“Bu, kami hanya ingin membantu Ibu.”
Suara anakku, Dimas, terdengar lembut.
Terlalu lembut.
Beberapa menit sebelumnya, dia masih berdiri di ruang tamuku bersama istrinya, Rani, sambil berpura-pura khawatir dengan masa depanku.
Padahal aku tahu tujuan mereka.
Mereka ingin mengambil sertifikat rumah.
Mereka ingin menggunakan rumah yang kutinggali sebagai jaminan pinjaman.
Dan yang lebih menyakitkan, mereka sudah menyiapkan semuanya tanpa sepengetahuanku.
Aku menatap Dimas cukup lama.
“Kalau memang hanya ingin membantu, kenapa harus membawa sertifikat asli?”
Dia terdiam.
Rani buru-buru menjawab.
“Karena proses bank memang membutuhkan dokumen asli, Bu.”
Aku tersenyum tipis.
“Begitu?”
“Iya.”
“Kalau begitu, kenapa kemarin kalian bilang uang Rp120 juta yang Ibu kirim digunakan untuk membayar utang?”
Wajah Dimas langsung berubah.
Rani juga membeku.
Ruangan yang tadi dipenuhi suara mereka mendadak sunyi.
Dimas menelan ludah.
“Bu…”
“Aku tahu.”

Dua kata itu membuat mereka tidak bisa lagi berpura-pura.
Aku mengambil ponsel dari atas meja.
“Aku tahu percakapan kalian.”
Rani langsung pucat.
Dimas menatapku seperti baru saja melihat sesuatu yang tidak mungkin.
“Panggilan itu…”
“Tidak pernah terputus.”
Aku meletakkan ponsel di atas meja.
“Sejak kalian membicarakan rumah ini, aku sudah mendengarnya.”
Rani langsung berdiri.
“Ibu menguping kami?”
Aku menatapnya.
“Bukan aku yang menguping. Kalian sendiri yang lupa memutuskan telepon.”
Dimas menundukkan kepala.
Aku menahan air mata.
“Aku mendengar semuanya.”
“Uang Rp120 juta.”
“Tabunganku.”
“Rencana mengambil sertifikat rumah.”
“Bahkan rencana mengirimku ke panti jompo setelah kalian berhasil mendapatkan rumah ini.”
Rani membuka mulut, tetapi tidak mampu mengatakan apa-apa.
Dimas justru mulai menangis.
“Ma, aku bisa menjelaskan.”
“Jelaskan.”
Dia terdiam.
“Sekarang jelaskan.”
Akhirnya dia duduk.
Kedua tangannya menutupi wajah.
“Bisnisku gagal, Bu.”
Aku tidak menjawab.
“Awalnya aku hanya meminjam sedikit uang. Aku yakin bisa mengembalikannya.”
“Lalu?”
“Kerugiannya semakin besar.”
“Lalu kalian memutuskan mengambil rumahku?”
Dimas menangis.
“Aku takut.”
Aku menatap anakku.
Untuk pertama kalinya aku melihat bukan seorang anak yang ingin menyakiti ibunya, tetapi seorang lelaki dewasa yang telah membuat terlalu banyak keputusan buruk dan sekarang tidak tahu bagaimana keluar dari masalahnya.
Namun rasa kasihan tidak membuat kesalahannya menjadi benar.
“Kenapa kamu tidak datang dan mengatakan yang sebenarnya?”
“Aku malu.”
“Jadi karena malu, kamu memilih menipuku?”
Dia tidak menjawab.
Aku menarik napas panjang.
“Dimas, kamu boleh gagal dalam bisnis.”
“Boleh.”
“Kamu boleh kehilangan uang.”
“Boleh.”
“Bahkan kamu boleh datang kepadaku dan mengatakan bahwa hidupmu sedang berantakan.”
“Dan aku mungkin akan tetap membantumu.”
Dia mengangkat wajahnya.
“Tapi kamu tidak boleh mencuri masa depanku hanya karena kamu gagal menjaga masa depanmu sendiri.”
Air mata mengalir di pipinya.
Rani kemudian berdiri.
“Bu, saya juga salah.”
Aku menatapnya.
“Saya yang mendorong Dimas.”
“Kenapa?”
“Karena saya ingin kehidupan yang lebih baik.”
Aku tersenyum pahit.
“Semua orang ingin kehidupan yang lebih baik.”
“Tapi tidak semua orang berhak mengambil milik orang lain untuk mendapatkannya.”
Rani menangis.
Untuk beberapa saat, tidak ada seorang pun berbicara.
Lalu aku mengambil sebuah map cokelat dari lemari.
Dimas menatapnya.
“Apa itu?”
“Dokumen yang kalian cari.”
Wajahnya langsung berubah.
Aku membuka map tersebut.
Di dalamnya terdapat salinan dokumen kepemilikan rumah, dokumen warisan dari suamiku, dan satu surat pernyataan yang dibuat beberapa tahun sebelumnya.
“Rumah ini memang akan menjadi milikmu suatu hari nanti,” kataku.
Dimas terdiam.
“Tapi bukan sekarang.”
“Dan bukan dengan cara seperti ini.”
Dia menatapku.
“Ma…”
“Rumah ini adalah satu-satunya tempat yang tersisa untukku setelah ayahmu pergi.”
“Aku tidak akan menyerahkannya sebagai jaminan utang.”
Dimas mengangguk perlahan.
“Tapi aku tetap akan membantumu mencari jalan keluar.”
Dia menatapku tidak percaya.
“Setelah semua yang kami lakukan?”
Aku menghela napas.
“Karena kamu tetap anakku.”
“Tapi membantu bukan berarti memberikan semua yang kamu minta.”
Aku berhenti sejenak.
“Mulai sekarang, kita akan menyelesaikan masalah ini dengan cara yang benar.”
Keesokan harinya aku membawa mereka menemui seorang penasihat hukum.
Kami memeriksa seluruh dokumen.
Ternyata ada sesuatu yang jauh lebih serius.
Beberapa minggu sebelumnya, seseorang sudah mencoba menggunakan salinan sertifikat rumahku untuk mengajukan pembiayaan.
Aku langsung menatap Dimas.
“Siapa yang melakukan ini?”
Dia menunduk.
“Aku.”
“Sendirian?”
Dimas tidak menjawab.
Rani menangis.
“Ada seseorang yang membantu kami.”
“Siapa?”
Mereka saling berpandangan.
Kemudian Dimas menyebut satu nama.
Aku merasa tubuhku membeku.
Orang itu adalah seseorang yang selama bertahun-tahun kupercaya.
Seseorang yang pernah membantu suamiku mengurus berbagai dokumen.
Seseorang yang bahkan sering datang ke rumah kami untuk minum kopi.
Aku tidak pernah menyangka dia terlibat.
Penasihat hukum memintaku untuk tidak melakukan tindakan terburu-buru.
Kami mengumpulkan seluruh bukti.
Pesan.
Dokumen.
Riwayat transaksi.
Dan bukti bahwa aku tidak pernah memberikan izin untuk menggunakan rumah tersebut sebagai jaminan.
Dimas akhirnya mengakui semuanya.
Namun saat kami hendak keluar dari kantor, ponselnya berdering.
Dia melihat layar.
Wajahnya langsung pucat.
“Siapa?”
Dia tidak menjawab.
Aku mengambil napas.
“Dimas.”
Akhirnya dia berkata,
“Orang yang membantu kami.”
“Angkat.”
“Ma…”
“Angkat.”
Dimas menjawab telepon.
Suara di seberang terdengar marah.
“Kalian bilang semuanya sudah beres!”
Dimas menatapku.
“Ada masalah.”
“Kalau begitu selesaikan sekarang.”
“Tidak bisa.”
Suara itu menjadi semakin keras.
“Kalau kalian membatalkan semuanya, bukan cuma kalian yang akan bermasalah.”
Aku langsung menyadari sesuatu.
Orang itu tidak hanya ingin rumahku.
Dia juga sedang menggunakan Dimas dan Rani untuk kepentingannya sendiri.
Aku mengambil ponsel dari tangan Dimas.
“Kalau begitu, datang dan jelaskan semuanya di depan kami.”
Telepon langsung terputus.
Aku menatap anakku.
“Kita akan menunggu.”
Malam itu, aku tidak bisa tidur.
Aku duduk di ruang tamu, memandang foto suamiku.
Aku bertanya dalam hati,
“Kalau kamu masih di sini, apa yang akan kamu lakukan?”
Kemudian aku teringat pesan terakhirnya.
Jangan mudah percaya hanya karena seseorang datang membawa wajah yang sudah lama kamu kenal.
Pagi harinya, seseorang datang mengetuk pintu.
Aku membuka pintu.
Dan orang yang berdiri di depanku adalah orang yang selama bertahun-tahun kuanggap seperti keluarga sendiri.
Dia tersenyum.
Namun kali ini, senyumnya membuat darahku terasa dingin.
“Bu,” katanya pelan.
“Saya datang untuk menyelesaikan semuanya.”
Aku mempersilakannya masuk.
Tetapi sebelum dia duduk, aku sudah tahu satu hal.
Hari itu, bukan hanya rahasia Dimas dan Rani yang akan terbongkar.
Ada satu kebohongan lama tentang rumah ini yang bahkan tidak pernah diketahui anakku sendiri.
