Bagian 3 — Satu Rekaman Dashcam, Satu Surat Warisan, dan Keputusan Cerai Membuat Keluarga Suamiku Kehilangan Semua yang Mereka Anggap Milik Sendiri Selama Bertahun-Tahun

Avatar penulis
Cerita 02
13 menit baca 1,131 tayangan
Bagian 3 — Satu Rekaman Dashcam, Satu Surat Warisan, dan Keputusan Cerai Membuat Keluarga Suamiku Kehilangan Semua yang Mereka Anggap Milik Sendiri Selama Bertahun-Tahun
Indeks

Bagian 3 — Satu Rekaman Dashcam, Satu Surat Warisan, dan Keputusan Cerai Membuat Keluarga Suamiku Kehilangan Semua yang Mereka Anggap Milik Sendiri Selama Bertahun-Tahun

Aku tidak langsung percaya perkataan Pak Damar.

Bukan karena beliau pernah berbohong kepadaku, tetapi karena selama tujuh tahun menikah dengan Arga, aku tidak pernah mendengar satu pun cerita tentang utang Rp2,4 miliar.

Aku tahu Ibu pernah membantu usaha Arga.

Empat tahun lalu, ketika perusahaan distribusi milik keluarga Wibisana hampir kehilangan gudang karena arus kas terganggu, Ibu memang menjual satu rumah kontrakan.

Saat itu Arga mengatakan Ibu hanya “menanam modal sementara”.

Aku pernah bertanya berapa jumlahnya.

Arga menjawab, “Urusan bisnis. Nanti kalau sudah stabil semua dikembalikan.”

Setelah itu aku tidak pernah membahasnya lagi.

Aku percaya pada suamiku.

Ibu rupanya tidak.

Malam itu aku tidak tinggal di rumah kami.

Aku pergi ke apartemen kecil milik Ibu di daerah Buah Batu yang beberapa bulan terakhir kosong karena beliau tinggal bersamaku selama masa pengobatan.

Pak Damar datang sekitar pukul sembilan bersama seorang staf.

Di atas meja makan, ia membuka map cokelat tebal.

Ada akta notaris.

Ada bukti transfer.

Ada surat pengakuan utang dari PT Wibisana Karya.

Ada tanda tangan Arga sebagai direktur operasional.

Ada tanda tangan ayahnya sebagai komisaris.

Dan ada satu dokumen jaminan terkait gudang perusahaan di Cimahi.

Aku membacanya pelan-pelan.

Rp2.400.000.000.

Bukan investasi.

Bukan hadiah.

Pinjaman.

Ibu memberikan masa pengembalian empat tahun dengan bunga sangat ringan karena beliau ingin membantu keluarga menantunya.

Mereka baru membayar Rp300 juta.

Sisanya masih lebih dari Rp2 miliar.

“Kenapa Ibu tidak pernah memberitahu saya?” tanyaku.

Pak Damar tersenyum tipis.

“Beliau pernah bilang, kalau keadaan rumah tangga Ibu baik, beliau tidak ingin uang mengganggu hubungan kalian.”

Dadaku terasa sesak.

“Lalu kenapa dokumen ini harus diberikan setelah pemakaman?”

Pak Damar membuka halaman terakhir.

Di sana ada catatan tulisan tangan Ibu.

Bukan surat panjang.

Hanya tiga kalimat.

Nadira mudah memaafkan orang yang dicintainya. Itu sifat baik, tetapi bisa menjadi celah untuk disakiti. Kalau suatu hari Mama tidak ada, jangan biarkan rasa sungkan membuatmu kehilangan hakmu sendiri.

Aku menutup mata.

Sepanjang pemakaman aku berhasil tidak menangis.

Malam itu, akhirnya aku menangis.

Bukan karena uang.

Bukan karena rumah tanggaku.

Aku menangis karena bahkan saat tubuhnya sudah semakin lemah, Ibu masih memikirkan cara melindungiku.

Sementara lelaki yang seharusnya menjadi keluargaku justru meninggalkan pemakamannya untuk menjaga perasaan perempuan lain.

Pagi berikutnya, ada dua puluh tiga panggilan tak terjawab dari Arga.

Bu Ratih mengirim sebelas pesan.

Tiga pesan pertama berisi kemarahan.

Pesan berikutnya berubah menjadi bujukan.

Nadira, soal utang itu urusan orang tua. Jangan dibawa ke masalah rumah tangga.

Kemudian:

Kita keluarga. Tidak baik bicara soal uang setelah ada orang meninggal.

Aku membaca kalimat itu cukup lama.

Kemarin, ketika Ibu dimakamkan, mereka mengatakan Ibu sudah meninggal sehingga terlambat dua puluh menit bukan masalah.

Hari ini, ketika utang Ibu harus dibayar, tiba-tiba orang yang meninggal harus sangat dihormati.

Aku memotret pesan tersebut dan menyimpannya.

Hari itu juga aku bertemu pengacara keluarga, Maya Santoso.

Aku hanya menyampaikan dua permintaan.

Pertama, proses perceraian.

Kedua, semua hak keuangan milik Ibu harus diselesaikan secara sah.

Maya bertanya, “Ibu ingin langsung mengeksekusi jaminan?”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

Ia terlihat sedikit terkejut.

“Saya beri mereka kesempatan sesuai perjanjian. Saya tidak ingin mengambil sesuatu yang bukan hak saya.”

Aku menatap dokumen di depanku.

“Tapi saya juga tidak akan menghapus satu rupiah pun hanya karena mereka keluarga.”

Tiga hari kemudian, surat resmi dikirim.

Arga datang malam itu.

Aku melihatnya melalui kamera pintu apartemen.

Ia berdiri hampir dua puluh menit sebelum akhirnya aku membuka pintu.

“Nadira.”

Matanya merah.

Entah karena kurang tidur atau marah.

“Aku cuma mau bicara.”

Aku tidak mempersilahkannya masuk.

“Bicara di sini.”

“Kamu benar-benar mengirim somasi ke perusahaan Papa?”

“Itu pemberitahuan kewajiban pembayaran.”

“Beda nama saja.”

“Tidak. Maknanya juga berbeda.”

Arga mengusap wajah.

“Perusahaan sedang tidak punya uang dua miliar.”

“Bukan masalah saya.”

“Nadira, puluhan karyawan bekerja di sana.”

“Karena itu saya tidak meminta semuanya dilunasi besok.”

Ia menatapku.

“Kamu tahu kalau gudang itu bermasalah, perusahaan bisa lumpuh.”

“Harusnya kalian memikirkan hal itu empat tahun lalu saat menerima uang Ibu.”

Arga terdiam.

Aku melanjutkan.

“Kamu juga seharusnya memikirkan uang sebelum mengambil Rp185 juta dari rekening kita.”

“Aku sudah bilang Kirana akan mengembalikan.”

“Sudah?”

Ia tidak menjawab.

Aku tersenyum tipis.

“Belum, kan?”

Arga menaikkan suara.

“Dia baru menikah tiga hari!”

“Dan Ibu saya baru dikuburkan tiga hari.”

Ia langsung diam.

Aku tidak ingin berteriak.

Anehnya, setelah semuanya terjadi, justru aku semakin tenang.

“Aku datang bukan untuk bertengkar,” katanya akhirnya.

“Lalu?”

“Pulang.”

Aku menatapnya.

Arga mendekat satu langkah.

“Kita sama-sama sedang emosional. Kamu kehilangan Ibu. Aku juga salah mengambil keputusan hari itu.”

“Salah keputusan yang mana?”

Ia tampak tidak nyaman.

“Meminta iring-iringan memutar.”

“Yang lain?”

“Nadira…”

“Pergi ke resepsi Kirana?”

Ia menarik napas.

“Dia tidak punya orang yang bisa mengatur vendor.”

“Yang lain?”

“Membayar kekurangan pestanya.”

“Yang lain?”

Ia mulai kehilangan kesabaran.

“Apa lagi yang kamu mau dengar?”

Aku mengambil ponsel.

Kemarin pihak rumah duka telah menghubungiku karena ada laporan internal soal perubahan jalur yang terjadi tanpa persetujuan keluarga inti.

Ternyata mobil paling depan memiliki dashcam.

Mereka memberikan salinan rekamannya.

Aku memutar satu bagian.

Suara Arga terdengar jelas.

Kalau Nadira marah, nanti aku bujuk. Yang penting Kirana jangan sampai stres hari ini. Suruh rombongan jenazah mundur dulu.

Wajahnya membeku.

Aku menghentikan video.

“Ini yang lain.”

“Nadira, waktu itu aku—”

“Tidak perlu menjelaskan.”

“Itu cuma kalimat spontan.”

“Tepat.”

Aku mengangguk.

“Orang biasanya paling jujur ketika menganggap kata-katanya tidak akan direkam.”

Ia memandangku lama.

“Kamu mau pakai video itu untuk menghancurkan aku?”

“Tidak.”

Aku menyimpan ponsel.

“Aku bahkan belum mengirimkannya kepada siapa pun.”

Wajahnya sedikit rileks.

Kemudian aku menambahkan:

“Tapi pengacaraku menyimpannya sebagai bukti.”

Arga pergi malam itu tanpa mendapatkan apa pun.

Dua hari kemudian Kirana menghubungiku.

Aku hampir tidak mengangkat.

“Nadira.”

Suaranya lembut.

“Aku mau bicara soal uang.”

“Silakan.”

“Aku baru tahu Arga mengambilnya dari rekening bersama kalian.”

Aku tertawa kecil.

“Benarkah?”

“Nadira, jangan begitu.”

“Bagaimana saya harus bersikap?”

Ia diam sebentar.

“Keluargaku memang kekurangan pembayaran karena ada perubahan dekorasi mendadak. Aku menelepon Arga karena dia kenal vendornya. Aku tidak menyangka dia akan membayar semuanya.”

“Tapi kamu menerima bantuannya.”

“Aku sedang menikah. Aku tidak mungkin mengecek sumber setiap uang masuk.”

“Benar.”

Aku tidak ingin berdebat panjang.

“Kapan kamu kembalikan Rp185 juta?”

“Kami tidak bisa sekaligus.”

“Berapa lama?”

“Enam bulan?”

“Tidak.”

“Nadira…”

“Tiga puluh hari. Kalau tidak, pengacara saya yang mengurus.”

Nada suaranya berubah.

“Kenapa sekarang kamu memperlakukan aku seperti penipu?”

Aku menatap balkon apartemen Ibu.

“Kirana, pada pagi ketika Ibu saya akan dimakamkan, kamu tahu siapa yang ada di dalam mobil jenazah.”

Ia tidak menjawab.

“Kamu tahu jadwal pemakamannya.”

Masih diam.

“Tapi kamu tetap memanggil suami saya karena ibumu takut rombongan pengantin berpapasan dengan mobil jenazah.”

Kirana akhirnya berkata, “Aku sedang berada di bawah tekanan.”

“Begitu juga saya.”

“Nadira, aku tidak pernah merebut Arga.”

“Aku tidak pernah mengatakan kamu merebutnya.”

Aku berhenti sebentar.

“Dia sendiri yang memilih datang kepadamu.”

Telepon langsung sunyi.

“Itulah alasan saya menceraikannya. Jadi tidak perlu khawatir. Saya tidak sedang bersaing denganmu.”

Aku menutup sambungan.

Seminggu kemudian, sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Suami Kirana, Bima, meminta bertemu.

Kami bertemu di sebuah kafe terbuka.

Ia membawa printout transfer.

“Saya sudah membayar Rp100 juta ke rekening Anda.”

Aku terkejut.

“Kenapa Anda?”

“Karena itu dipakai untuk acara pernikahan saya juga.”

Ia meletakkan dokumen di meja.

“Sisa Rp85 juta akan saya bayar bulan depan.”

Aku mengangguk.

“Terima kasih.”

Bima tidak langsung pergi.

Ia memandang cangkir kopinya.

“Saya baru mengetahui Arga datang ke tempat kami setelah meninggalkan pemakaman ibu Anda.”

Aku tidak menjawab.

“Kirana bilang sejak awal Arga hanya membantu jalur kendaraan.”

Ia menelan ludah.

“Ternyata setelah itu dia meminta Arga tetap di hotel.”

Aku mengangkat mata.

Bima membuka ponselnya.

Ada tangkapan layar percakapan.

Kirana:

Ga, jangan pergi dulu. Aku panik. Kalau kamu ada di sini aku lebih tenang.

Arga:

Tapi pemakaman belum selesai.

Kirana:

Nadira kan bersama keluarganya. Tolong hari ini pilih aku dulu. Cuma hari ini.

Balasan berikutnya dari Arga hanya tiga kata.

Oke. Aku tinggal.

Aku membaca tanpa ekspresi.

Bima bertanya, “Anda sudah tahu?”

“Tidak.”

Ia tertawa hambar.

“Saya juga tidak.”

Ternyata rumah tangga Kirana sendiri mulai retak hanya beberapa hari setelah pesta megah itu.

Bukan karena aku.

Bukan karena mobil jenazah.

Tetapi karena Bima baru menyadari istrinya masih menggantungkan kestabilan emosinya kepada lelaki lain, bahkan di hari pernikahan mereka sendiri.

“Apa Anda mau saya kirim percakapannya?” tanyanya.

Aku menggeleng.

“Simpan untuk urusan rumah tangga Anda. Saya sudah punya cukup alasan untuk pergi.”

Bima menatapku beberapa detik lalu mengangguk.

“Saya minta maaf atas apa yang terjadi pada hari pemakaman ibu Anda.”

Itulah pertama kalinya seseorang dari pihak pesta itu meminta maaf kepadaku.

Bukan suamiku.

Bukan mertuaku.

Justru lelaki yang baru mengenalku.

Proses perceraian dimulai.

Arga menolak.

Dalam mediasi ia mengatakan masih mencintaiku.

Ia mengatakan tujuh tahun pernikahan tidak pantas dihancurkan oleh “satu kesalahan pada hari yang buruk”.

Aku duduk di seberangnya.

“Kalau memang hanya satu kesalahan, sebutkan kesalahannya.”

Arga terdiam.

Aku menyebutkannya satu per satu.

“Kamu menyuruh jenazah Ibu memutar dua belas kilometer.”

“Kamu mengatakan orang yang sudah meninggal tidak akan tahu.”

“Kamu meninggalkan pemakamannya.”

“Kamu mengambil uang rekening bersama tanpa bicara denganku.”

“Kamu membayar pernikahan Kirana sebelum membayar pemakaman Ibu.”

“Kamu berbohong bahwa semua biaya pemakaman sudah diselesaikan.”

“Kamu memilih tetap berada di resepsi setelah Kirana meminta kamu memilih dia.”

Aku memandangnya.

“Mana yang satu?”

Mediator terdiam.

Arga tidak bisa menjawab.

Sebulan kemudian, pembayaran utang perusahaan juga jatuh tempo.

Keluarga Wibisana meminta pertemuan.

Bu Ratih hadir bersama suaminya, Arga, akuntan perusahaan, dan pengacara.

Mereka menawarkan mencicil selama lima tahun.

Pengacaraku menolak.

Perjanjian lama sudah memberi mereka empat tahun.

Bu Ratih akhirnya kehilangan kesabaran.

“Ratna itu besan kami! Kalau dia masih hidup, dia tidak mungkin setega ini.”

Aku menatapnya.

“Saya tahu.”

Bu Ratih terlihat yakin aku akan mengalah.

Lalu aku melanjutkan.

“Kalau Ibu masih hidup, beliau mungkin akan memberi waktu lagi. Itu sebabnya kalian berani menunda selama empat tahun.”

Wajahnya berubah.

“Saya tidak sebaik Ibu.”

Aku mendorong proposal pembayaran ke tengah meja.

“Dua belas bulan. Ada pembayaran awal empat ratus juta. Sisanya dicicil sesuai jadwal. Kalau satu kali saja lewat tanpa alasan yang disepakati tertulis, pengacara saya menjalankan hak sesuai perjanjian.”

Ayah Arga membaca dokumen itu lama sekali.

Akhirnya ia menandatangani.

Untuk mendapatkan pembayaran pertama, keluarga Wibisana menjual satu SUV perusahaan dan sebidang tanah yang selama ini akan mereka jadikan rumah liburan.

Aku tidak merasa senang melihatnya.

Aku hanya merasa sesuatu yang memang seharusnya kembali akhirnya kembali.

Namun konsekuensi bagi Arga belum selesai.

Ternyata transfer Rp185 juta kepada wedding organizer dilakukan dari rekening rumah tangga tepat pada minggu ketika perusahaan sedang meminta tambahan fasilitas kredit.

Audit internal perusahaan menemukan Arga juga beberapa kali menggunakan kendaraan dan staf kantor untuk urusan pribadi Kirana.

Ayahnya murka.

Dua bulan kemudian Arga dicopot dari posisi direktur operasional.

Ia masih memiliki saham.

Tetapi tidak lagi memegang kendali harian.

Bu Ratih meneleponku sambil menangis.

“Kamu puas sekarang?”

Aku menjawab jujur.

“Tidak.”

“Arga kehilangan jabatan gara-gara kamu.”

“Bukan.”

Aku memandang dokumen audit yang bahkan bukan aku yang membuatnya.

“Arga kehilangan jabatan karena keputusan Arga.”

“Kamu bisa mencabut tuntutan utang.”

“Tidak.”

“Kamu bisa menghentikan perceraian.”

“Tidak.”

“Nadira, keluarga tidak saling menghancurkan!”

Aku terdiam sebentar.

Lalu menjawab:

“Saya setuju.”

Aku memandang foto Ibu di meja.

“Itu sebabnya saya pergi ketika sadar saya sudah bukan keluarga di mata kalian.”

Aku memutus telepon.

Empat bulan setelah pemakaman Ibu, putusan perceraian akhirnya keluar.

Hari itu hujan.

Aku berdiri di depan gedung pengadilan dengan payung hitam.

Arga mengejarku sampai tangga.

“Nadira!”

Aku berhenti.

Tubuhnya terlihat lebih kurus.

Ia sudah tidak mengenakan jam mahal yang biasanya tak pernah lepas dari pergelangan tangannya.

“Nadira, tunggu.”

“Ada apa?”

Ia berdiri sekitar satu meter dariku.

Untuk pertama kali sejak semua ini dimulai, tidak ada kemarahan di wajahnya.

“Aku putus hubungan dengan Kirana.”

Aku mengerutkan kening.

“Kenapa memberitahu saya?”

“Aku pikir kamu perlu tahu.”

“Saya tidak perlu.”

“Nadira…”

Ia menatap tanah.

“Kirana dan Bima juga sedang menjalani konseling pernikahan. Aku sudah tidak berhubungan dengannya.”

Aku mengangguk.

“Semoga itu membantu mereka.”

Ia menatapku, seolah menunggu sesuatu.

Aku tidak memberikan apa-apa.

“Nadira, aku benar-benar menyesal.”

Kali ini suaranya pecah.

“Aku baru sadar aku terus menganggap kamu akan selalu ada.”

Aku tetap diam.

“Aku pikir kalau aku menemani Kirana beberapa jam, aku bisa pulang dan minta maaf kepadamu.”

Arga tersenyum pahit.

“Aku pikir kamu akan marah dua hari, mungkin seminggu. Lalu semuanya kembali seperti biasa.”

Aku memandangnya.

“Justru itu masalahnya.”

“Apa?”

“Kamu yakin saya akan selalu memaafkan.”

Ia menunduk.

“Aku salah.”

“Iya.”

“Apa benar sudah tidak ada kemungkinan sama sekali?”

Aku melihat hujan turun di halaman.

Kemudian teringat suara tanah ketika jatuh di atas peti Ibu.

Teringat diriku berdiri sendirian.

Teringat pesan Arga:

Jangan memperbesar masalah.

Ada sesuatu dalam diriku yang sudah selesai pada hari itu.

“Arga.”

Ia menatapku.

“Kalau kamu memilih Kirana untuk makan malam, mungkin saya masih bisa memaafkan.”

Ia diam.

“Kalau kamu lupa ulang tahun saya karena sibuk membantunya, mungkin saya masih bisa marah lalu memaafkan.”

Aku menarik napas.

“Tapi kamu membuat Ibu saya mengalah di perjalanan terakhirnya.”

Matanya memerah.

“Saya tidak punya perjalanan terakhir kedua untuk memperbaiki itu.”

Arga mulai menangis.

Aku tidak membencinya.

Anehnya, aku juga tidak merasa menang.

Aku hanya membuka payung dan berjalan pergi.

Enam bulan kemudian, cicilan utang perusahaan berjalan lancar.

Aku menggunakan sebagian uang yang kembali untuk melunasi semua biaya pengobatan dan pemakaman Ibu.

Sisanya tidak langsung kubelanjakan.

Aku mengambil satu keputusan yang selama bertahun-tahun selalu Ibu dorong tetapi tidak pernah sempat kulakukan.

Aku menghidupkan kembali bengkel batik kecil milik beliau.

Dulu tempat itu hanya memiliki empat pekerja.

Aku merenovasinya, menambah ruang produksi, lalu membuka kelas keterampilan bagi ibu rumah tangga yang ingin memiliki penghasilan sendiri.

Aku menamai tempat itu Rumah Ratna.

Bukan perusahaan besar.

Bukan bisnis miliaran.

Namun setiap pagi ketika pintunya dibuka dan suara mesin jahit mulai terdengar, aku merasa Ibu masih meninggalkan sesuatu yang hidup.

Setahun setelah hari pemakamannya, aku kembali ke makam.

Aku membawa bunga melati dan sedap malam.

Aku membersihkan batu nisannya, duduk di rumput, lalu bercerita seperti dulu.

Tentang perceraian.

Tentang usaha.

Tentang utang yang hampir selesai dibayar.

Tentang Tante Mira yang sekarang menjadi kepala produksi dan terlalu galak kepada pemasok.

Aku tertawa sendiri.

Sebelum pulang, aku mengusap nama Ibu di batu nisan.

“Ma, ternyata aku bisa.”

Angin bergerak pelan di antara pepohonan.

Tentu saja tidak ada jawaban.

Aku juga tidak membutuhkan jawaban.

Ketika berjalan menuju parkiran, aku melihat sebuah mobil hitam berhenti beberapa meter dari pintu masuk.

Arga turun.

Kami sama-sama berhenti.

Ia membawa seikat bunga.

Aku tidak bertanya untuk siapa.

Ia pun tidak mendekat.

Kami hanya saling mengangguk.

Kemudian aku berjalan lebih dulu.

Dulu aku mengira akhir sebuah pernikahan selalu terasa seperti kehancuran.

Ternyata tidak.

Kadang-kadang kehancuran sudah terjadi jauh sebelumnya.

Perceraian hanya saat ketika kita berhenti berdiri di tengah reruntuhan dan akhirnya memilih keluar.

Hari ketika Arga menyuruh iring-iringan pemakaman Ibu mundur bukanlah hari ketika aku kehilangan suami.

Hari itu aku justru melihat dengan sangat jelas bahwa lelaki yang kuanggap suami telah lama menempatkanku di urutan kedua.

Aku hanya terlalu sibuk mencintainya untuk menyadarinya.

Sekarang aku tidak lagi memakai cincin pernikahan.

Aku tidak lagi menunggu seseorang memilihku.

Aku punya rumah yang tenang.

Pekerjaan yang kubangun dengan namaku sendiri.

Orang-orang yang memperlakukanku sebagai keluarga tanpa meminta aku terus mengalah.

Dan setiap kali melewati jalan tempat iring-iringan Ibu pernah dipaksa berhenti, aku tidak lagi mengingat Kirana atau Arga terlebih dahulu.

Aku mengingat Ibu.

Karena pada akhirnya, perjalanan terakhir beliau memang sempat dihentikan seseorang.

Tetapi hidupku tidak.

Dan kali ini, ke mana pun aku pergi, tidak akan ada lagi orang yang bisa menyuruhku mundur.