Bagian 3
Mereka Menuduh Saya Mempermalukan Keluarga, Sampai Saya Membuka Rekening yang Selama Ini Disembunyikan
Sepanjang perjalanan dari Bekasi menuju rumah ibu saya di Depok, saya tidak banyak bicara.
Rizky mengemudikan mobil operasional di depan.
Saya bersama Sari mengikuti dari belakang menggunakan mobil pribadi.
Lampu-lampu masjid menyala sepanjang jalan. Takbir terdengar dari berbagai arah.
Di trotoar, beberapa anak membawa lampion kecil.
Di dalam mobil saya, suasananya bertolak belakang.
Saya terus menatap notifikasi transfer Rp48 juta itu.
Rekening tersebut adalah tabungan bersama saya dan Bagas.
Kami membuatnya tiga tahun lalu untuk dana darurat dan renovasi rumah.
Setiap bulan saya memasukkan uang dari keuntungan Dapur Nadi.
Bagas juga mentransfer sebagian gajinya.
Saldo terakhir yang saya ingat sekitar Rp63 juta.
Sekarang tersisa kurang dari Rp15 juta.
Saya membuka riwayat transaksi.
Transfer kepada Intan dilakukan dua hari sebelumnya.
Tidak ada pesan dari Bagas.
Tidak ada pembicaraan.
Tidak ada persetujuan saya.
Saya meneleponnya.
Dia tidak mengangkat.
Saya menelepon lagi.
Ditolak.
Kemudian masuk pesan WhatsApp.
Bagas: Jangan bahas uang malam ini. Kamu sudah bikin Mama nangis.
Saya membaca kalimat itu dua kali.
Saya membalas.
Saya: Kenapa Rp48 juta ditransfer ke Intan?
Tanda centang dua muncul.
Tidak ada jawaban.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Akhirnya masuk balasan.
Bagas: Dia pinjam buat modal butik. Nanti diganti.
Saya merasa ujung jari saya dingin.
Saya: Kenapa tidak bilang ke saya?
Bagas: Karena kamu pasti keberatan.
Saya hampir tertawa.
Jawaban itu justru mengakui semuanya.
Dia tahu saya tidak setuju.
Karena itu dia melakukannya diam-diam.
Saya menulis satu kalimat.
Kalau kamu tahu saya akan menolak, berarti kamu tahu uang itu bukan hak kamu untuk diberikan sendirian.
Tidak ada jawaban lagi.
Kami tiba di rumah ibu hampir pukul sembilan malam.
Begitu pintu dibuka, Ibu langsung terkejut melihat tiga thermal box besar dan wajah saya yang sembap.
“Kok datang?”
Di ruang tengah ada adik saya, Arif, istrinya, dua sepupu, tiga keponakan dan beberapa tetangga dekat.
Di meja hanya ada soto Betawi, ayam goreng, sambal, ketupat dan dua macam kue.
Ibu saya, Bu Lilis, memegang bahu saya.
“Kamu kenapa?”
Saya mencoba menjawab santai.
“Bawa makanan.”
Ibu melihat ke belakang.
“Bagas?”
“Enggak ikut.”
Dia tidak bertanya lagi.
Itu salah satu hal yang paling saya syukuri dari ibu.
Dia tahu kapan anaknya butuh pertanyaan dan kapan anaknya hanya butuh tempat duduk.
Kami membuka semua wadah.
Anak-anak langsung bersorak melihat puding dan sate.
Arif memindahkan kursi.
Ibu berkata,
“Nad, duduk dulu. Biar yang lain ambil sendiri.”
Kalimat sederhana itu hampir membuat saya menangis.
Duduk dulu.
Bukan:
Ambilkan minum.
Tambahkan nasi.
Bereskan piring.
Potong kue.
Sajikan ini.
Hangatkan itu.
Duduk dulu.
Saya akhirnya makan pukul sembilan lewat dua puluh.
Suapan pertama adalah rendang buatan saya sendiri.
Anehnya, saya bahkan tidak tahu rasanya.
Saya terlalu sibuk menahan air mata.
Sekitar pukul sepuluh malam, grup WhatsApp keluarga Prasetyo mulai ramai.
Awalnya pesan dari Bu Ratna.
“Mohon maaf kepada keluarga besar atas kejadian malam ini. Ada orang yang belum mengerti tata krama dan memilih mempermalukan keluarga pada malam suci.”
Kemudian Intan.
“Kami semua belum selesai makan, makanan dibawa begitu saja. Anak-anak sampai bingung.”
Sepupu Bagas bertanya apa yang terjadi.
Bu Ratna menjawab panjang.
Versinya sangat sederhana.
Saya marah hanya karena disuruh membantu tamu.
Saya mengamuk.
Saya mengambil makanan dari depan orang tua.
Saya pergi tanpa izin.
Tidak ada cerita bahwa saya memasak sejak sebelum subuh.
Tidak ada cerita bahwa saya dilarang duduk.
Tidak ada cerita tentang Rp48 juta.
Saya membaca semuanya.
Ibu melihat wajah saya.
“Jangan balas saat marah.”
“Saya enggak marah, Bu.”
Saya benar-benar tidak marah lagi.
Yang saya rasakan justru sesuatu yang lebih tenang.
Lebih dingin.
Saya membuka galeri.
Saya memiliki foto struk belanja.
Invoice supplier daging.
Pembelian ayam.
Nota sayur.
Bukti pembelian seafood.
Transfer mentega premium.
Saya memiliki chat Bu Ratna yang menyuruh saya memasak 26 menu.
Saya memiliki chat Intan meminta nasi goreng anaknya.
Saya juga memiliki Story Bagas yang menulis “Masakan Mama memang enggak pernah gagal.”
Dan yang paling penting, saya punya mutasi rekening bersama.
Saya tidak membuat pidato.
Saya hanya mengirim satu pesan ke grup.
“Karena nama saya disebut, saya klarifikasi sekali saja supaya tidak ada cerita yang berubah. Saya memasak 26 hidangan sejak pukul 03.47. Semua bahan saya bayar dari rekening usaha saya, total Rp3.864.700. Saat makanan selesai, saya diberitahu bahwa menantu perempuan tidak diperbolehkan duduk di meja keluarga dan saya harus makan di dapur setelah tamu selesai. Karena saya tidak dianggap bagian dari meja tersebut, saya membawa makanan yang saya biayai dan masak sendiri ke rumah ibu saya. Saya tidak akan berdebat lebih lanjut. Selamat Idul Fitri.”
Saya melampirkan bukti pembayaran.
Lalu satu screenshot lagi.
Bukan mutasi Rp48 juta.
Belum.
Masalah itu bukan konsumsi keluarga besar.
Setidaknya belum.
Lima menit pertama tidak ada pesan.
Lalu Bude Mira mengirim:
“Ratna, Nadira memang tidak dikasih duduk?”
Bu Ratna tidak menjawab.
Pakde Harun menulis:
“Saya kira Nadira makan belakangan karena dia sendiri masih sibuk. Kalau memang dilarang duduk, saya tidak tahu soal itu.”
Intan buru-buru membalas:
“Bukan dilarang. Cuma diminta bantu melayani.”
Nenek Bagas mengirim pesan suara.
Suara beliau pelan tetapi sangat jelas.
“Nadira benar. Ratna bilang menantu makan di belakang. Jangan bawa-bawa tradisi keluarga. Waktu saya masih muda, semua perempuan memang sibuk masak, tapi selesai masak ya duduk bersama. Jangan bikin aturan sendiri lalu bilang itu warisan orang tua.”
Saya mendengarkan voice note itu dua kali.
Malam itu untuk pertama kalinya narasi Bu Ratna tidak berhasil berdiri sendirian.
Pagi setelah salat Id, Bagas datang ke rumah ibu.
Sendirian.
Saya sedang membantu Ibu menata piring ketika mobilnya berhenti.
Dia masuk tanpa mengucapkan banyak hal.
Wajahnya kusut.
Matanya merah karena kurang tidur.
“Nad, kita bicara.”
Kami duduk di teras.
Pertanyaan pertama saya bukan tentang ibunya.
“Rp48 juta.”
Bagas mengembuskan napas.
“Intan butuh modal.”
“Untuk apa?”
“Butiknya macet. Dia mau tambah stok sebelum musim Lebaran.”
“Jadi kamu ambil uang tabungan kita?”
“Pinjam.”
“Tanpa izin saya.”
“Nanti dia kembalikan.”
“Kenapa Rp48 juta?”
Bagas diam.
Saya langsung tahu ada sesuatu lagi.
“Berapa total yang Intan minta?”
“Enam puluh.”
“Enam puluh juta?”
“Iya.”
“Kenapa baru transfer empat puluh delapan?”
“Karena saldo yang bisa dipakai segitu.”
Saya menatapnya.
Rekening itu punya batas minimum karena ada deposito terhubung.
Bagas ternyata benar-benar menguras hampir seluruh dana bebas yang tersedia.
“Kalau butik Intan gagal?”
“Jangan ngomong begitu.”
“Saya bertanya.”
“Dia adikku.”
“Itu bukan jawaban.”
Bagas mulai kesal.
“Keluarga memang saling bantu.”
“Kalau begitu kenapa tidak pakai uang Mama?”
Dia terdiam.
Saya mengerti.
“Mama tahu?”
Bagas menunduk.
Saya merasa dada saya mengeras.
“Bagas. Ibumu tahu?”
Akhirnya dia menjawab.
“Tahu.”
Saya tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Karena rasanya luar biasa.
Bu Ratna tahu anak laki-lakinya mengambil Rp48 juta dari rekening kami untuk membantu Intan.
Tetapi dua hari kemudian, di rumah saya, dengan makanan yang saya biayai, dia mengatakan saya bukan bagian dari meja keluarga karena saya hanya menantu.
“Siapa lagi yang tahu?”
“Papa.”
Saya mengangguk.
“Jadi hampir semua orang di rumahmu tahu uang saya dipakai.”
“Jangan bilang uang kamu terus. Itu rekening bersama.”
“Benar. Bersama. Artinya keputusan juga bersama.”
Bagas mengusap wajah.
“Aku salah enggak bilang.”
“Bukan cuma tidak bilang.”
Saya menatapnya.
“Kamu sengaja tidak bilang karena kamu tahu saya tidak setuju.”
Dia tidak membantah.
Saya berdiri.
“Nad, jangan lebay. Aku datang ke sini mau baikan.”
“Kalau definisi baikanmu adalah saya pulang tanpa masalahnya diselesaikan, saya tidak tertarik.”
“Mau sampai kapan?”
“Sampai Rp48 juta kembali.”
“Mana bisa langsung!”
“Itu bukan masalah saya.”
Bagas ikut berdiri.
“Kita suami istri.”
Saya mengangguk.
“Baru ingat?”
Wajahnya berubah.
Saya masuk ke rumah.
Bagas pulang lima belas menit kemudian.
Tiga hari saya tinggal bersama Ibu.
Saya tidak mengambil keputusan terburu-buru.
Saya bekerja seperti biasa.
Memeriksa pesanan.
Membayar pegawai.
Menghubungi supplier.
Menutup akses Bagas ke aplikasi pencatatan keuangan usaha yang sebelumnya bisa dia lihat.
Memindahkan dana operasional ke rekening usaha baru.
Mengganti PIN.
Mencetak seluruh mutasi rekening bersama selama dua tahun.
Dan di situlah saya menemukan hal lain.
Transfer Rp48 juta bukan transaksi pertama.
Ada Rp6 juta sembilan bulan sebelumnya kepada Intan.
Rp4,5 juta untuk cicilan kartu kredit Bu Ratna.
Rp3 juta kepada sepupu Bagas.
Rp7,8 juta untuk uang muka motor Pak Hendra.
Jumlahnya tidak sebesar Rp48 juta, sehingga dulu saya tidak memperhatikannya karena rekening itu juga sering dipakai membayar pengeluaran rumah.
Tetapi setelah saya telusuri, pola itu jelas.
Bagas telah menggunakan rekening bersama sebagai ATM keluarga.
Saya menghitung total.
Rp69.300.000.
Ketika saya kirim tabel transaksi kepada Bagas, dia menelepon dalam waktu dua menit.
“Nad, ngapain kamu bongkar-bongkar semua?”
Saya sampai harus menutup mata sebentar.
Kalimat itu.
Seolah masalahnya adalah saya menemukan, bukan dia melakukan.
“Saya mau tahu berapa banyak.”
“Sebagian sudah lama.”
“Apakah sudah dikembalikan?”
Sunyi.
“Bagas?”
“Belum semua.”
“Berapa yang sudah kembali?”
Dia tidak menjawab.
Berarti hampir tidak ada.
Hari berikutnya saya pulang ke Bekasi bersama Arif.
Bukan untuk berdamai.
Saya mau mengambil dokumen pribadi, laptop dan beberapa barang kerja.
Bu Ratna sedang berada di rumah.
Begitu melihat saya, dia langsung berdiri.
“Oh, akhirnya pulang juga.”
Saya melepas sepatu.
“Saya ambil barang.”
“Jangan sok keras. Kalau rumah tangga ada masalah, selesaikan di rumah.”
Saya hampir tertawa mendengar kalimat itu.
Bu Ratna menyilangkan tangan.
“Dan Mama mau bilang, perbuatan kamu malam takbiran benar-benar keterlaluan. Keluarga besar sampai ngomongin.”
“Bagus. Setidaknya sekarang semua orang tahu.”
“Jangan kurang ajar.”
Arif berdiri beberapa langkah di belakang saya.
Saya berkata tenang,
“Saya tidak datang untuk berdebat.”
“Ini rumah anak Mama. Kamu jangan merasa bisa datang pergi seenaknya.”
Kali ini saya benar-benar berhenti.
“Rumah siapa?”
“Bagas.”
Saya menatap wajahnya selama beberapa detik.
Lalu saya berjalan ke ruang kerja.
Membuka laci besi.
Mengambil sebuah map biru.
Saya kembali dan meletakkannya di meja.
“Silakan baca.”
Bu Ratna membuka map.
Di dalamnya ada salinan Sertifikat Hak Milik.
Namanya tercetak jelas.
Nadira Ayuningtyas.
Tanggal pembelian dua tahun sebelum pernikahan saya dengan Bagas.
Bu Ratna membaca dua kali.
Wajahnya berubah.
“Ini…”
“Saya beli rumah ini sebelum menikah.”
“Tapi Bagas yang renovasi.”
“Renovasi dapur dan kamar belakang. Nilainya ada catatannya. Rumah tetap aset bawaan saya.”
Bu Ratna menutup map.
“Mama enggak pernah tahu.”
“Saya tidak merasa perlu mengumumkan kepemilikan rumah setiap kali keluarga datang.”
Saat itulah Bagas masuk.
Entah Bu Ratna meneleponnya atau memang dia hendak pulang.
Dia melihat map di meja dan langsung mengerti.
“Nad.”
Saya menatapnya.
“Saya kasih waktu tiga puluh hari.”
“Untuk apa?”
“Mencari tempat tinggal lain.”
Bu Ratna berdiri.
“Kamu mau mengusir suami sendiri?”
“Saya belum selesai bicara.”
Saya mengeluarkan amplop putih dari tas.
Meletakkannya di depan Bagas.
Dia membuka.
Tangannya berhenti.
Itu bukan surat ancaman.
Bukan surat buatan saya.
Di sudut atas tertulis nama Pengadilan Agama.
Saya sudah berkonsultasi dua hari sebelumnya.
Dan pagi itu gugatan saya resmi didaftarkan.
Bagas membaca halaman pertama.
“Nadira…”
“Saya sudah terlalu lama mengira diam adalah cara menjaga rumah tangga.”
Bu Ratna memukul meja.
“Kamu mau cerai cuma karena makanan?”
Saya menoleh kepadanya.
“Tidak, Ma.”
Saya menunjuk dokumen mutasi rekening.
“Makanan hanya membuat saya akhirnya melihat pola yang selama ini saya paksa diri untuk tidak lihat.”
Bagas berdiri pucat.
Saya belum menyampaikan satu hal terakhir.
Saya membuka tas dan mengeluarkan setumpuk lembar transaksi yang sudah saya tandai.
“Dan sebelum sidang pertama, ada Rp69.300.000 yang perlu keluarga ini jelaskan.”
Tidak ada seorang pun di ruang itu yang berbicara.
Untuk pertama kalinya selama empat tahun menjadi bagian keluarga Prasetyo, saya melihat Bu Ratna tidak punya satu pun kalimat untuk menyuruh saya diam.
