Bagian 3 — Satu Tagihan Pinjaman Membongkar Ke Mana Uang Rumah Tangga Sebenarnya Pergi
Aku tidak menangis.
Aneh sekali.
Saat seseorang menyadari identitasnya dipakai untuk utang puluhan juta tanpa izin, aku membayangkan seharusnya ada jeritan, piring pecah, atau setidaknya air mata.
Tapi aku justru menjadi tenang.
Terlalu tenang.
Aku melipat surat penagihan itu dan memasukkannya ke saku bajuku.
Dimas bergerak mendekat.
“Kasih ke saya.”
“Tidak.”
“Nisa.”
“Aku bilang tidak.”
Bu Ratna memukul meja.
“Jangan kurang ajar! Itu urusan keluarga!”
Aku menatap beliau.
“Utang atas nama saya bukan urusan keluarga. Itu urusan saya.”
Mira sudah mulai menangis.
Salon yang dimaksud ternyata sebuah usaha kecil di daerah Waru.
Selama dua bulan terakhir, ia dan temannya menyewa ruko, membeli kursi salon, cermin besar, alat manicure, hair steamer, dan pendingin ruangan.
Aku ingat semua foto yang Mira unggah.
Aku bahkan pernah mengucapkan selamat.
Katanya, modal itu berasal dari tabungan.
Ternyata sebagian besar memakai namaku.
“Berapa uang yang kalian ambil?” tanyaku.
Dimas menjawab cepat.
“Bukan ambil.”
“Berapa?”
“Sekitar tiga puluh.”
“Suratnya hampir tiga puluh sembilan juta.”
“Ada bunga sama biaya administrasi.”
Aku menoleh kepadanya perlahan.
“Kamu tahu sampai detail bunganya.”
Ia diam.
Berarti bukan sekadar tahu.
Dia terlibat.
Mira mengusap air mata.
“Kak, aku pasti bayar.”
“Kapan?”
“Salon baru jalan.”
“Kapan?”
Ia tidak menjawab.
Bu Ratna malah menyela,
“Kalau kamu tidak egois, harusnya kamu senang bisa bantu adik.”
Aku hampir tidak percaya.
“Membantu itu kalau saya setuju.”
“Kamu kan tidak punya penghasilan.”
Kalimat itu meluncur begitu saja.
Sederhana.
Tapi itulah inti dari semuanya.
Karena aku tidak punya penghasilan, mereka menganggap aku tidak punya hak.
Tidak punya penghasilan berarti tidak perlu dihormati.
Tidak punya penghasilan berarti tidak perlu ditanya.
Tidak punya penghasilan berarti KTP-ku bisa dipakai.
Tanda tanganku bisa ditiru.
Namaku bisa dijadikan jaminan.
Dan kalau suatu hari semuanya runtuh, mungkin aku pula yang akan dituduh tidak tahu berterima kasih.
Aku mengambil ponsel.
Dimas langsung tegang.
“Mau telepon siapa?”
“Koperasinya.”
“Jangan dulu.”
“Kenapa?”
“Kita selesaikan sendiri.”
Aku menatap matanya.
“Mas, kalian bahkan tidak berniat memberi tahu saya.”
“Nanti saya bayar.”
“Pakai uang apa?”
“Gaji saya.”
“Gaji yang sama yang katanya cuma cukup memberi istri dan dua anak uang belanja sembilan ratus ribu?”
Wajah Dimas memerah.
“Nisa, jangan bikin masalah tambah besar.”
Aku tersenyum.
“Kalian sudah membuat masalahnya besar sebelum saya tahu.”
Aku masuk kamar dan mengunci pintu.
Di sana, tanganku baru mulai gemetar.
Aku mengambil napas panjang.
Lalu menelepon satu-satunya orang yang terpikir olehku.
Kakakku, Arif.
Kami tidak terlalu dekat selama beberapa tahun terakhir.
Bukan karena bertengkar.
Dimas hanya tidak menyukai kalau keluargaku terlalu banyak tahu urusan rumah tangga kami.
Awalnya aku menganggap itu wajar.
Setelah menikah, katanya, masalah suami istri jangan dibawa ke keluarga masing-masing.
Sekarang aku mengerti: orang yang ingin mengendalikanmu sering kali paling nyaman ketika kamu jauh dari orang-orang yang mungkin menolongmu.
“Kak?”
“Nisa? Kenapa suaramu?”
Aku terdiam beberapa detik.
Lalu semuanya keluar.
Kartu diblokir.
Buku merah.
Uang belanja.
Pembalut ditolak.
Transfer untuk mertua.
Dan utang atas namaku.
Arif tidak memotong sekali pun.
Setelah aku selesai, ia hanya bertanya,
“Kamu sama anak-anak aman?”
Pertanyaan itu membuat tenggorokanku tercekat.
“Aman.”
“Dokumennya kamu pegang?”
“Surat koperasi saya pegang.”
“Foto semua.”
“Saya sudah foto sebagian.”
“Jangan tanda tangan apa pun. Jangan kasih dokumen aslinya ke mereka. Besok pagi Kakak datang.”
Aku menolak.
“Jangan datang dulu.”
“Kenapa?”
“Kalau mereka tahu aku mulai bergerak, bukti bisa dihilangkan.”
Arif diam cukup lama.
Kemudian suaranya berubah serius.
“Oke. Tapi kalau ada ancaman fisik sedikit saja, telepon.”
Malam itu aku tidak tidur.
Aku membuat folder tersembunyi di cloud.
Namanya sengaja kuberi judul “Resep MPASI”.
Di dalamnya kumasukkan semua foto.
Surat koperasi.
Buku merah.
Chat Dimas.
Foto rak dapur kosong.
Nota belanja.
Catatan biaya sekolah.
Semua.
Aku juga mengirim salinan kepada Arif.
Keesokan paginya, aku menelepon nomor koperasi yang tertulis di surat.
Petugas bernama Pak Yudi mengonfirmasi adanya pinjaman atas namaku.
Tanggal pencairannya empat bulan lalu.
Dana dicairkan ke rekening bank atas nama…
Mira Puspitasari.
Aku langsung merasa mual.
“Pak, saya tidak pernah datang mengajukan pinjaman.”
Petugas itu terdiam.
“Tidak pernah?”
“Tidak.”
“Ada tanda tangan Ibu.”
“Dipalsukan.”
Ia meminta aku datang ke kantor membawa KTP asli dan membuat laporan keberatan.
Aku datang dua hari kemudian dengan alasan membawa Raka imunisasi.
Arif menunggu di dekat kantor koperasi.
Saat melihatku, ia tidak banyak bicara.
Hanya memelukku.
Sudah bertahun-tahun aku tidak dipeluk kakakku sendiri.
Aku hampir menangis di tempat.
Di kantor koperasi, situasinya lebih buruk dari yang kukira.
Formulir memang memakai fotokopi KTP-ku.
Namun nomor telepon yang terdaftar adalah nomor Dimas.
Kontak darurat adalah Bu Ratna.
Rekening pencairan milik Mira.
Dan yang menyerahkan berkas bukan aku.
Menurut pegawai, berkas dibawa seorang pria yang mengaku suamiku.
“Kami salah karena tidak melakukan verifikasi tatap muka dengan benar,” kata manajer koperasi. “Kami akan investigasi.”
Aku meminta salinan dokumen.
Mereka memberikannya setelah aku menandatangani surat keberatan resmi.
Dari sana aku pergi ke kantor bantuan hukum yang direkomendasikan Arif.
Aku tidak langsung ingin bercerai.
Setidaknya saat itu belum.
Aku ingin tahu pilihan yang kupunya.
Pengacara perempuan bernama Mbak Lestari mendengarkan semuanya.
“Kekerasan dalam rumah tangga tidak selalu berupa pukulan,” katanya.
“Ada kontrol ekonomi. Pembatasan akses kebutuhan dasar. Penyalahgunaan identitas. Semua itu perlu didokumentasikan.”
Aku mengangguk.
“Kalau saya mau membawa anak-anak ke rumah kakak saya?”
“Selama tidak ada putusan pengadilan yang melarang dan anak-anak aman, situasinya harus dilihat secara konkret. Tetapi jangan hilangkan akses secara sewenang-wenang. Simpan bukti bahwa keputusan dibuat karena kondisi rumah.”
Aku pulang sore itu membawa map tebal.
Di rumah, semua terlihat normal.
Bu Ratna sedang menggoreng pisang.
Dimas bermain ponsel.
Mira tidak ada.
Aku hampir tertawa melihatnya.
Mereka makan, berbicara, dan menonton televisi seperti tidak terjadi apa-apa.
Sementara namaku menanggung utang puluhan juta.
Malamnya Dimas mendekatiku.
“Nisa.”
Aku sedang melipat baju Alya.
“Apa?”
“Koperasi tadi telepon saya.”
Tanganku berhenti.
“Mereka bilang kamu datang.”
“Benar.”
Wajahnya berubah.
“Kamu sengaja bikin saya malu?”
“Kenapa kamu malu kalau kamu merasa tidak salah?”
“Nisa!”
Alya yang sedang tidur di samping Raka bergerak.
Aku menunjuk pintu.
“Kalau mau bicara, di luar.”
Di ruang tengah, Bu Ratna sudah menunggu.
Tentu saja.
Dimas langsung berkata,
“Kamu cabut laporan keberatan besok.”
“Tidak.”
“Itu utang keluarga.”
“Bukan.”
“Mira akan bayar.”
“Kapan?”
“Begitu salon jalan.”
“Kalau gagal?”
Dimas diam.
Aku melanjutkan,
“Nama saya yang masuk daftar penagihan. Bukan Mira.”
Bu Ratna mendekat.
“Kamu mau bikin adiknya suamimu dipenjara?”
“Aku belum melaporkan polisi.”
“Kalau begitu jangan!”
“Aku baru menyatakan bahwa pinjaman itu bukan milikku.”
“Bedanya apa?”
Aku menatapnya.
“Bedanya, saya tidak mau membayar utang yang saya tidak pernah buat.”
Bu Ratna tiba-tiba menangis.
Air matanya muncul cepat sekali.
“Kamu tega sekali sama keluarga.”
Dimas langsung merangkul ibunya.
Lalu ia menatapku dengan kebencian yang membuatku benar-benar sadar bahwa pernikahan kami mungkin sudah selesai.
“Lihat Ibu sampai menangis.”
Aku tidak bergerak.
“Ibu menangis karena kebohongan kalian ketahuan.”
Dimas melangkah mendekat.
Jarak kami tinggal beberapa sentimeter.
“Saya kasih kamu rumah.”
“Rumah ini masih kredit.”
“Saya kasih kamu makan.”
“Uang makan dikunci Ibu.”
“Saya biayai hidup kamu.”
“Kamu yang meminta saya berhenti kerja.”
“Karena kamu tidak sanggup bagi waktu!”
Aku menatapnya.
“Jangan ubah sejarah.”
Empat tahun lalu aku mendapat tawaran menjadi supervisor administrasi.
Gajinya memang tidak sebesar Dimas, tetapi cukup.
Aku bahkan sudah menemukan daycare dekat kantor.
Dimas yang keberatan.
Ia bilang anak-anak akan “dibesarkan orang lain”.
Ia bilang istrinya bekerja membuat rumah berantakan.
Ia bilang penghasilannya cukup.
Aku menurut.
Sekarang keputusan itu dipakai sebagai senjata untuk merendahkanku.
Dimas mengepalkan rahang.
“Mulai sekarang saya tidak kasih uang sama sekali.”
Aku terdiam.
Ia mengira aku takut.
Bu Ratna terlihat puas.
“Biar dia tahu hidup pakai uang siapa.”
Aku mengangguk pelan.
“Baik.”
Dimas seperti tidak menyangka.
“Baik?”
“Iya.”
Aku masuk kamar.
Malam itu aku membuka laptop lama.
Laptop tersebut sudah hampir setahun tidak kupakai.
Aku mengecek surel.
Ada puluhan pesan.
Salah satunya dari mantan atasanku, Bu Siska.
Enam bulan sebelumnya, ia pernah menghubungiku.
Kalau kapan-kapan kamu mau kerja remote lagi, kabari. Kami butuh orang yang paham pembukuan vendor lama.
Saat itu aku tidak menjawab karena Dimas bilang,
“Untuk apa? Saya masih bisa kasih makan.”
Sekarang aku membalas.
Bu, apakah tawaran pekerjaan remote itu masih ada? Saya siap mulai secepatnya.
Jawabannya datang dua puluh menit kemudian.
Kebetulan sekali. Besok bisa video call?
Aku tersenyum untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu.
Tiga hari kemudian aku mulai bekerja dari rumah diam-diam.
Bukan pekerjaan penuh waktu.
Empat jam sehari.
Mengurus rekonsiliasi invoice dan data vendor.
Gaji awal Rp4,8 juta.
Aku bekerja saat Raka tidur siang dan malam setelah anak-anak tidur.
Laptop kusimpan di tas pakaian.
Honor pertama masuk ke rekening pribadiku.
Rekening yang tidak diketahui Dimas.
Sebagian langsung kupindahkan menjadi dana darurat.
Sebagian kubelikan pembalut, vitamin anak, makanan bergizi, dan beberapa kebutuhan yang selama ini ditolak.
Aku menyimpannya di rumah Arif.
Tidak ada satu rupiah pun kupakai untuk gaya hidup.
Aku sedang membangun pintu keluar.
Dua minggu kemudian, konflik berikutnya datang.
Alya demam tinggi.
Hampir 39 derajat.
Aku ingin membawanya ke klinik anak.
Bu Ratna berkata,
“Kasih paracetamol dulu. Klinik mahal.”
“Alya mengeluh telinganya sakit.”
“Anak kecil memang begitu.”
Aku mengambil tas.
Dimas menghalangi pintu.
“Pakai BPJS besok.”
“Sekarang dia demam tinggi.”
“UGD juga belum tentu perlu.”
Aku menatapnya.
“Geser.”
“Kamu jangan lebay.”
Saat itulah Alya muntah di lantai.
Aku langsung mengangkatnya.
Dimas masih diam.
Aku mengeluarkan ponsel dan memesan mobil online.
“Bayar pakai apa?” sindir Bu Ratna.
Aku menatap beliau.
“Uang saya.”
Wajah Dimas berubah.
“Uang dari mana?”
Aku tidak menjawab.
Di klinik, dokter mengatakan Alya mengalami infeksi telinga dan harus minum antibiotik.
Tidak sampai keadaan gawat.
Tetapi menunda pemeriksaan jelas tidak membantu.
Biaya konsultasi, obat, dan transportasi sekitar Rp430 ribu.
Aku membayar sendiri.
Dalam perjalanan pulang, Alya tertidur di bahuku.
Aku menatap wajahnya.
Aku tahu.
Aku tidak bisa membiarkan anak-anakku belajar bahwa cinta berarti seseorang boleh mengontrol makananmu, obatmu, tubuhmu, dan uangmu.
Begitu kami tiba, Dimas sudah menunggu di ruang tamu.
“Dari mana uang kamu?”
“Aku kerja.”
Semua orang diam.
“Apa?”
“Aku kerja remote.”
“Sejak kapan?”
“Dua minggu.”
Dimas tertawa sinis.
“Diam-diam?”
“Aku perlu uang karena kamu berhenti memberi kebutuhan rumah.”
“Kamu tidak izin saya.”
Aku menatapnya.
“Saya tidak perlu izin suami untuk bekerja secara sah.”
Bu Ratna langsung menyela,
“Perempuan kalau sudah punya uang memang mulai melawan.”
Aku meletakkan tas obat Alya di meja.
“Saya melawan bukan karena punya uang.”
Aku menatap Dimas.
“Saya mulai punya uang karena kalian memaksa saya berhenti bergantung.”
Dimas merebut laptop dari tasku.
“Besok berhenti.”
Aku mengambilnya kembali.
“Jangan sentuh.”
Ia mencengkeram pergelangan tanganku.
Tidak sampai memukul.
Tapi cukup keras membuatku terkejut.
Alya yang baru terbangun melihat kami.
“Papa, jangan!”
Dimas langsung melepaskan tangan.
Semua sunyi.
Aku menunduk.
Bekas jarinya mulai muncul di kulitku.
Aku memotretnya.
Di depan mereka semua.
Klik.
Wajah Dimas berubah.
“Kamu ngapain?”
“Dokumentasi.”
Bu Ratna berdiri.
“Kamu mau fitnah anak saya?”
Aku tidak menjawab.
Aku membawa Alya masuk kamar.
Malam itu aku menelepon Arif.
“Kak.”
“Iya.”
“Besok saya keluar.”
Pukul enam pagi berikutnya, aku sudah memasukkan pakaian anak-anak ke dua koper.
Dokumen asli.
Akta lahir.
Buku kesehatan.
Ijazahku.
Laptop.
Obat.
Beberapa mainan Alya.
Aku tidak mengambil barang Dimas.
Tidak mengambil perhiasan keluarga.
Tidak mengambil uang tunai di rumah.
Hanya milikku dan anak-anak.
Saat mobil Arif berhenti di depan rumah, Dimas baru bangun.
Ia berdiri di pintu kamar dengan wajah pucat.
“Kamu mau ke mana?”
“Ke rumah Kak Arif.”
“Anak-anak tidak boleh ikut.”
Alya langsung memegang bajuku.
Aku mengaktifkan perekam suara.
“Saya membawa mereka sementara karena kondisi rumah tidak kondusif dan kemarin kamu mencengkeram saya di depan Alya.”
Dimas menatap ponselku.
“Kamu sudah gila.”
Bu Ratna keluar dari kamar.
Begitu melihat koper, beliau berteriak,
“Kalau keluar, jangan kembali lagi!”
Aku mengangguk.
“Baik.”
Mungkin beliau berharap aku menangis.
Aku tidak.
Ketika aku hampir mencapai pagar, Mira datang dengan motor.
Ia turun tergesa-gesa.
“Kak Nisa!”
Aku menoleh.
Wajahnya sangat pucat.
“Jangan pergi dulu.”
“Ada apa?”
Ia memegang lenganku.
“Aku perlu bicara.”
“Sekarang bukan waktunya.”
“Ini soal pinjaman.”
Aku berhenti.
Mira menelan ludah.
“Bukan cuma satu.”
Dunia seperti membeku sesaat.
“Apa maksudmu?”
Matanya mulai berair.
“Mas Dimas dan Ibu juga pakai data Kakak untuk pengajuan lain.”
Dimas dari teras langsung membentak,
“Mira! Diam!”
Tapi Mira sudah menangis.
Ia mengeluarkan ponselnya.
“Aku simpan chat-nya.”
Ia menunjukkan sebuah percakapan keluarga.
Foto KTP-ku.
Foto tanda tanganku.
Dan satu kalimat dari Dimas.
“Pakai nama Nisa saja. Dia nggak akan cek.”
Aku membaca kalimat itu sekali.
Lalu sekali lagi.
Di bawahnya ada pesan Bu Ratna.
“Yang penting cicilan jangan sampai dia tahu.”
Aku mengangkat kepala.
Dimas tidak lagi berani menatapku.
Dan di detik itu, keputusan terakhirku dibuat.
Aku tidak sedang meninggalkan rumah karena uang belanja.
Aku sedang menyelamatkan diriku dari orang-orang yang sudah memutuskan bahwa hidupku adalah aset milik mereka.

