Bagian 3 — Satu Rekaman, Satu Surat Kuasa, dan Tangisan Cucu Membalik Segalanya—Kali Ini Aku Pulang Bukan sebagai Pembantu Mereka Lagi, Melainkan sebagai Keluarganya
Aku menutup map perlahan.
Tidak membantingnya.
Tidak berteriak.
Tidak menanyakan bagaimana seorang ayah bisa berbicara tentang menyerahkan anaknya selama enam bulan seperti menitipkan sepeda motor di rumah saudara.
Aku hanya bertanya,
“Liburan ke mana?”
Dinda sempat terlihat salah tingkah.
Arga yang menjawab.
“Bali.”
“Berapa hari?”
“Delapan hari.”
“Sudah beli tiket?”
“Iya.”
Aku menatap mereka bergantian.
“Jadi tangisanmu waktu meneleponku itu untuk apa, Dinda?”
Wajahnya menegang.
“Maksud Ibu?”
“Kamu bilang tidak sanggup mengurus Keanu.”
“Aku memang capek.”
“Tapi kamu sudah membeli tiket liburan sebelum aku datang.”
Ruangan menjadi sunyi.
Arga mengerutkan kening.
“Ibu buka-buka barang kami?”
“Tidak perlu.”
Aku mengeluarkan ponsel.
Kubuka tangkapan layar yang dikirim Mbak Sari.
Kutaruh di meja.
Wajah Dinda berubah.
Arga mengambil ponselku.
Matanya bergerak cepat membaca isi pesan.
“Dari mana Ibu dapat ini?”
“Dari Mbak Sari.”
Dinda langsung berdiri.
“Dia bohong!”
Aku menatapnya.
“Aku belum mengatakan apa yang dia ceritakan.”
Dinda membeku.
Kesalahan kecil.
Tetapi cukup.
Aku mengambil kembali ponsel.
“Kalau memang semua bohong, kenapa kamu langsung tahu apa yang sedang kubicarakan?”
Arga membanting tubuhnya ke sandaran sofa.
“Sudahlah, Bu. Jangan bikin masalah besar.”
Aku menoleh kepadanya.
“Anak tiga tahun dikunci di ruangan ketika ibunya pergi berjam-jam, dan menurutmu itu bukan masalah besar?”
Dinda menyela.
“Bukan dikunci! Cuma dipasang pengait supaya dia tidak turun tangga sendiri!”
“Kenapa pengaitnya ada di luar?”
Dia tidak menjawab.
“Kenapa ada bekas goresan dari dalam pintu?”
Diam.
“Kenapa ada kamera mengarah ke kasur tipis?”
“Ibu nggak ngerti bagaimana stresnya mengurus anak!”
Untuk pertama kalinya suaranya naik.
“Aku sendirian seharian! Arga kerja! Keanu rewel! Kalau aku mau pergi dua jam buat ketemu teman, apa aku nggak berhak punya hidup?”
Aku mengangguk.
“Berhak.”
Dinda tampak tidak menyangka jawabanku.
“Kamu berhak punya hidup. Berhak istirahat. Berhak mencari bantuan. Berhak menyewa pengasuh.”
Aku berhenti sebentar.
“Tapi kamu tidak berhak mengunci seorang anak tiga tahun sendirian lalu menyebutnya cara mengasuh.”
Arga berdiri.
“Bu, cukup.”
Aku menatapnya.
“Belum.”
“Aku ayahnya.”
“Justru itu masalahnya.”
Dia terdiam.
“Kamu tahu.”
Wajah Arga mengeras.
“Kamu tahu, tapi memilih diam.”
“Keanu aman.”
“Menurut siapa?”
“Ada kamera.”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
“Kamera bukan orang tua, Arga.”
Dia memalingkan wajah.
Entah karena malu atau kesal.
Aku tidak tahu.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak tertarik mencari tahu.
Keanu sedang duduk di karpet dekat kakiku.
Sejak suara kami meninggi, dia berhenti memainkan mobil-mobilannya.
Matanya berpindah dari satu wajah ke wajah lain.
Aku langsung menurunkan nada suara.
Aku tidak ingin perdebatan orang dewasa menjadi luka baru untuknya.
Aku berjongkok.
“Nak, masuk kamar Nenek sebentar, ya?”
Keanu langsung meraih lenganku.
“Nenek ikut?”
“Iya. Sebentar lagi.”
Dia menggeleng kuat.
“Aku mau sama Nenek.”
Aku menatap Arga dan Dinda.
Kalau mereka masih membutuhkan bukti bahwa sesuatu telah rusak di rumah ini, anak mereka sendiri sedang menunjukkannya.
Aku menggendong Keanu.
“Baik. Duduk sama Nenek.”
Aku kembali ke sofa dengan Keanu di pangkuanku.
Kemudian kubuka map tadi.
“Siapa yang membuat surat ini?”
Arga menjawab,
“Teman.”
“Pengacara?”
“Bukan.”
“Notaris?”
“Bukan.”
Aku menghela napas.
Mereka bahkan tidak memahami dokumen yang hendak mereka minta kutandatangani.
Surat itu pada dasarnya hanya pernyataan bahwa selama enam bulan Keanu akan tinggal bersamaku dan seluruh biaya sehari-harinya menjadi tanggung jawabku.
Tidak ada kejelasan tentang keputusan medis.
Tidak ada pengaturan sekolah.
Tidak ada mekanisme keadaan darurat.
Tidak ada apa pun yang menunjukkan dua orang dewasa di depanku benar-benar memikirkan kebutuhan anak.
Mereka hanya memikirkan satu hal.
Bagaimana hidup mereka menjadi lebih ringan.
“Aku tidak akan menandatangani ini.”
Dinda mendengus.
“Jadi Ibu mau pergi begitu saja?”
“Aku juga tidak mengatakan itu.”
Arga memandangku.
“Terus maunya apa?”
“Besok pagi Keanu diperiksa dokter anak.”
Dinda langsung menyela.
“Dia sehat.”
“Aku ingin dokter yang mengatakan itu.”
“Ibu lebay.”
Aku melanjutkan seolah tidak mendengarnya.
“Setelah itu kita bicara dengan pihak preschool. Kemudian kalian berdua harus memutuskan apakah benar-benar ingin menjadi orang tua atau hanya ingin memiliki anak ketika sedang nyaman.”
Arga tersinggung.
“Ibu jangan menggurui.”
Aku menatapnya.
“Aku membesarkanmu sendirian sejak ayahmu meninggal ketika kamu berusia sebelas tahun.”
Dia bungkam.
“Aku bekerja, mengurus rumah, datang ke rapat sekolahmu, membayar kuliahmu, menemanimu ketika sakit, dan masih bisa memastikan kamu tidak pernah merasa harus meminta izin untuk mengambil makanan dari kulkas.”
Aku memandang Keanu.
Tangannya sedang mencengkeram ujung bajuku.
“Jadi jangan bilang padaku aku tidak tahu bagaimana lelahnya membesarkan anak.”
Arga menjawab lirih,
“Keadaan sekarang beda.”
“Benar.”
Aku mengangguk.
“Kalian memiliki lebih banyak uang, lebih banyak fasilitas, dua mobil, rumah dengan empat kamar, kamera di setiap sudut, layanan pesan antar makanan, preschool berbayar, dan tetap saja anak kalian takut pintu ditutup.”
Tidak ada yang menjawab.
Malam itu Dinda mengurung diri di kamar.
Arga pergi keluar hampir satu jam.
Aku tidur bersama Keanu.
Untuk pertama kalinya sejak aku tiba, dia tidak terbangun tengah malam.
Keesokan paginya aku membawanya ke dokter anak.
Arga ikut.
Dinda mengatakan sakit kepala.
Aku tidak memaksanya.
Dokter melakukan pemeriksaan umum dan menanyakan pola makan, jam tidur, aktivitas, serta rutinitas Keanu.
Tidak ada penyakit berat.
Syukurlah.
Tetapi berat badannya berada di batas bawah kurva pertumbuhan yang biasa dipantau dokter, pola makannya tidak teratur, dan jam tidurnya kacau.
Dokter juga menyarankan orang tua memperhatikan kecemasan Keanu terhadap ruang tertutup dan perubahan perilakunya.
Ketika dokter bertanya,
“Kalau pintu kamar ditutup, Keanu takut?”
Keanu langsung menjawab,
“Nanti Mama pergi.”
Arga menunduk.
Sepanjang perjalanan pulang dia tidak berbicara.
Di lampu merah, tiba-tiba dia berkata,
“Bu…”
Aku menunggu.
“Memangnya Ibu benar-benar masih aktif jadi pengacara?”
Aku menoleh kepadanya.
Setelah semua yang terjadi, ternyata pertanyaan itu masih tersangkut di kepalanya.
“Iya.”
“Partner?”
“Iya.”
“Nama kantornya apa?”
Aku memberitahunya.
Arga mengambil ponsel.
Aku tahu dia mencarinya di internet.
Beberapa detik kemudian wajahnya berubah.
Dia menemukan situs kantor.
Namaku ada di halaman pertama.
Foto profil.
Riwayat pengalaman.
Daftar bidang praktik.
Beberapa artikel media bisnis yang pernah memuat komentarku.
Arga menggulir layar tanpa bicara.
Lalu dia menemukan foto perayaan ulang tahun kantor tahun lalu.
Di bawahnya tertulis:
Ratih Pramudita — Founding Partner.
Dia mematikan layar.
“Kenapa Ibu nggak pernah bilang?”
Aku menatap jalan.
“Kamu tidak pernah bertanya.”
Kalimat itu rupanya lebih menyakitkan daripada kemarahan.
Arga diam sampai kami tiba di rumah.
Siang harinya, asistennya meneleponku.
Ada sengketa kontrak besar yang harus dibahas dengan klien di Jakarta.
Karena aku sudah berada di kota ini, mereka meminta pertemuan di kantor cabang.
Aku menyetujuinya.
Pukul dua, sebuah mobil kantor datang menjemput.
Aku mengenakan blazer yang kusimpan di koper.
Ketika turun dari tangga, Dinda baru keluar kamar.
Dia menatapku dari atas ke bawah.
“Mau ke mana?”
“Kerja.”
Dia tidak tertawa lagi.
Sopir kantor sudah menunggu di depan.
Seorang associate junior turun dan membukakan pintu.
“Selamat siang, Bu Ratih.”
Aku masuk tanpa menjelaskan apa pun.
Malamnya aku pulang sekitar pukul delapan.
Suasana rumah berubah.
Meja makan sudah dibersihkan.
Keanu sudah mandi.
Arga sedang duduk bersamanya.
Hal sederhana.
Tetapi itu pertama kalinya aku melihat putraku benar-benar duduk bermain dengan anaknya lebih dari lima menit.
Dinda berada di meja makan.
Matanya bengkak.
Ketika Keanu tidur, dia menghampiriku.
“Bu…”
Aku menunggu.
“Kalau Ibu memang punya uang dan pekerjaan seperti itu, kenapa dari dulu hidup sederhana sekali?”
Pertanyaannya hampir membuatku tertawa.
Jadi itu yang dia pikirkan.
Aku menjawab,
“Karena aku bekerja untuk hidup, bukan hidup supaya orang lain tahu aku punya uang.”
Dia menunduk.
“Aku kira…”
“Kamu kira aku perempuan tua yang tidak punya kesibukan.”
Dia tidak menyangkal.
“Kalian memanggilku bukan sebagai keluarga. Kalian memanggilku karena menghitung bahwa waktuku gratis.”
Dinda mulai menangis.
Kali ini aku tidak langsung luluh.
Air mata tidak selalu berarti seseorang telah berubah.
Kadang hanya berarti seseorang sedang menghadapi akibat dari keputusannya sendiri.
“Aku memang salah, Bu.”
“Apa yang kamu sesali?”
Dia tidak langsung menjawab.
Aku sengaja menunggu.
Kalau dia berkata menyesal karena aku marah, percakapan selesai.
Kalau dia menyesal karena rahasianya terbongkar, percakapan juga selesai.
Beberapa saat kemudian Dinda berkata,
“Aku marah terus sama Keanu.”
Suaranya kecil.
“Aku merasa hidupku berhenti setelah punya anak.”
Aku tidak menyela.
“Teman-temanku masih bisa pergi. Masih bisa kerja, olahraga, jalan-jalan. Aku selalu merasa tertinggal. Terus ketika Sari berhenti, semuanya makin kacau.”
“Kenapa tidak mencari pengasuh lain?”
“Arga bilang lagi banyak cicilan.”
Aku menoleh kepada putraku.
Arga duduk di seberang meja.
Dia tidak berani menatapku.
“Cicilan apa?”
Dinda menatap Arga.
Aku langsung memahami ada sesuatu yang belum kuketahui.
“Arga?”
Putraku mengusap wajah.
“Kami salah ambil keputusan investasi.”
“Berapa?”
Dia menyebut angka.
Aku tidak bereaksi.
Tetapi jumlahnya cukup besar.
Mereka membeli dua unit apartemen dalam pembangunan melalui skema cicilan karena berharap menjual kembali ketika harga naik.
Pasar tidak bergerak seperti perkiraan.
Sementara cicilan rumah, mobil, preschool Keanu, kartu kredit, dan gaya hidup tetap berjalan.
Arga lalu meminta Dinda memangkas biaya.
Babysitter termasuk yang pertama.
“Tapi liburan Bali tidak dipangkas?” tanyaku.
Dinda menunduk.
“Tiketnya promo.”
Aku hampir tidak percaya.
Keluarga ini sedang tersedak cicilan.
Mereka menghemat biaya pengasuhan anak.
Lalu membeli tiket liburan karena “promo”.
Aku menutup mata beberapa detik.
“Dengarkan baik-baik.”
Mereka menatapku.
“Aku bisa membantu kalian.”
Mata Dinda langsung terangkat.
Aku mengangkat telunjuk.
“Tapi bukan dengan membayar utang kalian.”
Harapan di wajahnya menghilang.
“Aku akan membantu membuat rencana.”
Aku mengambil kertas.
“Mobil kedua dijual.”
Arga mengernyit.
“Tapi—”
“Kalau kalian masih berdebat soal gengsi, kita berhenti sekarang.”
Dia diam.
“Kartu kredit yang tidak perlu ditutup. Liburan dibatalkan. Salah satu unit investasi dilepas meski rugi. Kalian konsultasi dengan penasihat keuangan untuk restrukturisasi kewajiban yang memungkinkan. Dan biaya pengasuhan Keanu ditempatkan di atas biaya hiburan.”
Dinda memegang ujung meja.
“Kalau tiket nggak bisa refund?”
“Kerugian tiket lebih kecil daripada kerugian membiarkan anak kalian tumbuh merasa dirinya beban.”
Tidak ada bantahan.
Lalu aku mengatakan syarat terakhir.
“Pengait kamar bermain dicopot malam ini.”
Arga langsung berdiri.
Dia mengambil obeng.
Aku melihatnya melepas pengait itu sendiri.
Keanu terbangun karena suara kecil dari lorong.
Dia keluar sambil mengucek mata.
Melihat ayahnya di depan pintu kamar bermain.
“Apa itu, Pa?”
Arga berhenti.
Mungkin untuk pertama kalinya dia sadar benda kecil dari logam itu mempunyai arti berbeda bagi orang dewasa dan seorang anak.
Dia berjongkok.
“Papa lepas kuncinya.”
Keanu memandang pintu.
“Enggak dikunci lagi?”
Arga menelan ludah.
“Enggak.”
“Kalau Mama pergi?”
Dinda yang berdiri beberapa langkah di belakang tiba-tiba menutup mulut.
Air matanya jatuh.
Arga menjawab,
“Kalau Mama dan Papa pergi, harus ada orang dewasa yang jaga Keanu. Keanu nggak boleh sendirian.”
Keanu menatapnya lama.
Lalu bertanya,
“Bener?”
Arga tidak sanggup menjawab cepat.
Akhirnya dia mengangguk.
“Bener.”
Malam itu aku tetap belum memaafkan mereka.
Tetapi aku melihat awal sesuatu yang sebelumnya tidak ada.
Rasa malu.
Bukan malu karena ketahuan.
Malu karena akhirnya melihat diri sendiri melalui mata anak mereka.
Dua hari berikutnya tidak mudah.
Aku meminta Arga dan Dinda menghubungi preschool dan menjelaskan Keanu akan kembali dengan jadwal teratur.
Aku meminta mereka mencari pengasuh melalui lembaga yang bisa diverifikasi jika memang diperlukan.
Lebih penting lagi, aku meminta mereka berdua bergantian melakukan rutinitas dasar.
Sarapan.
Mandi.
Antar sekolah.
Membacakan cerita.
Menidurkan.
Hari pertama Dinda hampir menyerah ketika Keanu menolak memakai sepatu.
Biasanya dia berteriak.
Kali ini aku berdiri di sampingnya tanpa mengambil alih.
“Jangan lihat aku.”
Dia menoleh.
“Apa?”
“Dia anakmu.”
Dinda menarik napas panjang.
Kemudian berjongkok.
“Keanu mau sepatu biru atau putih?”
“Biru.”
“Baik.”
Selesai.
Sesederhana itu.
Dinda menatapku seperti baru menemukan teknik rahasia.
Aku hanya berkata,
“Anak kecil tidak selalu perlu diperintah. Kadang mereka cuma perlu diberi sedikit kendali.”
Hari ketiga, Arga mengantar Keanu sekolah sebelum pergi ke kantor.
Keanu kembali sore dengan gambar tiga orang.
Aku bertanya,
“Siapa ini?”
“Keanu.”
“Yang ini?”
“Papa.”
“Yang besar ini siapa?”
Dia tersenyum.
“Nenek.”
Aku menunjuk sudut kertas.
“Ada Mama?”
Keanu mengambil krayon.
Kemudian menggambar satu figur lagi.
“Mama di sini.”
Dinda melihatnya dari dapur.
Dia tidak berkata apa-apa.
Tapi malam itu dia sendiri yang membuatkan susu untuk Keanu.
Perubahan kecil tidak menghapus kesalahan besar.
Aku tahu itu.
Karena itu aku tetap menyimpan semua bukti yang diberikan Mbak Sari.
Bukan untuk mengancam.
Untuk memastikan tidak ada seorang pun dapat mengatakan kejadian itu tidak pernah ada.
Aku juga mengatakan dengan sangat jelas kepada Arga:
“Kalau Keanu dikunci sendirian lagi atau ditinggalkan tanpa pengawasan yang layak, Ibu tidak akan menutupinya demi nama keluarga.”
Dia mengangguk.
“Kalau perlu, Ibu akan meminta bantuan layanan perlindungan anak dan jalur hukum yang tersedia.”
Arga menatapku.
Kali ini dia tahu aku bukan menggertak.
Seminggu kemudian aku benar-benar harus pulang ke Balikpapan.
Pagi keberangkatanku, koper sudah berada di dekat pintu.
Keanu duduk di atasnya.
“Nggak boleh.”
Aku tertawa kecil.
“Nenek harus kerja.”
“Kerja lama?”
“Beberapa minggu.”
“Nanti balik?”
Aku berjongkok.
“Iya.”
Dia memelukku.
Kali ini tidak gemetar.
Tidak takut pintu dikunci.
Hanya sedih karena berpisah.
Itu perbedaan kecil yang membuat mataku panas.
Dinda berdiri di belakangnya.
Dia menyerahkan sebuah kotak makanan.
“Buat di pesawat.”
Aku menerimanya.
“Terima kasih.”
Dia menggigit bibir.
Kemudian berkata,
“Bu… waktu pertama telepon, aku memang cuma mikir butuh orang bantu.”
Aku menatapnya.
“Aku tahu.”
“Aku nggak mikir kalau Ibu juga punya hidup.”
“Aku tahu.”
“Maaf.”
Aku mengangguk.
“Aku menerima permintaan maafmu.”
Matanya langsung berkaca-kaca.
“Tapi percaya lagi itu butuh waktu.”
Dia mengangguk.
“Ya.”
Arga mengantarku ke bandara.
Dalam perjalanan, dia tidak banyak bicara.
Ketika mobil berhenti di terminal, dia turun dan mengambil koperku.
Aku hampir tersenyum.
Dua minggu sebelumnya, dia bahkan menyuruhku naik taksi sendiri.
Sekarang dia berdiri di trotoar dan tidak segera menyerahkan koper.
“Bu.”
“Hm?”
“Aku malu.”
Aku tidak menjawab.
“Bukan karena baru tahu Ibu partner kantor hukum.”
Aku menatapnya.
“Aku malu karena ternyata selama bertahun-tahun aku cuma tahu versi Ibu yang ada di kepalaku.”
Dia menelan ludah.
“Aku pikir Ibu sendirian, tua, nggak punya kesibukan… jadi kalau aku butuh, Ibu pasti datang.”
Aku menatap putraku.
Wajahnya sekarang tidak lagi seperti anak laki-laki yang dulu kutuntun ke sekolah.
Ada garis lelah di sekitar matanya.
Ada uban kecil di pelipisnya.
Entah kapan dia menjadi lelaki paruh baya.
Dan entah kapan pula aku berhenti melihat bahwa di balik semua kesombongannya, ada seorang anak yang tidak pernah menyelesaikan pertengkaran dengan ibunya.
“Kamu salah satu hal tentang Ibu,” kataku.
“Apa?”
“Ibu memang sendirian.”
Wajahnya berubah.
“Tapi sendiri tidak sama dengan tidak punya kehidupan.”
Dia menunduk.
“Aku ngerti sekarang.”
Aku mengambil koper.
Sebelum masuk terminal, Arga memanggilku lagi.
“Bu.”
Aku menoleh.
“Terima kasih karena nggak langsung bawa Keanu pergi.”
Aku menjawab,
“Ibu tidak ingin mengambil anakmu.”
Aku berhenti.
“Ibu ingin kamu kembali menjadi ayahnya.”
Tiga bulan kemudian, hidup mereka belum sempurna.
Tetapi berubah.
Mobil kedua dijual.
Liburan dibatalkan.
Salah satu unit investasi mereka dilepas dengan kerugian yang membuat Arga mengeluh selama berminggu-minggu.
Dinda mengurangi pertemuan sosial dan mulai mengambil pekerjaan freelance desain dari rumah agar tetap memiliki ruang untuk dirinya sendiri tanpa sepenuhnya bergantung pada pendapatan suaminya.
Mereka mempekerjakan pengasuh paruh waktu pada hari tertentu.
Bukan untuk menggantikan orang tua.
Untuk membantu.
Keanu kembali preschool secara rutin.
Setiap Minggu malam dia melakukan panggilan video denganku.
Biasanya percakapan kami hanya berlangsung lima menit karena setelah itu dia sibuk menunjukkan mobil-mobilan.
Empat bulan setelah kepulanganku, sesuatu yang tidak kuduga terjadi.
Arga muncul di kantorku di Balikpapan.
Tanpa memberi tahu sebelumnya.
Resepsionis menelepon.
“Bu Ratih, ada tamu.”
“Siapa?”
“Pak Arga.”
Aku diam beberapa detik.
“Suruh masuk.”
Dia membuka pintu ruanganku.
Matanya bergerak mengelilingi ruangan.
Rak berkas.
Foto tim.
Penghargaan profesi.
Ruang rapat di balik kaca.
Lebih dari dua puluh orang terlihat bekerja di lantai itu.
Arga berdiri seperti orang yang baru pertama kali melihat dunia yang selama ini sengaja tidak ingin dia kenali.
“Jadi…”
Dia tersenyum canggung.
“Ini kantor tempat Ibu ‘numpang duduk’?”
Aku mengangkat alis.
Wajahnya langsung merah.
“Jangan diingat terus, Bu.”
Aku tertawa.
Itu pertama kalinya kami tertawa bersama setelah bertahun-tahun.
Kemudian seseorang muncul di belakangnya.
“Neneeeek!”
Keanu berlari masuk.
Aku bahkan belum sempat berdiri ketika dia sudah memeluk lututku.
Dinda muncul beberapa detik kemudian.
“Kejutan.”
Aku menatap mereka.
“Kalian kenapa ke sini?”
Arga berkata,
“Keanu libur tiga hari.”
Dinda melanjutkan,
“Dia bilang mau lihat Nenek kerja.”
Keanu langsung menunjuk meja.
“Nenek bos?”
Aku tertawa.
“Bukan bos.”
Arga menyahut,
“Kurang lebih.”
Aku melotot kepadanya.
Dia tertawa.
Sore itu mereka menunggu sampai pekerjaanku selesai.
Keanu duduk di sofa ruanganku menggambar.
Dinda berbincang dengan beberapa staf perempuan.
Arga melihat-lihat foto lama yang tergantung di koridor.
Salah satunya adalah foto pembukaan kantor dua puluh tahun lalu.
Aku berdiri di sana jauh lebih muda.
Memegang papan nama kantor bersama dua partner lainnya.
Arga berhenti lama di depan foto itu.
“Ini tahun berapa?”
“Waktu kamu baru masuk SMA.”
Dia menghitung cepat.
“Berarti dari dulu…”
“Iya.”
“Kenapa aku nggak tahu?”
Aku tersenyum tipis.
“Kamu tahu.”
Dia menatapku bingung.
“Kamu hanya tidak pernah menganggapnya penting.”
Dia tidak membantah.
Malamnya kami makan di rumahku.
Rumah yang selama bertahun-tahun terlalu sunyi.
Keanu berlari dari ruang makan ke halaman.
Dinda membantu membawa piring tanpa kuminta.
Arga membuka lemari dapur dan bertanya,
“Bu, sambalnya di mana?”
Aku menunjuk rak.
Suara mereka memenuhi rumah.
Biasa.
Sedikit berisik.
Tetapi hangat.
Ketika waktu tidur tiba, Keanu memilih kamar tamu di sebelah kamarku.
Aku membuka pintu.
Dia melihat ke arah gagang.
Aku sempat khawatir.
Kemudian dia berkata,
“Nenek…”
“Hm?”
“Pintunya tutup aja.”
Aku terdiam.
“Kamu nggak takut?”
Dia menggeleng.
“Papa bilang pintu itu buat dibuka sama ditutup.”
Aku menatap wajah kecil itu.
“Bukan buat ngunci Keanu.”
Dadaku terasa sesak.
“Iya.”
Aku berjongkok dan memeluknya.
“Bukan buat mengunci Keanu.”
Setelah dia tidur, aku berdiri cukup lama di depan pintu.
Empat bulan lalu anak itu datang ke kamarku tengah malam karena takut aku pergi.
Sekarang dia bisa tidur dengan pintu tertutup tanpa merasa dunia akan meninggalkannya di baliknya.
Itulah perubahan terbesar di keluarga kami.
Bukan mobil yang dijual.
Bukan liburan yang dibatalkan.
Bukan Arga yang akhirnya tahu ibunya bukan perempuan tua tanpa pekerjaan.
Melainkan seorang anak kecil yang perlahan berhenti merasa dirinya beban.
Aku tidak pernah meminta Dinda membayar kembali semua pekerjaan rumah yang kulakukan.
Tidak pernah menghitung berapa banyak makanan yang kumasak.
Tidak pernah menagih berapa malam aku terbangun karena Keanu menangis.
Balasan terbaik yang kuterima bukan melihat mereka menderita.
Balasan terbaiknya adalah melihat mereka dipaksa bertanggung jawab atas kehidupan yang selama ini mereka lemparkan kepada orang lain.
Arga kehilangan sebagian uang dari investasinya.
Dinda kehilangan kenyamanan hidup tanpa batas yang dulu dianggapnya wajar.
Mereka membayar dengan waktu.
Dengan tenaga.
Dengan ego.
Dengan kebiasaan.
Dan mungkin untuk pertama kalinya sejak menjadi orang tua, mereka memahami bahwa memiliki anak bukan soal memajang foto keluarga yang sempurna.
Melainkan tentang siapa yang tetap duduk di samping tempat tidur ketika anak demam.
Siapa yang membuat sarapan.
Siapa yang datang ke sekolah.
Siapa yang mendengar ketakutan yang tidak mampu dijelaskan seorang anak tiga tahun.
Enam bulan setelah malam ketika Keanu berbisik kepadaku, aku menerima sebuah foto dari Arga.
Keanu sedang duduk di meja makan.
Di depannya ada mangkuk nasi tim.
Bentuknya berantakan.
Terlalu banyak wortel.
Telurnya gosong di bagian pinggir.
Pesan Arga hanya satu kalimat:
“Bu, ternyata bikin sarapan anak jauh lebih susah daripada negosiasi sama klien.”
Aku tertawa.
Lalu mengirim balasan:
“Makanya dulu Ibu tidak pernah bilang membesarkan kamu itu mudah.”
Beberapa detik kemudian ponselku berbunyi.
Bukan pesan dari Arga.
Panggilan video dari Keanu.
Aku menjawab.
Wajah kecilnya memenuhi layar.
“Nenek!”
“Iya?”
“Papa masaknya nggak enak.”
Dari belakang terdengar protes Arga.
“Keanu!”
Aku tertawa sampai mataku berair.
Kemudian Keanu mendekatkan wajah ke layar.
“Nenek kapan ke sini lagi?”
Aku sengaja berpikir sebentar.
“Mungkin bulan depan.”
Matanya berbinar.
“Serius?”
“Iya.”
“Tapi Nenek datang bukan buat kerja rumah, ya.”
Aku terdiam.
“Terus buat apa?”
Keanu tersenyum lebar.
“Buat jadi Nenek.”
Untuk beberapa detik aku tidak mampu menjawab.
Dari semua permintaan maaf yang pernah kudengar, dari semua janji yang dibuat Arga dan Dinda, kalimat anak kecil itulah yang paling dalam menembus dadaku.
Aku tersenyum.
“Iya.”
Kali ini aku benar-benar merasa pulang.
“Bulan depan Nenek datang hanya untuk jadi Nenek.”

