DOKUMEN YANG MEMBUAT SAYA SADAR, SELAMA INI SAYA BUKAN HANYA DIRENDAHKAN… SAYA JUGA SEDANG DIBOHONGI

Avatar penulis
Cerita 01
5 menit baca 534 tayangan
DOKUMEN YANG MEMBUAT SAYA SADAR, SELAMA INI SAYA BUKAN HANYA DIRENDAHKAN… SAYA JUGA SEDANG DIBOHONGI
Indeks

Saya menatap dokumen itu cukup lama.

Di halaman terakhir terdapat tanda tangan Kak Sari, suaminya, dan Raka.

Nama Raka membuat dada saya terasa sesak.

Saya segera menelepon direktur perusahaan.

“Pak, dokumen ini maksudnya apa?”

Suara beliau terdengar serius.

“Kami sedang melakukan audit setelah akuisisi. Ada beberapa transaksi yang tidak sesuai dengan laporan resmi.”

“Transaksi apa?”

“Dana perusahaan dialihkan ke beberapa rekening pribadi dan kemudian digunakan untuk membayar utang serta cicilan aset.”

Saya menggenggam ponsel lebih erat.

“Apakah jumlahnya besar?”

“Cukup besar.”

Beliau berhenti sebentar.

“Dan ada beberapa dokumen persetujuan yang menggunakan tanda tangan suami Ibu.”

Saya menutup mata.

Untuk beberapa detik, saya tidak mampu berkata apa-apa.

Raka bukan orang yang sempurna.

Tetapi selama empat tahun menikah, saya tidak pernah mengenalnya sebagai orang yang tega mencuri uang perusahaan.

Saya bertanya,

“Apakah tanda tangan itu sudah dipastikan asli?”

“Belum. Karena itu kami meminta Ibu datang.”

Saya langsung menuju kantor.

Sepanjang perjalanan, pikiran saya berputar.

Mengapa Raka menandatangani dokumen itu?

Mengapa keluarga mereka membutuhkan uang sebesar itu?

Dan mengapa semuanya terjadi diam-diam?
DOKUMEN YANG MEMBUAT SAYA SADAR, SELAMA INI SAYA BUKAN HANYA DIRENDAHKAN… SAYA JUGA SEDANG DIBOHONGI

Sesampainya di kantor, saya melihat beberapa berkas disusun di atas meja.

Ada transaksi yang dilakukan dua tahun lalu.

Kemudian satu tahun lalu.

Lalu beberapa bulan sebelum perusahaan tersebut diakuisisi.

Polanya semakin jelas.

Dana keluar dari perusahaan.

Sebagian masuk ke rekening yang berhubungan dengan perusahaan keluarga Kak Sari.

Sebagian lagi digunakan untuk membayar utang.

Saya tiba-tiba teringat sesuatu.

Beberapa bulan lalu, Kak Sari pernah mengatakan dengan bangga,

“Suamiku sedang memperluas pabrik. Tahun depan keluarga kami pasti jauh lebih maju.”

Saat itu saya hanya tersenyum.

Ternyata di balik semua kebanggaan itu ada lubang keuangan yang semakin besar.

Ponsel saya kembali berdering.

Raka.

Saya menatap nama itu cukup lama sebelum mengangkatnya.

“Dina…”

“Iya.”

“Kamu sudah melihat dokumennya?”

“Sudah.”

Dia menarik napas.

“Aku bisa menjelaskan.”

“Jelaskan.”

“Bukan seperti yang kamu pikirkan.”

Saya tertawa kecil.

“Kalimat itu biasanya keluar ketika sesuatu memang persis seperti yang dipikirkan orang.”

“Dina, dengarkan aku.”

“Aku mendengarkan.”

Raka diam.

Kemudian berkata,

“Dua tahun lalu, perusahaan kakakku hampir bangkrut.”

Saya tidak menyela.

“Ayah jatuh sakit. Pabrik mengalami masalah produksi. Ada pinjaman yang jatuh tempo.”

“Kalau kami tidak membayar, pabrik bisa disita.”

Saya bertanya,

“Lalu?”

“Kak Sari memohon kepadaku untuk membantu.”

“Dengan uang perusahaan?”

“Awalnya bukan.”

Raka menarik napas panjang.

“Aku menggunakan tabunganku sendiri.”

“Tapi tidak cukup.”

“Kemudian mereka mengatakan akan mengembalikannya setelah pabrik mendapatkan kontrak baru.”

“Dan?”

“Kontrak itu gagal.”

Saya memejamkan mata.

“Lalu kamu mengambil uang perusahaan.”

“Tidak sesederhana itu.”

“Bagi saya cukup sederhana.”

Saya menahan suara agar tetap tenang.

“Kamu menggunakan uang yang bukan milikmu untuk menyelamatkan bisnis keluargamu.”

Raka tidak menjawab.

Saya bertanya,

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

“Saya takut.”

“Takut apa?”

“Takut kamu kecewa.”

Kalimat itu membuat saya diam.

Saya menatap dokumen di depan saya.

Selama ini saya selalu mengira orang berbohong karena ingin mendapatkan sesuatu.

Ternyata kadang seseorang berbohong karena takut kehilangan seseorang.

Tetapi ketakutan tidak membuat kebohongan menjadi benar.

Saya berkata pelan,

“Raka, saya bisa mengerti kenapa kamu ingin membantu keluarga.”

“Tapi saya tidak bisa menerima kamu menyeret saya ke dalam masalah tanpa sepengetahuan saya.”

“Aku tahu.”

“Tidak. Kamu belum tahu.”

Saya menarik napas.

“Yang paling menyakitkan bukan uangnya.”

“Yang paling menyakitkan adalah selama ini kamu membiarkan keluargamu menganggap saya tidak penting.”

“Ketika mereka merendahkan saya, kamu meminta saya diam.”

“Ketika Kak Sari mempermalukan saya, kamu meminta saya memahami dia.”

“Dan sekarang saya baru tahu bahwa ketika keluarga itu membutuhkan uang, suami saya ternyata juga ikut membantu mereka.”

Raka terdiam.

Lalu suaranya terdengar pecah.

“Aku minta maaf.”

Saya menutup mata.

Saya ingin sekali mengatakan semuanya selesai.

Tetapi belum.

Karena masih ada satu pertanyaan.

“Raka.”

“Iya?”

“Siapa yang menandatangani dokumen terakhir?”

Dia diam terlalu lama.

“Jawab saya.”

“Aku.”

Saya menunduk.

“Baik.”

“Dina, aku akan bertanggung jawab.”

“Saya harap begitu.”

“Dan tentang uang itu…”

“Kamu tidak perlu menjelaskannya kepadaku sekarang.”

“Jelaskan kepada auditor.”

Telepon terputus.

Malam itu saya pulang lebih awal.

Saya membuka pintu apartemen dan menyalakan lampu.

Tempat itu terasa sangat sunyi.

Untuk pertama kalinya saya bertanya pada diri sendiri apakah pernikahan saya masih bisa diselamatkan.

Bukan karena masalah uang.

Tetapi karena kepercayaan.

Tiga hari kemudian, Raka datang.

Wajahnya terlihat jauh lebih tua.

Dia tidak membawa bunga.

Tidak membawa hadiah.

Tidak membawa alasan.

Dia hanya membawa satu map.

“Saya datang untuk mengakui semuanya.”

Kami duduk berhadapan.

Raka membuka map tersebut.

Ada bukti transfer.

Ada kontrak pinjaman.

Ada surat pengakuan utang dari kakaknya.

Dan ada satu dokumen lain.

Raka berkata,

“Aku tidak mengambil uang itu untuk diriku sendiri.”

“Aku tahu.”

“Tapi tetap saja aku salah.”

Saya menatapnya.

Untuk pertama kalinya sejak semua masalah ini dimulai, saya melihat seorang laki-laki yang tidak sedang mencari pembenaran.

Dia sedang menghadapi kesalahannya sendiri.

“Saya sudah bicara dengan pengacara,” katanya.

“Saya akan mengembalikan seluruh dana yang saya gunakan.”

“Kalau perusahaan meminta saya mundur dari posisi saya, saya akan mundur.”

“Kalau harus menjual aset pribadi, saya akan lakukan.”

Saya bertanya,

“Bagaimana dengan kakakmu?”

Raka menunduk.

“Dia ingin saya menyelamatkannya lagi.”

Saya diam.

“Dan kali ini,” katanya pelan, “saya menolak.”

Kalimat itu membuat saya terdiam cukup lama.

Karena mungkin di situlah perubahan sebenarnya dimulai.

Bukan ketika seseorang menang.

Tetapi ketika seseorang akhirnya berani berkata:

cukup.

Namun malam itu, sebelum kami sempat membicarakan masa depan, ponsel Raka berdering.

Wajahnya langsung berubah.

Dia melihat layar.

Kemudian berdiri.

“Ada apa?”

Raka menatap saya.

“Kak Sari…”

“Dia melakukan sesuatu.”

“Apa?”

Raka tidak menjawab.

Hanya menyerahkan ponselnya kepada saya.

Di layar terdapat pesan dari ayah mereka.

Hanya satu kalimat.

“Datang ke rumah sekarang. Kakakmu bilang kalau dia tidak bisa menyelesaikan masalah ini, semuanya akan hancur.”

Saya menatap Raka.

Untuk pertama kalinya, saya sadar…

masalah keluarga ini belum selesai.

Bahkan mungkin baru saja dimulai.