Saat Anjing Betinanya Melahirkan, Raka Menemukan Bayi Manusia di Antara Anak-Anjing dan Satu Dusun Mendadak Gempar

Avatar penulis
Cerita 01
23 menit baca 341 tayangan
Saat Anjing Betinanya Melahirkan, Raka Menemukan Bayi Manusia di Antara Anak-Anjing dan Satu Dusun Mendadak Gempar
Indeks

Saat Anjing Betinanya Melahirkan, Raka Menemukan Bayi Manusia di Antara Anak-Anjing dan Satu Dusun Mendadak Gempar

Bagian 1

Sudah tiga tahun Raka menjalani pagi tanpa suara manusia lain di rumahnya. Namun pagi itu, dari kandang belakang terdengar tangisan tipis yang tidak mungkin berasal dari ayam, anak anjing, ataupun hewan lain yang ia pelihara.

Ketika pintu kandang dibukanya, Raka melihat Arang baru saja melahirkan. Di antara anak-anak anjing yang masih basah dan bergerak lemah di atas jerami, ada seorang bayi manusia.

Raka berusia empat puluh empat tahun dan tinggal sendiri di sebuah lahan kecil peninggalan orang tuanya di sebuah dusun di Kabupaten Semarang. Di tanah itu ada rumah sederhana, kebun sayur, kandang ayam, sebuah gudang pakan, serta beberapa petak tanah yang selama bertahun-tahun menjadi sumber penghasilannya.

Dulu tempat itu tidak pernah terasa sesunyi sekarang.

Saat Anjing Betinanya Melahirkan, Raka Menemukan Bayi Manusia di Antara Anak-Anjing dan Satu Dusun Mendadak Gempar

Ketika istrinya, Mira, masih hidup, selalu ada suara dari dalam rumah. Kadang suara radio, kadang panci beradu di dapur, kadang Mira memanggil karena Raka lupa membawa topi ketika bekerja di bawah matahari.

Mira meninggal karena kanker tiga tahun sebelumnya.

Sejak pemakaman istrinya, Raka seperti mengunci sesuatu di dalam dirinya sekaligus mengunci pintu rumah dari dunia luar.

Teman-teman yang dulu sering datang berhenti mengajak setelah terlalu banyak mendapat jawaban, “Lain kali saja.”

Saudara yang menelepon hanya mendengar percakapan singkat.

Tetangga masih menyapa ketika bertemu di jalan, tetapi Raka jarang berhenti cukup lama untuk berbicara.

Orang-orang akhirnya memahami bahwa ia ingin dibiarkan sendiri.

Satu-satunya makhluk yang tetap mengikutinya ke mana-mana adalah Arang, anjing betina campuran berbulu hitam yang sudah dipelihara Raka sejak Mira masih hidup.

Arang bukan anjing mahal. Raka bahkan tidak pernah tahu pasti campuran ras apa. Tetapi hewan itu tahu kapan ia harus menggonggong, kapan harus menjaga kandang, dan kapan cukup duduk di samping Raka tanpa melakukan apa-apa.

Beberapa minggu sebelumnya, perut Arang semakin besar. Raka tahu anjing itu bunting.

Ia sudah menyiapkan sudut kandang lama di sebelah kandang ayam dengan jerami kering, kain bekas, serta wadah air. Tempat itu cukup terlindung dari angin dan tidak terlalu jauh dari rumah.

Malam sebelumnya Arang tampak gelisah.

Raka beberapa kali memeriksa, tetapi menjelang tengah malam anjing itu akhirnya berbaring tenang. Karena mengira kelahiran baru akan terjadi beberapa jam lagi, Raka kembali ke rumah.

Rutinitas paginya tetap sama.

Sebelum keluar, ia berhenti di depan foto Mira yang masih berada di atas meja kayu ruang tengah.

“Pagi,” gumamnya.

Dulu ia sering menambahkan banyak hal.

Tentang harga pupuk.

Tentang ayam yang sakit.

Tentang atap bocor.

Sekarang kebanyakan hanya satu atau dua kata.

Ia mengambil topi, memasukkan ponsel ke saku celana, lalu keluar.

Matahari baru mulai muncul ketika Raka melewati kebun. Udara masih dingin. Dari kejauhan ia bisa mendengar ayam mulai ribut meminta makan.

Kemudian terdengar suara lain.

Tipis.

Terputus-putus.

Raka berhenti.

Ia menunggu.

Suara itu muncul lagi.

Bukan suara anak anjing.

Raka hidup bertahun-tahun di antara ternak. Ia tahu suara anak ayam, anak kucing, anak kambing milik tetangga, dan anak anjing yang baru lahir.

Suara dari kandang itu membuat tengkuknya menegang.

“Arang?”

Ia mempercepat langkah.

Anjing hitam itu tidak keluar menyambut seperti biasanya.

Ketika Raka tiba beberapa meter dari pintu kandang, ia mendengar Arang mengerang pelan.

“Arang, kenapa?”

Tangannya mendorong pintu kayu.

Engselnya berbunyi panjang.

Bau jerami dan udara kandang menyambutnya.

Arang terbaring di sudut tempat yang sudah disiapkan. Napasnya cepat, tubuhnya tampak lelah. Di dekat perutnya ada beberapa anak anjing kecil yang bergerak mencari kehangatan.

Raka sempat mengembuskan napas lega.

“Sudah lahir rupanya.”

Ia hendak mendekat untuk menghitung anak-anak anjing itu ketika mendengar suara tipis tadi sekali lagi.

Kali ini sangat jelas.

Tangisan bayi.

Raka membeku.

Matanya berpindah dari Arang ke tumpukan jerami di depan tubuh anjing itu.

Ada sesuatu yang dibungkus kain tipis berwarna pucat.

Awalnya otaknya menolak mengenali bentuknya.

Lalu benda kecil itu bergerak.

Raka melangkah satu kali.

Kemudian satu kali lagi.

Di antara anak-anak anjing yang baru lahir, seorang bayi manusia terbaring meringkuk di atas jerami.

Raka tidak bergerak selama beberapa detik.

Ia bahkan sempat melihat sekeliling kandang, seolah seseorang mungkin sedang berdiri di belakangnya sambil menjelaskan bahwa semua itu hanya salah paham.

Tidak ada siapa-siapa.

“Ya Tuhan…”

Suara Raka hampir tidak terdengar.

Bayi itu sangat kecil. Kulitnya tampak pucat karena dingin. Matanya tertutup rapat dan kedua tangannya mengepal lemah di depan dada.

Arang menjilat kepala salah satu anaknya, lalu menoleh ke bayi manusia itu.

Anehnya, anjing itu tidak tampak agresif.

Ia justru menggeser tubuh sedikit, membuat bayi tersebut tetap berada dekat sisi perutnya yang hangat.

Raka menggeleng perlahan.

Pikirannya terasa kosong.

Tidak mungkin.

Seekor anjing tidak mungkin melahirkan manusia. Ia tahu itu. Siapa pun tahu itu.

Berarti seseorang telah membawa bayi tersebut ke kandang.

Tapi siapa?

Kapan?

Mengapa?

Raka berlutut.

Jerami bergesekan dengan lutut celananya.

“Siapa yang meninggalkanmu di sini?”

Bayi itu tidak menjawab, tentu saja.

Mulut kecilnya membuka sebentar, mengeluarkan suara lemah sebelum kembali diam.

Keheningan itu justru membuat Raka semakin takut.

Ia menatap pintu kandang.

Tidak ada jejak orang.

Tidak terdengar kendaraan.

Rumah terdekat berada cukup jauh di seberang kebun dan jalan kecil dusun.

Semalam ia juga tidak mendengar siapa pun mengetuk.

Raka menunduk lagi.

Barulah ia menyadari Arang mungkin telah menyelamatkan bayi itu tanpa sengaja. Tubuh anjing yang hangat dan kumpulan anak anjing membuat satu sudut jerami jauh lebih hangat daripada bagian kandang lainnya.

Kalau bayi itu ditinggalkan sendirian di lantai kandang yang dingin, Raka tidak ingin membayangkan apa yang mungkin terjadi.

“Tenang…”

Raka bahkan tidak tahu apakah ia sedang berbicara kepada bayi, kepada Arang, atau kepada dirinya sendiri.

Tangannya gemetar ketika diulurkan.

Ia tidak pernah terbiasa menggendong bayi. Selama bertahun-tahun hidup bersama Mira pun ia selalu canggung ketika keponakan tetangga atau anak teman disodorkan kepadanya.

Sekarang tidak ada orang lain.

Ia menyentuh lengan bayi itu dengan ujung jarinya.

Dingin.

Terlalu dingin.

Dada Raka langsung terasa sesak.

Ia mendekatkan wajah, mencoba memastikan dada kecil itu masih bergerak.

Ada napas.

Sangat pelan.

Raka menelan ludah.

Seluruh kebingungan tentang siapa yang membawa bayi itu, bagaimana ia bisa berada di sana, dan mengapa seseorang meninggalkannya tiba-tiba terasa tidak penting.

Yang ada di hadapannya hanyalah seorang bayi baru lahir yang kedinginan dan bernapas sangat lemah.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Raka merasakan kepanikan yang bukan berasal dari kehilangan masa lalu.

Ia berasal dari ketakutan bahwa jika dirinya salah bertindak sekarang, satu kehidupan kecil mungkin tidak akan sempat memiliki masa depan.

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

Raka menarik jaket tipis yang dikenakannya, lalu membungkus bayi itu tanpa mengangkatnya terlalu tinggi. Tangannya masih gemetar saat meraih ponsel.

Ia tidak menelepon tetangga terlebih dahulu.

Ia menghubungi puskesmas.

Petugas yang menerima telepon awalnya meminta Raka mengulangi penjelasannya.

“Bayi manusia, Pak?”

“Iya. Bayi baru lahir. Ada di kandang saya.”

“Bernapas?”

“Masih. Tapi dingin sekali.”

Suara di seberang langsung berubah serius. Raka diminta menjaga bayi tetap hangat, tidak memberi minum apa pun, dan membawa bayi ke fasilitas kesehatan secepat mungkin jika kendaraan memungkinkan.

Mobil bak tua milik Raka terparkir di samping rumah.

Kurang dari sepuluh menit kemudian ia sudah berada di jalan, bayi itu dibungkus beberapa lapis kain bersih di pangkuannya, sementara seorang tetangga yang dipanggil lewat telepon mengemudikan mobil.

Arang ditinggalkan bersama anak-anaknya.

Di puskesmas, bayi itu langsung dibawa masuk.

Raka berdiri di koridor tanpa tahu harus berbuat apa dengan kedua tangannya.

Seorang petugas menanyakan berulang kali kapan ia menemukan bayi tersebut, apakah ada orang lain di rumah, apakah ia mengenali kain pembungkus, apakah ia melihat kendaraan lewat pada malam hari.

Raka menjawab semuanya.

Ia juga menceritakan keadaan Arang.

“Jadi anjing Bapak memang baru melahirkan pagi ini?”

“Sepertinya dini hari.”

Petugas itu mencatat.

Beberapa saat kemudian seorang tenaga kesehatan keluar dan memberi tahu bahwa suhu tubuh bayi terlalu rendah ketika tiba, tetapi pernapasan sudah lebih stabil setelah dihangatkan.

Raka baru menyadari ia menahan napas.

“Selamat?”

“Untuk sekarang kondisinya lebih baik. Tapi tetap harus dirujuk dan diperiksa.”

Karena bayi ditemukan tanpa orang tua, pihak desa dan kepolisian juga diberi tahu. Tidak lama kemudian kabar itu menyebar dengan kecepatan yang membuat Raka kesal.

Sebelum tengah hari, teleponnya dipenuhi pesan.

Benarkah anjingmu melahirkan bayi?

Katanya bayi keluar bersama anak anjing?

Ada yang bilang bayinya ditemukan masih menyusu ke anjing.

Raka membaca dua pesan lalu mematikan layar.

“Orang belum tahu apa-apa sudah bikin cerita sendiri,” gumamnya.

Setelah memberikan keterangan, Raka kembali ke rumah bersama aparat yang perlu melihat lokasi penemuan.

Di depan rumahnya sudah ada beberapa sepeda motor.

Orang-orang berdiri di tepi jalan, pura-pura berbicara satu sama lain sambil melirik ke kandang.

Raka turun dari mobil.

“Jangan masuk kandang.”

Seorang laki-laki tertawa kecil. “Cuma mau lihat, Kang.”

“Yang mau dilihat apa? Bayinya sudah di puskesmas.”

“Tapi katanya…”

“Tidak ada ‘katanya’. Pulang dulu.”

Biasanya Raka menghindari perdebatan.

Hari itu ia berdiri di depan jalan masuk sampai orang-orang mundur.

Di dalam kandang, Arang masih menjaga anak-anaknya.

Raka berjongkok di luar batas yang diminta petugas dan memperhatikan lantai.

Pintu belakang kandang tidak terkunci sempurna. Kaitnya memang sudah lama rusak. Orang bisa masuk dari jalur sempit yang berbatasan dengan kebun singkong.

Ada beberapa bekas lumpur di dekat sana.

Tidak jelas apakah berasal dari sandal, kaki Raka sendiri, atau orang lain.

Kemudian salah seorang petugas melihat ujung kain biru terselip di belakang karung pakan kosong.

Karung itu diangkat.

Di bawahnya ada sebuah kantong kain kecil.

Raka tidak menyentuhnya.

Petugas mengenakan sarung tangan lalu membuka kantong tersebut.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar uang, sebuah pembalut kain bersih, dan buku kecil berwarna merah muda.

Buku KIA.

Raka mengenal bentuknya meski tidak pernah memiliki anak.

Petugas membuka halaman identitas.

Nama seorang perempuan tertulis di sana.

Usianya dua puluh empat tahun.

Alamatnya bukan dari kota lain.

Bukan pula dari kabupaten berbeda.

Alamat itu masih satu dusun dengan rumah Raka.

Ia membaca nama tersebut sekali.

Lalu sekali lagi untuk memastikan.

Dewi Lestari.

Raka mengangkat kepala.

Ia tahu keluarga itu.

Semua orang di dusun mengenalnya.

Ayah Dewi, Pak Seno, memiliki penggilingan padi kecil dekat jalan kabupaten. Beberapa bulan sebelumnya orang-orang diberi tahu bahwa Dewi sedang bekerja di Bekasi dan belum tahu kapan akan pulang.

Raka menatap halaman buku itu.

Tanggal pemeriksaan terakhir tercatat kurang dari dua minggu sebelumnya.

Bukan di Bekasi.

Di sebuah klinik yang hanya berjarak sekitar dua puluh kilometer dari dusun mereka.

Dewi ternyata tidak pernah benar-benar pergi sejauh yang dikatakan keluarganya.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Kabar tentang nama di buku itu tidak langsung diumumkan kepada warga, tetapi di dusun kecil, rahasia jarang bertahan lama.

Sore harinya, Raka melihat dua motor berhenti di depan rumah Pak Seno. Seorang perangkat desa datang bersama petugas. Pintu rumah tertutup cukup lama.

Raka tidak ikut.

Ia sudah menyampaikan semua yang diketahuinya.

Namun satu hal mengganggu pikirannya.

Jika Dewi adalah ibu bayi itu, di mana ia sekarang?

Dan jika keluarganya selama berbulan-bulan mengatakan Dewi berada di Bekasi, siapa yang sebenarnya mereka sembunyikan?

Menjelang magrib, seorang petugas menelepon Raka.

Pak Seno mengakui bahwa Dewi memang pulang ke desa beberapa bulan sebelumnya, tetapi ia bersikeras anaknya pergi lagi tiga hari lalu.

“Katanya ke rumah saudara,” jelas petugas.

“Saudara di mana?”

“Belum jelas.”

“Dia tahu Dewi hamil?”

Di ujung telepon terdengar jeda.

“Dia mengaku tahu.”

Raka menatap halaman belakangnya.

Arang terbaring di kandang bersama anak-anaknya. Sesekali anjing itu mengangkat kepala ke arah pintu belakang.

“Kalau Dewi baru melahirkan tadi malam, dia tidak mungkin jalan jauh.”

“Itu juga yang sedang kami periksa.”

Setelah telepon ditutup, Raka berdiri cukup lama.

Selama tiga tahun ia sengaja belajar tidak ikut campur urusan orang lain.

Kesendirian terasa lebih aman.

Tidak ada konflik.

Tidak ada kewajiban.

Tidak ada orang yang bisa mendekat cukup jauh untuk kemudian hilang.

Tetapi bayi yang ditemukannya pagi tadi membuat sikap itu tiba-tiba terasa seperti kemewahan.

Ada seorang perempuan yang mungkin sedang membutuhkan pertolongan.

Raka mengambil senter.

Ia tidak berjalan ke rumah Pak Seno.

Ia menuju jalur kecil di belakang kandang.

Beberapa petugas sebenarnya sudah memeriksa area sekitar pagi tadi, tetapi pemeriksaan mereka fokus pada kandang dan jalan keluar.

Raka mengenal lahannya jauh lebih baik.

Di belakang kebun singkong terdapat saluran irigasi lama. Sedikit lebih jauh ada bangunan kecil yang dulunya dipakai menyimpan pompa air.

Sudah bertahun-tahun bangunan itu tidak digunakan.

Raka berjalan perlahan.

Tanah masih lembap akibat hujan dua hari sebelumnya.

Di dekat rumpun bambu ia melihat bekas sandal yang tidak biasa dilihatnya di lahan tersebut.

Satu jejak.

Kemudian jejak lain.

Arahnya bukan menuju jalan utama.

Arahnya menuju bangunan pompa.

Raka berhenti.

Ia tidak mencoba menjadi pahlawan.

Ia langsung menelepon petugas desa dan meminta seseorang datang.

Sepuluh menit kemudian mereka menyusuri jalur itu bersama.

Pintu bangunan pompa tertutup setengah.

“Dewi?” panggil salah seorang petugas.

Tidak ada jawaban.

Raka mengarahkan senter ke dalam.

Di sudut bangunan, di atas lembaran karung bekas, seorang perempuan muda terbaring dengan tubuh meringkuk.

Wajahnya sangat pucat.

Matanya terbuka perlahan ketika cahaya mengenai wajahnya.

“Jangan bawa anak saya ke rumah Bapak.”

Kalimat itulah yang pertama keluar dari mulutnya.

Tidak ada cerita panjang.

Tidak ada teriakan.

Hanya satu permintaan.

Setelah itu Dewi kembali memejamkan mata.

Mereka segera memanggil bantuan medis.

Malam tersebut, untuk kedua kalinya dalam satu hari, Raka berdiri di koridor fasilitas kesehatan.

Kali ini bukan menunggu kabar tentang bayi.

Ia menunggu kabar tentang ibunya.

Dewi ternyata tidak mengalami keadaan yang mengancam nyawa setelah mendapat perawatan, tetapi tubuhnya sangat lemah. Petugas memperkirakan ia melahirkan beberapa jam sebelum meninggalkan bayi di kandang Raka.

Pertanyaan terbesar akhirnya mulai mendapat jawaban keesokan harinya.

Dewi meminta berbicara dengan petugas tanpa ayahnya berada di ruangan.

Raka tidak ikut dalam pemeriksaan resmi. Ia bukan keluarga dan tidak punya hak duduk mendengarkan semuanya.

Ia baru mengetahui sebagian cerita setelah Dewi memberi izin agar beberapa informasi disampaikan kepadanya karena dirinya adalah orang yang menemukan bayi tersebut.

Dewi bekerja di Bekasi hampir dua tahun.

Di sana ia menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang pernah berjanji akan menikahinya. Ketika Dewi mengetahui dirinya hamil, laki-laki tersebut perlahan menghilang.

Nomornya tidak langsung mati.

Pesan Dewi masih dibaca.

Tetapi jawaban semakin jarang sampai akhirnya tidak ada sama sekali.

Dewi pulang ke desa ketika kandungannya mulai terlihat.

Pak Seno panik.

Bukan karena ia tidak sayang anaknya.

Justru menurut Dewi, itulah masalahnya.

Ayahnya merasa dirinya sedang “menyelamatkan” masa depan Dewi.

Pak Seno tidak ingin tetangga mengetahui anak perempuannya pulang dalam keadaan hamil tanpa suami.

Ia mengatakan kepada orang-orang bahwa Dewi masih bekerja di Bekasi.

Selama beberapa bulan Dewi lebih banyak berada di rumah, keluar hanya ketika perlu memeriksakan kandungan ke klinik di kecamatan lain.

Ibunya sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya, sehingga di rumah hanya ada Dewi, ayahnya, dan sesekali seorang kerabat yang datang membantu.

Semakin dekat waktu melahirkan, tekanan Pak Seno semakin besar.

Ia telah berbicara dengan salah seorang kerabat jauh yang sudah lama menikah tetapi belum mempunyai anak.

Menurut rencana Pak Seno, setelah bayi lahir, bayi itu akan dibawa dan dibesarkan oleh pasangan tersebut.

Tidak ada proses resmi.

Tidak ada pembicaraan serius tentang hak Dewi sebagai ibu.

Pak Seno menyebutnya “jalan keluar keluarga”.

Dewi menyebutnya kehilangan anak.

“Bapak bilang nanti saya bisa mulai hidup lagi,” kata Dewi kepada petugas.

“Tapi itu anak saya.”

Dewi awalnya diam.

Ia terbiasa menuruti ayahnya.

Pak Seno membiayai sekolahnya, mengirim uang ketika ia pertama kali merantau, bahkan menjual satu ekor sapi bertahun-tahun sebelumnya agar Dewi bisa mengikuti pelatihan kerja.

Semua jasa itu berkali-kali disebut ketika Dewi menolak rencana penyerahan bayi.

“Kamu pikir Bapak melakukan ini buat siapa?”

“Kamu mau seluruh kampung bicara?”

“Nanti kalau kamu mau menikah, siapa yang mau menerima?”

“Saudara kita baik. Anakmu tidak akan terlantar.”

Kalimat-kalimat itu terdengar seperti perhatian.

Namun keputusan selalu dibuat tanpa benar-benar menanyakan apa yang Dewi inginkan.

Dua malam sebelum melahirkan, Dewi menemukan percakapan WhatsApp antara ayahnya dan kerabat tersebut di ponsel lama yang biasa dipakai keluarga untuk urusan penggilingan.

Ada pembicaraan tentang tanggal perkiraan lahir.

Ada rencana siapa yang akan membawa bayi.

Ada pula pembahasan tentang sejumlah uang untuk biaya pemeriksaan, persalinan, dan kebutuhan Dewi setelahnya.

Pak Seno tidak pernah menyebutnya menjual bayi.

Dewi juga tidak mengatakan ayahnya berniat mengambil keuntungan.

Namun bagi Dewi, hal yang paling menakutkan sederhana saja.

Semua orang sudah membicarakan hidup anaknya seolah ia sendiri tidak ada.

Ia memotret percakapan itu dengan ponselnya.

Itulah bukti pendukung yang kemudian ia serahkan secara sukarela kepada petugas.

Raka mendengar cerita itu dengan rahang mengeras.

Malam sebelum bayi ditemukan, Dewi mulai mengalami kontraksi.

Ia takut mengatakan kepada ayahnya.

Ia memasukkan buku KIA, sedikit uang, serta beberapa barang ke dalam kantong kain dan keluar melalui pintu samping.

Rencananya sebenarnya sederhana.

Dewi ingin berjalan ke rumah seorang teman lama di dusun sebelah dan meminta bantuan.

Ia tidak pernah sampai.

Rasa sakit bertambah ketika ia berada di jalan kebun yang sepi.

Pada dini hari, Dewi akhirnya berlindung di bangunan kosong tidak jauh dari lahan Raka.

Di sanalah bayinya lahir.

Sendirian.

Ia menunggu sampai mampu bergerak lagi.

Kemudian ia mendengar suara anjing dan melihat lampu kecil dekat kandang milik Raka.

Dewi mengenal Raka hanya sebagai duda pendiam yang hampir tidak pernah ikut campur urusan siapa pun.

Justru karena itulah ia memilih lahannya.

“Aku pikir Pak Raka tidak akan langsung memanggil Bapak,” katanya kemudian.

Dewi membawa bayinya ke kandang.

Saat membuka pintu belakang, ia melihat Arang sedang bersama anak-anak yang baru dilahirkan.

Sudut itu hangat.

Jeraminya kering.

Dewi meletakkan bayinya dekat tubuh anjing hanya untuk beberapa menit.

Ia berencana menuju rumah Raka dan mengetuk pintu.

Namun ketakutan mengambil alih.

Ia membayangkan ayahnya sudah mencarinya.

Ia membayangkan orang-orang akan melihatnya.

Tubuhnya juga semakin lemah.

Dewi akhirnya mundur menuju jalur irigasi dan bersembunyi di bangunan pompa sambil meyakinkan dirinya bahwa ia hanya akan beristirahat sebentar.

Ia kehilangan kesadaran.

Kantong kainnya tertinggal di kandang.

Arang kemudian menggeser tubuh mendekati bayi.

Itulah seluruh “misteri” yang membuat dusun gaduh.

Tidak ada anjing yang melahirkan manusia.

Tidak ada kejadian gaib.

Ada seorang ibu ketakutan, seorang bayi yang kedinginan, dan seekor anjing yang tidak mengusir makhluk kecil yang diletakkan di dekat anak-anaknya.

Tetapi setelah penjelasan itu muncul, masalah belum selesai.

Pak Seno datang ke fasilitas kesehatan pada siang hari.

Raka kebetulan sedang mengantarkan beberapa pakaian Dewi yang diminta petugas melalui perangkat desa.

Ia melihat Pak Seno di ujung koridor.

Laki-laki hampir enam puluh tahun itu tampak tidak tidur semalaman.

“Raka.”

Raka berhenti.

Pak Seno mendekat.

“Bisa bicara?”

Mereka keluar ke halaman.

Beberapa detik Pak Seno hanya memandang tanah.

“Aku dengar Dewi cerita macam-macam.”

Raka tidak menjawab.

Pak Seno melanjutkan, “Aku tidak pernah berniat mencelakakan cucuku.”

“Ya.”

“Jangan jawab ‘ya’ begitu. Kamu tidak tahu urusan keluarga kami.”

Raka menatapnya.

“Memang bukan urusan saya.”

Pak Seno tampak sedikit lega.

Kemudian Raka menambahkan, “Tapi bayi itu ditemukan di kandang saya karena anak Bapak takut pulang.”

Wajah Pak Seno mengeras.

“Itu karena dia panik. Dewi dari kecil begitu. Kalau ada masalah, pikirannya pendek.”

“Dia baru melahirkan sendirian.”

“Aku sudah menyiapkan semuanya.”

“Untuk siapa?”

Pak Seno terdiam.

Raka tidak meninggikan suara.

Ia juga tidak memberi ceramah.

“Kalau semuanya sudah disiapkan, kenapa Dewi merasa harus lari malam-malam?”

Pertanyaan itu membuat Pak Seno menatapnya lama.

“Aku ayahnya.”

“Betul.”

“Aku tahu apa yang terbaik.”

Raka mengangguk sekali.

“Bapak boleh merasa begitu. Tapi dia dua puluh empat tahun. Dan itu anaknya.”

Pak Seno menarik napas tajam.

“Kamu mudah bicara. Kamu tidak punya anak perempuan yang membuat satu kampung membicarakan keluarga.”

Kalimat itu mestinya menyakitkan.

Dulu mungkin Raka akan membalas.

Hari itu ia hanya berkata, “Satu kampung sudah bicara sejak kemarin. Jadi ternyata diam-diam menyembunyikan semuanya juga tidak menghentikan mereka.”

Pak Seno tidak menjawab.

Sebelum masuk kembali, ia berkata pelan, “Kerabat kami sudah siap merawat bayi itu.”

“Kalau Dewi setuju melalui proses yang benar, itu keputusan dia. Kalau tidak, jangan jadikan saya saksi seolah dia sudah menyerahkan anaknya.”

Itu satu-satunya batas yang perlu Raka sampaikan.

Beberapa hari berikutnya, urusan tersebut ditangani lebih tertib.

Pihak terkait memastikan kondisi Dewi dan bayinya aman. Mereka juga menjelaskan bahwa keputusan soal pengasuhan anak tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan kesepakatan keluarga sepihak.

Tidak ada petugas yang datang membawa solusi ajaib.

Tidak ada surat yang menyelesaikan semuanya dalam satu sore.

Yang terjadi justru serangkaian percakapan melelahkan.

Dewi harus menjelaskan berkali-kali bahwa ia ingin membesarkan anaknya.

Pak Seno beberapa kali mencoba meyakinkannya bahwa rencana keluarga lebih aman.

Kerabat yang tadinya dijanjikan akan mengasuh bayi akhirnya mengetahui bahwa Dewi tidak pernah memberikan persetujuan penuh.

Rencana itu berhenti.

Dewi juga tidak langsung pulang ke rumah ayahnya.

Untuk sementara, ia tinggal di tempat aman yang diatur dengan bantuan layanan sosial setempat sambil memulihkan kondisi dan mengurus kebutuhan bayinya.

Raka kembali ke kebunnya.

Tetapi hidupnya tidak benar-benar kembali seperti sebelum pagi itu.

Orang-orang masih datang bertanya.

Beberapa membawa versi cerita yang semakin aneh.

Ada yang bersumpah mendengar bayi ditemukan menyusu bersama anak anjing.

Ada yang mengatakan Arang melolong sepanjang malam untuk memanggil Raka.

Ada pula yang mulai mengaitkan kejadian itu dengan pertanda.

Raka berhenti meladeni.

Ketika seorang tetangga memotret kandangnya tanpa izin, Raka berdiri di depan pagar.

“Hapus.”

“Cuma buat grup keluarga.”

“Bayi orang bukan tontonan.”

Tetangga itu akhirnya menghapus foto.

Perubahan kecil terjadi dalam diri Raka tanpa ia rencanakan.

Selama bertahun-tahun ia menggunakan kesunyian untuk menghindari rasa sakit.

Sekarang justru ia mulai berbicara karena ada hal-hal yang menurutnya tidak boleh dibiarkan.

Ia datang ketika diminta memberikan keterangan.

Ia menjawab pertanyaan seperlunya.

Ia memastikan informasi yang beredar tentang Arang tidak berubah menjadi alasan orang berkumpul di kandang.

Dan ketika Dewi meminta bertemu dua minggu kemudian, Raka datang.

Bayi itu berada di pelukan Dewi.

Kondisinya sudah jauh lebih baik.

Pipinya mulai berisi.

“Namanya siapa?” tanya Raka.

“Nara.”

Raka mengangguk.

Dewi tersenyum tipis.

“Bapak boleh gendong.”

Raka langsung mengangkat kedua tangan.

“Jangan.”

Dewi tertawa kecil untuk pertama kalinya.

“Takut?”

“Lebih takut sekarang daripada waktu menemukannya.”

Akhirnya ia tetap menerima bayi itu.

Tubuh Raka kaku.

Tangannya menahan kepala Nara dengan hati-hati seperti yang diajarkan Dewi.

Bayi itu membuka mata sebentar, lalu kembali tidur.

Raka menatap wajah kecil tersebut.

Ia teringat pagi di kandang.

Kulit pucat.

Tangisan yang nyaris tidak terdengar.

Tubuh dingin di antara jerami.

Sekarang Nara hangat.

Hanya itu yang penting.

“Pak Raka.”

“Hm?”

“Terima kasih.”

Raka menggeleng.

“Kalau mau berterima kasih, nanti kalau dia besar jangan ceritakan saya hampir menjatuhkannya waktu pertama belajar gendong.”

“Saya serius.”

Raka melihat Dewi.

Perempuan muda itu tampak masih lelah. Masa depannya jelas belum mudah.

Ia belum memiliki pekerjaan tetap.

Hubungannya dengan ayahnya belum pulih.

Ayah Nara belum mengambil tanggung jawab.

Banyak urusan administrasi dan kehidupan sehari-hari masih harus diselesaikan satu demi satu.

Tidak ada akhir ajaib.

Tetapi sekarang keputusan tentang Nara tidak lagi dibuat tanpa Dewi.

“Yang menjaga dia pagi itu Arang,” kata Raka.

Dewi menunduk melihat anaknya.

“Saya kira dia akan menggonggong.”

“Biasanya galak kalau orang asing masuk.”

“Kenapa waktu itu tidak?”

Raka memikirkan jawabannya.

“Entahlah.”

Kemudian ia tersenyum sedikit.

“Mungkin dia terlalu sibuk jadi ibu.”

Sebulan berlalu.

Pak Seno akhirnya meminta pertemuan dengan Dewi.

Bukan untuk langsung membawa pulang Nara.

Dewi sudah menetapkan syarat sebelum bersedia bertemu.

Tidak ada lagi pembicaraan tentang memberikan Nara kepada orang lain.

Tidak ada lagi keputusan dibuat atas namanya.

Dan jika Pak Seno mulai menggunakan utang budi untuk memaksanya, Dewi akan mengakhiri pertemuan.

Pertemuan pertama hanya berlangsung dua puluh menit.

Pak Seno masih defensif.

Ia mengatakan dirinya malu.

Ia mengatakan dirinya takut masa depan Dewi hancur.

Ia mengatakan semua rencananya dibuat karena ia tidak percaya Dewi sanggup menjalani hidup sebagai ibu tunggal.

Dewi mendengarkan.

Lalu ia bertanya satu hal.

“Bapak pernah sekali saja bertanya saya mau apa?”

Pak Seno tidak menjawab.

Pertemuan kedua berlangsung lebih lama.

Pada pertemuan ketiga, Pak Seno akhirnya mengatakan sesuatu yang selama ini sulit keluar.

“Aku salah karena mengira selama niatku baik, aku boleh menentukan semuanya.”

Dewi tidak langsung memaafkannya.

Ia hanya mengangguk.

Itu cukup untuk hari itu.

Beberapa bulan kemudian Dewi mulai bekerja paruh waktu di sebuah usaha pengemasan makanan di kecamatan sambil mengatur pengasuhan Nara dengan bantuan yang aman dan jelas.

Ia belum kembali tinggal bersama ayahnya.

Namun Pak Seno mulai datang seminggu sekali.

Kadang membawa popok.

Kadang membawa buah.

Kadang hanya duduk sambil menggendong cucunya.

Dewi tetap memegang kendali atas keputusan tentang anaknya.

Hubungan mereka belum seperti dulu.

Mungkin memang tidak akan pernah sama.

Tetapi setidaknya sekarang Pak Seno tahu bahwa membantu anak dewasa tidak sama dengan mengambil alih hidupnya.

Sementara itu Arang membesarkan lima anak anjing.

Dua diberikan kepada keluarga yang dikenal Raka setelah cukup umur. Tiga lainnya tetap berada di sekitar kebun karena Raka terlalu banyak mencari alasan untuk tidak melepas mereka.

Rumah yang dulu hampir tidak pernah dikunjungi orang mulai sedikit berubah.

Bukan menjadi ramai setiap hari.

Raka tetap menyukai ketenangan.

Ia masih makan malam sendiri.

Masih menyimpan foto Mira di atas meja.

Masih berbicara kepadanya sesekali ketika rumah terlalu sepi.

Namun ia tidak lagi otomatis menolak setiap orang yang mengetuk.

Suatu sore, hampir enam bulan setelah bayi ditemukan, Dewi datang bersama Nara.

Pak Seno mengantar mereka dengan motor, lalu pergi ke penggilingan setelah menurunkan beberapa bungkus makanan.

Hubungan ayah dan anak itu rupanya sudah cukup membaik sehingga mereka bisa berada dalam satu kendaraan tanpa bertengkar.

Itu kemajuan yang tidak kecil.

Nara sudah bisa duduk dengan bantuan.

Dewi membawanya mendekati Arang.

Anjing hitam itu mengendus kaki bayi tersebut lalu berbaring di tanah.

“Dia ingat tidak?” tanya Dewi.

“Mana saya tahu.”

Nara menendang-nendangkan kaki dan tertawa.

Salah satu anak Arang yang masih tinggal di kebun mendekat terlalu bersemangat.

Raka segera menangkapnya.

“Pelan. Jangan sok kenal.”

Dewi tertawa.

Raka ikut tersenyum.

Ketika matahari mulai turun, Dewi bersiap pulang.

Sebelum berjalan ke jalan depan, ia berhenti.

“Pak Raka.”

“Ya?”

“Dulu kenapa Bapak mau repot-repot bantu saya? Kita bahkan hampir tidak pernah bicara.”

Raka menatap kebun di depan rumah.

Selama beberapa detik ia tidak menjawab.

“Tiga tahun saya pikir cara paling aman hidup itu jangan terlalu membutuhkan siapa-siapa.”

Dewi menunggu.

“Pagi itu saya lihat bayi sekecil itu ditinggal di kandang, lalu saya sadar ada keadaan di mana kita tidak punya hak pura-pura tidak melihat.”

Dewi mengangguk.

Tidak ada kalimat besar setelahnya.

Ia hanya mengucapkan sampai jumpa lalu berjalan pergi sambil menggendong Nara.

Raka tetap berdiri di halaman.

Arang duduk di samping kakinya.

Dari dalam rumah, foto Mira masih berada di tempat yang sama seperti tiga tahun terakhir.

Raka tidak mengganti apa pun.

Ia tidak ingin melupakan istrinya.

Ia juga akhirnya memahami bahwa terus hidup bukan berarti meninggalkan orang yang sudah pergi.

Malam itu, setelah memberi makan ayam dan memeriksa pintu kandang, Raka masuk ke rumah.

Ia melewati foto Mira.

“Anaknya sehat,” katanya pelan. “Yang waktu itu kutemukan.”

Kemudian ia berhenti sebentar.

“Rumah agak ramai akhir-akhir ini.”

Tidak ada jawaban.

Memang tidak pernah ada.

Anehnya, kali ini keheningan itu tidak terasa kosong.

Raka mematikan lampu ruang tengah lalu keluar sebentar untuk memeriksa pagar.

Dulu ia selalu menguncinya sejak sore, bahkan ketika dirinya masih bekerja di halaman.

Sekarang pintu pagar dibiarkannya terbuka sampai semua urusan kandang selesai.

Dari kejauhan terdengar motor lewat.

Arang mengangkat kepala, lalu kembali tidur di depan rumah.

Raka melihat jalan kecil di luar pagar sebelum akhirnya menutupnya perlahan.

Bukan karena ia ingin mengurung dirinya dari dunia.

Hari memang sudah malam.

Dan besok pagi, pintu itu akan dibukanya lagi.

Menurutmu, apakah Dewi tepat menolak rencana ayahnya meski Pak Seno merasa sedang melindungi masa depannya?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.