IBU MERTUAKU MENDORONGKU DARI TANGGA DEMI SERTIFIKAT RUMAH DANAU SENILAI RP80 MILIAR. SUAMIKU MELANGKAHI TUBUHKU YANG TERLUKA DAN BERKATA, “SEHARUSNYA KAMU SERAHKAN SAJA KEPADA MAMA.”

Avatar penulis
Cerita 04
15 menit baca 252 tayangan
IBU MERTUAKU MENDORONGKU DARI TANGGA DEMI SERTIFIKAT RUMAH DANAU SENILAI RP80 MILIAR. SUAMIKU MELANGKAHI TUBUHKU YANG TERLUKA DAN BERKATA, “SEHARUSNYA KAMU SERAHKAN SAJA KEPADA MAMA.”
Indeks

IBU MERTUAKU MENDORONGKU DARI TANGGA DEMI SERTIFIKAT RUMAH DANAU SENILAI RP80 MILIAR. SUAMIKU MELANGKAHI TUBUHKU YANG TERLUKA DAN BERKATA, “SEHARUSNYA KAMU SERAHKAN SAJA KEPADA MAMA.”

Saat aku masih terbaring dengan kaki digips, dia mengajukan gugatan cerai dan menuntut rumah warisan itu.

Dua minggu kemudian, dia dan ibunya membuka sampanye, yakin mereka sudah menang.

Mereka tidak tahu mengapa aku justru dengan sukarela menyerahkan rumah itu kepada mereka…

Dan mereka sama sekali tidak tahu apa yang disembunyikan kakekku di sana lebih dari dua puluh tahun lalu.

IBU MERTUAKU MENDORONGKU DARI TANGGA DEMI SERTIFIKAT RUMAH DANAU SENILAI RP80 MILIAR. SUAMIKU MELANGKAHI TUBUHKU YANG TERLUKA DAN BERKATA, “SEHARUSNYA KAMU SERAHKAN SAJA KEPADA MAMA.”

BAGIAN 1

Aku berdiri di puncak tangga besar rumah peninggalan kakekku di kawasan Sentul, Bogor, sambil memeluk erat sebuah map cokelat berisi sertifikat rumah.

Rumah itu bukan rumah biasa.

Bangunan dua lantai tersebut berdiri di atas lahan luas yang menghadap langsung ke danau pribadi. Ada taman besar, dermaga kayu, paviliun kecil di belakang rumah, serta beberapa bidang tanah yang masih termasuk dalam kawasan perkebunan lama milik keluargaku.

Nilai seluruh properti itu diperkirakan mencapai Rp80 miliar.

Kakekku, Surya Pranoto, adalah seorang pengusaha yang membangun bisnisnya dari nol hingga menjadi salah satu orang terkaya di keluargaku.

Namun bagiku, rumah itu tidak pernah sekadar soal uang.

Aku menghabiskan sebagian masa kecilku di sana.

Kakek mengajariku berenang di danau.

Nenek mengajariku memasak di dapur belakang.

Bahkan pohon mangga besar di samping rumah pernah memiliki ayunan kayu yang dibuat sendiri oleh Kakek untukku.

Itulah sebabnya ketika Kakek meninggal dan mewariskan rumah itu kepadaku, aku bersumpah akan menjaganya.

Sayangnya, suamiku dan keluarganya melihat rumah tersebut dengan cara yang sangat berbeda.

Mereka hanya melihat angka.

Delapan puluh miliar rupiah.

“Serahkan sertifikat itu!”

Suara ibu mertuaku, Bu Ratna, menggema dari bawah tangga.

Aku menatapnya.

Perempuan berusia enam puluhan itu berdiri dengan wajah merah karena marah. Matanya tidak pernah meninggalkan map yang ada di tanganku.

“Rumah ini peninggalan kakekku,” kataku. “Kenapa saya harus menyerahkannya kepada Mama?”

Wajah Bu Ratna berubah.

“Karena sekarang kamu sudah menikah dengan anak saya!”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

“Menikah dengan Arga tidak membuat warisan keluarga saya otomatis menjadi milik keluarga Mama.”

Di belakangnya berdiri suamiku, Arga.

Laki-laki yang sudah kunikahi selama enam tahun itu memegang segelas minuman sambil bersandar santai pada meja kecil dekat ruang keluarga.

Aku menatapnya.

“Arga?”

Dia tidak menjawab.

“Bilang kepada Mama bahwa rumah ini bukan miliknya.”

Arga hanya mengangkat gelasnya sedikit.

“Sudahlah, Nadira. Jangan bikin masalah tambah panjang.”

Aku membeku.

“Jadi menurutmu aku yang bikin masalah?”

Dia menghela napas seolah-olah akulah orang paling melelahkan di dunia.

“Mama cuma ingin memastikan aset keluarga aman.”

“Aset keluargaku,” jawabku.

Aku sengaja menekankan dua kata terakhir.

Bu Ratna langsung menaiki tangga.

Satu anak tangga.

Dua.

Tiga.

“Jangan mendekat.”

Dia terus naik.

“Nadira, jangan keras kepala.”

“Ini bukan keras kepala.”

Aku mundur satu langkah.

“Ini rumah peninggalan Kakek saya.”

Bu Ratna semakin dekat.

“Berikan map itu!”

Tangannya tiba-tiba meraih sertifikat yang kupegang.

Aku menariknya kembali.

“Tidak!”

Sesuatu berubah di wajahnya.

Kemarahannya seperti meledak.

Dan sebelum aku sempat memahami apa yang terjadi—

kedua tangannya menghantam bahuku.

Keras.

Tubuhku kehilangan keseimbangan.

Tumitku terlepas dari pijakan.

Aku jatuh ke belakang.

Tangga kayu itu seolah berputar di sekelilingku.

Punggungku menghantam anak tangga pertama.

Lalu bahuku.

Pinggangku.

Kakiku terpelintir ketika tubuhku kembali menghantam tepian tangga.

Aku tidak tahu berapa kali tubuhku terbentur sebelum akhirnya aku jatuh di lantai marmer ruang keluarga.

Rasa sakit menjalar dari kaki sampai bahuku.

Untuk beberapa detik, aku bahkan tidak bisa bernapas.

Aku hanya mendengar suara map jatuh.

Kertas-kertas berserakan di lantai.

Lalu langkah kaki.

Aku membuka mata.

Arga berjalan mendekat.

Suamiku.

Orang yang seharusnya menjadi orang pertama yang menolongku.

Aku mengangkat tangan dengan susah payah.

“Arga…”

Suaraku hampir tidak keluar.

“Tolong…”

Dia berhenti tepat di samping tubuhku.

Aku menunggu tangannya meraihku.

Namun dia tidak melakukannya.

Arga justru melangkahi tubuhku.

Kemudian dia membungkuk dan mengambil map cokelat yang terjatuh beberapa meter dariku.

Aku menatapnya dengan tidak percaya.

“Arga…”

Dia membuka map itu.

Memastikan sertifikat masih berada di dalamnya.

Kemudian dia menatapku.

Tatapan matanya dingin.

Tidak ada panik.

Tidak ada rasa bersalah.

Tidak ada ketakutan melihat istrinya tergeletak kesakitan.

Hanya kejengkelan.

“Seharusnya dari awal kamu serahkan saja kepada Mama, Nadira.”

Dadaku terasa lebih sakit daripada kakiku.

Bu Ratna turun perlahan dari tangga.

Bukannya memanggil ambulans, dia malah mengambil map dari tangan anaknya.

“Sekarang lihat akibatnya,” katanya.

Seolah-olah aku sendiri yang memilih jatuh.

Aku tidak ingat siapa yang akhirnya memanggil bantuan.

Yang kuingat berikutnya hanyalah lampu putih rumah sakit.

Bau antiseptik.

Dan rasa sakit yang menusuk ketika aku mencoba bergerak.

Dokter mengatakan kakiku mengalami patah tulang dan bahuku cedera cukup serius.

Aku harus memakai gips.

Setidaknya beberapa minggu aku tidak boleh melakukan aktivitas berat.

Tetapi rasa sakit terbesar datang beberapa jam kemudian.

Seorang petugas datang ke kamar rawatku.

Dia membawa sebuah amplop tebal.

“Bu Nadira Prameswari?”

“Ya.”

“Dokumen untuk Ibu.”

Aku membuka amplop itu.

Tanganku gemetar.

Gugatan cerai.

Aku membaca nama penggugat.

Arga Wijaya.

Suamiku bahkan tidak menunggu aku keluar dari rumah sakit.

Dalam dokumen tersebut, Arga bukan hanya mengajukan perceraian.

Dia juga menuntut pembagian berbagai aset dan mengklaim memiliki kepentingan atas rumah peninggalan Kakek.

Aku membaca setiap halaman perlahan.

Anehnya, aku tidak menangis.

Mungkin ada titik ketika rasa sakit menjadi terlalu besar hingga air mata tidak lagi keluar.

Aku menaruh dokumen itu di samping tempat tidur.

Kemudian aku mengambil ponsel.

Ada satu orang yang harus kuhubungi.

Maya Santoso.

Pengacara keluarga yang selama bertahun-tahun menangani urusan hukum dan aset peninggalan Kakek.

Dia menjawab pada dering kedua.

“Nadira? Saya baru dengar kamu masuk rumah sakit. Apa yang terjadi?”

“Mbak Maya…”

Aku menarik napas.

“Tolong siapkan dokumen pengalihan.”

Dia diam.

“Pengalihan apa?”

“Rumah Sentul.”

Keheningan panjang terdengar dari ujung telepon.

“Nadira…”

“Alihkan kepemilikannya kepada Arga.”

“Apa?”

“Aku mau memberikan rumah itu kepadanya.”

Maya langsung meninggikan suara.

“Kamu sadar apa yang kamu katakan?”

“Sangat sadar.”

“Nilai properti itu hampir delapan puluh miliar!”

“Aku tahu.”

“Dan Arga baru saja menggugat cerai kamu!”

“Aku juga tahu.”

“Nadira, dengarkan saya. Jangan membuat keputusan saat sedang terluka atau emosi.”

Aku melihat kakiku yang terbungkus gips.

Kemudian aku menatap jendela rumah sakit.

Anehnya, aku tersenyum.

“Aku tidak sedang emosi.”

“Kalau begitu kenapa?”

Aku terdiam sebentar.

“Mbak Maya masih ingat percakapan terakhir kita dengan Kakek sebelum beliau meninggal?”

Suara di seberang telepon tiba-tiba berhenti.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian Maya berbisik.

“Nadira…”

“Masih ingat?”

“Ya.”

“Kalau begitu Mbak tahu persis kenapa aku melakukan ini.”

Maya mengembuskan napas panjang.

Nada suaranya berubah.

Tidak lagi panik.

Justru terdengar sangat serius.

“Kamu yakin?”

“Seratus persen.”

“Kamu memahami konsekuensinya?”

“Ya.”

“Dan kamu ingin Arga menerima seluruh properti itu atas namanya sendiri?”

Aku tersenyum lebih lebar.

“Bukan cuma menerima.”

Aku berhenti sebentar.

“Aku ingin dia menandatangani bahwa dia menerima properti tersebut secara sukarela, memahami seluruh hak dan kewajiban yang melekat padanya, dan tidak akan mengajukan tuntutan apa pun kepadaku setelah proses pengalihan selesai.”

Maya kembali diam.

Lalu dia berkata pelan,

“Baik.”

Aku tahu dia akhirnya memahami rencanaku.

“Siapkan semuanya.”

“Nadira…”

“Ya?”

“Kalau Arga menandatangani dokumen itu…”

“Aku tahu.”

Aku memejamkan mata.

“Biarkan dia merasa menang.”

Dokumen itu selesai beberapa hari kemudian.

Arga tidak curiga sedikit pun.

Bahkan ketika Maya menyuruhnya membaca seluruh berkas dengan teliti, dia hanya membolak-balik beberapa halaman.

“Intinya rumah ini resmi jadi milik saya, kan?”

Maya menatapnya.

“Setelah Anda menandatangani dan seluruh proses administrasi selesai, hak dan kewajiban atas properti akan beralih sesuai isi perjanjian.”

Arga tersenyum.

Dia tidak meminta penjelasan lebih lanjut.

Tidak membaca lampiran sampai selesai.

Tidak mempertanyakan satu pun dokumen lama yang ikut tercantum dalam berkas.

Dia hanya melihat satu hal:

Rp80 miliar.

Lalu dia menandatangani.

Bu Ratna bahkan ikut datang.

Dia berdiri di belakang anaknya sambil tersenyum puas.

Ketika semuanya selesai, dia menatapku.

“Akhirnya kamu sadar juga siapa yang lebih pantas memiliki rumah itu.”

Aku tidak menjawab.

Aku hanya mengambil salinan dokumenku.

Lalu pergi dengan tongkat penyangga.

Dua minggu kemudian, mereka mengadakan pesta.

Aku mengetahuinya dari foto-foto yang dikirim seseorang kepadaku.

Puluhan tamu datang ke rumah Sentul.

Meja panjang dipenuhi makanan.

Botol sampanye dibuka.

Bu Ratna berfoto di depan tangga tempat dia pernah mendorongku.

Arga berdiri di sampingnya sambil tersenyum seperti seseorang yang baru saja memenangkan hidup.

Kepada teman-temannya, dia membanggakan rumah barunya.

Rumah senilai puluhan miliar.

Warisan keluarga istrinya yang sekarang sudah berada di tangannya.

Mereka yakin aku sudah kalah.

Mereka bahkan tidak menyadari satu hal kecil.

Aku tidak pernah mencoba mempertahankan rumah itu setelah Arga menggugat cerai.

Padahal aku memiliki pengacara terbaik.

Dokumen warisan lengkap.

Dan cukup bukti untuk memperjuangkannya.

Seharusnya itu membuat mereka bertanya-tanya.

Mengapa aku menyerah begitu mudah?

Namun keserakahan membuat orang hanya melihat apa yang ingin mereka lihat.

Malam pesta itu, Arga mengangkat gelasnya.

“Untuk awal yang baru!”

Semua orang bertepuk tangan.

Bu Ratna tersenyum bangga.

Tetapi jauh di bagian belakang properti, di balik deretan pohon tua yang ditanam Kakek puluhan tahun sebelumnya, berdiri sebuah bangunan kecil yang sudah lama terkunci.

Bangunan itu tidak pernah dipakai.

Setidaknya begitulah yang dipercaya Arga.

Dia tidak tahu bahwa beberapa bulan sebelum meninggal, Kakek pernah membawaku ke sana.

Hanya kami berdua.

Kakek membuka pintu menggunakan sebuah kunci kecil berwarna hitam.

Di dalam ruangan itu ada lemari besi tua, tumpukan dokumen, peta tanah, dan sebuah kotak kayu yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

Saat itu Kakek meletakkan tangannya di bahuku.

“Nadira,” katanya, “suatu hari nanti mungkin ada orang yang menginginkan rumah ini karena nilainya.”

Aku masih ingat jawabanku.

“Rumah ini memang mahal, Kek.”

Kakek tersenyum.

“Bukan harga rumah yang harus kamu khawatirkan.”

Dia kemudian menunjuk ke bawah lantai bangunan tersebut.

“Yang harus kamu khawatirkan adalah apa yang ikut menjadi milik orang yang menerima tanah ini.”

Aku tidak mengerti saat itu.

Sampai Kakek membuka sebuah map tua.

Dan menunjukkan kepadaku sesuatu yang sudah disembunyikan keluarga kami selama lebih dari dua puluh tahun.

Sesuatu yang membuat nilai rumah Rp80 miliar itu terlihat kecil.

Sangat kecil.

Dan sekarang…

Arga baru saja menandatangani dokumen yang membuat semuanya menjadi tanggung jawabnya.

Dia mengira tanda tangannya telah memberinya kekayaan.

Padahal sebenarnya…

dia baru saja menerima beban terbesar yang selama dua puluh tahun dijaga Kakek agar tidak jatuh ke tangan orang yang salah.

Aku memandangi salinan tanda tangan Arga di atas meja rumah sakit.

Lalu aku mengambil kunci hitam kecil yang selama ini kusimpan di dalam dompet.

Aku tersenyum.

“Selamat menikmati rumah barumu, Arga.”

Karena pesta itu belum selesai ketika seseorang mengetuk pintu utama rumah dan menyerahkan sebuah amplop resmi kepadanya.

Begitu Arga membukanya, wajahnya langsung pucat.

Bu Ratna merebut kertas itu dari tangannya.

Gelas sampanye yang dia pegang jatuh ke lantai.

Untuk pertama kalinya sejak mendorongku dari tangga…

Bu Ratna terlihat ketakutan.

Sebab di bagian atas dokumen itu tercantum nama perusahaan milik mendiang Kakekku.

Dan di bawahnya terdapat satu nomor perkara lama yang seharusnya sudah terkubur lebih dari dua puluh tahun.

Mereka akhirnya mulai memahami.

Aku tidak memberikan rumah itu karena aku kalah.

Aku memberikannya karena aku tahu persis apa yang akan terjadi kepada orang berikutnya yang menandatangani namanya sebagai pemilik.

Dan rahasia sebenarnya…

masih terkunci di bangunan kecil di belakang danau.

BAGIAN 2

Gelas sampanye itu pecah di lantai.

Untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun di ruang tamu yang berani bergerak.

Arga berdiri di dekat pintu dengan amplop resmi di tangannya. Wajah yang beberapa menit sebelumnya penuh kemenangan kini berubah pucat.

Bu Ratna merebut dokumen itu.

“Apa ini?”

Arga tidak menjawab.

“Arga, Mama tanya, apa ini?”

“Aku juga baru baca.”

Bu Ratna menurunkan pandangannya ke halaman pertama.

Di sana tercantum nama perusahaan lama milik kakekku:

PT Pranoto Tirta Sentosa.

Di bawahnya ada nomor perkara lama, nomor bidang tanah, serta pemberitahuan bahwa pemilik baru properti diminta hadir bersama kuasa hukum untuk menyelesaikan kewajiban yang melekat pada sebagian lahan.

Tamu-tamu yang tadinya tertawa mulai saling berbisik.

Salah seorang teman Arga mendekat.

“Ada masalah?”

“Tidak.”

Arga buru-buru melipat surat itu.

“Hanya urusan administrasi.”

Namun Bu Ratna sudah membaca bagian yang membuat tangannya gemetar.

Kewajiban pemulihan dan pengelolaan lahan tetap mengikuti kepemilikan sesuai perjanjian pengalihan dan dokumen terkait.

“Apa maksudnya ini?”

Arga mengambil surat tersebut.

“Mungkin cuma surat lama.”

“Kalau cuma surat lama, kenapa dikirim atas namamu?”

Arga menatap halaman terakhir.

Di sana ada tanggal pengalihan terbaru.

Dan tanda tangannya.

Pesta berakhir kurang dari tiga puluh menit kemudian.

Tidak ada lagi musik.

Tidak ada lagi foto.

Tidak ada lagi orang mengangkat gelas sambil mengucapkan selamat.

Keesokan paginya, teleponku berdering.

Nama Arga muncul di layar.

Aku membiarkannya berbunyi sampai berhenti.

Dia menelepon lagi.

Lalu lagi.

Pada panggilan kelima, aku mengangkatnya.

“Apa?”

“Nadira.”

Nada suaranya berbeda.

Tidak ada kesombongan.

“Apa yang kamu lakukan?”

Aku hampir tertawa.

“Aku sedang sarapan.”

“Jangan main-main!”

“Kamu menelepon untuk menanyakan sarapanku?”

“Rumah itu.”

Aku diam.

“Ada apa dengan rumah itu?”

“Kamu tahu maksudku.”

“Tidak. Jelaskan.”

Arga mengembuskan napas keras.

“Ada surat tentang perusahaan kakekmu. Ada kewajiban atas tanah. Ada perkara lama. Pengacara yang aku hubungi bilang dokumennya rumit.”

“Bukankah Mbak Maya sudah menyuruhmu membaca semua berkas sebelum menandatangani?”

Dia terdiam.

“Kamu menjebakku.”

Kalimat itu membuatku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Tetapi karena luar biasa mudah bagi orang seperti Arga untuk menyebut konsekuensi dari keserakahannya sebagai jebakan.

“Aku tidak memaksamu menerima rumah itu.”

“Kamu sengaja tidak memberitahuku!”

“Aku menyuruh pengacara memberikan seluruh dokumen.”

“Siapa yang membaca ratusan halaman lampiran?”

“Orang yang menerima properti senilai delapan puluh miliar rupiah seharusnya membaca.”

Dia terdiam lagi.

Lalu suaranya mengecil.

“Sebenarnya apa yang ada di tanah itu?”

Aku melihat kunci hitam kecil di atas meja.

“Datang ke bangunan belakang danau jam sepuluh.”

“Kapan?”

“Hari ini.”

“Aku akan membawa Mama.”

“Terserah.”

Aku menutup telepon.

Dua jam kemudian, Maya menjemputku.

Kakiku masih belum pulih sepenuhnya. Aku masih menggunakan tongkat, dan setiap langkah yang terlalu cepat membuat nyeri menjalar sampai pinggang.

Ketika kami tiba di Sentul, Arga sudah menunggu.

Bu Ratna berdiri di sampingnya.

Tidak ada senyum.

Tidak ada sampanye.

Kami berjalan menuju bagian belakang properti.

Bangunan kecil itu berada sekitar dua ratus meter dari rumah utama, tersembunyi di balik pohon-pohon tua.

Catnya sudah pudar.

Pintunya terbuat dari kayu jati tebal.

Aku mengeluarkan kunci hitam.

Bu Ratna langsung berkata,

“Jadi selama ini kamu punya kuncinya?”

Aku tidak menjawab.

Kunci berputar.

Klik.

Pintu terbuka.

Udara lembap dan bau kayu tua menyambut kami.

Arga menyalakan lampu.

Ruangan itu jauh lebih sederhana daripada yang mungkin dia bayangkan.

Tidak ada emas.

Tidak ada uang tunai.

Tidak ada berlian.

Hanya rak besi.

Kotak-kotak arsip.

Sebuah meja.

Dan lemari besi tua di sudut.

Arga langsung berjalan menuju lemari itu.

“Apa kode kombinasinya?”

Aku tersenyum.

“Kamu masih mengira ada uang di dalamnya?”

Tangannya berhenti.

Maya membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah map abu-abu.

“Ada sesuatu yang sebaiknya kalian baca dulu.”

Dia meletakkannya di meja.

Arga membuka halaman pertama.

Aku melihat ekspresinya berubah.

Puluhan tahun lalu, Kakek membeli kawasan tersebut ketika perusahaan pengembang sebelumnya hampir bangkrut.

Tetapi ada masalah.

Sebagian lahan di sekitar danau pernah digunakan oleh perusahaan lama sebagai area penyimpanan limbah industri.

Kakek baru mengetahui hal itu setelah transaksi selesai.

Dia bisa saja menjual tanah tersebut kepada pihak lain.

Bisa saja memecah sertifikat.

Bisa saja menggunakan koneksi dan uangnya untuk mengubur masalah.

Tetapi Kakek memilih hal yang berbeda.

Dia menghabiskan bertahun-tahun melakukan pemulihan lahan.

Membersihkan area.

Memindahkan material tercemar melalui kontraktor berizin.

Memantau kualitas air.

Dan menyelesaikan tuntutan dari warga sekitar yang terdampak kegiatan perusahaan sebelum dia mengambil alih.

Biayanya sangat besar.

Namun bukan itu rahasia terbesarnya.

Arga membalik halaman berikutnya.

“Apa ini?”

Sebuah perjanjian.

Dua puluh tahun lalu, Kakek telah membuat kesepakatan dengan sebuah yayasan lingkungan dan warga setempat.

Sebagian besar lahan di sisi timur danau tidak boleh dikembangkan secara komersial sampai seluruh program pemulihan dinyatakan selesai.

Pemilik tanah berikutnya wajib mematuhi ketentuan tersebut.

Kalau melanggar, ada konsekuensi hukum dan finansial sesuai perjanjian serta aturan yang berlaku.

Bu Ratna menatapku.

“Jadi tanah ini bermasalah?”

“Sebagian,” jawab Maya.

“Berapa biayanya?”

“Tidak sesederhana menghitung satu angka. Perlu audit lingkungan terbaru, pemeriksaan dokumen, dan penilaian kewajiban yang masih berlaku.”

Bu Ratna langsung menunjukku.

“Kamu tahu semua ini!”

“Ya.”

“Dan kamu sengaja memberikannya kepada Arga?”

Aku menatapnya.

“Mama yang menginginkan rumah ini.”

Wajahnya memerah.

“Karena kami pikir rumah ini aset!”

“Memang aset.”

“Jangan kurang ajar!”

Aku tidak meninggikan suara.

“Mama mendorong saya dari tangga demi mendapatkan sertifikatnya.”

Ruangan langsung sunyi.

Bu Ratna membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.

Aku melanjutkan.

“Arga melangkahi tubuh saya yang terluka untuk mengambil map itu.”

Arga menunduk.

“Lalu saat saya masih di rumah sakit, dia mengirim gugatan cerai dan menuntut rumah ini.”

Aku menunjuk dokumen di atas meja.

“Sekarang kalian marah karena akhirnya mendapatkan apa yang kalian inginkan?”

Arga mengepalkan tangannya.

“Berapa banyak yang harus aku bayar?”

Maya menjawab,

“Kita belum bisa menyimpulkan jumlah sebelum audit selesai. Dan tidak semua kewajiban otomatis menjadi tanggung jawab pribadi Anda hanya karena memiliki rumah. Itu tergantung dokumen, hukum yang berlaku, dan tindakan pemilik berikutnya.”

Aku menatap Maya.

Itulah alasan aku mempercayainya.

Dia tidak pernah membuat ancaman palsu.

Tidak ada jebakan hukum ajaib.

Tidak ada utang misterius yang tiba-tiba membuat Arga masuk penjara.

Yang ada hanyalah dokumen nyata.

Kewajiban nyata.

Dan keserakahan yang membuat seseorang menandatangani tanpa membaca.

Namun kemudian Maya mengeluarkan dokumen kedua.

“Inilah bagian yang lebih penting.”

Arga mengambilnya.

Matanya menyipit.

“Apa ini?”

“Perjanjian pengikatan hibah bersyarat yang dibuat Pak Surya bertahun-tahun lalu.”

Aku masih ingat hari Kakek menjelaskannya kepadaku.

Rumah utama memang diwariskan kepadaku.

Tetapi kawasan di s