Kebohongan Rina Akhirnya Terbongkar, Namun Sebuah Rekaman Lama Naya Membuka Rahasia yang Jauh Lebih Menyakitkan bagi Ratih dan Maya

Avatar penulis
Cerita 05
5 menit baca 296 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — Kebohongan Rina Akhirnya Terbongkar, Namun Sebuah Rekaman Lama Naya Membuka Rahasia yang Jauh Lebih Menyakitkan bagi Ratih dan Maya

Tatapan Rina kepada Naya membuat darahku seakan berhenti mengalir.

Aku segera berdiri di depan tempat tidur, menghalangi pandangannya.

—Jangan tatap cucuku seperti itu.

Rina tersentak.

—Kak, aku tidak melakukan apa-apa.

—Kalau begitu jawab pertanyaanku. Rekening 4726 itu milik siapa?

Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Saat itulah pintu klinik kembali terbuka. Seorang perawat masuk dan meminta kami tidak membuat keributan karena Naya membutuhkan istirahat.

Rina memanfaatkan kesempatan itu.

—Kita bicara di luar saja.

Dia berjalan cepat meninggalkan ruangan.

Aku hampir mengikutinya, tetapi Naya tiba-tiba menggenggam tanganku.

—Nenek jangan pergi.

Tangannya dingin.

Aku kembali duduk.

—Nenek di sini.

Naya memandang pintu beberapa saat sebelum berbisik:

—Naya takut sama Nenek Rina.

Dadaku langsung sesak.

—Kenapa?

Naya ragu-ragu, lalu mengambil ponsel lamanya dari dalam tas sekolah.

Ponsel itu sebenarnya bekas milik ayahnya. Tidak ada kartu SIM, tetapi masih bisa digunakan untuk memotret dan merekam video.

Naya membuka sebuah folder.

—Dulu Naya mau merekam video untuk Mama.

Dia menunjukkan sebuah rekaman sekitar tujuh bulan lalu.

Gambarnya bergoyang-goyang. Kamera mengarah ke ruang tengah rumah kami. Aku tidak terlihat karena hari itu sedang berjualan di pasar.

Namun Rina terlihat jelas.

Dia membuka laci lemari, mengambil dompetku, lalu mengeluarkan kartu ATM.

Beberapa detik kemudian dia memotret kartu tersebut menggunakan ponselnya.

Tanganku mulai gemetar.

—Kenapa kamu tidak pernah memberi tahu Nenek?

Mata Naya berkaca-kaca.

—Naya pernah mau bilang. Tapi Nenek Rina bilang dia cuma membantu Nenek mengecek rekening. Dia bilang kalau Naya menuduh orang dewasa mencuri, Mama akan marah.

Aku memeluk Naya erat.

Saat itu aku baru sadar bahwa selama dua tahun, bukan hanya aku dan Maya yang menjadi korban kebohongan.

Seorang anak kecil pun dibuat takut untuk mengatakan apa yang dilihatnya.

Aku segera mengirim video tersebut kepada Maya.

Balasannya datang kurang dari satu menit kemudian.

"Bu, simpan semuanya. Jangan berikan ponsel itu kepada siapa pun. Aku hampir sampai."

Sekitar satu jam kemudian, Maya muncul di klinik.

Rambutnya berantakan. Wajahnya pucat dan seragam kerjanya bahkan belum sempat diganti.

Begitu melihat Naya, dia berlari dan memeluk putrinya.

—Maafkan Mama.

Naya yang selama ini terlihat kuat akhirnya menangis keras.

—Mama kenapa lama sekali pulang?

Maya tidak mampu menjawab.

Dia hanya memeluk anaknya semakin erat.

Aku berdiri beberapa langkah dari mereka.

Semua kemarahanku selama dua tahun mendadak berubah menjadi rasa bersalah.

Aku telah menganggap Maya sebagai ibu yang tega meninggalkan anaknya.

Sementara perempuan itu ternyata bekerja siang malam dan terus mengirim uang.

Maya menatapku.

—Bu, aku tidak pernah berniat meninggalkan Naya.

Aku menundukkan kepala.

—Aku juga salah. Seharusnya sejak awal aku bertanya dengan jelas.

Maya menggeleng.

—Bukan salah Ibu seorang.

Kemudian dia menunjukkan riwayat transfer lengkap.

Selama dua tahun, jumlah uang yang dikirimnya ternyata mencapai lebih dari seratus tiga puluh juta rupiah.

Sebagian untuk kebutuhan sehari-hari, sebagian untuk sekolah Naya, dan beberapa kali ada uang tambahan untuk biaya kesehatan serta perbaikan rumah.

Aku tidak pernah menerima semuanya.

Namun masalahnya belum selesai.

Kami pergi ke bank setelah kondisi Naya membaik.

Dengan bukti transfer yang dimiliki Maya, kami akhirnya mengetahui bahwa rekening 4726 memang atas nama Rina.

Maya langsung menangis ketika melihatnya.

—Waktu itu Bibi Rina sendiri yang mengirim nomor rekening ini kepadaku. Katanya rekening Ibu yang lama sudah bermasalah.

Aku teringat masa setelah kematian putraku.

Saat itu pikiranku kacau.

Rina memang sering membantu mengurus berbagai hal.

Dia pula yang mengatakan akan membantu mengurus rekening dan kartu ATM.

Aku terlalu mempercayainya.

Sore itu kami pulang bersama.

Ketika sampai di depan rumah, sudah ada beberapa orang berdiri di halaman.

Rina berada di tengah mereka bersama suami dan anak laki-lakinya.

Wajahnya tegang.

Begitu melihat kami, dia langsung menghampiri.

—Kak, kita keluarga. Jangan memperbesar masalah ini.

Aku hampir tertawa mendengarnya.

—Keluarga?

Aku menunjukkan bukti transaksi.

—Selama dua tahun aku berjualan makanan dari pagi, menerima cucian malam-malam, bahkan menjual mesin jahit peninggalan suamiku. Sementara uang untuk cucuku masuk ke rekeningmu. Sekarang kamu bicara tentang keluarga?

Rina mulai menangis.

Dia mengaku awalnya hanya berniat "meminjam" uang.

Suaminya memiliki utang usaha.

Bulan pertama, dia mengambil sebagian.

Bulan berikutnya, dia mengambil lagi.

Lama-kelamaan dia tidak bisa berhenti.

Agar kebohongannya tidak terbongkar, dia sengaja mengatakan kepadaku bahwa Maya tidak peduli pada kami.

Pada saat yang sama, dia mengatakan kepada Maya bahwa aku menerima seluruh uang tetapi terlalu boros.

Dengan begitu, kami berdua saling menyalahkan dan tidak pernah membandingkan cerita.

—Aku akan mengembalikannya, Kak.

—Berapa yang masih tersisa?

Rina terdiam.

Maya maju selangkah.

—Berapa?

Suami Rina akhirnya berkata pelan:

—Sekitar dua puluh juta.

Aku merasa lututku hampir lemas.

Lebih dari seratus juta telah digunakan.

Sebagian untuk membayar utang.

Sebagian menjadi modal toko.

Sebagian lagi untuk kebutuhan keluarga mereka.

Maya menggenggam tanganku.

Untuk pertama kalinya setelah dua tahun, kami berdiri di sisi yang sama.

Aku menatap Rina.

—Besok kita selesaikan ini secara resmi.

Rina langsung berlutut.

—Kak!

Aku mundur.

—Aku tidak ingin balas dendam. Tapi uang itu milik Naya. Kamu mengambil uang makan, uang sekolah, dan masa depan seorang anak.

Malam itu Rina dan keluarganya pulang.

Namun sebelum pergi, anak laki-lakinya diam-diam mendekati Maya.

Dia memberikan sebuah amplop cokelat.

—Mbak Maya, Ibu tidak tahu aku menemukan ini.

Di dalamnya terdapat beberapa bukti penarikan, catatan transfer, dan sebuah buku kecil.

Pada halaman terakhir terdapat daftar angka yang ditulis tangan.

Maya menghitungnya.

Lalu wajahnya berubah.

—Bu…

—Kenapa?

Dia menunjukkan jumlah terakhir kepadaku.

Rp186.500.000.

Aku membeku.

Jumlah itu jauh lebih besar daripada total uang yang Maya kirimkan.

Di samping angka tersebut terdapat tulisan kecil:

"Uang asuransi kecelakaan Ardi."

Ardi adalah putraku.

Ayah Naya.

Tanganku langsung kehilangan tenaga.

Dua tahun lalu, Rina pernah mengatakan kepadaku bahwa klaim asuransi Ardi ditolak karena dokumennya tidak lengkap.

Aku mempercayainya.

Tetapi sekarang, sebuah kemungkinan mengerikan muncul di kepalaku.

Aku menatap Maya.

Maya juga menatapku.

Kami menyadari hal yang sama.

Uang kiriman bulanan bukan satu-satunya uang yang telah disembunyikan Rina.

Ada uang lain.

Uang yang seharusnya menjadi hak Naya sejak ayahnya meninggal.

Dan jumlahnya mungkin jauh lebih besar.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)