BAGIAN 2 — PRIA TUA ITU MEMBUKA RAHASIA KEMATIAN AYAHKU, DAN FARIS AKHIRNYA MENUNJUKKAN ALASAN SEBENARNYA DIA INGIN MENIKAHIKU
—Tentang apa yang sebenarnya terjadi malam itu… biarkan aku sendiri yang menceritakannya kepada Alya.
Suasana di dalam gudang mendadak sunyi.
Aku menatap pria tua yang berdiri di ambang pintu. Usianya mungkin sudah lebih dari enam puluh tahun. Rambutnya hampir seluruhnya memutih, tetapi wajah itu masih bisa kukenali.
Ayah Faris.
Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali selama empat tahun berhubungan dengan Faris. Namun dia jarang berbicara kepadaku. Setiap kali keluarga mereka berkumpul, pria itu lebih banyak diam.
Faris langsung berdiri di depannya.
—Ayah tidak perlu mengatakan apa pun.
—Minggir.
—Ayah!
—Aku bilang minggir!
Untuk pertama kalinya aku melihat Faris kehilangan keberaniannya di depan ayahnya.
Pria tua itu berjalan mendekat. Pandangannya berhenti pada foto yang berada di tangan Ibu.
Wajahnya berubah.
—Sudah lama sekali aku tidak melihat foto itu.
Aku menggenggam flashdisk semakin erat.
—Apa hubungan Anda dengan ayah saya?
Dia tidak langsung menjawab.
Sebaliknya, dia menarik sebuah kursi tua dan duduk.
—Ayahmu dan aku pernah membangun usaha bersama.
Aku terdiam.
Ibu menundukkan kepala.
Pria itu melanjutkan.
Lebih dari dua puluh tahun lalu, ketika usaha keluarga Faris belum sebesar sekarang, ayahku ternyata memiliki sebuah bengkel kecil yang memproduksi berbagai perlengkapan bangunan. Ayah Faris menjadi orang yang mengurus pemasaran dan keuangan.
Bisnis mereka berkembang cepat.
Kemudian sebuah perusahaan besar tertarik membeli sebagian lahan tempat bengkel itu berdiri.
Ayahku menolak.
Tanah tersebut merupakan warisan keluarga dan dia ingin suatu hari nanti menyerahkannya kepadaku serta saudara-saudaraku.
Namun ayah Faris diam-diam telah membuat kesepakatan dengan investor.
Malam sebelum ayahku meninggal, mereka bertengkar hebat.
—Aku datang ke rumahnya malam itu, kata ayah Faris. —Kami bertengkar. Aku memaksanya menandatangani perjanjian. Dia menolak.
Dadaku terasa sesak.
—Lalu apa yang Anda lakukan?
Dia menutup mata sebentar.
—Aku pergi.
—Dan setelah itu Ayah meninggal?
—Ya.
Aku menatap Ibu.
—Kenapa Ibu tidak pernah mengatakan semua ini?
Air mata kembali mengalir di wajahnya.
—Karena tidak ada bukti bahwa dia membunuh ayahmu, Alya. Polisi menyimpulkan kecelakaan. Mobil ayahmu keluar jalur saat pulang malam itu.
Ayah Faris mengangguk.
—Aku tidak membunuh ayahmu.
Faris tiba-tiba menyela.
—Sudah, kan? Ayah sudah menjelaskan. Sekarang kita pulang.
Aku menatapnya.
—Kenapa terburu-buru?
—Besok kita menikah.
Aku hampir tertawa mendengarnya.
—Kamu masih berpikir kita akan menikah?
Wajahnya menegang.
—Alya, jangan mengambil keputusan saat sedang emosi.
Wanita mantan akuntan itu tiba-tiba maju.
—Dia bukan takut pernikahan kalian batal. Dia takut kehilangan tanah itu.
Semua mata beralih kepadanya.
Dia menunjuk flashdisk di tanganku.
—Buka isinya.
Faris bergerak maju.
—Jangan!
Aku mundur.
Reaksinya sudah menjawab lebih banyak daripada seribu penjelasan.
Mantan akuntan itu mengeluarkan laptop dari tasnya.
Aku memasukkan flashdisk.
Ada beberapa folder.
Rekaman transaksi.
Salinan surat.
Percakapan.
Dan sebuah dokumen penilaian aset.
Aku membukanya.
Mataku langsung terpaku pada angka di bagian bawah.
Tanah peninggalan Ayah ternyata telah masuk dalam rencana pembangunan kawasan komersial baru.
Nilainya hampir dua puluh kali lipat dari perkiraan keluargaku.
Aku merasa mual.
Lalu kubuka rekaman suara.
Suara ibu Faris terdengar.
“Setelah menikah, jangan langsung minta dia menjual. Buat Alya percaya bahwa tanah itu akan digunakan sebagai jaminan untuk usaha kalian.”
Kemudian suara Faris menjawab,
“Kalau dia curiga?”
“Dia mencintaimu. Perempuan yang sedang mempersiapkan keluarga biasanya lebih mudah diyakinkan oleh suaminya.”
Tanganku mulai gemetar.
Faris mendekat.
—Itu tidak seperti yang kamu pikirkan.
Aku menatapnya.
—Empat tahun, Faris.
Dia diam.
—Empat tahun aku percaya kamu.
—Awalnya memang karena tanah itu!
Pengakuannya membuat semua orang terdiam.
Faris menarik napas kasar.
—Awalnya keluargaku menyuruhku mendekatimu. Tapi setelah itu aku benar-benar mencintaimu.
Aku merasa sesuatu di dalam diriku runtuh.
—Jadi pertemuan pertama kita juga direncanakan?
Dia tidak menjawab.
Itulah jawabannya.
Aku teringat bagaimana dahulu Faris datang ke toko untuk memperbaiki sebuah kemeja batik. Bagaimana dia kembali beberapa hari kemudian membawa kopi. Bagaimana dia mengatakan pertemuan kami seperti takdir.
Ternyata bahkan awal cerita cinta kami adalah sebuah rencana.
Aku mencabut cincin pertunangan dari jariku.
Faris langsung panik.
—Alya, jangan.
Aku meletakkan cincin itu di atas meja.
—Pernikahan besok dibatalkan.
—Kamu akan menyesal!
—Tidak. Aku justru menyesal karena hampir menikahimu.
Ibu memegang tanganku.
Faris hendak maju lagi, tetapi ayahnya menahannya.
—Cukup.
—Ayah membela dia?
—Aku sedang mencegahmu mengulangi kesalahan keluargamu.
Faris menepis tangan ayahnya.
—Semua ini juga dimulai karena Ayah!
Pria tua itu terdiam.
Lalu dia mengeluarkan sebuah amplop kecil dari sakunya.
—Benar. Karena itulah aku datang.
Dia menyerahkannya kepadaku.
Di dalamnya terdapat salinan perjanjian lama dan sepucuk surat tulisan tangan.
Tulisan Ayah.
Aku mengenalinya dari buku catatan lama yang masih disimpan Ibu.
Tanganku bergetar ketika membacanya.
“Alya masih kecil. Kalau suatu hari sesuatu terjadi padaku, jangan jual tanah itu hanya karena kalian sedang kesulitan. Tanah bisa dicari, uang bisa habis, tetapi aku ingin anak-anakku memiliki sesuatu yang membuat mereka bisa berdiri tanpa memohon kepada siapa pun.”
Air mataku akhirnya jatuh.
Bukan karena Faris.
Karena Ayah.
Selama ini aku mengira tanah itu hanyalah sebidang lahan kosong.
Ternyata Ayah menyimpannya sebagai perlindungan bagi kami.
Aku memeluk Ibu.
Untuk beberapa saat, tidak ada lagi yang penting.
Kemudian suara sirene terdengar dari kejauhan.
Faris menatap mantan akuntan itu.
—Kamu memanggil polisi?
Wanita itu menggeleng.
Ayah Faris menjawab,
—Aku yang melakukannya.
Wajah Faris berubah.
—Ayah?
—Sudah waktunya semua transaksi perusahaan diperiksa.
Faris mundur satu langkah.
Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan nyata di wajahnya.
Namun tiba-tiba dia mengambil ponselnya.
—Kalau aku jatuh, jangan pikir Alya akan mendapatkan tanah itu dengan mudah.
Dia menatapku dengan senyum aneh.
—Kamu pikir cuma keluargaku yang mengincarnya?
Aku mengerutkan kening.
Faris mengangkat ponselnya dan menunjukkan sebuah pesan yang baru masuk.
Hanya ada satu foto.
Foto toko jahitku.
Diambil beberapa menit sebelumnya.
Di depan toko berdiri seorang pria tak dikenal.
Di bawah foto itu terdapat pesan singkat.
“Kalau pernikahan gagal, jalankan rencana kedua malam ini.”
Darahku seketika terasa dingin.
Aku menatap Faris.
—Siapa mereka?
Anehnya, kali ini ketakutan di wajah Faris terlihat sungguhan.
Dia menatap layar ponselnya lalu berbisik,
—Alya… kita harus pergi dari sini sekarang.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
