Di Pesta Promosi Suamiku, Dia Menyiramkan Sampanye ke Wajahku—Satu Telepon Dariku Menghancurkan Semuanya

Avatar penulis
Cerita 04
20 menit baca 749 tayangan
Di Pesta Promosi Suamiku, Dia Menyiramkan Sampanye ke Wajahku—Satu Telepon Dariku Menghancurkan Semuanya
Indeks

Di Pesta Promosi Suamiku, Dia Menyiramkan Sampanye ke Wajahku—Satu Telepon Dariku Menghancurkan Semuanya

Sampanye itu menghantam wajahku bahkan sebelum aku sempat memahami bahwa suamiku sendiri yang melemparkannya.

Cairan dingin membasahi rambut, pipi, dan gaun biru tua sederhana yang kupilih untuk malam itu.

Lalu Arga Pratama mendekat.

Di depan ratusan tamu, dia menatapku dengan jijik dan berkata cukup keras agar orang-orang di sekitar kami mendengarnya.

“Dasar perempuan kampung. Kamu benar-benar mengira pantas berada di tempat seperti ini?”

Seluruh ballroom mendadak sunyi.

Aku berdiri tanpa bergerak.

Di Pesta Promosi Suamiku, Dia Menyiramkan Sampanye ke Wajahku—Satu Telepon Dariku Menghancurkan Semuanya

Di atas kami, lampu kristal sebuah hotel mewah di kawasan Sudirman, Jakarta, berkilauan seolah tidak terjadi apa-apa.

Malam itu seharusnya menjadi malam terbesar dalam karier Arga.

Perusahaannya, Nusantara Meridian Logistik, sedang mengadakan gala tahunan sekaligus merayakan pengangkatan beberapa pejabat baru.

Dan beberapa menit sebelumnya, Arga baru saja diumumkan sebagai Direktur Operasional Regional.

Posisi yang dikejarnya selama hampir enam tahun.

Enam tahun.

Aku mendampinginya ketika dia masih pulang larut malam membawa laptop dan setumpuk masalah.

Aku mendengarkan keluhannya ketika promosinya ditunda.

Aku membayar cicilan rumah kami ketika bonusnya terlambat.

Aku bahkan pernah membatalkan perjalanan untuk menemani Arga menghadiri acara perusahaan karena katanya seorang calon direktur harus terlihat memiliki keluarga yang stabil.

Selama enam tahun itu, aku percaya keberhasilan Arga adalah keberhasilan kami.

Ternyata selama enam tahun yang sama, suamiku diam-diam merasa malu memiliki istri sepertiku.

Sampanye menetes dari ujung rambutku.

Beberapa tamu mengalihkan pandangan.

Seorang perempuan menutup mulut karena terkejut.

Dua orang di dekat panggung bahkan sudah mengangkat ponsel mereka.

Tapi Arga tidak terlihat menyesal.

Sebaliknya, dia tersenyum.

Senyum kemenangan.

“Kamu selalu mempermalukanku setiap kali membuka mulut,” katanya.

Aku menatapnya tanpa menjawab.

Arga semakin berani.

“Cara bicaramu. Bajumu. Cerita-cerita kampungmu tentang kebun keluarga di Jawa Tengah itu.”

Beberapa orang mulai berbisik.

“Arga,” kataku pelan.

“Belum selesai.”

Dia menunjuk gaunku.

“Lihat dirimu. Semua istri direktur di sini tahu cara berpakaian. Kamu datang dengan gaun seperti mau menghadiri kondangan di kampung.”

Dadaku terasa sesak.

Bukan karena hinaannya.

Melainkan karena aku akhirnya melihat laki-laki yang kunikahi dengan sangat jelas.

Kemudian seorang perempuan berjalan mendekatinya.

Namanya Rania Kusuma.

Asisten eksekutif Arga.

Aku pernah bertemu dengannya tiga kali.

Rania selalu sangat sopan di depanku.

“Selamat malam, Bu Nadira.”

“Pak Arga sering cerita tentang Ibu.”

“Bapak beruntung punya istri yang mendukung kariernya.”

Malam itu Rania mengenakan gaun perak yang berkilau di bawah lampu ballroom. Sebuah kalung berlian menghiasi lehernya.

Namun bukan pakaiannya yang menarik perhatianku.

Melainkan caranya berdiri tepat di samping suamiku.

Terlalu dekat.

Lalu Arga melingkarkan tangan di pinggangnya.

Jantungku seperti berhenti sesaat.

“Karena semua orang penting sudah ada di sini,” katanya sambil menatap para tamu, “mungkin sudah waktunya aku berhenti berpura-pura.”

Rania tersenyum.

Kemudian dia mencium pipi suamiku.

Seseorang di belakangku terkesiap.

Aku tidak bergerak.

Arga menatap langsung ke mataku.

“Rania mengerti kehidupan yang sedang kubangun.”

Dia berhenti sebentar.

“Kamu tidak pernah mengerti, Nadira.”

Aku mengambil serbet putih dari meja terdekat dan perlahan menghapus sampanye dari wajahku.

“Apa sebenarnya yang ingin kamu katakan?”

Arga tertawa kecil.

Seolah pertanyaanku sangat bodoh.

“Aku bilang pernikahan kita selesai.”

Suara bisikan langsung memenuhi ballroom.

Rania memiringkan kepala sambil menatapku dengan ekspresi yang hampir terlihat iba.

Hampir.

“Jangan bikin keributan, Nadira,” katanya lembut. “Ini malam penting untuk Arga.”

Aku menatapnya beberapa detik.

Anehnya, kalimat itu hampir membuatku tersenyum.

Jangan bikin keributan?

Mereka benar-benar mengira aku tidak punya apa-apa.

Arga selalu menganggap uang yang kumiliki berasal dari “warisan kecil dari Kakek.”

Dia tidak pernah bertanya lebih jauh.

Selama uang itu bisa membantu membayar uang muka rumah kami di Bintaro, dia tidak bertanya.

Ketika aku membayar sebagian biaya renovasi rumah, dia tidak bertanya.

Ketika aku membantunya melunasi utang kartu kredit beberapa tahun lalu, dia juga tidak bertanya.

Baginya, asal-usul uangku tidak penting.

Yang penting dia bisa menggunakannya.

Arga tahu keluargaku memiliki kebun dan beberapa gudang di Jawa Tengah.

Yang tidak pernah dia tahu adalah bahwa kebun itu hanya sebagian kecil dari bisnis keluarga kami.

Dia tidak pernah tahu bahwa almarhum kakekku, Haryo Wibisana, adalah pendiri Wibisana Capital Group.

Dia tidak pernah tahu bahwa perusahaan investasi keluarga itu kini mengelola aset bernilai triliunan rupiah.

Dia juga tidak pernah benar-benar tertarik ketika aku mengatakan bahwa setelah ayahku meninggal, aku membantu mengurus beberapa investasi keluarga.

Menurut Arga, pekerjaanku hanyalah “mengurus surat-surat keluarga.”

Dia tidak tahu aku adalah pemegang kendali utama atas trust keluarga.

Dan yang paling penting—

Arga sama sekali tidak tahu bahwa delapan belas bulan sebelumnya, saat Nusantara Meridian Logistik hampir mengalami krisis pendanaan, Wibisana Capital Group diam-diam mengambil 38 persen saham perusahaan tersebut melalui restrukturisasi investasi.

Aku sengaja tidak memberitahunya.

Bukan karena aku ingin menguji Arga.

Aku hanya ingin pernikahan kami tetap menjadi pernikahan.

Aku tidak ingin setiap keputusan suamiku dipengaruhi oleh siapa keluargaku.

Ternyata aku tidak perlu mengujinya.

Arga sudah menunjukkan jawabannya sendiri.

Dia mengangkat gelas sampanye baru dari nampan seorang pelayan.

Kemudian dia menunjuk ke arah pintu ballroom.

“Security.”

Dua petugas keamanan saling berpandangan.

“Antar dia keluar.”

Aku menoleh ke pintu.

Lalu mataku beralih ke meja VIP di dekat panggung.

Di sana duduk Bambang Wiratama, komisaris utama Nusantara Meridian Logistik.

Wajahnya sudah pucat.

Dia mengenalku.

Tentu saja dia mengenalku.

Tiga bulan sebelumnya, kami duduk berhadapan selama hampir empat jam membahas rencana ekspansi perusahaan.

Arga tidak pernah tahu tentang pertemuan itu.

Bambang perlahan berdiri dari kursinya.

Aku bisa melihat kepanikan di matanya.

Namun Arga tidak memperhatikannya.

Suamiku terlalu sibuk menikmati perhatian orang-orang.

Dia mengangkat gelasnya.

“Maaf atas drama kecil ini,” katanya kepada para tamu. “Sekarang kita bisa kembali merayakan.”

Rania merapatkan tubuhnya ke Arga.

Lalu di depan semua orang—

dia menciumnya.

Kali ini tepat di bibir.

Beberapa orang kembali mengangkat ponsel.

Aku memasukkan tangan ke dalam tas.

Mengeluarkan ponsel.

Membuka satu nama yang Arga tidak pernah tahu ada dalam daftar kontakku.

Ratih Mahendra — Kepala Divisi Hukum Wibisana Capital.

Aku menekan tombol panggil.

Dia menjawab sebelum dering kedua.

“Selamat malam, Bu Nadira.”

Aku masih menatap Arga.

Dia sedang tertawa bersama Rania.

Seolah aku sudah tidak ada.

“Bu Ratih.”

“Ya, Bu?”

“Aktifkan klausul perlindungan investasi dalam perjanjian restrukturisasi Nusantara Meridian.”

Di seberang telepon, Ratih terdiam sesaat.

Dia langsung memahami apa artinya.

“Apakah Ibu yakin?”

Aku melihat suamiku mengangkat gelas untuk menerima ucapan selamat atas jabatan barunya.

Aku kemudian melihat Bambang Wiratama.

Komisaris utama itu sudah berjalan cepat ke arahku.

Terlambat.

Aku mengucapkan enam kata yang akan mengubah malam itu sepenuhnya.

“Copot direktur baru itu sekarang juga.”

Ratih menjawab tenang.

“Baik, Bu Nadira.”

Aku menutup telepon.

Arga menoleh kepadaku dan tertawa.

“Masih di sini?”

Aku memasukkan ponsel kembali ke dalam tas.

“Sebentar lagi aku pergi.”

Bambang akhirnya sampai di depan kami.

Wajahnya tegang.

“Pak Arga.”

Arga langsung tersenyum lebar.

“Pak Bambang! Terima kasih sekali lagi atas kepercayaannya. Saya berjanji—”

“Diam dulu.”

Senyum Arga membeku.

Seluruh meja di sekitar kami kembali sunyi.

Bambang tidak menatap Arga.

Dia justru menatapku.

Kemudian, di depan para direktur, investor, dan tamu yang beberapa menit sebelumnya melihat suamiku menyiramkan sampanye ke wajahku—

Komisaris utama perusahaan itu sedikit menundukkan kepala.

“Bu Nadira,” katanya, “saya benar-benar minta maaf.”

Wajah Arga berubah.

Dia menatap Bambang.

Lalu menatapku.

Kemudian kembali menatap Bambang.

“Pak… kenal istri saya?”

Bambang menarik napas panjang.

“Istri Anda?”

Dia menatap Arga seolah baru mendengar sesuatu yang mustahil.

“Pak Arga, Anda benar-benar tidak tahu siapa perempuan yang baru saja Anda permalukan?”

Untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat ketakutan muncul di mata suamiku.

Ponsel Bambang berbunyi.

Dia melihat layar.

Wajahnya semakin pucat.

Pesan itu hanya membutuhkan beberapa detik untuk dibaca.

Lalu dia mengangkat kepala.

“Pak Arga Pratama,” katanya.

Suasana ballroom menjadi begitu sunyi hingga suara sendok jatuh dari meja belakang terdengar jelas.

“Efektif malam ini, pengangkatan Anda sebagai Direktur Operasional Regional dibatalkan.”

Gelas di tangan Arga hampir terlepas.

“Apa?”

Rania mundur satu langkah.

Bambang melanjutkan.

“Dan berdasarkan instruksi pemegang saham pengendali dalam perjanjian restrukturisasi, Anda dinonaktifkan dari seluruh kewenangan manajerial sampai rapat direksi selesai melakukan pemeriksaan.”

Arga menatapku.

Wajahnya kehilangan warna.

“Apa hubungannya semua ini dengan Nadira?”

Aku mengambil serbet terakhir.

Mengusap satu tetes sampanye yang masih berada di pipiku.

Lalu aku menatap laki-laki yang selama bertahun-tahun menganggapku perempuan kampung yang beruntung bisa menikah dengannya.

“Banyak sekali, Arga.”

Aku mengambil tasku.

“Jauh lebih banyak daripada yang pernah kamu repot-repot tanyakan.”

Dan malam itu—

baru saja dimulai.

BAGIAN 2

“Banyak sekali, Arga.”

Aku mengambil tasku.

“Jauh lebih banyak daripada yang pernah kamu repot-repot tanyakan.”

Aku berbalik hendak pergi.

Namun baru dua langkah, Arga menangkap pergelangan tanganku.

“Nadira, tunggu.”

Untuk pertama kalinya malam itu, suaranya tidak terdengar sombong.

Ada kepanikan di sana.

Aku menatap tangannya.

“Lepaskan.”

Arga langsung melepaskanku.

Ratusan pasang mata masih tertuju kepada kami.

Rania berdiri beberapa langkah di belakangnya. Wajah perempuan itu yang tadi penuh kemenangan sekarang pucat.

“Pak Bambang,” Arga berkata cepat, “ini pasti salah paham.”

Bambang Wiratama menggeleng.

“Tidak ada salah paham.”

“Tapi saya baru saja diangkat!”

“Dan pengangkatan itu dibatalkan.”

“Karena istri saya menelepon seseorang?”

Bambang menatapnya lama.

“Masalah terbesar Anda sekarang bukan siapa yang ditelepon istri Anda.”

Dia mengangkat ponselnya.

“Tim audit internal baru saja mengirimkan pemberitahuan darurat.”

Aku berhenti.

Audit?

Ini bukan bagian dari instruksiku.

Aku hanya meminta Ratih mengaktifkan klausul perlindungan investasi dan menghentikan pengangkatan Arga sampai semuanya diperiksa.

Aku belum mengatakan apa pun soal audit.

“Audit apa?” tanyaku.

Bambang memandangku.

“Bu Nadira, sepertinya Ibu juga perlu melihat ini.”

Dia menunjukkan layar ponselnya.

Ada beberapa transaksi.

Nominalnya tidak kecil.

Rp480 juta.

Rp725 juta.

Rp1,1 miliar.

Rp860 juta.

Semua pembayaran berasal dari beberapa rekening vendor Nusantara Meridian.

Tujuannya berbeda-beda, tetapi satu nama muncul berulang kali sebagai penerima manfaat akhir.

Rania Kusuma.

Aku mengangkat wajah.

Rania mundur.

“Itu bukan seperti yang kalian pikirkan.”

Bambang menatapnya dingin.

“Lalu seperti apa?”

“Itu reimbursement.”

“Reimbursement untuk apa?”

Rania tidak menjawab.

Arga langsung menyela.

“Pak Bambang, jangan mempermalukan staf saya di depan semua orang.”

Aku hampir tertawa.

Beberapa menit lalu dia tidak keberatan mempermalukan istrinya di depan dua ratus orang.

Sekarang dia mendadak peduli pada harga diri seseorang.

Bambang memberikan ponselnya kepada seorang direktur keuangan yang baru datang.

“Bekukan seluruh akses Pak Arga dan Bu Rania malam ini.”

Rania langsung menatap Arga.

“Mas!”

Satu kata itu keluar begitu alami.

Terlalu alami.

Arga menoleh tajam kepadanya.

Aku memperhatikan keduanya.

Kemudian aku mengerti.

Hubungan mereka bukan sesuatu yang baru dimulai.

“Sudah berapa lama?” tanyaku.

Arga diam.

Aku menatap Rania.

“Berapa lama kalian bersama?”

Rania menggigit bibir.

“Tidak penting.”

“Buatku penting.”

Arga akhirnya berkata, “Sekitar dua tahun.”

Dua tahun.

Aku tidak menangis.

Anehnya, aku justru merasa sangat tenang.

Dua tahun berarti ketika aku menemani ibunya menjalani operasi katarak, dia sudah bersama Rania.

Ketika aku menjual salah satu aset pribadiku untuk membantu menutup uang muka rumah kami, dia sudah bersama Rania.

Ketika dia mencium keningku pada ulang tahun pernikahan kami dan mengatakan dia beruntung memiliki istri yang tidak pernah meninggalkannya—

dia sudah bersama Rania.

Aku mengangguk pelan.

“Terima kasih.”

Arga tampak bingung.

“Untuk apa?”

“Untuk akhirnya mengatakan satu hal dengan jujur.”

Aku berjalan keluar.

Kali ini tidak ada yang menghentikanku.


Di dalam mobil, aku akhirnya menangis.

Bukan tangisan keras.

Air mata hanya mengalir tanpa bisa kuhentikan.

Jakarta bergerak di balik kaca jendela.

Lampu Sudirman memanjang seperti garis-garis kabur.

Sopir keluarga, Pak Darto, beberapa kali melihatku melalui kaca spion tetapi tidak bertanya.

Aku bersyukur.

Malam itu aku tidak membutuhkan nasihat.

Aku hanya membutuhkan ruang untuk menerima kenyataan bahwa enam tahun pernikahanku mungkin dibangun di atas sesuatu yang tidak pernah benar-benar ada.

Ponselku terus bergetar.

Arga.

Arga.

Arga.

Kemudian pesan masuk.

Nadira, kita harus bicara.

Pesan kedua.

Aku emosi tadi. Aku salah.

Ketiga.

Jangan libatkan pekerjaanku dalam masalah rumah tangga.

Aku menatap kalimat terakhir cukup lama.

Bahkan setelah semuanya terjadi, yang paling dia takutkan tetap pekerjaannya.

Bukan kehilangan aku.

Aku mematikan layar.

Lima menit kemudian Ratih menelepon.

“Bu Nadira, maaf mengganggu.”

“Ada apa?”

“Kami menemukan sesuatu.”

Aku memejamkan mata.

“Berapa buruk?”

“Lebih buruk dari yang kita kira.”

Ratih menjelaskan bahwa sejak hampir sebelas bulan sebelumnya, sistem audit otomatis Wibisana Capital sebenarnya sudah menandai beberapa vendor Nusantara Meridian.

Namun karena transaksi dibuat dalam jumlah di bawah ambang pemeriksaan khusus dan tersebar melalui beberapa perusahaan, kasus itu belum sampai ke tingkat dewan.

Setelah aku meminta aktivasi klausul malam ini, sistem membuka seluruh transaksi yang berhubungan dengan divisi Arga.

Ada tiga perusahaan vendor yang mencurigakan.

Salah satunya bernama PT Langit Timur Konsultan.

Perusahaan itu menerima lebih dari Rp6,8 miliar selama sebelas bulan.

Kantornya hampir tidak memiliki aktivitas nyata.

Direktur nominalnya adalah sepupu Rania.

Aku merasa dingin.

“Arga terlibat?”

“Kami belum bisa menyimpulkan.”

“Jangan lindungi dia karena dia suamiku.”

Ratih terdiam.

Kemudian menjawab, “Saya mengerti.”

“Periksa semuanya.”

“Termasuk rekening pribadi?”

“Yang bisa diperiksa secara legal, periksa.”

“Baik.”

Aku hendak menutup telepon ketika Ratih berkata lagi.

“Bu Nadira?”

“Ya?”

“Ada satu hal lagi.”

Aku menunggu.

“Besok pagi, sebaiknya Ibu datang ke kantor pusat Wibisana Capital.”

“Kenapa?”

“Pak Surya ingin bertemu.”

Tanganku mengencang di sekitar ponsel.

Pak Surya adalah sahabat kakekku sekaligus komisaris senior keluarga.

Usianya tujuh puluh satu tahun.

Dia hampir tidak pernah meminta bertemu mendadak.

“Ada masalah?”

Ratih menjawab pelan.

“Sepertinya ada sesuatu yang almarhum Pak Haryo tinggalkan untuk Ibu.”


Aku tidak pulang ke rumah di Bintaro malam itu.

Aku menginap di apartemen lama milik keluarga di Menteng.

Pukul dua dini hari, bel berbunyi.

Aku sudah tahu siapa yang datang.

Arga.

Aku melihatnya melalui kamera pintu.

Jasnya kusut.

Dasi sudah dilepas.

Dia menekan bel lagi.

“Nadira.”

Aku tidak membuka pintu.

“Aku tahu kamu di dalam.”

Diam.

“Aku cuma mau bicara.”

Aku akhirnya menekan tombol interkom.

“Bicara dari sana.”

Arga menatap kamera.

“Aku minta maaf.”

Aku menunggu.

“Aku keterlaluan.”

“Ya.”

“Aku mabuk.”

“Kamu baru minum dua gelas.”

Dia terdiam.

Aku masih mengingat jumlahnya.

Aku selalu mengingat hal-hal kecil.

Mungkin itulah masalahnya.

Aku terlalu sibuk memperhatikan seseorang yang tidak pernah benar-benar memperhatikanku.

“Aku bisa jelaskan soal Rania.”

“Dua tahun tidak membutuhkan penjelasan.”

“Nadira…”

“Apa kamu mengambil uang perusahaan?”

Wajahnya berubah.

Hanya sedikit.

Tapi cukup.

“Siapa bilang?”

“Jawab.”

“Tidak.”

“Kamu yakin?”

“Ya.”

Aku menatap layar kamera.

“Kalau begitu kamu tidak perlu takut audit.”

Dia diam.

Aku langsung tahu.

Ada sesuatu.

“Pulanglah, Arga.”

“Nadira, jangan lakukan ini.”

“Melakukan apa?”

“Menghancurkan hidupku.”

Kalimat itu membuatku benar-benar terdiam.

Kemudian aku berkata pelan,

“Aku tidak menyiramkan sampanye ke wajahmu.”

“Aku tidak berselingkuh selama dua tahun.”

“Aku tidak memindahkan uang perusahaan.”

“Kalau hidupmu hancur karena hal-hal itu terbongkar, jangan letakkan kehancurannya di tanganku.”

Aku mematikan interkom.

Arga berdiri di depan pintu hampir dua puluh menit.

Kemudian pergi.


Pagi berikutnya aku tiba di kantor Wibisana Capital di kawasan Thamrin pukul sembilan.

Pak Surya sudah menunggu.

Di depannya ada sebuah kotak kayu tua.

Aku mengenalinya.

Kotak itu milik Kakek.

“Nadira.”

Pak Surya berdiri dan memelukku.

“Aku dengar apa yang terjadi.”

Aku tersenyum tipis.

“Berita bergerak cepat.”

“Video bergerak lebih cepat.”

Aku menutup mata sebentar.

Tentu saja.

Pasti sudah ada video gala semalam.

Pak Surya mendorong kotak kayu ke arahku.

“Kakekmu meninggalkan ini enam tahun lalu.”

Aku mengernyit.

“Enam tahun?”

“Tepat sebelum pernikahanmu.”

“Kenapa baru diberikan sekarang?”

“Karena ada syarat.”

Dia menyerahkan sebuah amplop.

Tulisan tangan di bagian depan membuat tenggorokanku langsung tercekat.

Untuk Nadira.

Tulisan Kakek.

Aku membuka surat itu.

Tanganku gemetar.

Nadira,

kalau surat ini sampai kepadamu, berarti suatu hari kamu akhirnya harus memilih antara mempertahankan seseorang dan mempertahankan dirimu sendiri.

Kakek berharap hari itu tidak pernah datang.

Aku berhenti membaca.

Air mataku jatuh ke kertas.

Pak Surya diam.

Aku melanjutkan.

Kakek menulis bahwa beberapa minggu sebelum pernikahanku, Arga pernah datang menemuinya sendirian.

Aku tidak tahu.

Arga bertanya banyak hal tentang struktur warisan keluarga.

Tentang saham.

Tentang berapa banyak aset yang kelak akan menjadi milikku.

Kakek merasa tidak nyaman.

Namun dia tidak ingin menghancurkan kebahagiaanku hanya karena kecurigaan seorang lelaki tua.

Jadi dia melakukan sesuatu.

Dia mengubah struktur trust.

Aset utamaku tidak bisa disentuh pasangan melalui pernikahan.

Dan ada satu syarat tambahan.

Jika suatu hari pernikahanku berakhir karena pengkhianatan finansial yang dapat dibuktikan, hak kendali atas saham keluarga yang selama ini dipegang sementara oleh dewan akan langsung beralih penuh kepadaku.

Aku menatap Pak Surya.

“Jadi Kakek sudah curiga?”

“Ya.”

“Kenapa dia tidak memberitahuku?”

“Karena dia juga menulis jawabannya.”

Aku membaca bagian terakhir.

Kalau Kakek melarangmu menikah dengannya, kamu mungkin akan memilih antara cinta dan keluarga.

Kakek tidak ingin mengambil pilihan itu darimu.

Manusia harus diberi kesempatan menunjukkan siapa dirinya.

Dan kalau suatu hari dia mengecewakanmu, jangan malu karena pernah mencintainya.

Ketulusanmu bukan kebodohan hanya karena orang lain menyalahgunakannya.

Aku tidak sanggup membaca lagi.

Enam tahun aku menahan tangis di depan orang.

Pagi itu aku menangis seperti anak kecil.

Bukan karena Arga.

Karena aku merindukan Kakek.


Audit berlangsung tiga minggu.

Hasilnya lebih rumit daripada yang kubayangkan.

Rania memang membangun jaringan vendor fiktif bersama sepupunya.

Namun kejutan terbesar bukan itu.

Arga tidak menciptakan skema tersebut.

Awalnya dia bahkan tidak tahu.

Rania telah menggunakan akses administratifnya untuk memalsukan beberapa persetujuan digital.

Tetapi enam bulan sebelumnya, Arga menemukan apa yang dilakukannya.

Dia punya pilihan untuk melapor.

Dia tidak melakukannya.

Sebaliknya, dia meminta bagian.

Dari transaksi berikutnya, sebagian uang dialihkan untuk membayar apartemen mewah yang digunakan Arga dan Rania.

Ada pembayaran mobil.

Perjalanan ke Bali yang Arga katakan kepadaku sebagai “rapat regional.”

Jam tangan yang pernah dia bilang hadiah dari perusahaan.

Semua ada jejaknya.

Pada akhirnya, perusahaan menyerahkan temuan tersebut kepada pihak berwenang dan proses hukum berjalan sesuai prosedur.

Aku tidak meminta siapa pun menghukum Arga lebih berat.

Aku juga tidak meminta dia diselamatkan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku membiarkan konsekuensi berjalan tanpa berusaha memperbaiki keadaan untuknya.

Rania dipecat.

Arga juga diberhentikan.

Proses perceraian dimulai.

Rumah Bintaro dijual beberapa bulan kemudian.

Aku tidak menginginkannya.

Terlalu banyak ruangan di sana menyimpan kenangan tentang perempuan yang selalu berusaha menjadi cukup baik untuk seseorang yang sudah memutuskan bahwa dia tidak cukup.


Delapan bulan kemudian, aku kembali ke Jawa Tengah.

Bukan untuk bersembunyi.

Aku datang ke kebun yang dulu selalu dihina Arga.

Di sanalah Kakek memulai semuanya.

Bukan dari gedung tinggi.

Bukan dari ruang rapat berlapis marmer.

Dari sebuah gudang kecil, dua truk tua, dan keberanian mengambil risiko.

Aku menggunakan sebagian dividen investasiku untuk membangun pusat distribusi baru di daerah itu.

Bukan proyek amal.

Bisnis sungguhan.

Kami merekrut anak-anak muda lokal, memberikan pelatihan logistik, dan bekerja sama dengan petani agar mereka tidak selalu bergantung pada rantai tengkulak panjang.

Pada hari peresmian, Pak Darto datang menghampiriku.

“Bu, ada seseorang ingin bertemu.”

“Siapa?”

Dia menyerahkan sebuah amplop.

Tidak ada nama pengirim.

Aku membukanya.

Tulisan di dalamnya milik Arga.

Dia tidak meminta aku kembali.

Tidak meminta uang.

Tidak menyalahkanku.

Untuk pertama kalinya, dia menulis sesuatu tanpa alasan untuk membela dirinya.

Nadira,

aku dulu mengira aku malu karena kamu berasal dari kampung.

Sekarang aku sadar aku sebenarnya malu pada diriku sendiri.

Aku selalu merasa kecil di dekat orang-orang yang lebih berhasil. Ketika karierku mulai naik, aku berpikir kalau aku merendahkan asal-usulmu, aku akan terlihat lebih besar.

Ternyata orang kecil bukan orang yang berasal dari desa.

Orang kecil adalah orang yang harus merendahkan orang lain agar merasa tinggi.

Aku berhenti membaca.

Di bagian bawah ada satu kalimat.

Aku tidak meminta maaf supaya kamu memaafkanku. Aku hanya ingin sekali dalam hidupku mengatakan sesuatu tanpa berharap mendapat keuntungan darimu.

Aku melipat surat itu.

“Dia di sini?” tanyaku.

Pak Darto mengangguk ke arah jalan.

Di kejauhan, dekat gerbang, seorang laki-laki berdiri.

Arga.

Dia terlihat berbeda.

Lebih kurus.

Tidak ada jas mahal.

Tidak ada jam tangan mewah.

Aku berjalan mendekatinya.

Kami berhenti dengan jarak beberapa meter.

“Hai,” katanya.

“Hai.”

Dia melihat bangunan distribusi di belakangku.

“Bagus sekali.”

“Terima kasih.”

Hening.

Kemudian Arga berkata, “Aku tidak akan mengganggumu lagi.”

Aku mengangguk.

Dia berbalik.

“Arga.”

Dia berhenti.

Aku tidak tahu kenapa aku memanggilnya.

Mungkin karena selama berbulan-bulan aku membayangkan hari ketika dia berdiri di depanku dalam keadaan hancur.

Dalam bayanganku, aku akan merasa menang.

Ternyata tidak.

Aku hanya melihat seseorang yang pernah sangat kucintai dan kemudian memilih menghancurkan semua yang kami miliki.

“Aku memaafkanmu,” kataku.

Arga menatapku.

Matanya memerah.

“Tapi aku tidak akan kembali.”

Dia mengangguk.

“Aku tahu.”

“Memaafkanmu bukan berarti yang kamu lakukan menjadi benar.”

“Aku tahu.”

“Itu hanya berarti aku tidak mau membawa kemarahan itu ke hidupku berikutnya.”

Kali ini air mata jatuh dari matanya.

Dia menundukkan kepala.

“Semoga kamu bahagia, Nadira.”

“Kamu juga.”

Arga pergi.

Aku tidak mengejarnya.

Dan ternyata itulah perpisahan terakhir kami.


Sore itu, setelah acara selesai, Pak Surya menghampiriku membawa map.

“Ada satu urusan terakhir.”

Aku tertawa kecil.

“Jangan bilang Kakek meninggalkan surat lagi.”

“Bukan.”

Dia menyerahkan dokumen kepadaku.

Aku membukanya.

Itu laporan kepemilikan saham terbaru Nusantara Meridian.

Setelah restrukturisasi lanjutan dan pembelian saham dari dua investor lama, kepemilikan Wibisana Capital meningkat.

Aku membaca angkanya.

51 persen.

Aku mengangkat kepala.

“Pak Surya…”

Dia tersenyum.

“Dewan ingin menunjuk komisaris utama baru.”

Aku langsung menggeleng.

“Saya tidak mau jabatan hanya karena nama keluarga.”

“Itulah sebabnya mereka memilihmu.”

Aku terdiam.

“Delapan bulan terakhir kamu memimpin restrukturisasi rantai pasok, menyelesaikan masalah vendor, dan proyek Jawa Tengah ini meningkatkan margin distribusi regional.”

Dia menunjuk dokumen.

“Bukan karena kamu cucu Haryo.”

“Karena kamu mampu.”

Aku melihat kebun di depan kami.

Tiba-tiba aku teringat malam gala itu.

Sampanye di wajahku.

Tawa Arga.

Kalimatnya.

Dasar perempuan kampung.

Aku tersenyum.

“Kalau saya menerima, kantor pusat tidak dipindahkan ke sini.”

Pak Surya tertawa.

“Tentu tidak.”

“Tapi program kemitraan daerah kita perlu diperluas.”

“Bisa dibahas.”

Aku menandatangani dokumen penerimaan pencalonan.


Setahun setelah malam itu, aku kembali berdiri di ballroom hotel yang sama di Sudirman.

Lampu kristalnya masih sama.

Panggungnya hampir sama.

Namun kali ini namaku yang dipanggil.

Aku berdiri di depan para pemegang saham, direksi, karyawan, dan mitra perusahaan.

Tidak mengenakan gaun mahal.

Aku mengenakan kebaya sederhana buatan seorang perajin dari kota kecil tempat Kakek dibesarkan.

Ketika tiba waktunya berpidato, aku melihat ratusan wajah di hadapanku.

“Ada seseorang yang pernah mengatakan bahwa saya terlalu kampungan untuk berada di ruangan seperti ini.”

Beberapa orang yang hadir malam itu setahun sebelumnya langsung memahami maksudku.

Aku tersenyum.

“Dulu saya malu dengan kata itu.”

“Tapi sekarang tidak.”

“Karena keluarga saya memang berasal dari kampung.”

“Kakek saya memulai usaha dari gudang kecil.”

“Ayah saya mengajari saya bahwa nama besar tidak berarti apa-apa kalau kita memperlakukan orang lain seperti mereka lebih rendah.”

Aku berhenti sejenak.

“Jadi kalau menjadi orang kampung berarti saya masih ingat dari mana saya berasal…”

Aku melihat ke seluruh ballroom.

“…saya harap saya tidak pernah menjadi terlalu sukses untuk tetap menjadi orang kampung.”

Tepuk tangan terdengar.

Aku tidak tahu siapa yang memulainya.

Lalu seluruh ruangan berdiri.

Namun saat aku turun dari panggung, Ratih mendekat sambil membawa sebuah kotak kecil.

“Ada titipan.”

“Dari siapa?”

“Pak Surya menemukannya ketika gudang lama Pak Haryo direnovasi.”

Jantungku berdegup lebih cepat.

Aku membuka kotak itu.

Di dalamnya bukan saham.

Bukan uang.

Bukan dokumen perusahaan.

Hanya sebuah foto lama.

Aku berumur sembilan tahun dalam foto itu.

Aku berdiri di samping Kakek di depan truk tua pertama miliknya.

Di belakang foto ada tulisan tangannya.

Untuk Nadira.

Kalau suatu hari kamu berdiri di tempat yang sangat tinggi, jangan habiskan waktumu membuktikan kepada orang lain bahwa kamu pantas berada di sana.

Lihat ke bawah hanya untuk mengingat dari mana kamu memulai.

Aku menekan foto itu ke dada.

Dan saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.

Malam ketika Arga menyiramkan sampanye ke wajahku, aku mengira aku sedang kehilangan segalanya.

Suamiku.

Pernikahanku.

Enam tahun hidupku.

Ternyata aku salah.

Aku tidak kehilangan hidupku malam itu.

Aku hanya kehilangan seseorang yang membuatku terus mengecilkan diriku sendiri agar dia bisa merasa lebih besar.

Aku menatap pantulan diriku di kaca ballroom.

Setahun lalu, perempuan dalam pantulan itu berdiri dengan sampanye menetes dari rambutnya sementara suaminya menyebutnya perempuan kampung.

Malam ini dia berdiri di tempat yang sama sebagai pemimpin perusahaan yang dulu begitu ingin dimasuki suaminya.

Namun itu bukan bagian terbaiknya.

Bagian terbaiknya adalah—

aku tidak lagi membutuhkan Arga untuk melihat nilai diriku.

Aku bahkan tidak membutuhkan ruangan ini untuk membuktikannya.

Aku memasukkan foto Kakek ke dalam tas.

Kemudian berjalan keluar dari ballroom.

Di luar, Jakarta masih ramai.

Lampu-lampu kota memenuhi malam.

Aku menarik napas panjang dan tersenyum.

Dulu aku berpikir balas dendam terbaik adalah membuat Arga kehilangan pekerjaannya.

Aku salah.

Balas dendam terbaik ternyata jauh lebih sederhana.

Aku sembuh.

Aku memaafkan.

Aku melanjutkan hidup.

Dan ketika akhirnya aku mendapatkan semua hal yang dulu Arga kira membuat seseorang menjadi penting—

jabatan, uang, kekuasaan, dan penghormatan—

aku justru memahami pelajaran terakhir Kakek.

Nilai seseorang tidak pernah ditentukan oleh seberapa tinggi kursinya.

Melainkan oleh bagaimana dia memperlakukan orang lain ketika dia sedang duduk di atasnya.

TAMAT.