BAGIAN 2 — Flashdisk Itu Membuka Rahasia Dua Belas Tahun, Namun Pengkhianatan Terbesar Justru Datang dari Orang yang Selama Ini Paling Kupercaya
—Mira, seharusnya kamu tidak pernah melihat ruangan ini.
Suara Arman terdengar begitu tenang hingga justru membuat bulu kudukku berdiri.
Aku memeluk Nadia dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam flashdisk itu erat-erat.
—Apa maksud “Subjek Nomor 2”?
Arman tidak menjawab.
Dia melangkah mendekat.
—Berikan flashdisk itu. Setelah itu kita bisa bicara baik-baik.
Aku tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya selama sebelas tahun, suara lembutnya tidak lagi mampu menenangkanku.
—Bicara baik-baik? Setelah aku menemukan puluhan foto diriku yang diambil diam-diam bahkan sebelum kita saling mengenal?
Wajah Arman menegang.
Dua pria yang datang bersamanya masih berdiri di belakang. Namun sekarang aku menyadari sesuatu. Mereka tidak terlihat seperti preman.
Salah satunya membawa tas peralatan.
Yang lain mengenakan seragam perusahaan keamanan.
Aku semakin bingung.
Ibu mertuaku tiba-tiba berkata:
—Mira, jangan berikan flashdisk itu kepada siapa pun.
Arman menoleh tajam.
—Ibu tidak tahu apa yang sedang Ibu lakukan.
—Justru Ibu terlalu tahu.
Perempuan tua itu berdiri di antara kami.
—Dua belas tahun Ibu diam karena takut. Kali ini tidak lagi.
Wajah Arman berubah.
—Minggir.
—Tidak.
Untuk sesaat, ibu dan anak itu saling menatap.
Kemudian ibu mertuaku berteriak:
—Mira, bawa Nadia keluar lewat dapur belakang!
Aku tidak berpikir lagi.
Aku menggendong Nadia dan berlari.
Arman berteriak memanggilku.
Aku tidak menoleh.
Aku melewati lorong sempit, menaiki tangga pelayanan, lalu keluar melalui pintu belakang penginapan.
Aku baru berhenti setelah mencapai sebuah minimarket yang ramai beberapa ratus meter dari sana.
Tanganku gemetar ketika menelepon polisi.
Setelah itu aku menghubungi satu-satunya orang yang masih kupercaya, Rina, teman lamaku sebelum menikah.
Empat puluh menit kemudian, aku dan Nadia sudah berada di rumah Rina.
Aku bahkan belum mengganti pakaian ketika langsung memasukkan flashdisk itu ke laptopnya.
Di dalamnya hanya ada tiga folder.
Folder pertama bernama “MIRA”.
Folder kedua “RATIH”.
Dan folder terakhir:
“JIKA AKU TIDAK KEMBALI”.
Aku membuka folder kedua terlebih dahulu.
Puluhan foto perempuan yang kulihat di kamar 307 muncul di layar.
Namanya Ratih.
Kemudian aku menemukan sebuah rekaman video.
Tanggalnya dua belas tahun lalu.
Seorang perempuan muncul di layar.
Wajahnya pucat, tetapi sorot matanya tegas.
“Aku Ratih. Jika rekaman ini ditemukan, berarti aku gagal membawa bukti ini sendiri.”
Aku menahan napas.
Ratih mulai bercerita.
Bertahun-tahun lalu, ayah Arman mengelola penginapan itu bersama beberapa rekan bisnis. Namun sebagian kamar digunakan untuk menyimpan barang ilegal dan melakukan transaksi tanpa sepengetahuan tamu maupun sebagian besar pegawai.
Ratih mengetahuinya secara tidak sengaja.
Saat itu dia adalah istri Arman.
Ratih ingin melapor.
Namun ayah Arman mengetahui rencananya.
Yang membuatku terkejut, Ratih mengatakan Arman justru membantunya mengumpulkan bukti.
Aku menoleh kepada Rina.
—Arman membantunya?
Video berlanjut.
“Aku tidak tahu apakah aku masih bisa mempercayai suamiku. Arman mengatakan dia ingin menghentikan ayahnya, tetapi setiap kali kami hampir menyerahkan bukti, dia berubah pikiran.”
Kemudian Ratih mengatakan sesuatu yang membuat tanganku dingin.
“Aku sedang hamil.”
Aku teringat foto bayi laki-laki.
Ratih melanjutkan:
“Ayah Arman ingin cucunya tetap berada dalam keluarga. Aku takut sesuatu terjadi kepadaku. Karena itu aku menyembunyikan salinan bukti di tempat yang hanya diketahui olehku.”
Video berhenti.
Aku segera membuka folder “MIRA”.
Di dalamnya terdapat foto-fotoku.
Tetapi ada juga dokumen suara.
Suara Arman terdengar dalam rekaman pertama.
“Aku menemukan perempuan yang mirip Ratih.”
Kemudian suara ayahnya:
“Mirip saja tidak cukup.”
“Golongan darahnya sama.”
Aku membeku.
Rekaman berikutnya menjelaskan semuanya.
Setelah Ratih menghilang, bayi laki-lakinya mengalami penyakit bawaan yang membutuhkan donor dengan kecocokan tertentu. Keluarga itu mencari kerabat biologis, tetapi gagal.
Ayah Arman kemudian memerintahkan orang-orangnya mencari perempuan dengan profil kesehatan tertentu.
Aku adalah salah satunya.
“Subjek Nomor 2” bukan berarti aku dipilih karena wajahku.
Aku dipilih karena data kesehatanku.
Aku menutup mulut.
Selama sebelas tahun aku mengira pertemuan kami adalah takdir.
Ternyata sebelum melihat wajahku dari dekat, mereka sudah mengetahui golongan darahku.
Aku membuka rekaman terakhir.
Kali ini suara Arman terdengar marah.
“Aku tidak akan melakukan itu.”
Ayahnya menjawab:
“Kamu sudah menikahinya. Tinggal punya anak.”
“Aku menikahi Mira karena aku mencintainya.”
Aku terdiam.
Suara ayahnya tertawa.
“Jangan membuatku tertawa. Kalau bukan karena aku menunjukkan perempuan itu kepadamu, kamu bahkan tidak akan mengenalnya.”
Kemudian terdengar suara benturan.
Arman berkata:
“Aku memang mendekatinya karena rencana Ayah. Tapi setelah mengenalnya, semuanya berubah. Mira bukan pengganti Ratih.”
Aku tidak tahu harus merasa lega atau semakin hancur.
Karena satu hal tetap tidak berubah.
Pernikahanku dimulai dari sebuah kebohongan.
Tiba-tiba Nadia menunjuk layar.
—Ibu, ada satu video lagi.
File itu bernama:
“ANAKKU”.
Aku membukanya.
Ratih muncul sambil menggendong bayi.
“Jika kamu menemukan ini, tolong cari anakku. Namanya Fajar.”
Kemudian dia menyebut sebuah tempat penitipan anak di kota lain.
Aku langsung teringat sesuatu.
Arman sering pergi ke kota lain dua atau tiga kali dalam setahun.
Dia selalu mengatakan itu urusan pemasok.
Apakah selama ini dia menemui Fajar?
Ponselku tiba-tiba berdering.
Arman.
Aku tidak menjawab.
Dia menelepon lagi.
Lalu sebuah pesan masuk.
“Mira, polisi sudah berada di penginapan. Aku menyerahkan diri untuk dimintai keterangan. Dua pria yang bersamaku adalah teknisi keamanan yang kupanggil karena sistem kamera diretas pagi ini. Aku tidak akan mengejarmu. Jaga Nadia. Kalau kamu ingin mengetahui seluruh kebenaran, tanyakan kepada Ibu tentang apa yang terjadi pada Ratih.”
Aku membaca pesan itu berulang kali.
Lima menit kemudian nomor lain menelepon.
Ibu mertuaku.
Kali ini aku mengangkatnya.
—Mira…
Suaranya lemah.
—Apa yang terjadi pada Ratih?
Dia menangis.
—Ratih tidak dibunuh.
Aku berdiri.
—Apa?
—Dia melarikan diri.
Aku semakin bingung.
—Lalu mengapa semua orang mengatakan dia menghilang?
—Karena kami membuat semua orang percaya begitu.
Ternyata setelah Ratih menemukan bisnis ilegal ayah mertuaku, Arman membantunya melarikan diri bersama bayinya.
Namun dalam perjalanan, mereka diketahui.
Untuk melindungi Ratih, bayi mereka dititipkan sementara kepada seseorang yang dipercaya.
Ratih berhasil pergi ke luar negeri.
Tetapi Fajar tertinggal.
Arman berjanji akan menyusul membawa anak mereka.
Dia gagal.
Ayahnya menemukan Fajar terlebih dahulu dan menggunakan anak itu untuk memaksa Arman tetap diam.
—Lalu aku?
Pertanyaan itu akhirnya keluar.
Ibu mertuaku terdiam.
—Awalnya… ayah Arman memang memilihmu.
Dadaku sesak.
—Dan Arman setuju?
—Ya.
Satu kata itu menghancurkan sisa harapanku.
Namun ibu mertuaku segera melanjutkan:
—Tapi Arman tidak pernah menggunakanmu untuk menyelamatkan Fajar. Setelah mengenalmu beberapa minggu, dia membatalkan rencana ayahnya. Itulah sebabnya mereka bertengkar bertahun-tahun.
Aku teringat semua pemeriksaan kesehatan selama kehamilanku.
—Lalu anak-anakku?
—Tidak pernah ada tindakan apa pun terhadap mereka.
Aku memejamkan mata.
—Kalau begitu mengapa dia tidak pernah mengatakan kebenaran?
—Karena dia pengecut.
Suara ibu mertuaku bergetar.
—Dan Ibu juga pengecut.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu.
Rina melihat melalui jendela.
—Polisi.
Aku membuka pintu.
Dua petugas berdiri di sana.
Salah satunya bertanya:
—Apakah Anda Mira?
—Ya.
—Kami perlu membawa Anda ke kantor untuk memberikan keterangan. Dan ada satu hal lagi.
Dia berhenti sebentar.
—Kami menemukan seseorang di penginapan.
Jantungku berdetak keras.
—Siapa?
Petugas itu menatapku.
—Seorang perempuan yang datang sekitar satu jam lalu setelah menerima pesan otomatis dari perangkat di kamar 307.
Aku menggenggam tangan Nadia.
—Siapa namanya?
Petugas itu menjawab:
—Ratih.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
