Bude yang Dulu Menjual Kios Pasarnya agar Aku Bisa Tetap Kuliah Datang Meminjam Rp240 Juta, tetapi Map Cokelat di Tangannya Membuatku Menjawab Enam Kata yang Mengubah Keluarga Kami

Avatar penulis
Cerita 01
35 menit baca 46 tayangan
Bude yang Dulu Menjual Kios Pasarnya agar Aku Bisa Tetap Kuliah Datang Meminjam Rp240 Juta, tetapi Map Cokelat di Tangannya Membuatku Menjawab Enam Kata yang Mengubah Keluarga Kami
Indeks

Bude yang Dulu Menjual Kios Pasarnya agar Aku Bisa Tetap Kuliah Datang Meminjam Rp240 Juta, tetapi Map Cokelat di Tangannya Membuatku Menjawab Enam Kata yang Mengubah Keluarga Kami

BAGIAN 1

“Diah, Bude boleh pinjam Rp240 juta?”

Kalimat itu keluar begitu pelan sampai bunyi sendok yang diletakkan pelayan di meja sebelah terdengar lebih keras.

Bude Lastri duduk di depanku dengan kedua tangan menggenggam map cokelat yang sudutnya sudah lembek. Di atas map itu ada buku kontrol rumah sakit, beberapa hasil laboratorium, dan selembar kertas berstempel koperasi simpan pinjam.

Aku tidak langsung menjawab.

Selama empat puluh lima tahun hidupku, aku pernah melihat Bude meminjam gula, beras, bahkan motor tetangga kalau harus membawa orang sakit ke puskesmas.

Tapi aku belum pernah mendengar perempuan itu meminta uang kepadaku.

Apalagi sebanyak itu.

“Buat apa, Bude?”

Ia menunduk.

“Menutup pinjaman.”

Aku menunggu penjelasan berikutnya.

Bude yang Dulu Menjual Kios Pasarnya agar Aku Bisa Tetap Kuliah Datang Meminjam Rp240 Juta, tetapi Map Cokelat di Tangannya Membuatku Menjawab Enam Kata yang Mengubah Keluarga Kami

Tidak ada.

Di luar kedai, suara motor bersahut-sahutan di Jalan Pandanaran. Aku sengaja memilih tempat dekat hotel tempatku menginap di Semarang karena pagi itu aku baru selesai rapat dengan distributor regional perusahaan.

Sebagai direktur keuangan perusahaan makanan beku di Surabaya, hidupku sekarang banyak diisi angka yang jauh lebih besar daripada Rp240 juta.

Tapi angka di mulut Bude terasa jauh lebih berat.

Mungkin karena aku tahu harga setiap rupiah yang pernah ia keluarkan untukku.

Ayahku meninggal ketika aku kelas dua SMA.

Bukan karena kecelakaan besar yang masuk koran.

Ia hanya mengalami serangan jantung di bengkel mebel kecil milik seorang kenalan di Klaten, jatuh di samping tumpukan papan, dan sudah tidak bernapas ketika dibawa ke rumah sakit.

Ibu kehilangan suami.

Aku kehilangan orang yang selama ini membayar uang sekolah.

Dan adikku, Ari, yang waktu itu baru sebelas tahun, belum benar-benar mengerti mengapa setelah pemakaman tidak ada lagi suara batuk Ayah dari teras setiap Subuh.

Bude Lastri adalah kakak Ibu.

Suaminya sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Ia membesarkan anak perempuannya, Rini, sambil mengelola kios sembako di pasar kecamatan dan menerima pesanan nasi kotak.

Ia tidak kaya.

Bahkan kata “cukup” saja sering terasa terlalu mewah untuk hidupnya.

Tapi setelah Ayah meninggal, dialah orang yang datang setiap Senin pagi membawa dua kantong plastik.

Satu berisi bahan makanan.

Satu lagi berisi uang.

“Buat sekolah Diah,” katanya setiap kali Ibu menolak.

Ketika aku diterima di UNDIP lewat jalur prestasi, kami justru tidak punya uang untuk biaya awal kuliah, kos, dan kebutuhan pertama di Semarang.

Aku masih ingat Ibu duduk di dapur sambil menangis.

“Kalau memang harus ditunda setahun, ya ditunda.”

Besok sorenya Bude datang.

Tidak membawa tas belanja.

Tidak membawa lauk.

Hanya sebuah amplop bank.

Rp18 juta.

Jumlah yang waktu itu terasa sebesar satu rumah.

Belakangan aku baru tahu kios kecil miliknya di sisi utara pasar sudah dijual.

“Bude bisa jualan dari rumah,” katanya ketika aku marah. “Kesempatan kuliahmu belum tentu datang dua kali.”

Aku tidak pernah melupakan kalimat itu.

Aku kuliah sambil menjadi asisten dosen dan memberi les komputer. Setelah lulus, aku bekerja di Semarang, lalu pindah ke Surabaya. Pelan-pelan hidup kami membaik.

Aku membantu Ibu merenovasi rumah.

Membiayai kuliah Ari.

Membelikan Bude kulkas ketika yang lama rusak.

Aku berkali-kali mencoba memberi Bude uang lebih banyak.

Ia selalu menolak.

“Kalau Bude butuh, nanti Bude bilang.”

Selama bertahun-tahun, ia tidak pernah bilang.

Sampai pagi itu.

Aku menarik kertas berstempel koperasi ke arahku.

Sisa kewajiban: Rp238.740.000.

Jatuh tempo penyelesaian: dua belas hari lagi.

Di bawahnya tertulis nomor SHM sebuah rumah di Klaten.

Aku mengenali alamatnya.

“Ini rumah Bude?”

Lastri mengangguk.

Rumah sederhana dengan teras sempit, pohon jambu air di halaman, dan tembok dapur yang selalu lembap saat musim hujan.

Rumah yang sudah ditempatinya hampir tiga puluh tahun.

“Kenapa sertifikat rumah Bude ada di koperasi?”

Ia menggulung ujung kerudung di jarinya.

Kebiasaannya kalau gugup.

“Dulu ada kebutuhan keluarga.”

“Siapa yang pinjam?”

“Diah…”

“Siapa?”

Bude mengambil napas panjang.

“Ibumu tahu.”

Aku berhenti.

Bukan jawaban itu yang kuharapkan.

Selama lima tahun terakhir aku mengirim Rp12 juta setiap bulan kepada Ibu.

Rp6 juta untuk kebutuhan rumah dan obatnya.

Rp3 juta untuk membantu Ari yang usahanya naik turun.

Dan Rp3 juta lagi karena Ibu selalu mengatakan kesehatan Bude mulai banyak masalah.

“Biar Ibu yang kasih. Bude malu kalau langsung dari kamu,” begitu penjelasannya.

Karena itu aku tidak pernah mentransfer langsung kepada Lastri.

Aku percaya.

Bukankah mereka kakak-adik?

“Bude selama ini menerima uang obat dari Ibu?”

Pertanyaanku membuat ia mengangkat wajah.

“Uang obat apa?”

Hanya tiga kata.

Tapi sesuatu dalam kepalaku langsung berubah tempat.

Aku membuka aplikasi mobile banking.

Mencari transfer bulan sebelumnya.

Rp12.000.000.

Keterangan yang kutulis sendiri: Ibu + obat Bude.

“Setiap bulan aku kirim uang.”

Bude menatap layar ponselku.

Lalu menatapku.

“Bude tidak pernah menerima uang bulanan dari Ibumu.”

Aku membaca wajahnya lama-lama, berharap menemukan tanda bahwa kami sedang salah memahami sesuatu.

Yang kulihat justru rasa takut.

“Sejak kapan rumah ini dijaminkan?”

“Dua tahun delapan bulan.”

“Aku mau lihat dokumen pinjamannya.”

Bude menarik map itu kembali.

Gerakannya cepat.

“Jangan sekarang.”

“Kenapa?”

“Ibumu bilang jangan sampai kamu tahu.”

Aku tertawa kecil, tapi tidak ada sesuatu yang lucu.

“Justru karena Ibu bilang begitu, aku harus tahu.”

Bude menggeleng.

“Diah, Bude datang bukan mau bikin kamu bertengkar sama Ibumu.”

“Kalau begitu kenapa baru datang sekarang?”

Matanya mulai basah.

“Karena dua belas hari lagi rumah Bude bisa hilang.”

Aku tidak mengatakan apa-apa sampai kami keluar dari kedai.

Di depan pintu, Bude berhenti dan menyerahkan map itu kepadaku.

“Jangan marah dulu sebelum tahu semuanya.”

Di mobil, aku membuka lembar demi lembar.

Perjanjian pinjaman.

Jadwal angsuran.

Fotokopi SHM.

Surat persetujuan pemberian jaminan.

Nama Bude memang ada di sana.

Tanda tangannya juga ada.

Berarti sertifikat itu tidak dicuri atau digunakan diam-diam.

Bude memang pernah setuju.

Aku hampir menutup map ketika melihat lembar terakhir.

Formulir kontak peminjam.

Nama peminjam: Sri Wahyuni.

Ibuku.

Nomor telepon utama juga nomor Ibu.

Nama Bude hanya tertulis sebagai pemilik jaminan.

Aku membaca nominal awal pinjamannya.

Rp310 juta.

Tujuan penggunaan dana:

Modal usaha keluarga.

Aku langsung menelepon Ibu.

Ia tidak mengangkat.

Lima menit kemudian pesan WhatsApp masuk.

Ibu lagi pengajian. Ada apa?

Aku mengetik satu pertanyaan.

Pinjaman Rp310 juta pakai sertifikat rumah Bude itu untuk usaha siapa?

Pesan itu terbaca.

Tidak ada jawaban.

Satu menit.

Dua menit.

Lima menit.

Lalu sebuah panggilan masuk.

Bukan dari Ibu.

Nomor kantor koperasi yang tercetak di berkas.

Seorang perempuan memperkenalkan diri sebagai staf penagihan.

“Apakah saya bicara dengan Ibu Diah Prameswari?”

“Ya.”

“Kami mendapat nomor Ibu dari Ibu Sri. Beliau menyampaikan Ibu yang kemungkinan akan menyelesaikan kewajiban sebelum proses penjualan jaminan dilanjutkan.”

Aku menggenggam setir lebih kuat.

“Ibu saya bilang begitu kapan?”

“Kemarin sore.”

Kemarin.

Sebelum Bude datang menemuiku.

Berarti Ibu sudah tahu ia akan meminta uang kepadaku.

Lebih buruk lagi, ia sudah memberi tahu koperasi bahwa aku akan membayarnya.

Tanpa pernah bertanya kepadaku.

Aku menatap map cokelat di kursi sebelah.

Baru saat itu aku mengerti, masalahnya bukan sekadar Bude membutuhkan Rp240 juta.

Seseorang di keluargaku sudah membuat keputusan keuangan dengan uangku bahkan sebelum aku tahu ada utang.

Dan orang itu adalah ibuku sendiri.

Kalau kamu berada di posisiku, apa kamu akan langsung pulang menemui keluarga, atau mencari tahu ke mana sebenarnya Rp310 juta itu pergi? Bagian 2 dimulai dari keputusan yang kuambil saat itu.

BAGIAN 2

Aku tidak menelepon Ibu lagi.

Aku menelepon Rini.

Sepupuku itu bekerja sebagai staf administrasi di sebuah sekolah swasta di Solo. Ia mengangkat setelah dering keempat.

“Mbak Diah?”

“Rin, kamu tahu sertifikat rumah Bude dijaminkan?”

Hening cukup lama.

“Jadi Bude akhirnya cerita.”

“Kamu tahu?”

“Setahun terakhir.”

Aku memejamkan mata.

“Pinjaman itu buat Ari?”

Rini menghela napas.

“Aku kira Mbak juga tahu.”

Kalimat itu lebih menyakitkan daripada jawaban “iya”.

Rini menjelaskan bahwa hampir tiga tahun sebelumnya usaha furnitur Ari mengalami masalah besar. Dua pelanggan proyek membatalkan pesanan, sementara kayu, mesin baru, dan gaji pekerja sudah telanjur dibayar.

Ari membutuhkan uang cepat.

Bank tidak mau memberi tambahan pinjaman karena cicilan mobil dan kredit usahanya sudah tinggi.

Ibu kemudian meminta Bude membantu.

“Katanya cuma setahun,” ujar Rini. “Setelah proyek baru masuk, sertifikat akan ditebus.”

“Kenapa Bude setuju?”

Rini tertawa pendek.

Bukan tawa senang.

“Mbak benar-benar mau tanya kenapa?”

Aku tahu jawabannya bahkan sebelum ia mengatakan.

Karena keluarga.

Karena Ari anak laki-laki Ibu.

Karena Bude tinggal sendirian dan dianggap tidak punya banyak kebutuhan.

Karena selama puluhan tahun Lastri selalu menjadi orang pertama yang diminta mengalah.

“Bude bilang dulu Ibu pernah bilang, kalau bukan karena Ari tinggal dekat dan sering bantu urusan rumah, siapa yang akan mengurus Ibu kalau tua.”

Aku menekan pangkal hidung.

“Berapa yang diterima Ari?”

“Katanya sekitar Rp180 juta.”

Aku langsung membuka mata.

“Pinjamannya Rp310 juta.”

“Itu aku juga baru tahu beberapa bulan lalu.”

Ada Rp130 juta yang belum jelas.

Aku membuka catatan transfer ke Ibu selama tiga tahun terakhir.

Hampir setiap bulan jumlahnya sama.

Kadang Rp12 juta.

Kadang Rp15 juta kalau ada kebutuhan tambahan.

Kalau sebagian uang itu dipakai membayar cicilan, berarti selama ini aku sebenarnya ikut membayar utang yang bahkan tidak pernah diberitahukan kepadaku.

Aku bertanya, “Bude benar-benar tidak pernah menerima Rp3 juta per bulan untuk obat?”

“Tidak.”

“Terus biaya berobatnya?”

“BPJS. Kalau ada yang tidak tertanggung, aku yang tambah.”

Aku terdiam.

Selama ini aku menyangka sedang membantu dua perempuan sekaligus.

Ternyata satu dari mereka bahkan tidak tahu namanya dipakai sebagai alasan.

Sore itu aku menelepon staf koperasi lagi dan meminta rincian yang boleh diberikan karena aku bukan pihak dalam perjanjian.

Mereka tidak bisa memberikan seluruh transaksi.

Tapi satu hal dikonfirmasi.

Angsuran selama dua tahun pertama hampir selalu dibayar lewat rekening Ibu.

Enam bulan terakhir mulai terlambat.

Tiga bulan terakhir berhenti.

Aku akhirnya menelepon Ari.

Ia mengangkat dengan suara santai.

“Mbak, tumben.”

“Usahamu dulu dapat uang dari pinjaman Ibu berapa?”

Ia langsung diam.

“Kenapa tanya itu?”

“Jawab.”

“Sekitar seratus delapan puluh.”

“Yang lain?”

“Yang lain apa?”

“Pinjamannya Rp310 juta.”

Ari mengumpat pelan.

“Aku enggak tahu.”

Aku hampir tidak percaya.

Tapi dari nadanya, untuk pertama kali sejak pagi aku merasa seseorang memang benar-benar terkejut.

“Ri, jangan bohong.”

“Aku enggak bohong. Waktu itu Ibu bilang pinjam Rp200 juta lebih sedikit. Aku terima Rp180 juta. Sisanya katanya untuk biaya pencairan dan menutup utang lama.”

“Utang lama siapa?”

“Aku enggak tahu.”

Lalu Ari mengatakan sesuatu yang mengubah arah kecurigaanku.

“Mbak, tahun lalu aku sudah mulai nyicil balik ke Ibu.”

“Berapa?”

“Rp4 juta sampai Rp5 juta per bulan. Kalau ada proyek besar bisa lebih.”

Aku membuka mutasi transfer dari Ibu yang pernah kukira sekadar pengembalian uang belanja.

Tidak ada.

“Punya bukti?”

“Punya.”

Lima menit kemudian delapan belas tangkapan layar masuk ke WhatsApp-ku.

Transfer dari rekening Ari kepada Ibu.

Total lebih dari Rp76 juta.

Kalau uang itu benar dibayarkan ke koperasi, sisa utang seharusnya turun jauh lebih cepat.

Tapi kenyataannya masih hampir Rp240 juta.

Aku mulai menyadari bahwa Ari memang ceroboh dan egois ketika meminta bantuan keluarga, tetapi ia mungkin bukan orang yang sedang menyembunyikan semuanya.

Malam itu Ibu akhirnya menelepon.

“Kamu sudah bicara sama semua orang?”

Tidak ada salam.

Tidak ada pertanyaan kabar.

“Aku cuma mencari tahu uangnya ke mana.”

Ibu mendecakkan lidah.

“Kenapa harus dibesar-besarkan? Itu urusan keluarga.”

“Rp310 juta dengan rumah Bude sebagai jaminan bukan urusan kecil.”

“Bude sendiri setuju.”

“Uang Rp3 juta yang kukirim setiap bulan untuk obat Bude ke mana?”

Sunyi.

“Dipakai buat kebutuhan yang lebih mendesak.”

“Kebutuhan siapa?”

“Besok pulang saja. Jangan bahas di telepon.”

Aku ingin menolak.

Lalu ponselku berbunyi lagi.

Rini mengirim foto dokumen yang baru ditemukannya di lemari Bude.

Bukan dokumen koperasi.

Sebuah draf pengikatan jual beli rumah.

Harga yang tercantum: Rp430 juta.

Aku tahu rumah Bude beserta tanahnya bisa bernilai hampir Rp700 juta.

Di bagian bawah ada nama calon pembeli.

Dan nama saksi yang direncanakan.

Sri Wahyuni.

Ibuku.

Rini mengirim pesan kedua.

Mbak, kata Bude minggu depan Ibu mau bawa dia ke notaris. Katanya kalau rumah dijual sekarang, utang selesai dan sisanya bisa dibagi untuk kebutuhan keluarga.

Aku membaca kalimat “dibagi untuk kebutuhan keluarga” berkali-kali.

Rumah itu milik Bude.

Utang itu dibuat untuk menyelamatkan usaha orang lain.

Dan setelah hampir tiga tahun rumahnya dijadikan jaminan, sekarang keluarga masih merasa berhak menentukan sisa uang hasil penjualannya.

Aku menutup laptop.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku membatalkan rapat pagi berikutnya.

Aku membeli tiket kereta pertama menuju Klaten.

Karena malam itu aku akhirnya tahu satu hal.

Kalau aku hanya mengirim Rp240 juta, masalah ini tidak akan selesai.

Mereka akan menggunakan uangku untuk menutup satu lubang, lalu membuka lubang baru dengan alasan yang sama:

demi keluarga.

Saat itu diam tidak lagi terasa seperti menjaga keharmonisan. Kalau kamu jadi aku, siapa yang pertama kali akan kamu minta menjelaskan semuanya: Ibu, Ari, atau Bude sendiri? Bagian 3 adalah saat seluruh alasan yang selama ini disembunyikan akhirnya dibuka.

BAGIAN 3

Aku tiba di Stasiun Klaten sedikit lewat pukul delapan pagi.

Ari sudah menunggu di area parkir dengan mobil pikap tua yang bagian baknya penuh serbuk kayu.

Aku sebenarnya tidak meminta dijemput.

Rupanya Ibu yang menyuruh.

Begitu masuk mobil, aku langsung mencium aroma lem kayu bercampur kopi dari gelas plastik di cup holder.

Ari tidak menyalakan radio.

Ia juga tidak bertanya bagaimana perjalananku.

Baru setelah keluar dari area stasiun ia berkata, “Mbak marah sama aku?”

“Aku belum tahu harus marah sama siapa.”

Ia mengangguk kecil.

Itu jawaban paling jujur yang bisa kuberikan.

Ari sekarang tiga puluh delapan tahun. Rambut bagian depannya mulai menipis, dan ada bekas luka kecil di lengan kirinya akibat mesin potong di bengkel.

Berbeda denganku yang pergi kuliah lalu bekerja di luar kota, ia selalu tinggal dekat rumah.

Kalau genteng Ibu bocor, Ari yang naik.

Kalau Ibu kontrol ke rumah sakit, Ari yang mengantar.

Kalau ada tetangga meninggal, Ari yang membantu memasang tenda.

Itulah salah satu alasan aku selama ini tidak keberatan membantu usahanya.

Aku punya uang.

Ia punya waktu dan tenaga untuk Ibu.

Kami masing-masing merasa sudah mengambil bagian.

Masalahnya, rupanya pembagian yang kami pahami tidak pernah sama.

“Uang Rp180 juta itu habis buat apa?” tanyaku.

“Mesin CNC bekas, bahan baku, sama gaji tiga bulan.”

“Kenapa enggak bilang sama aku waktu usaha mulai bermasalah?”

Ia tersenyum hambar.

“Karena waktu aku pernah minta pendapat soal buka workshop kedua, Mbak bilang jangan dulu.”

“Jadi kamu tahu aku akan menolak.”

“Iya.”

Aku menoleh ke arahnya.

“Makanya cari jalan lewat Ibu?”

“Aku minta tolong Ibu cari pinjaman. Aku enggak pernah bilang pakai rumah Bude.”

“Jangan cuci tangan.”

“Aku enggak cuci tangan.”

Ia mengeratkan pegangan pada setir.

“Aku salah karena terima uang itu tanpa nanya jaminannya apa. Aku pikir Ibu pakai deposito atau tanah belakang rumah.”

“Tanah belakang rumah sudah dijual tujuh tahun lalu.”

“Nah. Aku juga baru tahu setelah uang cair.”

Aku menatap jalan di depan.

Tidak semua kebohongan membutuhkan orang yang ahli berbohong.

Kadang cukup satu orang yang tidak mau bertanya dan satu orang lain yang terlalu suka menjawab atas nama semua orang.

Kami berhenti lebih dulu di rumah Bude.

Lastri sedang menyapu daun jambu ketika mobil masuk.

Ia tidak terlihat seperti perempuan yang rumahnya dua belas hari lagi terancam dilepas.

Daster bunga-bunga.

Kerudung tipis.

Sandal karet.

Seperti biasa.

Hanya saja ketika melihatku turun, sapunya berhenti bergerak.

“Lho, kok langsung pulang?”

“Aku mau lihat rumah yang katanya mau dijual.”

Ari turun dari sisi lain.

Bude memandang kami bergantian.

“Kalian jangan ribut di rumah Bude.”

“Aku enggak datang buat ribut.”

Aku mendekati teras.

“Aku datang karena aku capek semua orang menjaga perasaanku dengan cara berbohong.”

Bude menurunkan sapu.

Kami masuk.

Di ruang tamu masih ada kursi rotan yang sama sejak aku kuliah. Di atas meja, toples rengginang setengah penuh. Jam dinding berbentuk rumah adat masih berdetak terlalu keras.

Aku duduk berhadapan dengan Bude.

Ari memilih kursi di dekat pintu.

“Kenapa Bude setuju menjaminkan rumah?”

Bude mengusap lutut.

“Waktu itu usaha Ari hampir tutup.”

“Aku tahu.”

“Kalau tutup, ada pekerja yang kehilangan pekerjaan.”

“Bude memikirkan pekerjanya?”

“Bude memikirkan Ibumu.”

Aku terdiam.

Lastri menatap ke arah jendela.

“Sejak kamu pindah Surabaya, yang banyak ada di dekat Ibu ya Ari. Kalau usaha Ari hancur, Ibumu takut Ari ikut pindah cari kerja ke luar kota.”

Itu masuk akal.

Bukan berarti benar.

Tapi masuk akal.

“Terus Ibu minta sertifikat?”

“Awalnya enggak.”

Bude bangkit perlahan, membuka lemari kayu dekat televisi, lalu mengambil sebuah buku tulis tipis.

Ia menyerahkannya kepadaku.

Di dalamnya ada catatan tanggal.

Nominal.

Nama.

Tulisan tangan Bude.

Aku membalik halaman.

Tiga tahun lalu.

Sri datang. Butuh Rp200 juta.

Seminggu kemudian:

Ke koperasi. Ternyata pengajuan Rp310 juta. Sri bilang ada utang lama. Aku tanda tangan karena sudah telanjur.

Aku menunjuk catatan itu.

“Kenapa sudah tahu jumlahnya beda tetap tanda tangan?”

Bude tidak segera menjawab.

Ari menatap lantai.

“Karena Ibumu menangis.”

Aku tidak menyela.

“Dia bilang malu sama kamu,” lanjut Bude. “Katanya kamu sudah terlalu banyak membantu. Kalau minta lagi, dia takut kamu menganggap Ari cuma beban.”

Aku merasakan sesuatu yang pahit naik ke tenggorokan.

Selama ini Ibu justru menggunakan namaku sebagai alasan untuk tidak memberitahuku.

“Terus utang lama yang Rp130 juta itu?”

Bude memandangku.

“Bukan semua utang.”

“Lalu?”

“Sebagian buat menutup kartu kredit dan pinjaman Ibumu sendiri.”

Ari langsung mengangkat kepala.

“Apa?”

Bude menoleh kepadanya.

“Kamu juga belum tahu?”

“Enggak.”

Aku merasakan kemarahan yang sejak kemarin seperti air panas akhirnya menemukan jalan keluar.

“Bude tahu?”

“Setelah cair.”

“Dan tetap diam?”

Lastri mengangguk.

Aku berdiri.

“Kenapa semua orang di keluarga ini punya hobi tahu sesuatu lalu diam?”

“Diah…”

“Enggak, Bude. Aku benar-benar mau tahu.”

Aku berjalan ke dekat meja makan kecil.

“Tiga tahun. Aku kirim uang setiap bulan. Ari bayar balik. Bude tahu pinjamannya bukan cuma buat Ari. Ibu tahu aku tidak tahu. Semua orang bilang diam karena enggak mau aku kepikiran.”

Aku menatap mereka satu per satu.

“Lalu sekarang rumah Bude hampir dijual. Ini yang kalian sebut menjaga perasaanku?”

Bude menunduk.

Ari tidak menjawab.

Aku menarik napas beberapa kali.

“Utang pribadi Ibu dari mana?”

Bude menjawab hati-hati.

“Renovasi rumah. Biaya pengobatan dulu. Ada juga uang yang dipakai bantu Ari waktu nikah.”

“Aku yang bayar sebagian renovasi.”

“Iya.”

“Rumah sakit Ibu pakai BPJS, biaya tambahannya juga beberapa kali aku kirim.”

“Iya.”

“Jadi utangnya dari mana?”

Lastri menggulung ujung kerudung lagi.

“Kartu kredit.”

Aku hampir tertawa.

Ibu selama ini selalu mengajariku untuk tidak membeli barang kalau belum punya uang.

Ternyata setelah Ayah meninggal, saat hidup mulai sedikit lebih longgar, ia justru terbiasa menggunakan cicilan untuk banyak hal kecil.

Televisi.

Kulkas.

Ponsel.

Biaya hajatan.

Hadiah pernikahan saudara.

Bahkan beberapa kali meminjamkan uang kepada keluarga besar karena gengsi menolak.

Sedikit demi sedikit.

Lalu bunga.

Lalu menutup satu tagihan dengan pinjaman lain.

Bukan satu kejahatan besar.

Serangkaian keputusan kecil yang tidak pernah dihentikan.

“Kenapa Ibu enggak cerita?”

“Karena malu.”

Aku mengangguk.

Kata itu lagi.

Malu.

Rasa malu ternyata bisa lebih mahal daripada bunga pinjaman.

“Sekarang soal rumah.”

Aku kembali duduk.

“Kenapa mau dijual Rp430 juta?”

Bude menatap tangannya.

“Ibumu bilang kalau utangnya enggak bisa selesai, lebih baik rumah dijual sebelum koperasi yang menjual.”

“Itu bagian yang masuk akal.”

“Pembelinya kenalan Pakde Joko.”

“Tapi harga rumah sekitar sini minimal Rp650 juta.”

Ari langsung berkata, “Aku cek tadi malam. Yang depan gang saja laku Rp690 juta.”

Bude kelihatan kaget.

“Ibumu bilang karena butuh cepat.”

Aku membuka foto draf yang dikirim Rini.

“Lalu kenapa ada kalimat sisa hasil penjualan akan dipakai menyelesaikan kebutuhan keluarga?”

Bude diam.

Ari mengambil napas keras.

“Bu keterlaluan.”

“Jangan dulu,” kataku.

Aku melihat Bude.

“Apa maksudnya?”

Lastri akhirnya menjawab.

“Ibumu bilang kalau rumah laku Rp430 juta, setelah utang dibayar mungkin masih ada sisa hampir Rp190 juta.”

“Terus?”

“Dia bilang sebagian bisa dipakai modal Ari supaya enggak perlu pinjam lagi.”

Ari berdiri.

“Bude, aku enggak pernah minta!”

“Aku tahu.”

“Kenapa Ibu…”

Aku memotong.

“Duduk.”

Ari menatapku.

“Duduk dulu.”

Ia duduk kembali, wajahnya merah.

Aku menatap Bude.

“Dan Bude mau setuju?”

“Belum.”

“Bude?”

Lastri menghela napas panjang.

“Bude bingung.”

“Rumah itu satu-satunya rumah Bude.”

“Iya.”

“Kalau dijual, Bude mau tinggal di mana?”

“Rini bilang ikut dia di Solo.”

“Bude mau?”

Tidak ada jawaban.

Itulah jawaban sebenarnya.

Aku menutup map.

“Sekarang kita ke koperasi.”

Bude langsung mengangkat tangan.

“Bude enggak mau bikin heboh.”

“Bude, hebohnya sudah terjadi. Hanya selama ini semua orang bicara pelan.”

Kalimat itu membuat Ari menatapku.

Aku mengambil tas.

“Kita cuma verifikasi angka. Tidak ada yang teriak-teriak.”

Bude masih ragu.

Aku menambahkan, “Setelah itu baru kita ketemu Ibu.”

Di kantor koperasi, kami berbicara dengan kepala cabang dan staf penagihan.

Karena Bude adalah pemilik jaminan dan Ibu tercatat sebagai peminjam, informasi yang bisa diberikan kepada kami terbatas. Namun dengan persetujuan Bude, kami bisa melihat posisi kewajiban atas asetnya.

Nominalnya benar.

Rp238.740.000.

Jika diselesaikan sebelum tanggal tertentu, ada pengurangan sebagian denda keterlambatan.

Bude bertanya, “Kalau saya bayar lunas, sertifikat langsung kembali?”

“Tidak langsung hari itu, Bu. Ada proses administrasi pelepasan jaminan. Tapi setelah pelunasan tercatat, aset tidak dilanjutkan ke proses penjualan.”

Aku bertanya, “Kalau rumah mau dijual sendiri?”

“Harus dibereskan dulu kewajiban terkait jaminannya, atau prosesnya dilakukan dengan mekanisme yang disepakati seluruh pihak.”

Tidak ada keajaiban.

Tidak ada telepon sakti.

Tidak ada seseorang yang mengatakan semua bisa batal lima menit lagi.

Ada utang.

Ada dokumen.

Ada proses.

Dan kalau ingin rumah Bude aman, Rp238 juta lebih memang harus dibayar.

Saat keluar dari kantor, Bude berkata, “Makanya Bude minta pinjam ke kamu.”

Aku menoleh.

“Kok baru sekarang?”

“Karena Bude sudah enggak punya jalan lain.”

“Kenapa tidak dari enam bulan lalu?”

Ia tersenyum tipis.

“Kamu pikir gampang minta uang sebanyak itu?”

Aku terdiam.

Kami berdiri di bawah kanopi.

Gerimis tipis turun.

Bude membuka tasnya dan mengambil buku kontrol rumah sakit yang kemarin kulihat.

“Bude kemarin bukan habis dari koperasi.”

Aku memandang buku itu.

“Dari rumah sakit?”

Ia mengangguk.

“Ada benjolan di payudara.”

Aku langsung menatapnya.

“Kapan?”

“Dua bulan.”

“Kenapa enggak bilang?”

“Belum tentu apa-apa. Minggu depan biopsi.”

Aku sampai harus menggigit bagian dalam pipi.

Lagi.

Rahasia lagi.

“Biayanya?”

“Sebagian BPJS.”

“Bukan soal biaya.”

“Bude tahu.”

“Terus kalau rumah dijual, Bude habis biopsi mau tinggal di mana?”

Lastri mengalihkan pandangan ke parkiran.

Saat itulah rasa marahku berubah bentuk.

Aku masih marah.

Tapi bukan hanya kepada Ibu.

Aku marah pada kebiasaan keluarga kami yang menganggap orang yang paling mudah mengalah sebagai orang yang paling sedikit kebutuhannya.

Karena Bude janda, rumahnya dianggap lebih mudah dipakai.

Karena aku berpenghasilan paling besar, uangku dianggap paling mudah diminta.

Karena Ari anak laki-laki yang tinggal dekat Ibu, kegagalannya dianggap harus diselamatkan.

Dan karena Ibu adalah orang tua, pertanyaannya selalu dianggap kurang ajar kalau terlalu tajam.

Setiap orang punya peran.

Tidak seorang pun pernah bertanya apakah peran itu masih sehat.

Aku membuka aplikasi deposito di ponsel.

Ada deposito Rp300 juta yang sebenarnya ingin kupakai sebagai uang muka apartemen kecil di Surabaya Barat.

Bukan untuk gaya-gayaan.

Aku sudah tinggal di rumah yang cukup.

Aku ingin membelinya sebagai investasi pensiun karena aku tidak berniat bekerja sampai umur tujuh puluh.

Kalau dicairkan sekarang, ada penalti dan aku kehilangan rencana yang sudah kususun hampir dua tahun.

Aku menatap Bude.

Ia sedang memasukkan buku rumah sakit kembali ke tas.

Tiba-tiba aku teringat dua puluh tujuh tahun lalu.

Bude pulang dari pasar tanpa kunci kios.

Aku waktu itu baru sadar kiosnya sudah dijual.

Aku marah.

Ia hanya berkata, “Kesempatan kuliahmu belum tentu datang dua kali.”

Hari itu aku mengerti satu hal.

Pengorbanan yang paling besar sering kali tidak terlihat dramatis ketika dilakukan.

Hanya sebuah kunci yang tidak lagi dibawa pulang.

Aku memasukkan ponsel ke tas.

“Kita ke rumah Ibu.”

Ibu sedang menata kotak makanan di meja ketika kami tiba.

Ada tempe bacem.

Ayam opor.

Sambal goreng kentang.

Seolah-olah kami akan mengadakan makan siang biasa.

Begitu melihat Bude turun dari mobil bersama kami, tangannya berhenti.

“Kok Lastri ikut?”

Aku melepas sepatu.

“Karena yang mau dibahas rumah Bude.”

Wajah Ibu berubah.

“Apa harus hari ini?”

“Iya.”

“Diah baru datang, makan dulu.”

“Aku enggak lapar.”

Ibu menghela napas, lalu melihat Ari.

“Kamu juga ikut campur?”

Ari masuk tanpa menjawab.

Kami duduk mengelilingi meja makan yang sama tempat dulu aku belajar matematika.

Ibu memilih kursi di ujung.

Aku meletakkan map cokelat di tengah meja.

Tidak ada yang menyentuh makanan.

Aku mulai dari hal paling sederhana.

“Pinjaman awal Rp310 juta. Ari menerima Rp180 juta.”

Ibu mengatupkan bibir.

“Ada biaya administrasi.”

“Bukan Rp130 juta.”

Tidak menjawab.

“Berapa yang dipakai menutup utang Ibu?”

“Kenapa kamu harus hitung semuanya?”

“Karena rumah Bude jadi jaminan.”

“Bude setuju.”

Lastri langsung berkata, “Sri, jangan bawa-bawa aku terus.”

Ibu menoleh tajam.

“Aku bawa-bawa kamu karena kamu memang tanda tangan.”

“Karena kamu bilang cuma sementara.”

“Memangnya aku niat rumahmu hilang?”

“Nyatanya hampir hilang.”

Kalimat Bude sangat pelan.

Tapi Ibu berhenti bicara.

Aku belum pernah mendengar kakak-beradik itu berbicara begitu.

Selama hidupku, Bude hampir selalu mengalah lebih dulu.

Ibu mengangkat dagu.

“Aku juga bayar cicilan.”

“Pakai uang siapa?” tanyaku.

Ibu menatapku.

“Uang yang kamu kirim memang buat membantu keluarga.”

“Aku menulis jelas Rp3 juta untuk obat Bude.”

“Lastri enggak butuh sebanyak itu.”

Bude menarik napas.

Aku memandang Ibu cukup lama.

“Jadi karena menurut Ibu Bude tidak membutuhkan, Ibu boleh menentukan uang itu dipakai buat apa?”

“Jangan bicara sama Ibu seperti bicara sama staf kantor.”

“Aku juga berharap Ibu tidak memperlakukan uangku seperti anggaran kantor yang bisa dipindah tanpa persetujuan.”

Ibu mendorong gelas air beberapa sentimeter.

Tangannya mulai gemetar.

“Kamu sekarang memang paling pintar. Paling berhasil.”

Aku tahu nada itu.

Kalau argumen mulai habis, jasa masa lalu akan dibuka.

“Kamu ingat enggak siapa yang besarkan kamu?”

“Aku ingat.”

“Siapa yang jual sawah waktu kamu butuh laptop?”

“Ibu.”

“Siapa yang sendirian urus kalian setelah Ayah meninggal?”

“Ibu.”

“Nah.”

Ibu menatapku dengan mata merah.

“Sekarang Ibu cuma mencoba memastikan semua anak Ibu selamat.”

Aku menahan suara tetap rendah.

“Masalahnya Ibu menyelamatkan satu anak dengan rumah kakak Ibu dan uang anak yang lain.”

Ari menunduk.

Ibu menunjuknya.

“Dia tinggal di sini. Kalau Ibu sakit tengah malam siapa yang datang? Kamu?”

Aku diam.

Kalimat itu mengenai tempat yang memang paling membuatku bersalah.

Aku tinggal ratusan kilometer jauhnya.

Sering kali ketika Ibu kontrol rumah sakit, aku cuma menerima foto resep dari WhatsApp.

Ari yang mengantar.

Ari yang menunggu.

Ari yang membelikan bubur.

Ibu tahu itu kelemahanku.

“Aku tahu Ari banyak bantu Ibu.”

“Bukan banyak. Hampir semuanya.”

Ari mengangkat wajah.

“Bu, jangan pakai aku buat alasan.”

Ibu menoleh.

“Kamu diam.”

“Enggak.”

Untuk pertama kalinya Ari tidak menuruti.

“Kalau Mbak Diah enggak kirim uang, aku juga enggak bisa bantu Ibu sebanyak sekarang.”

Ibu menatapnya tidak percaya.

Ari melanjutkan, “Kita semua saling bantu. Tapi bukan berarti boleh sembunyiin utang.”

“Kamu enak ngomong. Utangnya juga buat usahamu.”

“Iya.”

Ia mengangguk.

“Makanya mulai sekarang bagian utang yang memang buat usahaku biar aku tanggung.”

Ibu tertawa sinis.

“Pakai apa? Usahamu saja masih megap-megap.”

Ari menarik napas.

“Pikap ini bisa dijual. Mesin edging juga bisa. Workshop kedua aku tutup.”

Ibu langsung berkata, “Jangan bodoh.”

“Yang bodoh itu tiga tahun lalu aku buka workshop kedua padahal Mbak Diah sudah bilang jangan.”

Aku melihat adikku.

Kami jarang sekali sepakat secepat itu.

Bude masih diam.

Aku kemudian mengeluarkan foto draf jual beli.

“Sekarang ini.”

Ibu mengusap kening.

“Daripada dilelang murah.”

“Rp430 juta juga murah.”

“Pembelinya bayar cepat.”

“Kenapa sisa uangnya mau dipakai modal Ari?”

Ibu menatap Ari.

“Supaya kalau usaha jalan, dia bisa bayar kembali.”

Ari tertawa pendek.

“Rumah Bude dijual supaya aku bisa bayar utang karena rumah Bude?”

Tidak ada yang menjawab.

Ari menggeleng.

“Bu, dengar sendiri enggak kalimat itu?”

Ibu mulai menangis.

Bukan tangisan keras.

Hanya air mata yang turun sambil ia menekan tisu ke bawah hidung.

“Aku cuma capek.”

Tak seorang pun memotong.

“Sejak bapak kalian meninggal, semua keputusan ada di aku. Uang sekolah, makan, biaya rumah, sakit. Kalau salah sedikit, enggak ada yang bantu menanggung.”

Aku merasakan kemarahanku turun sedikit.

Bukan hilang.

Turun.

Ibu melanjutkan, “Waktu Diah mulai berhasil, Ibu pikir akhirnya hidup kita lebih ringan. Tapi setiap kali minta uang, Ibu malu. Kamu selalu kirim, tapi Ibu tahu kamu kerja keras.”

“Makanya Ibu pinjam?”

“Awalnya cuma kartu kredit. Buat kebutuhan rumah. Terus ada hajatan. Ada saudara pinjam. Ada biaya ini-itu.”

“Kenapa memberi pinjaman ke saudara kalau Ibu sendiri berutang?”

“Karena kalau enggak bantu nanti orang ngomong.”

Aku menghela napas.

Gengsi.

Akhirnya keluar juga.

“Lalu Ari butuh modal,” lanjutnya. “Ibu pikir sekalian satu pinjaman besar. Nanti cicilannya dari uang yang kamu kirim dan dari Ari.”

Aku menatapnya.

“Jadi sejak awal Ibu memang sudah memasukkan uang bulananku ke perhitungan.”

Ibu diam.

Saat itulah sesuatu yang selama ini kabur menjadi jelas.

Masalah kami bukan pinjaman Rp310 juta.

Masalahnya adalah semua orang telah menganggap penghasilanku sebagai bagian tetap dari sistem keuangan keluarga.

Bukan bantuan.

Bukan hadiah.

Bukan sesuatu yang harus ditanya.

Seperti gaji bulanan yang pasti masuk.

Karena selama lima belas tahun aku hampir tidak pernah berkata tidak.

Mereka tidak merasa sedang mengambil sesuatu.

Mereka merasa sedang menggunakan sesuatu yang memang tersedia.

Aku menyandarkan punggung.

“Ibu pernah tanya aku mau terus kirim Rp12 juta sampai kapan?”

“Kamu anak Ibu.”

“Bukan jawaban.”

“Memangnya Ibu harus bikin kontrak sama anak sendiri?”

“Kalau menyangkut rumah orang lain dan utang ratusan juta, mungkin kita memang butuh sesuatu yang lebih jelas daripada ‘keluarga’.”

Ibu menggeleng.

“Sekarang semua harus pakai hitung-hitungan.”

“Bukan.”

Aku memandang Bude.

“Justru selama ini kita tidak pernah hitung apa-apa sampai akhirnya yang paling sering mengalah kehilangan rumah.”

Bude menunduk.

Kemudian ia berkata, “Aku juga salah.”

Ibu menoleh.

“Aku tanda tangan.”

Lastri memandangku.

“Jangan bikin seolah-olah Bude sama sekali korban. Bude tahu rumah dijadikan jaminan. Bude pikir bisa bantu sebentar.”

“Bude boleh membantu.”

Aku mengangguk.

“Tapi membantu sekali bukan berarti harus kehilangan hak untuk berhenti.”

Matanya berkaca-kaca.

“Bude malu ngomong sama kamu.”

“Kenapa?”

“Karena dulu jual kios buat kuliahmu.”

Aku sampai tidak langsung memahami hubungan kedua hal itu.

“Justru karena itu aku yang harus malu kalau Bude takut minta tolong.”

Lastri menggeleng.

“Bukan begitu.”

Ia menarik napas.

“Bude takut kalau bilang soal rumah, kamu merasa harus membalas semua yang dulu Bude lakukan.”

Aku terdiam.

“Aku enggak pernah jual kios supaya suatu hari bisa menagihmu.”

Suara Lastri hampir berbisik.

“Waktu itu kamu anak pintar yang sedang kehilangan ayah. Bude kebetulan punya sesuatu yang bisa dijual. Selesai.”

Aku menunduk.

Selama puluhan tahun, aku membawa pengorbanan itu seperti utang.

Ternyata Bude sendiri tidak pernah mencatatnya sebagai piutang.

Yang mencatatnya adalah aku.

Dan mungkin Ibu.

Karena rasa bersalah itu membuatku mudah mengatakan iya.

Aku membuka tas.

Mengeluarkan bukti simulasi pencairan deposito yang sudah kukirim ke email pagi tadi.

“Aku akan lunasi kewajiban koperasi.”

Ibu langsung mengangkat kepala.

Ari ikut menatapku.

Bude menggeleng keras.

“Diah, jangan.”

Aku menatapnya.

Ia memegang pergelangan tanganku.

“Bude cuma mau pinjam. Nanti rumah dijual dengan harga normal, Bude ganti.”

Aku meletakkan tangan di atas tangannya.

Lalu akhirnya aku mengucapkan enam kata yang sejak kemarin belum sanggup kukatakan.

“Bukan pinjaman, Bude. Ini memang bagianmu.”

Lastri mengernyit.

“Bagian apa?”

“Bagian dari hidupku yang bisa sampai di sini karena dulu Bude memilih aku daripada kios Bude.”

Ia langsung menggeleng.

“Aku tidak mau dibayar.”

“Aku juga tidak sedang membayar.”

Aku tersenyum sedikit.

“Kalau semua kebaikan harus dihitung rupiah, jumlahnya enggak akan pernah cocok.”

Bude menatapku.

“Aku sedang memilih. Sama seperti dulu Bude memilih.”

Ia mulai menangis.

Aku tidak pernah nyaman melihat Bude menangis.

Mungkin karena sepanjang masa kecilku, ia selalu menjadi orang yang menyeka air mata orang lain.

“Rp240 juta itu banyak.”

“Iya.”

“Kamu punya rencana sendiri.”

“Iya.”

“Apa?”

“Apartemen buat investasi pensiun.”

“Nah.”

“Bisa ditunda.”

“Jangan gara-gara Bude.”

“Bukan gara-gara Bude.”

Aku menoleh kepada Ibu.

“Dan ini terakhir kalinya aku menutup masalah keluarga dengan uang tanpa aturan baru.”

Ibu terdiam.

Aku melanjutkan.

“Uang pelunasan dibayar langsung ke koperasi. Tidak lewat rekening siapa pun.”

Ari mengangguk.

“Setuju.”

“Setelah sertifikat kembali, sertifikat tinggal di Bude atau Rini. Bukan di rumah Ibu. Bukan di rumah Ari.”

Bude masih menangis, tapi mengangguk.

“Ari.”

Ia menatapku.

“Kita hitung berapa bagian pinjaman yang benar-benar masuk ke usahamu. Bukan seluruh Rp310 juta.”

“Iya.”

“Kamu buat jadwal pengembalian ke Bude. Sesuai kemampuan. Enggak perlu pura-pura bisa Rp10 juta kalau akhirnya nunggak.”

“Rp4 juta dulu aku masih sanggup.”

“Kalau workshop kedua ditutup?”

“Bisa Rp5 juta atau Rp6 juta.”

“Buat tertulis.”

Ibu menyela, “Sama saudara sendiri sampai harus tertulis?”

Aku menatapnya.

“Iya.”

Tidak ada nada tinggi.

Justru itu yang membuat Ibu terdiam.

“Bukan karena aku enggak percaya Ari. Karena ingatan orang berubah kalau uang sudah lewat beberapa tahun.”

Ari mengangguk.

“Enggak masalah.”

Aku melanjutkan.

“Uang bulanan untuk Ibu juga berubah mulai bulan depan.”

Wajah Ibu langsung kaku.

“Maksudnya?”

“Aku tidak lagi transfer Rp12 juta sekaligus.”

“Jadi sekarang mau menghukum Ibu?”

“Bukan.”

Aku mengeluarkan buku catatan.

“BPJS, obat tambahan, listrik, kebutuhan rumah, aku tetap bantu. Tagihan besar akan kubayar langsung. Uang belanja bulanan tetap ada.”

“Berapa?”

“Rp6 juta.”

Ibu menatapku.

“Setengah?”

“Ari tidak lagi dapat Rp3 juta dariku untuk usaha. Bagian Bude juga tidak lagi lewat Ibu.”

“Kamu tega sama adikmu?”

Ari langsung memotong.

“Bu.”

Ibu menoleh.

“Aku enggak minta lagi.”

“Tapi usahamu…”

“Kalau usaha cuma hidup karena Mbak terus kirim uang, berarti memang ada yang salah sama usahaku.”

Aku menatap Ari dan untuk pertama kali sejak datang merasa sedikit lega.

Mungkin kegagalan memang kadang diperlukan agar seseorang berhenti menyebut kebocoran sebagai investasi.

Ibu menyilangkan tangan.

“Kalau nanti ada kebutuhan mendadak?”

“Bilang.”

“Nanti kamu tanya macam-macam.”

“Iya.”

Ibu menatapku tidak percaya.

Aku hampir tersenyum.

“Kalau minta uang ratusan ribu mungkin aku enggak tanya. Kalau puluhan juta, aku akan tanya.”

“Berarti enggak percaya sama Ibu.”

“Kepercayaan bukan berarti tidak boleh bertanya.”

Ruangan kembali sepi.

Kali ini aku tidak terburu-buru mengisinya.

Tiga hari kemudian deposito cair.

Aku kehilangan sebagian bunga dan membayar penalti.

Apartemen yang sempat kuincar terjual kepada orang lain dua minggu setelah itu.

Aku sempat kecewa.

Aku manusia.

Aku bukan tokoh suci yang setelah mengeluarkan Rp240 juta langsung merasa hangat dan bahagia sepanjang hari.

Ada satu malam ketika aku membuka iklan properti lama dan berpikir, seandainya keluarga kami lebih jujur sejak awal, mungkin aku tidak perlu mengorbankan rencana itu.

Lalu aku menutup ponsel.

Pilihan yang benar tetap boleh terasa mahal.

Aku mentransfer pembayaran langsung ke rekening resmi koperasi sesuai instruksi.

Setelah proses administrasi selesai, Bude menerima kembali dokumen kepemilikan rumahnya.

Hari itu Rini mengambil cuti.

Ia menemani ibunya ke kantor.

Aku tidak bisa datang karena harus kembali ke Surabaya.

Sore harinya Rini mengirim foto.

Bude berdiri di depan kantor koperasi sambil memegang map bening.

Tidak tersenyum lebar.

Hanya sedikit.

Tapi aku tahu wajah lega ketika melihatnya.

Pesan Bude masuk beberapa menit kemudian.

Sertifikat sudah pulang. Terima kasih. Jangan marah lama-lama sama Ibumu.

Aku membaca pesan itu sambil tertawa kecil.

Bahkan setelah rumahnya hampir hilang, Lastri masih mengkhawatirkan hubungan orang lain.

Aku membalas:

Bude urus kesehatan dulu. Urusan Ibu biar aku atur sendiri.

Biopsi Bude dilakukan minggu berikutnya.

Hasilnya menunjukkan tumor jinak, tetapi dokter tetap menyarankan tindakan dan kontrol teratur karena ukurannya.

Rini yang menemani.

Aku membayar bagian biaya yang tidak tertanggung tanpa melalui Ibu.

Ketika kuitansi dikirim kepadaku, untuk pertama kalinya aku merasa tenang membayar sesuatu untuk keluarga.

Bukan karena jumlahnya kecil.

Karena aku tahu uang itu benar-benar pergi ke tempat yang kami sepakati.

Ari menutup workshop keduanya.

Ia menjual pikap tua dan satu mesin yang jarang digunakan.

Aku sempat mengira ia akan meminta bantuanku setelah itu.

Tidak.

Ia mengirim pesan:

Pikap laku Rp96 juta. Rp40 juta aku kirim ke Bude sebagai pembayaran pertama. Sisanya buat pesangon dua orang dan modal kerja workshop utama.

Aku hanya membalas:

Simpan semua bukti.

Ia mengirim emoji jempol.

Hubungan kami aneh selama beberapa minggu.

Lebih formal.

Lebih berhati-hati.

Tapi mungkin itu memang yang kami perlukan.

Setelah bertahun-tahun menganggap bantuan sebagai sesuatu yang otomatis, kami harus belajar meminta tanpa menuntut.

Ari mulai fokus membuat furnitur custom, bukan mengejar proyek besar yang modalnya terlalu berat.

Pendapatannya turun pada awalnya.

Tapi arus kasnya justru lebih sehat.

Empat bulan kemudian ia sudah membayar lagi Rp18 juta kepada Bude.

Tidak spektakuler.

Tidak membuat semua masalah selesai.

Namun nyata.

Yang paling sulit justru Ibu.

Selama hampir dua minggu ia hanya mengirim pesan seperlunya.

Listrik sudah dibayar.

Kontrol hari Kamis.

Ada undangan nikah anak Bu Sari.

Tidak ada telepon malam.

Tidak ada foto masakan.

Tidak ada pertanyaan apakah aku sudah makan.

Aku tahu itu bentuk protesnya.

Dulu, setiap kali Ibu diam, aku selalu menjadi orang pertama yang mengalah.

Kali ini tidak.

Aku tetap membayar kebutuhannya.

Tetap mengirim uang belanja sesuai kesepakatan.

Tetap menanyakan hasil kontrol.

Tapi aku tidak menambah uang hanya karena ia sedang dingin.

Pada minggu ketiga, Ibu menelepon.

“Diah.”

“Iya, Bu.”

“Ada sepupu Ibu mau pinjam Rp7 juta.”

Aku menunggu.

“Terus?”

“Ibu bilang enggak punya.”

Aku tersenyum kecil.

“Bagus.”

“Dia bilang Ibu berubah.”

“Terus?”

“Ibu bilang memang.”

Untuk pertama kalinya sejak pertengkaran itu, kami tertawa kecil bersama.

Tidak lama.

Hanya beberapa detik.

Tapi cukup.

Kemudian Ibu berkata, “Ternyata susah ya bilang enggak.”

Aku memandang lampu kota dari jendela apartemen sewaanku.

“Iya.”

“Dulu Ibu pikir kalau menolak saudara berarti nanti saat kita susah tidak ada yang bantu.”

“Sekarang?”

“Waktu kita susah kemarin, ternyata masalahnya justru terlalu banyak orang bantu tanpa jelas.”

Aku tidak menjawab.

Kadang orang tidak membutuhkan ceramah.

Mereka hanya membutuhkan kesempatan mendengar kalimat mereka sendiri.

Ibu kemudian bertanya, “Kamu masih marah?”

“Masih sedikit.”

“Lama sekali.”

“Utangnya hampir tiga tahun.”

Ia mendecakkan lidah.

Aku tertawa.

Ibu ikut tertawa pelan.

Kami belum selesai.

Tapi setidaknya hari itu kami akhirnya bisa berbicara tanpa berpura-pura tidak pernah terjadi apa-apa.

Enam bulan setelah semuanya terbuka, aku pulang lagi ke Klaten.

Bukan karena utang.

Bukan karena dokumen.

Bukan karena ada keluarga yang meminta transfer.

Bude selesai kontrol dan ingin membuat nasi liwet untuk kami.

Ketika aku datang, halaman rumahnya lebih terang.

Pohon jambu sudah dipangkas.

Tembok dapur yang lembap dicat ulang oleh Ari.

Di teras ada kursi plastik baru.

“Dari mana?” tanyaku.

Bude menunjuk Ari.

“Dia.”

Ari yang sedang mengipas ayam bakar langsung berkata, “Cuma Rp280 ribu, jangan bikin rapat keluarga.”

Aku tertawa sampai Bude ikut tertawa.

Ibu datang membawa kerupuk.

Hubungan antara dua kakak-beradik itu belum sepenuhnya kembali seperti dulu.

Lastri sudah tidak lagi menyerahkan dokumen penting kepada Ibu.

Kalau ada masalah uang, Rini ikut tahu.

Ibu pada awalnya tersinggung.

Belakangan ia berhenti berkomentar.

Kami makan di teras.

Tidak ada pembicaraan besar.

Tidak ada permintaan maaf dramatis.

Ibu hanya tiba-tiba mendorong piring ayam ke arah Bude.

“Makan yang dada. Kamu sukanya itu.”

Lastri mengambilnya.

“Enggak usah sok baik.”

“Ya sudah, balikin.”

“Sudah di tangan.”

Ari tertawa.

Aku memandangi mereka dan menyadari sesuatu.

Pemulihan keluarga ternyata jarang berbentuk pelukan sambil menangis.

Kadang hanya dua saudara tua yang masih bisa berebut sepotong ayam setelah hampir kehilangan kepercayaan.

Sebelum pulang, Bude memanggilku ke kamar.

Ia membuka lemari pakaian.

Di rak paling atas ada kotak plastik bertutup biru.

Dari dalamnya ia mengeluarkan map bening.

SHM rumah.

“Sekarang Bude simpan sendiri.”

Aku tersenyum.

“Bagus.”

“Rini juga punya fotokopinya.”

“Lebih bagus.”

Ia menatapku.

“Diah.”

“Hm?”

“Uangmu nanti Bude ganti sedikit-sedikit.”

Aku menggeleng.

Kami sudah membahasnya berkali-kali.

“Enggak.”

“Minimal…”

“Bude.”

Ia diam.

Aku menunjuk map di tangannya.

“Dulu waktu Bude jual kios, Bude pernah kasih aku kuitansi utang?”

“Enggak.”

“Pernah minta aku tanda tangan?”

“Enggak.”

“Ya sudah.”

“Itu beda.”

“Memang beda.”

Aku tersenyum.

“Karena sekarang aku lebih cerewet.”

Ia memukul lenganku pelan.

Aku memeluknya.

Tidak lama.

Lastri bukan orang yang suka pelukan panjang.

Ketika aku keluar kamar, ia memasukkan kembali sertifikat itu ke kotak biru lalu menutup lemari.

Kunci lemari masuk ke saku dasternya.

Bukan ke tangan Ibu.

Bukan ke tangan Ari.

Bukan ke tanganku.

Ke tangannya sendiri.

Dan entah kenapa, itulah bagian dari semua kejadian ini yang paling membuatku lega.

Sekarang sudah hampir setahun sejak pagi ketika Bude datang membawa map cokelat dan meminta Rp240 juta.

Aku belum membeli apartemen investasi.

Dana pensiunku kubangun lagi pelan-pelan.

Ari masih mencicil kepada Bude.

Usahanya lebih kecil, tapi tidak lagi hidup dari suntikan uang keluarga.

Ibu masih kadang mencoba mengatakan, “Kalau kamu ada rezeki lebih…”

Sekarang aku selalu bertanya, “Buat apa?”

Dulu pertanyaan itu membuatku merasa seperti anak durhaka.

Sekarang tidak lagi.

Aku tetap membantu Ibu.

Tetap pulang.

Tetap membawa oleh-oleh.

Tetap membayar beberapa biaya kesehatannya.

Tetapi aku tidak lagi menganggap cinta harus dibuktikan dengan seberapa cepat aku membuka aplikasi bank.

Beberapa bulan lalu, grup WhatsApp keluarga ramai karena seorang kerabat ingin meminjam uang untuk biaya renovasi rumah.

Nama-namaku mulai disebut.

Coba tanya Diah.

Dulu aku mungkin langsung menghubungi orang itu.

Kali ini aku membaca pesan tersebut, meletakkan ponsel terbalik di meja, lalu menuang teh.

Beberapa menit kemudian aku membalas:

Maaf, untuk yang ini aku tidak bisa.

Tidak memberi alasan panjang.

Tidak membuat cerita agar penolakanku terdengar lebih sopan.

Tidak merasa harus menyelamatkan semua orang dari akibat keputusan mereka.

Bude mengirim satu emoji jempol.

Ibu tidak berkomentar.

Ari malah menulis:

Nah, akhirnya lulusan UNDIP bisa bilang tidak juga.

Aku tertawa sendiri di balkon.

Mungkin itulah hal yang paling lama kupelajari.

Dulu aku mengira keberhasilan berarti bisa membantu keluarga setiap kali mereka membutuhkan.

Sekarang aku tahu, keberhasilan juga berarti cukup dewasa untuk membedakan antara membantu dan mengambil alih tanggung jawab orang lain.

Bude Lastri pernah menjual sesuatu yang berharga agar hidupku tidak berhenti.

Ketika tiba giliranku membantu, aku memilih melakukan hal yang sama.

Bukan karena utang.

Bukan karena rasa bersalah.

Dan bukan karena keluarga berhak mengambil apa pun yang kumiliki.

Aku melakukannya karena kali itu benar-benar pilihanku.

Itulah perbedaan yang selama bertahun-tahun tidak pernah kami pahami.

Dan setelah semuanya selesai, enam kata yang kuucapkan kepada Bude ternyata bukan hanya tentang Rp240 juta.

“Bukan pinjaman, Bude. Ini memang bagianmu.”

Bagian dari hasil kebaikan yang dulu ia tanam tanpa pernah berharap memanennya.

Sementara bagian yang menjadi milikku adalah pelajaran yang jauh lebih mahal:

mencintai keluarga tidak berarti membiarkan mereka membuat keputusan atas nama kita.

Kadang bentuk kasih sayang yang paling sehat justru sebuah batas yang jelas.

Terima kasih sudah mengikuti kisah ini sampai akhir. Semoga kamu dan keluargamu selalu diberi kesehatan, ketenangan, rezeki yang cukup, dan keberanian untuk saling membantu tanpa saling mengambil hak. Kalau kamu berada di posisi Diah, apakah kamu juga akan melunasi rumah Bude, atau memilih membiarkan setiap orang menanggung bagian utangnya sendiri? Ceritakan pendapatmu di kolom komentar. Kalau kisah ini terasa dekat dengan kehidupan nyata, silakan bagikan kepada orang yang mungkin membutuhkan pengingat bahwa berkata “tidak” kepada keluarga tidak selalu berarti berhenti menyayangi mereka.