BAGIAN 3 — ARDI TIDAK MEMINTA KESEMPATAN KEDUA SEBAGAI SUAMI, NAMUN SETAHUN KEMUDIAN RAKA MEMBERINYA SEBUAH JAWABAN TAK TERDUGA
Keesokan paginya, ketika aku membuka gerobak nasi uduk seperti biasa, seseorang sudah duduk di bangku plastik depan warung.
Ardi.
Dia datang pukul lima pagi.
Tanpa mobil mewah.
Tanpa membawa hadiah.
Hanya mengenakan kemeja sederhana dan membawa tongkatnya.
Aku menatapnya.
—Untuk apa datang?
—Sarapan.
Aku hampir tertawa karena kesal.
—Di tempat lain banyak yang jual nasi uduk.
—Tapi anakku bilang nasi uduk ibunya paling enak.
Aku menoleh.
Raka yang sedang menyusun sendok langsung pura-pura tidak mendengar.
Hari pertama, Ardi hanya makan lalu pergi.
Hari kedua dia datang lagi.
Hari ketiga juga.
Seminggu kemudian, dia mulai membantu mengangkat kursi.
Aku melarang karena kakinya belum pulih sempurna.
Dia hanya menjawab:
—Kalau begitu aku bungkus pesanan.
Perlahan aku mengetahui kehidupannya selama tujuh tahun terakhir.
Setelah meninggalkan rumah keluarganya, Ardi pergi ke pulau lain karena merasa tidak memiliki alasan untuk tinggal.
Dia bekerja sebagai pengawas lapangan, berpindah dari satu proyek ke proyek lain.
Cedera di kakinya tidak pernah pulih sepenuhnya.
Selama bertahun-tahun dia membawa keyakinan bahwa istri yang dicintainya telah meninggalkannya.
Sementara aku hidup dengan keyakinan bahwa suamiku mungkin telah meninggal.
Kami sama-sama kehilangan tujuh tahun.
Namun aku sadar sesuatu.
Ardi juga bersalah.
Dia terlalu mudah percaya.
Karena itu aku tidak langsung menerimanya kembali.
Aku membiarkannya menemui Raka, tetapi dengan batas yang jelas.
Dan Ardi menghormatinya.
Dia tidak pernah memaksa Raka memanggilnya Ayah.
Dia mulai dengan menjemput Raka dari sekolah dua kali seminggu.
Kemudian membantu mengerjakan PR.
Ketika sepeda Raka rusak, Ardi mengajaknya memperbaiki sepeda bersama daripada langsung membeli yang baru.
Suatu sore, aku melihat keduanya jongkok di depan rumah.
Tangan mereka sama-sama kotor terkena oli.
Raka tertawa.
Aku berdiri di balik pintu dan tiba-tiba menangis.
Itulah pertama kalinya aku melihat anakku tertawa bersama ayahnya.
Tiga bulan kemudian, Raka jatuh sakit.
Demamnya mencapai hampir empat puluh derajat.
Aku membawanya ke rumah sakit tengah malam.
Orang pertama yang tiba setelah menerima teleponku adalah Ardi.
Dia datang masih mengenakan pakaian kerja.
Malam itu dia duduk di depan kamar rawat sampai pagi.
Ketika Raka terbangun, tangan kecilnya mencari sesuatu.
—Ayah?
Aku membeku.
Ardi yang tertidur di kursi langsung terbangun.
—Ayah di sini.
Itulah pertama kalinya Raka memanggilnya Ayah.
Ardi menunduk dan menangis tanpa suara.
Aku berpaling ke jendela agar mereka tidak melihat mataku ikut basah.
Sementara itu, hubungan Ardi dengan ibu dan adiknya tidak pernah kembali seperti dahulu.
Dia tidak membalas dendam.
Tetapi dia meminta mereka bertanggung jawab.
Uang kompensasi yang dahulu diambil dikembalikan sedikit demi sedikit kepadaku dan Raka.
Aku sebenarnya tidak menginginkannya.
Namun Ardi berkata:
—Ini bukan hadiah. Itu memang hak kalian sejak awal.
Sebagian uang tersebut akhirnya kusimpan sebagai dana pendidikan Raka.
Adik Ardi juga harus menghadapi akibat dari kebohongannya.
Suaminya tidak membatalkan pernikahan, tetapi meminta keterbukaan penuh tentang masalah keuangan keluarga mereka.
Beberapa bulan kemudian, dia datang ke warungku sendirian.
Tidak memakai perhiasan mahal.
Tidak membawa ibunya.
Dia berdiri cukup lama sebelum berkata:
—Mbak… maafkan aku.
Aku tetap mengaduk nasi.
—Kenapa sekarang?
Dia menangis.
—Karena dulu aku pikir kalau Kak Ardi kembali kepada Mbak, aku akan kehilangan orang yang membiayai keluarga. Aku takut toko tutup. Aku takut hidup susah.
Aku menatapnya.
—Dan karena ketakutanmu, anakku kehilangan ayah selama tujuh tahun.
Dia menunduk.
—Aku tahu.
Aku tidak memeluknya.
Tidak mengatakan semuanya sudah selesai.
Aku hanya berkata:
—Aku tidak mau hidup dengan kebencian. Tapi memaafkan bukan berarti melupakan atau berpura-pura tidak pernah terjadi apa-apa.
Dia mengangguk sambil menangis.
—Aku mengerti.
Sejak hari itu, hubungan kami tidak menjadi dekat.
Namun setidaknya tidak ada lagi kebohongan.
Ibu mertua membutuhkan waktu lebih lama.
Hampir delapan bulan kemudian, beliau datang menemui Raka.
Kali ini tanpa tuntutan.
Beliau membawa satu kantong mangga dari kebun tetangga.
Raka berdiri di belakangku.
Perempuan tua itu menatap cucunya.
—Nenek tidak meminta kamu memanggil Nenek. Nenek hanya ingin meminta maaf.
Raka menatapku.
Aku membiarkannya memilih sendiri.
Akhirnya dia menerima kantong mangga itu.
—Terima kasih.
Hanya dua kata.
Namun ibu mertua langsung menangis.
Aku tahu luka tujuh tahun tidak mungkin sembuh dalam satu hari.
Tetapi setidaknya tidak ada seorang pun lagi yang memaksa korban melupakan luka demi mempertahankan kata “keluarga”.
Hampir setahun setelah Ardi kembali, hidup kami berubah.
Usaha nasi uduk yang dahulu hanya menggunakan gerobak kecil berkembang menjadi sebuah warung sederhana.
Aku menggunakan tabunganku sendiri untuk menyewa tempat.
Ardi membantu memperbaiki meja dan dapur, tetapi dia tidak mengambil alih usahaku.
Dia tahu warung itu adalah sesuatu yang kubangun ketika dirinya tidak ada.
Suatu malam setelah warung tutup, kami bertiga duduk di depan pintu.
Raka sedang mengerjakan tugas sekolah.
Tiba-tiba dia bertanya:
—Bu, Ayah sekarang tinggal sendiri, ya?
—Iya.
—Kenapa Ayah tidak tinggal sama kita?
Aku dan Ardi langsung saling memandang.
Ardi buru-buru berkata:
—Itu urusan orang dewasa.
Namun Raka mengernyit.
—Guru bilang kalau ada masalah harus dibicarakan, bukan dihindari.
Aku hampir tertawa.
Anak itu kemudian masuk ke dalam dan kembali membawa sebuah buku gambar.
Dia membuka halaman terakhir.
Di sana ada gambar sebuah rumah.
Tiga orang berdiri di depannya.
Aku.
Raka.
Dan Ardi dengan tongkatnya.
Di atas gambar itu tertulis dengan huruf besar:
RUMAH YANG TIDAK BOLEH ADA KEBOHONGAN.
Dadaku langsung sesak.
Raka menyerahkan gambar itu kepada Ardi.
—Aku tidak tahu dulu Ayah salah atau Nenek salah lebih banyak.
Dia lalu menatapku.
—Tapi aku tahu Ibu masih menyimpan foto Ayah di kotak bawah lemari.
Aku langsung salah tingkah.
Ardi menatapku dengan mata membesar.
Raka tersenyum nakal.
—Aku pernah lihat.
Kemudian dia berlari masuk.
Meninggalkan kami berdua dalam keheningan.
Ardi tertawa kecil.
—Anak kita ternyata lebih berani daripada aku.
Aku menatap jalan.
—Jangan terlalu senang. Satu gambar tidak berarti semuanya kembali seperti dulu.
—Aku tahu.
Ardi terdiam sebentar.
Kemudian dia berkata:
—Aku juga tidak ingin kembali seperti dulu.
Aku menoleh.
—Aku ingin kalau memang ada kesempatan, kita membangun sesuatu yang baru.
Tidak ada cincin.
Tidak ada bunga.
Tidak ada janji berlebihan.
Hanya seorang pria yang telah kehilangan tujuh tahun hidupnya dan sedang meminta kesempatan untuk tidak kehilangan tahun-tahun berikutnya.
—Aku tidak bisa langsung percaya seratus persen.
—Tidak apa-apa.
—Aku mungkin masih marah kalau mengingat masa lalu.
—Marahlah.
—Dan kalau suatu hari ada masalah, jangan pernah percaya perkataan orang lain sebelum bertanya langsung kepadaku.
Ardi tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
—Yang itu akan kuingat sampai mati.
Aku akhirnya tersenyum.
—Kalau begitu… kita coba pelan-pelan.
Ardi tidak langsung memelukku.
Dia hanya mengulurkan tangan di atas meja.
Aku memandang tangan itu beberapa detik sebelum meletakkan tanganku di atasnya.
Dari dalam rumah tiba-tiba terdengar suara Raka:
—Kalau sudah baikan, cepat masuk! Banyak nyamuk!
Kami berdua tertawa.
Enam bulan kemudian, kami mengadakan makan malam kecil di warung.
Tidak ada pesta besar.
Tidak ada ratusan tamu.
Hanya beberapa teman dekat dan orang-orang yang pernah membantu kami melewati masa sulit.
Ibu mertua datang paling akhir.
Beliau berhenti di depan pintu.
Aku menatapnya.
Untuk sesaat, aku teringat hari ketika aku diusir dari rumah dalam keadaan hamil delapan bulan.
Aku tidak melupakan hari itu.
Mungkin tidak akan pernah.
Namun kali ini aku tidak melihat perempuan yang memiliki kuasa untuk menentukan hidupku.
Aku hanya melihat seorang perempuan tua yang harus hidup dengan konsekuensi dari kesalahannya sendiri.
Aku membuka pintu lebih lebar.
—Masuklah. Raka menunggu.
Matanya memerah.
—Terima kasih.
Malam itu, Raka duduk di tengah-tengah kami.
Ardi mengambil nasi untukku.
Aku mengambil lauk untuk Raka.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, meja makan tidak dipenuhi kebohongan.
Beberapa minggu kemudian, Ardi resmi kembali tinggal bersama kami.
Bukan di rumah keluarganya.
Bukan pula di tempat yang menyimpan luka masa lalu.
Kami menyewa rumah kecil tidak jauh dari warung.
Di hari pertama, Raka menempelkan gambar buatannya di dinding ruang tamu.
RUMAH YANG TIDAK BOLEH ADA KEBOHONGAN.
Ardi berdiri lama di depannya.
Kemudian dia memanggil kami.
Aku dan Raka mendekat.
Ardi merangkul putranya, lalu menatapku.
—Dulu aku mengira rumah adalah tempat seseorang harus selalu pulang.
Dia tersenyum.
—Sekarang aku baru mengerti. Rumah adalah tempat di mana orang-orang di dalamnya tidak perlu takut pada kebenaran.
Aku menyandarkan kepala di bahunya.
Di luar, hujan turun perlahan.
Raka sibuk bercerita tentang sekolahnya.
Warung kami masih harus buka pukul lima pagi keesokan harinya.
Tagihan tetap harus dibayar.
Kaki Ardi masih terasa sakit ketika terlalu lama berdiri.
Dan luka tujuh tahun itu tidak menghilang secara ajaib.
Namun kami tidak lagi mengejar kehidupan yang sempurna.
Kami hanya belajar menjalani kehidupan yang jujur.
Tujuh tahun telah dirampas dari kami.
Kami tidak mungkin mengambilnya kembali.
Tetapi pagi berikutnya masih menjadi milik kami.
Dan kali ini, tidak seorang pun boleh memisahkan keluarga kecil kami dengan kebohongan lagi.
