Bagian 3 — Mereka Mencoba Menjadikanku Kambing Hitam, Tetapi Audit, Rekaman, dan Satu Kontrak Lama Membalikkan Segalanya di Ruang Rapat di Hadapan Seluruh Keluarga
Ratna Wijaya bergerak lebih cepat daripada siapa pun.
Dia meraih lengan Dimas.
“Kamu dibayar keluarga kami. Jangan bicara sembarangan hanya karena takut kehilangan pekerjaan.”
Dimas menunduk.
Namun aku melihat jemarinya gemetar.
Rendra langsung berdiri di antara mereka.
“Bu Ratna, mulai sekarang jangan menghubungi atau menekan saksi yang berkaitan dengan audit.”
“Saksi?”
Ratna tertawa keras.
“Ini perusahaan anak saya!”
Rendra menatapnya datar.
“Dan sebagian dokumen pembiayaannya sekarang berada dalam pemeriksaan hukum.”
Untuk pertama kalinya, beberapa tamu mulai benar-benar meninggalkan area peresmian.
Wartawan yang tadinya datang untuk mengambil foto gunting pita justru sibuk merekam keributan.
Ketua panitia akhirnya mengumumkan bahwa seremoni ditunda karena “kendala administratif”.
Tidak ada satu pun wartawan yang mempercayainya.
Aku masuk ke ruang rapat lantai tiga bersama tim hukum Arunika.
Ironis.
Dua puluh menit sebelumnya aku dianggap terlalu memalukan untuk masuk melalui pintu utama.
Sekarang para direktur menungguku.
Ruangan itu dipenuhi wajah tegang.
Arga duduk di ujung meja.
Ratna berada di sampingnya.
Keisya tidak memiliki jabatan apa pun, tetapi tetap mencoba masuk.
Rendra menghentikannya di depan pintu.
“Rapat ini untuk pihak yang memiliki hubungan hukum dengan proyek.”
Keisya tersinggung.
“Saya bagian dari tim branding.”
“Kontrak Anda?”
Keisya diam.
“Kalau tidak ada, silakan menunggu di luar.”
Pintu ditutup di depan wajahnya.
Aku tidak merasa puas.
Belum.
Karena masalah sebenarnya bukan Keisya.
Dia hanya gejala.
Penyakitnya berada di meja rapat itu.
Direktur Keuangan, Bimo Santoso, membuka pembicaraan.
“Bu Nadira, kami ingin menyelesaikan masalah ini tanpa memperburuk operasional rumah sakit. Saat ini ada lebih dari seratus tenaga medis yang sudah dikontrak dan jadwal pasien pertama mulai minggu depan.”
“Aku tidak berniat menutup layanan medis.”
Aku meletakkan map di meja.
“Fasilitas yang dihentikan adalah pencairan baru. Rekening operasional untuk gaji dan persiapan pasien tidak saya blokir.”
Bimo terlihat sedikit lega.
Arga langsung menyela.
“Kalau begitu buka kembali sisanya.”
Aku menatapnya.
“Belum.”
“Nadira.”
“Berhenti memanggil namaku seolah kita sedang bertengkar di rumah.”
Aku mendorong satu lembar kertas ke tengah meja.
“Ini daftar tujuh transaksi yang harus dijelaskan.”
Ruangan kembali sunyi.
Pertama, Rp23,5 miliar yang seharusnya digunakan untuk pembayaran peralatan ICU masuk selama dua belas hari ke rekening PT Wijaya Sentosa Properti.
Perusahaan itu dimiliki sepupu Arga.
Kedua, Rp17,4 miliar dibayarkan kepada konsultan manajemen yang alamat kantornya ternyata berupa rumah toko kosong.
Ketiga, Rp6,8 miliar mengalir ke perusahaan yang berkaitan dengan kakak Keisya.
Keempat, tiga invoice berbeda memiliki nomor rekening vendor yang sama.
Kelima, terdapat perubahan anggaran proyek tanpa persetujuan penjamin.
Keenam, dokumen addendum menggunakan tanda tanganku.
Ketujuh, terdapat pencairan biaya “representasi” senilai Rp3,2 miliar menjelang acara peresmian.
Aku menatap Bimo.
“Mulai dari nomor satu.”
Bimo mengembuskan napas panjang.
“Dana itu dipindahkan sementara karena ada kebutuhan likuiditas di perusahaan afiliasi. Dikembalikan sebelum laporan bulanan.”
“Siapa yang menyetujui?”
Bimo melihat Arga.
Arga mengangkat dagunya.
“Saya.”
“Tanpa persetujuan kreditur?”
“Itu cuma dua belas hari.”
“Uang proyek rumah sakit bukan celengan keluarga.”
Arga memukul meja.
“Jangan menggurui saya!”
Beberapa direktur tersentak.
Aku justru semakin tenang.
“Baik. Kita lanjut nomor dua.”
Tidak ada yang menjawab.
Rendra kemudian menghidupkan layar.
Foto kantor perusahaan konsultan muncul.
Ruko dua lantai dengan pintu gulung berkarat.
Alamatnya sesuai invoice.
Tidak ada papan nama.
Tidak ada staf.
Tidak ada aktivitas.
“Perusahaan ini menerima Rp17,4 miliar dalam empat pembayaran,” kata Rendra. “Didirikan sembilan bulan lalu dengan modal disetor Rp50 juta.”
Salah satu komisaris independen langsung berkata, “Siapa vendor yang mengusulkan mereka?”
Bimo menjawab lirih.
“Kantor direktur utama.”
Semua mata kembali kepada Arga.
Arga menyandarkan tubuh.
“Konsultan itu direkomendasikan orang.”
“Siapa?” tanyaku.
Dia diam.
Aku mengeluarkan selembar dokumen lain.
“Pemegang saham mayoritas perusahaan itu bernama Farhan Mahendra.”
Ratna yang sejak tadi diam tiba-tiba bergerak.
Aku melihatnya.
“Nama itu familiar, Bu?”
“Tidak.”
Aku mengangguk.
“Menarik.”
Rendra menekan tombol.
Sebuah bagan keluarga muncul di layar.
Farhan Mahendra adalah adik sepupu Ratna.
Ruangan langsung gaduh.
Komisaris independen menatap Ratna.
“Ibu mengenalnya?”
Ratna menjawab cepat.
“Saudara jauh.”
“Saudara jauh yang menerima Rp17 miliar?”
“Itu bisnis!”
Aku memandangnya.
“Kalau bisnis, hasil pekerjaannya apa?”
Ratna membuka mulut.
Tidak ada jawaban.
Rendra kemudian meletakkan empat binder tebal di meja.
“Tim kami meminta seluruh laporan konsultasi sejak pukul tujuh pagi. Yang diberikan hanya empat dokumen presentasi, total delapan puluh enam halaman. Dua puluh sembilan halaman identik dengan materi publik Kementerian Kesehatan dan beberapa publikasi rumah sakit lain.”
Wajah komisaris independen berubah.
“Apakah Anda mengatakan ada indikasi vendor palsu?”
“Kami belum menyimpulkan,” jawab Rendra. “Itu tugas audit forensik.”
Aku melihat Arga.
Dia tidak lagi terlihat marah.
Dia terlihat seperti seseorang yang sedang menghitung berapa banyak pintu keluar yang masih tersedia.
Lalu dia mencoba pintu berikutnya.
“Nadira, kita ini suami istri.”
Aku nyaris tidak percaya dia menggunakan kalimat itu.
“Baru ingat?”
“Kita pulang. Kita selesaikan semuanya berdua.”
“Lima menit lalu kamu menyalahkan sekretarismu.”
“Itu karena saya panik.”
“Dan pagi tadi?”
Arga terdiam.
Aku melanjutkan.
“Ketika kamu melemparkan uang ke kakiku, kamu juga panik?”
Beberapa orang menundukkan kepala.
Arga mengepalkan tangan.
“Jadi ini balas dendam.”
“Tidak.”
Aku menatap semua orang di meja.
“Kalau aku ingin balas dendam, aku cukup mengirim foto perselingkuhan Arga kepada pers dan mengajukan perceraian. Aku tidak perlu membawa auditor.”
Lalu aku mengeluarkan benda kecil dari tas.
Flash drive.
“Aku membawa sesuatu yang lain.”
Ratna mendadak terlihat tegang.
Flash drive itu berisi rekaman CCTV kantor pusat Wijaya Medika.
Bukan hasil penyadapan.
Salinannya diperoleh secara resmi dari server yang juga tercakup dalam audit proyek.
Dua malam sebelum addendum pembiayaan dikirim ke bank, kamera lorong merekam Ratna masuk ke executive office Arga pukul 21.43.
Dia berada di sana selama dua puluh tujuh menit.
Keesokan paginya file tanda tanganku muncul dalam folder dokumen.
Ratna berdiri.
“Rekaman itu tidak membuktikan apa pun!”
“Benar.”
Aku mengangguk.
“Karena itu ada bukti berikutnya.”
Log komputer menunjukkan sebuah USB terhubung pada pukul 21.51.
File bernama NP_signature_final.png disalin.
Kemudian sebuah dokumen PDF dibuat.
Arga menoleh cepat kepada ibunya.
“Ibu masuk ke kantor saya malam itu?”
Ratna membalas.
“Saya sering masuk!”
“Kenapa Ibu tidak bilang?”
“Karena tidak penting!”
Aku melihat hubungan mereka mulai retak tepat di depanku.
Tapi kejutan sesungguhnya datang dari Dimas.
Dia diperbolehkan masuk setelah bersedia memberikan keterangan tertulis.
Dimas duduk di dekat pintu.
Wajahnya pucat.
“Saya harus menjelaskan satu hal.”
Arga menunjuknya.
“Hati-hati bicara.”
Rendra langsung berkata, “Pak Arga, jangan mengintimidasi saksi.”
Dimas menelan ludah.
“Dua bulan lalu Bu Ratna meminta saya mencetak contoh tanda tangan Bu Nadira.”
Ratna berteriak.
“Bohong!”
“Saya punya chat-nya.”
Ruangan langsung hening.
Dimas menyerahkan ponselnya.
Pesannya sederhana.
Ratna meminta file dokumen lama yang pernah ditandatangani Nadira dengan alasan membutuhkan contoh tanda tangan untuk arsip keluarga.
Dimas mengirim PDF lama.
“Saya tidak tahu akan dipakai untuk apa,” katanya. “Setelah addendum dikirim, saya curiga. Tapi Pak Arga bilang semua sudah disetujui secara keluarga.”
Aku menatap suamiku.
“Jadi kamu tahu?”
Arga menggeleng cepat.
“Saya tahu ada addendum. Saya tidak tahu tanda tanganmu ditempel.”
“Namun kamu menandatangani persetujuan direksi.”
“Saya percaya pada tim!”
Komisaris independen menyela.
“Sebagai direktur utama, Anda tidak dapat melempar semua tanggung jawab ke staf.”
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada teriakan apa pun.
Arga terdiam.
Ratna duduk kembali.
Untuk pertama kalinya sepanjang lima tahun aku mengenalnya, perempuan itu tampak tua.
Tetapi rasa kasihan tidak menghapus tanggung jawab.
Aku tidak ingin mereka dipermalukan.
Aku ingin mereka mempertanggungjawabkan apa yang mereka lakukan.
Itulah perbedaannya.
Audit kemudian berlanjut selama sembilan hari.
Aku pindah dari rumah Arga malam itu.
Bukan ke hotel.
Aku kembali ke apartemen milikku sendiri di Jakarta Selatan yang selama pernikahan hampir tidak pernah kugunakan.
Aku juga menyerahkan proses perceraian kepada pengacara.
Tidak ada adegan Arga berlutut di tengah hujan.
Tidak ada keluarga yang tiba-tiba kehilangan segalanya dalam satu malam.
Kehancuran nyata jauh lebih lambat.
Dan justru karena itu lebih menyakitkan.
Hari kedua, salah satu bank meminta tambahan collateral review.
Hari ketiga, dua komisaris meminta rapat luar biasa.
Hari keempat, vendor alat kesehatan menahan pengiriman perangkat senilai Rp41 miliar.
Hari kelima, hasil audit awal menemukan bahwa sebagian biaya representasi dipakai untuk membayar perjalanan, hotel, dan sebuah kendaraan yang digunakan Keisya selama enam bulan.
Hari keenam, Keisya menghilang dari semua acara keluarga Wijaya.
Hari ketujuh, kakaknya mengembalikan sebagian uang perusahaan sambil mengklaim ada “kesalahpahaman kontrak”.
Hari kedelapan, komisaris independen mengirim rekomendasi resmi.
Arga harus dinonaktifkan sementara sebagai direktur utama sampai pemeriksaan selesai.
Hari kesembilan, rapat umum pemegang saham luar biasa digelar.
Aku datang bukan sebagai istri.
Aku datang sebagai perwakilan pemegang saham pengendali Arunika dalam kapasitas kreditur dan penjamin.
Arga terlihat berbeda.
Tidak ada setelan flamboyan.
Tidak ada Keisya.
Tidak ada ibunya di sebelahnya.
Dia menungguku di lorong sebelum rapat.
“Nadira.”
Aku berhenti.
“Apa?”
“Kita bicara lima menit.”
Aku melihat jam.
“Tiga.”
Dia tersenyum pahit.
“Sekarang bahkan waktu bicara dengan istri sendiri harus dijadwalkan?”
“Proses gugatan cerai sudah masuk. Secara pribadi aku tidak punya banyak hal untuk dibicarakan.”
Arga menatap lantai.
“Aku salah soal Keisya.”
“Bukan cuma Keisya.”
“Aku tahu.”
Dia menarik napas.
“Aku membiarkan ibuku terlalu ikut campur.”
“Bukan cuma ibumu.”
“Aku tahu.”
“Kamu melempar uang ke kakiku.”
Arga menutup mata sebentar.
“Aku malu mengingatnya.”
“Itu bagus.”
Dia memandangku.
“Aku benar-benar tidak tahu kamu pemilik Arunika.”
Aku tersenyum tipis.
“Apakah kalau kamu tahu, kamu akan memperlakukanku lebih baik?”
Dia tidak menjawab.
Dan keheningan itu adalah jawaban paling jujur yang pernah dia berikan.
Aku berkata, “Itulah masalahnya, Arga. Kamu seharusnya tidak membutuhkan laporan kepemilikan saham untuk memperlakukan istrimu sebagai manusia.”
Wajahnya runtuh.
Tidak ada yang bisa dia bantah.
“Aku mencintaimu,” katanya.
Aku menggeleng.
“Mungkin dulu.”
“Nadira…”
“Tapi lima tahun terakhir kamu lebih mencintai posisi yang kamu kira kamu miliki di atas orang lain.”
Aku masuk ke ruang rapat.
Keputusan pertama disahkan.
Arga dinonaktifkan sebagai direktur utama.
Keputusan kedua, seluruh transaksi pihak berelasi akan diserahkan kepada auditor independen.
Keputusan ketiga, perusahaan akan bekerja sama jika penegak hukum menemukan unsur pidana dalam pemalsuan dokumen.
Ratna tidak lolos.
Dari pemeriksaan digital dan keterangan saksi ditemukan cukup bukti bahwa dia terlibat dalam penggunaan salinan tanda tanganku tanpa izin.
Kasus itu kemudian masuk proses hukum.
Aku tidak mengatur hasilnya.
Aku tidak membutuhkan itu.
Pengadilan yang menentukan.
Beberapa bulan kemudian, Ratna menerima putusan sesuai proses hukum atas keterlibatannya dalam pemalsuan dan penggunaan dokumen, sementara beberapa aspek transaksi afiliasi diselesaikan melalui pengembalian dana dan proses perdata perusahaan.
Farhan diwajibkan mengembalikan dana yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Perusahaan kakak Keisya mengembalikan Rp4,9 miliar setelah audit menyatakan sebagian besar deliverable mereka tidak sesuai kontrak.
Keisya?
Dia meninggalkan Arga bahkan sebelum rapat pemegang saham selesai.
Bukan karena tiba-tiba menemukan moral.
Hubungan mereka retak saat kartu perusahaan, mobil sewaan, dan berbagai fasilitas yang selama ini digunakan berhenti dibayar.
Dua minggu kemudian aku menerima pesan darinya.
Mbak Nadira, saya sebenarnya juga korban Arga.
Aku tidak membalas.
Tidak semua provokasi membutuhkan jawaban.
Aku punya urusan lebih penting.
Rumah sakit.
Banyak orang bertanya mengapa aku tidak menghentikan proyek itu sepenuhnya.
Jawabannya sederhana.
Rumah sakit bukan milik kesombongan Arga.
Ada dokter.
Perawat.
Teknisi.
Petugas kebersihan.
Pasien.
Keluarga pasien.
Ratusan orang yang tidak punya hubungan dengan pengkhianatan rumah tanggaku.
Maka Arunika mengajukan skema penyelamatan baru.
Bukan uang gratis.
Bukan pengampunan.
Syaratnya ketat.
Manajemen proyek harus diganti.
Seluruh pembayaran di atas batas tertentu memerlukan persetujuan dua pihak.
Transaksi keluarga dilarang tanpa review independen.
Dana fasilitas baru ditempatkan dalam escrow.
Setiap pembelian alat medis diverifikasi langsung dengan vendor.
Komisaris independen mendapat kewenangan lebih besar.
Dan keluarga Wijaya kehilangan kontrol operasional sehari-hari.
Para pemegang saham menerimanya.
Mereka tidak punya banyak pilihan.
Tiga bulan setelah peresmian yang gagal, Rumah Sakit Cendana Bhakti akhirnya dibuka.
Tidak ada karpet merah panjang.
Tidak ada selebritas.
Tidak ada pesta miliaran rupiah.
Tidak ada Keisya.
Tidak ada Arga memegang gunting emas.
Acara pembukaan kedua berlangsung sederhana.
Dokter, perawat, staf administrasi, dan perwakilan warga sekitar berdiri di lobi.
Direktur rumah sakit yang baru adalah dokter profesional berusia lima puluh dua tahun bernama dr. Hendra Mahardika.
Tidak memiliki hubungan keluarga dengan siapa pun di pemegang saham.
Aku datang memakai blus biru tua dan celana hitam.
Ketika berjalan melewati gerbang, aku berhenti di titik yang sama tempatku berdiri membawa brosur beberapa bulan sebelumnya.
Kotak donasi pasien tidak mampu masih ada.
Aku tersenyum.
Seorang petugas perempuan muda menghampiriku.
“Bu Nadira?”
“Iya?”
“Direktur menunggu di dalam.”
Aku mengangguk.
Dia terlihat gugup.
“Mau saya bawakan tasnya?”
“Tidak usah.”
Aku kemudian melihat brosur informasi rumah sakit di mejanya.
Aku mengambil beberapa lembar.
Petugas itu bingung.
“Ibu mau apa?”
“Membantu membagikan.”
Dia buru-buru berkata, “Tidak perlu, Bu!”
Aku tertawa.
“Tenang. Kali ini saya melakukannya karena mau.”
Kami membagikan beberapa brosur kepada keluarga pasien yang datang.
Tidak ada kamera.
Tidak ada penghinaan.
Dan anehnya, pekerjaan sederhana itu terasa jauh lebih terhormat dibandingkan seluruh kemewahan acara pertama.
Enam bulan kemudian, perceraian kami resmi.
Aku tidak mengambil perusahaan Arga.
Aku tidak mengambil rumah keluarganya.
Aku hanya mengambil bagian aset yang secara hukum memang menjadi hakku dan mengembalikan semua kepemilikan yang bukan milikku.
Arga menjual beberapa aset pribadi untuk menutup kewajiban yang timbul dari keputusan bisnisnya.
Dia tidak jatuh miskin.
Namun dia kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga bagi orang seperti dirinya.
Kekuasaan.
Namanya dicopot dari jabatan direktur utama.
Keluarga besar yang dulu memujinya mulai menjaga jarak.
Undangan acara bisnis berkurang.
Dan untuk pertama kalinya dia harus hidup tanpa orang-orang yang selalu membereskan akibat dari keputusannya.
Suatu sore dia datang ke kantor Arunika.
Resepsionis meneleponku.
“Bu, Pak Arga Wijaya ingin bertemu. Katanya urusan pribadi.”
Aku hampir menolak.
Namun akhirnya aku memberinya sepuluh menit.
Dia masuk membawa sebuah amplop.
“Apa ini?”
“Uang.”
Aku mengerutkan kening.
Dia mengeluarkan dua lembar lima puluh ribuan.
Aku mengenal simbol itu.
Bukan lembar yang sama, tentu saja.
Tapi jumlahnya sama.
Arga meletakkannya di meja.
“Aku sering mengingat hari itu.”
Aku tidak mengatakan apa pun.
“Aku pikir bagian paling buruk adalah ketika kamu menghentikan fasilitas dana.”
Dia menggeleng.
“Ternyata bukan.”
“Lalu?”
“Bagian paling buruk adalah saat aku sadar bahwa sebelum tahu siapa kamu sebenarnya, aku merasa berhak mempermalukanmu.”
Untuk pertama kalinya aku melihat penyesalan tanpa permintaan.
Tidak ada kata “kembali”.
Tidak ada “beri aku kesempatan”.
Aku menghargai itu.
Arga melanjutkan.
“Aku tidak datang meminta maaf supaya kamu berubah pikiran. Aku cuma ingin mengatakan aku mengerti sekarang.”
Aku mengambil dua lembar uang itu.
Kemudian mengembalikannya.
“Kalau kamu benar-benar mengerti, donasikan.”
“Ke mana?”
“Dana pasien tidak mampu Cendana Bhakti.”
Dia tersenyum kecil.
“Baik.”
Sebelum keluar, dia berhenti.
“Nadira.”
“Ya?”
“Kamu bahagia?”
Aku melihat melalui kaca kantorku.
Di meja terdapat laporan Arunika.
Selain rumah sakit, kami sedang membangun program pendanaan untuk klinik ibu dan anak di tiga kota kecil Jawa Timur.
Aku bekerja lagi.
Bepergian lagi.
Makan malam dengan ibuku setiap akhir pekan.
Menghubungi teman-teman lama yang sempat kujauhkan selama pernikahan.
Tidak ada kehidupan sempurna.
Tetapi untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, semua keputusan dalam hidupku kembali menjadi milikku.
“Iya,” jawabku.
Arga mengangguk.
Lalu pergi.
Setahun setelah hari peresmian yang kacau itu, aku kembali ke Cendana Bhakti untuk menghadiri pembukaan sayap baru bagi pasien BPJS dan keluarga berpenghasilan rendah.
Di salah satu koridor, aku melihat papan kecil berisi laporan transparansi donasi.
Aku berhenti.
Ada sebuah transfer anonim senilai Rp100.000.
Tanggalnya bertepatan dengan hari Arga datang ke kantorku.
Aku tidak tahu apakah itu benar darinya.
Dan aku tidak berusaha mencari tahu.
Karena cerita kami sudah selesai.
Aku berjalan menuju ruang rawat.
Seorang ibu sedang menggendong bayi.
Seorang perawat mendorong kursi roda seorang lelaki tua.
Dari ruang tindakan terdengar suara dokter memberi instruksi.
Rumah sakit itu akhirnya menjalankan fungsi yang seharusnya sejak awal.
Bukan sebagai panggung kesombongan sebuah keluarga.
Tetapi sebagai tempat orang mencari pertolongan.
Aku berdiri beberapa detik di dekat jendela.
Kemudian teringat panasnya trotoar pada hari itu.
Brosur di tanganku.
Tawa Ratna.
Keisya yang memanggilku pekerja gratis.
Dan uang yang dilemparkan di kakiku.
Dulu aku mengira momen terpenting hari itu adalah saat aku menekan tombol “kirim” dan menghentikan pencairan dana.
Ternyata aku salah.
Momen terpenting justru beberapa detik sebelumnya.
Saat aku melihat uang di tanah dan memutuskan tidak lagi meminta mereka menghormatiku.
Aku memilih menghormati diriku sendiri.
Uang bisa kembali.
Perusahaan bisa direstrukturisasi.
Rumah sakit bisa diselamatkan.
Bahkan orang yang bersalah masih bisa menjalani proses hukum dan berubah jika mereka mau.
Tetapi harga diri yang terus kita serahkan sedikit demi sedikit kepada orang lain tidak akan kembali dengan sendirinya.
Kita sendiri yang harus mengambilnya.
Hari itu keluarga Wijaya kehilangan kendali atas proyek yang mereka pikir sepenuhnya milik mereka.
Sedangkan aku mendapatkan kembali sesuatu yang selama lima tahun hampir kulupakan.
Hidupku sendiri.
Aku menutup laporan di tanganku lalu berjalan menuju pintu keluar.
Di halaman rumah sakit, matahari Surabaya masih terik.
Sama seperti setahun sebelumnya.
Bedanya, kali ini tidak ada seorang pun yang bisa menyuruhku berdiri di bawahnya hanya untuk membuktikan bahwa aku lebih rendah dari mereka.
Aku berhenti sebentar.
Mengangkat wajah ke arah cahaya.
Lalu melangkah pergi.
Bukan sebagai istri Arga Wijaya.
Bukan sebagai menantu Ratna.
Bukan sebagai perempuan yang pernah dilempari uang di depan umum.
Aku pergi dengan namaku sendiri.
Nadira Prameswari.
Dan kali ini, itu sudah lebih dari cukup.

