganku, berdiri dekat pintu sambil tersenyum.

Surya kini menjadi direktur keuangan perusahaan baru setelah lolos audit tanpa catatan.

Beberapa mekanik lama datang membawa tumpeng kecil.

Mereka memintaku memotong bagian pertama.

Aku tertawa.

“Kenapa saya?”

Salah satu supervisor berkata:

“Karena Ibu yang memastikan kami tidak jadi korban perang orang kantor atas.”

Kalimat itu membuatku diam.

Selama berbulan-bulan, aku takut orang akan mengingatku hanya sebagai perempuan yang menarik Rp580 miliar dan menjatuhkan perusahaan suaminya.

Ternyata orang-orang yang pekerjaannya benar-benar dipertaruhkan mengingat hal berbeda.

Aku memastikan mereka tetap dibayar.

Aku memotong tumpeng dan memberikan potongan pertama kepada kepala bengkel yang sudah bekerja di sana sejak perusahaan masih memiliki delapan belas truk.

Sore harinya, ketika semua orang pulang, resepsionis memberi tahu ada seseorang menungguku di lobi.

Arga.

Ia tampak berbeda.

Lebih kurus.

Tidak ada jam mahal.

Tidak ada sopir.

Ia membawa map cokelat.

“Aku cuma mau menyerahkan ini.”

Di dalamnya ada salinan dokumen pelepasan sisa klaim lama atas dua gudang milikku.

Semua kewajiban administratif yang dulu terkait perusahaan telah selesai.

“Terima kasih,” kataku.

Ia melihat keluar jendela ke arah truk-truk baru.

“Kamu benar-benar menyelamatkan bagian yang masih bisa diselamatkan.”

“Aku menyelamatkan bisnisnya. Bukan kepemilikannya.”

Ia mengangguk.

“Ayah sekarang tinggal di rumah lama di Bogor. Ibu… sudah jauh lebih tenang.”

Aku tidak bertanya tentang Nadine.

Arga pun tidak menyebut namanya.

Sebelum pergi, ia berkata:

“Aku dulu marah ketika kamu bilang lima tamparan itu lebih mahal dari perusahaanku.”

Aku menatapnya.

“Sekarang?”

“Sekarang aku tahu perusahaan itu bukan harga termahal yang kubayar.”

Ia berhenti sebentar.

“Yang paling mahal adalah saat kamu berhenti percaya kepadaku.”

Aku tidak menjawab dengan kalimat tajam.

Tidak ada gunanya.

Aku hanya berkata:

“Semoga kamu tidak mengulanginya kepada siapa pun.”

Arga mengangguk dan pergi.

Pintu kaca tertutup di belakangnya.

Aku berdiri beberapa detik, lalu kembali ke ruang kerjaku.

Di meja ada sebuah foto ayahku.

Bukan foto pernikahan.

Bukan sertifikat saham.

Foto lama saat aku masih kuliah, berdiri di gudang pertama keluarga dengan helm proyek yang terlalu besar.

Di belakang foto itu ada tulisan tangan ayah:

Jangan pernah taruh uang di tempat yang tidak menghargai pertanyaanmu.

Dulu aku mengira nasihat itu hanya tentang investasi.

Ternyata juga tentang hidup.

Malam itu aku pulang lebih awal.

Aku makan bersama ibuku di rumah, sesuatu yang bertahun-tahun sering kutunda demi acara keluarga Pratama.

Setelah makan, kami duduk di teras sambil membicarakan rencana membuka program beasiswa untuk anak-anak sopir dan mekanik.

Tidak ada telepon darurat dari Arga.

Tidak ada nama Nadine.

Tidak ada rapat keluarga yang membuatku harus menelan sakit hati agar terlihat dewasa.

Hanya udara malam, teh hangat, dan rasa tenang yang sederhana.

Aku pernah berpikir akhir bahagia berarti orang yang menyakitiku menyesal.

Ternyata bukan itu.

Akhir bahagia adalah ketika penyesalannya tidak lagi menentukan suasana hatiku.

Lima tamparan memang memulai semuanya.

Namun yang mengakhiri kisah itu bukan kebangkrutan keluarga Pratama, bukan putusan pengadilan, dan bukan permintaan maaf Arga.

Yang mengakhirinya adalah keputusan sederhana yang akhirnya kubuat untuk diriku sendiri:

Aku tidak akan lagi membayar cinta dengan harga diri.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, hidupku benar-benar terasa menjadi milikku sendiri.