Bagian 4 Lebaran Berikutnya Mereka Datang Meminta Maaf, Tetapi Hidup Saya Sudah Berubah Selamanya

Avatar penulis
Cerita 02
13 menit baca 557 tayangan
Indeks

Bagian 4
Lebaran Berikutnya Mereka Datang Meminta Maaf, Tetapi Hidup Saya Sudah Berubah Selamanya

Sesudah hari itu, segalanya tidak selesai secara ajaib.

Justru baru dimulai.

Saya sering membaca cerita tentang orang yang keluar dari rumah setelah diperlakukan buruk, lalu hidupnya langsung berubah indah keesokan harinya.

Kenyataannya tidak seperti itu.

Ada hari ketika saya sangat yakin dengan keputusan saya.

Ada juga malam ketika saya menangis sendirian di kamar lama saya di rumah Ibu dan bertanya apakah empat tahun pernikahan benar-benar harus berakhir.

Bagas terus menelepon.

Minggu pertama, dia meminta saya pulang.

Minggu kedua, dia mulai menyalahkan saya.

Minggu ketiga, dia kembali meminta maaf.

Polanya selalu sama.

“Nad, Mama memang salah ngomong.”

“Saya enggak menggugat cerai Mama kamu.”

“Terus kenapa kita harus cerai?”

“Karena kamu membiarkan semuanya.”

“Aku cuma enggak mau ribut sama Mama.”

“Dan supaya kamu tidak ribut dengan ibumu, kamu membiarkan saya yang menanggungnya.”

Bagas diam.

Saya melanjutkan.

“Kamu membiarkan ibumu memperlakukan rumah saya seperti rumahmu. Kamu membiarkan keluarga memakai uang kita tanpa bertanya. Kamu menonton saya masak dari subuh lalu menyuruh saya makan belakangan. Bahkan ketika saya akhirnya bereaksi, kalimat pertama kamu bukan membela saya. Kamu menyebut saya egois.”

“Nad, aku waktu itu panik.”

“Saya sudah melihat versi kamu saat panik, Bagas. Ternyata orang pertama yang kamu korbankan selalu saya.”

Kalimat itu membuatnya diam sangat lama.

Masalah Rp69,3 juta kemudian menjadi perdebatan tersendiri.

Bagas pada awalnya bersikeras bahwa semua uang tersebut adalah “bantuan keluarga”.

Saya bertanya satu hal sederhana.

“Kalau memang bantuan bersama, tunjukkan satu chat ketika kamu pernah meminta persetujuan saya.”

Tidak ada.

Dia tidak bisa menunjukkan satu pun.

Akhirnya ayah Bagas, Pak Hendra, meminta kami bertemu di sebuah rumah makan bersama Pakde Harun.

Katanya supaya persoalan uang tidak semakin merusak hubungan keluarga.

Saya datang bersama Arif.

Bu Ratna duduk dengan wajah kaku.

Intan tidak hadir.

Bagas membawa catatan sendiri.

Pak Hendra membuka pembicaraan.

“Papa enggak mau ada masalah uang dibawa terlalu jauh. Kita keluarga.”

Saya menjawab,

“Saya juga tidak ingin dibawa terlalu jauh. Karena itu saya minta dibuat jelas.”

Saya menyerahkan tabel.

Tanggal.

Nominal.

Penerima.

Total.

Pakde Harun membaca cukup lama.

“Ini semuanya dari rekening Nadira dan Bagas?”

“Rekening bersama,” jawab saya.

Pakde Harun melihat Bagas.

“Nadira setuju?”

Bagas menunduk.

“Enggak selalu.”

“Enggak selalu atau enggak pernah?”

Bagas tidak menjawab.

Bu Ratna langsung memotong.

“Dulu Mama cuma pinjam empat setengah juta buat kartu kredit. Bukan berarti Mama mencuri.”

“Saya tidak pernah bilang Mama mencuri,” jawab saya. “Saya bilang uang itu digunakan tanpa persetujuan saya.”

“Itu anak Mama yang kasih.”

“Dan sebagian uang di rekening itu milik saya.”

Bu Ratna mendengus.

“Suami istri kok hitung-hitungan.”

Saya tersenyum tipis.

“Kalau tidak perlu hitung-hitungan, kenapa uangnya selalu keluar dari rekening kami, bukan rekening Mama?”

Pakde Harun menunduk menahan sesuatu yang mungkin hampir menjadi senyum.

Bu Ratna tersinggung.

“Sekarang pintar sekali jawab orang tua.”

Pakde Harun mengangkat tangan.

“Ratna, cukup.”

Itu pertama kalinya saya melihat seseorang di keluarga Bagas menghentikannya.

Pakde Harun berkata,

“Ini bukan soal hormat orang tua. Kalau uang rumah tangga dipakai puluhan juta tanpa sepengetahuan pasangan, ya memang masalah.”

Pak Hendra akhirnya meminta Bagas menjelaskan setiap transaksi.

Rp6 juta untuk Intan.

Katanya saat itu dia membayar supplier butik.

Rp4,5 juta untuk kartu kredit Bu Ratna.

Rp3 juta untuk sepupu yang kesulitan membayar kontrakan.

Rp7,8 juta untuk uang muka motor Pak Hendra.

Dan Rp48 juta terakhir untuk menyelamatkan butik Intan.

Saya bertanya,

“Intan di mana?”

Tidak ada yang menjawab.

“Dia yang menerima lebih dari lima puluh juta. Kenapa tidak datang?”

Bu Ratna berkata,

“Dia malu.”

Saya mengangguk.

“Saya juga pernah malu. Waktu disuruh makan di dapur di rumah sendiri. Tapi saya tetap berdiri menghadapi semuanya.”

Ruang itu sunyi.

Akhirnya kami membuat kesepakatan tertulis.

Bukan karena saya ingin memperpanjang konflik.

Justru karena saya tidak mau persoalan itu mengikuti hidup saya selama bertahun-tahun.

Intan mengembalikan Rp15 juta lebih dulu dari hasil menjual sebagian stok butik yang masih bisa dikembalikan ke supplier.

Motor Pak Hendra dijual kembali.

Setelah melunasi sisa pembiayaannya, ada sejumlah uang yang dikembalikan.

Bu Ratna membayar utangnya dengan mencicil.

Bagas menanggung sisanya.

Prosesnya berbulan-bulan.

Tidak sempurna.

Tidak cepat.

Tapi untuk pertama kalinya, setiap rupiah memiliki catatan.

Tidak ada lagi kalimat:

“Nanti saja.”

“Namanya juga keluarga.”

“Jangan perhitungan.”

Karena saya akhirnya mengerti bahwa orang sering menggunakan kata keluarga ketika sebenarnya mereka sedang meminta kita menerima sesuatu yang tidak akan mereka berani lakukan kepada orang lain.

Proses perceraian juga berjalan.

Bagas pada awalnya tidak setuju.

Dia meminta mediasi.

Saya datang.

Dalam sesi mediasi, dia mengatakan masih mencintai saya.

Saya percaya.

Saya tidak pernah mengatakan Bagas tidak punya perasaan kepada saya.

Masalahnya, cinta yang tidak pernah berubah menjadi keberpihakan ternyata tidak cukup untuk membuat saya merasa aman.

Mediator bertanya,

“Apakah masih ada kemungkinan rujuk?”

Bagas melihat saya.

Saya melihat laki-laki yang pernah menjemput saya ketika hujan.

Laki-laki yang dulu menunggu tiga jam saat ayah saya dirawat di rumah sakit.

Laki-laki yang pernah begadang membantu saya memasang label ratusan kotak katering.

Bagas bukan monster.

Itulah yang membuat keputusan saya dulu begitu sulit.

Dia bisa baik.

Dia bisa lembut.

Dia bisa lucu.

Tetapi ketika berada di antara saya dan keluarganya, dia selalu memilih jalan termudah.

Dan jalan termudah itu hampir selalu berarti saya yang harus mengalah.

Saya menjawab,

“Saya tidak mau kembali ke pola yang sama.”

Bagas berkata cepat,

“Aku bisa berubah.”

Saya menoleh kepadanya.

“Bagas, selama empat tahun saya selalu menunggu kalimat itu. Masalahnya, kamu baru mengatakannya ketika saya sudah pergi.”

Dia menunduk.

Saya tidak membenci dia.

Tapi saya juga tidak membatalkan gugatan.

Empat bulan kemudian, keputusan perceraian kami selesai.

Tidak ada adegan dramatis di pengadilan.

Tidak ada orang berteriak.

Tidak ada pingsan.

Tidak ada ancaman.

Kami keluar melalui pintu yang sama lalu berjalan ke arah berbeda.

Sebelum masuk mobil, Bagas memanggil saya.

“Nad.”

Saya berhenti.

Dia menyerahkan sebuah amplop.

Di dalamnya ada bukti transfer cicilan terakhir dari bagian utang yang menjadi tanggung jawabnya.

“Sudah semuanya.”

Saya melihat nominalnya.

Benar.

Dia berkata,

“Aku minta maaf.”

Saya menatapnya.

Kali ini dia tidak menambahkan pembelaan.

Tidak ada “tapi Mama…”

Tidak ada “tapi Intan…”

Tidak ada “tapi kamu juga…”

Hanya:

“Aku minta maaf.”

Saya mengangguk.

“Terima kasih sudah menyelesaikan tanggung jawabmu.”

Dia tersenyum pahit.

“Kalau waktu malam takbiran itu aku langsung pindahin tas Mama dari kursi…”

Saya menggeleng.

“Masalah kita tidak dimulai malam itu.”

Saya memasukkan amplop ke tas.

“Malam itu cuma pertama kalinya saya berhenti berpura-pura tidak melihatnya.”

Setelah perceraian selesai, Bagas pindah dari rumah saya.

Bu Ratna sempat mengatakan rumah itu seharusnya dibagi.

Saya menyerahkan dokumen pembelian kepada kuasa hukum.

Rumah tersebut saya beli sebelum menikah menggunakan tabungan saya sendiri.

Statusnya jelas sebagai harta bawaan.

Bagas sendiri tidak memperpanjang persoalan itu.

Dia hanya meminta waktu dua minggu tambahan untuk memindahkan barang.

Saya berikan.

Pada hari terakhir, dia meninggalkan kunci di atas meja makan.

Meja yang sama tempat saya pernah dilarang duduk.

Saya berdiri lama memandangnya.

Lalu melakukan sesuatu yang sudah lama ingin saya lakukan.

Saya menjual meja tersebut.

Bukan karena saya membencinya.

Saya hanya tidak ingin ruang makan baru saya dibangun mengelilingi benda yang selalu mengingatkan bahwa pernah ada dua belas kursi, namun tidak satu pun dianggap pantas untuk saya.

Dengan uang hasil penjualan, saya membeli meja kayu yang lebih kecil.

Sepuluh kursi.

Tidak mewah.

Tapi saya membuat satu aturan.

Tidak ada kursi yang “khusus keluarga inti”.

Siapa pun yang berada di rumah saya ketika makanan disajikan boleh duduk.

Perubahan terbesar justru terjadi pada Dapur Nadi.

Selama pernikahan, saya selalu menahan usaha itu agar tidak terlalu besar.

Bagas khawatir rumah akan terlalu ramai kalau banyak pegawai keluar masuk.

Bu Ratna sering bilang,

“Perempuan punya usaha boleh, tapi jangan sampai lupa rumah.”

Setelah semuanya selesai, saya menyewa dapur produksi kecil di kawasan Kalimalang.

Awalnya hanya 42 meter persegi.

Tiga kompor besar.

Dua kulkas.

Satu meja stainless bekas.

Saya, Rizky, Sari dan dua pegawai baru.

Kami mulai dari pesanan makan siang kantor.

Kemudian nasi kotak pengajian.

Akad nikah kecil.

Arisan.

Acara kantor.

Tidak ada keajaiban.

Saya tidak tiba-tiba mendapat satu juta pengikut.

Tidak ada miliarder yang datang memberi modal.

Kami tumbuh dengan cara membosankan.

Satu pelanggan puas.

Lalu dia merekomendasikan ke temannya.

Temannya memesan.

Kantornya ikut memesan.

Ada komplain.

Kami perbaiki.

Ada pesanan terlambat.

Kami evaluasi.

Ada menu gagal.

Kami ganti.

Delapan bulan kemudian, kami punya sembilan pegawai tetap.

Menjelang Ramadan berikutnya, sebuah perusahaan logistik memesan paket buka puasa selama dua minggu.

Nilainya lebih besar daripada omzet dua bulan saya pada tahun sebelumnya.

Sari sampai menangis ketika kontraknya ditandatangani.

Saya tertawa.

“Kenapa kamu yang nangis?”

Dia menjawab,

“Karena dulu saya ikut angkut opor dari rumah Mbak malam-malam. Saya enggak nyangka sekarang kita masak sebanyak ini tiap hari.”

Saya juga tertawa.

Namun malam itu, setelah semua pegawai pulang, saya duduk sendiri di dapur produksi.

Saya teringat diri saya setahun sebelumnya.

Berdiri di dapur rumah.

Tangan penuh bekas minyak.

Tidak makan.

Tidak duduk.

Menunggu seseorang menganggap kelelahan saya cukup penting untuk diperhatikan.

Sekarang saya tahu.

Kadang orang tidak akan memberikan tempat kepada kita hanya karena kita sudah berkorban untuk mereka.

Kadang kita sendiri yang harus berhenti berdiri di belakang kursi orang lain.

Seminggu sebelum Idul Fitri, admin Dapur Nadi mengirim pesan kepada saya.

“Mbak, ada pesanan paket Lebaran besar. Pelanggannya minta bicara langsung sama Mbak.”

“Siapa?”

Dia menunjukkan layar.

Nama pemesan membuat saya diam.

Intan Prasetyo.

Saya membaca chat.

Intan ingin memesan 24 hidangan untuk acara keluarga.

Rendang.

Opor.

Semur.

Sambal goreng ati.

Empal.

Gurame.

Hampir mirip menu malam takbiran tahun sebelumnya.

Di bawahnya tertulis:

“Kalau bisa minta harga keluarga ya, Mbak.”

Sari yang berdiri di samping saya menahan tawa.

“Mau ditolak?”

Saya menggeleng.

“Kenapa ditolak?”

“Terima?”

“Terima.”

Saya mengambil ponsel admin dan mengetik balasan.

“Bisa. Untuk paket 24 hidangan, total Rp6.750.000. DP 50% untuk mengunci tanggal. Pelunasan H-2. Karena jadwal penuh, tidak tersedia diskon tambahan.”

Saya berhenti.

Kemudian menambahkan:

“Semua pelanggan menggunakan harga yang sama.”

Intan membalas hampir satu jam kemudian.

“Enggak ada harga saudara?”

Saya menjawab:

“Justru supaya hubungan saudara tidak rusak, urusan usaha harus jelas.”

Tidak ada balasan selama dua jam.

Kemudian notifikasi masuk.

DP diterima.

Saya tersenyum.

Pesanan itu kami kerjakan secara profesional.

Tidak lebih asin.

Tidak lebih sedikit.

Tidak sengaja terlambat.

Tidak ada dendam dicampurkan ke dalam masakan.

Justru saya memastikan semuanya sempurna.

Ketika pengantaran dilakukan, saya tidak ikut.

Rizky yang mengantar.

Dia kembali sore hari dengan wajah aneh.

“Mbak…”

“Kenapa?”

“Bu Ratna ada.”

Saya menunggu.

“Terus?”

“Beliau tanya Mbak datang atau enggak.”

“Terus?”

“Saya bilang enggak. Mbak ada acara keluarga sendiri.”

Saya mengangguk.

“Beliau bilang apa?”

Rizky terdiam sebentar.

“Katanya… rendangnya masih sama.”

Saya tidak tahu harus menjawab apa.

Jadi saya hanya berkata,

“Bagus. Berarti quality control kita berhasil.”

Malam takbiran tahun itu saya tidak memasak 26 menu.

Saya hanya membuat delapan.

Ibu datang.

Arif dan keluarganya datang.

Dua pegawai yang tidak mudik juga saya undang.

Bahkan Pak Darto, satpam kompleks yang bertugas malam itu, saya siapkan satu kotak lengkap sebelum kami makan.

Pukul tujuh kurang seperempat semuanya sudah siap.

Kebiasaan lama membuat saya refleks mengambil piring untuk melayani orang lain.

Ibu langsung menarik kursi di sebelahnya.

“Nadira.”

“Hm?”

“Duduk.”

“Saya ambilkan es dulu.”

“Orang punya tangan.”

Semua tertawa.

Saya ikut tertawa.

Lalu duduk.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, saya menikmati malam menjelang Lebaran tanpa merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan semua orang.

Saya menyendok opor ke piring sendiri.

Mengambil sambal.

Memotong ketupat.

Ponsel saya bergetar.

Satu pesan masuk.

Dari Bu Ratna.

Saya hampir tidak membukanya.

Tetapi akhirnya saya baca.

“Nadira, makanan sudah sampai. Semuanya bagus.”

Beberapa detik kemudian masuk pesan kedua.

“Mama tahu mungkin sudah terlambat. Tahun lalu Mama memang mempermalukan kamu. Mama terlalu terbiasa berpikir menantu harus menyesuaikan diri dengan keluarga suami. Waktu itu Mama pikir kamu yang berlebihan. Sekarang Mama sadar Mama salah.”

Saya membaca sampai selesai.

Masih ada satu pesan.

“Tidak perlu balas kalau belum mau. Mama cuma ingin minta maaf.”

Saya meletakkan ponsel.

Ibu bertanya,

“Siapa?”

“Bu Ratna.”

Ibu tidak ikut membaca.

“Ada masalah?”

Saya menggeleng.

“Enggak.”

Saya baru membalas keesokan paginya.

Bukan dengan paragraf panjang.

Hanya:

“Saya terima permintaan maaf Mama. Semoga Lebarannya tenang.”

Saya tidak kembali menjadi menantunya.

Saya tidak mendadak menjadi dekat dengannya.

Memaafkan seseorang tidak selalu berarti memberikan kembali posisi yang dulu mereka miliki dalam hidup kita.

Tapi saya tidak lagi membawa kemarahan itu ke mana-mana.

Beberapa bulan kemudian, saya bertemu Bagas secara tidak sengaja di sebuah kedai kopi dekat kantor supplier saya.

Dia terlihat berbeda.

Lebih kurus sedikit.

Kami bicara hampir dua puluh menit.

Tentang pekerjaan.

Tentang rumah.

Tentang Dapur Nadi.

Tidak tentang kemungkinan kembali bersama.

Sebelum pergi, Bagas berkata,

“Mama sekarang kalau ada acara keluarga nyuruh semua orang bawa satu masakan.”

Saya tertawa.

“Bagus.”

“Enggak ada lagi satu orang masak semuanya.”

“Lebih bagus.”

Dia tersenyum.

“Dan orang yang masak disuruh duduk dulu.”

Saya terdiam.

Lalu ikut tersenyum.

Kadang perubahan datang terlambat untuk menyelamatkan hubungan.

Tapi bukan berarti perubahan itu sia-sia.

Setidaknya perempuan berikutnya yang duduk di meja keluarga itu tidak harus merasakan apa yang pernah saya rasakan.

Setahun setelah malam ketika saya mengangkut dua puluh enam hidangan dari meja keluarga Prasetyo, saya berdiri di depan dapur produksi baru Dapur Nadi.

Bukan lagi 42 meter persegi.

Kami pindah ke tempat hampir tiga kali lebih besar.

Ada ruang penyimpanan.

Freezer besar.

Area packing.

Dua belas pegawai.

Di dinding dekat pintu masuk saya memasang papan kecil.

Bukan slogan bisnis.

Bukan kalimat motivasi.

Hanya satu aturan yang saya tulis setelah pengalaman malam itu.

“Orang yang memasak juga berhak duduk dan makan.”

Pegawai baru sering mengira itu hanya aturan istirahat.

Saya tidak pernah menjelaskan cerita panjang di baliknya.

Tidak perlu.

Saya sudah tidak membutuhkan semua orang mengetahui bahwa pernah ada masa ketika saya memasak dari dini hari sampai malam untuk mendapat pengakuan dari keluarga yang tidak menyediakan kursi bagi saya.

Yang penting adalah apa yang terjadi setelahnya.

Saya berhenti meminta izin untuk menghargai diri sendiri.

Saya berhenti menganggap pengorbanan sebagai bukti cinta.

Saya berhenti percaya bahwa perempuan baik harus selalu menjadi orang terakhir yang makan, terakhir yang duduk, terakhir yang didengar dan pertama yang diminta mengalah.

Malam takbiran itu, Bu Ratna mengira dia hanya menyuruh saya makan di dapur.

Bagas mengira saya hanya marah karena sebuah kursi.

Intan mengira saya hanya tersinggung karena kelelahan.

Mereka semua salah.

Kursi kosong itu akhirnya membuat saya melihat seluruh pernikahan saya dengan sangat jelas.

Saya melihat rekening yang diam-diam dikuras.

Saya melihat rumah saya disebut milik orang lain.

Saya melihat kerja saya dianggap kewajiban.

Saya melihat batas saya dianggap egoisme.

Dan yang paling menyakitkan, saya melihat suami saya duduk tepat di depan saya tanpa pernah berpikir untuk bergeser sedikit dan berkata:

“Duduklah di sini.”

Jadi malam itu saya tidak sekadar membawa pergi dua puluh enam hidangan.

Saya membawa pergi tenaga saya.

Uang saya.

Waktu saya.

Harga diri saya.

Dan hidup yang selama bertahun-tahun saya letakkan di meja orang lain.

Setelah itu saya tidak pernah meminta kursi itu lagi.

Saya membuat meja saya sendiri.