DI SIDANG PERCERAIAN, SUAMIKU MENYEBUTKU HANYA SEBAGAI “KULI ANGKUT”-NYA SELAMA 20 TAHUN — DIA TIDAK TAHU AKU SUDAH MENYIAPKAN BUKTI YANG BISA MENGHANCURKAN SEMUANYA

Avatar penulis
Cerita 04
20 menit baca 331 tayangan
DI SIDANG PERCERAIAN, SUAMIKU MENYEBUTKU HANYA SEBAGAI “KULI ANGKUT”-NYA SELAMA 20 TAHUN — DIA TIDAK TAHU AKU SUDAH MENYIAPKAN BUKTI YANG BISA MENGHANCURKAN SEMUANYA
Indeks

DI SIDANG PERCERAIAN, SUAMIKU MENYEBUTKU HANYA SEBAGAI “KULI ANGKUT”-NYA SELAMA 20 TAHUN — DIA TIDAK TAHU AKU SUDAH MENYIAPKAN BUKTI YANG BISA MENGHANCURKAN SEMUANYA

Suamiku tertawa di tengah sidang perceraian kami dan menyebutku sebagai “kuli angkut”-nya di depan hakim.

Dia sama sekali tidak tahu bahwa selama delapan belas bulan terakhir, diam-diam aku telah menyusun sebuah perkara yang bisa menghancurkan semua kebohongan yang dia bangun selama dua puluh tahun.

DI SIDANG PERCERAIAN, SUAMIKU MENYEBUTKU HANYA SEBAGAI “KULI ANGKUT”-NYA SELAMA 20 TAHUN — DIA TIDAK TAHU AKU SUDAH MENYIAPKAN BUKTI YANG BISA MENGHANCURKAN SEMUANYA

“Yang Mulia,” kata Arman Wijaya, bersandar santai di kursinya di samping pengacaranya, “istri saya cuma belanja kebutuhan rumah, mengurus anak,

membersihkan rumah, dan mengikuti saya ke mana-mana seperti kuli angkut. Jangan berpura-pura seolah dia punya kontribusi besar terhadap kesuksesan perusahaan saya.”

Beberapa orang di ruang sidang Pengadilan Agama Jakarta Selatan tampak saling berpandangan tidak nyaman.

Arman tersenyum.

Dia memang selalu menyukai penonton.

Selama dua puluh tahun pernikahan kami, aku sudah hafal senyum itu.

Senyum yang selalu muncul ketika dia merasa berhasil membuat seseorang yang dianggap lebih lemah darinya terpojok.

Aku duduk di samping pengacaraku, Maya Pradipta, dengan kedua tangan terlipat tenang di atas sebuah map kuning.

Pengacara Arman terus berargumentasi bahwa Wijaya Prima Engineering, perusahaan yang menurut laporan terakhir bernilai hampir Rp600 miliar, sebagian besar adalah aset pribadi milik Arman.

Dia ingin aku pergi hanya dengan rumah kami di Bintaro, sejumlah tunjangan bulanan, dan apa yang dia sebut sebagai—

“Lebih dari cukup untuk perempuan yang sepanjang hidupnya tidak pernah punya karier sungguhan.”

Tidak pernah punya karier sungguhan.

Aku hampir tertawa.

Sebelum menikah dengan Arman, aku bekerja sebagai akuntan forensik di sebuah firma audit di kawasan Sudirman.

Aku punya karier.

Aku punya penghasilan sendiri.

Dan aku punya masa depan yang sangat jelas.

Ketika putra pertama kami lahir, Arman membujukku untuk meninggalkan pekerjaanku.

“Kenapa bekerja keras untuk perusahaan orang lain?” bisiknya suatu malam. “Bantu aku membangun perusahaan kita sendiri. Semua ini nanti untuk keluarga.”

Aku mempercayainya.

Jadi aku berhenti.

Saat Wijaya Prima Engineering hanya memiliki enam pegawai, akulah yang mengurus penggajian mereka.

Aku yang membantu menegosiasikan kontrak-kontrak awal dengan pemasok.

Aku yang menemukan kesalahan pembukuan yang hampir membuat perusahaan terkena penalti besar.

Aku yang menyusun tagihan, memeriksa laporan rekening, dan mengurus arus kas sampai lewat tengah malam sambil menggendong bayi kami.

Ketika perusahaan mulai berkembang, aku bahkan membantu Arman menyiapkan dokumen untuk tender proyek pertama mereka di Bekasi dan Karawang.

Tetapi semakin besar perusahaan itu, semakin kecil namaku dibuat.

Awalnya Arman berkata itu hanya soal administrasi.

“Lebih simpel kalau semuanya atas namaku.”

Lalu namaku dihapus dari rekening perusahaan.

Setelah itu, dari dokumen kepemilikan.

Kemudian dari struktur manajemen.

Sampai akhirnya, di mata semua orang, aku hanya menjadi “istri Pak Arman”.

Lalu datang penghinaan.

Kontrol.

Dan setelah itu…

kekerasan.

Tidak pernah di tempat yang mudah dilihat orang.

Tidak pernah di wajah.

Arman terlalu berhati-hati untuk itu.

Bekas luka pertama ada di bawah tulang rusukku.

Bekas luka kedua melintang di belakang bahuku.

Ada beberapa lagi yang selama bertahun-tahun selalu kusembunyikan di balik pakaian.

Setiap kali aku mengancam akan pergi, Arman selalu mengatakan hal yang sama.

“Siapa yang akan percaya sama kamu?”

Dan selama bertahun-tahun…

aku memang percaya padanya.

Sampai delapan belas bulan lalu.

Malam itu, Arman sedang melakukan perjalanan bisnis ke Surabaya.

Aku sedang mencari salinan dokumen pajak lama di server pribadi rumah kami ketika menemukan sebuah folder terenkripsi yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

Namanya sederhana.

ARCHIVE_OLD.

Karena bertahun-tahun menangani administrasi perusahaannya, aku mengenali pola kata sandi Arman.

Aku mencoba beberapa kombinasi.

Folder itu terbuka pada percobaan ketiga.

Dan hidupku berubah.

Di dalamnya ada buku besar perusahaan.

Tetapi angka-angkanya tidak sama dengan laporan yang selama ini diberikan kepada auditor.

Ada transfer rutin ke tiga perusahaan lain.

PT Sinar Kencana Investama.

PT Mandala Cipta Konsultan.

PT Bumi Artha Nusantara.

Awalnya aku mengira itu vendor.

Lalu aku memeriksa direksi dan pemegang sahamnya.

Semua perusahaan itu terhubung dengan orang-orang dekat Arman.

Sopir lamanya.

Sepupunya.

Seorang mantan pegawai.

Dan melalui perusahaan-perusahaan itulah Arman telah memindahkan aset perkawinan kami sedikit demi sedikit.

Nilainya bukan puluhan juta rupiah.

Bukan ratusan juta.

Tetapi puluhan miliar.

Kemudian aku menemukan nama lain.

Selena Hartono.

Perempuan yang selama dua tahun terakhir Arman perkenalkan sebagai “konsultan branding perusahaan”.

Dalam laporan resmi, Selena menerima sekitar Rp2,8 miliar per tahun.

Aku membaca keterangannya berulang kali.

Honor konsultan.

Bonus proyek.

Tunjangan perjalanan.

Apartemen dinas.

Mobil perusahaan.

Masalahnya, Selena hampir tidak pernah datang ke kantor.

Dan tiga bulan kemudian, seorang penyidik swasta yang disewa Maya memberiku foto yang menjelaskan semuanya.

Arman dan Selena keluar dari sebuah apartemen di Kuningan pada pukul enam pagi.

Berpegangan tangan.

Maya menyentuh lenganku pelan di ruang sidang.

“Masih mau menunggu?”

Aku memandang ke arah Arman.

“Ya.”

Di seberang ruangan, dia melihat kami berbisik.

“Apa?” katanya cukup keras agar semua orang mendengar. “Sedang merencanakan bagaimana cara mengambil lebih banyak uang dari saya?”

Hakim perempuan di depan kami menatap dari balik kacamatanya.

“Saudara Arman.”

Arman mengangkat kedua tangan dengan gaya pura-pura bersalah.

“Mohon maaf, Yang Mulia.”

Namun saat kembali menatapku, dia tersenyum lagi.

Senyum lama itu.

Senyum seorang pria yang yakin istrinya akan kehilangan kendali jika cukup dipermalukan.

Dia ingin aku menangis.

Dia ingin aku marah.

Dia ingin aku terlihat serakah.

Tidak stabil.

Emosional.

Persis seperti cerita tentang diriku yang sudah dia bangun selama bertahun-tahun.

Sebaliknya, aku memandang Maya.

Lalu berkata pelan,

“Sekarang.”

Ekspresi Maya langsung berubah.

Dia menarik sebuah binder hitam tebal dari tasnya dan meletakkannya di atas meja.

Suara binder itu menyentuh meja terdengar kecil.

Namun Arman berhenti tersenyum.

Maya berdiri.

“Yang Mulia, kami ingin menyerahkan bukti tambahan terkait pengalihan aset perkawinan yang diduga sengaja disembunyikan oleh pihak tergugat.”

Pengacara Arman langsung bangkit.

“Keberatan. Dokumen apa ini?”

Maya bahkan tidak melihat ke arahnya.

“Laporan transaksi dari beberapa perusahaan terafiliasi, bukti kepemilikan tidak langsung, pembayaran kepada pihak ketiga, serta rekonsiliasi keuangan yang telah diperiksa oleh akuntan independen.”

Wajah Arman berubah.

Hanya sedikit.

Tetapi aku melihatnya.

Aku selalu bisa melihatnya.

Pengacaranya membungkuk dan berbisik cepat ke telinganya.

Arman menatap binder itu.

Kemudian menatapku.

Untuk pertama kalinya hari itu, dia tidak terlihat sombong.

Dia terlihat waspada.

Namun itu belum semuanya.

Belum mendekati semuanya.

Karena binder pertama hanya tentang uang.

Binder kedua berisi sesuatu yang jauh lebih pribadi.

Maya meletakkan satu binder lagi di atas meja.

Lalu berkata,

“Dan kami juga meminta izin menghadirkan bukti mengenai pola kekerasan dalam rumah tangga yang berlangsung selama bertahun-tahun.”

Ruang sidang mendadak sangat sunyi.

Arman langsung berdiri.

“Itu bohong!”

Hakim mengetukkan palu kecilnya.

“Saudara Arman, duduk.”

“Aku tidak pernah—”

“Duduk.”

Arman duduk perlahan.

Tatapannya menancap padaku.

Aku mengenali tatapan itu.

Tatapan yang dulu membuatku langsung diam.

Tatapan yang berarti:

Kamu akan menyesali ini ketika kita pulang.

Namun kali ini, tidak ada rumah yang sama untuk kami pulangi.

Tidak ada pintu tertutup yang bisa melindunginya lagi.

Maya menatapku.

Aku tahu apa yang akan terjadi berikutnya.

Kami sudah membicarakannya berkali-kali.

Tetapi ketika saat itu benar-benar tiba, tanganku tetap gemetar.

Aku berdiri.

Arman menggeleng kecil.

Nyaris tak terlihat.

Jangan.

Untuk pertama kalinya setelah dua puluh tahun, aku tidak menuruti perintahnya.

Aku membuka blazer yang kupakai.

Kemudian perlahan menarik bagian belakang blusku sedikit turun dari bahu.

Sebuah bekas luka panjang terlihat jelas.

Ada suara tarikan napas dari kursi belakang.

Aku lalu mengangkat sedikit sisi blus di bawah tulang rusukku.

Bekas luka lainnya terlihat.

“Yang Mulia,” kataku, berusaha menjaga suaraku tetap stabil, “suami saya tadi mengatakan saya tidak pernah berkontribusi apa pun selama dua puluh tahun.”

Aku menatap Arman.

“Yang tidak dia katakan adalah berapa banyak harga yang harus saya bayar agar dia bisa terlihat seperti pria sukses di depan semua orang.”

Senyum Arman benar-benar hilang.

Dan saat Maya membuka halaman pertama binder kedua…

wajahnya memucat.

Karena di atas halaman itu bukan hanya ada foto bekas lukaku.

Ada nama seorang dokter.

Tanggal pemeriksaan.

Rekaman suara.

Dan satu pernyataan tertulis dari seseorang yang selama ini Arman yakini akan selalu berada di pihaknya.

Putra sulung kami sendiri.

Saat itulah Arman akhirnya menyadari sesuatu yang seharusnya dia pahami sejak awal.

Aku tidak datang ke pengadilan untuk memohon agar dia memberiku bagian dari hidupnya.

Aku datang untuk mengambil kembali bagian hidupku yang selama dua puluh tahun dia curi.

Dan binder ketiga bahkan belum dibuka.

Arman menatap binder ketiga di meja seolah benda itu bisa meledak kapan saja.

Aku sudah mengenalnya selama dua puluh tahun.

Aku tahu bagaimana wajahnya berubah saat takut.

Bukan pucat.

Bukan gemetar.

Justru diam.

Sangat diam.

Rahannya mengeras. Jari telunjuknya mengetuk meja dua kali. Matanya bergerak cepat dari Maya, ke hakim, lalu kembali kepadaku.

Itulah Arman ketika pikirannya sedang menghitung jalan keluar.

Selama bertahun-tahun, dia selalu menemukan satu.

Kali ini tidak.

Hakim meminta salinan bukti diberikan kepada pihak lawan.

Pengacara Arman membuka binder pertama dengan wajah serius. Semakin banyak halaman yang dibalik, semakin hilang warna dari wajahnya.

“Yang Mulia,” katanya akhirnya, “kami membutuhkan waktu untuk memverifikasi dokumen-dokumen ini.”

Maya mengangguk.

“Tentu. Karena sebagian berasal dari laporan bank, dokumen pajak, dan data perusahaan yang sudah diverifikasi secara independen.”

Arman menoleh tajam kepadaku.

“Kamu mencuri data perusahaan?”

Itu kalimat pertama yang keluar dari mulutnya.

Bukan bantahan bahwa uang itu disembunyikan.

Bukan penjelasan soal perusahaan cangkang.

Dia justru bertanya bagaimana aku menemukannya.

Maya tersenyum tipis.

“Klien saya memiliki akses legal ke server rumah tangga dan dokumen keuangan keluarga selama periode perkawinan. Selain itu, beberapa informasi didapatkan dari sumber publik dan proses pemeriksaan hukum.”

Arman kembali bersandar.

“Aku akan menuntutmu.”

Aku menatapnya.

“Silakan.”

Dia terlihat terkejut.

Mungkin karena selama dua puluh tahun, setiap kali dia berkata akan melakukan sesuatu, aku biasanya takut.

Hari itu, ancamannya terdengar seperti suara pintu tua yang sudah tidak bisa dikunci.

Hakim lalu meminta penjelasan mengenai binder kedua.

Maya memulai dari dokumentasi medis.

Aku pernah datang ke sebuah klinik kecil di Tangerang Selatan hampir empat tahun lalu. Saat itu aku mengatakan kepada dokter bahwa aku jatuh dari tangga.

Aku tidak tahu bahwa dokter itu menulis catatan:

“Pola luka tidak konsisten dengan mekanisme jatuh.”

Dua tahun kemudian, aku datang lagi dengan memar di tulang rusuk.

Dokter yang berbeda menulis hal hampir sama.

Maya menemukan semua catatan itu setelah aku memberikan izin.

Ada foto.

Ada hasil rontgen.

Ada resep.

Ada rekaman pesan suara Arman yang dulu kusimpan tanpa tahu mengapa.

Dalam salah satu rekaman, terdengar suaranya berkata:

“Kalau kamu cerita ke siapa pun, aku akan bilang kamu gila.”

Dalam rekaman lain:

“Semua yang kamu punya datang dariku. Bahkan anak-anak lebih percaya aku daripada kamu.”

Arman menatap meja ketika rekaman itu diputar.

Aku tidak melihatnya.

Aku melihat hakim.

Aku tidak ingin lagi mengukur hidupku berdasarkan ekspresi Arman.

Lalu tibalah pernyataan tertulis dari putra sulung kami, Raka.

Raka berusia sembilan belas tahun.

Dia sedang kuliah di Bandung.

Selama bertahun-tahun, aku berusaha keras agar dia dan adiknya tidak mengetahui apa yang terjadi di rumah kami.

Aku pikir aku berhasil.

Ternyata tidak.

Pernyataan Raka hanya tiga halaman.

Tapi aku belum pernah berhasil membacanya sampai selesai tanpa menangis.

Maya membacakan bagian paling penting.

“Ketika saya berusia tiga belas tahun, saya terbangun karena mendengar suara benda pecah di dapur. Saya melihat ayah saya memegang lengan ibu saya dan mendorongnya ke lemari. Besok paginya, ibu mengatakan dia terpeleset.”

Arman mendongak.

“Dia anak kecil. Dia salah ingat.”

Maya meneruskan.

“Ketika saya berusia enam belas tahun, ayah saya meminta saya tidak ikut campur dalam urusan suami istri. Dia mengatakan kalau ibu pergi, itu karena ibu tidak tahu bersyukur.”

Suara Maya tetap tenang.

Kemudian datang kalimat terakhir.

“Saya menulis ini bukan karena saya membenci ayah saya. Saya menulis karena selama bertahun-tahun saya marah kepada ibu karena mengira dia terlalu lemah untuk pergi. Sekarang saya mengerti dia bertahan karena berusaha melindungi kami.”

Aku menutup mata.

Itulah bagian yang selalu menghancurkanku.

Bukan luka di tubuhku.

Bukan uang.

Bukan Selena.

Melainkan mengetahui bahwa anakku telah tumbuh sambil salah memahami diamku.

Hakim menghentikan sidang selama lima belas menit.

Arman langsung keluar bersama pengacaranya.

Aku tetap duduk.

Maya meletakkan tangan di samping binder ketiga.

“Dia akan mencoba berdamai sebelum kita kembali masuk.”

Aku menatapnya.

“Kamu yakin?”

“Seratus persen.”

Lima menit kemudian, pengacara Arman datang.

Tanpa Arman.

Dia mengajak kami bicara di ruang konsultasi kecil.

“Kami bersedia menaikkan tawaran penyelesaian.”

Maya bertanya, “Berapa?”

“Rumah di Bintaro tetap untuk Bu Laras. Tunjangan lima tahun. Plus Rp40 miliar tunai.”

Aku hampir tertawa.

Delapan belas bulan lalu, aku mungkin akan pingsan mendengar angka itu.

Hari itu aku hanya bertanya,

“Sebagai imbalan apa?”

Pengacaranya menarik napas.

“Seluruh tuduhan tambahan ditarik. Tidak ada laporan pidana. Tidak ada audit perusahaan lebih lanjut. Dan semua pihak menandatangani perjanjian kerahasiaan.”

Maya menatapku.

Aku menatap pengacara Arman.

“Tidak.”

Dia mengerutkan dahi.

“Bu Laras, Anda mungkin ingin mempertimbangkan—”

“Tidak.”

“Ini tawaran yang sangat besar.”

“Kalau Arman rela memberi Rp40 miliar hanya supaya binder ketiga tidak dibuka, berarti isinya jauh lebih mahal daripada Rp40 miliar.”

Ruangan itu hening.

Wajah pengacaranya berubah.

Saat itu aku tahu.

Maya memang benar.

Mereka tahu apa yang ada di binder ketiga.

Atau setidaknya mereka tahu cukup banyak untuk takut.

Kami kembali ke ruang sidang.

Hakim duduk.

Arman masuk beberapa detik kemudian.

Dia tidak lagi terlihat seperti pria yang tadi pagi menyebutku kuli angkut.

Dia terlihat seperti orang yang semalaman tidak tidur.

Ketika binder ketiga akhirnya dibuka, Maya tidak langsung berbicara tentang perusahaan.

Dia justru mengeluarkan satu dokumen berwarna krem.

“Yang Mulia, sebelum membahas aset, kami ingin menunjukkan satu akta pendirian lama.”

Pengacara Arman langsung berdiri.

“Kami keberatan atas relevansinya.”

“Silakan duduk,” kata hakim.

Maya berjalan mendekat dan menyerahkan salinan.

“Wijaya Prima Engineering didirikan dua puluh satu tahun lalu.”

Aku memandang Arman.

Tahun itu adalah satu tahun sebelum kami menikah.

Selama proses perceraian, Arman terus menggunakan fakta tersebut untuk mengklaim perusahaan sebagai miliknya sendiri.

Secara hukum, itu argumen yang kuat.

Hanya ada satu masalah.

Perusahaan yang didirikan dua puluh satu tahun lalu bukan perusahaan yang sekarang bernilai ratusan miliar.

Perusahaan pertama hampir bangkrut tiga tahun setelah kami menikah.

Aku masih ingat malamnya.

Arman duduk di lantai kamar sambil menangis.

Saat itu kami baru memiliki Raka.

Dia mengatakan semua investor akan menarik diri.

Utangnya menumpuk.

Bank menolak fasilitas kredit.

Dan pemasok meminta pembayaran di muka.

Aku yang menyelamatkan perusahaan itu.

Bukan dengan doa.

Bukan dengan dukungan emosional.

Dengan uang.

Uang warisan dari ibuku.

Ayahku meninggal ketika aku masih kuliah. Bertahun-tahun kemudian, ibuku menjual sebidang tanah keluarga di Semarang dan memberikan bagianku kepadaku.

Nilainya pada waktu itu hampir Rp3,2 miliar.

Aku memasukkan seluruhnya ke perusahaan Arman.

Seluruhnya.

Aku tidak meminta saham.

Aku tidak meminta jabatan.

Karena kami sudah menikah.

Aku berpikir kami sedang membangun masa depan bersama.

Maya mengangkat dokumen kedua.

“Transfer dana dari rekening pribadi Bu Laras ke perusahaan pada tahun tersebut.”

Lalu dokumen ketiga.

“Notulensi rapat restrukturisasi perusahaan.”

Arman menunduk.

Aku masih belum memahami mengapa dia begitu takut.

Sampai Maya mengeluarkan dokumen keempat.

“Dan ini adalah perjanjian investasi.”

Aku menatap Maya.

Dokumen itu baru kutemukan enam bulan lalu.

Bukan di server.

Bukan di kantor.

Di rumah ibuku.

Ibuku menyimpannya selama hampir dua puluh tahun.

Saat aku memberikan uang warisan itu, ibu rupanya tidak percaya pada Arman sepenuhnya.

Dia meminta notaris keluarga membuat dokumen tambahan.

Aku bahkan tidak mengingatnya.

Waktu itu aku baru melahirkan. Kurang tidur. Stres. Aku menandatangani banyak kertas.

Dalam perjanjian tersebut tertulis bahwa modal Rp3,2 miliar yang masuk dari aset warisan pribadiku memberikan hak ekonomi tertentu atas hasil restrukturisasi perusahaan.

Lebih penting lagi, ada satu klausul yang tidak pernah diperbarui Arman.

Jika perusahaan direstrukturisasi dengan modal tersebut sebagai dasar utama kelangsungan usaha, kepemilikan manfaat dari saham pendiri baru harus dibagi berdasarkan kontribusi modal aktual.

Maya menatap hakim.

“Berdasarkan hasil penelusuran akuntansi, uang Bu Laras mewakili lebih dari tujuh puluh persen modal yang digunakan untuk menyelamatkan dan membentuk kembali perusahaan pada fase restrukturisasi.”

Ruangan langsung ramai.

Pengacara Arman berdiri.

“Ini interpretasi sepihak!”

Maya mengangguk.

“Itulah sebabnya kami telah meminta ahli independen.”

Dia mengeluarkan laporan.

“Dan hasilnya menyimpulkan bahwa klaim Pak Arman bahwa perusahaan sepenuhnya merupakan aset terpisah tidak sesuai dengan sejarah pendanaan perusahaan.”

Arman berdiri.

“Kamu bahkan tidak tahu apa yang kamu tandatangani waktu itu!”

Aku menatapnya.

“Itu benar.”

Dia berhenti.

Aku melanjutkan.

“Aku tidak tahu.”

Aku melihat wajahnya.

“Aku percaya padamu.”

Empat kata itu membuat ruangan terasa lebih sunyi daripada semua bukti sebelumnya.

Aku tidak menangis saat mengatakannya.

Justru Arman yang memalingkan wajah.

Tapi twist sesungguhnya belum datang.

Karena Maya belum menyentuh tab merah di binder ketiga.

Dia membukanya perlahan.

“Sekarang mengenai tiga perusahaan yang menerima transfer aset.”

Dia menyebutkan PT Sinar Kencana Investama.

PT Mandala Cipta Konsultan.

PT Bumi Artha Nusantara.

“Kami menemukan bahwa dua di antaranya memiliki beneficial owner yang tidak dilaporkan secara transparan.”

Arman menatap pengacaranya.

“Dan berdasarkan dokumen ini, penerima manfaat akhirnya adalah Pak Arman sendiri.”

Tidak terlalu mengejutkan.

Kami sudah menduga.

Lalu Maya mengangkat satu dokumen lain.

“Tetapi perusahaan ketiga berbeda.”

Arman tiba-tiba menegang.

Aku bahkan belum tahu bagian ini sampai seminggu sebelum sidang.

Maya menatapku sebentar.

“Pemilik manfaat dari PT Bumi Artha Nusantara adalah Selena Hartono.”

Suara bisik muncul di ruangan.

Aku menatap Arman.

Aku mengira dia akan terlihat malu.

Sebaliknya, dia terlihat marah.

Sangat marah.

Maya melanjutkan.

“Dan selama tiga tahun terakhir, sekitar Rp27 miliar telah ditransfer ke perusahaan tersebut.”

Arman berbisik kasar kepada pengacaranya.

Hakim meminta ketenangan.

Lalu Maya berkata,

“Masalahnya, Pak Arman tampaknya tidak mengetahui bahwa enam bulan lalu, kepemilikan perusahaan itu berubah.”

Aku mengerutkan dahi.

Bagian itu baru bagiku.

Maya sengaja tidak memberitahuku semuanya.

Dia mengeluarkan dokumen terbaru.

“Selena Hartono telah menjual seluruh sahamnya.”

Arman memandangnya.

“Kepada siapa?”

Maya tidak menjawab langsung.

Dia menyerahkan dokumen ke hakim.

Lalu salinan kepada pengacara Arman.

Wajah pengacara itu berubah total.

Arman merampas kertas dari tangannya.

Aku melihat matanya membaca nama pembeli.

Lalu dia menatapku.

Bukan marah.

Bukan takut.

Kaget.

“Raka?”

Aku hampir berdiri.

“Apa?”

Maya menatapku.

“Itu sebabnya Raka meminta saya tidak memberi tahu Ibu sebelum sidang.”

Napas terasa berhenti di dadaku.

Ternyata beberapa bulan sebelumnya, Raka telah mengetahui hubungan ayahnya dengan Selena.

Dia juga mengetahui Selena mulai takut terseret dalam penyelidikan pajak dan sengketa aset.

Selena ingin keluar.

Raka, dengan bantuan seorang kerabat dari pihak ibuku dan tim hukum Maya, membeli saham perusahaan itu melalui mekanisme legal dengan harga yang jauh lebih kecil karena perusahaan tersebut memiliki potensi kewajiban besar.

Tapi Raka tidak menggunakan uangku.

Dia menggunakan uang warisan kecil dari neneknya yang dititipkan untuk pendidikan pascasarjana.

Saat ditanya mengapa, jawabannya sederhana.

“Aku ingin mengambil kembali sesuatu sebelum Ayah menghabiskannya semua.”

Aku menutup mulut.

Aku tidak tahu harus marah atau menangis.

Arman menatap kosong ke arah putranya yang bahkan tidak berada di ruangan.

Kemudian dia berkata,

“Dia mengkhianatiku.”

Dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, aku merasa kasihan kepadanya.

Bukan karena dia kehilangan uang.

Karena setelah semua bukti, semua luka, semua manipulasi, satu-satunya hal yang masih bisa dia lihat adalah pengkhianatan orang lain.

Dia sama sekali tidak bisa melihat pengkhianatan yang dia lakukan sendiri.

Sidang hari itu berakhir tanpa putusan final.

Tetapi hidup Arman mulai runtuh dalam beberapa minggu berikutnya.

Audit forensik menemukan transfer tambahan.

Otoritas pajak mulai memeriksa beberapa transaksi.

Dewan direksi Wijaya Prima Engineering memanggil rapat khusus.

Dua investor besar meminta Arman mundur sementara dari posisi direktur utama.

Selena menghilang dari kehidupannya.

Aku tidak pernah tahu apakah dia benar-benar mencintai Arman.

Aku rasa tidak.

Mungkin Arman juga tidak pernah benar-benar mencintainya.

Mereka hanya sama-sama melihat keuntungan pada satu sama lain.

Enam bulan kemudian, perceraian kami selesai.

Aku mendapat rumah.

Sebagian besar hak atas aset bersama.

Kompensasi dari nilai perusahaan yang diakui sebagai bagian dari kontribusi perkawinan.

Dan yang lebih penting, aku mendapatkan kembali namaku.

Namaku dicatat dalam penyelesaian sengketa bisnis sebagai pihak yang memiliki kontribusi modal historis yang signifikan.

Tapi anehnya, saat putusan dibacakan, aku tidak merasa menang.

Aku merasa lelah.

Sangat lelah.

Di luar pengadilan, Raka menungguku.

Aku belum bertemu dengannya sejak mengetahui soal perusahaan Selena.

Begitu melihatnya, aku langsung berkata,

“Kamu tidak seharusnya menggunakan uang pendidikanmu.”

Dia tersenyum kecil.

“Aku tahu Ibu akan bilang begitu.”

“Aku serius.”

“Aku juga.”

Aku menatapnya.

Dia sekarang hampir setinggi ayahnya.

Tapi sorot matanya mengingatkanku pada anak kecil yang dulu selalu tidur sambil memegang ujung bajuku.

“Aku bukan melakukan itu untuk mendapatkan uang, Bu.”

“Lalu untuk apa?”

Raka menelan ludah.

“Karena aku pikir selama ini aku gagal melindungi Ibu.”

Dadaku terasa sesak.

Aku menggeleng.

“Kamu anakku. Bukan tugasmulah melindungiku.”

“Tapi aku melihat.”

Air matanya turun.

“Aku melihat beberapa kali. Dan aku diam.”

“Kamu masih anak-anak.”

“Aku tetap diam.”

Aku memegang wajahnya.

“Dengarkan Ibu.”

Dia menatapku.

“Kita berdua melakukan hal yang sama.”

“Apa?”

“Kita diam karena takut keluarga kita hancur.”

Aku tersenyum sedih.

“Padahal keluarga kita sudah retak lama sebelum salah satu dari kita berani mengakuinya.”

Raka menangis.

Aku memeluknya.

Dan untuk pertama kalinya sejak perceraian dimulai, aku menangis sungguhan.

Bukan karena Arman.

Bukan karena kehilangan dua puluh tahun.

Karena akhirnya aku menyadari sesuatu.

Aku selama ini berpikir meninggalkan Arman berarti menghancurkan keluargaku.

Ternyata bertahanlah yang hampir menghancurkan kami.

Satu tahun kemudian, aku tidak kembali ke rumah besar di Bintaro.

Aku menjualnya.

Terlalu banyak kenangan di sana.

Aku membeli rumah yang lebih kecil di BSD, dengan jendela besar dan taman kecil di belakang.

Tidak ada kamera keamanan di dalam rumah.

Aku tidak lagi ingin hidup seperti seseorang sedang mengawasiku.

Aku juga kembali bekerja.

Bukan sebagai pegawai.

Maya membantuku mendirikan firma konsultasi kecil yang fokus pada audit forensik dan konflik kepemilikan bisnis keluarga.

Namanya sederhana.

Laras Advisory.

Hari pertama plang namaku dipasang di depan kantor, aku berdiri cukup lama menatapnya.

Selama puluhan tahun, aku terbiasa disebut:

Istri Arman.

Ibu Raka.

Ibu rumah tangga.

Perempuan yang beruntung punya suami sukses.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hanya ada namaku.

LARAS.

Dan itu cukup.

Beberapa bulan kemudian, aku menerima surat.

Tulisan di amplop langsung kukenali.

Arman.

Aku hampir membuangnya.

Tapi akhirnya kubuka.

Tidak ada permintaan uang.

Tidak ada ancaman.

Hanya satu halaman.

Dia menulis bahwa perusahaan telah menunjuk direktur baru.

Bahwa dia menjual sebagian aset untuk menyelesaikan kewajiban.

Bahwa Selena tidak pernah menghubunginya lagi.

Lalu di bagian terakhir dia menulis:

“Aku selalu berpikir kamu membutuhkan aku untuk menjadi seseorang.”

Aku berhenti membaca.

Kalimat selanjutnya membuat tanganku gemetar.

“Ternyata aku yang membutuhkan kamu supaya bisa terlihat seperti seseorang.”

Aku duduk lama.

Dulu, kalimat seperti itu mungkin membuatku kembali.

Mungkin membuatku berharap.

Tapi aku sudah belajar bahwa penyesalan tidak sama dengan perubahan.

Aku melipat surat itu.

Menyimpannya.

Bukan sebagai kenang-kenangan cinta.

Sebagai bukti bahwa terkadang orang baru mengenali nilai seseorang setelah mereka kehilangan akses kepadanya.

Malam itu, Raka dan adiknya datang makan.

Kami membuat nasi goreng terlalu banyak.

Raka mengeluh karena adiknya menghabiskan kerupuk.

Aku tertawa sampai perutku sakit.

Tidak ada yang berjalan di atas kulit telur.

Tidak ada yang memperhatikan suara kunci di pintu.

Tidak ada yang tiba-tiba diam saat seseorang memasuki ruangan.

Saat anak-anak pulang, aku berdiri sendirian di dapur.

Aku mematikan lampu.

Sebelum naik ke kamar, aku melihat bayanganku di kaca.

Bekas luka di bahuku masih ada.

Bekas luka di tulang rusuk juga.

Dulu aku membencinya.

Aku merasa bekas luka itu adalah tanda bahwa Arman pernah berhasil menghancurkanku.

Sekarang aku melihatnya berbeda.

Bekas luka bukan bukti bahwa dia menang.

Bekas luka adalah bukti bahwa luka itu sudah menutup.

Aku menyentuh bahuku perlahan.

Lalu teringat kalimat yang pernah dia ucapkan di pengadilan.

“Kuli angkut.”

Selama bertahun-tahun, mungkin memang benar aku membawa semuanya.

Anak-anak.

Rumah.

Perusahaan.

Rahasia.

Ketakutan.

Bahkan harga diri seorang pria yang tidak pernah cukup kuat untuk membangunnya sendiri.

Tapi hari itu aku akhirnya memahami satu hal.

Seekor “kuli angkut” hanya terus membawa beban selama seseorang memasangnya di punggung.

Dan ketika beban itu diturunkan…

ia bisa berjalan ke mana pun ia mau.

Aku membuka pintu belakang rumah.

Udara malam masuk perlahan.

Di taman kecil, lampu-lampu rendah menyala di antara tanaman melati yang baru kutanam.

Aku tersenyum.

Dua puluh tahun lalu, aku mengira kebebasan berarti memiliki cukup uang untuk pergi.

Sekarang aku tahu kebebasan sebenarnya adalah bangun di pagi hari dan tidak perlu lagi takut menjadi dirimu sendiri.

Aku tidak memenangkan perceraian karena mendapatkan rumah.

Bukan karena mendapatkan bagian perusahaan.

Bukan karena berhasil mempermalukan Arman di pengadilan.

Aku menang pada hari ketika ancamannya tidak lagi membuatku diam.

Dan kejutan terbesar dari semuanya?

Pria yang selama dua puluh tahun mengatakan aku tidak pernah berkontribusi pada kesuksesannya akhirnya kehilangan hampir semua yang dia banggakan.

Sementara perempuan yang dia sebut tidak punya karier…

membangun hidup baru dari nol.

Dengan namanya sendiri.