DOKUMEN TERAKHIR YANG MEMBUAT ARDI KEHILANGAN KATA-KATA

Avatar penulis
Cerita 01
5 menit baca 644 tayangan
DOKUMEN TERAKHIR YANG MEMBUAT ARDI KEHILANGAN KATA-KATA
Indeks

Pagi berikutnya, ketika langit bahkan belum sepenuhnya terang, beberapa mobil sudah berhenti di depan rumah besar itu.

Ardi hampir tidak tidur semalaman.

Surat kepemilikan rumah masih tergeletak di atas meja.

Dia sudah membacanya berulang kali.

Nama Maya masih tercantum di sana.

Tidak mungkin salah.

Tidak mungkin diubah.

Dan tidak ada seorang pun yang bisa dia salahkan.

Perempuan yang baru saja dia usir dari rumah beberapa jam lalu ternyata adalah pemilik sah rumah tersebut.

Ibu Ratna duduk membeku di sofa.

Sepanjang malam dia tidak mengatakan apa-apa.

Selvi juga sudah tidak terlihat setenang malam sebelumnya.

Gaun mahal yang dikenakannya masih sama, tetapi wajahnya kini pucat.

“Ardi…”

Selvi memanggil pelan.

Ardi tidak menjawab.

“Kita harus bagaimana?”

Ardi mengangkat kepala.

“Kamu bertanya kepadaku harus bagaimana?”

Suaranya serak.

“Memangnya kamu tidak tahu?”

Selvi terdiam.

Ardi berdiri dan mengambil berkas di atas meja.

“Tadi malam kamu bilang rumah ini akan menjadi rumahmu.”

“Sekarang bagaimana?”

Selvi menundukkan kepala.

“Aku tidak tahu.”

“Benar.”

Ardi tertawa hambar.

“Tidak ada yang tahu.”
DOKUMEN TERAKHIR YANG MEMBUAT ARDI KEHILANGAN KATA-KATA

Tepat saat itu, bel rumah berbunyi.

Ardi berjalan menuju pintu.

Maya berdiri di luar gerbang.

Dia tidak datang sendirian.

Di sampingnya ada seorang pengacara dan seorang petugas notaris.

Maya mengenakan kemeja sederhana, rambutnya diikat rapi.

Tidak memakai perhiasan.

Tidak berdandan berlebihan.

Namun sorot matanya begitu tenang hingga Ardi hampir tidak mengenalinya.

Ini bukan lagi perempuan yang tadi malam pergi sambil menarik koper.

Maya menatapnya.

“Selamat pagi.”

Ardi tidak tahu harus menjawab apa.

Akhirnya dia hanya berkata,

“Kamu benar-benar mau mengambil kembali rumah ini?”

Maya menatap rumah besar di belakang Ardi.

“Tidak.”

Ardi tertegun.

“Tidak?”

“Ini bukan lagi tempat yang ingin kutinggali.”

Jawaban itu justru membuat Ardi semakin bingung.

“Kalau begitu, kenapa kamu melakukan semua ini?”

Maya tidak langsung menjawab.

Dia menoleh kepada pengacaranya.

“Silakan jelaskan.”

Pengacara itu membuka berkas.

“Pak Ardi, rumah ini telah dialihkan secara sah sebelumnya. Tanda tangan Ibu Maya sudah menyelesaikan seluruh proses sesuai prosedur.”

Ardi mengatupkan rahang.

“Aku tahu.”

“Tetapi ada satu hal yang belum Anda ketahui.”

Pengacara itu mengambil satu berkas lain.

“Uang yang dulu diberikan ayah Ibu Maya untuk membantu keluarga Anda bukanlah hadiah.”

Ibu Ratna langsung berdiri.

“Apa maksud Anda?”

Pengacara itu menjawab dengan tenang,

“Uang tersebut digunakan untuk menyelesaikan sebagian kewajiban keuangan keluarga Anda. Sebagai bagian dari penyelesaian itu, hak kepemilikan rumah ini dijamin melalui sebuah perjanjian tersendiri.”

Wajah Ibu Ratna langsung pucat.

“Tidak mungkin!”

Maya menatapnya.

“Memang benar.”

“Sejak kapan kamu tahu?”

“Sudah lama.”

“Kalau begitu, kenapa kamu tidak pernah mengatakannya?”

Maya terdiam sejenak.

“Karena dulu saya berpikir saya tidak akan pernah membutuhkan dokumen itu.”

Ruangan mendadak sunyi.

Ardi menatapnya.

“Lalu bagaimana dengan surat yang kamu tanda tangani tadi malam?”

Maya mengangguk pelan.

“Itu adalah dokumen yang menyatakan berakhirnya seluruh tanggung jawab keuangan antara kedua pihak yang berkaitan dengan rumah ini.”

Ardi menatapnya tajam.

“Maksudmu apa?”

“Maksud saya…”

Maya menarik napas panjang.

“Saya tidak ingin memperebutkan rumah ini dengan Anda.”

Dia mengeluarkan satu dokumen lain.

“Setelah seluruh proses selesai, rumah ini akan dijual.”

Ardi tertegun.

“Dijual?”

“Ya.”

“Kamu mau mengusir seluruh keluargaku dari sini?”

Maya menatapnya.

“Tidak.”

Suaranya sangat lembut.

“Andalah yang mengusir saya dari sini terlebih dahulu.”

Tidak seorang pun mampu berkata-kata.

Maya kemudian menoleh kepada Ibu Ratna.

“Saya akan memberi keluarga Ibu waktu untuk mencari tempat tinggal baru. Saya tidak ingin siapa pun diusir ke jalan seperti yang saya alami tadi malam.”

Ibu Ratna menatapnya.

Untuk pertama kalinya, wanita itu tidak menemukan kata-kata untuk memarahinya.

Maya berbalik hendak pergi.

Namun Ardi tiba-tiba bertanya,

“Bagaimana dengan hal terakhir itu?”

Maya berhenti.

“Pengacara mengatakan masih ada satu dokumen terakhir.”

“Aku ingin tahu.”

Maya menatapnya.

“Kamu benar-benar ingin tahu?”

“Iya.”

Maya mengangguk.

Pengacara itu mengeluarkan sebuah amplop cokelat.

“Ini adalah surat wasiat dan dokumen pengelolaan aset yang telah dibuat ayah Ibu Maya sebelumnya.”

Ardi mengerutkan kening.

“Apa hubungannya denganku?”

“Ada.”

Pengacara itu membuka dokumen tersebut.

“Ayah Ibu Maya mengetahui bahwa kondisi kesehatannya tidak terlalu baik. Karena itu, beliau sudah menyiapkan perlindungan terhadap aset putrinya.”

Ardi menatap Maya.

“Ayahmu…”

Maya menundukkan mata.

“Iya.”

“Dia tahu tentang pernikahan kita?”

“Dia tahu.”

“Dia tahu aku berselingkuh?”

Maya terdiam.

Tenggorokan Ardi terasa kering.

“Dia tahu semuanya?”

“Tidak semuanya.”

Maya menatapnya lurus.

“Tapi beliau tahu satu hal.”

“Apa?”

“Bahwa suatu hari nanti, mungkin saya akan membutuhkan tempat untuk pulang.”

Kalimat itu membuat seluruh ruangan kembali sunyi.

Maya berbalik.

Namun baru beberapa langkah menuruni tangga, ponselnya bergetar.

Dia melihat layar.

Rumah sakit.

Wajah Maya langsung berubah.

“Halo?”

Suara dari seberang berbicara dengan cepat.

Maya berdiri membeku.

Ponsel di tangannya hampir terlepas.

Ardi melihat perubahan wajahnya.

“Apa yang terjadi dengan ayahmu?”

Maya tidak menjawab.

Dia hanya berkata pelan,

“Dokter bilang Ayah ingin bertemu denganku.”

Lalu dia berbalik dan berlari menuju mobil.

Ardi berdiri di depan gerbang.

Untuk pertama kalinya, dia menyadari…

mungkin yang akan hilang bukanlah sebuah rumah.

Melainkan seorang perempuan yang pernah benar-benar mencintainya.

Dan ada hal-hal yang ketika sudah hilang…

tidak akan pernah bisa dibeli kembali, bahkan dengan sebuah rumah sekalipun.