Bagian 3 — Ketika Mereka Menggunakan Alamatku Tanpa Izin, Aku Membiarkan Bukti Menjawab Semua Kebohongan

Avatar penulis
Cerita 02
13 menit baca 1,365 tayangan
Bagian 3 — Ketika Mereka Menggunakan Alamatku Tanpa Izin, Aku Membiarkan Bukti Menjawab Semua Kebohongan
Indeks

Bagian 3 — Ketika Mereka Menggunakan Alamatku Tanpa Izin, Aku Membiarkan Bukti Menjawab Semua Kebohongan

Malam itu aku tidak tidur.

Bukan karena takut kehilangan rumah.

Secara hukum dan dokumen, rumah itu masih aman.

SHM asli ada di tanganku.

Aku tidak pernah menandatangani AJB.

Aku tidak pernah memberi kuasa penjualan atau pengalihan kepada Arga.

Yang membuatku tidak bisa memejamkan mata adalah satu kalimat Nadia.

Semua sudah pakai alamat rumah itu.

Pukul enam pagi, aku sudah berada di meja makan dengan laptop terbuka.

Aku menyusun semuanya berdasarkan tanggal.

Tanggal pertama Nadia masuk ke rumah.

Tanggal kedua ia membawa orang untuk mengukur ruangan.

Tanggal ketika dua puluh juta ditransfer ke rekening Arga.

Tanggal fotokopi KTP dan kartu keluarga hilang.

Tanggal Nadia menghubungi kantor PPAT.

Semakin kususun, semakin jelas bahwa semua ini bukan tindakan spontan.

Mereka sudah merencanakannya berminggu-minggu.

Aku lalu menelepon sekolah yang disebut Nadia saat Lebaran.

Aku tidak menuduh apa pun.

Aku hanya berkata bahwa aku adalah pemilik rumah di alamat yang mungkin digunakan dalam berkas calon siswa bernama Dimas.

Petugas administrasi memintaku menunggu.

Beberapa menit kemudian seorang perempuan bernama Bu Ratih mengambil alih telepon.

“Bu Maharani, memang ada formulir pendaftaran atas nama Dimas.”

“Alamat tempat tinggalnya menggunakan rumah saya?”

“Alamat yang dicantumkan Jatibening.”

Aku menahan napas.

“Apakah sudah diterima sebagai murid?”

“Belum. Baru tahap administrasi awal.”

“Dokumen tempat tinggalnya apa?”

Bu Ratih berhenti sebentar.

“Saya tidak bisa memberikan seluruh isi berkas tanpa prosedur resmi, Bu. Tetapi kalau Ibu menyatakan alamat digunakan tanpa izin, Ibu bisa mengajukan keberatan tertulis.”

Itu cukup bagiku.

Aku meminta alamat email resmi sekolah.

Pagi itu juga aku mengirim pernyataan bahwa Nadia dan Dimas tidak berdomisili di rumahku, tidak memiliki hak sewa, dan tidak mendapatkan izin menggunakan alamat tersebut sebagai tempat tinggal.

Aku melampirkan bukti kepemilikan secukupnya.

Siang harinya sekolah membalas.

Berkas Dimas ditangguhkan sampai Nadia memberikan data domisili yang dapat diverifikasi.

Belum satu jam setelah email itu masuk, ponselku bergetar keras.

Nadia.

Aku tidak mengangkat.

Ia menelepon lagi.

Lima kali.

Kemudian pesan-pesan mulai masuk.

Mbak benar-benar tega sama anak kecil?

Masalah orang dewasa kenapa dibawa ke sekolah Dimas?

Kalau Dimas gagal masuk sekolah itu, Mbak puas?

Aku membaca semuanya.

Lalu membalas satu kalimat.

Aku tidak pernah melibatkan Dimas. Kamu yang menggunakan alamat rumahku tanpa izin untuk kepentingan administrasi anakmu.

Setelah itu aku memblokir sementara nomornya.

Tetapi masalah berikutnya datang dari ibu mertua.

Ia datang ke apartemen sore itu.

Tidak sendiri.

Arga bersamanya.

Begitu aku membuka pintu, Ibu langsung masuk tanpa menunggu dipersilakan.

“Rani, kamu keterlaluan.”

Aku menutup pintu.

“Duduk dulu, Bu.”

“Apa lagi yang mau dibicarakan?”

Ibu menunjuk wajahku.

“Hanya gara-gara rumah kosong, kamu membuat sekolah Dimas bermasalah!”

“Hanya rumah kosong?”

Ibu terdiam.

Aku mengambil map dari meja.

“Ini bukti transfer dua puluh juta ke rekening Arga.”

Aku meletakkan lembar pertama.

“Ini catatan akses Nadia masuk tiga kali.”

Lembar kedua.

“Ini foto orang renovasi mengukur kamar.”

Lembar ketiga.

“Ini foto dinding yang sudah diberi ukuran ranjang.”

Lembar keempat.

“Ini keterangan kantor PPAT bahwa Nadia datang menanyakan pengalihan rumah dengan harga dua puluh juta.”

Wajah ibu mertuaku berubah.

Namun bukannya meminta maaf, ia justru berkata,

“Semua itu bisa dibicarakan baik-baik.”

Aku mengangguk.

“Tentu.”

“Karena itu saya ingin tahu satu hal.”

Aku menatap Ibu.

“Sejak kapan Ibu tahu?”

Arga langsung menyela.

“Rani—”

“Diam dulu.”

Aku tetap menatap ibu mertuaku.

Ibu memainkan ujung tasnya.

“Arga memang pernah cerita Nadia ingin tinggal di sana.”

“Bukan itu pertanyaan saya.”

Aku mendorong bukti transfer ke arahnya.

“Sejak kapan Ibu tahu ada uang dua puluh juta?”

Wajah Ibu memucat.

Itu sudah cukup menjawab.

Aku tersenyum kecil.

“Jadi Ibu tahu.”

Ia langsung membela diri.

“Arga bilang kamu nanti juga setuju!”

“Nanti?”

Aku menunjuk tanggal transfer.

“Uang diterima sebelum makan malam Lebaran.”

“Artinya kalian sudah menyelesaikan transaksi versi kalian sendiri, baru setelah itu meminta persetujuan saya.”

Tidak ada yang menjawab.

Aku kemudian mengeluarkan satu lembar terakhir.

Mutasi rekening bersama kami.

Aku baru memeriksanya pagi tadi.

Dua hari setelah menerima uang Nadia, Arga memindahkan Rp11,8 juta ke pembayaran kartu kredit.

Sisanya ditarik dan ditransfer ke beberapa rekening.

Aku menunjuk transaksi itu.

“Sebelas juta delapan ratus untuk kartu kredit.”

“Lalu enam juta ke rekening atas nama Raka.”

“Raka siapa?”

Arga menunduk.

Aku sudah menduga.

Raka adalah temannya yang beberapa bulan terakhir sering mengajak Arga bermain trading kripto berisiko tinggi.

Aku tidak pernah mempermasalahkan investasi kecil selama menggunakan uang pribadi.

Ternyata Arga sudah berutang.

“Berapa utangmu sebenarnya?” tanyaku.

“Bukan urusanmu.”

Aku hampir tertawa.

“Hebat.”

“Kamu menggunakan rumahku untuk mendapatkan uang dari adikmu, lalu bilang utangmu bukan urusanku.”

Ibu mertua langsung menoleh pada Arga.

“Kamu bilang uang Nadia disimpan.”

Arga tidak menjawab.

Untuk pertama kalinya, kemarahan ibu mertua berbalik kepadanya.

“Arga!”

“Sudahlah, Bu!”

Arga berdiri.

“Aku cuma butuh waktu mengembalikan!”

Napasnya memburu.

Lalu ia menunjukku.

“Semua jadi sebesar ini karena Rani keras kepala!”

Aku diam beberapa detik.

Kalimat itu mematikan sisa keraguanku.

Bahkan setelah kebohongan terbongkar, ia masih menyalahkanku.

Aku mengambil sebuah map berwarna cokelat.

“Ini surat dari pengacara.”

Arga menatapku.

“Pengacara apa?”

“Aku sudah konsultasi.”

Wajahnya berubah.

“Aku akan mengajukan gugatan perceraian.”

Ibu mertua langsung berdiri.

“Rani!”

Aku mengangkat tangan.

“Saya belum selesai.”

Aku menatap Arga.

“Kamu juga harus mengembalikan dua puluh juta milik Nadia sendiri. Bukan dari uangku. Bukan dari rekening bersama.”

Arga tertawa sinis.

“Kamu pikir aku takut diceraikan?”

“Tidak.”

Aku mengangguk.

“Aku justru berharap kamu tidak takut.”

“Supaya prosesnya lebih cepat.”

Ia melangkah mendekat.

“Kamu benar-benar mau menghancurkan rumah tangga hanya karena satu properti?”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Bukan karena properti.”

“Karena kamu mengambil sesuatu tanpa izin.”

“Kamu berbohong.”

“Kamu menggunakan dokumen pribadiku.”

“Kamu menerima uang atas aset yang bukan milikmu.”

“Kamu membiarkan keluargamu memperlakukan aku seolah suaraku tidak diperlukan.”

Aku berhenti sebentar.

“Dan ketika semuanya terbongkar, kamu tetap tidak merasa salah.”

Tidak ada yang bisa ia jawab.

Dua hari kemudian, Nadia datang ke kantor tempatku bekerja.

Ia menungguku di lobi.

Matanya bengkak.

Begitu melihatku, ia langsung berdiri.

“Mbak, kita bicara.”

Aku membawa kami ke kafe di lantai dasar.

Nadia langsung berkata,

“Aku mau uangku kembali.”

“Minta ke Arga.”

“Dia bilang tidak punya.”

“Lalu?”

“Mbak istrinya.”

Aku meletakkan gelas.

“Dan kamu adiknya.”

Nadia menggigit bibir.

“Mbak jangan begitu.”

“Aku harus bagaimana?”

“Aku benar-benar pikir Mas Arga sudah bicara sama Mbak.”

Aku menatapnya.

“Kalau kamu benar-benar percaya aku sudah setuju, kenapa saat masuk rumah tiga kali tidak pernah sekali pun menghubungiku?”

Ia diam.

“Kenapa mengambil salinan dokumen dari laci?”

“Aku nggak ambil—”

“Nadia.”

Aku membuka ponsel.

Menunjukkan tangkapan CCTV.

Ia keluar dari rumah sambil membawa map.

Wajahnya langsung kehilangan warna.

“Aku cuma pinjam.”

“Tanpa izin namanya bukan pinjam.”

Ia mulai menangis.

“Mbak, aku kepepet.”

“Dimas butuh sekolah yang bagus. Kontrakanku juga habis Juni.”

Aku tetap tenang.

“Dan itu membuatmu berhak atas rumahku?”

“Aku pikir karena kita keluarga…”

Aku menggeleng.

“Jangan gunakan kata keluarga untuk menjelaskan sesuatu yang tidak akan kamu berani lakukan kepada orang asing.”

Ia terdiam lama.

Kemudian dengan suara lebih kecil ia berkata,

“Mas Arga bilang rumah itu nanti memang akan jadi harta kalian berdua.”

Aku tersenyum pahit.

“Rumah itu milikku sebelum menikah.”

“Dia bilang setelah menikah semuanya jadi milik bersama.”

“Dia salah.”

Wajah Nadia semakin pucat.

Aku tidak ingin memberi kuliah hukum.

Yang penting sederhana.

Tidak ada satu pun dokumen yang memberikan rumah itu kepada Arga.

Tidak ada persetujuan dariku.

Nadia akhirnya mengaku.

Arga yang pertama kali menawarkan rumah itu.

Bukan Nadia.

Sekitar sebulan sebelum Lebaran, Nadia mengeluh kontrakannya naik menjadi Rp38 juta setahun.

Arga kemudian berkata,

“Daripada buang uang buat kontrakan, ambil saja rumah Rani.”

Awalnya Nadia ragu.

Namun Arga meyakinkannya bahwa aku “pasti nurut kalau keluarga sudah sepakat”.

Arga juga yang menetapkan harga dua puluh juta.

“Biar ada bukti transaksi keluarga,” katanya.

Saat mendengar bagian itu, aku benar-benar merasa jijik.

Bukan hanya karena Arga ingin memberikan rumahku.

Ia bahkan membuat konstruksi seolah transaksi itu sah di mata keluarga.

Aku bertanya,

“Kapan kamu tahu aku belum setuju?”

Nadia terdiam lama.

Lalu menjawab,

“Malam Lebaran.”

Jawaban itu membuatku tertawa pendek.

“Berarti saat aku menolak, kamu tahu semuanya tidak benar.”

Nadia menangis lagi.

“Aku sudah terlanjur bayar.”

“Dan karena sudah terlanjur bayar kepada kakakmu, kamu merasa aku yang harus menanggung akibatnya?”

Ia tidak mampu menjawab.

Aku memberinya salinan bukti transfer.

“Uangmu memang harus dikembalikan.”

Matanya langsung terangkat.

“Tapi oleh Arga.”

“Kalau dia tidak mengembalikan?”

“Kamu bisa menagihnya secara hukum.”

Nadia menatapku seolah baru menyadari sesuatu yang selama ini tidak ingin ia lihat.

Kakaknya sendiri yang menipunya.

Seminggu kemudian, situasi keluarga mereka pecah.

Nadia mendatangi Arga di rumah ibu mereka dan menuntut uangnya.

Aku tahu karena ibu mertua meneleponku hampir tengah malam.

Ia menangis.

“Rani, tolong bicara sama Arga.”

“Saya tidak bisa.”

“Dia bertengkar dengan Nadia.”

“Itu urusan mereka.”

“Uangnya sudah habis.”

“Saya tahu.”

Ibu terdiam.

Kemudian berkata pelan,

“Ibu mau jual perhiasan untuk ganti uang Nadia.”

Aku menutup mata.

“Jangan, Bu.”

Ia terdengar kaget.

Aku melanjutkan,

“Yang menerima uang Arga.”

“Yang menggunakan Arga.”

“Biarkan Arga yang bertanggung jawab.”

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ibu mertuaku tidak membantah.

Perceraian kami berjalan beberapa bulan.

Tidak secepat di film.

Ada pertemuan.

Ada mediasi.

Ada upaya Arga membujukku.

Kadang ia marah.

Kadang meminta maaf.

Kadang mengirim foto lama kami.

Pernah suatu malam ia menulis,

Aku cuma ingin membantu adikku.

Aku membalas,

Membantu orang dengan mengambil hak orang lain bukan bantuan.

Tidak ada balasan lagi.

Dalam proses mediasi, Arga sempat meminta agar aku menarik persoalan rumah dari pembicaraan.

Aku menolak memperdebatkan kepemilikan rumah karena dokumennya sudah jelas.

Aku hanya ingin satu hal:

pernikahan kami selesai dengan pembagian kewajiban yang rapi, tanpa memberinya celah membawa utang pribadinya kepadaku.

Aku menutup rekening bersama yang bisa ditutup sesuai prosedur setelah kewajiban yang sah diselesaikan.

Barang pribadi dipisahkan.

Dokumen diamankan.

Semua komunikasi penting kusimpan tertulis.

Sementara itu Nadia akhirnya melayangkan somasi kepada Arga untuk mengembalikan dua puluh juta.

Aku tidak ikut campur.

Yang mengejutkanku justru datang dari Nadia sendiri tiga bulan kemudian.

Ia mengirim pesan.

Mbak, uangku sudah dicicil Mas Arga.

Aku tidak membalas.

Beberapa menit kemudian muncul pesan kedua.

Aku juga sudah pindahkan berkas sekolah Dimas pakai alamat kontrakan baru.

Lalu pesan ketiga.

Maaf soal rumah itu. Aku memang salah.

Aku membaca lama.

Akhirnya aku menulis,

Jaga Dimas baik-baik. Jangan ajari dia bahwa keluarga berarti boleh mengambil hak orang lain.

Setelah itu percakapan selesai.

Aku tidak membencinya.

Tetapi aku juga tidak merasa harus kembali dekat.

Memaafkan tidak selalu berarti memberikan akses yang sama seperti sebelumnya.

Enam bulan setelah malam Lebaran itu, putusan perceraian kami keluar.

Hari aku mengambil salinan dokumennya, aku tidak menangis.

Aku justru pergi ke rumah Jatibening.

Rumah itu sudah cukup lama kosong.

Bekas garis pensil di kamar belakang masih terlihat samar.

Aku berdiri di sana beberapa menit.

Dulu tulisan ranjang Dimas membuatku sangat marah.

Hari itu rasanya berbeda.

Aku mengambil penghapus khusus dinding dan membersihkannya perlahan.

Setelah itu aku memanggil tukang.

Bukan tukang pilihan Nadia.

Tukang pilihanku.

Kabinet dapur diperbaiki.

Atap belakang yang bocor diganti.

Dinding dicat ulang.

Aku juga mengganti pagar kecil di teras.

Orang tuaku datang dari Bandung dua minggu kemudian.

Ayah berdiri lama di ruang tamu.

“Dijual?”

Aku menggeleng.

“Ibu sama Ayah pakai saja kalau ke Jakarta.”

Ibu tersenyum.

“Sayang kalau kosong terus.”

Aku pun memutuskan menggunakan satu kamar sebagai ruang kerja.

Sesekali aku menginap di sana.

Tidak ada suara Arga.

Tidak ada orang yang mengambil barang dari laci.

Tidak ada keluarga yang mendiskusikan asetku seolah aku tidak hadir.

Aneh rasanya.

Sunyi.

Tapi nyaman.

Suatu sore, ketika sedang menyiram tanaman depan rumah, Pak Hendra dari keamanan menghampiriku.

“Bu Rani sekarang sering di sini?”

“Iya, Pak.”

Ia tertawa.

“Baguslah. Dulu saya kira rumah ini mau ditempati adik Ibu.”

Aku tersenyum tipis.

“Rencananya batal.”

Pak Hendra mengangguk.

“Oh iya, sekarang prosedur tamu rumah Ibu tetap harus konfirmasi langsung?”

“Tetap.”

“Siap.”

Jawaban sederhana itu justru membuatku tersenyum.

Konfirmasi langsung kepada pemilik.

Sesuatu yang seharusnya sangat biasa.

Tapi justru itulah yang tidak pernah dilakukan orang-orang yang mengaku keluargaku.

Setahun kemudian, hidupku jauh lebih tenang.

Aku mendapat promosi di kantor.

Aku mulai berlari setiap Minggu pagi.

Ibu menanam cabai dan pandan di belakang rumah setiap kali datang.

Ayah bahkan membeli bangku kecil untuk teras, lalu bercanda bahwa rumah itu akhirnya “punya penghuni yang benar”.

Arga?

Ia akhirnya menjual motornya dan mengambil pekerjaan tambahan untuk melunasi utang kartu kredit serta mengembalikan uang Nadia.

Aku mendengar kabar itu dari mantan ibu mertuaku.

Kami sesekali masih bertukar ucapan pada hari besar.

Hubungan kami tidak kembali seperti dulu.

Tapi tidak ada lagi pertengkaran.

Suatu kali Ibu berkata,

“Ibu dulu salah karena menganggap apa yang dimiliki anak menantu boleh dibicarakan keluarga tanpa izin.”

Aku hanya menjawab,

“Yang penting sekarang Ibu mengerti.”

Nadia pindah ke kontrakan yang lebih sederhana.

Dimas tetap masuk sekolah yang baik, hanya bukan sekolah yang awalnya ia incar.

Dan dunia mereka ternyata tidak runtuh hanya karena mereka gagal mengambil rumahku.

Itu bagian paling ironis.

Selama berbulan-bulan mereka bertindak seolah masa depan seorang anak hanya bisa diselamatkan dengan mengambil hak perempuan lain.

Padahal solusi yang wajar selalu ada.

Mereka hanya memilih jalan yang paling menguntungkan diri sendiri.

Pada Lebaran berikutnya, aku tidak datang ke rumah mantan mertuaku.

Aku mengajak Ayah dan Ibu makan siang di rumah Jatibening.

Meja makan yang dulu hampir tidak pernah dipakai kini penuh makanan.

Ibu membawa opor.

Ayah membeli sate.

Aku membuat es buah.

Saat matahari mulai turun, Ayah memberikan sebuah gantungan kunci kecil kepadaku.

“Buat kunci rumah.”

Aku tertawa.

“Kuncinya sudah ada gantungan.”

“Yang lama buang.”

Aku melihat gantungan baru itu.

Bentuknya sederhana.

Sebuah rumah kecil dari kayu.

Di belakangnya ada ukiran satu kalimat.

Rumah adalah tempat yang aman bagi pemiliknya.

Aku terdiam.

Ayah menepuk bahuku.

“Dulu Ayah beli rumah ini bukan supaya suatu hari jadi sumber ribut.”

“Ayah beli supaya kamu selalu punya tempat pulang.”

Aku menggenggam gantungan itu.

Untuk pertama kalinya sejak semua kejadian tersebut, mataku terasa panas.

Bukan karena Arga.

Bukan karena Nadia.

Bukan karena dua puluh juta.

Aku akhirnya memahami bahwa yang hampir mereka rampas bukan hanya bangunan senilai lebih dari satu miliar.

Mereka hampir membuatku percaya bahwa mempertahankan hak sendiri berarti egois.

Bahwa menjadi istri berarti harus menyerah.

Bahwa menjadi kakak ipar berarti harus selalu mengalah.

Bahwa kata keluarga bisa digunakan sebagai izin untuk memasuki rumah orang lain, mengambil dokumen, mengatur aset, bahkan menerima uang atas sesuatu yang bukan milik sendiri.

Tidak.

Keluarga yang sehat meminta izin.

Pasangan yang sehat menghormati batas.

Orang yang benar-benar menyayangi kita tidak membutuhkan ancaman perceraian untuk memaksa kita menyerahkan sesuatu.

Malam itu aku mengunci pintu setelah Ayah dan Ibu pulang.

Kunci baru berputar satu kali.

Klik.

Suara kecil.

Namun terasa seperti penutup dari satu bab hidupku.

Aku meletakkan kunci di meja.

Di rumahku sendiri.

Dengan namaku sendiri.

Dengan keputusan yang akhirnya kembali menjadi milikku sendiri.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa kehilangan sebuah keluarga.

Aku merasa akhirnya berhasil menyelamatkan diriku dari orang-orang yang selama ini menggunakan kata keluarga untuk mengambil terlalu banyak.