Bagian 3 — Pagi Akad, Naya Datang Tanpa Gaun Impian, Membawa Bukti dan Satu Keputusan yang Membuat Seluruh Keluarga Raka Terdiam di Depan Penghulu
Pukul 08.10 pagi, ballroom hotel di Bandung sudah penuh bunga putih.
Kursi-kursi keluarga tertata rapi.
Meja akad dihiasi rangkaian melati.
Fotografer sudah menyiapkan lampu.
Para kerabat mulai berdatangan mengenakan batik terbaik mereka.
Di ruang tunggu pengantin pria, Raka berkali-kali melihat jam.
Naya seharusnya sudah berada di ruang rias sejak pukul enam.
Namun perias mengatakan ia tidak pernah datang.
Pukul 08.22, mobil keluarga Naya berhenti di depan hotel.
Raka langsung berdiri.
Ibunya tersenyum lega.
“Kan Mama bilang juga. Dia cuma ngambek.”
Tetapi ketika pintu lift terbuka, senyuman itu lenyap.
Naya tidak mengenakan gaun pengantin yang sudah dipilihnya enam bulan lalu.
Tidak ada mahkota kecil.
Tidak ada riasan pengantin.
Tidak ada rangkaian melati di rambutnya.
Ia mengenakan kebaya krem sederhana dan celana panjang kain berwarna senada.
Di sebelahnya berdiri ayah dan ibunya.
Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun ikut bersama mereka.
Raka mengenalnya.
Pak Surya.
Pengacara yang beberapa kali membantu perusahaan keluarga Naya.
“Naya.”
Raka langsung berjalan mendekat.
“Kamu ngapain pakai baju begini? Akad setengah jam lagi.”
“Aku tahu.”
“Terus MUA?”
“Tidak jadi.”
Wajah Raka menegang.
Beberapa anggota keluarganya mulai berbisik.
Ibu Raka maju.
“Naya, apa pun masalah kalian, jangan bikin malu keluarga di hari seperti ini.”
Naya menatap perempuan itu.
“Saya justru datang supaya tidak ada yang nanti bilang saya menghilang tanpa penjelasan.”
Raka meraih lengannya.
“Ayo kita bicara berdua.”
Naya menarik tangannya.
“Tidak.”
“Naya.”
“Semalam keputusan soal uang saya dibicarakan bersama keluarga kamu. Jadi pagi ini jawabannya juga akan dibicarakan dengan orang-orang yang merasa punya kepentingan.”
Suasana mendadak berubah.
Ayah Naya meminta pihak hotel membuka sebuah ruang rapat kecil di samping ballroom.
Tidak semua tamu masuk.
Hanya keluarga inti kedua pihak, penghulu yang sudah datang, wedding organizer, dan dua saksi keluarga.
Naya tidak berniat membuat pertunjukan di depan ratusan undangan.
Ia masih menghormati tamu-tamu yang tidak tahu apa-apa.
Tetapi orang yang terlibat harus mendengar semuanya.
Mereka duduk mengelilingi meja panjang.
Raka duduk tepat berhadapan dengan Naya.
“Sekarang jelasin,” katanya.
Naya mengeluarkan dua lembar kertas.
Daftar yang dibuat Raka.
Ia meletakkannya di tengah meja.
“Ini daftar kebutuhan keluarga Raka dengan total Rp2,14 miliar.”
Ayah Raka langsung menoleh kepada putranya.
“Kamu kasih itu ke Naya?”
Raka menjawab cepat, “Itu cuma rencana.”
Naya mengangguk.
“Betul. Rencana.”
Ia mengeluarkan beberapa lembar lain.
“Tetapi ternyata bukan cuma rencana.”
Tangkapan layar WhatsApp diletakkan satu per satu.
Pesan Bayu tentang ruko.
Pesan Ardi tentang mobil.
Pesan ibu Raka tentang rumah.
Pesan tentang perjanjian keuangan.
Kemudian pesan Raka sendiri:
Setelah akad kondisi akan berubah. Keluarga Naya pasti kasih pegangan besar.
Raka membeku.
Ibunya langsung berkata, “Kamu buka WhatsApp orang tanpa izin?”
Pak Surya menyela dengan tenang.
“Perangkat itu digunakan bersama untuk kebutuhan pernikahan dan akun tersebut ditinggalkan dalam keadaan aktif. Kita tidak sedang membahas perkara pidana di sini. Kita sedang membahas alasan klien saya mengambil keputusan pribadi sebelum akad berlangsung.”
“Klien?” ulang Raka.
Naya menatapnya.
“Iya.”
“Kamu bawa pengacara untuk menghadapi calon suami sendiri?”
“Karena calon suamiku membuat perencanaan terhadap asetku bersama keluarganya tanpa sepengetahuanku.”
Raka menepuk meja.
“Aku belum ambil satu rupiah pun dari kamu!”
“Benar.”
Naya mengangguk.
“Dan aku ingin memastikan itu tetap seperti itu.”
Keheningan memenuhi ruangan.
Ibu Naya sejak tadi tidak berbicara.
Ia hanya menggenggam tas kecil di pangkuannya, sementara ayah Naya menatap Raka dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Raka menurunkan suaranya.
“Oke. Aku salah karena bicara terlalu jauh. Aku minta maaf. Kita bisa selesaikan nanti setelah akad.”
Naya hampir tersenyum.
“Kenapa harus setelah akad?”
“Naya, tamu sudah datang.”
“Bukan itu pertanyaanku.”
“Kita sudah habiskan banyak uang.”
“Bukan itu juga.”
Wajah Raka mulai merah.
“Naya, jangan keras kepala.”
Naya mengeluarkan ponselnya.
“Aku punya satu hal lagi.”
Ia memutar rekaman dari pagi sebelumnya.
Suara Raka terdengar jelas.
Terus rencana keluarga gimana? Aku sudah bicara sama mereka.
Kemudian suara Naya:
Pakai uang siapa?
Raka:
Keluargamu punya uang jauh lebih banyak dari yang kalian butuhkan. Kenapa semuanya harus dihitung?
Rekaman berhenti.
Tidak ada satu orang pun yang bicara selama beberapa detik.
Bahkan penghulu yang sejak tadi hanya menjadi saksi situasi menunduk perlahan.
Ibu Raka akhirnya berkata, “Itu cuma emosi.”
Naya menatapnya.
“Kalau begitu saya ingin bertanya sesuatu.”
Ia menunjuk daftar.
“Mas Bayu, apakah Anda sudah mencari ruko?”
Bayu yang duduk di ujung meja mengangguk pelan.
“Sudah.”
“Karena Raka menjanjikan dana?”
Bayu melirik Raka.
“Dia bilang setelah nikah ada jalan.”
“Ardi sudah booking mobil?”
Ardi menelan ludah.
“Cuma tanda jadi.”
“Berapa?”
“Lima juta.”
“Rumah untuk Bapak dan Ibu?”
Ibu Raka menjawab, “Kami cuma lihat-lihat.”
Ayah Raka justru memotong.
“Sudah kasih booking fee dua puluh juta.”
Semua orang menoleh kepadanya.
Ibu Raka terlihat kesal.
“Bapak!”
“Apa?” katanya. “Kalau memang mau dibuka, buka sekalian.”
Naya menarik napas.
“Berarti sebelum saya menjadi bagian keluarga ini, uang saya sudah digunakan sebagai dasar orang lain membuat komitmen finansial.”
“Bukan uang kamu!” kata ibu Raka.
Kalimat itu keluar begitu cepat.
Naya diam.
Perempuan itu baru menyadari apa yang dikatakannya.
“Apa maksud Ibu?”
Ibu Raka mencoba memperbaiki.
“Maksud Mama… setelah menikah kan harta rumah tangga.”
Pak Surya membuka map.
“Hadiah dari orang tua kepada anak yang diberikan secara khusus dan dapat dibuktikan asal-usulnya tidak otomatis berubah menjadi uang yang bebas dibagikan kepada keluarga pasangan.”
Ibu Raka mendengus.
“Saya tidak bicara hukum. Saya bicara keluarga.”
“Dan saya bicara masa depan saya,” jawab Naya.
Raka mengusap wajah.
“Naya, sebenarnya berapa yang dikasih Papa kamu?”
Semua orang terdiam lagi.
Pertanyaan itu.
Di saat seperti itu.
Setelah semua bukti dibuka.
Setelah kepercayaan mereka nyaris runtuh.
Yang masih ingin diketahui Raka adalah angka.
Naya bahkan tidak merasa sakit lagi.
Yang tersisa hanya kejelasan.
Ia memandang laki-laki yang hampir menjadi suaminya itu.
“Kenapa kamu perlu tahu?”
“Karena kalau cuma seratus lima puluh seperti kamu bilang kemarin, aku bisa jelaskan ke keluarga supaya mereka menunda.”
“Kalau lebih?”
Raka tidak menjawab.
“Kalau lebih, daftar ini berjalan?”
“Naya…”
“Jawab.”
Raka menekan rahangnya.
“Kita bisa diskusikan.”
Naya tersenyum kecil.
Jawaban itu sudah cukup.
Ia memasukkan kembali ponselnya ke tas.
Kemudian ia menatap penghulu.
“Pak, saya minta maaf sudah membuat Bapak datang untuk kondisi seperti ini.”
Penghulu mengangguk.
“Tidak apa-apa.”
Naya menarik napas panjang.
“Akad hari ini tidak jadi dilaksanakan.”
Raka berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser keras.
“Naya!”
Ibu Raka ikut berdiri.
“Kamu gila?”
“Tidak.”
Suara Naya justru sangat tenang.
“Saya baru sadar.”
“Tamu ada hampir tiga ratus orang!”
“Saya tahu.”
“Nama keluarga kami mau ditaruh di mana?”
Naya menatap ibu Raka.
“Kalau reputasi keluarga bergantung pada seorang perempuan menyerahkan uangnya supaya orang lain tidak malu, saya rasa masalahnya bukan pada perempuan itu.”
“Naya!”
Raka berjalan mendekat.
“Aku minta lima menit berdua.”
“Tidak.”
“Aku minta maaf!”
“Kamu minta maaf karena kamu mengerti kesalahanmu atau karena akad mau batal?”
Raka terdiam.
Naya mengangguk kecil.
“Begitu.”
Raka berubah nada.
“Jadi empat tahun hubungan kita tidak ada artinya cuma gara-gara beberapa chat?”
“Bukan karena chat.”
Naya menunjuk dadanya sendiri.
“Karena di dalam semua rencanamu, aku tidak pernah menjadi pasangan.”
Ia menunjuk daftar.
“Aku cuma sumber dana.”
Tidak ada yang menjawab.
Naya lalu memandang ayah dan ibunya.
Ayahnya mengangguk sekali.
Keputusan sudah dibuat.
Wedding organizer kemudian dipanggil.
Naya meminta satu hal.
Jangan membubarkan katering.
Makanan untuk hampir tiga ratus orang sudah dibayar.
Daripada dibuang, sebagian tetap disajikan untuk tamu yang telanjur datang.
Sisanya dikemas dan disalurkan sore itu melalui komunitas dapur sosial yang biasa bekerja sama dengan perusahaan ibunya.
Naya tidak berpidato di ballroom.
Ia tidak membuka aib keluarga Raka di hadapan tamu.
Wedding organizer hanya mengumumkan bahwa akad tidak dapat dilanjutkan karena keputusan pribadi kedua calon pengantin dan meminta privasi untuk kedua keluarga.
Tetapi tentu saja kabar menyebar.
Beberapa orang berbisik.
Beberapa menatap.
Naya tetap berjalan keluar melalui lobi hotel dengan punggung lurus.
Raka mengejarnya sampai tempat parkir.
“Naya!”
Ia berbalik.
Raka sudah tidak terlihat marah.
Wajahnya justru pucat.
“Aku bisa hapus daftar itu.”
Naya tidak menjawab.
“Aku bisa bilang ke semuanya batal.”
“Raka.”
“Aku serius. Mobil Ardi batal. Ruko Bayu batal. Rumah Mama Papa juga batal. Aku nggak peduli.”
Naya menatapnya lama.
“Kalau aku tidak punya uang banyak, apakah kamu akan membatalkannya?”
Raka membuka mulut.
Tidak ada suara.
“Itulah jawabannya.”
Naya masuk ke mobil.
Pintu ditutup.
Dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun, ia pergi tanpa menoleh kembali.
Namun pembatalan pernikahan bukan akhir dari masalah Raka.
Justru setelah itu konsekuensi sebenarnya dimulai.
Dua hari kemudian, Bayu meneleponnya.
Pemilik ruko meminta pembayaran lanjutan Rp75 juta.
Bayu mengira Raka akan menanggungnya.
Raka menolak.
Mereka bertengkar.
Hari berikutnya Ardi kehilangan uang tanda jadi mobil karena pembatalan melewati batas yang disepakati.
Ia menyalahkan Raka karena sebelumnya mengatakan dana “pasti aman”.
Rumah yang ingin dibeli orang tua Raka ternyata juga sudah menggunakan uang muka Rp20 juta.
Bukan dari orang tuanya.
Raka sendiri yang membayar memakai kartu kredit.
Semua dilakukan karena ia yakin akan segera memiliki akses pada sumber uang baru setelah menikah.
Tetapi masalah terbesar baru diketahui Naya hampir dua minggu kemudian.
Raka datang ke kantor Naya.
Resepsionis menelepon ke ruangannya.
“Mbak Naya, ada Mas Raka. Katanya penting.”
Naya hampir menolak.
Tetapi kemudian ia berkata, “Suruh tunggu di ruang meeting kecil.”
Ketika masuk, Raka terlihat jauh berbeda.
Rambutnya tidak rapi.
Ada lingkaran gelap di bawah mata.
Ia meletakkan sebuah map di atas meja.
“Aku butuh bantuan.”
Naya tidak duduk di sebelahnya.
Ia memilih kursi seberang.
“Bantuan apa?”
Raka mengeluarkan beberapa dokumen.
Ternyata tiga bulan sebelum pernikahan, ia telah mengambil pinjaman pribadi sebesar Rp420 juta.
Sebagian untuk menutup utang lama ayahnya.
Sebagian untuk uang muka rumah.
Sebagian lagi dipinjamkan kepada Bayu agar proses penyewaan ruko dimulai.
Naya menatap angka-angka itu.
“Kenapa kamu lakukan ini kalau uangnya belum ada?”
Raka menunduk.
“Aku pikir setelah kita nikah semuanya bisa dibereskan.”
“Kita?”
Raka tidak menjawab.
Naya mendorong dokumen itu kembali.
“Aku tidak menandatangani pinjaman ini.”
“Aku tahu.”
“Namaku ada?”
“Tidak.”
“Jaminanku ada?”
“Tidak.”
“Berarti ini bukan masalahku.”
Raka mengangkat wajah.
“Nay, cicilannya hampir dua belas juta sebulan.”
“Gajimu berapa?”
“Dua puluh tiga.”
“Berarti kamu masih bisa membayar kalau memangkas gaya hidup.”
“Aku juga bantu Mama Papa.”
“Itu keputusanmu.”
Raka mengepalkan tangan.
“Enam miliar itu benar, kan?”
Naya membeku sebentar.
Raka tertawa pahit.
“Aku tahu dari Ardi. Katanya salah satu pegawai bank kenal keluarga kamu dan dengar ada transfer besar.”
“Kalau benar?”
Raka memandangnya seperti orang yang baru melihat sebuah pintu terbuka.
“Pinjami aku lima ratus juta.”
Naya hampir tidak percaya.
“Lima ratus?”
“Aku bayar balik.”
“Dengan apa?”
“Aku kerja.”
“Kalau kamu sanggup membayar lima ratus juta kepadaku, berarti kamu sanggup membayar pinjamanmu sendiri.”
Raka terdiam.
“Nay, aku bisa hancur.”
Naya menatap mantan calon suaminya.
Dulu ia mungkin akan luluh hanya mendengar kalimat itu.
Tetapi sekarang ia memahami perbedaan antara menolong seseorang yang sedang kesulitan dan menyelamatkan seseorang dari keputusan yang sengaja ia ambil dengan mengandalkan dompet orang lain.
“Raka.”
Suaranya tidak keras.
“Tiga bulan lalu kamu mengambil utang karena yakin uang keluargaku akan menyelesaikannya.”
Raka menatap meja.
“Kamu menjanjikan bantuan kepada banyak orang supaya terlihat sebagai penyelamat keluarga.”
Ia diam.
“Kamu bahkan membuat rencana menggunakan uang yang tidak pernah aku janjikan.”
Masih diam.
“Kalau sekarang aku membayar semua utang itu, apa yang akan kamu pelajari?”
Raka menelan ludah.
“Nggak semua harus jadi pelajaran, Nay.”
“Yang ini harus.”
Naya berdiri.
“Karena kalau bukan sekarang, nanti kamu akan melakukan hal yang sama kepada orang lain.”
Raka ikut berdiri.
“Jadi kamu benar-benar nggak mau bantu?”
“Aku tidak akan membayar satu rupiah pun utang yang kamu buat berdasarkan asumsi bahwa aku akan menyelamatkanmu.”
Ia berjalan menuju pintu.
Raka berkata dari belakangnya, “Kamu berubah karena uang.”
Naya berhenti.
Ia menoleh.
“Tidak.”
“Uang itu cuma membuatku cukup tenang untuk melihat siapa kamu sebenarnya.”
Raka tidak datang lagi setelah hari itu.
Beberapa bulan berikutnya, kabar tentang keluarganya sesekali sampai kepada Naya melalui kenalan bersama.
Bayu gagal mengambil ruko karena tidak mampu memenuhi pembayaran berikutnya.
Ardi akhirnya membeli motor bekas, bukan mobil.
Rumah baru orang tua Raka dibatalkan.
Raka menjual mobilnya sendiri dan pindah dari apartemen ke kamar kos yang lebih murah agar bisa membayar utang.
Tidak ada satu pun dari hal itu dilakukan Naya.
Ia tidak menelepon bank.
Tidak menghubungi kantor Raka.
Tidak mempermalukannya di media sosial.
Tidak membalas dengan sabotase.
Raka hanya dipaksa hidup dengan konsekuensi dari keputusan yang ia buat sendiri.
Dan ternyata itu sudah lebih dari cukup.
Yang paling ironis terjadi enam bulan kemudian.
Naya menerima sebuah pesan dari nomor Ardi.
Mbak Naya, saya cuma mau minta maaf.
Naya membaca tanpa membalas.
Pesan berikutnya masuk.
Dulu saya ikut marah karena mobil batal. Sekarang saya baru tahu Mas Raka bilang ke semua orang seolah Mbak sudah setuju membantu. Kami memang terlalu gampang percaya karena enak dengar janji uang.
Lalu satu pesan terakhir.
Semoga Mbak bahagia.
Naya tidak pernah membalas.
Tetapi ia juga tidak memblokir Ardi.
Cerita itu selesai baginya.
Sementara uang Rp6,6 miliar tetap berada di bawah kendalinya sendiri.
Naya tidak langsung membeli mobil mewah.
Tidak membeli rumah besar.
Tidak berhenti bekerja.
Setelah tiga bulan, ia menggunakan sekitar Rp800 juta untuk membuka studio desain produk bersama dua mantan rekan kerjanya.
Sisanya ditempatkan dalam beberapa instrumen keuangan konservatif setelah berkonsultasi dengan perencana keuangan independen.
Ia juga membeli apartemen dua kamar yang tidak terlalu besar, dekat kantor.
Ketika ayahnya melihat apartemen itu, ia tertawa.
“Papa kasih miliaran, kamu belinya tetap yang diskon.”
Naya tertawa.
“Karena diskonnya bagus.”
Ibunya memeluknya.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Naya merasa hidupnya bukan sesuatu yang harus dipertahankan dari orang lain.
Ia sedang membangunnya sendiri.
Studio mereka tumbuh perlahan.
Tahun pertama tidak spektakuler.
Ada klien yang telat bayar.
Ada proyek yang batal.
Ada malam ketika Naya bekerja sampai lewat tengah malam.
Tetapi setiap masalah yang datang terasa berbeda.
Masalah-masalah itu miliknya.
Keputusannya.
Risikonya.
Tidak ada orang yang diam-diam menuliskan namanya di samping kebutuhan keluarga besar.
Sekitar satu setengah tahun setelah pernikahan yang batal itu, Naya bertemu seseorang bernama Fajar.
Mereka bertemu bukan di pesta atau aplikasi kencan.
Fajar adalah konsultan teknik untuk salah satu proyek studio Naya.
Hubungan mereka berkembang lambat.
Begitu lambat sampai ibunya beberapa kali bertanya apakah mereka benar-benar berpacaran.
Fajar tidak pernah bertanya berapa kekayaan keluarga Naya.
Ia juga tidak mencoba terlihat kaya.
Pada kencan ketiga, mereka makan soto di warung sederhana karena restoran yang ingin mereka datangi penuh.
Ketika mulai bicara serius tentang pernikahan hampir dua tahun kemudian, Naya mengatakan satu hal sebelum membicarakan gedung, katering, atau jumlah undangan.
“Aku mau kita bicara soal uang.”
Fajar mengangguk.
“Oke.”
“Aset masing-masing.”
“Oke.”
“Tanggung jawab ke orang tua.”
“Oke.”
“Batas bantuan untuk keluarga besar.”
Fajar mengambil buku catatan.
Naya menatapnya.
“Kamu ngapain?”
“Nyatet.”
“Kenapa?”
“Supaya nanti nggak ada yang bilang lupa.”
Naya tertawa sampai matanya berair.
Mereka membuat daftar.
Bukan daftar orang yang harus menerima uang.
Melainkan batas yang harus mereka hormati.
Kebutuhan rumah tangga dibayar bersama secara proporsional.
Bantuan untuk orang tua dibicarakan terbuka.
Utang pribadi tetap menjadi tanggung jawab masing-masing.
Tidak ada pinjaman kepada keluarga besar tanpa persetujuan bersama apabila menggunakan dana rumah tangga.
Hadiah, warisan, dan aset sebelum menikah tetap dikelola pemiliknya.
Mereka membawa kesepakatan itu kepada notaris.
Fajar membacanya sampai selesai.
Lalu menandatangani tanpa drama.
Ketika Naya bertanya apakah ia merasa tersinggung, Fajar menjawab sederhana.
“Aku menikah sama kamu, bukan sama saldo rekeningmu.”
Kalimat itu tidak terdengar romantis seperti adegan film.
Tetapi justru karena sederhana, Naya percaya.
Pernikahan mereka berlangsung kecil.
Tidak sampai seratus tamu.
Tidak ada ballroom mewah.
Tidak ada dekorasi yang menghabiskan ratusan juta.
Di pagi akad, Naya duduk di samping ibunya.
Ibunya membantu merapikan ujung kebaya.
“Takut?”
Naya berpikir sebentar.
“Sedikit.”
“Masih kepikiran dulu?”
Naya melihat pantulan dirinya di cermin.
Kemudian tersenyum.
“Bukan.”
Ia memegang tangan ibunya.
“Aku cuma baru sadar bedanya.”
“Bedanya apa?”
“Dulu aku takut kalau pernikahan batal.”
Naya menoleh ke arah pintu, tempat suara keluarga Fajar terdengar dari luar.
“Sekarang aku tahu yang lebih menakutkan adalah pernikahan tetap berjalan dengan orang yang salah.”
Beberapa menit kemudian ia berjalan menuju ruang akad.
Ayahnya menunggu.
Fajar duduk di depan penghulu.
Tidak ada seorang pun yang menunggu pengumuman tentang rekening, rumah, mobil, atau modal usaha.
Ketika akad selesai dan seluruh ruangan mengucapkan syukur, ayah Naya memeluk putrinya.
Tidak ada hadiah miliaran hari itu.
Tidak diperlukan.
Karena hadiah paling penting sudah diberikan bertahun-tahun sebelumnya.
Bukan Rp6,6 miliar.
Melainkan keyakinan bahwa seorang anak perempuan boleh berkata tidak meski seluruh ruangan berharap ia berkata iya.
Dan Naya akhirnya mengerti alasan ibunya menulis pesan malam itu:
Uang tidak selalu membuat seseorang bebas.
Tetapi memiliki pilihan, keberanian, dan batas yang jelas bisa menyelamatkan seseorang dari kehidupan yang salah.
Sedangkan Raka?
Terakhir kali Naya mendengar kabarnya, ia sudah melunasi sebagian besar pinjaman setelah hampir tiga tahun hidup jauh lebih sederhana.
Hubungannya dengan beberapa kerabat yang dulu menagih janji juga tidak pernah kembali sama.
Ia akhirnya belajar bahwa menjadi “anak kebanggaan keluarga” bukan berarti harus menjanjikan sesuatu yang tidak ia miliki.
Pelajaran itu mahal.
Tetapi bukan Naya yang membayarnya.
Dan memang seharusnya begitu.
Karena pada akhirnya, daftar Rp2,14 miliar yang malam itu diletakkan Raka di atas tempat tidur tidak pernah berhasil mengambil satu rupiah pun dari rekening Naya.
Justru daftar itu menyelamatkan Naya dari kesalahan yang jauh lebih mahal:
menyerahkan seluruh hidupnya kepada seseorang yang sudah membaginya kepada orang lain sebelum pernikahan bahkan dimulai.

