Kami Patungan Rp3,5 Juta untuk Pernikahan Hani, tapi Nita Diam-Diam Mengurangi Isi Amplop Setelah Melihat Hidangannya

Avatar penulis
Cerita 01
18 menit baca 953 tayangan
Kami Patungan Rp3,5 Juta untuk Pernikahan Hani, tapi Nita Diam-Diam Mengurangi Isi Amplop Setelah Melihat Hidangannya
Indeks

Bagian 2

Hani tidak langsung menjawab.

“Ada uang Rp1,5 juta,” katanya akhirnya. “Tapi di bawahnya ada struk ATM.”

Aku menutup mata.

Struk yang pagi itu dimasukkan Nita ke amplop karena katanya supaya semuanya rapi.

“Di struk tertulis penarikan Rp3,5 juta,” lanjut Hani. “Tanggalnya hari pernikahanku. Jamnya pagi. Aku cuma mau tahu, apa aku salah memahami sesuatu?”

Aku tidak menemukan jawaban yang terasa cukup baik.

Hani buru-buru berkata, “Aku bukan mempermasalahkan jumlah uangnya, Rin. Serius. Kalau kalian cuma kasih Rp200.000 pun aku tetap senang kalian datang.”

Suaranya semakin pelan.

Kami Patungan Rp3,5 Juta untuk Pernikahan Hani, tapi Nita Diam-Diam Mengurangi Isi Amplop Setelah Melihat Hidangannya

“Tapi di depan amplop ada tujuh nama. Begitu aku lihat struk itu, aku jadi berpikir macam-macam. Apa uangnya jatuh? Apa ada yang mengambil? Atau kalian sebenarnya sepakat Rp1,5 juta tapi struknya salah masuk?”

Aku mendengar suara seseorang berbicara jauh di belakang Hani, mungkin suaminya.

Lalu Hani berkata, “Aku sampai tanya suamiku apakah dia membuka amplop sebelum aku. Dia enggak. Kotak amplop juga langsung disimpan di kamar orang tuaku sampai malam.”

Aku merasa wajahku panas.

Hani tertawa kecil, tetapi terdengar seperti orang sedang menahan tangis.

“Yang paling bodoh, tadi aku malah kepikiran apakah kalian kecewa lihat acaraku sederhana.”

“Han…”

“Aku tahu kedengarannya aneh. Tapi waktu lihat Rp1,5 juta dan struk Rp3,5 juta, aku sempat mikir, jangan-jangan awalnya kalian mau kasih segitu, lalu setelah lihat acaranya berubah pikiran.”

Aku tidak bisa membiarkan dia melanjutkan.

“Bukan kalian,” kataku.

Hening.

“Apa?”

“Bukan kami semua.”

Aku menceritakannya.

Tidak panjang. Tidak mencoba membela siapa pun.

Aku mengatakan bahwa kami memang sepakat Rp500.000 per orang. Nita mengumpulkan uang, menarik Rp3,5 juta, lalu setelah melihat hidangan pernikahan, dia mengambil kembali Rp2 juta dari amplop tanpa bertanya kepada kami.

Hani diam sangat lama.

Aku sampai memeriksa layar untuk memastikan sambungan belum terputus.

Akhirnya dia bertanya, “Karena makanannya?”

“Iya.”

“Dia bilang begitu?”

“Iya.”

Hani menarik napas.

“Aku enggak tahu harus bilang apa.”

“Aku minta maaf.”

“Kamu enggak mengambilnya.”

“Tapi aku tahu sejak perjalanan pulang dan baru sekarang kamu tahu.”

“Itu yang bikin aku sedih.”

Kalimatnya tidak keras. Justru karena diucapkan pelan, rasanya lebih menusuk.

Hani menjelaskan bahwa setelah kami pulang, ibunya berkali-kali memuji kami.

“Teman-temanmu jauh-jauh datang. Bagus ya kalian masih dekat,” begitu kata ibunya.

Hani bahkan menyimpan amplop kami terpisah karena ada tujuh nama lama yang mengingatkannya pada sekolah.

“Aku merasa malu karena sempat menghitung,” katanya. “Padahal aku sendiri paling enggak suka orang menilai hubungan dari nominal.”

Aku mengatakan bahwa kami akan mengembalikan kekurangan Rp2 juta.

Hani langsung menolak.

“Jangan kalian berenam patungan lagi.”

“Tapi itu memang keputusan kami dari awal.”

“Kalau kalian bayar lagi, kalian jadi keluar uang dua kali karena keputusan satu orang.”

“Yang penting jumlahnya kembali seperti kesepakatan.”

“Tidak.”

Nada Hani kali ini tegas.

“Kalau uang itu memang masih ada pada Nita, biar Nita yang menentukan mau mengembalikan atau tidak. Aku enggak mau kalian menutupinya.”

Setelah telepon ditutup, aku langsung menulis di grup.

Hani menemukan struk ATM.

Tak sampai satu menit Dimas menelepon grup.

Enam orang masuk. Nita tidak.

Dimas mengirim pesan langsung kepadanya.

Sepuluh menit kemudian Nita muncul.

“Apa lagi?”

Aku mengatakan Hani sudah tahu.

Wajah Nita di layar langsung berubah.

“Tahu dari siapa?”

“Dari struk ATM yang kamu tinggalkan di amplop.”

Nita terdiam.

Maya berkata, “Dia menelepon Rina karena mengira ada uang yang hilang.”

Nita mengusap kening.

“Ya sudah. Kalau masalahnya cuma selisih, aku transfer dua juta itu besok.”

Aku kira percakapan akan selesai.

Ternyata tidak.

Dimas bertanya, “Kenapa baru sekarang?”

Nita menatap layar.

“Karena kalian yang memperpanjang masalah.”

“Bukan,” kata Dimas. “Kamu masih menganggap masalahnya cuma angka.”

Nita mulai meninggikan suara.

“Terus kalian mau apa? Aku sudah bilang akan bayar.”

Aku berkata, “Hani tadi bilang satu hal.”

“Apa?”

“Dia enggak mau kami berenam mengganti uang itu. Kalau memang dikembalikan, dia mau uang yang dulu diambil itu dikembalikan oleh orang yang mengambilnya.”

Nita tidak mengatakan apa-apa.

Lalu Sari bertanya satu pertanyaan sederhana.

“Nit, uang dua juta itu masih utuh?”

Nita melihat ke samping.

Bukan ke kamera.

Ke samping.

Dan untuk pertama kalinya sejak perjalanan pulang dari pernikahan Hani, aku merasa ada bagian dari masalah ini yang bahkan belum kami pahami.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

“Nita?”

Sari mengulang pertanyaannya.

“Uang dua juta itu masih utuh?”

Nita menarik napas panjang.

“Masih ada.”

“Di mana?”

“Di rekeningku.”

Maya langsung menyahut, “Katamu waktu di mobil ada di tas.”

“Ya habis itu aku setor.”

“Kenapa?”

Nita terlihat semakin kesal.

“Memangnya harus kubiarkan uang tunai di tas beberapa hari?”

Tidak ada yang menjawab.

Secara teknis, penjelasannya masuk akal. Tetapi masalahnya bukan tempat uang itu disimpan.

Masalahnya sejak awal Nita berulang kali menyebut Rp2 juta itu sebagai “uang kita”, padahal dia belum pernah mengembalikan satu rupiah pun kepada kami.

Dimas kemudian berkata, “Kalau begitu transfer sekarang ke Hani.”

Nita langsung menggeleng.

“Besok.”

“Mobile banking kamu ada.”

“Dimas, sudah malam.”

“Transfer bank tidak tutup jam sembilan.”

Nita menatapnya tajam.

“Aku enggak suka disuruh-suruh seolah aku penjahat.”

Aku bisa melihat Dimas menahan diri sebelum menjawab.

“Tidak ada yang bilang kamu penjahat. Kami bilang kamu mengambil keputusan soal uang tujuh orang tanpa izin.”

“Karena aku pikir keputusan awal kita berlebihan.”

“Dan enam orang lain tidak berpikir begitu.”

Nita tertawa pendek.

“Ya karena kalian enggak pernah menghitung.”

Kalimat itu membuatku akhirnya bicara.

“Nit, berhenti memakai pekerjaanmu sebagai alasan.”

Dia menatap layar.

“Apa?”

“Kamu akuntan. Justru harusnya kamu paling paham bedanya uang yang kamu pegang dengan uang yang boleh kamu putuskan sendiri.”

Wajahnya berubah.

Aku tidak meninggikan suara.

“Kami transfer masing-masing Rp500.000 kepadamu untuk satu tujuan. Bukan supaya kamu menilai ulang setelah lihat ayam dan capcay.”

Nita menyilangkan tangan.

“Aku cuma merasa Rp3,5 juta terlalu besar.”

“Kalau kamu merasa begitu,” kata Sari, “kamu bisa bilang sebelum amplop dimasukkan. Kita debat. Kita putuskan bareng. Yang kamu lakukan beda.”

Nita terdiam lagi.

Maya bertanya, “Kalau struk ATM itu enggak tertinggal, kamu mau bilang ke Hani?”

“Kenapa harus?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Setelah mengucapkannya, Nita sendiri sepertinya sadar bagaimana bunyinya.

Maya tidak membalas.

Dimas juga diam.

Aku melihat kotak-kotak kecil wajah teman-temanku di layar dan tiba-tiba merasa sangat lelah.

Kami sudah berteman lebih dari sepuluh tahun.

Kami pernah meminjamkan uang makan saat sekolah, berbagi catatan, menunggu teman yang ban sepedanya bocor, mengantar satu sama lain ke rumah sakit ketika orang tua sakit.

Sekarang kami sedang berdebat tentang apakah seseorang boleh mengambil Rp2 juta dari amplop pernikahan hanya karena menurutnya hidangan yang disajikan tidak pantas menerima hadiah sebesar itu.

Dimas akhirnya berkata, “Aku keluar dulu. Kalau diteruskan sekarang cuma jadi saling marah. Nita, pikirkan satu hal saja. Besok pagi uang itu seharusnya berada di tempat yang sejak awal kita sepakati.”

Dia menutup panggilan.

Satu per satu yang lain ikut keluar.

Aku tinggal beberapa detik dengan Nita.

“Nit.”

“Apa lagi?”

“Hani mengira kami menilai pernikahannya.”

Nita tidak menjawab.

“Dia sampai berpikir kami mengurangi hadiah karena lihat acaranya sederhana.”

“Itu kan bukan salahku kalau dia berpikir sejauh itu.”

Aku menatap layar lama.

“Justru itu persis alasan kamu mengambil uangnya.”

Wajah Nita menegang.

Aku menutup panggilan.

Besok paginya aku bangun berkali-kali mengecek grup.

Tidak ada pesan dari Nita.

Jam sembilan, belum ada.

Jam sebelas, masih belum ada.

Dimas akhirnya menulis:

Sudah ditransfer?

Pesan dibaca, tetapi tidak dijawab.

Sari kemudian menulis:

Kalau ada masalah dengan uangnya, bilang saja. Jangan bikin kami menebak-nebak.

Baru hampir pukul satu Nita membalas.

Aku kerja. Jangan tekan aku terus.

Tidak ada satu pun dari kami yang menjawab.

Sore harinya, Hani mengirim pesan pribadi kepadaku.

Nita belum menghubunginya.

Aku membaca pesan itu beberapa kali.

Aku mulai berpikir kami sudah terlalu fokus membuat Nita memahami kesalahannya, sementara orang yang dibuat tidak nyaman justru menunggu tanpa kepastian.

Aku menelepon Hani.

“Kalau sampai malam belum ada transfer, kami berenam tetap akan kirim dua juta dulu. Urusan dengan Nita nanti kami selesaikan.”

Hani menolak lagi.

“Rina, dengarkan aku. Aku enggak butuh dua juta itu malam ini.”

“Bukan soal butuh.”

“Makanya. Jangan membuat uangnya makin besar daripada masalahnya.”

Aku diam.

Hani melanjutkan, “Kalau kalian patungan ulang sekarang, Nita bisa tetap merasa dia tidak melakukan apa-apa. Kalian yang menutup lubangnya.”

Aku sadar dia benar.

Kalau setiap akibat dari keputusan Nita kami perbaiki diam-diam, Nita tidak perlu melakukan apa pun selain menunggu kami lelah.

Hani lalu berkata sesuatu yang membuatku semakin malu.

“Aku juga enggak mau persahabatan kalian rusak cuma karena aku.”

“Ini bukan karena kamu.”

“Tapi bermula di pernikahanku.”

“Tidak. Bermula ketika Nita merasa keputusan tujuh orang boleh diganti dengan keputusan dia sendiri.”

Hani tidak membantah lagi.

Malam itu Nita akhirnya meneleponku.

Bukan video.

Hanya suara.

“Aku enggak punya dua juta utuh sekarang.”

Aku tidak langsung menjawab.

“Apa maksudmu?”

“Aku pakai sebagian.”

“Kamu bilang kemarin masih ada.”

“Ada waktu itu.”

“Dipakai untuk apa?”

“Keperluan.”

“Nit.”

“Aku akan ganti minggu depan.”

Aku menutup mata.

Berarti ada satu hal yang sejak awal tidak kami pahami.

Kalau Nita benar-benar hanya ingin “menghemat uang kami”, seharusnya setelah mengambil Rp2 juta dari amplop, dia segera membagi kembali jumlah itu kepada kami berenam dan dirinya sendiri.

Tetapi dia tidak melakukannya.

Dia menyimpan uangnya.

Lalu memakainya.

“Berapa yang tersisa?”

“Sekitar enam ratus ribu.”

Aku sampai mengecek apakah aku salah dengar.

“Dalam tiga hari kamu memakai Rp1,4 juta?”

“Aku ada tagihan kartu kredit.”

“Jadi uang yang menurutmu harus dikembalikan kepada kami justru kamu pakai bayar tagihanmu?”

Nita mulai defensif.

“Aku kan akan ganti.”

“Kapan?”

“Gajian.”

“Kenapa dari awal enggak bilang?”

“Karena kalau aku bilang, kalian pasti berpikir macam-macam.”

Aku hampir tertawa.

“Sekarang menurutmu kami harus berpikir apa?”

Dia diam.

Beberapa detik kemudian suaranya melemah.

“Aku memang lagi agak seret.”

Untuk pertama kalinya, kalimat Nita terdengar bukan seperti argumen.

Aku tidak memotong.

Dia mengatakan beberapa bulan terakhir pengeluarannya naik. Cicilan mobil masih berjalan. Ibunya baru meminta bantuan untuk memperbaiki atap rumah. Kartu kreditnya juga menumpuk karena dia terlalu sering menutup satu tagihan dengan uang dari bulan berikutnya.

Tidak sampai membuatnya bangkrut.

Tidak sampai dia tidak bisa makan.

Tetapi cukup membuat Rp500.000 untuk satu undangan pernikahan terasa berat baginya.

Aku bertanya, “Kenapa waktu kita bahas di grup kamu tetap setuju Rp500.000?”

Nita menjawab pelan.

“Malu kalau bilang enggak sanggup.”

“Lalu kenapa mengambil dua juta? Bagianmu cuma lima ratus ribu.”

Dia tidak menjawab.

Itulah bagian yang penting.

Kesulitan keuangannya mungkin menjelaskan kenapa dia menyesali bagian miliknya.

Tetapi tidak menjelaskan hak yang dia berikan kepada dirinya sendiri untuk mengambil uang enam orang lain.

Setelah lama diam, Nita berkata, “Waktu lihat acaranya sederhana, aku merasa ini kesempatan untuk mengurangi. Aku pikir kalau tinggal Rp1,5 juta juga Hani enggak bakal tahu.”

“Dan dua juta itu bisa kamu pakai dulu.”

Dia tidak menjawab.

“Nit?”

“Iya.”

Jawaban itu nyaris berbisik.

Aku duduk di ruang tamu dengan lampu yang belum kunyalakan meski langit sudah gelap.

Akhirnya masalah itu menjadi jelas.

Bukan hanya karena Nita merasa hidangan Hani tidak sepadan dengan hadiah kami.

Itu memang pikiran pertamanya.

Tetapi setelah uang berada di tangannya, kebutuhan pribadi membuat keputusan buruk itu terasa semakin mudah dibenarkan.

Dia berkata pada dirinya sendiri uang itu masih milik kami.

Lalu bertindak seolah uang itu miliknya.

Aku tidak memaki.

Aku hanya berkata, “Besok beri tahu semuanya di grup. Jangan suruh aku yang menjelaskan.”

“Aku malu.”

“Hani tiga hari ini juga malu karena mengira kami merendahkan pernikahannya.”

Nita tidak menjawab.

“Kalau kamu mau masalah ini selesai, mulai dari mengatakan yang sebenarnya.”

Pagi berikutnya, Nita mengirim pesan panjang di grup.

Tidak terlalu panjang, sebenarnya. Tetapi dari Nita yang biasanya menjawab dengan dua atau tiga baris, pesan itu terasa berbeda.

Dia mengaku mengambil Rp2 juta tanpa persetujuan kami.

Dia mengaku memakai Rp1,4 juta untuk tagihan pribadinya.

Dia juga mengaku bahwa alasannya tentang makanan bukan seluruh kebenaran. Sejak awal dia sebenarnya menyesal ikut menyepakati Rp500.000 karena keuangannya sedang sempit.

“Aku tidak berani bilang karena takut dianggap pelit,” tulisnya. “Waktu lihat acaranya sederhana, aku menjadikan itu alasan untuk melakukan sesuatu yang seharusnya tidak kulakukan.”

Tidak ada orang yang langsung membalas.

Beberapa menit kemudian Dimas menulis:

Terima kasih sudah jujur. Sekarang bagaimana rencanamu mengembalikan uangnya?

Nita menjawab:

Aku punya Rp600.000 sekarang. Sisanya setelah gajian tanggal 25.

Tanggal 25 masih sembilan hari lagi.

Maya bertanya:

Hani sudah kamu hubungi?

Belum.

Hubungi dia sendiri.

Lama sekali Nita tidak menjawab.

Kemudian hanya muncul:

Iya.

Siang itu Hani mengirim pesan kepadaku.

Nita meneleponnya.

Aku tidak bertanya isi percakapannya. Hani juga tidak langsung menceritakan.

Baru malamnya dia berkata, “Nita minta maaf.”

“Bagaimana?”

“Berantakan.”

Aku bisa mendengar senyum kecil dalam suaranya.

“Dia awalnya malah menjelaskan harga katering, biaya per tamu, dan segala macam. Aku bilang aku enggak menelepon soal itu.”

Aku ikut tersenyum pahit.

“Terus?”

“Aku tanya satu hal.”

“Apa?”

“Aku tanya, kalau acaraku di hotel dan makanannya mahal, apakah dia tidak akan mengambil uang itu?”

Aku terdiam.

“Apa jawabannya?”

“Dia bilang mungkin tidak.”

Jawaban itu terasa lebih buruk daripada seribu alasan.

Hani melanjutkan, “Jadi aku bilang masalahnya bukan aku menikah sederhana. Masalahnya dia merasa boleh menentukan berapa harga persahabatan kami setelah melihat isi piring.”

Aku tahu Hani tidak biasa berbicara sekeras itu.

Mungkin justru karena itu Nita akhirnya tidak punya jawaban.

“Aku juga bilang soal uang pribadi yang dia pakai,” kata Hani. “Dia minta waktu sampai gajian.”

“Kamu mau menerima transfernya?”

Hani diam sebentar.

“Iya.”

Aku sempat terkejut.

“Maksudku, uang itu memang dari awal kalian berikan. Kalau aku menolak hanya supaya kelihatan tidak peduli uang, malah jadi aneh.”

Jawabannya terdengar sangat Hani.

“Tapi aku bilang dia tidak perlu menambahkan apa pun. Tidak perlu bunga, tidak perlu ganti lebih. Cukup kembalikan yang diambil.”

Hari itu Nita mentransfer Rp600.000 kepada Hani.

Dia mengirim bukti transfer di grup.

Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada ucapan “masalah selesai”.

Karena memang belum selesai.

Rp1,4 juta masih belum dikembalikan, dan jauh lebih banyak daripada uang yang harus diperbaiki adalah cara kami memandang Nita.

Untuk pertama kalinya sejak SMA, ketika ada rencana bersama, tak seorang pun berkata, “Biar Nita yang pegang uang.”

Seminggu kemudian kami merencanakan menjenguk ibu Sari yang baru pulang dari rumah sakit.

Dimas membuat rekening sementara atas namanya sendiri untuk biaya buah dan bingkisan.

Nita membaca percakapan itu.

Dia tidak menawarkan diri.

Aku tidak tahu apakah dia sadar kenapa.

Tanggal 25 pagi, tepat pukul delapan lewat beberapa menit, grup berbunyi.

Nita mengirim bukti transfer Rp1,4 juta ke rekening Hani.

Lalu menulis:

Sudah lunas Rp2 juta. Aku minta maaf.

Hani membalas sekitar satu jam kemudian.

Sudah masuk. Terima kasih sudah mengembalikan.

Hanya itu.

Aku merasa justru dua kalimat sederhana itu menunjukkan jarak yang sekarang ada di antara mereka.

Sebelum pernikahan, Hani biasanya memanggil Nita dengan nama panggilan lama dari sekolah.

Sekarang tidak.

Dua minggu kemudian, Hani mengundang kami datang ke rumah kontrakan yang baru ditempatinya bersama suaminya.

Bukan acara besar. Dia hanya bilang kalau kebetulan ada yang sedang di sekitar Klaten, mampirlah minum teh.

Aku, Sari, Maya, dan Dimas datang.

Nita tidak.

Dia mengatakan ada pekerjaan akhir bulan.

Aku tidak tahu apakah itu benar atau alasan.

Aku tidak bertanya.

Rumah Hani kecil, dua kamar dengan ruang depan yang sekaligus menjadi ruang makan. Di sudut dapur ada kulkas dua pintu yang masih ditempeli stiker toko.

Sari menunjuk.

“Baru?”

Hani tertawa.

“Iya. Hasil amplop.”

Kami semua otomatis diam.

Hani langsung menyadarinya.

“Jangan pasang muka begitu.”

Dia membuka kulkas dan mengeluarkan air dingin.

“Aku memang dari awal sama suami sudah sepakat, sebagian uang pernikahan mau dipakai beli kulkas. Kalau kurang ya kami tambahkan dari tabungan.”

Dia kemudian menatap kami.

“Aku cerita bukan supaya kalian merasa uang kalian penting sekali. Justru supaya kalian tahu aku baik-baik saja.”

Dimas mengangguk.

Tetapi aku masih menyimpan satu pertanyaan.

“Han, kamu marah sama Nita?”

Hani menaruh gelas di meja.

“Marah.”

Jawabannya langsung.

“Tapi aku juga enggak mau menghabiskan energi buat menghukum dia.”

“Kalian masih berteman?”

Hani berpikir beberapa detik.

“Aku enggak tahu.”

Tak seorang pun menyela.

“Kalau ketemu aku tetap akan menyapa. Kalau dia sakit dan butuh bantuan, mungkin aku tetap peduli. Tapi kalau kamu tanya apakah setelah ini aku akan menitipkan sesuatu yang penting kepadanya seperti dulu…”

Hani menggeleng.

“Belum.”

Bukan “tidak pernah”.

Belum.

Aku justru merasa kata itu lebih adil.

Beberapa hari setelah kunjungan kami, Nita menghubungiku.

“Menurutmu Hani masih marah?”

“Masih.”

“Dia ngomong apa?”

Aku tidak ingin menjadi kurir gosip.

“Kalau mau tahu, tanyakan sendiri.”

Nita terdiam.

“Aku takut dia enggak mau bicara.”

“Mungkin.”

“Terus aku harus bagaimana?”

Aku memikirkan pertanyaan itu.

Dulu, kami mungkin langsung mencarikan jalan keluar untuk Nita. Mengajak Hani bicara. Membuat pertemuan. Mengatakan bahwa persahabatan sudah lama, jangan rusak hanya karena uang.

Sekarang aku tidak mau.

“Kasih dia waktu.”

“Hanya itu?”

“Dan jangan minta dia cepat memaafkan hanya supaya kamu merasa lebih enak.”

Nita tidak menjawab.

Sebulan kemudian, kami akhirnya bertemu lengkap bertujuh.

Bukan karena sengaja mengadakan “pertemuan penyelesaian”.

Ayah salah satu teman kami meninggal dunia, dan seperti banyak peristiwa dalam hidup setelah kami beranjak dewasa, duka membuat jadwal yang biasanya mustahil tiba-tiba bisa disesuaikan.

Kami datang melayat.

Hani datang bersama suaminya.

Nita sudah ada di sana.

Aku melihat saat mereka pertama kali bertemu.

Nita berdiri.

“Hani.”

“Hai.”

Tidak ada pelukan.

Tidak ada adegan dramatis.

Mereka hanya saling mengangguk.

Setelah selesai melayat dan sebelum pulang, kami duduk sebentar di warung dekat jalan.

Percakapan awalnya biasa saja.

Sekolah anak.

Pekerjaan.

Harga kebutuhan rumah.

Lalu ketika Dimas membayar minuman, dia mengeluarkan uang tunai dan berkata bercanda, “Yang ini jangan bikin laporan tujuh lembar.”

Semua tertawa refleks.

Semua kecuali Nita.

Dimas langsung sadar.

“Maaf. Bercanda jelek.”

Nita menggeleng.

“Enggak apa-apa.”

Beberapa menit kemudian dia memandang Hani.

“Aku boleh ngomong sebentar?”

Hani mengangguk.

Nita tidak membuat pidato.

Dia hanya berkata, “Aku waktu itu minta maaf karena uangnya. Tapi setelah dipikir-pikir, aku belum minta maaf karena bikin kamu merasa acara kamu kurang pantas.”

Hani memandangnya.

“Aku memang sempat merasa begitu.”

“Aku tahu sekarang.”

Nita meremas ujung tisu di tangannya.

“Waktu itu aku benar-benar melihat makananmu dan menghitung. Bukan karena ada yang salah dengan acaranya. Aku sedang panik soal uangku sendiri, terus mencari alasan supaya yang kulakukan terasa masuk akal.”

Hani tidak langsung menjawab.

Nita melanjutkan, “Aku juga sadar, kalau aku cuma ambil bagian lima ratus ribuku sendiri pun tetap salah karena kita sudah sepakat. Apalagi aku ambil uang kalian semua.”

Aku melihat Dimas menunduk. Maya memegang gelas dengan kedua tangan.

Tak ada yang membantu Nita menyelesaikan kalimatnya.

Dia harus menyelesaikannya sendiri.

“Aku tidak minta kita kembali seperti dulu sekarang,” katanya. “Aku cuma mau kamu tahu aku paham kenapa kamu marah.”

Hani mengangguk pelan.

“Terima kasih sudah bilang begitu.”

Nita terlihat seperti ingin menambahkan sesuatu, lalu mengurungkan niat.

Menurutku itu pertama kalinya sejak masalah ini terjadi dia benar-benar meminta maaf tanpa langsung menempelkan penjelasan di belakangnya.

Tidak ada pelukan setelah itu.

Tidak ada musik.

Tidak ada satu kalimat yang membuat semuanya pulih.

Kami pulang ke kehidupan masing-masing.

Persahabatan orang dewasa ternyata tidak sesederhana dulu, ketika pertengkaran bisa selesai karena duduk sebangku lagi keesokan paginya.

Beberapa hal memang bisa dimaafkan tetapi tetap mengubah cara kita mempercayai seseorang.

Tiga bulan kemudian, grup SMA kami kembali ramai karena Maya mengabarkan adiknya akan menikah.

“Siapa yang ikut?” tulisnya.

Beberapa orang menjawab.

Lalu muncul pertanyaan yang dulu terasa sangat biasa:

Amplop bareng atau sendiri-sendiri?

Tak ada yang langsung menjawab.

Akhirnya Nita menulis:

Masing-masing saja lebih enak.

Aku membaca pesan itu cukup lama.

Dimas memberi tanda jempol.

Sari menyusul.

Tidak ada sindiran.

Tidak ada yang mengungkit pernikahan Hani.

Sejak kejadian itu, kami memang berhenti mengumpulkan amplop bersama.

Kalau ada yang menikah, masing-masing memberi sesuai kemampuan.

Tidak ada nominal yang harus disamakan.

Kalau seseorang sedang kesulitan, dia bisa memberi lebih sedikit tanpa harus malu.

Anehnya, aturan tidak tertulis itu justru membuat hubungan kami lebih nyaman.

Kami baru sadar bahwa persoalan awal sebenarnya bukan Rp500.000.

Masalahnya adalah ketika seseorang merasa harus ikut jumlah tertentu hanya demi gengsi, lalu mencari cara diam-diam untuk mengambil kembali kendali.

Nita juga berubah dalam beberapa hal yang bisa terlihat.

Dia tidak lagi menjadi bendahara otomatis setiap kali kami mengumpulkan uang. Kalau ada biaya bersama, jumlah dan penggunaan ditulis terbuka di grup.

Kadang dia yang pertama mentransfer.

Kadang bukan.

Tak seorang pun memberikan pujian khusus untuk itu.

Kepercayaan bukan penghargaan yang diberikan karena seseorang melakukan satu hal benar setelah satu hal salah.

Ia kembali sedikit demi sedikit, kalau memang kembali.

Hubungan Nita dengan Hani juga tidak langsung pulih.

Mereka tidak lagi sering mengobrol pribadi.

Tetapi enam bulan setelah pernikahan, ketika Hani mengirim foto hasil pemeriksaan ibunya yang harus menjalani operasi kecil, Nita termasuk orang pertama yang bertanya apakah ada yang bisa dibantu.

Hani menjawab:

Doakan saja dulu. Terima kasih.

Nita tidak memaksa.

Beberapa bulan kemudian, saat kami kembali bertemu, Hani duduk satu meja dengannya tanpa suasana kaku seperti sebelumnya.

Itu saja.

Tidak lebih.

Dan menurutku memang seharusnya begitu.

Tidak semua kesalahan berat harus berakhir dengan putus hubungan selamanya.

Tetapi tidak semua permintaan maaf juga wajib mengembalikan kedekatan seperti sebelum kejadian.

Suatu sore hampir setahun setelah pernikahan Hani, aku mampir ke rumahnya setelah ada urusan di daerah sana.

Kulkas yang dulu dibelinya dari uang amplop masih berdiri di sudut dapur.

Di pintunya sekarang ada magnet kecil, jadwal pembayaran listrik, dan foto Hani bersama suaminya di depan rumah kontrakan mereka.

Kami minum teh sambil membicarakan hal lain.

Sebelum aku pulang, Hani mengambil sebuah kotak dari lemari.

Di dalamnya ada beberapa kartu ucapan pernikahan dan amplop yang dia simpan.

Aku mengenali amplop krem dengan tujuh nama kami di depannya.

“Masih kamu simpan?”

Hani tertawa.

“Yang ini sulit dibuang.”

Aku membuka mulut hendak meminta maaf lagi.

Hani langsung menggeleng.

“Sudah.”

Dia memasukkan amplop itu kembali ke kotak.

Struk ATM tidak ada lagi di dalamnya.

“Aku buang struknya,” katanya. “Enggak perlu disimpan.”

Lalu dia menutup kotak dan mengembalikannya ke lemari.

Amplopnya tetap ada.

Bukan sebagai bukti berapa uang yang pernah kami berikan, tetapi sebagai pengingat bahwa satu keputusan kecil yang dilakukan diam-diam bisa mengubah cara tujuh orang memandang persahabatan mereka.

Ketika aku keluar, Hani mengunci pintu rumahnya lalu memasukkan kunci ke saku sendiri.

Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, aku merasa cerita tentang amplop pernikahannya benar-benar selesai.

Menurutmu, apakah Hani benar menerima kembali uang yang sempat diambil Nita, tetapi tetap menjaga jarak darinya?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.