Bagian 3 — Mereka Mencoba Menyingkirkanku dari Perusahaan, Tanpa Tahu Aku Sudah Membuka Semua Arsip Lama

Avatar penulis
Cerita 02
8 menit baca 3,077 tayangan
Bagian 3 — Mereka Mencoba Menyingkirkanku dari Perusahaan, Tanpa Tahu Aku Sudah Membuka Semua Arsip Lama
Indeks

Bagian 3 — Mereka Mencoba Menyingkirkanku dari Perusahaan, Tanpa Tahu Aku Sudah Membuka Semua Arsip Lama

Keesokan paginya aku tidak datang ke kantor pusat.

Itulah kesalahan pertama yang mereka buat.

Mereka mengira ketidakhadiranku berarti aku takut.

Padahal aku sedang duduk di kantor sebuah firma hukum di Sudirman bersama tiga kotak dokumen yang selama ini disimpan oleh notaris keluarga.

Pak Surono, pengacara yang bekerja untuk ayahku lebih dari dua puluh tahun, mengeluarkan sebuah map berwarna biru.

“Bu Laras,” katanya, “sebelum kita membahas rapat, saya ingin memastikan Ibu memahami satu hal. Saham yang Ibu miliki bukan saham yang tiba-tiba jatuh ke tangan Ibu setelah orang tua meninggal.”

“Aku tahu.”

“Tapi saya tidak yakin Pak Arga menjelaskan hal itu kepada istrinya.”

Aku menatapnya.

Pak Surono membuka akta lama.

Empat tahun sebelum kecelakaan, ayah dan ibu telah memindahkan sebagian besar saham perusahaan keluarga ke sebuah perusahaan holding.

Dari holding itu, enam puluh empat persen hak ekonomis dan hak suara ditempatkan atas namaku.

Bukan warisan yang belum dibagi.

Bukan aset sementara.

Bukan titipan.

Pemindahan itu dilakukan ketika kedua orang tuaku masih hidup, disaksikan notaris, dilaporkan kepada administrasi perusahaan, dan dicatat dalam daftar pemegang saham.

“Ayah selalu mengatakan Arga yang akan menjalankan perusahaan,” kataku.

“Benar.”

Pak Surono mengeluarkan dokumen lain.

“Menjalankan bukan berarti memiliki.”

Aku membaca surat keputusan lama.

Arga memang dipersiapkan sebagai eksekutif.

Ia mendapat paket saham manajemen.

Enam persen.

Ia juga menerima dua properti, investasi atas namanya sendiri, dan dana awal untuk membangun bisnis pribadi.

Jumlahnya jauh dari kecil.

Bahkan jika ia meninggalkan Maheswari Nusantara hari itu juga, ia tetap orang kaya.

“Kenapa aku tidak pernah melihat dokumen ini?”

“Karena Ibu Laras tidak pernah meminta.”

Jawaban itu memukul lebih keras daripada yang seharusnya.

Aku memang tidak pernah meminta.

Selama enam tahun aku percaya Arga mengurus semuanya dengan benar.

Jika laporan perusahaan menghasilkan keuntungan, aku menandatangani keputusan yang dibutuhkan.

Jika Arga mengatakan bank membutuhkan jaminan, aku meminta tim hukum memeriksa lalu menyetujui.

Aku bahkan tidak pernah membuka catatan tunjangan direksi.

Sekarang aku meminta semuanya.

Dan semakin banyak dokumen terbuka, semakin buruk rasanya.

Dalam delapan bulan terakhir ada kontrak konsultasi senilai Rp27 miliar kepada PT Wulandari Kreasi.

Aku tidak mengenal perusahaan itu.

Pak Surono mendorong lembar profil perusahaan kepadaku.

Pemegang saham terbesarnya adalah Denny Wulandari.

Paman Citra.

Kontrak tersebut diberikan untuk “strategi citra korporat dan ekspansi jaringan”.

Tidak ada proses tender.

Tidak ada laporan pekerjaan yang cukup menjelaskan nilai kontrak.

Lebih buruk lagi, pembayaran pertamanya dilakukan dua minggu sebelum pernikahan Arga dan Citra.

“Apa Komisaris tahu?”

“Dua komisaris mempertanyakan,” kata Pak Surono. “Pak Arga menjelaskan bahwa vendor itu direkomendasikan langsung olehnya.”

Aku membuka dokumen lain.

Resort Labuan Bajo yang dibanggakan Citra ternyata tidak dibayar dari rekening pribadi Arga.

Tagihannya masuk ke anggaran relasi korporat.

Sebanyak Rp1,2 miliar.

Aku tertawa.

Bukan karena lucu.

Perempuan yang mengatakan aku terlalu boros ternyata membiayai bulan madunya dari perusahaan milikku.

Siang itu aku meminta audit forensik terbatas.

Tidak diumumkan.

Hanya Komisaris Independen, ketua komite audit, firma hukum, dan aku yang mengetahui.

Sore harinya, Dimas datang menemuiku diam-diam.

Wajah sekretaris Arga itu pucat.

“Bu Laras, saya mungkin kehilangan pekerjaan karena datang kemari.”

“Aku tidak akan memaksamu mengatakan apa pun.”

Ia meletakkan flash drive di atas meja.

“Saya tidak datang karena Ibu meminta.”

Aku menatap benda kecil itu.

“Lalu?”

“Saya datang karena dokumen rapat yang memakai kalimat ‘persetujuan keluarga’ dibuat dari komputer saya.”

Aku langsung menegakkan badan.

Dimas menjelaskan bahwa seminggu sebelum pernikahan, Arga meminta staf hukum menyiapkan konsep pembatasan otorisasi atas namaku.

Alasannya adalah “risiko kesehatan”.

Ketika staf hukum menolak mencantumkan bahwa aku sudah menyetujui, seseorang dari kantor Arga mengubah dokumen.

“Siapa?”

Dimas menelan ludah.

“Bu Citra berada di ruangan ketika revisi dilakukan.”

“Citra bukan pegawai perusahaan.”

“Itulah sebabnya saya mulai merasa ada yang salah.”

Aku memasukkan flash drive ke laptop.

Ada rekaman email.

Draf.

Riwayat perubahan.

Satu pesan dari Arga kepada kepala keuangan keluarga membuatku menahan napas.

“Mulai setelah pernikahan, semua fasilitas Laras harus melalui kantor saya. Kita harus membiasakan dia bahwa perusahaan tidak bisa terus bergerak berdasarkan keinginannya.”

Aku membaca kalimat berikutnya.

“Kalau aksesnya dipersempit, dia akan lebih mudah menyetujui restrukturisasi.”

Jadi bukan soal membuatku hemat.

Mereka sengaja ingin membuatku bergantung.

Aku bertanya kepada Dimas, “Restrukturisasi apa?”

Ia mengeluarkan satu dokumen lagi.

Rencana pembentukan perusahaan baru.

PT Maheswari Strategic Management.

Arga akan memiliki tiga puluh lima persen.

Investor luar dua puluh persen.

Sisanya akan ditawarkan kepada holding keluarga melalui pertukaran hak kelola.

Jika disetujui, perusahaan baru itu akan memegang kontrak manajemen seluruh anak usaha strategis selama lima belas tahun.

Secara teknis aku masih memiliki saham.

Namun Arga akan mengendalikan arus operasional.

Kontrak manajemen.

Honor.

Vendor.

Akses pembiayaan.

Semua lewat perusahaan yang ia kendalikan.

Aku akhirnya mengerti.

Mereka tidak perlu mencuri seluruh sahamku.

Mereka hanya perlu membuat saham itu kehilangan gigi.

“Rapatnya kapan?”

“Lusa.”

Aku tersenyum.

“Bagus.”

Dimas menatapku, mungkin mengira aku marah.

Aku justru semakin tenang.

Selama bertahun-tahun aku dianggap tidak mengerti bisnis karena tidak hadir setiap pagi di kantor.

Mereka lupa satu hal.

Aku mungkin tidak menjalankan perusahaan.

Tetapi aku lulus dari jurusan keuangan.

Aku membaca laporan tahunan.

Aku mengerti struktur kepemilikan.

Dan yang lebih penting, aku tahu kapan seseorang sedang mencoba memindahkan kendali melalui pintu samping.

Malam sebelum rapat, Arga masuk ke ruang kerjaku tanpa mengetuk.

Citra ikut di belakangnya.

“Besok kau datang?” tanyanya.

“Harusnya aku bertanya kenapa rapat tentang hakku dibuat tanpa bicara kepadaku.”

Arga menghela napas panjang.

“Aku mencoba bicara berkali-kali.”

“Kapan?”

“Setiap kali aku meminta kau lebih bertanggung jawab.”

Aku hampir tertawa.

Citra meletakkan map di mejaku.

“Kami bukan musuhmu, Laras.”

Aku membuka map itu.

Sebuah surat kuasa.

Jika kutandatangani, Arga akan mendapat kewenangan mewakili hak suaraku untuk urusan restrukturisasi perusahaan selama tiga tahun.

Aku mengangkat kepala.

“Ini yang kalian inginkan?”

Arga duduk di depanku.

“Aku ingin perusahaan aman.”

“Dari siapa?”

Ia tidak menjawab.

Citra menjawab untuknya.

“Dari pemilik yang tidak memahami perusahaan.”

Aku menutup map.

“Kalau aku tidak tanda tangan?”

Arga menatapku lurus.

“Besok komisaris akan mendengar alasan kenapa struktur sekarang sudah tidak sehat.”

“Karena jantungku?”

“Itu salah satunya.”

Untuk pertama kalinya sejak kami kecil, aku melihat Arga bukan sebagai kakak.

Aku melihatnya sebagai seorang eksekutif yang sedang bernegosiasi.

Dan ternyata wajah itu sangat berbeda.

Aku berkata pelan, “Kalian boleh pergi.”

Citra tidak bergerak.

“Laras, jangan buat ini lebih buruk.”

Aku menatap gelang berlian di tangannya.

Hadiah dariku masih dipakainya ketika sedang mencoba mengambil kendali perusahaanku.

Aku hampir kagum.

“Keluar.”

Besok paginya ruang rapat lantai tiga puluh dua penuh.

Direksi.

Komisaris.

Tim hukum.

Sekretaris perusahaan.

Arga duduk di kursi utama.

Citra tidak diizinkan masuk karena bukan bagian dari struktur perseroan.

Ia menunggu di lounge eksekutif.

Aku datang bersama Pak Surono dan perwakilan firma audit.

Ekspresi Arga berubah.

“Kenapa auditor eksternal hadir?”

Aku duduk.

“Karena kita akan membahas tata kelola.”

Rapat dimulai.

Selama hampir empat puluh menit Arga mempresentasikan pertumbuhan perusahaan dalam dua belas tahun terakhir.

Pendapatan meningkat.

Distribusi meluas.

Jumlah pegawai bertambah.

Ia menyebut semuanya sebagai bukti bahwa model kepemimpinan saat ini berhasil.

Lalu slide berubah.

Namaku muncul.

Di bawahnya terdapat daftar:

Ketidakhadiran dalam operasional.

Ketergantungan pada layanan keluarga.

Riwayat perawatan kesehatan.

Pengeluaran pribadi.

Aku menatap layar tanpa bereaksi.

Salah satu komisaris independen langsung memotong.

“Pak Arga, bagaimana biaya pribadi pemegang saham relevan dengan hak suara?”

Arga menjawab, “Ini menunjukkan tingkat keterlibatan dan kesiapan dalam mengambil keputusan.”

Aku mengangkat tangan.

“Boleh saya?”

Ruangan hening.

Aku menampilkan dokumen kontrak PT Wulandari Kreasi.

Kemudian tagihan Labuan Bajo.

Lalu riwayat email pembatasan aksesku.

Wajah Arga berubah sedikit demi sedikit.

Aku berkata, “Kalau kita menilai kemampuan seseorang dari cara menggunakan uang perusahaan, mungkin kita harus mulai dari Rp1,2 miliar untuk bulan madu.”

Tak seorang pun bicara.

Aku melanjutkan.

“Atau Rp27 miliar kontrak kepada perusahaan milik paman istri Direktur Utama.”

Kepala keuangan menunduk.

Arga berdiri.

“Kontrak itu memiliki justifikasi bisnis.”

“Bagus.”

Aku mendorong satu berkas kepadanya.

“Berikan laporan pekerjaan lengkapnya kepada auditor.”

Arga tidak menyentuh berkas itu.

Aku belum selesai.

“Sekarang mari kita bahas perusahaan manajemen baru yang hendak memegang kontrak lima belas tahun.”

Ketua komisaris menoleh tajam kepada Arga.

“Lima belas tahun?”

Ternyata tidak semua orang mengetahui rincian tersebut.

Untuk pertama kalinya, kendali di wajah Arga retak.

Namun kemudian ia melakukan sesuatu yang tidak kuduga.

Ia membuka tas dan mengeluarkan sebuah map cokelat tua.

“Kalau Laras ingin membuka dokumen lama,” katanya, “mari kita buka semuanya.”

Ia menyerahkan satu lembar kepada sekretaris perusahaan.

Dokumen itu tampak seperti surat pengalihan saham.

Tanggalnya tujuh tahun lalu.

Enam bulan sebelum ayah dan ibu meninggal.

Di sana tertulis bahwa aku pernah menyetujui pengalihan delapan belas persen saham holding kepada Arga setelah ia memenuhi masa kerja tertentu.

Ada tanda tanganku.

Ada tanda tangan ayah.

Ada cap notaris.

Ruangan kembali sunyi.

Arga memandangku.

“Mungkin selama ini bukan aku yang mengambil hak Laras.”

Ia menyandarkan tubuh.

“Mungkin justru ada hakku yang tidak pernah diberikan.”

Aku mengambil salinan dokumen itu.

Tanda tangannya sangat mirip dengan milikku.

Hampir sempurna.

Pak Surono berdiri di sampingku.

Wajahnya berubah.

Ia berbisik begitu pelan hingga hanya aku yang mendengar.

“Nomor akta ini tidak cocok.”

Aku menoleh.

“Apa?”

Ia menunjuk bagian bawah.

“Saya ingat nomor ini.”

Aku belum sempat bertanya ketika ponsel sekretaris perusahaan bergetar.

Ia membaca pesan, kemudian menatapku dengan wajah pucat.

“Bu Laras…”

“Ada apa?”

“Kami baru memeriksa log arsip lama.”

Ia menelan ludah.

“Berkas asli pengalihan saham yang seharusnya sesuai nomor ini hilang.”

Arga langsung berkata, “Kalau begitu kita harus mencari—”

Sekretaris itu memotong.

“Tapi rekaman akses ruang arsip masih ada.”

Tidak ada satu pun orang bergerak.

Ia mengangkat layar tablet.

“Orang terakhir yang membuka ruang arsip sebelum dokumen itu dilaporkan hilang…”

Matanya beralih kepada Arga.

“…adalah Bapak sendiri.”