Bagian 3 — Tanda Tanganku Dipalsukan, dan Rahasia Perusahaan Ardi Mulai Terbuka Satu per Satu

Avatar penulis
Cerita 02
10 menit baca 477 tayangan
Bagian 3 — Tanda Tanganku Dipalsukan, dan Rahasia Perusahaan Ardi Mulai Terbuka Satu per Satu
Indeks

Bagian 3 — Tanda Tanganku Dipalsukan, dan Rahasia Perusahaan Ardi Mulai Terbuka Satu per Satu

Aku tidak tidur sampai pagi.

Setiap kali memejamkan mata, yang kulihat bukan wajah Ardi.

Melainkan tanda tangan palsu itu.

Bentuk huruf D dibuat terlalu bulat.

Tarikan akhir namaku terlalu panjang.

Siapa pun yang hanya pernah melihat tanda tanganku beberapa kali mungkin akan menganggapnya asli.

Tetapi aku sudah menandatangani namaku sendiri selama tiga puluh tujuh tahun.

Aku tahu setiap lekuknya.

Pukul enam pagi, aku membuat kopi, lalu membuka kembali seluruh dokumen perusahaan yang masih tersimpan di cloud lama.

PT Pratama Interior Nusantara didirikan delapan tahun lalu.

Waktu itu Ardi bahkan belum memiliki kantor.

Dia menerima pesanan kitchen set dari garasi rumah kontrakan kami.

Modal awal berasal dari tiga sumber.

Tabungan Ardi: Rp180 juta.

Pinjaman tanpa bunga dari ayahku: Rp600 juta.

Dan investasiku sendiri sebesar Rp420 juta dari hasil menjual sebuah apartemen studio yang kubeli sebelum menikah.

Karena itu namaku masuk sebagai pemegang tiga puluh lima persen saham.

Ardi memegang lima puluh lima persen.

Sepuluh persen lainnya dulu dimiliki mendiang kakaknya, Dimas, suami Maya.

Setelah Dimas meninggal, saham tersebut masuk ke proses waris dan belum pernah benar-benar dibahas lagi denganku.

Selama bertahun-tahun aku memilih tidak ikut campur operasional.

Kesalahan terbesar dalam hidupku.

Aku terlalu percaya pada kalimat:

“Aku suamimu. Masa kamu tidak percaya?”

Jam tujuh lewat tiga puluh, Rendra datang ke apartemen bersama seorang perempuan bernama Siska, pengacara yang sudah lama menangani urusan perusahaan keluarga kami.

Aku langsung menunjukkan dokumen itu.

Siska tidak memberikan kesimpulan terburu-buru.

Ia hanya bertanya, “Ibu pernah memberikan surat kuasa untuk menjaminkan ruko?”

“Tidak.”

“Pernah menandatangani persetujuan pemegang saham khusus untuk fasilitas kredit ini?”

“Tidak.”

“Pernah menyerahkan sertifikat asli?”

“Sertifikat disimpan di safe deposit box atas namaku.”

Siska dan Rendra saling pandang.

Rendra kemudian berkata, “Aku sudah mengirim pesan internal ke tim yang menangani proposal itu. Bukan untuk menolak kreditnya, tapi menghentikan sementara proses sampai legalitas dokumen diklarifikasi.”

Aku mengangguk.

“Bagus.”

“Aku perlu menegaskan satu hal,” katanya. “Aku tidak boleh menggunakan posisiku untuk balas dendam kepada Ardi.”

“Aku tidak meminta itu.”

“Kalau dokumen ini sah, proses bisa lanjut.”

“Kalau palsu?”

“Bank punya prosedur sendiri.”

Siska menambahkan, “Dan kamu punya jalur hukum sendiri.”

Aku menatap dokumen di layar.

Anehnya, aku tidak merasa takut.

Justru sangat tenang.

Selama bertahun-tahun Ardi selalu membuatku merasa bergantung kepadanya.

Seolah semua pintu hidupku hanya bisa terbuka jika dia mengizinkan.

Pagi itu aku mulai memahami sesuatu.

Aku tidak pernah kehilangan kemampuan untuk berdiri sendiri.

Aku hanya terlalu lama diyakinkan bahwa aku sudah kehilangannya.

Sekitar pukul sembilan, ponselku mulai berdering.

Ardi.

Kubiarkan.

Dua menit kemudian dia menelepon lagi.

Lalu lagi.

Pada panggilan kelima, aku mengangkatnya.

“Apa?”

Suara Ardi langsung meledak.

“Kamu ngomong apa ke kakakmu?”

Aku melihat Rendra.

Dia memberi isyarat agar aku tetap tenang.

“Aku tidak mengerti.”

“Jangan pura-pura bodoh! Bank menahan proses kredit perusahaan!”

“Oh.”

“OH?”

Aku menjauhkan telepon dari telinga.

Ardi berteriak sangat keras.

“Proyek hotel di Bandung sudah jalan! Supplier menunggu pembayaran! Kalau pencairan mundur, perusahaan bisa kena penalti miliaran!”

“Lalu?”

“Suruh kakakmu buka lagi prosesnya!”

Aku tersenyum tipis.

“Kenapa harus aku?”

“Karena kamu yang mengacaukannya!”

“Tidak.”

Aku melihat layar laptop.

“Yang mengacaukannya adalah orang yang mencantumkan aset milikku sebagai jaminan tanpa izin.”

Telepon langsung sunyi.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Lalu Ardi berkata pelan, “Kamu buka dokumen perusahaan?”

“Nampaknya itu hakku sebagai pemegang saham.”

“Kamu tidak mengerti urusan bisnis.”

“Mungkin.”

Aku memperbesar halaman tanda tangan.

“Tapi aku cukup mengerti untuk tahu mana tanda tanganku dan mana yang bukan.”

Suara napas Ardi terdengar berat.

Kemudian sambungan terputus.

Siska langsung berkata, “Bagus. Jangan menelepon kembali.”

Tak sampai sepuluh menit, Maya mengirim pesan.

Dina, jangan bawa masalah keluarga ke perusahaan. Banyak karyawan punya anak istri.

Aku hampir kagum.

Kemarin anakku dihina sebagai beban.

Hari ini mereka tiba-tiba peduli pada keluarga karyawan.

Aku tidak membalas.

Sebaliknya, aku menghubungi manajer restoran semalam.

CCTV masih tersimpan.

Karena terlihat ada dugaan kekerasan, manajer bersedia mempertahankan rekamannya dan menyerahkan salinan melalui prosedur resmi jika dibutuhkan.

Aku juga memotret memar di bahu dan lututku.

Kemudian membawa Nayla ke klinik anak.

Dokter memeriksa punggung tangannya yang sempat dipukul sumpit.

Tidak ada patah tulang.

Hanya memar ringan.

Namun aku meminta semuanya dicatat.

Bukan karena ingin membalas.

Karena selama sembilan tahun pernikahan, aku terlalu sering memaafkan sesuatu tanpa meninggalkan bukti.

Kali ini tidak.

Ketika kami keluar dari klinik, Nayla memegang tanganku.

“Bunda, kita pulang ke rumah Oma?”

“Belum.”

“Ayah tahu kita di sini?”

“Mungkin.”

Nayla diam sebentar.

“Bunda akan cerai?”

Langkahku terhenti.

Aku berjongkok di depannya.

“Kamu takut?”

Dia mengangguk.

“Kalau Bunda cerai, aku nggak punya Ayah?”

Aku menarik napas panjang.

Aku tidak ingin menjadikan Ardi monster di depan putrinya.

Bagaimanapun, dia tetap ayah kandung Nayla.

“Perceraian itu urusan orang dewasa,” kataku. “Hubungan kamu dengan Ayah adalah hal lain.”

“Kalau Ayah tetap nggak suka anak perempuan?”

Aku tidak langsung menjawab.

Karena itulah pertanyaan sesungguhnya.

Bukan apakah Ardi masih berstatus ayahnya.

Tetapi apakah seorang anak harus terus mengejar cinta dari orang yang berulang kali membuatnya merasa tidak pantas dicintai.

Aku mengusap rambut Nayla.

“Bunda akan memastikan tidak ada orang yang boleh menyakitimu lagi.”

Siang itu, Siska menemukan masalah kedua.

Ada notulen rapat pemegang saham luar biasa dari enam bulan lalu.

Menurut dokumen tersebut, aku hadir dan menyetujui penambahan utang perusahaan.

Padahal pada tanggal yang sama, aku sedang berada di Yogyakarta menemani ibuku operasi katarak.

Aku punya tiket pesawat.

Tagihan hotel.

Foto.

Bahkan bukti transaksi kartu.

“Ada tanda tanganmu lagi,” kata Siska.

Aku tertawa hambar.

“Palsu?”

“Kemungkinan besar.”

Masalah itu berubah jauh lebih serius.

Kami mulai memeriksa transaksi.

Seorang akuntan forensik yang direkomendasikan Siska membantu membaca laporan keuangan dua tahun terakhir.

Pada awalnya angka-angkanya tampak normal.

Pendapatan naik.

Proyek bertambah.

Biaya operasional meningkat.

Tetapi setelah diperiksa lebih dalam, ada sejumlah pembayaran ke vendor yang namanya asing bagiku.

CV Maju Bersama Konstruksi.

PT Seraya Furnindo.

CV Karya Putra Mandiri.

Total pembayaran dalam delapan belas bulan hampir Rp3,2 miliar.

“Vendor ini punya hubungan dengan Ardi?” tanyaku.

Aku tidak tahu.

Kami telusuri alamatnya.

Salah satu perusahaan terdaftar menggunakan sebuah rumah di Depok.

Pemiliknya bernama Maya Puspitasari.

Aku membaca nama itu tiga kali.

Maya.

Kakak iparku.

Janda mendiang Dimas.

Perempuan yang semalam menyuapi suamiku lobster.

Aku merasa ujung jariku dingin.

“Perusahaan ini milik Maya?”

Akuntan mengangguk.

“Secara administrasi, iya.”

“Apakah transaksi antar pihak terafiliasi boleh?”

“Boleh saja, selama benar-benar ada barang atau jasa, harganya wajar, pengungkapan dan persetujuan yang diwajibkan dipenuhi.”

“Kalau tidak?”

“Itu yang perlu diperiksa.”

Kami mengambil sampel beberapa invoice.

Ada pembelian kursi proyek.

Panel kayu.

Lampu dekoratif.

Jasa transportasi.

Namun beberapa harga jauh di atas harga pasar.

Sebuah jenis kursi restoran yang biasa dijual sekitar Rp1,4 juta per unit ditagihkan Rp2,7 juta.

Lampu dekoratif Rp900 ribu ditagihkan hampir Rp2 juta.

Selisihnya besar.

Aku merasakan sesuatu di dadaku.

Bukan lagi luka sebagai istri.

Melainkan kemarahan sebagai pemegang saham.

Sore harinya aku menerima pesan dari nomor yang tidak dikenal.

Bu Dina, saya mantan staf purchasing PT Pratama. Kalau Ibu sedang memeriksa vendor Bu Maya, saya punya beberapa dokumen.

Aku menunjukkan pesan itu kepada Siska.

“Jangan langsung percaya,” katanya.

Kami mengatur pertemuan di kantor Siska.

Orang itu bernama Bimo, tiga puluh dua tahun.

Ia pernah bekerja di perusahaan Ardi selama empat tahun sebelum mengundurkan diri.

Bimo membawa flash drive.

“Saya keluar karena tidak mau ikut tanda tangan purchase order tertentu,” katanya.

“Kenapa?”

“Harganya dinaikkan.”

“Siapa yang menyuruh?”

Bimo menatapku ragu.

“Pak Ardi.”

Ruangan menjadi hening.

Bimo menjelaskan bahwa beberapa pesanan memang benar ada.

Tetapi perusahaan membeli melalui vendor milik Maya dengan harga yang dinaikkan.

Selisih kemudian tidak jelas mengalir ke mana.

“Saya pernah protes,” katanya.

“Pak Ardi bilang saya tidak usah sok suci.”

Aku bertanya, “Kenapa baru bicara sekarang?”

“Karena dulu saya takut.”

Dia mendorong flash drive ke arah kami.

“Dan karena saya dengar Pak Ardi bilang perusahaan ini milik keluarga Pratama. Padahal waktu awal berdiri, semua orang tahu modal paling besar datang dari keluarga Ibu.”

Di dalam flash drive terdapat email.

Perbandingan penawaran.

Invoice.

Percakapan internal.

Belum cukup untuk menyimpulkan tindak pidana.

Tetapi cukup untuk memicu audit serius.

Malam itu Ardi datang ke apartemen.

Entah dari siapa dia mendapatkan alamatku.

Dia menggedor pintu berkali-kali.

“Dina!”

Nayla langsung berlari keluar kamar.

Wajahnya pucat.

Aku menyuruhnya masuk kembali dan mengunci kamar bersama pengasuh ibuku yang kebetulan datang menemani.

Aku tidak membuka pintu.

“Kalau mau bicara, melalui pengacara.”

Ardi menendang pintu.

“Kamu keterlaluan!”

Tetangga mulai membuka pintu unit masing-masing.

Aku mengaktifkan rekaman ponsel.

“Pergi.”

“Cabut laporan ke bank!”

“Tidak ada laporan. Bank sedang melakukan verifikasi.”

“Jangan main kata-kata!”

Dia memukul pintu lagi.

“Kalau perusahaan jatuh, kamu pikir kamu dapat apa?”

Aku berdiri di balik pintu.

“Kalau perusahaan jatuh karena dokumennya tidak benar, bukan aku yang menjatuhkannya.”

Ardi diam.

Lalu suaranya berubah.

Lebih rendah.

Lebih berbahaya.

“Kamu pikir karena punya kakak di bank dan pengacara, kamu bisa melawanku?”

Aku tidak menjawab.

“Kamu lupa rumah tempat kita tinggal atas nama perusahaan?”

“Aku tahu.”

“Barang-barangmu semua ada di sana.”

“Aku tahu.”

“Kalau besok kubuang?”

Aku menekan tombol rekam lebih kuat.

“Silakan ulangi.”

Ardi langsung berhenti bicara.

Mungkin baru sadar aku sedang merekam.

Lima menit kemudian petugas keamanan gedung datang.

Ardi akhirnya pergi.

Tetapi pukul sebelas malam, telepon dari tetangga lama masuk.

“Bu Dina…”

“Ada apa?”

“Maaf saya mengganggu.”

Suara perempuan itu terdengar panik.

“Dari sore ada truk kecil di rumah Ibu.”

Aku berdiri.

“Truk?”

“Iya.”

“Mereka angkut barang?”

“Sepertinya iya.”

Jantungku berdegup keras.

“Apa saja?”

“Saya tidak tahu semuanya. Tapi tadi saya lihat lemari dokumen dari ruang kerja Ibu dibawa keluar.”

Aku langsung menelepon Siska.

Di lemari itu tersimpan beberapa dokumen pribadi.

Akta waris.

Salinan sertifikat.

Bukti investasi.

Dan sebuah hard drive lama berisi arsip keuangan perusahaan sejak awal berdiri.

Kami tiba di kompleks rumah hampir tengah malam.

Gerbang sudah terkunci.

Dari luar, aku melihat beberapa kardus tertumpuk di garasi.

Mercedes milikku tidak ada.

Lampu ruang kerja menyala.

Aku menghubungi petugas keamanan kompleks dan menunjukkan bukti identitas bahwa aku masih berdomisili di rumah tersebut.

Namun sebelum kami masuk, sebuah mobil putih keluar dari garasi.

Maya duduk di kursi penumpang.

Di belakangnya terlihat dua kardus besar.

Siska segera memotret.

Mobil itu melaju cepat.

Ketika akhirnya aku masuk rumah, ruang kerjaku sudah berantakan.

Laci terbuka.

Folder hilang.

Hard drive tidak ada.

Di atas meja hanya tersisa satu benda.

Sebuah amplop cokelat.

Namaku ditulis di atasnya.

Aku membukanya.

Isinya salinan gugatan cerai.

Ardi sudah mendaftarkannya lebih dulu.

Tetapi yang membuat napasku berhenti bukan gugatan itu.

Melainkan satu kalimat dalam permohonannya:

Ardi meminta hak pengasuhan utama atas Nayla dengan alasan aku dianggap tidak stabil secara emosional, tidak memiliki penghasilan tetap, dan berpotensi menghambat hubungan anak dengan keluarga ayah.

Tanganku gemetar.

Kemudian Siska mengambil halaman berikutnya.

Wajahnya berubah.

“Ada satu lagi.”

“Apa?”

Ia menyerahkan lampiran kepadaku.

Sebuah surat pernyataan saksi.

Ditandatangani oleh Bu Ratna.

Isinya menyebut aku pernah “membahayakan anak karena ledakan emosi”.

Saksi kedua adalah Maya.

Aku membaca dua halaman itu sampai selesai.

Mereka bukan cuma ingin merebut perusahaan.

Mereka bahkan sudah menyiapkan cerita untuk mengambil Nayla dariku.

Aku melipat kembali dokumen tersebut.

Air mataku berhenti.

Siska menatapku.

“Kita bisa lawan.”

Aku mengangguk.

“Bukan cuma lawan.”

Aku melihat ruang kerja yang telah mereka bongkar.

Lalu memandang rak kosong tempat semua arsipku dulu tersimpan.

“Mulai besok, kita buka semuanya.”

“Perusahaan.”

“Rekening.”

“Dokumen palsu.”

“Vendor Maya.”

Aku menarik napas.

“Dan kalau Ardi benar-benar ingin membawa Nayla ke pengadilan…”

Aku menatap lembar kesaksian palsu ibu mertuaku.

“…aku akan memastikan hakim melihat seperti apa sebenarnya keluarga yang ingin dia jadikan tempat tinggal anakku.”