Bagian 2
Elisa berhenti di depanku dan tidak membuang waktu.
“Aku butuh bantuanmu sekarang.”
Aku belum pernah mendengarnya menggunakan “aku” kepadaku.
Biasanya selalu “saya”.
Aku menurunkan gelas.
“Ada masalah dengan acara?”
“Bukan.”
Dia melirik ke belakang.

Ibunya masih berdiri bersama dua laki-laki tadi.
“Berpura-puralah jadi pacarku.”
Aku hampir tertawa karena kupikir dia sedang membuat lelucon yang tidak kumengerti.
Wajahnya tidak berubah.
“Bu Elisa?”
“Cuma malam ini.”
“Kenapa saya?”
“Karena kamu ada di sini.”
Jawaban itu seharusnya membuatku menolak.
Tapi kemudian dia menambahkan, lebih pelan, “Dan karena aku percaya kamu tidak akan memanfaatkan keadaan.”
Itu kalimat pribadi pertama yang pernah dia ucapkan kepadaku.
Aku menatap kelompok di belakangnya.
“Laki-laki itu siapa?”
“Ferry Aditya. Teman keluarga.”
“Dan?”
“Mama sudah tiga bulan mencoba mempertemukan kami. Aku selalu menolak.”
“Kalau cuma dikenalkan, kenapa harus punya pacar palsu?”
Rahangnya mengeras.
“Karena malam ini Mama bilang kepada keluarganya bahwa aku sudah bersedia mempertimbangkan hubungan serius.”
Aku diam.
“Tanpa bertanya pada Ibu?”
“Tanpa bertanya.”
Sekarang aku mengerti ekspresinya.
Bukan malu.
Marah yang sedang ditahan.
“Kalau saya membantu, setelah ini selesai?”
“Besok semuanya kembali seperti biasa.”
Dia ragu sebentar.
Lalu keluar kalimat yang akhirnya mengubah cara pandangku tentang malam itu.
“Kamu pernah mencoba masuk tim konsultan, kan?”
Aku menatapnya.
Dia tahu.
“Dua kali,” katanya. “Aku juga tahu.”
Aku tidak menjawab.
“Bantu aku malam ini. Akan kuberikan hal paling berharga yang bisa kuberikan di kantor. Rekomendasiku.”
Aku seharusnya menolak saat itu juga.
Atasan tidak seharusnya menawarkan kesempatan karier sebagai imbalan atas urusan pribadi.
Aku tahu itu.
Dia juga seharusnya tahu.
Tapi selama dua tahun aku ingin keluar dari meja asisten.
Dan kesempatan berdiri di depanku.
“Cuma malam ini?” tanyaku.
“Cuma malam ini.”
Aku mengangguk.
Elisa mengembuskan napas panjang.
Lalu, tanpa menyentuhku, dia berkata, “Ikut.”
Ibunya bernama Ratna.
Kakaknya, Dimas.
Sedangkan Ferry ternyata seorang duda berusia akhir tiga puluhan yang mengelola perusahaan desain interior bersama dua rekannya.
Tidak ada satu pun dari mereka yang terlihat seperti tokoh jahat.
Justru itulah yang membuat situasinya lebih tidak nyaman.
“Elisa,” kata Bu Ratna ketika kami mendekat, “ini temanmu?”
Elisa berdiri di sampingku.
“Julian. Pacarku.”
Keheningan berlangsung mungkin dua detik.
Cukup lama untuk terasa seperti dua menit.
Dimas pertama kali bereaksi.
“Pacar?”
Elisa mengangguk.
Bu Ratna menatapku dari kepala sampai sepatu.
“Kamu bekerja di mana, Julian?”
Sebelum Elisa menjawab, aku berkata, “Di perusahaan yang sama, Bu.”
“Bagian apa?”
Aku bisa berbohong.
Aku tidak melakukannya.
“Saya asistennya Elisa.”
Alis Bu Ratna naik sedikit.
Dimas menatap adiknya.
“Serius?”
Elisa menjawab pendek.
“Serius.”
Ferry justru mengulurkan tangan kepadaku.
“Ferry.”
“Julian.”
Jabat tangannya biasa.
Tidak ada perebutan wilayah seperti dalam drama murahan.
Beberapa menit kemudian bahkan dia berkata pelan ketika Elisa sedang menjawab pertanyaan ibunya, “Saya juga tidak tahu malam ini akan seperti ini.”
Aku menatapnya.
Dia tersenyum hambar.
“Sepertinya kita berdua sama-sama datang dengan informasi yang tidak lengkap.”
Kalimat itu membuatku sedikit malu pada diriku sendiri karena sempat menganggapnya sebagai masalah.
Masalah sebenarnya ternyata ada di tempat lain.
Bu Ratna terus bertanya.
Orang tuaku tinggal di mana.
Sudah berapa lama aku mengenal Elisa.
Apakah keluargaku tahu.
Aku menjawab sehemat mungkin.
Setiap jawaban membuat kebohongan kecil itu terasa semakin berat.
Saat Elisa pergi sebentar menyapa klien, Bu Ratna mendekat kepadaku.
“Julian.”
“Iya, Bu?”
“Elisa kadang mengambil keputusan ketika sedang kesal.”
Aku tidak menjawab.
“Saya tidak tahu hubungan kalian seperti apa. Tapi saya harap kamu tidak terburu-buru menganggap semua ini serius.”
Nada suaranya sopan.
Justru itu membuat perkataannya lebih tajam.
“Sebaiknya Ibu membicarakannya dengan Elisa.”
“Saya sedang membicarakannya dengan kamu.”
“Kalau begitu saya tidak tahu harus menjawab apa.”
Bu Ratna menatapku lama.
“Dia tiga puluh lima tahun.”
“Saya tahu.”
“Dia terlalu lama hidup seolah tidak membutuhkan siapa pun.”
Aku hampir mengatakan bahwa umur seseorang bukan alasan untuk menentukan pasangannya.
Tapi itu bukan tempatku.
Aku hanya berkata, “Itu sepertinya keputusan Elisa, Bu.”
Wajah Bu Ratna berubah sedikit.
Tidak sampai marah.
Hanya jelas tidak suka.
Dimas kemudian memanggil ibunya.
Aku lega ketika Elisa kembali.
Namun sebelum acara selesai, keadaan memburuk.
Aku sedang berdiri tidak jauh dari pintu balkon ketika mendengar suara Bu Ratna.
“Minggu depan keluarga Ferry sudah saya undang ke rumah.”
Elisa menjawab lebih pelan.
“Aku tidak pernah bilang setuju.”
“Kamu bahkan tidak mau mencoba.”
“Karena aku tidak mau.”
“Ini bukan pernikahan besok pagi. Cuma makan malam keluarga.”
“Mama sudah bilang apa pada mereka?”
Bu Ratna tidak langsung menjawab.
Dimas yang menjawab.
“Mama bilang kamu siap bicara serius.”
Elisa tertawa pendek tanpa humor.
“Jadi sekarang penolakanku diterjemahkan menjadi siap bicara serius?”
“Kamu selalu membuat semuanya sulit,” kata Dimas.
Aku ingin pergi.
Percakapan itu bukan urusanku.
Tapi saat berbalik, Elisa melihatku.
Dia tahu aku mendengar.
Di mobil menuju rumah malam itu, ponselku berbunyi.
Bukan pesan dari Elisa.
Email dari HR.
Subjeknya membuatku berhenti berjalan di trotoar.
Nominasi Internal Program Junior Consultant.
Aku membukanya.
Namaku tercantum sebagai salah satu kandidat untuk seleksi tahap berikutnya.
Di bagian bawah ada catatan kecil.
Nominasi manajer telah diajukan dua minggu sebelumnya.
Pengusul: Elisa Kurniawan.
Dua minggu sebelum pesta.
Dua minggu sebelum dia meminta bantuanku.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Aku membaca email itu tiga kali.
Tanggalnya tidak berubah.
Elisa sudah mengajukan namaku sebelum malam ini.
Artinya rekomendasi yang dia tawarkan bukan sesuatu yang baru saja dia putuskan karena membutuhkan pacar palsu.
Keesokan paginya aku tiba lebih awal.
Kopi Elisa sudah kubeli, seperti biasa.
Tapi bukannya meletakkannya di mejanya dan kembali ke lantai dua, aku menunggu sampai dia datang.
Dia melihatku di depan ruangannya.
“Pagi.”
“Pagi, Bu. Saya perlu bicara.”
Elisa membuka pintu.
“Masuk.”
Aku duduk di kursi yang biasanya digunakan klien.
Ini pertama kalinya aku duduk di sana untuk membicarakan sesuatu tentang diriku sendiri.
Aku membuka email di ponsel dan meletakkannya di meja.
“Saya menerima ini tadi malam.”
Dia membacanya sekilas.
“Aku tahu.”
“Nominasi saya dikirim dua minggu lalu.”
“Iya.”
“Kenapa Ibu menawarkan rekomendasi itu sebagai imbalan?”
Dia diam cukup lama.
“Aku panik.”
“Itu bukan jawaban yang bagus.”
“Memang bukan.”
Aku tidak menduga dia mengakuinya begitu cepat.
Elisa melepas jam tangannya dan meletakkannya di meja, kebiasaan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Namamu sudah masuk sebelum pesta. Aku tidak bisa menarik atau memberikan promosi itu sendiri. Ada wawancara, tes kasus, dan panel yang bahkan tidak kupimpin.”
“Kenapa saya tidak pernah diberi tahu?”
“Karena biasanya kandidat memang baru diberi tahu setelah HR menyetujui nominasi.”
Aku menatapnya.
“Jadi sebenarnya Ibu tidak punya sesuatu untuk diberikan kepada saya.”
Dia menarik napas.
“Benar.”
“Lalu kenapa bilang begitu?”
“Karena saat itu aku berpikir kalau aku menjadikan bantuanmu sebagai transaksi, aku tidak perlu merasa sedang meminta pertolongan.”
Aku tidak langsung mengerti.
Dia melanjutkan.
“Kalau aku bilang aku butuh bantuan dan kamu menolong karena kasihan, aku akan berutang secara pribadi. Kalau kubuat terdengar seperti kesepakatan kerja, rasanya lebih mudah.”
“Bagi Ibu.”
“Bagi aku.”
Aku mengangguk perlahan.
Setidaknya dia tidak mencoba membela diri.
“Tidak adil bagi saya.”
“Aku tahu.”
“Dan tidak profesional.”
“Aku juga tahu.”
Kami terdiam.
Akhirnya aku berkata, “Saya tidak mau proses seleksi itu dikaitkan dengan apa yang terjadi tadi malam.”
“Tidak akan.”
“Bukan cuma kata-kata, Bu.”
Elisa menatapku.
“Apa yang kamu minta?”
“Saya ingin Ibu tidak ikut menilai saya. Dan kalau perlu, saya pindah supervisor selama proses seleksi.”
Itulah pertama kalinya aku memberi syarat kepada Elisa Kurniawan.
Anehnya, suaraku tidak gemetar.
Dia mengambil ponselnya.
“Aku akan bicara dengan HR hari ini.”
“Dan soal keluarga Ibu?”
Ekspresinya kembali tegang.
“Aku akan mengurusnya.”
“Bagus.”
Aku berdiri.
Sebelum keluar, dia memanggil.
“Julian.”
Aku menoleh.
“Terima kasih untuk tadi malam.”
Aku mengangguk.
“Kita impas setelah Ibu memperbaiki urusan kantor.”
Sudut bibirnya bergerak sedikit.
“Adil.”
Kupikir semuanya selesai.
Ternyata belum.
Menjelang sore, Elisa memanggilku lagi.
Kali ini bukan ke ruangannya.
Dia berdiri di dekat lorong lift.
“Mama mengundangmu makan siang hari Minggu.”
Aku sampai tertawa.
“Tidak.”
“Dengar dulu.”
“Tidak perlu.”
“Mereka percaya kita benar-benar berpacaran.”
“Itu masalah yang Ibu buat.”
“Aku tahu.”
“Berarti Ibu yang menyelesaikan.”
“Aku akan bilang yang sebenarnya.”
Aku berhenti.
“Yang sebenarnya?”
“Bahwa aku memintamu berpura-pura karena aku tidak punya keberanian menghentikan mereka dengan cara yang benar.”
Jawaban itu membuatku tidak langsung pergi.
Elisa melanjutkan.
“Aku cuma ingin kamu datang karena namamu sudah terseret. Aku tidak mau mereka berpikir kamu yang memanfaatkan situasi.”
Aku mempertimbangkannya.
“Kalau saya datang, sebelum makan dimulai Ibu bilang semuanya.”
“Iya.”
“Tidak ada lagi kebohongan.”
“Iya.”
“Dan setelah itu saya bukan bagian dari urusan keluarga Ibu.”
Elisa mengangguk.
“Setuju.”
Hari Minggu aku datang ke rumah orang tua Elisa di kawasan Surabaya Barat.
Bukan rumah istana.
Rumah besar, rapi, halaman lebar, dengan dua mobil di garasi dan meja makan yang terlihat seperti hanya digunakan ketika ada acara keluarga.
Bu Ratna membuka pintu.
Ekspresinya langsung berubah saat melihatku.
“Julian.”
“Siang, Bu.”
Ferry belum datang.
Ternyata keluarganya pun belum.
Hanya Bu Ratna, Dimas, Elisa, dan ayah mereka, Pak Hadi.
Aku baru pernah melihat Pak Hadi dari foto.
Usianya sekitar akhir enam puluhan. Bicaranya pelan, berbeda dari istrinya yang langsung ingin mengetahui alasan kedatanganku.
Elisa tidak menunggu lama.
“Ma, Pa, Mas Dimas, Julian bukan pacarku.”
Bu Ratna diam.
Dimas mengernyit.
Pak Hadi menatap putrinya.
Elisa melanjutkan.
“Aku minta dia berpura-pura malam itu.”
“Kamu apa?” suara Bu Ratna naik.
“Itu salahku. Julian tidak meminta apa pun.”
Bu Ratna menatapku.
Aku berkata, “Saya seharusnya tidak ikut, Bu. Tapi waktu itu saya setuju.”
Dimas tertawa pendek.
“Jadi kalian membuat kami terlihat bodoh?”
Elisa menjawab, “Aku melakukannya karena aku panik setelah Mama mengatakan pada keluarga Ferry bahwa aku siap mempertimbangkan hubungan serius.”
“Karena kamu tidak pernah mau bicara baik-baik!”
“Aku sudah bilang tidak.”
“Berapa kali kami harus mendengar tidak sebelum kamu mau memikirkan masa depan?”
Pertanyaan itu membuat ruang makan sunyi.
Aku tidak ikut bicara.
Ini memang bukan pertengkaranku.
Bu Ratna duduk.
“Kamu sudah tiga puluh lima.”
“Aku tahu umurku.”
“Mama khawatir.”
“Aku juga tahu.”
“Khawatir itu salah?”
“Tidak. Mengatakan kepada orang lain bahwa aku setuju padahal aku bilang tidak, itu yang salah.”
Bu Ratna memandang meja.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada orang membanting barang.
Justru percakapan menjadi lebih berat karena semua orang masih duduk di kursinya masing-masing.
Pak Hadi akhirnya bicara.
“Ratna, memang kamu sudah bilang apa kepada keluarga Ferry?”
Bu Ratna tidak segera menjawab.
Dimas tampak tidak nyaman.
Akhirnya dia berkata, “Saya bilang Elisa bersedia membuka pembicaraan.”
Pak Hadi memandang putrinya.
“Kamu pernah bilang begitu?”
“Tidak.”
Pak Hadi bersandar.
“Kalau begitu memang seharusnya jangan dikatakan.”
Bu Ratna langsung menoleh kepada suaminya.
“Kamu juga terus bertanya kapan Elisa menikah.”
“Bertanya berbeda dengan menjawab atas namanya.”
Itu bukan kemenangan besar.
Hanya satu kalimat.
Tapi aku melihat bahu Elisa sedikit turun.
Dimas masih membela ibunya.
“Semua orang cuma mau yang terbaik.”
Elisa menatap kakaknya.
“Kalau memang begitu, lain kali tanya aku dulu.”
Ponsel Bu Ratna berbunyi.
Ferry.
Dia sedang dalam perjalanan.
Bu Ratna menatap Elisa.
“Sekarang bagaimana?”
Elisa menjawab, “Telepon dia. Bilang makan siangnya dibatalkan dan aku minta maaf karena dia ikut terseret.”
“Tidak sopan.”
“Lebih tidak sopan kalau kita membiarkan dia datang untuk membicarakan sesuatu yang tidak pernah aku setujui.”
Bu Ratna tetap diam.
Akhirnya Pak Hadi mengambil ponsel dari meja.
“Biar saya yang telepon.”
Elisa menggeleng.
“Biar aku.”
Dia mengambil ponselnya sendiri dan menelepon Ferry.
Tidak memakai pengeras suara.
Kami hanya mendengar satu sisi percakapan.
“Mas Ferry, maaf. Saya harus menjelaskan sesuatu.”
Dia berhenti mendengarkan.
“Malam acara kantor itu, Julian bukan pacar saya. Saya memintanya berpura-pura karena saya panik.”
Hening lagi.
“Bukan salah dia.”
Beberapa detik.
“Iya.”
Lalu sesuatu yang tidak kami duga terjadi.
Elisa mengangguk meskipun Ferry tidak bisa melihat.
“Terima kasih.”
Dia menutup telepon.
Bu Ratna bertanya, “Dia bilang apa?”
“Dia juga tidak pernah setuju datang untuk pembicaraan pertunangan. Dia pikir ini cuma makan siang biasa.”
Dimas mengusap wajah.
Jadi masalahnya ternyata lebih sederhana dan lebih memalukan daripada rencana besar apa pun.
Dua keluarga telah terlalu banyak membuat asumsi.
Bu Ratna berharap kedekatan akan tumbuh kalau pertemuan terus diatur.
Keluarga Ferry mengira Elisa mulai terbuka.
Ferry sendiri memilih bersikap sopan.
Sedangkan Elisa, yang bertahun-tahun menghindari konflik keluarga dengan bekerja sampai larut, baru benar-benar melawan ketika tekanan itu dibawa ke acara kantornya.
Dan aku, asisten yang terbiasa mengatakan iya, ikut masuk ke dalam kebohongan karena melihat kesempatan untuk karierku.
Tidak ada satu orang pun yang sepenuhnya tidak bersalah.
Setelah pembicaraan itu, aku tidak tinggal makan siang.
Aku pamit.
Bu Ratna tidak meminta maaf kepadaku, tapi dia berkata, “Maaf kamu sampai ikut urusan keluarga kami.”
Itu cukup untuk hari itu.
Di teras, Elisa mengantarku keluar.
“Kamu yakin mau pulang?”
“Iya.”
“Kita belum makan.”
“Saya bisa beli soto di jalan.”
Dia tertawa kecil.
Aku jarang mendengar suaranya seperti itu.
Lalu wajahnya kembali serius.
“Julian.”
“Ya?”
“Minggu lalu aku menganggapmu orang yang aman karena kamu selalu diam.”
Aku menatapnya.
“Itu bukan pujian yang bagus.”
“Aku tahu.”
Dia menunduk sebentar.
“Sekarang aku tahu kamu diam karena memilih kapan perlu bicara.”
Aku tidak menjawab.
Aku hanya mengangguk lalu berjalan ke mobil sewaan online yang sudah menunggu.
Senin pagi, keadaan kantor mulai terasa canggung.
Beberapa orang melihat aku dan Elisa berdiri bersama di pesta.
Ada yang melihat kami berbicara dengan keluarganya.
Tidak ada yang tahu cerita lengkap.
Rumor di kantor tidak membutuhkan fakta lengkap.
Saat makan siang, Bagas yang bekerja di perusahaan berbeda bahkan mengirim pesan.
Katanya salah satu temannya yang punya kenalan di kantorku mendengar aku sedang dekat dengan direktur.
Aku membalas satu kata.
Tidak.
Tetapi aku tahu masalahnya tidak bisa diselesaikan dengan menjawab satu per satu.
Sore itu HR memanggilku.
Seorang manajer bernama Bu Nadia menjelaskan bahwa Elisa sendiri telah memberi tahu mereka tentang kejadian di pesta.
Dia tidak memberikan detail keluarga yang tidak perlu.
Dia hanya mengatakan bahwa dia meminta bawahannya berpura-pura sebagai pasangan dalam sebuah acara yang juga dihadiri rekan kerja, dan bahwa sebelumnya dia sempat menyebut peluang karier sebagai imbalan.
Aku menunggu konsekuensi terburuk.
Bu Nadia justru berkata, “Bu Elisa meminta agar dia tidak terlibat dalam proses seleksi Anda.”
Aku mengangguk.
“Memang itu yang saya minta.”
“Untuk sementara, evaluasi kinerja Anda akan ditandatangani Pak Surya.”
“Baik.”
“Kami juga perlu memastikan tidak ada hubungan pribadi yang sedang berlangsung.”
“Tidak ada.”
“Dan Anda merasa ditekan?”
Pertanyaan itu sulit.
Aku memikirkannya dulu.
“Dia atasan saya. Jadi meskipun saya bilang iya, situasinya memang membuat saya sulit menolak.”
Bu Nadia mencatatnya.
“Tapi saya juga setuju karena saat itu saya berpikir bisa mendapatkan keuntungan untuk karier saya.”
Itu bagian yang tidak enak diakui.
Tapi benar.
Bu Nadia mengangguk.
“Terima kasih sudah jujur.”
Elisa mendapat teguran tertulis terkait batas profesional.
Tidak ada pemecatan dramatis.
Tidak ada rapat direksi mendadak.
Dia tetap bekerja.
Hanya saja selama beberapa minggu dia menjadi lebih hati-hati setiap kali berbicara denganku.
Tidak ada lagi permintaan pribadi.
Tidak ada pesan larut malam kecuali benar-benar berkaitan dengan pekerjaan.
Dan untuk pertama kalinya, aku merasa hubungan profesional kami justru lebih jelas daripada sebelumnya.
Proses seleksi junior consultant berjalan sebulan.
Aku mengikuti tes kasus.
Lalu wawancara dengan dua direktur yang hampir tidak pernah bekerja langsung dengan Elisa.
Pada sesi terakhir aku diminta menjelaskan bagaimana aku akan menangani klien yang terus mengubah ruang lingkup proyek tanpa ingin menambah anggaran.
Pertanyaan itu lebih menegangkan daripada berpura-pura menjadi pacar atasanku.
Dua minggu kemudian, aku mendapat email.
Diterima.
Bukan sebagai konsultan senior.
Bukan promosi ajaib.
Junior consultant.
Gajinya naik, tapi tidak sampai membuat hidupku berubah dalam semalam.
Aku pindah dari lantai dua ke lantai empat.
Mejaku tetap kecil.
Aku masih membawa laptop sendiri ke rapat.
Aku masih harus belajar banyak.
Bedanya, namaku sekarang tercantum di laporan proyek.
Hari pertama di posisi baru, Elisa melewati mejaku.
Dia berhenti.
“Selamat.”
“Terima kasih.”
“Kamu lolos tanpa bantuanku.”
“Saya tahu.”
“Itu bagus.”
“Sangat bagus.”
Dia mengangguk dan pergi.
Hubungan kami kembali berjarak.
Dan aku merasa itu memang seharusnya.
Dari kabar yang sesekali kudengar langsung dari Elisa, hubungannya dengan keluarganya juga tidak langsung membaik.
Bu Ratna berhenti memperkenalkan laki-laki kepadanya, tapi selama hampir sebulan mereka hanya berbicara seperlunya.
Dimas masih merasa Elisa terlalu keras.
Pak Hadi justru mulai meminta istrinya mengonfirmasi dulu sebelum membuat rencana yang melibatkan anak-anak mereka.
Tidak ada satu makan siang yang menyembuhkan semuanya.
Mereka hanya mulai belajar bahwa kekhawatiran tidak memberi seseorang hak untuk menjawab atas nama orang lain.
Ferry beberapa kali masih muncul di acara profesional.
Kalau kami bertemu, kami saling menyapa.
Tidak ada persaingan.
Tidak ada dendam.
Dia bahkan pernah bercanda, “Semoga sekarang kalau keluarga kita mau mengundang makan, kita dikasih agenda dulu.”
Aku tertawa.
“Lebih aman begitu.”
Hampir enam bulan setelah pesta itu, struktur tim perusahaan berubah.
Aku ditempatkan permanen di bawah direktur lain.
Elisa tidak lagi punya hubungan atasan langsung denganku.
Suatu Jumat sore aku hendak pulang ketika menerima pesan darinya.
Bukan dari nomor kantor.
Nomor pribadinya yang selama ini hanya kupakai jika ada perjalanan kerja darurat.
Pesannya pendek.
Kamu masih minum kopi manis berlebihan?
Aku menatap layar.
Kubalas:
Masih.
Jawabannya datang beberapa detik kemudian.
Besok sore mau minum kopi? Bukan urusan kantor.
Aku tidak langsung menjawab.
Enam bulan sebelumnya mungkin aku akan mengatakan iya karena dia atasanku.
Atau karena penasaran.
Atau karena takut kehilangan kesempatan.
Sekarang tidak ada semua itu.
Aku memikirkan perempuan yang dulu hanya kukenal sebagai suara di balik pintu kaca.
Aku memikirkan malam saat dia menyeretku masuk ke masalahnya tanpa mempertimbangkan posisi kami.
Aku juga memikirkan apa yang dia lakukan sesudahnya.
Dia mengakui kesalahannya kepada HR.
Menerima teguran.
Menjauh dari proses promosiku.
Menghadapi keluarganya tanpa menggunakan aku sebagai tameng untuk kedua kalinya.
Itu tidak menghapus apa yang terjadi.
Tapi cukup membuatku percaya bahwa dia belajar sesuatu.
Aku membalas:
Boleh. Tapi kalau ada keluarga Ibu di sana, saya pulang.
Tiga titik muncul.
Lalu:
Adil.
Kami bertemu di sebuah kedai kopi kecil keesokan harinya.
Tidak ada gaun pesta.
Tidak ada klien.
Tidak ada orang tua.
Tidak ada kartu pegawai.
Dia datang terlambat tujuh menit.
Itu sendiri sudah terasa seperti kejadian langka.
“Maaf.”
“Saya hampir mencatatnya di kalender.”
Dia tertawa.
Kami duduk hampir dua jam.
Untuk pertama kalinya aku tahu Elisa menyukai novel kriminal, membenci durian, dan pernah ingin menjadi arsitek sebelum akhirnya masuk sekolah bisnis.
Dia tahu aku mengirim sebagian gajiku kepada orang tua setiap bulan dan bahwa Bagas benar-benar memainkan gitar pada tengah malam.
Kami tidak langsung menjadi pasangan.
Aku bahkan menolak ketika dia mengajak bertemu lagi minggu berikutnya karena ada pekerjaan.
Hubungan kami bergerak pelan.
Bukan rahasia kantor, karena saat akhirnya kami memutuskan benar-benar berkencan beberapa bulan kemudian, kami mengikuti aturan perusahaan dan memberi tahu HR.
Tidak romantis.
Tapi jauh lebih nyaman daripada kebohongan.
Bu Ratna baru tahu beberapa waktu setelah itu.
Reaksinya pertama kali hanya satu pesan kepada Elisa.
Yang asli sekarang?
Elisa menunjukkan pesan itu kepadaku.
Aku tertawa sampai hampir menumpahkan kopi.
Dia membalas:
Yang asli.
Tidak ada pesta pertunangan cepat.
Tidak ada pernikahan mendadak.
Aku berusia dua puluh lima ketika kami mulai berkencan dengan serius, sedangkan Elisa tiga puluh enam.
Perbedaan usia kami tetap ada.
Perbedaan pendapatan juga ada.
Keluarganya tetap jauh lebih berada daripada keluargaku.
Ibuku bahkan sempat bertanya tiga kali apakah aku benar-benar nyaman.
Aku menjawab bahwa kali ini aku bisa mengatakan tidak kapan pun aku mau.
Itulah bedanya.
Sekitar setahun setelah malam pesta itu, aku datang ke kantor lebih pagi untuk sebuah presentasi klien.
Aku melewati lantai tempat dulu mejaku berada.
Seorang asisten baru sedang menata dokumen sambil membawa dua gelas kopi sekaligus.
Aku berhenti sebentar.
Dulu aku mengira menjadi tidak terlihat adalah cara paling aman untuk bertahan.
Ternyata masalahnya bukan terlihat atau tidak terlihat.
Masalahnya adalah apakah aku berani bicara ketika seseorang melewati batas, bahkan ketika orang itu punya jabatan, uang, atau sesuatu yang kuinginkan.
Di lantai empat, ponselku bergetar.
Pesan dari Elisa.
Kopi nanti?
Aku membalas:
Setelah presentasi.
Aku menyimpan ponsel, membuka laptop, lalu masuk ke ruang rapat ketika namaku dipanggil.
Kali ini aku tidak membawa kopi siapa pun.
Menurutmu, apakah Julian tepat memberi Elisa kesempatan setelah Elisa benar-benar bertanggung jawab atas kesalahannya?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
