Bagian 3 — Saat Tanda Tangan Palsu Terbongkar, Mereka Akhirnya Mengerti Rumah Saya Bukan Warisan Keluarga
Saya tidak langsung berteriak.
Justru sebaliknya.
Saya menjadi sangat tenang.
Ada jenis kemarahan yang membuat orang membanting pintu.
Ada kemarahan yang membuat orang menangis.
Dan ada kemarahan yang datang ketika sesuatu di dalam diri kita sudah selesai.
Saya menunjukkan layar kepada Arga.
“Ini siapa yang mengisi?”
Dia menatap pesan dari pengelola apartemen.
Tidak menjawab.
Saya memperbesar foto formulir yang dikirim petugas.
Di bagian bawah memang tertulis:
Nadia Prameswari.
Nama saya.
Tetapi itu bukan tanda tangan saya.
Saya sangat mengenal bentuk tanda tangan sendiri.
Huruf N saya selalu menyambung ke garis panjang di bawah nama.
Yang ada di formulir itu patah di tengah.
Terlalu rapi.
Terlalu hati-hati.
Seperti orang meniru dari contoh.
Saya mengangkat wajah.
“Siapa?”
Arga menelan ludah.
Ibu mertua berdiri di belakangnya.
Siska menggenggam tas saya begitu kuat sampai buku jarinya memutih.
“Naya,” kata Arga akhirnya, “jangan langsung berpikir macam-macam.”
Saya tertawa pendek.
“Nama saya ditulis pada formulir yang tidak pernah saya lihat. Tanda tangan saya ditiru. Saya seharusnya berpikir apa?”
“Itu cuma administrasi.”
Kalimat itu hampir luar biasa.
Selama tiga hari, semua yang dia lakukan selalu “cuma”.
Cuma orang tua.
Cuma tinggal sementara.
Cuma menggeser meja.
Cuma rencana.
Sekarang tanda tangan saya juga “cuma administrasi”.
Saya membuka kamera ponsel.
“Ulangi.”
Arga mengernyit.
“Apa?”
“Ulangi bahwa menggunakan tanda tangan saya tanpa izin itu cuma administrasi.”
Wajahnya langsung menegang.
“Kamu ngerekam?”
“Saya sedang memastikan kita tidak mengingat percakapan ini secara berbeda nanti.”
Ayah mertua yang sejak tadi diam akhirnya maju.
“Naya, jangan seperti sedang menginterogasi penjahat.”
Saya menoleh.
“Saya tidak menuduh siapa pun melakukan kejahatan, Pak. Saya hanya bertanya siapa yang menandatangani nama saya.”
Ruangan kembali diam.
Lalu ibu mertua berkata:
“Arga yang tanda tangan.”
Arga langsung menoleh.
“Bu!”
Saya memejamkan mata satu detik.
Anehnya, saya tidak terkejut.
Semua potongan yang tadinya terasa tidak masuk akal tiba-tiba menjadi sangat jelas.
Arga bukan mengambil satu keputusan buruk karena terdesak.
Dia membangun seluruh situasi dengan keyakinan bahwa saya pada akhirnya akan mengalah.
Dia tahu saya akan menolak.
Karena itu, dia melewati persetujuan saya.
Dia tahu saya akan keberatan jika orang tuanya pindah.
Karena itu, dia memindahkan mereka ketika saya pergi.
Dia tahu saya tidak akan mengizinkan ruang kerja dipakai kakaknya.
Karena itu, dia membahasnya tanpa saya.
Dia tahu saya tidak akan setuju pindah ke Cirebon.
Karena itu, rencana tersebut sengaja disusun diam-diam sampai dianggap terlalu jauh untuk dibatalkan.
Dan dia tahu pengelola apartemen membutuhkan persetujuan pemilik.
Karena itu, dia menulis nama saya.
Bukan karena dia lupa menghargai saya.
Dia justru sangat memahami batas saya.
Lalu dengan sadar mencari jalan untuk melewatinya.
Saya memasukkan dokumen ke tas.
“Mulai hari ini, jangan menggunakan nama saya untuk dokumen apa pun.”
Arga berjalan mendekat.
“Naya, please.”
“Saya juga akan menghubungi pengelola gedung sendiri.”
“Nggak perlu segitunya.”
“Saya pemilik unit.”
“Kita suami istri!”
“Justru itu.”
Saya menatapnya.
“Saya seharusnya tidak perlu melindungi tanda tangan saya dari suami sendiri.”
Dia terdiam.
Saya masuk ke kamar utama.
Mengambil paspor, ijazah, dokumen pekerjaan, beberapa pakaian, laptop cadangan, perhiasan peninggalan nenek, dan map berisi sertifikat serta bukti pembelian unit.
Arga mengikuti saya seperti bayangan.
“Kalau kamu pergi sekarang, semuanya bakal makin besar.”
Saya berhenti memasukkan pakaian.
“Semuanya sudah besar sebelum saya tahu.”
“Bapak sama Ibu sudah terlanjur di sini.”
“Bukan saya yang membawa mereka.”
“Mereka mau pergi ke mana?”
“Itu pertanyaan yang seharusnya kamu jawab sebelum mengundang mereka pindah.”
Dia mengusap wajah.
“Naya, aku nggak bisa usir orang tua sendiri.”
“Saya tidak menyuruh kamu mengusir mereka.”
“Terus?”
“Kamu yang memutuskan mereka tinggal di sini. Kamu juga yang bertanggung jawab mencari solusi.”
Arga menatap saya.
Ada sesuatu yang berubah di wajahnya.
Mungkin untuk pertama kalinya dia sadar bahwa saya benar-benar tidak akan mengambil alih masalah yang dia ciptakan.
Sebelumnya begitulah pola kami.
Arga berjanji terlalu cepat.
Saya yang mencari cara agar janji itu bisa dipenuhi.
Arga lupa bayar sesuatu.
Saya yang mengingatkan.
Keluarganya butuh bantuan administrasi rumah sakit.
Saya yang mengurus.
Dimas butuh rekomendasi pekerjaan.
Saya yang menghubungi kenalan.
Ibunya ingin kontrol kesehatan di Jakarta.
Saya yang memesan dokter.
Ayahnya harus mengurus dokumen kendaraan.
Saya yang mencari prosedurnya.
Lama-lama keluarga mereka mungkin mulai menganggap satu hal sebagai hukum alam:
Kalau ada masalah, Naya akan membereskan.
Dan kalau Naya menolak?
Tekan sedikit.
Buat dia merasa egois.
Bawa nama keluarga.
Bawa umur orang tua.
Bawa kewajiban istri.
Dia pasti menyerah.
Kali ini saya tidak.
Saya menarik resleting koper.
Kemudian pergi.
Tiga hari kemudian Arga datang ke kantor saya.
Dia menunggu di kafe lantai dasar.
Saya sebenarnya tidak ingin menemuinya.
Tetapi saya ingin satu hal selesai.
Dia terlihat buruk.
Janggutnya tumbuh.
Matanya kurang tidur.
Begitu saya duduk, dia langsung berkata:
“Aku sudah bilang ke Bapak sama Ibu soal apartemen.”
Saya mengangguk.
“Lalu?”
“Mereka marah.”
“Saya tidak bertanya apakah mereka marah.”
Arga menarik napas.
“Mereka bersedia pindah.”
“Kapan?”
“Minggu depan.”
“Kenapa minggu depan?”
“Dimas belum dapat kontrakan.”
Saya hampir tersenyum.
“Dimas tidak tinggal di apartemen saya.”
“Naya…”
“Dia tidak terdaftar sebagai penghuni. Dia tidak pernah mendapat izin saya. Jadi dia tidak tinggal di sana.”
Arga memijat pelipis.
“Kamu sekarang ngomongnya kayak kita orang asing.”
“Batas tidak hanya berlaku untuk orang asing.”
Dia menunduk.
Beberapa detik berlalu.
Lalu dia mengeluarkan amplop.
“Aku bawa surat.”
Saya membukanya.
Permintaan maaf.
Ditulis tangan.
Dua halaman.
Isinya sebenarnya bagus.
Arga mengakui beberapa hal.
Bahwa dia takut saya menolak.
Bahwa dia merasa terjepit antara saya dan orang tuanya.
Bahwa Dimas terus mengatakan sebagai anak laki-laki dia harus membantu keluarga.
Bahwa ibunya menangis karena rumah Cirebon rusak di beberapa bagian.
Bahwa dia ingin dianggap anak yang bisa diandalkan.
Saya membaca sampai selesai.
Kemudian menaruh surat itu kembali.
“Terima kasih.”
Arga mengangkat wajah.
“Kamu percaya aku menyesal?”
“Saya percaya.”
Matanya seperti mendapat harapan.
“Tapi saya tetap mau cerai.”
Wajahnya jatuh.
“Naya…”
“Penyesalanmu tidak mengubah apa yang kamu lakukan.”
“Aku bisa berubah.”
“Mungkin.”
“Kasih aku kesempatan.”
Saya menggeleng.
“Kesempatan untuk apa?”
“Memperbaiki.”
“Arga, kita tidak sedang membicarakan kamu lupa ulang tahun saya.”
Saya menatapnya.
“Kamu merencanakan perubahan tempat tinggal saya, penggunaan properti saya, memasukkan anggota keluarga sebagai penghuni, lalu menggunakan nama saya pada formulir setelah tahu saya tidak akan setuju.”
Dia menunduk.
“Kalau saya kembali hanya karena sekarang kamu takut kehilangan saya, pesan apa yang kamu pelajari?”
Dia diam.
“Bahwa kamu boleh melewati batas saya selama setelah ketahuan kamu meminta maaf cukup keras?”
Arga tidak menjawab.
Saya melanjutkan.
“Saya tidak butuh suami yang patuh pada saya. Saya butuh pasangan yang mengerti bahwa keputusan bersama memang harus dibuat bersama.”
Dia menatap meja.
Air matanya jatuh.
Itu pertama kalinya saya melihat Arga menangis.
Dan saya tetap mencintainya saat itu.
Mungkin itulah bagian yang paling sulit dijelaskan.
Saya tidak berhenti mencintainya dalam semalam.
Tetapi saya sudah berhenti mempercayainya.
Dan rumah tangga tanpa kepercayaan bagi saya seperti pintu dengan kunci rusak.
Kita masih bisa tinggal di dalam.
Tetapi kita tidak pernah benar-benar merasa aman.
Seminggu berikutnya, orang tua Arga akhirnya keluar dari apartemen.
Bukan karena saya datang dan mengusir mereka.
Pengelola gedung menghubungi Arga setelah saya secara resmi menyatakan bahwa hanya dirinya yang masih saya izinkan masuk sebagai pasangan yang tercatat sementara proses kami berjalan.
Nama tambahan ditolak.
Dimas tidak pernah pindah.
Mereka menyewa rumah kecil tidak jauh dari tempat tinggal Dimas.
Arga membayar depositnya.
Ironisnya, solusi yang katanya “tidak mungkin” ternyata tersedia begitu saya berhenti menjadi solusi gratis.
Rencana renovasi rumah Cirebon juga berhenti.
Bukan karena saya menggagalkannya.
Bank menilai kemampuan pembayaran mereka tidak cukup tanpa sumber pemasukan tambahan.
Rencana menggunakan uang sewa apartemen saya tidak bisa dilakukan karena saya tidak pernah menyetujui apartemen disewakan.
Dimas marah besar.
Dia mengirim pesan kepada saya:
“Gara-gara kamu, semua rencana keluarga berantakan.”
Saya hanya membalas satu kali.
“Rencana yang membutuhkan properti orang lain tanpa persetujuan pemilik memang seharusnya tidak dimulai.”
Setelah itu saya memblokir nomor tersebut.
Ibu mertua juga mencoba menelepon.
Saya tidak menjawab selama beberapa hari.
Kemudian suatu sore saya menerima pesan suara.
Beliau menangis.
Katanya saya membuat Arga kehilangan rumah.
Katanya saya telah menghukum seluruh keluarga karena satu kesalahan.
Katanya perempuan yang sudah menikah seharusnya membangun keluarga, bukan menghitung siapa membeli apa.
Saya mendengarkannya sampai selesai.
Lalu saya menghapus pesan itu.
Saya tidak membalas.
Tidak semua tuduhan membutuhkan pembelaan.
Proses perceraian tidak selesai dalam hitungan hari.
Tidak ada adegan dramatis seperti di film ketika saya menyerahkan kertas lalu semuanya langsung berakhir.
Ada pertemuan.
Ada mediasi.
Ada dokumen.
Ada percakapan yang melelahkan.
Ada hari ketika Arga terlihat seperti laki-laki yang dulu saya cintai.
Ada hari ketika saya hampir goyah.
Saat mediasi pertama, Arga berkata di depan mediator:
“Saya sebenarnya cuma ingin membantu orang tua.”
Kalimat itu benar.
Dan justru karena itu masalah kami terasa rumit.
Niat baik tidak otomatis menghasilkan tindakan yang benar.
Saya berkata:
“Saya tidak mempermasalahkan dia membantu orang tuanya. Saya mempermasalahkan cara dia menggunakan hidup saya sebagai bagian dari bantuannya tanpa persetujuan saya.”
Mediator bertanya apakah masih ada kemungkinan berdamai.
Arga langsung berkata:
“Ada.”
Saya berkata:
“Tidak.”
Dia menoleh cepat.
Ekspresinya membuat dada saya sakit.
Tetapi saya melanjutkan.
“Karena bagi saya masalahnya bukan siapa yang tinggal di apartemen. Masalahnya adalah cara keputusan dibuat.”
Kemudian pengacara saya menunjukkan rangkaian bukti.
Pesan percakapan.
Formulir penghuni.
Rekaman CCTV.
Rencana pembagian ruangan.
Catatan tentang menyewakan apartemen.
Dokumen-dokumen itu tidak membuat siapa pun berteriak.
Tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa yang terjadi bukan spontan.
Ada pola.
Ada perencanaan.
Ada asumsi bahwa persetujuan saya bisa diperoleh setelah semuanya telanjur terjadi.
Arga tidak lagi banyak bicara.
Di luar ruang mediasi, dia menghampiri saya.
“Aku baru sadar kelihatannya separah itu kalau semuanya disusun.”
Saya menatapnya.
“Buat saya, semuanya sudah terasa separah itu saat saya membuka pintu rumah.”
Dia menunduk.
“Aku benar-benar kira kamu lama-lama bakal ngerti.”
“Itulah masalah kita.”
Saya menjawab pelan.
“Kamu tidak ingin saya setuju. Kamu hanya menunggu saya menyerah.”
Dua bulan kemudian, Arga akhirnya pindah dari apartemen.
Hari dia mengambil barang-barang terakhirnya, saya datang ditemani Siska.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada keluarga besar.
Tidak ada suara keras.
Hanya kami berdua.
Arga membuka lemari.
Mengambil kemeja.
Memasukkan buku.
Melepas jam dinding kecil yang dibelinya saat kami bulan madu di Yogyakarta.
Kemudian dia berhenti di ruang tengah.
“Boleh aku tanya sesuatu?”
Saya mengangguk.
“Kalau waktu itu aku langsung telepon dari awal dan bilang Bapak Ibu perlu tempat tinggal sementara, kamu bakal izinkan?”
Saya berpikir sebentar.
“Mungkin.”
Dia terlihat terkejut.
“Serius?”
“Saya mungkin akan menawarkan mereka tinggal dua atau tiga minggu sampai kontrakan didapat.”
Saya menunjuk kamar tamu.
“Saya bahkan mungkin membantu mencari rumah sewa.”
Arga tertawa pahit.
“Jadi sebenarnya semua ini bisa nggak terjadi.”
“Bisa.”
“Kenapa kamu nggak pernah bilang?”
Saya menatapnya.
“Karena kamu tidak pernah bertanya.”
Dia duduk di sofa.
Menutup wajah dengan kedua tangan.
Saat itu saya tidak merasa menang.
Saya hanya merasa sedih.
Begitu banyak rumah tangga rusak bukan karena masalah tidak punya solusi.
Tetapi karena salah satu orang merasa berhak membuat keputusan sebelum mengajak pasangannya bicara.
Beberapa menit kemudian Arga berdiri.
Dia membawa koper terakhir ke pintu.
Sebelum keluar dia menatap ruang tamu.
“Aku baru sadar selama ini aku selalu bilang ini rumah kita.”
Saya tidak menjawab.
“Tapi waktu aku butuh sesuatu dari rumah ini, aku bertindak seolah-olah cuma pendapat aku yang penting.”
Saya tetap diam.
Dia menatap saya.
“Maaf.”
Kali ini tidak ada alasan.
Tidak ada “tapi”.
Tidak ada orang tua.
Tidak ada keluarga.
Hanya satu kata.
Saya mengangguk.
“Saya terima permintaan maafnya.”
Arga seperti ingin mengatakan sesuatu lagi.
Tetapi akhirnya hanya membuka pintu.
Lalu pergi.
Empat bulan setelah semuanya dimulai, perceraian kami resmi selesai.
Saya pulang ke apartemen sore itu sendirian.
Saya berdiri lama di depan pintu.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, saya merasa takut masuk.
Bukan karena ada orang.
Justru karena tidak ada siapa-siapa.
Ketika pintu terbuka, ruang tamu terasa besar.
Terlalu besar.
Sofa kosong.
Meja kosong.
Tidak ada koper.
Tidak ada obat.
Tidak ada kardus.
Tidak ada suara televisi.
Saya meletakkan tas.
Kemudian membuka semua jendela.
Saya mencuci tirai.
Membersihkan lemari.
Mengubah posisi sofa.
Menjual meja lama.
Mengecat satu sisi ruang kerja dengan warna hijau pucat.
Bukan karena cat lama buruk.
Saya hanya ingin ruangan itu memiliki ingatan baru.
Saya membeli tanaman kecil.
Lampu meja.
Karpet baru.
Kemudian saya memasang satu bingkai foto di dekat pintu.
Bukan foto pernikahan.
Foto saya sendiri saat berusia dua puluh tujuh tahun, berdiri di depan apartemen ini pada hari pertama menerima kunci.
Wajah saya di foto itu lelah.
Rambut berantakan.
Di tangan saya ada amplop dokumen.
Tetapi senyum saya lebar sekali.
Dulu saya membeli rumah ini karena ingin memiliki tempat yang aman.
Kemudian saya menikah dan mengira rasa aman itu berarti tidak perlu lagi menjaga batas.
Saya salah.
Cinta tidak menghilangkan kebutuhan akan batas.
Pernikahan juga tidak mengubah persetujuan menjadi formalitas.
Enam bulan setelah perceraian, saya mendapat promosi.
Bukan promosi dramatis.
Tidak ada direktur datang membawa bunga.
Hanya email biasa pada Senin pagi.
Saya menjadi senior project manager.
Gaji saya naik.
Saya mengambil liburan empat hari ke Lombok bersama Siska.
Itu pertama kalinya selama bertahun-tahun saya pergi tanpa laptop kantor.
Suatu sore kami duduk di tepi pantai.
Siska bertanya:
“Masih kepikiran Arga?”
Saya jujur.
“Kadang.”
“Masih sayang?”
Saya melihat laut.
“Mungkin pada versi tertentu dari dia.”
Siska mengangguk.
“Nyyesel?”
Saya menggeleng.
“Tidak.”
Jawaban itu keluar tanpa perlu dipikirkan.
Dan saat itulah saya tahu saya sudah benar-benar selesai.
Hampir setahun setelah hari ketika saya pulang dari Surabaya, saya bertemu Arga secara tidak sengaja.
Kami berada di sebuah minimarket dekat rumah sakit.
Dia sedang membeli air mineral.
Saya baru selesai menjenguk rekan kerja.
Kami sama-sama berhenti.
Arga terlihat lebih kurus.
Tetapi jauh lebih tenang.
“Hai.”
“Hai.”
Tidak canggung seperti yang saya bayangkan.
Kami berdiri beberapa menit di dekat rak kopi.
Dia memberi tahu saya bahwa ayah dan ibunya sudah kembali ke Cirebon.
Renovasi rumah dilakukan bertahap.
Tidak pakai pinjaman besar.
Tidak ada lantai dua.
Tidak ada bengkel besar milik Dimas.
Dimas akhirnya menyewa tempat kecil untuk usahanya sendiri.
Saya bertanya:
“Jalan?”
Arga tersenyum.
“Jalan. Malah katanya lebih enak karena nggak dicampur sama rumah orang tua.”
Saya hampir tertawa.
Betapa lucunya hidup.
Ketika setiap orang dipaksa bertanggung jawab atas keputusan sendiri, ternyata dunia tidak runtuh.
Mereka hanya harus menyesuaikan rencana.
Arga menatap saya sebentar.
“Aku juga pindah ke kontrakan dekat kantor.”
“Bagus.”
“Awalnya berat.”
Dia tersenyum tipis.
“Tapi sekarang aku ngerti rasanya punya ruang sendiri.”
Saya mengangguk.
Lalu dia berkata sesuatu yang tidak saya duga.
“Aku dulu marah sama kamu.”
“Saya tahu.”
“Aku pikir kamu keterlaluan. Cuma gara-gara orang tua pindah.”
Dia berhenti.
“Terus setelah beberapa bulan tinggal sendiri, Bapak sempat minta tinggal sama aku lagi waktu kontrol dokter.”
Saya menunggu.
“Aku hampir langsung bilang iya.”
Dia tertawa kecil.
“Tapi tiba-tiba aku ingat kamu.”
Saya ikut tersenyum.
“Lalu?”
“Aku ngomong ke pemilik kontrakan dulu. Tanya aturan. Terus aku ngomong ke orang yang serumah sama aku.”
Saya mengangkat alis.
“Punya teman sekamar?”
“Sepupu.”
“Dan?”
“Dia bilang boleh dua minggu.”
Arga menatap saya.
“Baru waktu itu aku ngerti. Bertanya ternyata nggak bikin aku jadi anak durhaka.”
Saya tidak berkata apa-apa.
“Dan kalau jawabannya tidak,” lanjutnya, “itu bukan berarti orang lain jahat.”
Untuk pertama kalinya setelah semua yang terjadi, saya benar-benar merasa damai melihatnya.
Bukan karena ingin kembali.
Justru karena tidak ingin.
Kami memang gagal menjadi suami istri.
Tetapi mungkin kegagalan itu akhirnya mengajarkan sesuatu yang seharusnya kami pahami sejak awal.
Sebelum berpisah, Arga berkata:
“Naya.”
Saya menoleh.
“Terima kasih karena waktu itu kamu nggak balik.”
Saya terdiam.
Dia tersenyum pahit.
“Kalau kamu balik, mungkin aku nggak akan pernah sadar.”
Saya mengangguk kecil.
“Semoga hidupmu baik.”
“Kamu juga.”
Kami pergi ke arah berbeda.
Dan kali ini saya tidak menoleh.
Malam itu saya pulang ke apartemen.
Saya membuka pintu.
Lampu ruang tamu menyala otomatis.
Udara berbau sabun dan kopi.
Sepasang sandal saya tersusun rapi di dekat pintu.
Di meja ada buku yang belum selesai saya baca.
Laptop kerja tertutup.
Tanaman di balkon bergerak pelan karena angin.
Tidak ada sesuatu yang luar biasa.
Tetapi justru itu yang membuat saya tersenyum.
Rumah saya kembali menjadi rumah.
Bukan karena hanya ada nama saya di sertifikat.
Bukan karena saya berhasil mempertahankan properti.
Dan bukan karena perceraian membuat saya “menang”.
Rumah itu kembali menjadi rumah karena saya akhirnya memahami satu hal:
Tempat aman bukan tempat yang tidak pernah didatangi orang lain.
Tempat aman adalah tempat di mana suara kita tidak dianggap gangguan.
Tempat di mana keputusan tentang hidup kita tidak dibuat diam-diam.
Tempat di mana kasih sayang tidak digunakan sebagai alasan untuk mengambil hak seseorang.
Dulu saya berpikir mempertahankan pernikahan berarti belajar mengalah.
Sekarang saya tahu ada perbedaan besar antara kompromi dan menyerahkan diri.
Kompromi terjadi ketika dua orang bicara.
Menyerah terjadi ketika satu orang memutuskan, lalu orang lain diminta menerima.
Hari saya pulang dari perjalanan dinas itu, saya kehilangan suami yang saya kira akan menemani saya sampai tua.
Tetapi saya mendapatkan kembali sesuatu yang bertahun-tahun perlahan hampir hilang.
Hak untuk menentukan batas hidup saya sendiri.
Dan anehnya, setelah semuanya selesai, saya tidak lagi membenci Arga.
Saya bahkan tidak membenci keluarganya.
Saya hanya berhenti bersedia menjadi tempat mereka meletakkan semua keputusan yang tidak ingin mereka tanggung sendiri.
Malam semakin larut.
Saya membuat secangkir teh.
Kemudian duduk di dekat jendela.
Di gedung seberang, satu per satu lampu apartemen menyala.
Saya teringat diri saya bertahun-tahun lalu.
Seorang perempuan muda yang pulang larut malam dengan sepatu murah, naik bus sambil membuka aplikasi properti, melihat foto-foto apartemen yang bahkan belum mampu dibelinya.
Saat itu saya hanya punya satu impian.
Suatu hari nanti, saya ingin memiliki sebuah rumah yang benar-benar terasa milik saya.
Saya tersenyum.
Ternyata untuk mendapatkannya, saya bukan hanya harus bekerja keras mengumpulkan uang.
Saya juga harus belajar mengatakan satu kalimat yang jauh lebih sulit:
Tidak.
Tidak untuk keputusan sepihak.
Tidak untuk rasa bersalah yang sengaja ditanamkan.
Tidak untuk alasan “keluarga” yang digunakan untuk menghapus batas.
Dan tidak untuk sebuah pernikahan yang meminta saya terus mengecil agar orang lain merasa nyaman.
Saya menyeruput teh perlahan.
Di meja dekat pintu, kunci apartemen memantulkan cahaya lampu.
Kecil.
Biasa.
Tidak istimewa bagi siapa pun.
Tetapi kali ini, ketika saya melihatnya, saya tahu satu hal dengan sangat jelas.
Saya tidak lagi sekadar memiliki tempat tinggal.
Saya akhirnya pulang.

