Menantuku Meminta Cerai Setelah Menemukan Perselingkuhan Suamiku, Tapi Aku Membawa Koper ke Rumah Perempuan Itu dan Menemukan Kebohongan yang Jauh Lebih Memalukan

Avatar penulis
Cerita 03
19 menit baca 535 tayangan
Indeks

Menantuku Meminta Cerai Setelah Menemukan Perselingkuhan Suamiku, Tapi Aku Membawa Koper ke Rumah Perempuan Itu dan Menemukan Kebohongan yang Jauh Lebih Memalukan

Bagian 1 — Aku Menginap Tujuh Hari di Rumah Perempuan yang Merebut Suami Menantuku, Lalu Menemukan Putraku Sendiri Menyembunyikan Kebohongan Besar

Pukul 02.47 dini hari.

Aku berdiri sendirian di ruang makan rumah anak laki-lakiku di Bekasi, menatap sebuah amplop cokelat di atas meja.

Di dalamnya ada fotokopi buku nikah, beberapa lembar bukti transfer, tangkapan layar percakapan WhatsApp, dan surat gugatan cerai yang belum didaftarkan.

Di bawah semua kertas itu, menantuku, Nadira, meninggalkan secarik catatan.

“Ibu, maaf. Aku sudah tidak sanggup berpura-pura rumah tangga kami baik-baik saja.”

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Delapan tahun Nadira menjadi menantuku.

Dia bukan perempuan yang mudah mengeluh.

Saat Arga, putraku, kehilangan pekerjaan empat tahun lalu, Nadira menjual gelang pemberian ibunya tanpa memberitahu siapa pun.

Saat usahaku menjalani operasi dan aku membutuhkan seseorang menemaniku di rumah sakit, Nadira yang tidur di kursi plastik selama tiga malam.

Ketika cucuku, Raka, demam tinggi, dia bahkan masih sempat meneleponku untuk memastikan aku sudah makan.

Tapi malam itu perempuan yang selama delapan tahun jarang menangis di depanku pergi membawa anaknya.

Dan putraku?

Dia tidak ada.

Aku menelepon Arga lima kali.

Tak dijawab.

Pada panggilan keenam, dia mematikan telepon.

Tiga menit kemudian masuk sebuah pesan.

“Ibu, aku minta maaf.”

Hanya itu.

Aku menelepon lagi.

Nomornya tidak aktif.

Aku membuka tangkapan layar yang ditinggalkan Nadira.

Nama perempuan itu: Laras Widyaningrum.

Umur tiga puluh delapan tahun.

Arga tiga puluh satu.

Mereka bekerja sama dalam proyek pengadaan interior hotel sejak sekitar sebelas bulan lalu.

Ada foto makan malam.

Ada pesan-pesan larut malam.

Dan ada satu kalimat dari Arga yang membuat tanganku dingin.

“Kalau semuanya selesai, aku akan tinggal bersamamu.”

Aku tidak menangis.

Aku justru mengambil secarik kertas tempat Nadira menulis alamat Laras.

Apartemen tua di kawasan Kalimalang.

Aku masuk ke kamar.

Membuka lemari.

Mengambil koper kecil.

Beberapa pakaian, obat tekanan darah, charger, mukena, dan sebuah buku catatan kumasukkan ke dalamnya.

Aku bukan hendak menyeret rambut perempuan itu.

Aku juga tidak berniat berdiri di depan rumahnya sambil berteriak seperti adegan sinetron.

Karena satu hal sudah kupahami sejak suamiku meninggal sebelas tahun lalu.

Ketika sebuah keluarga hancur, sering kali orang sibuk mencari siapa perempuan jahatnya.

Padahal lelaki yang berjanji setia biasanya justru bersembunyi di belakang dua perempuan yang saling menyalahkan.

Aku ingin melihat sendiri.

Siapa Laras sebenarnya.

Dan jauh lebih penting—

aku ingin mengetahui kapan anak yang kubesarkan dengan tanganku sendiri berubah menjadi lelaki yang tega menghancurkan rumahnya.

Menjelang pukul empat pagi, taksi berhenti di depan sebuah gedung apartemen berusia belasan tahun.

Aku turun membawa koper.

Satpam menatapku heran.

“Mau ke siapa, Bu?”

“Laras Widyaningrum. Lantai lima.”

Setelah menelepon unit tersebut, satpam mempersilahkanku naik.

Aku menekan bel dua kali.

Pintu terbuka.

Seorang perempuan muncul memakai piyama biru sederhana.

Rambutnya diikat seadanya.

Wajahnya pucat tanpa riasan.

Begitu melihatku, tangannya yang memegang gagang pintu langsung kaku.

“Ibu…”

“Kamu Laras?”

Dia mengangguk.

Aku mengangkat koper.

“Aku akan tinggal di sini tujuh hari.”

Matanya membesar.

“Ibu?”

“Jangan takut. Aku tidak datang untuk memukulmu.”

Aku berjalan melewatinya.

Ruang apartemennya tidak luas.

Dua kamar tidur.

Satu ruang keluarga.

Dapur kecil.

Semuanya bersih dan tertata.

Lalu mataku jatuh pada rak sepatu.

Ada sepasang sandal kulit cokelat milik Arga.

Aku mengenalinya karena aku sendiri yang membelinya saat ulang tahunnya.

Di sofa ada jaket abu-abu.

Jaket yang dipakai Arga ketika kami makan bersama pada Idul Fitri kemarin.

Aku menarik napas panjang.

Jadi memang benar.

Putraku bukan sekadar beberapa kali makan malam bersama perempuan ini.

Dia telah memiliki kehidupan kedua.

“Duduk,” kataku.

Laras tidak bergerak.

“Kamu mau aku mengatakannya dua kali?”

Dia segera duduk.

“Kapan hubungan kalian dimulai?”

Air mukanya berubah.

“Sekitar sepuluh bulan lalu.”

“Siapa yang memulai?”

Laras menunduk.

“Arga.”

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Karena entah kenapa aku sudah menduga jawabannya.

“Lalu kamu tahu dia sudah menikah?”

“Tahu.”

“Punya anak?”

“Tahu.”

“Dan kamu tetap menerimanya?”

Laras mulai menangis.

“Aku tahu aku salah.”

“Jangan menangis dulu.”

Suaraku tetap rendah.

“Aku tidak datang untuk mendengar kalimat ‘aku salah’ seratus kali.”

Aku menunjuk sandal Arga.

“Ceritakan dari awal.”

Laras mengusap wajahnya.

Mereka bertemu saat perusahaan Arga menjadi subkontraktor proyek renovasi restoran sebuah hotel.

Laras adalah konsultan desain interior.

Awalnya hanya pekerjaan.

Kemudian Arga mulai sering menghubunginya di luar jam kerja.

Mengeluh tentang rumah.

Mengeluh tentang cicilan.

Mengeluh bahwa Nadira terlalu sibuk dengan anak.

Mengeluh merasa tidak dihargai.

“Dia bilang hubungannya dengan istrinya sudah selesai secara emosional,” kata Laras lirih.

Aku menatapnya.

“Kalimat tertua lelaki berselingkuh.”

Laras menutup wajahnya.

“Aku bodoh.”

“Kamu memang bodoh.”

Dia menurunkan tangannya.

“Tapi anakku juga pengecut.”

Laras menatapku seolah tidak menyangka aku akan mengatakan itu.

Aku melanjutkan.

“Kamu bersalah karena menerima suami orang. Tapi sumpah pernikahan itu dibuat oleh anakku, bukan olehmu.”

Aku bangkit.

“Di mana Arga sekarang?”

Laras diam.

Aku menatap lurus ke matanya.

“Jangan bohong.”

“Dia pergi sekitar satu jam lalu.”

“Ke mana?”

“Aku tidak tahu.”

Aku berjalan menuju balkon.

Di bawah sana ada area parkir terbuka.

Dan di sudut dekat pohon ketapang, aku melihat sebuah mobil hitam.

Mobil Arga.

Aku mengenali nomor pelatnya.

Aku hampir tertawa.

“Katanya sudah pergi?”

Laras mengikuti pandanganku.

Wajahnya semakin pucat.

Aku menunjuk mobil itu.

“Dia bahkan tidak berani naik.”

Laras tidak menjawab.

“Dia takut aku menyakitimu?”

Air mata kembali memenuhi matanya.

Aku mengangguk pelan.

“Bagus.”

“Berarti setidaknya anakku masih mampu takut kehilangan sesuatu.”

Aku membawa koper menuju kamar kosong.

Sebelum masuk, aku berhenti.

“Tujuh hari.”

Laras menatapku.

“Selama tujuh hari aku tinggal di sini. Kamu bekerja seperti biasa. Jangan mengubah rutinitasmu.”

“Ibu mau apa?”

“Aku mau tahu apa sebenarnya yang dicari Arga di rumah ini.”

Aku menatapnya tajam.

“Dan jangan beri tahu dia kalau aku mengetahui mobilnya ada di bawah.”

Hari pertama dimulai dengan keheningan.

Laras pergi bekerja pukul delapan.

Aku tinggal sendirian.

Aku tidak menggeledah laci.

Aku tidak membuka komputer.

Aku hanya memperhatikan.

Dapur penuh makanan kesukaan Arga.

Kopi tanpa gula.

Sambal terasi merek tertentu.

Biskuit gandum.

Di kamar mandi bahkan ada sabun muka yang sama dengan miliknya di rumah.

Hal-hal kecil.

Hal-hal yang membuatku semakin muak.

Karena perselingkuhan ternyata tidak selalu dimulai dari ciuman.

Kadang dimulai dari seseorang yang menyediakan tempat bagi keluhan yang seharusnya diselesaikan di rumah.

Sore hari Laras pulang.

Pukul delapan malam bel berbunyi.

Aku sedang berada di kamar.

Suara Arga terdengar dari luar.

“Laras?”

Tak ada jawaban beberapa detik.

Lalu suara Laras.

“Masuk saja.”

Aku mendengar pintu ditutup.

Langkah kaki.

Kemudian suara Arga berbisik panik.

“Ibu masih di sini?”

“Masih.”

“Kamu serius membiarkan Ibu tinggal?”

“Aku tidak bisa mengusirnya.”

Sunyi.

Kemudian Arga mengatakan sesuatu yang membuat dadaku panas.

“Aku sudah bilang, urusan Nadira sebentar lagi selesai.”

Aku membuka pintu.

Arga membeku.

Wajahnya langsung kehilangan warna.

“Ibu…”

Aku berjalan keluar.

Tidak berteriak.

Tidak menamparnya.

Aku hanya menarik kursi.

“Duduk.”

“Ibu, dengarkan dulu—”

“Duduk.”

Dia duduk.

Aku menaruh amplop cokelat dari Nadira di atas meja.

“Apa maksudmu urusan Nadira sebentar lagi selesai?”

Arga menelan ludah.

“Ibu tidak mengerti keadaan rumah tanggaku.”

“Kalau begitu jelaskan.”

Dia menatap Laras.

Aku mengetuk meja.

“Jangan lihat dia. Lihat ibumu.”

Arga menarik napas.

“Nadira dan aku sudah lama tidak cocok.”

“Berapa lama?”

“Dua tahun.”

“Dua tahun?”

Aku mengangguk.

“Menarik.”

Aku mengambil ponsel.

Kubuka foto keluarga enam bulan lalu.

Arga memeluk Nadira di sebuah restoran, tersenyum sambil mencium kening istrinya.

“Dua tahun tidak cocok, tapi enam bulan lalu kamu menulis di Instagram ‘terima kasih sudah menjadi rumah terbaikku’?”

Arga terdiam.

Aku membuka foto berikutnya.

Tiga bulan lalu.

Mereka merayakan ulang tahun pernikahan.

Kemudian foto sebulan lalu.

Arga masih menghadiri acara keluarga Nadira.

“Aku mau mendengar masalahmu.”

Kataku.

“Tapi jangan menggunakan kebohongan untuk membuat perselingkuhan terdengar seperti kecelakaan.”

Wajah Arga memerah.

“Aku capek, Bu.”

“Capek apa?”

“Semuanya.”

“Kerja?”

“Iya.”

“Utang?”

Dia tiba-tiba diam.

Aku menangkap perubahan itu.

“Utang apa?”

Arga menggeleng cepat.

“Bukan apa-apa.”

Aku menoleh kepada Laras.

Perempuan itu langsung menunduk.

Jantungku mulai berdetak lebih cepat.

“Kalian menyembunyikan apa?”

Tak ada yang menjawab.

Aku mendekati Arga.

“Berapa?”

“Ibu…”

“Berapa utangmu?”

“Bukan cuma utang.”

Laras tiba-tiba bicara.

Arga langsung berdiri.

“Laras!”

Aku menatap mereka bergantian.

“Apa maksudmu bukan cuma utang?”

Laras tampak ketakutan.

Arga berkata keras.

“Jangan ikut campur!”

Dan justru saat itulah aku sadar.

Ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada perselingkuhan.

Aku menarik ponsel dari meja.

“Aku menelepon Nadira.”

Arga menerjang mengambilnya.

“Ibu, jangan!”

Tangannya menyenggol gelas hingga jatuh dan pecah.

Suara pecahan kaca memenuhi ruangan.

Aku menatap anakku.

Untuk pertama kalinya sepanjang hidupnya, kulihat ketakutan nyata di wajahnya.

Bukan takut kehilangan Laras.

Bukan takut kehilangan pernikahan.

Tapi takut sebuah rahasia terbongkar.

Laras tiba-tiba berdiri.

Dengan suara gemetar dia berkata,

“Bu Ratna… Nadira seharusnya tahu.”

Arga memukul meja.

“DIAM!”

Aku menoleh kepada Laras.

“Katakan.”

Laras menangis.

“Enam bulan terakhir, Arga memakai nama Nadira untuk…”

Belum selesai kalimatnya, Arga langsung mencengkeram pergelangan tangan Laras.

Dan saat itulah kesabaranku habis.

Aku menepis tangannya.

“Kamu sentuh perempuan di depanku sekali lagi, aku sendiri yang mengantarmu ke kantor polisi.”

Arga membeku.

Aku berdiri di antara mereka.

“Katakan, Laras.”

Laras menatapku sambil terisak.

“Arga memakai data istrinya sebagai penjamin pinjaman usaha.”

Darahku terasa berhenti mengalir.

“Berapa?”

Laras membuka bibir perlahan.

“Sekitar…”

Dia menatap Arga.

“…empat ratus delapan puluh juta rupiah.”

Dan tiba-tiba aku mengerti.

Nadira bukan hanya akan kehilangan suami.

Kalau kebohongan ini benar—

dia mungkin juga akan kehilangan rumahnya.

#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #Perselingkuhan #CeritaKehidupan #KisahIbu

Bagian 2 — Setelah Mengetahui Utang Rp480 Juta Dibuat Atas Nama Menantuku, Aku Membongkar Alasan Sebenarnya Putraku Mempertahankan Perselingkuhan Itu

Selama beberapa detik aku tidak mampu berkata apa-apa.

Empat ratus delapan puluh juta.

Aku menatap Arga.

“Dokumennya.”

Dia menggeleng.

“Bu, ini masalah bisnis.”

“Dokumennya.”

“Ibu tidak perlu—”

Aku menunjuk pintu.

“Kalau kamu masih menganggapku ibumu, ambil semua dokumen sekarang.”

Arga tidak bergerak.

Laras akhirnya masuk ke kamar.

Beberapa menit kemudian dia kembali membawa sebuah map hitam.

Arga langsung berdiri.

“Kamu mencuri dokumenku?”

“Aku menyimpannya karena kamu beberapa kali mau membuangnya.”

Laras meletakkan map di meja.

Aku membukanya.

Pinjaman bisnis.

Pembelian peralatan.

Utang vendor.

Beberapa pembayaran tertunggak.

Dan fotokopi KTP Nadira.

Aku membaca pelan-pelan.

Sebuah rumah atas nama Arga dan Nadira tercantum sebagai bagian dari dokumen jaminan tambahan dalam sebuah fasilitas kredit.

Tanganku dingin.

“Apakah Nadira menandatangani ini?”

Arga menjawab cepat.

“Dia pernah tanda tangan beberapa dokumen kosong saat refinancing.”

Aku menatapnya.

“Maksudmu kamu memakai tanda tangan yang dia berikan untuk urusan lain?”

“Tidak seperti itu.”

“Lalu seperti apa?”

Arga mengusap rambut kasar.

Bisnis kontraktornya ternyata mulai bermasalah hampir setahun lalu.

Dua proyek terlambat membayar.

Arga meminjam uang untuk menjaga arus kas.

Kemudian meminjam lagi untuk menutup pinjaman pertama.

Saat keadaan semakin buruk, dia tidak berani mengaku kepada Nadira.

Dan di tengah semua itu dia bertemu Laras.

Laras memiliki jaringan vendor.

Dia membantu Arga mendapatkan pekerjaan.

Memberinya uang muka pribadi hampir seratus juta.

Menolongnya berbicara dengan pemasok.

Pelan-pelan hubungan profesional berubah.

“Aku tidak pernah meminta dia meninggalkan istrinya,” kata Laras.

Arga langsung membalas.

“Tapi kamu tahu aku mencintaimu.”

Aku menatap putraku.

“Cinta?”

Aku menunjuk berkas utang.

“Ini yang kamu sebut cinta?”

“Kamu bersembunyi di belakang perempuan lain karena dia membantu menutupi kegagalanmu.”

“Bu!”

“Dan kamu bilang kepada istrimu bisnis baik-baik saja sementara menggunakan datanya untuk menanggung risiko.”

Arga terdiam.

Aku berbalik kepada Laras.

“Kenapa kamu tetap bersama dia setelah tahu semuanya?”

Laras mengusap air mata.

“Karena dia selalu bilang kalau aku meninggalkannya, dia tidak punya siapa-siapa.”

Aku mengangguk.

Sekarang semuanya mulai jelas.

Arga bukan hanya berselingkuh.

Dia membuat dua perempuan merasa bertanggung jawab atas hidupnya.

Kepada Nadira dia memainkan peran suami yang bekerja keras.

Kepada Laras dia memainkan peran lelaki terluka yang membutuhkan tempat berlindung.

Sementara semua masalah yang sebenarnya berasal dari keputusannya sendiri disembunyikan.

Pagi berikutnya aku menghubungi Nadira.

Aku tidak menjelaskan semuanya lewat telepon.

Aku hanya berkata,

“Besok datang ke rumah Ibu. Jangan bawa Raka.”

Dia terdiam lama.

“Apakah ada masalah lain?”

“Ada.”

“Lebih buruk?”

Aku menutup mata.

“Iya.”

Keesokan siangnya kami bertemu di rumahku.

Nadira datang dengan wajah pucat.

Aku menyerahkan salinan dokumen.

Dia membacanya satu per satu.

Ketika sampai pada dokumen jaminan, tangannya mulai gemetar.

“Aku tidak pernah menyetujui ini.”

“Aku tahu.”

“Aku pernah tanda tangan berkas untuk perubahan bunga kredit rumah. Bukan ini.”

Air matanya jatuh.

“Ternyata selama ini aku bukan cuma dibohongi tentang perempuan lain.”

Aku duduk di sampingnya.

“Nadira.”

Dia menoleh.

“Aku tidak akan meminta kamu bertahan demi anak.”

Dia langsung menangis lebih keras.

“Aku juga tidak akan mengatakan semua lelaki bisa khilaf.”

Aku menggenggam tangannya.

“Keputusan pernikahan ini tetap milikmu.”

“Tapi sebelum kamu mengambil keputusan, kita harus menyelesaikan dokumen ini.”

Hari berikutnya kami berkonsultasi dengan pengacara.

Dari pemeriksaan awal, ada beberapa dokumen yang membutuhkan klarifikasi lebih lanjut karena penggunaannya tidak sesuai dengan pemahaman Nadira ketika menandatangani berkas sebelumnya.

Kami juga menghubungi pihak kreditur untuk meminta salinan lengkap dokumen asli dan riwayat persetujuan.

Arga marah besar ketika mengetahui semuanya.

Dia datang ke rumahku malam itu.

“Ibu menghancurkan hidupku!”

Aku berdiri di depan pintu.

“Bukan.”

“Kamu menghancurkannya sendiri.”

“Kalau masalah ini dibawa ke hukum, bisnisku habis!”

“Jadi Nadira harus diam supaya bisnismu selamat?”

“Aku akan membereskan semuanya!”

“Kapan?”

Dia diam.

“Sebulan?”

Diam.

“Setahun?”

Tidak ada jawaban.

Aku menghela napas.

“Arga, kamu sudah tiga puluh satu tahun.”

“Sudah waktunya berhenti menjadikan ibumu, istrimu, dan perempuan lain sebagai tempat bersembunyi.”

Dia menatapku dengan mata merah.

Lalu mengatakan sesuatu yang benar-benar membuatku kecewa.

“Kalau Nadira tidak pernah tahu, semua ini sebenarnya masih bisa diperbaiki.”

Aku memandangnya lama.

Saat itu aku sadar masalah anakku jauh lebih serius daripada sekadar jatuh cinta pada perempuan lain.

Dia benar-benar percaya bahwa kebohongan hanya menjadi masalah ketika ketahuan.

Aku kembali ke apartemen Laras malam itu.

Hari keenam.

Begitu masuk, aku menemukan dua koper di dekat pintu.

“Kamu mau pergi?”

Laras mengangguk.

“Aku memutuskan pindah sementara ke rumah kakakku.”

“Karena Arga?”

“Aku mengakhiri hubungan ini.”

Aku tidak mengatakan apa pun.

Laras menyerahkan sebuah amplop.

“Ada sesuatu yang harus Ibu lihat.”

Di dalamnya terdapat bukti transfer.

Bukan dari Arga kepada Laras.

Melainkan dari Laras kepada Arga.

Total hampir seratus dua puluh juta.

“Aku meminjamkan semuanya.”

Aku mengangkat kepala.

“Kenapa?”

“Karena katanya kalau proyeknya berhasil, dia akan melunasi utang lalu memperbaiki rumah tangganya.”

Aku terdiam.

“Dia bilang begitu?”

Laras mengangguk.

“Berulang kali.”

Aku hampir merasa kasihan padanya.

Tapi kemudian dia menambahkan sesuatu.

“Bu, ada satu hal lagi.”

“Apa?”

“Dua minggu lalu aku menemukan proposal baru di laptop Arga.”

“Proposal apa?”

“Dia mau mengambil pembiayaan lagi.”

“Dengan jaminan apa?”

Laras menatapku.

Dan kalimat berikutnya membuat tengkukku dingin.

“Rumah Ibu.”

Aku membeku.

“Apa?”

“Dia punya salinan sertifikat rumah Ibu.”

Aku langsung berdiri.

Rumah yang kutinggali adalah peninggalan suamiku.

Sertifikat aslinya kusimpan di lemari besi kecil.

Tapi beberapa bulan lalu Arga pernah meminjam fotokopinya dengan alasan mengurus perubahan data pajak keluarga.

Aku memejamkan mata.

Ternyata lubang yang digali anakku lebih dalam daripada yang kami bayangkan.

Aku menelepon Arga.

Kali ini dia menjawab.

“Pulang ke rumah sekarang.”

“Ibu—”

“Sekarang.”

Satu jam kemudian dia datang.

Nadira juga sudah berada di sana.

Begitu Arga masuk, wajahnya langsung berubah saat melihat kami bertiga.

Aku meletakkan fotokopi sertifikat rumah di meja.

“Jelaskan.”

Dia diam.

“Kalau kamu berbohong sekali lagi malam ini, aku sendiri yang akan menyerahkan semua bukti kepada pengacara tanpa memberimu kesempatan menjelaskan.”

Arga duduk.

Tangannya gemetar.

“Aku belum mengajukan.”

“Kenapa sertifikatku ada di proposal?”

“Aku cuma menyiapkan alternatif.”

Nadira tertawa getir.

“Alternatif?”

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, dia berdiri tepat di depan suaminya.

“Kamu menggunakan namaku tanpa penjelasan.”

“Kamu berselingkuh hampir setahun.”

“Kamu meminjam uang dari perempuan itu.”

“Sekarang rumah ibumu pun mau kamu jadikan jaminan?”

Arga menunduk.

Nadira menarik cincin pernikahannya.

Dia meletakkannya di meja.

“Aku cuma punya satu pertanyaan.”

Arga perlahan mengangkat wajah.

“Kalau semua ini tidak terbongkar…”

Nadira menahan tangis.

“…sebenarnya siapa lagi yang akan kamu korbankan setelah kami?”

Tak seorang pun menjawab.

Lalu terdengar suara dari pintu.

Laras berdiri di sana.

Dan di tangannya ada satu map terakhir.

“Ada satu orang lagi.”

Arga langsung berdiri.

Wajahnya berubah pucat.

“Laras, jangan.”

Laras masuk.

Dia menaruh map itu di depan Nadira.

“Maaf.”

Nadira membuka halaman pertama.

Matanya membesar.

Aku melihat nama di atas kontrak itu.

Nama seseorang yang sama sekali tidak kami duga.

Ayah Nadira.

Dan saat itulah Nadira menatap Arga dengan wajah yang membuat ruangan terasa membeku.

“Ayahku bahkan sudah meninggal dua tahun lalu.”

Bagian 3 — Kontrak Atas Nama Ayah Menantuku yang Sudah Meninggal Membuat Kebohongan Terakhir Terbongkar dan Memaksa Putraku Membayar Semua Akibat Perbuatannya

Tidak ada yang bergerak.

Aku mengambil dokumen itu dari tangan Nadira.

Ternyata bukan kontrak pinjaman yang sudah cair.

Melainkan draft pengajuan kerja sama proyek yang mencantumkan aset lama milik ayah Nadira sebagai bagian dari daftar pendukung kemampuan finansial.

Dokumen itu belum selesai diproses.

Tapi nama orang yang sudah meninggal dicantumkan tanpa sepengetahuan keluarga.

Aku menutup map.

Tidak ada alasan yang tersisa.

Tidak ada lagi cerita tentang tekanan kerja.

Tidak ada lagi kalimat tentang pernikahan yang dingin.

Yang ada hanyalah rangkaian keputusan buruk seorang lelaki dewasa yang terus menunda akibatnya.

Arga akhirnya menangis.

Bukan tangisan marah.

Dia duduk di lantai.

Kedua tangannya menutup wajah.

“Aku cuma ingin mempertahankan perusahaan.”

Nadira berdiri beberapa meter darinya.

“Dengan menghancurkan semua orang?”

“Aku pikir proyek berikutnya akan menyelesaikan semuanya.”

“Lalu ketika proyek itu gagal?”

Arga tidak menjawab.

Aku sudah tahu jawabannya.

Dia akan mencari pinjaman lain.

Dokumen lain.

Orang lain.

Dan kebohongan lain.

Aku duduk di depannya.

“Dengarkan Ibu.”

Arga mengangkat wajah.

“Mulai malam ini Ibu tidak akan membereskan masalahmu.”

Dia menangis.

“Aku anak Ibu.”

“Justru karena kamu anak Ibu.”

Aku menatapnya.

“Kalau Ibu terus melindungimu dari konsekuensi, Ibu hanya sedang membantumu menjadi lelaki yang lebih buruk.”

Hari berikutnya pengacara mulai mengurus klarifikasi seluruh dokumen terkait Nadira.

Pengajuan baru yang melibatkan rumahku dihentikan sebelum berlanjut.

Draft yang mencantumkan nama almarhum ayah Nadira juga dimasukkan dalam dokumentasi untuk memastikan tidak digunakan di kemudian hari.

Arga harus menjual mobilnya.

Kemudian beberapa peralatan perusahaan.

Dia juga melepaskan saham kecilnya dalam usaha bersama seorang teman.

Tidak cukup.

Jadi kami membuat kesepakatan tertulis bahwa seluruh kewajiban bisnis pribadinya harus dipisahkan sejauh memungkinkan dari aset Nadira.

Aku tidak membayarkan utangnya.

Nadira juga tidak.

Laras meminta uangnya dikembalikan melalui jadwal pembayaran resmi, bukan janji pribadi.

Hubungan mereka selesai hari itu.

Sebelum pergi, Laras menemui Nadira.

“Aku tidak meminta dimaafkan.”

Nadira hanya menatapnya.

“Aku juga tidak bisa memaafkanmu sekarang.”

Laras mengangguk.

“Aku mengerti.”

“Tapi satu hal.”

Nadira menarik napas.

“Jangan pernah lagi percaya pada lelaki menikah yang mengatakan rumah tangganya selesai sebelum dia benar-benar menyelesaikannya.”

Laras menunduk.

“Aku tidak akan.”

Mereka berpisah tanpa pelukan.

Tanpa drama.

Tanpa menjadi sahabat.

Menurutku justru itu lebih nyata.

Ada luka yang tidak harus berakhir dengan persahabatan.

Cukup berhenti saling melukai.

Sebulan kemudian Nadira resmi mengajukan gugatan cerai.

Aku tidak menghentikannya.

Ketika Arga mengetahui keputusannya, dia datang kepadaku.

“Ibu tidak mau membujuknya?”

Aku sedang menyiram tanaman.

Aku bahkan tidak menoleh.

“Tidak.”

“Tapi Raka?”

“Raka membutuhkan ayah yang bertanggung jawab.”

Aku meletakkan selang.

“Bukan rumah penuh kebohongan.”

Arga menangis lagi.

Kali ini aku membiarkannya.

Proses perceraian berlangsung beberapa bulan.

Mereka membuat pengaturan pengasuhan yang memungkinkan Arga tetap bertemu Raka secara teratur selama ia menjalankan kewajibannya.

Aku tetap menjadi nenek bagi cucuku.

Dan Nadira?

Hubungan kami justru menjadi lebih dekat.

Beberapa orang berkata aneh melihat mantan menantu masih sering datang ke rumah mantan mertuanya.

Aku tidak peduli.

Delapan tahun dia memanggilku Ibu.

Satu tanda tangan pengadilan tidak menghapus kasih sayang itu.

Enam bulan setelah semuanya terbongkar, Arga menutup perusahaannya.

Dia menerima pekerjaan sebagai manajer proyek di sebuah perusahaan kontraktor.

Gajinya jauh lebih kecil daripada pendapatannya dulu.

Setiap bulan sebagian penghasilannya dipakai membayar kewajiban.

Mobil mahal hilang.

Jam tangan bermerek dijual.

Apartemen yang dulu dia impikan tidak pernah jadi dibeli.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, anakku belajar bahwa kesalahan tidak selalu bisa dibersihkan dengan permintaan maaf.

Kadang kesalahan dibayar dengan tahun-tahun penuh tanggung jawab.

Suatu sore hampir setahun setelah malam itu, Arga datang ke rumah.

Dia membawa martabak untukku.

Kami duduk di teras.

“Ibu.”

“Hm?”

“Aku bertemu Nadira tadi.”

“Antar Raka?”

Dia mengangguk.

“Dia kelihatan bahagia.”

Aku tersenyum.

“Bagus.”

Arga menatap jalan.

“Aku dulu pikir kalau aku kehilangan Nadira, hidupku selesai.”

Aku menunggunya melanjutkan.

“Ternyata yang membuat hidupku hampir selesai bukan kehilangan dia.”

Dia tertawa pahit.

“Tapi karena aku tidak berani mengakui bahwa aku gagal.”

Aku menatap anakku.

Untuk pertama kalinya sejak kasus itu terjadi, aku melihat sesuatu yang berbeda.

Bukan lelaki yang mencari pembelaan.

Bukan lelaki yang menyalahkan pernikahan.

Hanya seorang manusia yang akhirnya berani melihat kesalahannya sendiri.

“Apa kamu masih berharap Nadira kembali?”

Aku bertanya.

Arga terdiam cukup lama.

“Dulu iya.”

“Sekarang?”

Dia tersenyum kecil.

“Sekarang aku cuma berharap suatu hari dia bisa melihatku sebagai ayah yang pantas untuk Raka.”

Aku mengangguk.

“Itu lebih masuk akal.”

Dua tahun kemudian, seluruh pinjaman yang menggunakan dokumen Nadira sudah dibereskan melalui penjualan aset, restrukturisasi, dan cicilan Arga.

Utangnya kepada Laras juga lunas.

Aku tidak pernah lagi bertemu Laras.

Kabarnya dia pindah ke Bandung dan membuka studio desain kecil bersama adiknya.

Nadira mendapat promosi di tempat kerja.

Dia dan Raka tinggal tidak jauh dari rumahku.

Hampir setiap Minggu mereka datang makan siang.

Arga juga datang sesekali.

Bukan sebagai suami Nadira lagi.

Tapi sebagai ayah Raka.

Kadang mereka masih berbeda pendapat.

Kadang suasana canggung.

Namun tidak ada lagi kebohongan.

Dan menurutku itu jauh lebih sehat daripada sebuah rumah yang kelihatan utuh tetapi semua penghuninya hidup dalam kebohongan.

Suatu Minggu Raka bertanya kepadaku,

“Nenek, kenapa Ayah sama Mama tidak tinggal bareng?”

Aku menatap Nadira.

Dia diam, membiarkanku menjawab.

Aku membelai rambut cucuku.

“Karena orang dewasa kadang membuat kesalahan besar.”

Raka mengangguk seolah memahami.

“Terus?”

“Terus mereka harus belajar memperbaikinya.”

“Biar balik lagi?”

Aku tersenyum.

“Tidak selalu.”

Aku melihat Nadira.

Kemudian Arga.

“Kadang memperbaiki bukan berarti kembali seperti dulu.”

“Kadang memperbaiki berarti berhenti menyakiti satu sama lain dan mulai menjadi manusia yang lebih baik.”

Raka kembali makan pudingnya.

Percakapan selesai begitu saja.

Aku memandang keluarga kecil yang bentuknya sudah berbeda dari beberapa tahun lalu.

Dulu aku pernah bersumpah akan menyelamatkan rumah tangga anakku.

Sekarang aku baru mengerti bahwa yang perlu diselamatkan bukan selalu pernikahannya.

Kadang yang perlu diselamatkan adalah martabat orang yang dikhianati.

Masa depan seorang anak.

Dan karakter seseorang yang sudah terlalu lama lari dari tanggung jawab.

Tujuh hari aku tinggal di rumah perempuan lain karena mengira harus membawa anakku pulang.

Pada akhirnya aku tidak membawa siapa pun pulang.

Aku justru membiarkan Nadira pergi.

Membiarkan Laras pergi.

Dan membiarkan Arga berdiri sendiri menghadapi akibat dari pilihannya.

Karena seorang ibu tidak selalu menunjukkan cinta dengan melindungi anaknya.

Kadang bentuk cinta paling berat adalah berhenti membereskan kekacauan yang dia buat—

agar akhirnya dia belajar membereskan hidupnya sendiri.