Dokter Mengatakan Ibuku Hamil Sembilan Minggu, Lalu Nama Suamiku Muncul dalam Hasil DNA Janin

Avatar penulis
Cerita 01
25 menit baca 215 tayangan
Dokter Mengatakan Ibuku Hamil Sembilan Minggu, Lalu Nama Suamiku Muncul dalam Hasil DNA Janin
Indeks

Dokter Mengatakan Ibuku Hamil Sembilan Minggu, Lalu Nama Suamiku Muncul dalam Hasil DNA Janin

Bagian 1

Senin siang itu seharusnya biasa saja. Aku sedang berdiri di depan meja besar ruang desain, memeriksa revisi terakhir untuk proyek renovasi sebuah klinik, ketika ponselku bergetar di samping laptop.

Pesannya dari rumah sakit tempat Ibu menjalani pemeriksaan dua hari sebelumnya.

“Keluarga pasien Ibu Sulastri dimohon datang hari ini untuk menerima informasi penting dari dokter.”

Tidak ada penjelasan lain.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Dokter Mengatakan Ibuku Hamil Sembilan Minggu, Lalu Nama Suamiku Muncul dalam Hasil DNA Janin

Ibu memang sudah beberapa minggu mengeluh cepat lelah, pusing, dan kadang mual. Usianya lima puluh dua tahun. Saat pertama kali memeriksakan diri, dokter menduga anemia, perubahan hormon menjelang menopause, atau gangguan keseimbangan.

Tidak pernah sekali pun terpikir olehku bahwa ada sesuatu yang aneh.

Malam sebelumnya aku bahkan sempat bercanda kepada Arman, suamiku.

“Mungkin Ibu cuma kurang tidur. Pesanan kateringnya lagi banyak.”

Arman yang sedang membereskan piring hanya mengangguk.

“Suruh istirahat dulu. Jangan semua pesanan diterima.”

Kami sudah menikah tiga tahun. Selama itu Arman cukup dekat dengan Ibu, terutama setelah ayahku meninggal enam tahun lalu. Kalau ada keran bocor, motor Ibu mogok, atau ada barang berat yang perlu dipindahkan, Ibu lebih sering menelepon Arman daripada aku.

Aku tidak pernah menganggap itu aneh.

Justru selama ini aku merasa beruntung karena suamiku tidak menjaga jarak dengan keluargaku.

Siang itu aku meminta izin keluar kantor, memesan taksi daring, lalu langsung menuju rumah sakit.

Sepanjang perjalanan aku mencoba memikirkan kemungkinan yang masuk akal.

Mungkin kadar hemoglobinnya sangat rendah.

Mungkin ada masalah pada lambung.

Mungkin dokter menemukan sesuatu dari hasil USG.

Tetapi ada satu hal yang terus menggangguku. Kalau hanya masalah biasa, kenapa mereka tidak menyampaikannya melalui telepon?

Sesampainya di rumah sakit, aku dibawa ke ruang konsultasi.

Dokternya perempuan sekitar empat puluhan, namanya dr. Maya. Aku pernah bertemu dengannya ketika mendampingi Ibu pada pemeriksaan pertama.

Kali ini wajahnya berbeda.

Ia mempersilahkanku duduk, kemudian membuka sebuah map.

“Ibu Ratih, sebelum saya menjelaskan, saya ingin memastikan dulu. Ibu Sulastri adalah ibu kandung Anda?”

“Iya.”

“Dan Anda keluarga yang beliau tulis sebagai kontak utama?”

“Iya. Ada apa, Dok?”

Dokter menatapku beberapa detik.

“Kami sudah mengulang pemeriksaannya. Ibu Sulastri sedang hamil.”

Aku menunggu kalimat berikutnya, karena otakku seperti menolak menerima kalimat pertama.

“Hamil?”

“Usia kehamilannya diperkirakan sembilan minggu.”

Aku sampai tertawa kecil. Bukan karena lucu, tapi karena pikiranku mencari jalan keluar dari sesuatu yang terasa mustahil.

“Dok, mungkin datanya tertukar.”

“Kami sudah memeriksa ulang.”

“Ibu saya lima puluh dua tahun.”

“Saya tahu. Kehamilan spontan di usia seperti beliau memang sangat jarang, tetapi tetap bisa terjadi selama ovulasi masih berlangsung.”

Aku menatap hasil pemeriksaan yang didorong ke depanku.

Ada nama Ibu.

Tanggal lahir Ibu.

Nomor rekam medisnya.

Hasil laboratorium.

Hasil USG.

Tidak ada nama orang lain yang tertukar.

“Beliau sudah tahu?”

“Sudah.”

Pertanyaan berikutnya hampir keluar dari mulutku, tetapi dokter mengangkat tangannya pelan.

“Ada satu hal lagi yang perlu kami jelaskan.”

Nada suaranya membuat tengkukku terasa dingin.

Dalam rangkaian pemeriksaan, laboratorium menemukan kecocokan genetik yang tidak biasa ketika membandingkan beberapa penanda dengan data lama yang pernah tersimpan di rumah sakit. Dokter menekankan bahwa itu belum merupakan tes paternitas resmi dan masih perlu pemeriksaan konfirmasi.

Aku hampir tidak mendengarkan penjelasan teknisnya.

Sampai ia menyebut satu nama.

“Data pembanding yang menunjukkan hubungan genetik sangat dekat tercatat atas nama Arman Pratama.”

Aku menatap dokter.

“Maksudnya siapa?”

Dokter melihat kembali layar komputer.

“Arman Pratama.”

Nama suamiku.

Untuk beberapa detik aku tidak bisa merasakan apa pun.

Arman pernah menjalani pemeriksaan genetik di rumah sakit yang sama sekitar setahun sebelumnya, ketika kami mengikuti pemeriksaan kesehatan pasangan karena berencana memiliki anak. Aku tahu datanya memang ada.

Tetapi aku tidak mengerti bagaimana nama suamiku bisa muncul dalam pemeriksaan kehamilan ibuku.

“Dokter sedang mengatakan suami saya adalah ayah bayi itu?”

“Saya tidak mengatakan begitu.”

“Tapi tadi dokter bilang hubungan genetiknya dekat.”

“Betul. Hasil penyaringan menunjukkan kemungkinan hubungan tingkat dekat. Namun pemeriksaan ini bukan pemeriksaan paternitas. Kami perlu tes khusus sebelum menyimpulkan.”

“Dekat seperti apa?”

Dokter berhenti sejenak.

“Dalam hasil awal, tingkat kemiripannya cukup tinggi sehingga hubungan ayah dan anak termasuk salah satu kemungkinan yang harus diperiksa.”

Aku menunduk menatap kertas di tanganku.

Huruf-hurufnya terlihat jelas, tetapi tidak ada yang benar-benar masuk ke kepalaku.

Ibuku hamil sembilan minggu.

Nama suamiku muncul dalam hasil genetik janinnya.

Dua fakta itu berdiri berdampingan dan membuat semua hal yang kukenal selama tiga tahun pernikahan tiba-tiba terasa rapuh.

Aku mencoba mengingat sembilan minggu terakhir.

Aku bekerja.

Arman bekerja.

Ibu menjalankan katering kecil dari rumah.

Kami makan bersama hampir setiap Minggu.

Arman kadang mengantar bahan makanan ke rumah Ibu.

Kadang membantu memperbaiki sesuatu.

Kadang mengantar Ibu kontrol kalau aku sedang tidak bisa meninggalkan kantor.

Semua kenangan yang sebelumnya tampak biasa sekarang datang kembali dengan bentuk berbeda.

Aku langsung membenci diriku sendiri karena memikirkan itu.

Belum ada kepastian.

Dokter sendiri mengatakan belum ada kepastian.

Aku bertanya apakah Ibu sudah menjelaskan siapa ayah kandung bayi itu.

Dokter menggeleng.

“Itu informasi yang perlu Anda tanyakan langsung kepada beliau. Kami tidak bisa memaksa pasien menceritakan kehidupan pribadinya.”

“Dia bilang apa waktu tahu hasil ini?”

Dokter memilih kata-katanya.

“Beliau sangat terkejut dan meminta waktu.”

Aku menelepon Ibu begitu keluar dari ruang konsultasi.

Tidak diangkat.

Kutelepon lagi.

Tetap tidak diangkat.

Aku mengirim pesan.

“Bu, aku di rumah sakit. Aku sudah tahu soal kehamilan. Tolong angkat telepon.”

Tidak ada balasan.

Aku berdiri di dekat lift hampir lima menit sambil memegang map.

Aku ingin langsung pergi ke rumah Ibu.

Namun sebelum melakukan itu, ada satu orang yang harus melihat kertas ini.

Arman.

Aku pulang sebelum jam kerja selesai.

Ketika membuka pintu rumah, aku sempat berharap rumah masih kosong. Aku tidak tahu apakah aku ingin bertemu Arman atau justru takut bertemu dengannya.

Ternyata mobilnya sudah ada.

Arman bekerja sebagai supervisor operasional sebuah perusahaan distribusi bahan makanan. Beberapa hari dalam seminggu ia bisa pulang lebih cepat kalau kunjungan gudangnya selesai.

Saat aku masuk, dia sedang duduk di ruang tengah sambil melihat laptop.

Ia langsung mengangkat kepala.

“Kok pulang?”

Aku tidak menjawab.

“Ratih?”

Aku meletakkan tas di kursi.

Tanganku dingin.

Arman berdiri.

“Kamu sakit?”

Aku mengambil map rumah sakit dan menaruhnya di meja.

“Baca.”

Dia memandangku, lalu memandang map itu.

“Apa ini?”

“Baca saja.”

Arman duduk kembali.

Ia membuka halaman pertama.

Matanya bergerak cepat.

Aku memperhatikan wajahnya, mencari sesuatu yang mungkin bisa memberiku jawaban bahkan sebelum dia bicara.

Awalnya hanya bingung.

Kemudian alisnya mengerut saat membaca hasil kehamilan Ibu.

Lalu dia sampai pada lembar yang menjelaskan hasil pemeriksaan genetik.

Wajahnya berubah.

Bukan lagi kebingungan.

Ada kegugupan yang terlalu jelas untuk kusebut kebetulan.

Kemudian matanya berhenti pada satu baris.

Nama lengkapnya sendiri.

Arman Pratama.

Dia membaca sekali lagi.

Wajahnya mendadak pucat.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, suamiku tampak benar-benar ketakutan pada selembar kertas yang sedang dipegangnya.

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

Arman menutup map itu terlalu cepat.

“Ratih, dengar dulu.”

Aku berdiri di seberang meja.

“Aku sedang dengar.”

Dia membuka mulut, tetapi tidak langsung bicara.

Dan justru jeda itulah yang membuat dadaku semakin berat.

Kalau semuanya tidak masuk akal baginya, seharusnya kalimat pertama yang keluar adalah, “Ini salah.”

Bukan, “Dengar dulu.”

“Apa kamu tidur dengan ibuku?”

Wajah Arman menegang.

“Tidak sesederhana itu.”

Aku sampai harus memegang sandaran kursi.

“Pertanyaanku sederhana.”

“Ratih.”

“Ya atau tidak?”

Dia memandang lantai.

Aku tidak menunggu lagi.

Aku mengambil kembali map itu.

“Keluar.”

Arman berdiri.

“Kasih aku kesempatan menjelaskan.”

“Kamu punya kesempatan dari tadi.”

“Aku tidak mau membicarakan ini tanpa Ibu.”

Aku menatapnya.

Cara dia menyebut ibuku dengan begitu tenang tiba-tiba membuatku mual.

“Kenapa?”

Arman mengusap wajahnya.

“Karena apa pun yang aku bilang sekarang akan terdengar seperti aku sedang menyalahkan beliau.”

Jantungku berdegup semakin cepat.

Jadi memang ada sesuatu.

Aku mengambil kunci mobil.

“Kita ke rumah Ibu.”

Arman menghalangi pintu.

“Ratih, jangan sekarang.”

Aku langsung berhenti.

“Kamu tahu sesuatu yang aku tidak tahu.”

Dia tidak menjawab.

Aku mendorong tangannya dari gagang pintu.

“Kalau kamu ingin tetap punya sedikit saja kesempatan untuk menjelaskan, jangan menghalangiku.”

Kami pergi dengan mobil terpisah.

Sepanjang jalan Ibu akhirnya membalas pesanku.

“Hati-hati di jalan. Kita bicara di rumah.”

Hanya itu.

Tidak ada “hasilnya salah”.

Tidak ada “jangan percaya”.

Tidak ada “Ibu juga bingung”.

Aku tiba lebih dulu.

Pintu rumah Ibu tidak dikunci.

Dia duduk di meja makan, masih mengenakan baju rumah. Di depannya ada segelas air yang sepertinya tidak disentuh.

Aku meletakkan map di meja.

“Siapa ayahnya?”

Ibu menatapku lama.

Aku belum pernah melihatnya seperti itu.

Bukan takut.

Lebih seperti seseorang yang sudah tahu bahwa apa pun yang dikatakan tidak akan memperbaiki keadaan.

“Ratih…”

“Jangan panggil namaku dulu. Jawab.”

Ibu menunduk.

Beberapa detik kemudian pintu depan terbuka.

Arman masuk.

Ibu langsung berdiri.

“Kenapa kamu bawa dia ke sini?”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

“Aku yang membawa diri sendiri ke sini, Bu.”

Arman berdiri dekat pintu.

Aku kembali bertanya.

“Siapa ayah bayi itu?”

Ibu memegang sisi meja.

Arman berkata pelan, “Bu, kita sudah tidak bisa tutupi.”

Kalimat itu menghancurkan sisa keraguan yang masih berusaha kupertahankan.

Aku menatap mereka bergantian.

“Kalian berdua memang menyembunyikan sesuatu.”

Ibu menangis.

Aku tidak bergerak mendekatinya.

“Tes rumah sakit itu benar?”

Arman menjawab lebih dulu.

“Kita harus lakukan tes paternitas resmi.”

“Itu bukan jawaban.”

Ibu menutup wajahnya.

Arman akhirnya berkata, “Kemungkinannya memang aku.”

Aku merasa suara kulkas di dapur tiba-tiba terdengar sangat keras.

Aku menarik kursi dan duduk karena kakiku tidak lagi terasa stabil.

“Sejak kapan?”

Arman tidak menjawab.

Aku menatap Ibu.

“Sejak kapan?”

Ibu duduk perlahan.

“Awalnya tidak seperti itu.”

Aku mengangguk kecil.

“Tentu. Semua orang yang melakukan sesuatu seperti ini pasti bilang awalnya tidak seperti itu.”

“Ratih, dengarkan Ibu dulu.”

“Berapa lama?”

Ibu menatap Arman.

Aku melihat pertukaran pandangan itu.

Dan sesuatu dalam diriku berubah.

Bukan lagi sekadar sakit.

Aku mulai menyadari bahwa selama ini mereka memiliki percakapan yang tidak pernah melibatkanku.

Arman berkata, “Beberapa bulan.”

“Berapa?”

“Ratih…”

“Berapa?”

Ibu yang menjawab.

“Hampir tujuh bulan.”

Aku berhenti bernapas sesaat.

Kehamilan Ibu baru sembilan minggu.

Tetapi hubungan mereka ternyata tidak dimulai sembilan minggu lalu.

Selama hampir tujuh bulan, suamiku dan ibuku sudah menyimpan sebuah kehidupan rahasia tepat di belakangku.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Aku tidak menangis di rumah Ibu malam itu.

Aneh, karena sejak kecil aku termasuk orang yang mudah menangis kalau tertekan. Tetapi ketika mendengar kata “hampir tujuh bulan”, rasanya bahkan air mata pun terlambat memahami apa yang sedang terjadi.

Aku hanya bertanya satu hal.

“Apakah kalian tidur bersama?”

Tidak ada gunanya lagi berputar-putar.

Ibu menundukkan kepala.

Arman menjawab, “Iya.”

Satu kata.

Tidak keras.

Tidak dramatis.

Justru karena itu rasanya lebih buruk.

Aku berdiri.

Arman ikut berdiri.

“Ratih, tolong dengarkan seluruhnya.”

“Tidak malam ini.”

“Aku harus menjelaskan.”

“Kamu sudah menjelaskan bagian yang paling penting.”

Aku memandang Ibu.

Dia tidak berani menatapku.

“Besok rumah sakit akan menghubungi soal tes lanjutan. Aku akan ikut karena namaku masih tercatat sebagai kontak keluarga. Setelah itu, jangan telepon aku dulu kecuali urusannya kesehatan Ibu.”

Ibu menangis lebih keras.

“Ratih, Ibu salah.”

Aku mengangguk.

“Iya.”

Hanya itu.

Arman hendak mengikutiku keluar, tetapi aku berhenti di depan pintu.

“Kamu jangan pulang ke rumah malam ini.”

“Ratih.”

“Hotel, rumah temanmu, rumah kakakmu, terserah. Jangan pulang.”

“Itu rumah kita.”

“Dan malam ini aku tidak sanggup tidur satu atap denganmu.”

Dia tidak membantah lagi.

Dalam perjalanan pulang, barulah tanganku mulai gemetar.

Bukan karena aku tiba-tiba ingin membalas mereka.

Yang terlintas justru hal-hal kecil.

Tiga bulan sebelumnya, Ibu pernah meminta Arman mengantarnya membeli oven baru untuk katering.

Aku tidak ikut karena ada presentasi.

Empat bulan sebelumnya, Arman pernah bilang harus membantu Ibu memindahkan lemari.

Dua bulan sebelumnya, saat aku pulang terlambat dari proyek, Arman bilang sudah makan di rumah Ibu.

Semua kejadian itu dulu hanya bagian biasa dari hidup kami.

Sekarang aku tidak tahu lagi mana yang benar.

Sampai di rumah, aku tidak memeriksa ponsel Arman, tidak mencoba menebak kata sandinya, tidak mencari kamera, dan tidak membuka barang-barangnya.

Aku justru membuka aplikasi bankku sendiri.

Aku dan Arman punya rekening bersama untuk cicilan rumah, kebutuhan bulanan, serta tabungan darurat. Di luar itu kami masing-masing punya rekening pribadi.

Aku memeriksa saldo.

Tidak ada jumlah besar yang hilang.

Namun ada beberapa transfer ke rekening Ibu selama enam bulan terakhir.

Rp2,5 juta.

Rp4 juta.

Rp3 juta.

Rp5 juta.

Sebagian aku tahu. Ibu memang pernah meminjam uang untuk mengganti kompor katering dan membeli oven.

Tetapi dua transfer lain tidak pernah kudengar.

Aku mengambil tangkapan layar mutasi rekening, lalu berhenti.

Aku sadar sedang mulai melakukan hal yang selama ini tidak pernah kulakukan dalam pernikahan.

Mencatat.

Menyimpan.

Memastikan.

Malam itu Arman mengirim hampir dua puluh pesan.

Aku hanya membaca beberapa.

“Aku tahu aku salah.”

“Aku tidak mau menyalahkan kamu.”

“Aku tidak pernah berniat meninggalkanmu.”

“Awalnya aku cuma sering membantu Ibu.”

“Aku harus menjelaskan bagaimana semuanya terjadi.”

Aku tidak menjawab.

Sekitar pukul sebelas, Ibu juga mengirim pesan.

“Kalau kamu mau marah, marahlah pada Ibu. Jangan buat keputusan malam ini.”

Kalimat itu justru membuatku bangun dari tempat tidur.

Aku berjalan ke ruang kerja kecil kami dan mengambil map berisi dokumen rumah, buku rekening lama, polis asuransi, serta dokumen kendaraan.

Rumah itu dibeli setelah kami menikah dan masih dalam KPR atas nama kami berdua.

Aku tidak bisa menghapus Arman dari kepemilikan hanya karena marah, dan aku tidak berniat melakukan hal bodoh seperti itu.

Tetapi semua dokumen penting yang biasanya berada di satu laci kupindahkan ke lemari berkunci.

Bukan untuk mengambil haknya.

Aku cuma tidak mau lagi menjalani situasi ketika aku tidak tahu apa yang sedang dilakukan orang lain di belakangku.

Besok paginya aku menelepon kantor dan mengambil cuti dua hari.

Lalu aku menghubungi bank.

Aku tidak meminta petugas memblokir rekening bersama karena itu juga berisi uang yang menjadi hak Arman.

Aku hanya menanyakan prosedur apabila salah satu pemilik rekening ingin mengubah batas transaksi atau membutuhkan persetujuan kedua pihak untuk perpindahan dana tertentu.

Petugas menjelaskan opsi yang tersedia dan menyarankan kami datang bersama jika ingin mengubah pengaturan.

Aku mencatat.

Setelah itu aku memindahkan gajiku bulan berjalan yang belum dialokasikan ke rekening pribadiku.

Untuk pertama kali, aku sadar betapa banyak hal dalam rumah tangga kami yang berjalan berdasarkan asumsi sederhana.

Aku percaya dia.

Dia percaya aku.

Karena itu kami jarang bertanya.

Dan orang yang hidup dari kepercayaan tidak pernah merasa perlu menyimpan bukti sampai suatu hari kepercayaan itu berhenti bekerja.

Siang harinya rumah sakit menelepon.

Tes lanjutan bisa dilakukan dengan persetujuan Ibu dan Arman. Karena kondisi Ibu termasuk kehamilan berisiko tinggi berdasarkan usia, dokter juga menyarankan pemeriksaan rutin lebih ketat.

Aku datang bukan sebagai anak yang siap menghibur.

Aku datang karena aku masih anaknya dan kondisi kesehatannya tetap nyata, terlepas dari apa yang telah dia lakukan.

Ibu sudah berada di sana bersama Arman.

Aku duduk di kursi paling jauh.

Dokter Maya menjelaskan kembali bahwa hasil pertama bukan tes paternitas resmi. Pemeriksaan tambahan diperlukan untuk memastikan hubungan biologis.

Arman langsung setuju.

Ibu juga.

Saat menandatangani persetujuan, tangan Ibu gemetar.

Aku melihatnya, lalu memalingkan wajah.

Setelah selesai, kami keluar bersama.

Di lorong, Arman berkata, “Kita bisa bicara sekarang?”

Aku menjawab, “Tentang faktanya. Bukan alasan.”

Dia mengangguk.

Kami duduk di kafetaria rumah sakit.

Ibu memilih pulang lebih dulu.

Untuk pertama kalinya sejak semuanya terbongkar, aku dan Arman duduk hanya berdua.

“Aku tidak tahu harus mulai dari mana,” katanya.

“Mulai dari tujuh bulan lalu.”

Arman terdiam.

Dia bercerita bahwa kedekatannya dengan Ibu meningkat ketika katering Ibu mengalami masalah.

Salah satu pelanggan besar terlambat membayar hampir Rp30 juta. Pada saat yang sama kulkas penyimpanan rusak, dan Ibu harus menutup sebagian pesanan.

Aku tahu tentang pelanggan yang terlambat membayar.

Aku tidak tahu seberapa besar tekanannya.

Ibu rupanya meminta bantuan Arman karena malu memberitahuku. Dia merasa aku sudah terlalu sibuk membayar KPR dan membantu biaya kesehatannya.

Arman beberapa kali meminjamkan uang.

“Aku pikir cuma sampai usaha Ibu lancar lagi,” katanya.

“Uangnya dari mana?”

“Dari rekening pribadiku.”

“Transfer yang dari rekening bersama?”

Dia menunduk.

“Itu buat bayar sebagian bahan. Aku salah karena tidak bilang.”

“Berapa total?”

“Sekitar dua puluh satu juta.”

Aku mengingat angka yang kulihat malam sebelumnya.

“Kenapa harus rahasia?”

“Ibu yang minta.”

Aku menatapnya.

“Dan kamu setuju.”

Arman tidak membela diri.

Menurut ceritanya, setelah itu mereka semakin sering bertemu. Awalnya membicarakan usaha. Kemudian Ibu mulai menceritakan kesepiannya sejak Ayah meninggal.

Arman juga mulai menceritakan masalah rumah tangga kami.

Aku langsung menghentikannya.

“Masalah rumah tangga yang mana?”

Dia menelan ludah.

“Kita jarang punya waktu.”

“Lalu?”

“Aku sering merasa kamu tidak ada.”

Aku tertawa pendek.

“Jangan lanjut kalau kamu mau menjadikan pekerjaanku alasan.”

“Aku tidak bilang itu alasan.”

“Tapi kamu memasukkannya ke cerita.”

Dia menunduk.

Aku berkata, “Kalau kamu kesepian, orang yang harus kamu ajak bicara adalah istrimu. Bukan ibunya.”

Arman tidak menjawab.

Pertama kali mereka tidur bersama terjadi sekitar empat bulan setelah kedekatan itu dimulai.

Di rumah Ibu.

Aku sedang berada dua hari di Semarang untuk survei proyek.

Tidak ada hotel.

Tidak ada pesta.

Tidak ada alkohol.

Tidak ada keadaan yang bisa mereka jadikan kambing hitam.

Mereka tahu apa yang dilakukan.

Setelahnya, menurut Arman, mereka sepakat tidak mengulanginya.

Tetapi mereka mengulanginya.

Tidak sering, katanya.

Aku tidak menanyakan berapa kali.

Angka tidak akan mengubah pengkhianatan menjadi lebih kecil.

“Kenapa berhenti?” tanyaku.

“Karena aku takut kehilanganmu.”

“Sejak kapan takutnya muncul?”

Dia diam cukup lama.

“Sekitar dua bulan lalu.”

Aku memandangnya.

“Jadi selama lima bulan sebelumnya kamu belum cukup takut.”

Wajah Arman memerah.

“Ratih, aku tahu kedengarannya buruk.”

“Bukan terdengar buruk. Memang buruk.”

Dia akhirnya mengaku bahwa sekitar dua bulan terakhir mereka mencoba menjaga jarak. Ibu berhenti meminta bantuan. Arman mengurangi kunjungan.

Aku baru sadar memang sempat ada perubahan kecil.

Ibu beberapa kali bertanya kepadaku, bukan kepada Arman, soal urusan rumah.

Aku mengira dia hanya sedang berusaha tidak merepotkan menantunya.

Ternyata mereka sedang berusaha menutup hubungan yang sudah terjadi.

“Apakah kalian berencana memberitahuku?”

Arman menjawab pelan, “Tidak.”

Itulah salah satu jawaban paling jujur yang dia berikan.

“Kalau Ibu tidak hamil?”

Dia menatap meja.

“Mungkin tidak.”

Aku berdiri.

Tidak ada lagi yang perlu kuketahui hari itu.

Tiga hari kemudian hasil tes paternitas keluar.

Arman adalah ayah biologis janin itu.

Tidak ada kesalahan sampel.

Tidak ada hubungan genetik lain yang kebetulan mirip.

Tidak ada penjelasan medis yang bisa menyelamatkan pernikahanku dari fakta paling sederhana.

Suamiku membuat ibuku hamil.

Dokter berbicara tentang risiko kehamilan Ibu, pilihan pemeriksaan tambahan, dan pentingnya pemantauan rutin.

Aku duduk mendengarkan semuanya.

Satu bagian dalam diriku masih anaknya.

Bagian lain belum tahu bagaimana caranya memandang wajahnya.

Setelah konsultasi, Ibu memintaku ikut pulang.

Aku hampir menolak.

Lalu aku sadar selama ini hanya mendengar cerita Arman.

Jadi aku ikut.

Di rumah, Ibu membuat teh untukku seperti puluhan kali sebelumnya.

Aku tidak menyentuhnya.

Dia duduk di seberang meja makan yang sama tempat semuanya terbongkar.

“Ibu tidak akan minta kamu memaafkan sekarang,” katanya.

“Bagus.”

“Ibu cuma mau kamu tahu Ibu tidak pernah merencanakan mengambil suamimu.”

Aku menatapnya.

“Bu, jangan pakai kata mengambil. Arman bukan barang yang bisa diambil.”

Ibu terdiam.

“Dia membuat pilihan. Ibu juga.”

Air mata Ibu jatuh.

“Ibu kesepian.”

Aku mengangguk.

“Aku percaya.”

“Ibu merasa setelah Ayah tidak ada, semua orang punya hidup sendiri. Kamu bekerja. Kamu menikah. Ibu senang kamu punya rumah tangga sendiri. Tapi kadang…”

“Kadang Ibu kesepian.”

“Iya.”

“Dan Arman sering datang.”

Ibu mengusap pipinya.

“Dia dengarkan Ibu.”

Aku menatap perempuan yang membesarkanku.

Aku bisa memahami kesepiannya.

Aku bisa memahami rasa takutnya menjadi beban.

Aku bisa memahami kenapa bantuan kecil dari seseorang bisa terasa semakin penting ketika hidup mulai sepi.

Tetapi memahami bukan berarti membenarkan.

“Kenapa tidak bilang kepadaku soal utang usaha?”

“Karena kamu sudah banyak membantu.”

“Jadi Ibu memilih meminjam dari suamiku secara diam-diam.”

“Ibu pikir nanti dikembalikan.”

“Lalu Ibu mulai cerita soal kesepian ke dia.”

Ibu mengangguk.

“Dan dia cerita soal pernikahanku.”

Ibu menangis lagi.

Aku tidak menghentikannya.

“Apakah Ibu pernah berpikir tentang aku saat hubungan itu mulai berubah?”

Pertanyaan itu membuatnya diam sangat lama.

Akhirnya dia berkata, “Pernah.”

“Lalu?”

“Ibu tetap melakukannya.”

Untuk pertama kali sejak dua hari terakhir, mataku panas.

Bukan karena jawabannya mengejutkan.

Justru karena akhirnya seseorang berhenti mencari kalimat yang lebih nyaman.

Aku menangis di depan Ibu.

Diam-diam.

Tidak berteriak.

Ibu bergerak hendak mendekat, tetapi aku mengangkat tangan.

“Jangan dulu.”

Dia berhenti.

Aku berkata, “Untuk sementara, aku akan tetap mengantar Ibu kontrol kalau perlu. Kalau Ibu tidak mau aku, cari orang lain. Tapi kita tidak akan kembali seperti dulu hanya karena Ibu hamil.”

Ibu mengangguk.

“Dan uang usaha yang dipinjam dari rekening kami harus dicatat jelas. Aku tidak mau ada lagi transfer tanpa aku tahu.”

“Ibu akan kembalikan.”

“Bukan hari ini. Aku tahu usaha Ibu tidak punya uang sebanyak itu sekarang. Buat catatan. Bayar bertahap. Aku cuma ingin semuanya jelas.”

Itu bukan balas dendam.

Justru aku sedang berusaha memisahkan dua masalah.

Ibu tetap memiliki kebutuhan medis.

Ibu juga memiliki utang.

Dan Ibu telah mengkhianatiku.

Tiga hal itu tidak harus dicampur menjadi satu supaya aku bisa memutuskan apa yang harus kulakukan.

Dengan Arman, keputusan itu lebih sulit.

Dia masih meminta satu kesempatan.

Dua minggu setelah hasil tes keluar, kami bertemu di sebuah kedai kopi dekat kantorku.

Sejak malam pertama, dia tinggal sementara di rumah kakaknya.

Aku membiarkannya mengambil pakaian ketika aku sedang bekerja. Kunci rumah masih dia miliki karena secara hukum rumah itu juga miliknya.

Tetapi kami tidak lagi tinggal bersama.

“Aku mau kita konseling,” katanya.

Aku menatapnya.

“Untuk apa?”

“Supaya kita tahu masih bisa diperbaiki atau tidak.”

“Aku sudah tahu apa yang rusak.”

“Aku tidak mau tiga tahun kita habis begitu saja.”

Aku meletakkan gelas.

“Tiga tahun itu tidak habis. Tiga tahun itu pernah terjadi. Tapi itu bukan alasan aku harus menghabiskan tahun keempat dengan pura-pura tidak tahu tujuh bulan terakhir.”

Arman menunduk.

“Aku akan tanggung jawab pada bayi.”

“Tentu.”

“Tapi aku tidak mau menikahi Ibu.”

Aku menatapnya tajam.

“Aku tidak pernah bertanya itu.”

“Aku cuma ingin kamu tahu.”

“Itu bukan kabar yang membuat keadaan lebih baik.”

Dia mengusap wajahnya.

“Aku masih mencintaimu.”

Kalimat itu dulunya akan berarti banyak bagiku.

Sekarang terdengar seperti sesuatu yang tidak memiliki hubungan otomatis dengan tindakan.

“Mungkin kamu memang masih punya perasaan,” kataku. “Tapi aku tidak bisa membangun rumah tangga dari perasaan saja setelah ini.”

Arman berkata dia siap memberikan akses penuh ke rekeningnya, menunjukkan ponselnya, berhenti menemui Ibu sendirian, mengikuti konseling, bahkan pindah kerja kalau itu diperlukan.

Aku mendengarkan.

Lalu aku bertanya, “Kalau Ibu tidak hamil, kapan kamu akan mengatakan semuanya?”

Dia tidak bisa menjawab.

Itu yang akhirnya menentukan keputusanku.

Bukan kehamilan.

Bukan hasil DNA.

Bahkan bukan semua detail hubungan mereka.

Yang menentukan adalah kenyataan bahwa keduanya telah memilih diam dan berniat terus diam selama aku tidak menemukan apa pun.

Aku menghubungi seorang advokat keluarga untuk memahami pilihan yang kumiliki.

Aku tidak datang meminta agar seseorang “menghancurkan” Arman.

Aku hanya membawa dokumen pernikahan, informasi KPR, rekening bersama, dan catatan keuangan kami.

Aku ingin tahu bagaimana memisahkan urusan keuangan tanpa mengambil hak siapa pun.

Setelah beberapa kali konsultasi, aku memutuskan mengajukan perceraian.

Arman tidak menerimanya dengan tenang pada awalnya.

Dia datang ke rumah dan meminta bicara.

“Aku sudah bilang aku mau memperbaiki semuanya.”

“Aku tahu.”

“Kenapa tidak kasih waktu?”

“Aku sudah memberi waktu tiga minggu untuk memikirkan keputusanku.”

“Tiga minggu untuk pernikahan tiga tahun?”

Aku memandangnya.

“Hubungan kalian tujuh bulan. Kalian juga punya waktu.”

Dia diam.

Aku tidak pernah merasa menang ketika mengucapkan kalimat itu.

Tidak ada kemenangan dalam situasi seperti ini.

Hanya keputusan yang terasa paling mungkin membuatku tetap bisa hidup dengan diriku sendiri.

Proses perceraian tidak selesai cepat.

KPR juga tidak tiba-tiba lenyap.

Kami harus membicarakan apakah rumah dijual, apakah salah satu mengambil alih kewajiban pembayaran, dan bagaimana pembagian aset dilakukan.

Beberapa hal kami selesaikan lewat pertemuan resmi dan tertulis karena percakapan pribadi terlalu mudah berubah menjadi permintaan maaf, rasa bersalah, atau pertengkaran.

Akhirnya kami sepakat rumah akan dijual setelah proses administrasinya memungkinkan.

Sementara itu aku tetap tinggal di sana dan menanggung bagian cicilan sesuai kesepakatan sementara.

Arman menanggung bagiannya.

Rekening bersama tidak lagi digunakan untuk pengeluaran baru selain kewajiban yang memang masih bersama.

Gajiku masuk ke rekeningku sendiri.

Gajinya ke rekeningnya.

Untuk pertama kali setelah menikah, struktur kehidupan kami terlihat seperti apa adanya.

Dua orang yang sedang memisahkan sesuatu yang dulu dibangun bersama.

Hubunganku dengan Ibu jauh lebih rumit.

Aku tidak memutuskan hubungan sepenuhnya.

Tetapi aku berhenti datang setiap Minggu.

Tidak ada lagi makan malam keluarga seperti sebelumnya.

Kalau Ibu kontrol kehamilan dan meminta aku menemani, terkadang aku datang. Kadang aku meminta tanteku yang mengantar.

Aku tidak memaksa diriku menjadi anak yang seolah-olah tidak terluka hanya karena Ibu sedang menghadapi kehamilan berisiko.

Arman mengambil tanggung jawab biaya pemeriksaan yang berkaitan dengan kehamilan dan bayi.

Aku tidak ikut membayar biaya itu dari uang pribadiku.

Aku juga tidak menghalanginya.

Itu tanggung jawabnya.

Utang katering dibayar Ibu sedikit demi sedikit. Tidak besar, kadang hanya Rp1 juta sebulan. Ada bulan ketika dia hanya mampu membayar Rp500 ribu.

Aku tidak mengejar.

Yang penting tidak lagi ada kepura-puraan.

Semua dicatat.

Empat bulan setelah semuanya terbongkar, aku menerima pesan dari Ibu.

“Boleh Ibu datang?”

Aku hampir menjawab tidak.

Namun akhirnya kubolehkan.

Perutnya sudah besar.

Dia duduk di ruang tengah dan melihat sekeliling rumah yang sebentar lagi mungkin akan dijual.

“Ibu tahu kamu akan pindah dari sini.”

“Iya.”

“Kamu sudah dapat tempat?”

“Aku sedang cari apartemen dekat kantor.”

Ibu mengangguk.

Lalu dia mengeluarkan sebuah amplop.

Isinya catatan pembayaran utang katering dan bukti transfer terakhir.

Aku meletakkannya di meja.

“Ibu sebenarnya datang bukan cuma untuk ini, kan?”

Dia menggeleng.

“Ibu mau bilang sesuatu sebelum bayi lahir.”

Aku menunggu.

“Ibu tidak akan meminta kamu menjadi kakak untuk anak ini.”

Kalimat itu aneh.

Secara biologis, bayi itu memang akan menjadi adik tiriku.

Sekaligus anak biologis mantan suamiku.

Tidak ada istilah keluarga yang bisa membuat situasi itu terasa normal.

“Ibu juga tidak akan meminta kamu menganggap semuanya selesai karena ada bayi,” lanjutnya. “Bayi ini tidak salah. Tapi kesalahan Ibu tetap kesalahan Ibu.”

Aku menatap Ibu.

Selama berbulan-bulan aku menunggu kalimat seperti itu tanpa sadar.

Bukan “Ibu kesepian”.

Bukan “Arman yang mulai”.

Bukan “semuanya terjadi begitu saja”.

Hanya pengakuan bahwa bayi yang tidak bersalah tidak boleh dijadikan alasan untuk menghapus apa yang orang dewasa lakukan.

“Aku belum bisa memaafkan,” kataku.

Ibu mengangguk.

“Ibu tahu.”

“Mungkin suatu hari bisa. Mungkin bentuknya tidak seperti dulu.”

“Ibu mengerti.”

Aku tidak memeluknya ketika dia pulang.

Tetapi untuk pertama kali, aku mengantarnya sampai pintu.

Itu saja yang mampu kulakukan saat itu.

Dua bulan kemudian bayi perempuan itu lahir lebih cepat dari perkiraan, tetapi kondisinya stabil setelah beberapa hari mendapat pemantauan.

Ibu menamainya Alya.

Aku tidak datang pada hari persalinan.

Aku datang hampir seminggu kemudian.

Bukan karena sudah berdamai.

Aku datang karena setelah berhari-hari memikirkan semuanya, aku sadar kemarahanku ditujukan kepada dua orang dewasa yang membuat pilihan.

Bukan kepada bayi.

Ibu sedang duduk di tempat tidur ketika aku masuk.

Arman ada di sana.

Kami saling memandang.

Dia berdiri.

“Aku bisa keluar.”

Aku mengangguk.

Dia keluar tanpa mencoba bicara denganku.

Ibu menyerahkan bayi itu kepadaku.

Aku sempat ragu.

Lalu aku menerimanya.

Wajahnya kecil. Matanya tertutup. Tangannya bergerak sedikit di dalam selimut.

Aku tidak merasakan keajaiban yang menghapus semua luka.

Tidak ada musik.

Tidak ada momen yang tiba-tiba membuatku memaafkan siapa pun.

Aku hanya melihat seorang bayi yang tidak pernah memilih bagaimana dia dilahirkan.

“Aku tidak tahu hubungan kita nanti seperti apa,” kataku kepada Ibu.

“Ibu juga tidak tahu.”

“Tapi jangan pernah ceritakan kepadanya bahwa keberadaannya yang merusak keluarga kita.”

Ibu langsung menangis.

“Tidak akan.”

“Yang merusak keluarga kita adalah keputusan orang dewasa.”

Ibu mengangguk.

Beberapa bulan berikutnya hidupku menjadi lebih sepi, tetapi juga lebih jelas.

Perceraianku dengan Arman selesai.

Rumah kami terjual setelah kewajiban KPR diselesaikan dan pembagian dilakukan sesuai kesepakatan yang dibantu melalui proses hukum.

Aku menyewa apartemen kecil, tidak jauh dari kantorku.

Tidak semewah rumah lama.

Dapur lebih sempit.

Tidak ada halaman belakang.

Tetapi semua kunci di sana hanya kubagikan kepada orang yang memang kupilih.

Arman tetap bertanggung jawab terhadap Alya.

Aku tidak bertanya apakah dia dan Ibu akhirnya akan hidup bersama.

Setahuku tidak.

Hubungan mereka sudah berakhir bahkan sebelum hasil kehamilan diketahui, dan setelah semuanya terbongkar, keduanya tidak mencoba mengubah pengkhianatan menjadi kisah cinta agar terlihat lebih mudah diterima.

Mungkin itu satu-satunya hal yang masih bisa kuhargai.

Mereka tidak memoles kesalahan menjadi sesuatu yang indah.

Hubunganku dengan Ibu perlahan berubah.

Kami tidak lagi bicara setiap hari.

Aku tidak lagi menceritakan semua hal kepadanya.

Kepercayaan yang dulu terasa otomatis sekarang memiliki batas.

Ada hari ketika aku bisa minum teh bersamanya selama satu jam.

Ada hari ketika melihat Arman datang menjemput Alya membuatku ingin segera pulang.

Ibu tidak memaksaku bertahan.

Dan aku tidak memaksa diriku sembuh mengikuti jadwal siapa pun.

Setahun setelah Senin siang di rumah sakit itu, aku sedang bersiap berangkat kerja ketika Ibu mengirim foto Alya yang sedang belajar berdiri sambil memegang sisi sofa.

Aku melihat foto itu beberapa detik.

Lalu membalas dengan satu kalimat.

“Hati-hati meja di sebelahnya, Bu. Sudutnya tajam.”

Tidak ada percakapan besar sesudahnya.

Aku memasukkan ponsel ke dalam tas, mengambil kunci apartemen dari atas meja, kemudian memutar kunci pintu dari luar.

Dulu aku mengira rasa aman berarti tidak perlu bertanya kepada orang yang kita cintai.

Sekarang aku tahu rasa aman juga berarti berani melihat kenyataan ketika jawaban yang kita dapat ternyata menghancurkan hal yang selama ini kita percaya.

Aku menyimpan kunci itu di sakuku dan berjalan menuju lift.

Pintu di belakangku terkunci dengan bunyi kecil yang tegas.

Menurutmu, apakah Ratih masih punya kewajiban memaafkan ibunya setelah pengkhianatan sebesar itu?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.