Setelah Seluruh Kebenaran Terungkap, Ratih dan Maya Memilih Memulihkan Keluarga serta Mengubah Warisan Ardi Menjadi Masa Depan Naya

Avatar penulis
Cerita 05
8 menit baca 408 tayangan
Indeks

BAGIAN 3 — Setelah Seluruh Kebenaran Terungkap, Ratih dan Maya Memilih Memulihkan Keluarga serta Mengubah Warisan Ardi Menjadi Masa Depan Naya

Keesokan paginya, aku, Maya, dan seorang kerabat yang kami percaya pergi mencari penjelasan tentang catatan asuransi Ardi.

Kali ini aku tidak mau melakukan kesalahan yang sama.

Aku tidak lagi menyerahkan semuanya kepada orang lain.

Aku mendengarkan setiap penjelasan dengan teliti dan menyimpan semua bukti yang masih tersedia.

Beberapa hari berikutnya terasa panjang.

Namun perlahan-lahan semuanya menjadi jelas.

Setelah Ardi meninggal, memang ada pembayaran manfaat yang berkaitan dengan perlindungan kecelakaan dari tempat kerjanya.

Pada masa itu kondisiku sangat terpukul.

Maya juga masih berduka sambil mengurus Naya yang baru kehilangan ayah.

Rina menawarkan diri membantu berbagai urusan.

Kami mempercayainya.

Kepercayaan itulah yang kemudian dimanfaatkan.

Sebagian uang ternyata pernah masuk melalui rekening yang pengurusannya dibantu Rina.

Dari catatan yang berhasil kami kumpulkan, jumlah yang telah digunakan tanpa sepengetahuanku jauh lebih besar daripada yang semula kami kira.

Ketika bukti-bukti diletakkan di hadapannya, Rina tidak lagi mampu menyangkal.

Dia menangis.

Kali ini aku tidak berteriak.

Aku justru merasa sangat lelah.

—Kenapa, Rina?

Dia menutup wajah.

—Awalnya aku cuma ingin menyelamatkan usaha suamiku. Aku pikir nanti kalau keadaan membaik, uangnya akan kukembalikan.

—Lalu?

—Usahanya gagal. Utangnya bertambah. Kemudian uang Maya mulai masuk setiap bulan. Aku mengambilnya sedikit demi sedikit.

Aku menatap perempuan yang sudah kukenal puluhan tahun itu.

—Lalu supaya tidak ketahuan, kamu membuat aku membenci Maya.

Rina menangis semakin keras.

—Aku takut.

—Dan kamu membuat Maya berpikir aku menghabiskan uangnya.

Dia tidak menjawab.

Diamnya sudah cukup.

Aku akhirnya mengerti bagaimana kebohongan itu bertahan begitu lama.

Setiap kali aku mengeluh kekurangan uang, Maya mengira aku terlalu boros karena menurutnya jutaan rupiah sudah dikirim setiap bulan.

Setiap kali Maya jarang menelepon karena bekerja, Rina mengatakan kepadaku bahwa menantuku sedang menikmati kehidupan barunya.

Kami tidak pernah benar-benar duduk dan berbicara.

Kami hanya menerima cerita dari orang ketiga.

Hari itu aku membuat keputusan.

Aku tidak ingin menutupi semuanya hanya demi menjaga nama baik keluarga.

Tetapi aku juga tidak ingin hidupku selanjutnya habis untuk kebencian.

Semua harus diselesaikan dengan jelas dan melalui jalur yang semestinya.

Toko yang dibangun menggunakan sebagian uang tersebut akhirnya dijual.

Beberapa aset keluarga Rina juga dilepaskan untuk mengembalikan sebanyak mungkin uang yang menjadi hak kami.

Untuk bagian yang belum mampu dikembalikan sekaligus, dibuat kesepakatan pembayaran yang jelas.

Hubunganku dengan Rina tentu tidak mungkin kembali seperti dahulu.

Aku memaafkan bukan berarti melupakan.

Aku hanya memilih agar kemarahanku tidak mengambil sisa hidupku.

Namun perubahan terbesar justru terjadi antara aku dan Maya.

Suatu malam, beberapa minggu setelah semuanya mulai selesai, kami duduk berdua di dapur.

Naya sudah tidur.

Maya tiba-tiba berkata:

—Bu, aku mau minta maaf.

Aku menatapnya.

—Untuk apa?

—Aku seharusnya lebih sering pulang. Seharusnya aku mengecek keadaan Ibu dan Naya secara langsung. Aku terlalu sibuk bekerja sampai berpikir selama aku mengirim uang, semuanya pasti baik-baik saja.

Matanya memerah.

—Aku gagal melihat kalau keluarga bukan cuma soal mengirim uang.

Aku terdiam cukup lama.

Kemudian aku menggenggam tangannya.

—Aku juga minta maaf.

Maya menggeleng.

Aku melanjutkan:

—Aku terlalu cepat menganggapmu sudah melupakan Naya. Aku marah, tetapi bukannya bertanya langsung, aku malah menyimpan semuanya sendiri. Kalau kita bicara sejak awal, kebohongan itu tidak mungkin bertahan dua tahun.

Maya menangis.

Aku pun ikut menangis.

Tetapi malam itu berbeda.

Air mata kami bukan lagi air mata kemarahan.

Untuk pertama kalinya sejak Ardi meninggal, rasanya kami benar-benar menjadi keluarga lagi.

Maya kemudian membuat keputusan besar.

Dia tidak kembali ke pekerjaan lamanya.

Dengan pengalaman bertahun-tahun bekerja di restoran, dia ingin membuka usaha makanan kecil di dekat rumah.

Aku sempat menolak.

—Kamu sudah punya pekerjaan tetap.

Maya tersenyum.

—Aku kehilangan terlalu banyak waktu bersama Naya. Uang bisa dicari lagi, Bu. Masa kecil Naya tidak bisa diulang.

Sebagian uang yang berhasil dikembalikan kami simpan khusus untuk pendidikan Naya.

Tidak boleh digunakan untuk kebutuhan lain.

Sebagian kecil lainnya dipakai Maya sebagai modal.

Kami menyewa kios sederhana dekat pasar.

Maya memasak nasi kuning, ayam bumbu, sayur, dan beberapa lauk rumahan.

Aku membuat pisang goreng dan kue yang dulu kujual di depan pasar.

Kami menamai tempat itu "Dapur Naya".

Hari pertama hanya ada sebelas pembeli.

Hari kedua tujuh belas.

Sebulan kemudian, pekerja kantor di sekitar pasar mulai menjadi pelanggan tetap.

Maya memasak.

Aku menjaga kasir.

Sepulang sekolah, Naya duduk di sudut kios mengerjakan pekerjaan rumah.

Kadang-kadang dia berdiri di dekatku dan berbisik:

—Nenek, nanti kalau Naya besar, Naya yang belikan Nenek rumah besar.

Aku tertawa.

—Tidak perlu rumah besar. Belajar yang rajin saja.

—Kalau begitu Naya jadi dokter.

—Kenapa dokter?

Dia menjawab polos:

—Supaya kalau Nenek sakit, Nenek tidak perlu takut bayar.

Aku langsung terdiam.

Kalimat sederhana itu mengingatkanku betapa berat kehidupan yang pernah dilihat seorang anak berusia delapan tahun.

Aku memeluknya.

—Mulai sekarang kamu tidak perlu memikirkan uang. Itu urusan orang dewasa.

Setahun berlalu.

"Dapur Naya" berkembang jauh lebih baik daripada perkiraan kami.

Kami bahkan mempekerjakan dua perempuan dari lingkungan sekitar.

Maya akhirnya bisa mengantar Naya ke sekolah setiap pagi.

Aku tidak perlu lagi bangun sebelum matahari terbit untuk berjualan sendirian.

Tubuhku yang dulu kurus perlahan kembali sehat.

Suatu sore, saat kami hendak menutup kios, seorang perempuan berdiri di seberang jalan.

Rina.

Dia terlihat jauh lebih sederhana daripada dahulu.

Tidak ada tas mahal.

Tidak ada ponsel baru.

Dia hanya membawa sebuah kantong kecil.

Rina tidak berani masuk.

Aku menatapnya beberapa saat, kemudian keluar.

Dia menyerahkan sebuah amplop.

—Cicilan bulan ini.

Aku menerimanya.

Rina menunduk.

—Kak… aku tahu mungkin Kakak tidak akan percaya lagi kepadaku.

Aku tidak menjawab.

—Aku cuma ingin bilang aku menyesal.

Aku memandangnya lama.

—Rina, aku tidak tahu apakah hubungan kita bisa kembali seperti dulu.

Dia mengangguk dengan mata merah.

—Aku mengerti.

—Tapi selama kamu benar-benar bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan, aku tidak akan mengajarkan Naya untuk membencimu.

Rina menangis.

Aku berbalik dan masuk kembali.

Mungkin itulah bentuk maaf yang mampu kuberikan saat itu.

Bukan melupakan.

Bukan berpura-pura tidak pernah terjadi apa-apa.

Melainkan berhenti mewariskan kebencian kepada generasi berikutnya.

Beberapa bulan kemudian, Naya mendapatkan nilai tertinggi di kelasnya.

Dia berlari pulang membawa hasil ujian.

—Mama! Nenek!

Maya keluar dari dapur dengan tangan masih memegang sendok kayu.

Aku bangkit dari kursi kasir.

Naya berdiri di tengah kami sambil mengangkat kertas hasil ujian tinggi-tinggi.

—Naya nomor satu!

Maya langsung memeluknya.

Aku ikut memeluk mereka.

Kami bertiga tertawa sampai pelanggan yang sedang makan ikut tersenyum melihat kami.

Di dinding kios tergantung sebuah foto lama.

Foto Ardi sedang menggendong Naya ketika masih bayi.

Aku memandangnya.

Untuk sesaat, rasanya putraku masih berada di sana.

Aku tidak lagi bertanya mengapa hidup mengambilnya terlalu cepat.

Aku hanya berkata dalam hati:

"Ardi, jangan khawatir. Anakmu baik-baik saja."

Malam itu setelah kios tutup, kami makan bersama.

Ada ayam goreng, sayur hangat, ikan, tahu, buah, dan semangkuk sup kesukaan Naya.

Aku memandang meja yang penuh makanan.

Tiba-tiba aku teringat masa ketika harus menghitung uang receh hanya untuk membeli telur.

Maya menyadari aku melamun.

—Bu, kenapa?

Aku tersenyum.

—Tidak apa-apa. Ibu cuma merasa rumah ini akhirnya seperti rumah lagi.

Maya menggenggam tanganku.

Naya meletakkan tangannya di atas tangan kami.

—Berarti kita bertiga tidak boleh berpisah lagi.

Aku tertawa.

—Suatu hari kamu tetap harus besar dan punya kehidupan sendiri.

Naya langsung menggeleng.

—Tapi Naya tetap pulang.

Kalimat itu membuat kami terdiam.

Kemudian Maya mencium kepala putrinya.

—Ya. Sesibuk apa pun, kita harus tetap pulang.

Aku mengangguk.

Karena setelah semua yang kami alami, akhirnya aku memahami satu hal.

Keluarga tidak hancur hanya karena kekurangan uang.

Keluarga juga tidak menjadi utuh hanya karena memiliki banyak uang.

Yang hampir menghancurkan kami adalah diam, prasangka, dan kepercayaan yang diberikan kepada orang yang salah.

Sedangkan yang menyatukan kami kembali hanyalah sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana.

Kami akhirnya mau duduk bersama.

Saling bertanya.

Saling mendengarkan.

Dan mengatakan kebenaran.

Dua tahun lalu, aku mengira Maya telah meninggalkan anaknya.

Maya mengira aku telah menerima seluruh uang yang dikirimkannya.

Naya mengira dia harus diam agar orang dewasa tidak bertengkar.

Kami bertiga hidup di bawah satu kebohongan yang sama.

Sekarang semuanya sudah berubah.

Uang yang seharusnya menjadi milik Naya perlahan kembali.

Maya mendapatkan kesempatan kedua untuk menjadi ibu yang hadir dalam kehidupan putrinya.

Aku mendapatkan kembali menantu yang selama ini kukira telah berubah menjadi orang asing.

Dan Naya akhirnya memiliki sesuatu yang jauh lebih penting daripada uang yang pernah hilang.

Dia mendapatkan kembali keluarganya.

Malam semakin larut.

Sebelum tidur, aku mematikan lampu ruang makan.

Dari kamar sebelah terdengar suara Maya membantu Naya belajar sambil sesekali tertawa.

Aku berdiri di depan foto Ardi.

Kali ini aku tersenyum.

—Anakmu tidak sendirian lagi.

Kemudian aku menutup pintu.

Di luar, jalan kecil di depan rumah sudah sunyi.

Namun di dalam rumah kami, lampu kamar Naya masih menyala hangat.

Dan setelah perjalanan panjang yang dipenuhi kehilangan, kesalahpahaman, serta air mata, akhirnya aku menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu berarti mendapatkan kembali semua yang pernah hilang.

Kadang-kadang kebahagiaan adalah ketika orang-orang yang masih kita miliki akhirnya menemukan jalan untuk kembali satu sama lain.