Bagian 3 — Ketika Pesanan Terbesar Datang ke Warungku, Aku Akhirnya Menemukan dari Mana Dana Penjualan Palsu Itu Berasal dan Siapa yang Membantu Adikku

Avatar penulis
Cerita 02
18 menit baca 76 tayangan
Auto Draft
Indeks

Bagian 3 — Ketika Pesanan Terbesar Datang ke Warungku, Aku Akhirnya Menemukan dari Mana Dana Penjualan Palsu Itu Berasal dan Siapa yang Membantu Adikku

Aku tidak masuk ke gudang malam itu.

Aku juga tidak menelepon Ayah.

Aku pulang.

Sepanjang perjalanan tanganku terasa dingin di setir.

Bukan karena Nindya.

Kalau hanya Nindya yang mencurangi angka, aku mungkin masih bisa marah, bertengkar dengannya, lalu menyerahkan bukti kepada Ayah.

Masalahnya, orang yang barusan membuka pintu gudang untuk mobil pembawa kotak-kotak itu adalah Ayah sendiri.

Orang yang membuat aturan.

Orang yang setiap malam membaca laporan kami.

Orang yang berkali-kali mengatakan bahwa kompetisi ini harus adil.

Aku bahkan masih ingat kalimatnya pada hari pertama.

“Modal sama.”

“Aturan sama.”

“Jangan gunakan uang atau aset Dapur Laras untuk membantu usaha kalian.”

Sekarang justru kotak pesanan fiktif Nindya berada di gudang Dapur Laras.

Malam itu aku hampir tidak tidur.

Pukul tiga pagi aku sudah bangun.

Aku membuka seluruh laporan yang dikirim Nindya sejak awal kompetisi.

Kali ini aku tidak melihat nominalnya.

Aku melihat nama pembelinya.

PT Arunika Mandiri.

CV Sumber Jaya Protein.

PT Cahaya Boga Sentosa.

UD Mandiri Sejahtera.

CV Prima Kemasan.

Nama-nama itu terasa asing dan familiar sekaligus.

Aku pernah melihatnya.

Tetapi di mana?

Pagi harinya aku membuka warung seperti biasa.

Aku tidak ingin Nindya atau Ayah mengetahui bahwa aku sudah mengikuti mobil itu.

Aku tersenyum kepada pelanggan.

Memeriksa stok ayam.

Membantu kasir.

Menjawab pesanan.

Namun di kepalaku, nama-nama perusahaan itu terus berputar.

Sampai pukul sebelas, seorang pemasok minuman datang membawa dua dus air mineral.

Di bagian atas invoice terdapat nama:

PT Cahaya Tirta Nusantara.

Aku langsung teringat.

Invoice.

Nama-nama perusahaan itu pernah kulihat bertahun-tahun lalu ketika masih membantu administrasi Dapur Laras.

Aku menelepon Siska.

Siska sudah menjadi staf administrasi Dapur Laras selama hampir sebelas tahun.

Aku tidak langsung menanyakan transaksi.

Aku berkata bahwa warungku mendapat peluang pesanan besar dan aku ingin meniru format pencatatan pemasok milik restoran.

“Boleh aku lihat daftar vendor lama?”

Siska tertawa.

“Buat apa minta izin? Dulu Mbak Lestari sendiri yang bikin formatnya.”

Dia mengirimkan file.

Tanganku berhenti menggulir setelah kurang dari satu menit.

CV Sumber Jaya Protein.

Pemasok ayam dan daging.

PT Cahaya Boga Sentosa.

Distributor minyak dan bahan kering.

CV Prima Kemasan.

Pemasok kardus, cup, dan plastik Dapur Laras.

UD Mandiri Sejahtera.

Pemasok arang dan LPG.

Empat perusahaan yang “membeli” paket dalam jumlah besar dari Nindya ternyata adalah pemasok utama restoran keluarga kami.

Aku menatap layar.

PT Arunika Mandiri belum kutemukan.

Aku mencari lagi.

Kemudian aku melihat catatan lama.

Perusahaan itu bukan pemasok.

Mereka adalah pelanggan katering korporat Dapur Laras yang sudah bekerja sama dengan Ayah selama enam tahun.

Jantungku berdetak semakin cepat.

Tiba-tiba seluruh transaksi Nindya menjadi jauh lebih masuk akal.

Mereka bukan pelanggan yang datang karena pemasaran Nindya luar biasa.

Mereka adalah orang-orang yang memiliki hubungan bisnis dengan Ayah.

Namun satu pertanyaan belum terjawab.

Kenapa mereka mau mengirim uang sungguhan kepada Nindya?

Apa yang mereka dapatkan sebagai imbalan?

Aku memutuskan tidak menyentuh masalah itu dulu.

Aku harus mengurus warungku.

Tiga hari kemudian, sesuatu yang sama sekali tidak kuduga terjadi.

Sebuah lembaga bimbingan belajar yang mengadakan program liburan sekolah datang kepadaku.

Mereka membutuhkan 420 kotak makan siang per hari selama empat hari.

Total 1.680 porsi.

Nilai kontraknya Rp58 juta lebih.

Setelah menghitung bahan, tenaga tambahan, gas, kemasan, dan transportasi, laba bersihku masih sekitar Rp17 juta.

Untuk pertama kalinya selama kompetisi, aku mendapat pesanan yang benar-benar bisa mengejar angka Nindya.

Aku memotret kontraknya.

Mengirim ke grup.

Ayah menjawab cepat.

“Bagus.”

“Kalau perlu mobil pendingin Dapur Laras, pakai saja.”

Aku menatap pesan itu lama.

Ibu menelepon lima menit kemudian.

“Kamu sanggup bikin seribu lebih kotak?”

“Harus sanggup.”

“Besok Ibu datang bantu.”

Aku hampir menolak.

Tetapi akhirnya aku berkata, “Datang saja.”

Entah mengapa sebagian diriku masih ingin percaya bahwa tidak semua yang kulihat berarti orang tuaku ingin menghancurkanku.

Hari pertama produksi kami mulai pukul empat pagi.

Ibu datang pukul lima membawa nasi kuning dan kopi.

Dia memakai celemek, membantu menempelkan stiker, bahkan memarahi pegawaiku karena membiarkanku mengangkat panci terlalu berat.

Saat minyak memercik ke lenganku, Ibu langsung mengambil salep.

Perhatiannya tidak dibuat-buat.

Itu justru membuat dadaku semakin sakit.

Pukul enam lewat sedikit, mobil pendingin Dapur Laras datang.

Sopirnya, Pak Darto, turun sambil menguap.

“Mbak, Ayah bilang semua makanan masuk sini.”

Ketika pintu belakang dibuka, aku membeku.

Di pojok mobil terdapat lima kotak merah Bara Nindya.

Bukan tiga puluh.

Bukan delapan belas.

Hanya lima.

Tapi aku mengenali salah satunya.

Sudut bawahnya memiliki goresan bulan sabit.

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Aku hanya memotretnya diam-diam.

“Pak Darto.”

“Ya?”

“Kemarin mobil ini dipakai antar barang Bara Nindya?”

Dia terlihat bingung.

“Mungkin.”

“Mungkin?”

“Biasanya bukan saya yang bawa.”

“Siapa?”

“Kadang pegawai gudang.”

Aku tersenyum.

“Oh.”

“Kirain Pak Darto.”

Aku tidak bertanya lagi.

Siang itu pesanan kami sampai tepat waktu.

Tidak ada komplain.

Bahkan koordinator acara memuji sambal dan ayamnya.

Hari kedua mereka meminta tambahan 80 kotak untuk panitia.

Hari ketiga, kepala lembaga tersebut bertanya apakah aku bisa menjadi pemasok rutin untuk dua cabang lain.

Itu adalah kabar terbaik yang kuterima selama sebulan.

Namun di grup keluarga, angka Nindya tetap lebih tinggi.

Hari ketika aku menghasilkan laba Rp8 juta, dia melaporkan Rp11 juta.

Ketika aku mencapai Rp12 juta, dia mengirim laporan Rp15 juta.

Seolah-olah berapa pun yang kuhasilkan, dia selalu memiliki transaksi yang cukup untuk berada satu langkah di depanku.

Aku mulai yakin.

Angkanya bukan hanya dimanipulasi.

Angka itu disesuaikan.

Seseorang mengetahui hasilku lebih dulu, lalu memastikan hasil Nindya lebih tinggi.

Dan hanya ada tiga orang yang selalu melihat laporanku sebelum hari berakhir.

Aku.

Ibu.

Ayah.

Serta Nindya.

Hari keempat kontrak katering selesai.

Setelah semua kotak dikirim, aku pergi ke Dapur Laras.

Alasanku sederhana.

Mengembalikan mobil.

Siska sedang duduk di ruang administrasi.

Aku masuk membawa dua gelas kopi.

“Masih suka kopi tanpa gula?”

Dia tertawa.

“Kalau sudah kerja sama Pak Hendra bertahun-tahun, gula di darah naik cuma dari stres.”

Aku duduk.

Kami berbicara soal warungku.

Kemudian aku sengaja bertanya santai.

“Sekarang sistem pembayaran pemasok masih sama?”

“Iya.”

“Transfer dua kali sebulan?”

“Sebagian.”

“Kalau supplier memberi program promosi?”

“Biasanya dipotong invoice.”

Aku mengangguk.

Itulah kalimat yang kutunggu.

“Contohnya?”

Siska membuka salah satu map.

“Misalnya supplier daging kasih rebate lima juta karena volume pembelian. Nanti tagihan mereka dikurangi lima juta.”

Aku merasa tengkukku menegang.

“Kalau bukan rebate?”

“Ya macam-macam.”

“Marketing support.”

“Voucher.”

“Retur.”

“Kenapa tanya begitu?”

Aku melihatnya.

“Karena CV Sumber Jaya Protein membeli paket bakaran dari Nindya delapan juta rupiah minggu lalu.”

Tangannya berhenti.

Hanya satu detik.

Tetapi aku melihatnya.

“Siska.”

Dia menutup map.

“Saya tidak tahu urusan itu.”

“Siska.”

“Mbak, saya pegawai.”

“Aku tidak meminta kamu membela siapa pun.”

Aku membuka ponsel.

Menunjukkan foto kotak bertanda bulan sabit.

“Kotak ini sudah dijual tiga kali.”

“Dibawa keluar.”

“Masuk lagi.”

“Keluar lagi.”

“Lalu pagi tadi ada di mobil Dapur Laras.”

Wajah Siska berubah.

Aku melanjutkan.

“Empat pembeli terbesar Nindya adalah pemasok restoran ini.”

“Aku cuma ingin tahu satu hal.”

“Setelah mereka membayar Nindya, apakah nilai itu muncul lagi di pembukuan Dapur Laras?”

Siska menunduk.

Lama sekali.

Kemudian dia berdiri.

Menutup pintu.

“Kalau saya menunjukkan sesuatu, jangan bilang saya yang kasih.”

Dadaku langsung berdebar.

Dia membuka komputer.

Bukan rekening bank.

Bukan data rahasia pelanggan.

Hanya rekonsiliasi invoice pemasok yang memang menjadi pekerjaannya.

Dia membuka tagihan CV Sumber Jaya Protein.

Tagihan bulan itu seharusnya Rp87.600.000.

Di bawahnya terdapat potongan:

Program promosi mitra: Rp8.000.000.

Aku mengecek tanggal.

Dua hari setelah perusahaan itu membeli paket dari Nindya senilai Rp8 juta.

Invoice berikutnya.

CV Prima Kemasan.

Potongan dukungan promosi:

Rp6.500.000.

Tiga hari sebelumnya mereka membayar voucher dan hampers Nindya total Rp6,5 juta.

Satu demi satu.

Nominalnya cocok.

Tidak selalu pada hari yang sama.

Tetapi hampir semuanya kembali sebagai pengurang tagihan Dapur Laras.

Aku akhirnya mengerti.

Uang yang masuk ke rekening Nindya memang nyata.

Tidak ada screenshot palsu.

Tidak ada transfer bohongan.

Caranya jauh lebih rapi.

Ayah meminta pemasok Dapur Laras “membeli” produk Nindya.

Mereka mentransfer uang kepada tokonya.

Setelah itu nominal pembayaran tersebut dikompensasikan dengan tagihan yang seharusnya dibayar Dapur Laras kepada mereka.

Artinya secara ekonomi, yang membayar penjualan Nindya sebenarnya adalah restoran keluarga kami sendiri.

Nindya menerima omzet.

Supplier tidak rugi.

Dapur Laras yang menanggung biayanya.

Kotak merah hanyalah properti supaya transaksi terlihat seperti perdagangan biasa.

Tanganku mengepal.

“Sejak kapan?”

Siska menggeleng.

“Saya tidak tahu semuanya.”

“Pak Hendra cuma bilang itu dukungan promosi.”

“Siapa yang memerintahkan memasukkan potongan ini?”

Dia tidak menjawab.

Tidak perlu.

Nama pemberi persetujuan tercetak di bagian bawah.

Hendra Pranoto.

Ayahku.

Aku memotret layar yang boleh kuakses sebagai bagian keluarga pengelola, lalu meminta Siska mencetak ringkasan invoice yang memang sudah disiapkan untuk rapat bulanan.

Aku tidak langsung pulang.

Ada satu orang lagi yang ingin kutemui.

Pak Arman.

Pemilik CV Sumber Jaya Protein.

Dia sudah memasok ayam ke Dapur Laras sejak aku SMP.

Ketika aku tiba di kantornya, awalnya dia tertawa.

“Lestari sekarang jadi pengusaha juga, ya?”

Aku meletakkan kopi di depannya.

Kemudian langsung bertanya.

“Pak Arman pernah membeli paket bakaran delapan juta dari adik saya?”

Senyumnya hilang.

“Untuk acara.”

“Acara apa?”

Dia mengusap dagunya.

Aku mengeluarkan foto kotak.

“Kotaknya tidak pernah berisi makanan.”

“Setelah Bapak membayar delapan juta ke Nindya, invoice Dapur Laras dipotong delapan juta.”

Ruangan menjadi hening.

Aku tidak mengancam.

Aku hanya berkata:

“Saya tidak akan membuat Bapak bertanggung jawab atas keputusan Ayah.”

“Saya hanya ingin tahu apakah kompetisi ini sejak awal dibuat jujur atau tidak.”

Pak Arman menatap meja.

Kemudian mengeluarkan ponselnya.

Dia mencari sebuah percakapan.

Nama di atas layar:

Pak Hendra Dapur Laras.

Pesannya sederhana.

Ayah meminta Pak Arman mentransfer Rp8 juta ke merchant Nindya sebagai pembelian paket perusahaan.

Ayah menulis:

Nanti saya kurangi delapan juta dari invoice berikutnya. Hanya bantu angka penjualan anak saya. Barang tidak perlu diambil.

Aku membaca kalimat terakhir itu dua kali.

Bukan karena tidak mengerti.

Aku hanya belum siap melihatnya tertulis.

Pak Arman berkata pelan.

“Saya kira kalian semua tahu.”

Aku tersenyum.

“Aku justru orang terakhir yang boleh tahu.”

Sebelum pergi, aku meminta izin memotret percakapan tersebut.

Pak Arman mengangguk.

Malam itu aku tidak mengirim satu pun tuduhan di grup keluarga.

Aku hanya mengirim laporan usahaku seperti biasa.

Pendapatan.

Biaya.

Laba.

Struk.

Foto stok.

Nindya kembali unggul Rp2,3 juta.

Ayah kembali memberi tanda jempol.

Aku membiarkannya.

Kompetisi tinggal sembilan hari.

Selama sembilan hari itu aku bekerja seperti tidak terjadi apa-apa.

Aku menambah paket makan malam.

Bekerja sama dengan dua kos mahasiswa.

Menjual katering rapat kecil.

Menerima pesanan ulang dari lembaga bimbingan belajar.

Tidak semua hari untung besar.

Ada hari hujan ketika pelanggan turun hampir separuh.

Ada satu kali pemasok terlambat membawa ayam.

Pernah pula satu panci nasi terlalu lembek dan harus kuganti dengan yang baru.

Semuanya nyata.

Masalah nyata.

Biaya nyata.

Pelanggan nyata.

Aku menyimpan seluruh catatannya.

Sementara itu Nindya terus melaporkan hampers.

Voucher.

Paket perusahaan.

Deposit gathering.

Sampai pada tiga hari terakhir, dia melakukan kesalahan.

Dia terlalu ingin memastikan kemenangannya.

Dalam dua hari, tiga supplier Dapur Laras mentransfer total Rp41 juta ke tokonya.

Laba kumulatifnya langsung melompat jauh.

Aku melihat angka itu dan hanya tersenyum.

Karena semakin besar jumlahnya, semakin sulit dijelaskan sebagai “sekadar promosi”.

Hari terakhir tiba.

Ayah meminta kami menutup laporan pukul delapan malam.

Pukul sembilan, kami berkumpul di ruang makan Dapur Laras.

Ada Ayah.

Ibu.

Nindya.

Aku.

Siska diminta membawa laporan.

Ayah bahkan mencetak sebuah tabel.

Total laba bersihku selama dua bulan:

Rp186.400.000.

Nindya:

Rp247.900.000.

Selisih lebih dari enam puluh juta.

Nindya bersandar di kursi.

Dia tidak tersenyum lebar.

Hanya senyum kecil orang yang sudah tahu hasilnya.

Ayah membersihkan tenggorokan.

“Kalau mengikuti aturan awal, hasilnya jelas.”

Aku mengangguk.

“Jelas.”

Ayah mulai berkata bahwa mulai bulan depan Nindya akan belajar mengelola Dapur Laras.

Aku memotongnya.

“Tapi sebelum itu, kita audit.”

Wajah Nindya langsung berubah.

“Audit apa?”

Aku meletakkan sebuah kotak merah di atas meja.

Kotak Bara Nindya.

Goresan bulan sabit masih ada di bawahnya.

“Audit kotak ini dulu.”

Ibu menatapku.

Ayah diam.

Aku mendorong kotak itu ke tengah meja.

“Pertama kali kotak ini masuk pesanan Rp12.450.000.”

“Besoknya diambil.”

“Lalu kembali.”

“Dijual lagi dalam transaksi Rp7.800.000.”

“Keluar lagi.”

“Masuk lagi.”

“Dan minggu lalu aku menemukannya di mobil pendingin Dapur Laras.”

Nindya buru-buru berkata:

“Itu cuma kemasan!”

“Tepat.”

Aku memandangnya.

“Cuma kemasan.”

“Karena makanannya memang tidak pernah ada.”

Ayah mulai mengerutkan kening.

“Lestari, kalau kamu kalah—”

Aku mengeluarkan map pertama.

“CV Sumber Jaya Protein membayar Bara Nindya Rp8 juta.”

Diletakkan.

“Dua hari kemudian invoice supplier ke Dapur Laras dipotong Rp8 juta.”

Map kedua.

“CV Prima Kemasan bayar Rp6,5 juta.”

“Invoice Dapur Laras dipotong Rp6,5 juta.”

Map ketiga.

“UD Mandiri Sejahtera Rp5 juta.”

“Potongan invoice Rp5 juta.”

Aku menaruh semuanya berjejer.

Wajah Ibu mulai pucat.

Aku mengeluarkan ponsel.

Terakhir, tangkapan layar percakapan Pak Arman.

Kubacakan hanya satu kalimat.

“Barang tidak perlu diambil.”

Ruangan seketika sunyi.

Nindya menatap Ayah.

Bukan kepadaku.

Itu sudah cukup menjelaskan semuanya.

Aku bertanya:

“Jadi laba dua ratus empat puluh tujuh juta itu laba usahanya?”

“Atau uang Dapur Laras yang diputar lewat supplier supaya terlihat seperti omzet Nindya?”

Ayah akhirnya bicara.

“Itu bukan uang palsu.”

“Aku tidak bilang uangnya palsu.”

“Transaksinya nyata.”

“Tapi pembelinya dibayar kembali lewat potongan tagihan restoran keluarga.”

“Ayah melarang kita memakai sumber daya Dapur Laras.”

“Lalu Ayah sendiri memindahkan uang Dapur Laras ke toko Nindya melalui vendor.”

Ayah memukul meja pelan.

“Ayah cuma membantu.”

Aku tertawa.

Itu pertama kalinya aku tertawa malam itu.

“Kalau cuma membantu, kenapa bantuannya disembunyikan?”

“Kenapa tidak tambahkan modal Nindya dari awal?”

“Kenapa membuat dua anak bersaing kalau satu anak diberi jalan belakang?”

Ibu akhirnya menatap Ayah.

“Hendra.”

“Kamu bilang transaksi itu pelanggan Nindya.”

Ayah tidak menjawab.

Ibu kembali bertanya.

“Jadi uang yang selama ini masuk ke Nindya sebenarnya ditanggung Dapur Laras?”

“Aku cuma minta beberapa relasi membantu.”

“Beberapa?”

Aku mengeluarkan rekap.

“Total transaksi terkait supplier dan pelanggan lama Dapur Laras: Rp96.300.000.”

Ibu terdiam.

Nindya tiba-tiba berkata:

“Memangnya kenapa?”

Kami semua menoleh.

Dia berdiri.

“Kalau aku pintar memanfaatkan koneksi keluarga, itu juga kemampuan.”

Aku menatap adikku.

“Kalau itu kemampuan, kenapa harus disembunyikan dari aturan?”

Dia mendengus.

“Kakak dari dulu selalu merasa paling benar.”

“Aku tidak merasa paling benar.”

Aku menunjuk laporan.

“Aku cuma tidak menjual kotak kosong tiga kali dan menyebutnya laba.”

Wajahnya merah.

“Ayah sendiri yang bilang lakukan!”

Kalimat itu meluncur begitu cepat hingga Ayah bahkan tidak sempat menghentikannya.

Ibu menoleh tajam.

“Nindya.”

Dia sadar telah bicara terlalu banyak.

Namun sudah terlambat.

Aku bertanya tenang.

“Jadi kamu tahu?”

Nindya tidak menjawab.

“Bukan cuma Ayah yang mengatur?”

Diam.

“Kamu tahu supplier akan dibayar kembali?”

Masih diam.

Akhirnya dia berteriak:

“Terus aku harus bagaimana?”

“Kakak selalu bisa semuanya!”

“Sekolah bagus.”

“Bisa kerja.”

“Bisa pegang dapur.”

“Bisa hitung biaya.”

“Kalau aku disuruh bersaing secara normal, memangnya aku bisa menang?”

Aku membeku.

Ayah menunduk.

Di situlah aku akhirnya memahami alasan sebenarnya.

Bukan karena Nindya lebih berbakat.

Bukan pula karena Ayah membenci aku.

Justru sebaliknya.

Ayah merasa aku terlalu kuat.

Dan karena itu aku boleh diperlakukan tidak adil.

Ayah berkata pelan:

“Lestari, kamu bisa berdiri sendiri.”

“Nindya berbeda.”

“Ayah hanya takut kalau Dapur Laras jatuh ke tanganmu, Nindya tidak punya apa-apa.”

Aku mengangguk.

Kemudian bertanya:

“Jadi karena aku mampu, bagianku boleh dicurangi?”

Tidak ada jawaban.

Aku melanjutkan.

“Kalau aku bekerja keras, aku dihukum.”

“Kalau dia tidak mampu, dia diberi kemenangan palsu.”

“Lalu setelah itu kalian ingin aku tetap tersenyum dan bilang keluarga harus saling mengerti?”

Ibu mulai menangis.

Aku tidak.

Aneh sekali.

Selama berminggu-minggu aku membayangkan kalau kecurangan itu terbukti, aku pasti akan marah besar.

Tetapi ketika momen itu benar-benar datang, aku justru merasa sangat tenang.

Aku mengeluarkan salinan aturan kompetisi.

Kertas yang dibuat Ayah sendiri.

Pada poin ketiga tertulis:

Tidak diperbolehkan menggunakan dana, stok, pelanggan, atau fasilitas Dapur Laras untuk meningkatkan angka usaha peserta.

Aku mendorong kertas itu kepada Ayah.

“Aku tidak meminta Ayah memilihku.”

“Aku meminta Ayah menaati aturan yang Ayah buat sendiri.”

Malam itu keputusan tidak dibuat.

Aku pulang.

Besok paginya, Ibu datang ke warungku.

Matanya bengkak.

Dia tidak membawa makanan.

Tidak membawa minuman.

Dia hanya duduk di sudut.

“Maaf.”

Aku tetap menghitung stok.

Ibu berkata lagi.

“Ibu benar-benar tidak tahu soal potongan invoice.”

Aku berhenti.

“Tidak tahu sama sekali?”

“Ibu tahu Ayahmu mengenalkan beberapa kenalan ke Nindya.”

“Ibu kira mereka benar-benar beli.”

Aku percaya sebagian.

Tetapi bukan semuanya.

“Waktu aku bertanya siapa pembeli voucher lima juta, Ibu menghindar.”

Ibu menunduk.

“Ibu tahu pembelinya kenalan Ayah.”

“Tapi Ibu tidak tahu uangnya dikembalikan lewat tagihan.”

Aku menghela napas.

“Bu.”

“Masalahnya bukan cuma uang.”

“Selama dua bulan aku benar-benar berpikir aku bodoh.”

“Aku pulang setiap malam dan menghitung ulang biaya karena aku bertanya-tanya bagaimana warung sepi bisa menghasilkan dua kali lipat dariku.”

“Ibu dan Ayah melihat aku seperti itu.”

“Tidak ada yang mengatakan kebenarannya.”

Air mata Ibu jatuh.

Kali ini aku tidak menghiburnya.

Beberapa hal tidak harus langsung dimaafkan hanya karena orang tua menangis.

Tiga hari kemudian keluarga kami mengadakan rapat kedua.

Kali ini bukan hanya kami berempat.

Akuntan eksternal Dapur Laras ikut hadir.

Ayah sendiri yang memanggilnya.

Seluruh transaksi terkait kompetisi diperiksa ulang.

Hasilnya bahkan lebih buruk dari hitunganku.

Sebanyak Rp103.750.000 omzet Nindya berasal dari pembayaran vendor atau pelanggan lama Dapur Laras yang mendapatkan kompensasi langsung maupun tidak langsung.

Ada pula biaya kendaraan.

Gudang.

Kemasan.

Dan tenaga pegawai Dapur Laras yang tidak pernah dicatat sebagai biaya Bara Nindya.

Setelah semuanya dikeluarkan, laba usaha riil Nindya tinggal Rp71 juta lebih sedikit.

Bahkan beberapa transaksi pre-order sebenarnya masih merupakan kewajiban yang belum dipenuhi.

Artinya bukan laba.

Itu uang muka pelanggan.

Sementara laporan usahaku, setelah diperiksa ulang, hanya mengalami koreksi sekitar Rp1,8 juta karena dua biaya transportasi yang terlambat dimasukkan.

Hasil akhirnya jelas.

Aku menang.

Bukan karena belas kasihan.

Bukan karena Ayah berubah pikiran.

Tetapi karena angka yang sebenarnya memang demikian.

Yang lebih menyakitkan bagi Nindya justru datang setelah audit.

Para supplier meminta pembukuan mereka dibereskan.

Transaksi yang sebelumnya dianggap pembelian paket harus ditentukan statusnya.

Jika barang tidak diberikan, uang harus dikembalikan.

Jika disebut penjualan, barangnya harus benar-benar diserahkan.

Tidak bisa terus berupa kotak kosong yang berputar.

Nindya akhirnya harus mengembalikan sebagian besar uang tersebut.

Dia menjual satu motor yang baru dibelinya.

Peralatan panggang yang berlebihan dikembalikan.

Tabungan pribadinya habis untuk membereskan kewajiban.

Toko Bara Nindya tidak langsung tutup.

Aku tidak meminta itu.

Aku hanya mengatakan satu hal kepadanya:

“Kalau kamu mau lanjut, lanjut dengan angka yang nyata.”

Bulan berikutnya penjualannya langsung jatuh hampir tujuh puluh persen.

Tidak ada lagi transaksi dua belas juta pukul sepuluh malam.

Tidak ada hampers perusahaan tanpa alamat.

Tidak ada kotak merah yang dijual tiga kali.

Untuk pertama kalinya, Nindya harus menghadapi hal yang selama ini kuhadapi.

Pelanggan yang komplain sate terlalu asin.

Harga bahan naik.

Pegawai izin.

Hujan membuat toko sepi.

Promosi yang tidak berhasil.

Awalnya dia marah kepada semua orang.

Kemudian perlahan dia mulai belajar.

Dia menaikkan harga.

Mengurangi menu yang merugi.

Berhenti memberikan diskon gila-gilaan.

Lokasinya memang tidak ideal, tetapi malam hari ternyata cukup ramai oleh pegawai shift dari beberapa usaha sekitar.

Pendapatannya tidak spektakuler.

Namun setidaknya nyata.

Sementara itu, Ayah menyerahkan pengelolaan operasional Dapur Laras kepadaku sesuai aturan awal.

Aku menerima dengan satu syarat.

Seluruh keuangan harus menggunakan pembukuan terpisah dan audit rutin.

Tidak boleh lagi ada “bantuan keluarga” yang tidak tercatat.

Ayah menyetujuinya.

Hubungan kami tidak langsung kembali normal.

Butuh waktu.

Beberapa luka tidak sembuh hanya dengan satu kata maaf.

Tetapi Ayah mulai melakukan sesuatu yang sebelumnya jarang dia lakukan.

Mengakui kesalahan tanpa alasan tambahan.

Suatu malam, hampir tiga bulan setelah kompetisi berakhir, kami duduk di Dapur Laras setelah restoran tutup.

Ayah berkata:

“Ayah pikir karena kamu kuat, kamu tidak terlalu membutuhkan perlindungan.”

Aku menatapnya.

Dia melanjutkan.

“Ternyata itu cuma alasan Ayah untuk bersikap tidak adil.”

Aku tidak menjawab beberapa detik.

Kemudian berkata:

“Aku tidak butuh Ayah selalu membelaku.”

“Aku cuma tidak mau Ayah menjadi orang yang menjatuhkanku.”

Ayah mengangguk.

Itu cukup.

Warung kecilku dekat kampus tidak kututup setelah mengambil alih Dapur Laras.

Justru aku menjadikannya cabang pertama dengan konsep berbeda.

Harga mahasiswa tetap dipertahankan.

Lembaga bimbingan belajar yang pernah memesan 1.680 kotak kemudian menjadi pelanggan tetap.

Enam bulan kemudian, kami menandatangani kontrak katering dengan tiga kantor kecil.

Untuk pertama kalinya sejak kompetisi itu dimulai, aku duduk di depan laporan bulanan tanpa membandingkan angkaku dengan siapa pun.

Aku hanya melihat satu hal.

Apakah pelanggan kembali.

Apakah pegawai dibayar tepat waktu.

Apakah makanan habis karena benar-benar dibeli.

Apakah uang di rekening memiliki cerita yang bisa dijelaskan.

Di sisi lain kota, Nindya masih menjalankan Bara Nindya.

Papan namanya tetap sama.

Kotak merahnya juga masih ada.

Namun suatu sore ketika aku berkunjung, aku melihat sesuatu yang membuatku hampir tertawa.

Di bawah meja kasir ada sebuah kotak tua.

Sudut bawahnya memiliki goresan bulan sabit kecil.

Kotak yang dulu dijual berkali-kali itu sekarang digunakan untuk menyimpan struk pembelian bahan.

Nindya melihatku memperhatikannya.

Dia tersipu.

“Aku sengaja simpan.”

“Buat apa?”

Dia menutup laci kasir.

“Biar ingat kalau omzet besar belum tentu berarti aku benar-benar punya usaha.”

Aku mengangguk.

Lalu melihat tokonya.

Ada enam meja terisi.

Tidak ramai.

Tidak viral.

Tidak ada perusahaan misterius membeli puluhan paket.

Tetapi dari dapur benar-benar keluar sate panas.

Pegawai benar-benar membungkus pesanan.

Seorang pengemudi ojek online benar-benar membawa makanan keluar.

Kali ini tidak ada kotak kosong.

Tidak ada uang keluarga yang diputar diam-diam.

Tidak ada kemenangan palsu.

Hanya bisnis kecil yang akhirnya berdiri dengan kakinya sendiri.

Aku tersenyum.

Karena pada akhirnya aku memang mendapatkan Dapur Laras.

Tetapi hal paling berharga yang kudapat bukan restoran itu.

Melainkan satu pelajaran yang tidak akan pernah kulupakan:

Dalam keluarga, ketidakadilan paling menyakitkan sering kali tidak dilakukan karena mereka membencimu.

Kadang justru karena mereka merasa kamu cukup kuat untuk menerima bagian yang lebih sedikit.

Dan sejak hari itu, aku berhenti membuktikan bahwa aku kuat dengan cara terus mengalah.

Aku belajar bahwa orang yang paling mampu bertahan pun tetap berhak diperlakukan dengan adil.