BAGIAN 3 — KETIKA RENCANA TERAKHIR TERBONGKAR, AKU MEMILIH MENYELAMATKAN WARISAN AYAH DAN MEMULAI HIDUP YANG TAK LAGI DIKENDALIKAN SIAPA PUN
Belum sempat kami bergerak, ponsel Rani menelepon.
Aku langsung mengangkatnya.
—Kak Alya! Ada dua orang datang ke toko. Mereka bilang dari perusahaan properti dan ingin mengambil beberapa barang!
—Jangan biarkan mereka masuk!
—Pintunya sudah mereka buka!
Aku menatap mantan akuntan.
Dia langsung memahami situasinya.
—Mereka mencari dokumen asli kepemilikan tanah.
Ibu menggeleng cepat.
—Dokumennya tidak ada di toko.
Aku menoleh.
—Di mana?
Ibu memegang kotak kayu.
—Di tempat yang aman.
Ayah Faris segera berbicara dengan petugas melalui telepon. Polisi yang awalnya datang untuk menangani bukti dugaan pemalsuan dokumen akhirnya mengirim petugas lain menuju toko.
Aku ingin pergi ke sana, tetapi Ibu menahanku.
—Jangan. Biarkan polisi yang menangani.
Dua puluh menit terasa seperti dua jam.
Akhirnya telepon datang.
Kedua pria itu diamankan setelah mencoba membawa komputer toko dan beberapa kotak penyimpanan.
Namun kejutan terbesar muncul setelah polisi memeriksa ponsel mereka.
Mereka ternyata bekerja untuk seorang perantara properti yang selama beberapa tahun berusaha mendapatkan tanah milik keluargaku dengan harga murah.
Keluarga Faris bukan satu-satunya pihak yang mengetahui kenaikan nilainya.
Mereka hanya pihak yang memilih cara paling pribadi untuk mendapatkannya.
Pernikahan.
Kepercayaan.
Dan aku.
Malam itu seharusnya menjadi malam terakhir sebelum pernikahanku.
Sebaliknya, aku menghabiskannya di kantor polisi bersama Ibu.
Aku memberikan flashdisk, rekaman, pesan Faris, dan semua bukti yang kami miliki.
Faris tidak ditahan malam itu karena penyelidikan masih harus dilakukan, tetapi dia dan beberapa orang dalam perusahaan diminta memberikan keterangan.
Sebelum kami berpisah, Faris memanggilku.
—Alya.
Aku berhenti tanpa mendekat.
Matanya merah.
—Aku benar-benar mencintaimu.
Dulu mungkin kalimat itu cukup membuatku kembali.
Malam itu tidak.
—Mungkin kamu mencintaiku dengan caramu, Faris. Tapi orang yang mencintai tidak membangun hubungan di atas kebohongan lalu menyebutnya takdir.
—Beri aku satu kesempatan.
Aku menggeleng.
—Aku sudah memberimu empat tahun.
Aku pergi.
Keesokan paginya, saat seharusnya mengenakan gaun putih dan berjalan menuju pelaminan, aku justru berdiri di depan toko jahit.
Dekorasi pernikahan telah dibatalkan.
Pesan dari kerabat memenuhi ponselku.
Ada yang penasaran.
Ada yang bersimpati.
Ada pula yang menyalahkanku karena mempermalukan keluarga calon suami sehari sebelum pernikahan.
Aku mematikan ponsel.
Kemudian aku mengambil gaun yang telah dirusak.
Ibu berdiri di belakangku.
—Buang saja, Nak.
Aku memandangi kain yang tercabik.
—Tidak.
Aku mengambil gunting, benang, jarum dan kain batik peninggalan keluarga yang masih tersisa.
—Aku akan memperbaikinya.
Bukan untuk pernikahan.
Untuk diriku sendiri.
Selama beberapa minggu berikutnya, hidupku berubah cepat.
Penyelidikan menemukan sejumlah dokumen perusahaan keluarga Faris yang diduga dibuat untuk mempermudah pengalihan aset beberapa pemilik tanah. Kasusnya menjadi urusan pihak berwenang dan prosesnya panjang.
Aku berhenti mengikuti setiap kabar tentang Faris.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku ingin hidupku tidak lagi berputar mengelilinginya.
Aku juga mengetahui kebenaran tentang kematian Ayah.
Tidak ditemukan bukti bahwa ayah Faris menyebabkan kecelakaan tersebut. Namun dia mengakui pertengkaran mereka malam itu dan bertahun-tahun menyembunyikan konflik bisnis yang terjadi sebelumnya.
Dia datang menemui Ibu untuk meminta maaf.
Ibu tidak memaafkannya.
Tetapi Ibu juga tidak membalas dendam.
—Ada hal-hal yang tidak perlu kita bawa sampai akhir hidup, katanya kepadaku. —Memaafkan dan menerima kembali seseorang adalah dua hal yang berbeda.
Aku memahami maksudnya.
Enam bulan kemudian, aku membuat keputusan mengenai tanah Ayah.
Aku tidak menjual semuanya.
Sebagian kecil lahan disewakan untuk proyek komersial dengan kontrak yang diperiksa pengacara independen. Pendapatan dari sana kugunakan untuk memperbesar usaha.
Namun bukan butik mewah yang kubangun.
Aku mendirikan sebuah pusat pelatihan kecil bagi perempuan yang ingin belajar menjahit, membatik, menyulam, dan memperbaiki pakaian tradisional.
Rani menjadi orang pertama yang kuangkat sebagai kepala pelatihan.
Ketika kuberitahu, dia menangis.
—Kak, aku cuma lulusan sekolah biasa.
Aku tertawa.
—Aku mencari orang yang bisa bekerja, bukan bingkai ijazah untuk digantung di dinding.
Dalam setahun, tempat itu memiliki lebih dari tiga puluh peserta.
Beberapa ibu rumah tangga.
Beberapa perempuan muda yang putus sekolah.
Ada pula perempuan yang baru keluar dari pernikahan buruk dan ingin memiliki penghasilan sendiri.
Aku memberi tempat itu nama sederhana yang diambil dari satu kata yang sering dikatakan Ayah kepadaku ketika kecil:
Berdiri.
Karena pada akhirnya, itulah warisan terbesar yang diberikan Ayah kepadaku.
Bukan tanah.
Kemampuan untuk berdiri dengan kakiku sendiri.
Dua tahun berlalu.
Suatu sore, aku sedang mempersiapkan pameran kecil hasil karya para peserta ketika Rani menghampiriku sambil tersenyum aneh.
—Kak Alya, ada tamu.
—Siapa?
—Katanya kenalan lama.
Aku menoleh.
Untuk sesaat, aku mengira Faris datang.
Ternyata bukan.
Seorang pria berdiri di pintu sambil membawa sebuah tas kain tua.
Namanya Reza.
Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali. Dia adalah arsitek konservasi yang membantu proyek renovasi bangunan tempat pusat pelatihan kami berdiri.
—Ada yang bisa kubantu? tanyaku.
Dia mengeluarkan kain batik tua dari tas.
—Ibuku meninggalkan ini. Sudah rusak cukup parah. Orang-orang bilang tidak mungkin diperbaiki.
Aku memeriksanya.
—Masih bisa.
Dia tersenyum.
—Aku juga berpikir begitu.
Sejak hari itu dia mulai sering datang.
Awalnya karena kain.
Kemudian karena proyek pelatihan.
Lalu kadang tanpa alasan yang jelas.
Tidak ada bunga mahal.
Tidak ada janji besar.
Tidak ada kalimat bahwa pertemuan kami adalah takdir.
Hanya dua cangkir kopi setelah bekerja, percakapan sederhana, dan seseorang yang tidak pernah membuatku merasa harus menyerahkan hidupku untuk membuktikan cinta.
Hubungan kami tumbuh perlahan.
Sangat perlahan.
Dan aku menyukainya seperti itu.
Suatu hari, tiga tahun setelah pernikahanku dengan Faris batal, aku menyelesaikan restorasi gaun putih yang dahulu dirusak.
Aku tidak mengembalikannya ke bentuk asli.
Bagian yang pernah digunting kusambungkan dengan potongan batik berwarna hangat. Bekas robekannya tidak kusembunyikan seluruhnya.
Reza berdiri di sampingku.
—Kenapa bekasnya dibiarkan terlihat?
Aku tersenyum.
—Karena sesuatu yang pernah rusak tidak harus berpura-pura tidak pernah rusak untuk menjadi indah lagi.
Dia memandangku lama.
Kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Aku langsung mengangkat alis.
—Jangan berlutut.
Dia tertawa.
—Aku belum melakukan apa-apa.
—Aku tahu ke mana arahnya.
Dia tidak berlutut.
Sebaliknya, dia duduk di kursi sebelahku dan meletakkan kotak itu di atas meja.
—Aku tidak akan meminta jawaban hari ini. Aku cuma ingin kamu tahu bahwa kalau suatu saat kamu ingin membangun rumah bersama seseorang, aku ingin menjadi orang itu. Kalau kamu belum siap, aku tetap akan menghormatinya.
Aku memandangnya.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada rencana tersembunyi.
Tidak ada orang lain yang menentukan jawabanku.
Untuk pertama kalinya, sebuah lamaran terasa seperti pintu yang boleh kubuka ataupun kututup dengan tanganku sendiri.
Aku membuka kotak itu.
Lalu tersenyum.
—Aku siap.
Setahun kemudian kami menikah dalam sebuah acara sederhana di halaman pusat pelatihan.
Aku mengenakan gaun yang sama.
Gaun yang pernah dirusak sehari sebelum pernikahanku dengan Faris.
Namun sekarang, di antara kain putihnya terdapat batik peninggalan Ibu, motif buatan Ayah, serta jahitan tanganku sendiri.
Ibu menangis ketika melihatku.
Rani berdiri di sampingnya.
Puluhan perempuan yang pernah belajar di tempat itu ikut membantu menyiapkan acara.
Sebelum berjalan menuju Reza, aku menyentuh salah satu bekas jahitan pada gaunku.
Dulu aku menganggap kerusakan itu sebagai akhir dari hidup yang sudah kurencanakan.
Ternyata aku salah.
Hari ketika gaunku dihancurkan justru menyelamatkanku dari pernikahan yang dibangun atas kebohongan.
Tanah yang hampir direbut dariku akhirnya menjadi sumber kehidupan bagi banyak keluarga.
Dan kehilangan orang yang kukira adalah masa depanku memberiku kesempatan untuk menemukan diriku sendiri.
Reza mengulurkan tangan.
Aku menyambutnya.
Di barisan depan, Ibu tersenyum sambil menangis.
Aku menatap langit sore dan dalam hati berbicara kepada Ayah.
Ayah, aku akhirnya mengerti.
Warisan terbesar yang Ayah tinggalkan bukan sebidang tanah.
Bukan pula uang yang bisa kuhasilkan darinya.
Ayah meninggalkan keberanian agar aku tidak menyerahkan hidupku kepada siapa pun hanya karena takut berjalan sendirian.
Hari itu aku menikah bukan karena membutuhkan seseorang untuk menyelamatkanku.
Aku menikah karena telah belajar menyelamatkan diriku sendiri, lalu menemukan seseorang yang bersedia berjalan di sampingku tanpa mencoba mengambil alih jalanku.
Dan ketika aku melangkah menuju kehidupan baruku, aku tidak lagi memikirkan gaun yang pernah dirusak.
Aku hanya memikirkan satu hal.
Kadang-kadang, sesuatu harus terkoyak terlebih dahulu agar kita bisa melihat dengan jelas bagian mana dari hidup kita yang benar-benar layak dipertahankan.
Dan kali ini, aku tahu persis apa yang ingin kupertahankan.
Keluargaku.
Pekerjaanku.
Kebebasanku.
Dan kehidupan baru yang akhirnya kupilih dengan tanganku sendiri.
