IBU MERTUA DATANG MEMBAWA SEPOTONG KERTAS. SAAT AKU MEMBACANYA, TANGANKU GEMETAR—TERNYATA UANG RATUSAN JUTA ITU BUKAN SEPERTI YANG SELAMA INI KUPIKIRKAN

Avatar penulis
Cerita 01
5 menit baca 519 tayangan
IBU MERTUA DATANG MEMBAWA SEPOTONG KERTAS. SAAT AKU MEMBACANYA, TANGANKU GEMETAR—TERNYATA UANG RATUSAN JUTA ITU BUKAN SEPERTI YANG SELAMA INI KUPIKIRKAN
Indeks

Malam itu aku hampir tidak bisa tidur.

Pesan terakhir dari Ibu terus terbayang di kepalaku.

“Besok Ibu akan membawa suratnya. Setelah kamu membacanya, mungkin kamu akan menyesal sudah memutuskan hubungan dengan Ibu malam ini.”

Aku tidak tahu apa maksudnya.

Tetapi satu hal jelas.

Ada sesuatu yang selama ini tidak kami ketahui.

Pagi-pagi sekali, ketika matahari baru muncul dari balik atap rumah tetangga, terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah.

Suamiku, Arman, langsung keluar kamar.

Beberapa detik kemudian dia kembali dengan wajah tegang.

“Ibu datang.”

Aku meletakkan cangkir di meja.

Di belakang Arman, Ibu berdiri dengan wajah jauh lebih tua daripada yang kuingat.

Tidak ada kemarahan.

Tidak ada suara tinggi.

Tangannya bahkan sedikit gemetar ketika menggenggam sebuah map cokelat tipis.

“Ibu mau bicara,” katanya.

Aku mempersilakan beliau masuk.

Raka yang sedang sarapan langsung berlari menghampiri neneknya.

“Nenek!”

Untuk pertama kalinya pagi itu, wajah Ibu berubah.

Beliau memeluk cucunya erat.

“Raka sudah besar, ya.”
IBU MERTUA DATANG MEMBAWA SEPOTONG KERTAS. SAAT AKU MEMBACANYA, TANGANKU GEMETAR—TERNYATA UANG RATUSAN JUTA ITU BUKAN SEPERTI YANG SELAMA INI KUPIKIRKAN

Aku melihat pemandangan itu dalam diam.

Entah mengapa dadaku terasa sesak.

Bagaimanapun juga, perempuan di depanku adalah ibu dari suamiku.

Dan bagi anakku, dia tetap nenek.

Setelah Raka masuk ke kamar untuk mengambil mainan, Ibu duduk di ruang tamu.

Beliau meletakkan map cokelat itu di atas meja.

“Baca.”

Arman mengambilnya.

Tangannya berhenti ketika melihat isi dokumen tersebut.

“Apa ini, Bu?”

“Baca dulu.”

Arman membuka lembar pertama.

Wajahnya perlahan berubah.

Aku ikut membaca dari samping.

Itu bukan surat hibah.

Bukan bukti transfer.

Bukan pula surat pinjaman.

Itu adalah dokumen kepemilikan sebuah deposito dan rekening simpanan.

Atas nama Ibu.

Jumlahnya memang sekitar dua ratus juta rupiah.

Tetapi ada satu catatan yang membuatku membeku.

Sebagian besar uang itu berasal dari hasil penjualan sebuah rumah kecil milik almarhum ayah mertua.

Aku menatap Ibu.

“Kenapa Ibu tidak pernah cerita?”

Ibu tersenyum pahit.

“Karena Ibu memang tidak ingin kalian tahu.”

Aku terdiam.

“Lalu kenapa uang itu diberikan kepada Kakak?”

Ibu menarik napas panjang.

“Karena Ibu sengaja memberikannya.”

Aku mengira jawabannya akan membuatku marah.

Tetapi ternyata tidak.

Justru aku semakin bingung.

“Kenapa?”

Ibu menatapku lama.

“Karena Ibu ingin melihat sesuatu.”

Arman mengangkat kepala.

“Apa?”

“Siapa yang akan tetap menganggap Ibu sebagai ibu setelah uang Ibu habis.”

Ruang tamu mendadak sunyi.

Aku merasa tenggorokanku tercekat.

Ibu melanjutkan dengan suara pelan.

“Selama bertahun-tahun, Ibu selalu takut. Takut kalau suatu hari Ibu tidak punya uang, anak-anak akan menjauh.”

Aku menunduk.

“Ibu punya dua anak laki-laki. Ibu tahu kalian berdua sama-sama punya keluarga.”

“Karena itu Ibu ingin memastikan.”

Arman terlihat terluka.

“Jadi Ibu sengaja memberikan uang itu kepada Kakak untuk menguji kami?”

Ibu menggeleng.

“Bukan untuk menguji kalian.”

“Lalu?”

“Ibu memberikan uang itu karena kakakmu memang sedang terlilit utang usaha.”

Aku terdiam.

Ternyata bisnis yang selama ini terlihat begitu sukses dari media sosial sebenarnya tidak seindah yang kami kira.

Ibu mengatakan kakak ipar memiliki pinjaman cukup besar kepada beberapa pihak.

Usahanya hampir bangkrut.

Kalau tidak dibantu, rumah mereka mungkin akan disita.

Tetapi ada sesuatu yang lebih mengejutkan.

“Ibu tidak memberikan uang itu cuma-cuma,” katanya.

“Uang itu pinjaman.”

Aku menatap dokumen di tanganku.

Di halaman terakhir terdapat surat pernyataan yang ditandatangani kakak ipar.

Mereka berjanji mengembalikan uang tersebut secara bertahap.

Aku menatap Arman.

Wajahnya pucat.

“Jadi uang itu belum benar-benar menjadi milik mereka?”

“Belum.”

“Lalu kenapa mereka membeli kendaraan baru?”

Ibu menunduk.

“Karena mereka memakai sebagian uang itu untuk menutup utang lama dan sebagian untuk membeli kendaraan yang akan digunakan untuk usaha.”

Aku merasa kepalaku berputar.

Tiba-tiba semua foto yang selama ini membuat kami marah terasa berbeda.

Namun masih ada satu hal yang tidak bisa kupahami.

“Kalau begitu, kenapa Ibu meminta kami membayar makan malam enam juta lebih?”

Ibu diam cukup lama.

Kemudian beliau menatapku.

“Karena Ibu salah.”

Aku tidak menyangka jawaban itu.

“Salah?”

“Iya.”

Air mata perlahan menggenang di mata Ibu.

“Ibu terbiasa menganggap Arman sebagai anak yang selalu bisa diandalkan.”

“Kalau ada apa-apa, Ibu tinggal menelepon kalian.”

“Lama-lama Ibu lupa bahwa kalian juga punya kehidupan sendiri.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Ibu minta uang makan malam itu bukan karena kalian harus membayar.”

“Lalu?”

“Karena Ibu masih punya kebiasaan lama.”

Beliau tersenyum sedih.

“Selama ini Ibu merasa kalau kalian mampu, berarti kalian tidak keberatan.”

Kalimat sederhana itu justru membuatku sakit hati.

Karena ternyata tidak ada orang yang sepenuhnya jahat dalam cerita ini.

Ada seorang ibu yang terlalu takut kehilangan anak-anaknya.

Ada seorang anak yang terlalu lama mencari pengakuan.

Dan ada seorang menantu yang terlalu lama menahan kecewa sampai akhirnya menganggap semua kebaikan sebagai kewajiban.

Aku menarik napas.

“Bu…”

Ibu mengangkat wajah.

“Ada satu hal lagi.”

Beliau mengeluarkan amplop putih dari dalam tas.

“Ini untuk kalian.”

Arman membukanya.

Isinya adalah sertifikat deposito baru.

Jumlahnya jauh lebih besar daripada yang kami bayangkan.

Aku menatap angka di sana.

“Bu, ini…”

“Ibu masih punya tabungan.”

Aku menggeleng cepat.

“Kami tidak bisa menerima.”

Ibu tersenyum.

“Bukan untuk diberikan kepada kalian.”

“Lalu untuk apa?”

“Ibu ingin memasukkannya ke rekening pendidikan Raka.”

Aku langsung terdiam.

“Bukan karena Raka cucu kesayangan Ibu.”

“Karena Ibu ingin memastikan satu hal.”

Ibu menggenggam tangan cucunya yang baru keluar dari kamar.

“Anak-anak jangan sampai menjadi korban kesalahan orang tua.”

Aku merasakan air mata jatuh tanpa kusadari.

Namun sebelum kami sempat bicara lebih jauh, suara kendaraan berhenti di depan rumah.

Arman melihat keluar jendela.

Kakaknya dan istrinya datang.

Wajah Ibu langsung berubah tegang.

Kakak ipar masuk sambil membawa sebuah map.

Dia menatap kami satu per satu.

“Bu, kita perlu bicara.”

Lalu matanya berhenti pada dokumen di meja.

Wajahnya mendadak pucat.

“Kenapa surat itu ada di sini?”

Ibu berdiri.

“Karena waktunya sudah tiba.”

“Apa maksud Ibu?”

Ibu menjawab dengan suara tenang.

“Sudah waktunya semua orang berhenti berpura-pura.”

Kakak ipar menatap suaminya.

Kemudian menatapku.

Dan untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan di matanya.

Karena ternyata bukan hanya kami yang tidak mengetahui seluruh kebenaran.

Ada sesuatu yang bahkan selama ini disembunyikan dari Ibu sendiri.